BAB IV ANALISA DAN EVALUASI DATA
B. Pelaksanaan Penagihan Pajak
a. Pejabat yang Berwenang Melakukan Penagihan Pajak
Dalam pelaksanaan penagihan pajak, sangat penting untuk diketahui siapa pejabat yang berwenang untuk melaksanakan penagihan pajak. Hal ini penting untuk diketahui karena berkaitan dengan jenis pajak yang ada, apakah pajak pusat, pajak pripinsi, maupun pajak kabupaten/kota. Agar pelaksanaan penagihan pajak dapat dipertanggung jawabkan, pejabat yang berwenang untuk melaksanakannya harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.
Yang dimaksud dengan pejabat untuk penagihan pajak pusat antara lain Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) atau Kepala Kantor Pajak Pelayanan Pajak Bumi dan
Bangunan. Dalam hal penagihan pajak daerah, bahwa kepala daerah berwenang menunjuk pejabat untuk penagihan pajak daerah.
b. Kewenangan Pejabat yang Berwenang Melakukan Penagihan Pajak
Pejabat ditunjuk untuk melakukan penagihan pajak memiliki kewenangan untuk : a. Mengangkat dan memberhentikan jurusita pajak
b. Menerbitkan surat yang digunakan untuk melakukan penagihan pajak, yaitu :
a. Surat Teguran, Surat Peringatan, atau surat lain yang sejenis b. Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus
c. Surat Paksa
d. Surat Perintah Melakukan Penyitaan e. Surat Perintah Penyanderaan
f. Surat Pencabutan Sita g. Surat pengumuman Lelang h. Surat Penentuan Harga Limit i. Surat Pembatalan Lelang
j. Surat lain yang diperlukan untuk Pelaksanaan Penagihan Pajak B. Jurusita Pajak
Jurusita pajak merupakan pelaksana tindakan penagihan pajak yang meliputi penagihan seketika dan sekaligus, pemberitahuan surat paksa, penyitaan dan penyanderaan.
Jurusita pajak dalam dalam melaksanakan penyanderaan tugasnya merupakan pelaksana eksekusi dari putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.
Tugas jurusita pajak :
a. Melaksanakan Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus b. Memberitahukan surat Paksa
c. Melaksanakan Penyitaan atas Barang Penanggung Pajak
d. Melaksanakan Penyanderaan Berdasarkan Surat Perintah Penyanderaan
C. Sebab-Sebab Masih Terdapat Bayaknya Tunggakan Pajak Penghasilan yang Tidak Dilunasi oleh Wajib Pajak
Peran serta masyarakat dalam memenuhi kewajiban pembayaran pajak berdasarkan ketentuan perpajakan sangat diharapkan. Namun kenyatannya masih dijumpai adanya tunggakan pajak akibat tidak dilunasinya hutang pajak sebagaimana mestinya.
Dalam perkembangan jumlah tunggakan pajak dari waktu kewaktu menunjukkan jumlah yang semakin besar. Hasil akhir yang diperoleh aktivitas penagihan relatif masih kecil terhadap penerimaan negara dibanding dengan peningkatan utang pajak.
Pengurangan tunggakan pajak dapat terjadi karena : 1. SK Pembetulan / SK Keberatan / Ptusan Banding 2. Pembayaran Utang Pajak
3. Penghapusan Piutang Pajak
Adapun kendala-kendala yang menyebabkan masih terdapat banyaknya tunggakan pajak adalah:
1. Terbatasnya jurusita pajak baik dari segi kualitas maupun kuantitas
Sebagai petugas pajak yang paling disegani adalah juru sita pajak. Tetapi hal yang sangat disayangkan jumlah petugas juru sita pajak masih belum mencukupi dibandingkan dengan bertambahnya volume kerja karena bertambahnya jumlah wajib pajak dan semkin meningkatnya jumlah tunggakan pajak.
2. Masih rendahnya kesadaran wajib pajak atas utang pajak
Walaupun sistem perpajakan kita menganut sistem “self assessment” namun tingkat kesadaran wajib pajak untuk melaksanakan kewajibannya dengan baik dan benar masih rendah sekali. Hal ini data kita lihat apabila melakukan pemeriksaan, penelitian maupun pengawasan terhadap pembayaran masih sering sekali ditemukan hal-hal yang tidak benar, seperti wajib pajak tidak menyetor sebagaimana mestinya, menunda pembayaran, memperkecil perhitungan dengan memperkecil omset dan sebagainya.
3. Terbatasnya data dan imformasi objek sita
Untuk melakanakan penagihan pajak dengan surat paksa sampai tindakan sita dan lelang, selalu terbentur pada masalah objek sita, harta kekayaan wajib pajak / penanggung pajak sudah tidak lagi ditemukan lagi atau sudah dipindah tangankan.agar jurusita dapat mengetahui adanya harta yang tersimpan di bank maupun piutang yang akan dijadikan objek sita, tentusaja diperlukan kerja sama yang baik dengan unit pemeriksa pajak dan memberikan data yang diperlukan bila jurusita pajak terbetur karena tidak menemukan objek sita atau wajib pajak sudah tidak diketahui alamatnya.
Jurusita sebelum melaksanakan penyitaan terhadap kekayaan wajib pajak, maka hendaknya jurusita mengumpulkan dan mempelajari data mengenai harta kekayaan aktiva yang akan disita tersebut, data ini dapat diperoleh, antara lain :
a. Surat Pemberitahuan Pajak b. Laporan Keuangan Wajib Pajak c. Laporan Pemeriksaan Pajak d. Laporan Pelaksanaan Surat Paksa
Tata cara penyitan dalam rangka penagihan dengan surat paksa dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a. Penyitaan terhadap perhiasan emas, permata dan sejenisnya dilaksanakan dengan cara membuat rincian tentang jenis, jumlah dan harga pehiasan yang disita dalam suatu daftar yang merupakan lampiran Berita Acara Pelaksanaan Sita.
b. Penyitaan terhadap uang tunai dilaksanakan dengan cara menghitung terlebih dahulu uang tunai yang disita dan membuat rinciannya sebagai lampiran BAPS.
c. Penyitaan terhadap harta berupa deposito berjangka, tabungan, saldo rekening koran, giro atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu.
d. Penyitaan terhadap obligasi atau saham yang diperdagangkan di bursa efek e. Penyitaan terhadap efek yang tidak diperdagangkan di bursa efek
• Melakukan inventaris dan rincian atas nilai efek yang akan disita.
• Membuat berita acara pelaksanaan penyitaan.
• Membuat berita acara penagihan hak surat berharga atas nama dari pemilik penanggung pajak kepada kepala KPP.
f. Penyitaan terhadap piutang
• Melakukan inventaris dan rincian tentang jenis dan jumlah piutang yang disita dalam suatu daftar yang merupakan lampiran BAPS.
• Membuat BAPS.
• Membuat berita acara persetujuan pengalihan hak menagih piutang dari penanggung pajak yang berwenang, dan salinannya disampaikan kepada penanggung pajak dan pihak yang berkewajiban membayar utang.
g. Melakukan terhadap peyertaan modal pada perusahaan lain.
• Melakukan inventaris dan membuat rincian tentang jumlah modal pada perusahaan lain dalam suatu daftar yang merupakan lampiran BAPS.
• Membuat BAPS.
• Membuat akta persetujuan pengalihan hak penyertaan modal pada perusahaan lain dari penanggung pajak kepada pejabat, dan salinannya disampaikan kepada perusahaan tempat penyertaan modal.
D. Kendala yang dihadapi KPP dalam Menerapkan Jadwal Waktu Pelaksanaan Penagihan Pajak Sesuaidengan ketentuan
Jadwal pelaksanaan penagihan
1. Tindakan penagihan diawali dengan penerbitan surat teguran oleh pejabat atau kuasa yang ditunjuk oleh pejabat tersebut setelah 7 (tujuh) hari sejak jatuh tempo pembayaran.
2. Surat teguran tidak diterbitkan terhadap penanggung pajak yang telah disetujui ubtuk mengangsur atau menunda pembayaran pajaknya.
3. Apabila jumlah utang pajak yang masih harus dibayar tidak dilunasi oleh penanggung pajak setelah 21 (dua puluh satu) hari sejak diterbitkan surat teguran pejabat serta nssegara nenerbitka surat perintah melaksanakan penyitaan (SPMP) 4. apabila jumlah utang pajak yang masih harus dibayar tidak dilunasi oleh
penanggung pajak setelah waktu 2 kali 24 (dua puluh empat) jam sejak Surat Paksa diberitahukan kepadanya, pejabat segera menerbitkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan (SPMP).
5. Apabila utang pajak dan biaya penagihan yang masih harus dibayar tidak dilunasi oleh penanggung pajak setelah lewat 14 (empat belas) hari sejak tanggal pelaksanaan penyitaan, pejabat yang berwenang segera melaksanakan pengumuman lelang.
6. Apabila utang pajak dan biaya penagihan yang masih harus dibayar tidak dilunasi oleh penanggung pajak setelah lewat waktu 14 (empat belas) hari sejak tanggal pengumuman lelang, pejabat yang berwenang segera melakukan penjualan barang sitaan milik penanggung pajak melalui Kantor Lelang Negara.
7. Apabila utang pajak dan biaya penagihan yang masih harus dibayar tidak dilunasi oleh penanggung pajak setelah lewat waktu 14 (empat belas) hari sejak dilakukan penyitaan atas barang yang dikecualikan dari penjualan secara lelang, pejabat yang berwenang segera melakukan penjualan, penaggungan, dan atau pemindah bukuan barang sitaan milik penanggung pajak.
8. dalam keadaan tertentu terhadap wajib pajak atau penanggung pajak dapat dilakukan penagihan seketika dan sekaligus tanpa menunggu tanggal jatuh tempo pembayaran pajak.
Adapun kendala-kendala dalam pelaksanaan jadwal waktu penagihan pajak adalah :
• Dalam penyampaian Surat Teguran kepada wajib pajak yang belum melunasi utang pajaknya, seringkali Surat Teguran tersebut dikembalikan oleh pos karena alamat atau tempat tinggal dan tempat kedudukan wajib/penanggung pajak tidak dapat ditemukan.
• Surat Teguran yang seharusnya dikirim, tetapi belum dikirim karena kelalaian fiskus atau aparat pos dalam penyampaian Surat Teguran.
• Jurusita dalam penyampaian Surat Paksa secara langsung tidak menemukan alamat atau tempat kedudukan wajib pajak yang menyebabkan tindakan penagihan sulit dilakukan.
• Pada waktu pelaksanaan penyitaan ada kemungkinan jurusita pajak tidak diperbolehkan masuk rumah wajib pajak yang barang-barangnya akan disita.
Kalau jurusita pajak tidak dapat masuk karena didalam rumah tersebut tidak ada seorangpun maka dalam hal ini jurusita pajak supaya menunda pelaksanaan penyitaan itu. Kalau jurusita pajak telah menyampaikan maksudnya kepada penghuni rumah tersebut dengan cara-cara yang wajar tetapi tidak mendapat izin untuk memasuki rumah tersebut, maka jursita pajak dapat meminta bantuan pihak kepolisian untuk dapat melaksanakan tugas penyitaan.
BAB V PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian yang dikemukakan dalam bab-bab terdahulu, maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Dalam perkembangan jumlah tunggakan pajak dari waktu kewaktu menunjukkan jumlah yang semakin besar. Hasil akhir yang diperoleh aktivitas penagihan relatif masih kecil terhadap penerimaan negara dibanding dengan peningkatan utang pajak mencapai 209.653.015 orang
2. Rendahnya tingkat pencairan tunggakan piutang pajak tidak terlepas dari sumber daya manusia yang tersedia, dirasakan masih kurangnya jumlah jurusita pajak bila dibandingkan dengan jumlah wajib pajak.
3. Peranan pajak dalam menunjang penerimaan Negara dari tahun ketahun semakin meningkat. Sejalan dengan itu diharapakan agar aparat Dirjen pajak dapat melaksanakan Law Enforcement antara lain berupa penganaan sanksi-sanksi perpajakan sampai dengan penagihannya dengan tuntas.
4. Sebagaimana dalam hukum perdata apabila pihak yang berutang tidak melunasi utangnya, pihak yang berpiutang akan dapat melakukan tindakan untuk menagihutang tersebut. Tindakan penagihan pajak dimaksudkan agar pihak yang berutang segera melunasi utangnya sehingga tidak merugikan pihak yang berpiutang.
B. SARAN
Adapun saran-saran yang dapat penulis kemukakan adalah sebagai berikut:
1. Dalam pelaksanaan pemantauan pembayaran pajak fiskus juga dapat melakukan tindakan aktif dengan cara mengeluarkan surat himbauan kepada wajib pajak untuk segera melakukan pembayaran pajak. Umumnya kegiatan ini dilakukan dengan cara mengirimkan surat himbauan mengenai tanggal jatuh tempo pembayaran pajak kepada wajib pajak, khususnya yang memiliki utang pajak cukup besar, dan juga dengan memanfaatkan media massa dan spanduk guna mengigatkan masyarakat secara umum untuk membayar pajak yang terutang.
2. Memberikan kewenagan terhadap fiskus untuk melakukan tindakan penagihan terhadap wajib pajak yang tidak melunasi utang pajaknya hal ini merupakan tindakan paksa fiskus terhadap wajib pajak.
3. Mengeluarkan surat himbauan kepada wajib pajak untuk segera melakukan pambayaran pajak umumnya dilakukan dengan cara mengirimkan surat himbauan mengenai jatuh tempo pembayaran pajak kepada wajib pajak, khususnya yang memiliki utang pajak yang cukup besar dan juga memanfaatkan media massa dan spanduk guna mengingatkan masyarakat secara umum untuk membayar pajak yang terutang.
4. Perlu adanya tindakan tegas dalam melaksanakan penyanderaan, tugasnya merupakan pelaksanaan eksekusi dari putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.
DAFTAR PUSTAKA
Lesmana Eko, 1994, Sistem Perpajakan di Indonesia, Edisi Kedua, Prima Kampus Grafika, Jakarta
Eko Jaya, 1997, Undang-Undang Perpajakan, Jakarta
Waluyo, Drs, M.Sc, MM ,Akt, Perubahan Perundang-undangan Perpajakan Era Reformasi, Penerbit Salemba Empat, Jakarta 2000.
Moeljo Hadi, SH, Dasar-Dasar Penagihan Pajak dengan Surat Paksa oleh Jurusita Pajak Pusat dan Daerah, cet. IV Thn. 2001, PT. Raja Grafindo persada.