• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini dilakukan selama 6 kali pertemuan, dimana pertemuan pertemuan adalah pembukaan, pertemuan kedua sampai kelima adalah proses pelaksanaan intervensi yaitu terapi menulis ekspresif dan pada pertemuan keenam adalah evaluasi

terhadap proses terapi yang telah dilakukan, berlangsung dari tanggal 4 Desember 2016 sampai 9 Desember 2016. Pelaksanaan intervensi dilakukan di ruang kelas dimulai pukul 14.00 hingga 15.30 WIB. Sebelum dilakukan intervensi, peneliti terlebih dahulu meminta izin kepada pihak sekolah, tentang rencana intervensi yang akan dilakukan. Dari hasil screening diperoleh 10 orang siswa yang memenuhi karakteristik subjek penelitiaan. 10 subjek tersebut kemudian dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Akan tetapi 2 diantaranya tidak dapat mengikuti proses intervensi dikarenakan orangtua tidak dapat menjemput setelah pelaksanaan intevensi berakhir. Berikut uraian tentang proses pelaksanaan intervensi yaiut terapi menulis ekspresif.

1. Pertemuan pertama

Pertemuan pertama dilakukan pada tanggal 4 Desember 2016, dimulai setelah jam pulang sekolah pada pukul 14.00 – 15.30 WIB, dilakukan di salah satu ruang kelas dengan posisi duduk subjek membentuk lingkaran. Uraian pelaksanaan dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut:

Tabel 4.2 Proses pelaksanaan pertemuan pertema

Kegiatan Hasil pelaksanaan Observasi

1. Perkenalan Terbentuknya rapport

antara peneliti dan subjek

1. Subjek dapat mengikuti instruksi permainan perkenalan yang peneliti berikan.

2. Tidak terlihat sikap canggung atau malu-malu antara subjek satu dengan yang lainnya.

3. Subjek C terlihat lebih dominan dibandingkan dengan subjek yang lain, 2. Mengenal reaksi kecemasan Subjek mampu mengenali reaksi-reaksi kecemasan yang dirasakan, seperti merasa takut,

1. Subjek tidak ragu-ragu menjawab bahwa sering merasa cemas.

2. Beberapa subjek menjelaskan reaksi yang dirasakan saat cemas, seperti subjek C ketika cemas, ia merasa

berkeringat, jantung berdetak kencang dan merasa gugup

jantungnya berdetak cepat. Subjek A merasa takut bertemu dengan orang yang mengganggunya. 3. Menulis perasaan dan pikiran ketika naik kelas Subjek mampu mengekspresikan perasaan dan

pikirannya ketika naik kelas

1. Subjek D tiba-tiba merasa tidak enak badan, dan tidak menuliskan perasaan dan pikirannya ketika naik kelas.

2. Subjek B dan C terlihat cukup akrab, mereka terkadang menulis sambil sesekali mengobrol. Berbeda dengan subjek A yang lebih banyak diam selama mengikuti kegiatan. 2. Hari kedua

Pertemuan kedua dilakukan pada tanggal 5 Desember 2016 setelah jam pulang sekolah, yaitu pukul 14.00 – 15.30 WIB dilaksanakan di salah satu ruang kelas. Subjek duduk melingkar, namun ketika masuk ke sesi menulis subjek diberi kebebasan untuk memilih tempat duduk. Uraian proses pelaksanaan intervensi dapat dilihat pada tabel 4.3. berikut:

Tabel 4.3. Proses pelaksanaan pertemnuan kedua

Kegiatan Hasil Pelaksanaan Observasi

Menonton video

Subjek mampu menceritakan kembali video bullying yang ditonton.

Subjek secara bergantian menceritakan kembali tentang video yang ditonton. Subjek secara bersamaan mengatakan bahwa mereka pernah mengalami kejadian seperti video yang ditonton 1. Menulis

bentuk-bentuk

bullying yang dialami

Subjek dapat menuliskan bentuk-bentuk bullying yang dialami

Setelah subjek menonton video tentang bullying, subjek mengatakan mereka juga sering mengalami hal seperti di dalam video. Mereka juga menyebutkan perasaan saat mereka dibully sambil memperlihatkan ekspresi marah. 2. Menuliskan perasaan dan pikiran Subjek dapat mengekspresikan perasaan dan pikiran mereka saat mengalami bullying. Mereka

1.Saat menulis subjek A memilih untuk menjauh dari subjek lainnya dan begitu pula dengan subjek

mengatakan tidak mengalami kesulitan untuk

menuliskannya, merasa senang karena dapat menuliskan perasaan dan pikiran mereka ketika dibully, serta perasaan marah dan kesal yang dirasa sedikit berkurang.

C. Sedangkan subjek B dan D tidak berpindah tempat duduk.

2. Semua subjek terlihat fokus saat menulis, sesekali mereka juga terlihat saling mengobrol sambil terus menulis. 3. Mereka menyelesaikan

menulis dalam waktu yang relatif sebentar.

3. Menemukan pikiran positif

Dua orang subjek mampu mengungkapkan pikiran positifnya untuk mengurangi rasa cemas karena dibully, yaitu

1. Subjek C: bahwa ia akan mengatakan kepada dirinya ketika akan pergi ke sekolah, meskipun nanti ia marah-marah, ia harus tetap sabar dan tidak perlu mendengarkan apa yang dikatakan teman yang membullynya. Ketika ia berpapasan dengan teman yang

mem-bully, subjek akan mengatakan pada dirinya

“jangan takut, anggap saja dia tidak ada” lalu

mengatakan kepada teman yang membully“kenapa

ganggu-ganggu”.

2. Subjek B: mengatakan bahwa ia akan

mengatakan kepada

dirinya “tidak usah takut,

anggap saja angin lalu yang akan pergi”. Jika ia

bertemu dengan teman yang membully ia akan

mengatakan “apa kau”.

3. Subjek A dan D belum mampu mengungkapkan pikiran positinya.

Subjek C terlihat lebih menguasai situasi intervensi dibandingkan subjek lain. ia selalu menjawab setiap pertanyaan dari peneliti, secara spontan tanpa

menunggu peneliti memberi kesempatan kepadanya. Berbeda dengan subjek A dan D. ia lebih banyak diam, dan ikut berbicara ketika peneliti memberinya

kesempatan. Subjek B cukup aktif selama proses

3. Hari Ketiga

Pertemuan dilakukan pada tanggal 6 Desember 2016. Dilaksanakan di salah satu ruang kelas. Pertemuan dimulai pada pukul 14.00 – 15.30 WIB setelah jam pulang sekolah yang diikuti oleh semua subjek penelitian. Uraian proses pelaksanaan penelitian dapat dilihat di bawahh ini.

Tabel 4.4. Proses pelaksanaan pertemuan ketiga

Kegiatan Hasil pelaksanaan Obsevasi

Bermain puzzle Subjek mampu menjelaskan mengenai gambar-gambar pada

puzzle yang disusun

Subjek terlihat senang dan antusias menyelesaikan puzzle

yang diberikan. Subjek juga mengatakan mereka pernah mengalami hal seperti pada gambar.

Menulis bentuk-bentuk-bentuk bully

fisik

Subjek mampu mengingat dan menuliskan bentuk-bentuk bully fisik yang dialami.

Subjek menjawab dengan spontan sambil berkata sering mengalami bully fisik. Subjek menulis dengan fokus dan tidak membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikannya. Menulis

pikiran dan perasaan ketika mengalami

bully fisik

Subjek mampu mengekspresikan dan mengungkapkan perasaan melalui cerita yang ditulis. Meskipun harus kembali

mengingat kejadian bullying yang telah mereka alami, mereka mengatakan tidak mengalami kesulitan untuk mengingat dan menuliskannya

Subjek A memilih menjauh dari subjek lain saat menulis dan terlihat fokus saat menulis. Selama proses intervesi

berlangsung subjek A juga terlihat tidak terlalu aktif dibandingkan subjek lainnya. Subjek terlihat relaks saat menulis, mereka sesekali terlihat mengobrol saat menulis.

Subjek B terlihat kurang nyaman dengan sikap subjek C yaitu mengkritik apa yang dikatakan oleh subjek B. Subjek D sudah lebih aktif dibandingkan dari pertemuan sebelumnya.

Menemukan pikiran positif

Keempat subjek sudah dapat mengungkapkan pikiran positif ketika mengalami bullying.

1. Subjek A mengatakan ia tidak

Setelah peneliti memberikan pertanyaan untuk membantu subjek menemukan pikiran positif, ketiga subjek yaitu

akan menghiraukan teman yang membullyinya, ia akan diam saja ketika dipanggil oleh temannya tersebut. 2. Ketika akan berangkat

sekolah subjek B akan mengatakan kepada dirinya tidak perlu takut terhadap teman yang membullynya. tidak perlu mendengarkan ejekan teman tersebut.

3. Subjek C juga mengatakan hal yang sama seperti subjek A dan B, ia akan mengatakan kepada dirinya ketika akan berangkat ke sekolah, bahwa ia tidak perlu takut jika bertemu teman yang

membully, tidak perlu perlu memperdulikan ejekan mereka, karena jika mereka mengejek, mereka yang akan berdosa. Saat ia bertemu dengan teman yang membully

tersebut, ia tidak perlu memperdulikan mereka. 4. Subjek D, mengatakan ia akan

bersikap cuek saat bertemu dengan teman yang

membullynya dan mengatakan kepada mereka untuk berhenti mengejek dan mengganggu dirinya.

subjek B, C dan D menjawab serentak dan saling setuju dengan jawaban yang diberikan subjek lain.

Subjek A terlihat menghindari pembicaraan tentang teman yang membullynya, ia mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.

4. Hari Keempat

Pertemuan keempat dilakukan pada tanggal 7 Desember 2016. Sama seperti pada tiga pertemuan sebelumnya, pertemuan keempat juga dimulai pada pukul 14.00 -15.30 WIB di salah satu ruang kelas. Uraian kegiatan yang dilakukan pada pertemuan keempat dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 4.5. Proses pelaksanaan pertemuan keempat

Kegiatan Hasil pelaksanaan Observasi

Memilih gambar yang memiliki kesamaan

Subjek menjelaskan tentang 2 gambar yang memiliki

kesamaan.

Subjek B dan C bekerjasama menyelesaikan permainan, selain itu jua terlihat bahwa subjek B jua membantu subje A dan D untuk menyelesaikan permainan.

Subjek B, C dan D secara bergantian menjelaskan gambar

bullying verbal. Menulis

bentuk-bentuk

bully verbal yang dialmi

Subjek dapat mengingat dan menuliskan bentuk-bentuk

bully verbal yang dialami.

Subjek A dan D secara spontan mengangkat tangan sambil berkata pernah mengalami bully

verbal. Subjek C terlihat membutuhkan waktu untuk mengingat, ia terlihat diam beberapa saat sebelum menulis dan saat menulis.

Menulis pikiran dan perasaan ketika mengalami bullying verbal

Subjek mampu mengekspresi perasaan dan pikirannya ketika dibully melalu cerita yan dituliskan.

Subjek A dan B memilih menjauh dari subjek lain saat menulis. sedangkan subjek C dan subjek D tidak berpindah tempat duduk. Berbeda dari pertemuan sebelumnya, subjek C tidak langsung menulis, ia terlihat diam beberapa saat seperti sedang mengingat sesuatu sebelum mulai menulis. Menemukan

pikiran positif

Subjek C mengatakan ia akan menganggap apa yang

dilakukan teman terhadap dirinya seperti angin yang lewat, sehingga tidak perlu dihiraukan.

Subjek B dan D memberikan jawaban yang sama dengan subjek C.

5. Hari kelima

Pertemuan kelima dilaksanakan pada tanggal 8 Desember 2016. Berbededa dari pertemuan sebelumnya, pertemuan kelima dilakukan pada pukul 09.00 – 10.30 WIB. Uraian pelaksanaan intervensi dapat dilihat pada tabel 4.6 berikut ini:

Tabel 4.6. Proses pelaksanaan pertemuan kelima

Kegiatan Hasil pelaksanaan Observasi

Membaca cerita tentang

bully relasi.

subjek menyebutkan bahwa mereka juga pernah mengalami kejadian seperti cerita yang dibacakan.

Subjek B mengatakan bahwa ia pernah difitnah mencuri uang teman sekelas. 1. Menulis bentuk-bentuk bully relasi yang dialami

subjek dapat mengingat dan menuliskan bentuk-bentuk bully relasi yang dialami,

Subjek C dan D spontan mengatakan mereka pernah

mengalaminya. Begitu pula dengan subjek B, ia bahkan menjelaskan

bully relasi yang dialami. Mereka terlihat tidak senang dan kesal dengan kejadian terebut. Sedangkan subjek A hanya diam sambil

mendengarkan subjek lain berbicara. 2. Menulis pengalaman dan pikiran ketika mengalami bully relasi

Subjek C dan subjek B hanya mengungkapkan emosi negatif yang dirasakannya ketika mengalami bullying, tanpa menuliskan bagaimana kejadian tersebut terjadi dan apa yang ia pikirkan saat itu. Sedangkan pada subjek A dan D mereka mampu mengekspresikan pengalaman bullying

yang dialami dengan lebih rinci dibandingkan subjek B dan subjek D.

Subjek terlihat itdak nyaman saat mengikuti proses intervensi ketika salah seorang siswa mencoba melihat kegiatan yang sedang dilakukan.

3. Menemukan pikiran positif

Subjek mengungkapkan pikiran positif yang sama seperti pada pertemuan sebelumnya.

Subjek A hanya diam, saat peneliti menanyakan mengenai pikirannya ketika ia merasa cemas karena dibully.

6. Hari keenam

Pada pertemuan keenam, peneliti melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan intervensi yang telah dilakukan dan mengukur kecemasan subjek setelah intervensi. Pertemuan ini dilakukan pada tanggal 9 Desember 2016, pada pukul 11.00 – 12.00

WIB. Peneliti meminta setiap subjek untuk mengisi lembar evaluasi, setelah itu dilanjutkan dengan mengisi skala kecemasan. Pada pertemuan ini diketahui bahwa subjek, masih mengalami bullying saat intervensi dilakukan. Selain itu, juga diketahui bahwa tidak semua subjek mencoba untuk mempraktekkan pikiran positif yang dikatakannya saat intervensi berlangsung.

Dokumen terkait