• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembuatan kompos jerami dengan mengumpulkan 200 kg jerami, kemudian dicacah ± 5 cm, lalu dicampur dengan dedak 10 kg dan pupuk kandang sapi 10 kg, setelah itu di tempatkan pada bak yang disediakan, kemudian disiram secara bertahap dengan larutan EM4 (1 botol) yang telah dilarutkan dengan 6,5 kg gula merah yang telah dicairkan, setelah itu ditambahkan dengan air sebanyak 194 liter air, lalu bak ditutup dengan terpal berwarna gelap dan diinkubasi selama 28 hari. Setelah 28 hari, jerami mengalami perubahan fisik seperti berwarna coklat kehitam-hitaman, lunak dan mudah dihancurkan, tidak berbau menyengat, dan volume menyusut hingga setengahnya,menandakan bahwa kompos jerami sudah cukup matang dan siap diaplikasikan ke lahan penelitian.

Persiapan Lahan

Penyiapan lahan dilakukan dengan menggunakan alat handtractor dengan kedalaman bajak 30 cm untuk memotong, membalikkan, memecah tanah serta membenamkan sisa-sisa tanaman kedalam tanah dengan bajak singkal dan garu rotari. Kemudian dibuat petakan dengan ukuran 200 cm x 220 cm sebanyak 36 petakan. Lalu dibuat batas antar blok dan antar petakan dengan ukuran 30 cm.

Dibuat saluran air masuk dan keluar pada masing-masing petakan sehingga air dapat mengalir pada seluruh petakan lahan penelitian.

Persiapan Benih

Benih padi yang digunakan adalah varietas Ciherang sebanyak 2 kg.

Perendaman benih dilakukan sebelum melakukan persemaian untuk mengaktifkan hormon Giberelin. Perendaman dilakukan selama 24 jam dan diperam di dalam

karung goni selama 12 jam sehingga benih dapat berkecambah serentak.

Persemaian

Lahan untuk tempat pembibitan terlebih dahulu diolah sampai kedalaman 15 cm dengan menggunakan cangkul hingga menjadi gembur dan tidak terdapat lagi bongkahan batu. Persemaian dilakukan pada lahan ukuran 2 m x 4 m ( ± 4%

dari total luas lahan yang akan ditanam). Benih padi yang sudah diperam kemudian disebar secara merata pada tempat pembibitan yang telah dipersiapkan lalu di tutup dengan tanah ± 3 cm. Setelah padi berumur 14 hari, dilakukan pemindahan ke lahan penelitian.

Penanaman

Penanaman dilakukan ketika umur bibit 2 minggu, sebanyak 2 bibit per lubang tanam. Pada saat penanaman lahan dalam keadaan macak-macak, berlumpur dan rata. Dibentuk garis tanam yang lurus dan jelas dengan tali plastik yang dibentang dari ujung ke ujung lahan dengan ukuran 20 × 20 × 40, agar tanaman tertata rapi. Kemudian bibit ditanam dengan membenamkan akar tanaman ke dalam tanah sedalam ± 3 cm dari permukaan tanah dan mengikuti sistem tanam jajar legowo sesuai dengan perlakuan sistem Jajar Legowo 4:1 yaitu setiap empat baris tanaman diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak antar barisan dengan jarak tanaman yang dipinggir setengah jarak tanam yang ditengah serta arah barisan tanam sesuai dengan arah aliran air dan matahari terbit.

Pemeliharaan Tanaman Pengairan lahan

Pengairan lahan sawah dilakukan pada fase awal pertumbuhan, pembentukan anakan, masa bunting, pembungaan dan pengisian biji dengan ketinggian air ± 5 cm. Setelah tanaman padi berumur 98 hari, lahan sawah dikeringkan. Hal ini bertujuan agar proses pematangan bulir padi pada malai berlangsung secara maksimal.

Penyulaman

Penyulaman bibit dilakukan pada umur 8 – 10 HSPT (hari setelah pindah tanam) karena terdapat beberapa tanaman yang mati dan terserang hama.

Tanaman yang mati atau terserang hama diganti dengan tanaman yang sama dari tempat persemaian bibit agar pertumbuhan dan perkembangan bibit padi sama dengan tanaman padi yang sudah ada di lahan penelitian.

Penyiangan

Penyiangan dilakukan seminggu sekali pada tempat yang ditumbuhi gulma secara manual atau mencabut dengan tangan. Dilakukan dengan hati-hati sehingga tidak mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi.

Pemupukan

Lahan diberi kompos jerami pada tiap petakan sesuai dengan perlakuan yang sudah di tentukan, sebelum penanaman bibit padi. Pemberian pupuk kimiawi dilakukan setelah bibit padi di pindahkan pada lahan penelitian sesuai dengan perlakuan percobaan. Pemupukan awal (Urea 26,4 g/plot, TSP 35,2 g/plot, dan KCl 0 g/plot; 8,8 g/plot; 17,6 g/plot; 26,4 g/plot ) diberikan pada umur tanaman 14 HSPT. Pemupukan kedua (Urea 44 g/plot dan KCl 0 g/plot; 8,8 g/plot; 17,6

g/plot; 26,4 g/plot ) dilakukan pada umur 28 HSPT saat fase anakan aktif dan pemupukan ketiga kedua (Urea 61 g/plot dan KCl 0 g/plot; 8,8 g/plot; 17,6 g/plot;

26,4 g/plot ) tahap primordial yaitu pada umur 42 HSPT.

Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman

Pengendalian HPT dilakukan dengan cara memonitoring lahan yang terserang organisme pengganggu tanaman (OPT). Pengendalian dilakukan dengan cara mekanik dan kimiawi. Pengendalian mekanik dilakukan dengan mengendalikan/membunuh secara manual. Pengendalian juga dilakukan dengan cara kimiawi yaitu dengan menggunakan insektisida Fostin 610 EC dan Takeover 505 SL untuk mengendalikan hama penggerek batang, walang sangit, dan wereng coklat. Untuk mengendalikan jamur digunakan Du Pont 80 WP.

Panen

Pada umumnya tanaman padi siap panen apabila 95% bulir padi telah menguning (33-36 hari setelah berbunga) dan telah berumur 119 hari. Pemanenan dilakukan secara manual dengan menggunakan bantuan alat berupa arit, untuk memotong batang padi di bagian bawah malai. Kemudian malai di kelompokkan sesuai perlakuan lalu malai padi dirontokkan secara manual dengan memukul malai sehingga biji padi terlepas dari malai. Setelah itu, gabah padi dimasukkan kedalam karung. Gabah padi selanjutnya dijemur dibawah sinar matahari.

Peubah Amatan Tinggi Tanaman (cm)

Tinggi tanaman diukur mulai dari pangkal batang hingga ujung daun tertinggi dengan menggunakan penggaris. Pengukuran dilakukan dari batas tanah sampai ujung daun tertinggi dengan menggunakan penggaris dan meteran.

Pengukuran dilakukan mulai 2 MST dengan interval waktu 1 minggu sekali sampai 7 MST .

Jumlah Anakan per Rumpun (anakan)

Pengamatan anakan diambil pada tiap sampel tanaman yang dimulai pada 2 MST. Pengamatan dilakukan dengan lama interval 1 minggu sampai 7 MST.

Panjang Malai (cm)

Pengamatan panjang malai diambil pada tiap sampel tanaman yang dilakukan pada saat panen umur 15 MST.

Jumlah Malai per Rumpun (tangkai)

Pengamatan jumlah malai per rumpun diambil pada tiap sampel tanaman yang dilakukan pada saat panen umur 15 MST.

Bobot Malai per Sampel (g)

Bobot malai per sampel diambil dengan cara menimbang biji beserta malai tiap sampel perlakuan. Bobot malai per sampel ditimbang setelah tanaman dipanen umur 15 MST dan dikeringkan dibawah sinar matahari selama 1 minggu sampai kadar airnya ± 14% (Litbang, 2017).

Bobot 1000 Biji Padi (g)

Pengamatan bobot 1000 biji padi diamati setelah tanaman dipanen pada umur 15 MST dan dikeringkan dibawah sinar matahari selama 1 minggu sampai kadar airnya ± 14% (Litbang, 2017).

Bobot Gabah Padi Per Plot (kg)

Pengamatan bobot biji padi per plot diamati setelah tanaman padi dipanen umur 15 MST dan dikeringkan dibawah sinar matahari selama 1 minggu sampai kadar airnya ± 14% (Litbang, 2017).

Dokumen terkait