BAB IV. KEGIATAN OPERASIONAL
C. PENGAWASAN DAN PENINDAKAN
3. Kinerja Tahun 2010
3.2 Pelaksanaan Penindakan
Penindakan dilakukan karena telah terjadi pelanggaran, tindakan dimaksud adalah dengan menerapkan sanksi bagi pelanggarnya. Sanksi tersebut berupa sanksi administratif (Refresif non-yustisiil) dan sanksi Pidana (Refresif Yustisiil).
BAB IV KEGIATAN OPERASIONAL
IV
a. Sanksi administratif (Refresif non-yustisiil)
Tindakan represif non-yustisiil dilakukan terhadap media pembawa yg tidak memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan karantina (penahanan, penolakan dan pemusnahan dalam rangka tindakan 8 P).
Fungsi penindakan untuk melaksanakan tindakan represif non-yustisiil ini dilakukan oleh pejabat fungsional/petugas karantina diutamakan yang telah mengikuti diklat polisi khusus.
Pada tahun 2010 telah dilakukan tindakan penahanan, penolakan dan pemusnahan, sebagaimana tabel di bawah ini.
Tabel 18. Tindakan Penahanan Tahun 2010 No Komoditas Daerah
Tabel 19. Tindakan Penolakan Tahun 2010 No Komoditas Daerah
BAB IV KEGIATAN OPERASIONAL
Laporan Tahunan 2010 BKP Kelas I Banjarmasin 42
IV
Tabel 20. Tindakan Pemusnahan Tahun 2010 No Komoditas Daerah
b. Sanksi Pidana (Refresif Yustisiil)
Pada tahun 2010 telah dilakukan aspek penegakan hukum peraturan perundang-undangan No. 16 tahun 1992.Penegakan Hukum dimaksud adalah tindakan penyidikan oleh Penyidik PPNS Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin. Hal ini disebabkan karena terjadinya pelanggaran Pasal 31 Jo. Pasal 6 Huruf a dan c dan Pasal 9 ayat (1), Undang-undang No.16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan.
Pelanggaran tersebut berupa tindak pidana pengiriman telur konsumsi, dengan rincian telur ayam 348 ikat (62.640 butir), telur bebek 9 ikat (1.620 butir), Telur Puyuh 212 ikat (190.800 butir) dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya tujuan Banjarmasin melalui Pelabuhan Trisakti, tanpa surat kesehatan dari daerah asal, tidak dilaporkan dan tidak diserahkan kepada petugas karantina di tempat pengeluaran dan pemasukan yang dilakukan oleh H. ABDUL HADI beralamat di Jalan Melayu Laut No. 14 RT.002 Kelurahan Melayu Kecamatan Banjarmasin Tengah- Banjarmasin.
Media Pembawa tersebut di atas, dimuat di dalam Mobil Truck Fuso warna kuning dengan Nomor Polisi DA 9561 AS.
Bersama dengan trucknya media pembawa tersebut diangkut menggunakan KM. Kumala. Peristiwa tersebut terjadi pada hari Selasa tanggal 27 April 2010 pada saat petugas Karantina Hewan melakukan tindakan pemeriksaan di Pelabuhan Trisakti
BAB IV KEGIATAN OPERASIONAL
IV
Banjarmasin, terhadap semua media pembawa yang diangkut oleh KM Kumala dari Surabaya.
Modus operandi yang dilakukan oleh tersangka yakni, telur konsumsi tersebut disimpan dibagian bak depan dan ditutup dengan tumpukan kotak buah-buahan kemudian ditutup dengan terpal.
Gambar 14. Truk pengangkut Media Pembawa Telur tanpa disertai dokumen Karantina Hewan
Tindakan yang diambil oleh petugas karantina adalah menahan media pembawa tersebut sesuai kewenangan yang dimiliki.
Berdasarkan Laporan Kejadian yang dibuat oleh petugas fungsional Medik Veteriner, maka Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin selaku penyidik, mengeluarkan Surat Perintah Penyidikan bersamaan dengan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan sebagai dasar bagi para Penyidik PNS melakukan penyidikan tindak pidana di bidang karantina hewan. Untuk kepentingan penyidikan, media pembawa tersebut disita oleh Penyidik PNS. Selanjutnya untuk menghindari penyebaran HPHK, pada tanggal 4 Mei 2010 dilakukan pemusnahan media pembawa HPHK tersebut dengan disaksikan pejabat dari instansi terkait.
BAB IV KEGIATAN OPERASIONAL
Laporan Tahunan 2010 BKP Kelas I Banjarmasin 44
IV
Gambar 15. Petugas menyita media membawa HPHK berupa Telur konsumsi
Pada tanggal 4 Mei 2010 dilakukan pemusnahan media pembawa HPHK tersebut dengan disaksikan pejabat dari instansi terkait.
Gambar 16. Pemusnahan telur konsumsi
Gambar 17. Tindakan Pemusnahan telur konsumsi dengan cara dibakar
BAB IV KEGIATAN OPERASIONAL
IV
Penyidikan tersebut sudah dinyatakan P-21 (lengkap) oleh Kejaksaan Tinggi Kalimantan Selatan.
Gambar 18. Koordinasi dengan Korwas PPNS untuk penyidikan
IV. Kesimpulan
Aspek penegakan hukum peraturan perundang-undangan karantina Hewan dan Tumbuhan harus dijaga dan Petugas Karantina tidak boleh ragu-ragu untuk masuk dalam wilayah hukum.
V. Saran
1. Untuk meningkatkan motivasi, kemampuan dan semangat pengabdian untuk menegakkan peraturan perundang-undangan karantina pertanian, diharapkan pembinaan kepada PPNS, Polsus dan Intelijen melalui pendidikan dan pelatihan secara berkesinambungan.
2. Untuk meningkatkan keberhasilan di bidang penegakan hukum, diperlukan Sumber Daya Manusia Wasdak yang mandiri.
VI. Penutup
Sebagai penutup Laporan Tahunan ini, Seksi Pengawasan dan Penindakan menyampaikan terimakasih atas dukungan dan kerjasama yang diberikan oleh semua unit kerja di Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin. Semoga ditahun mendatang kita tetap dapat mempertahankan kerjasama ini dengan sebaik-baiknya.
BAB V PERMASALAHAN DAN SOLUSINYA
Laporan Tahunan 2010 BKP Kelas I Banjarmasin 46
V
BAB V
PERMASALAHAN DAN SOLUSINYA
A. PERMASALAHAN
1. Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin memiliki 53 orang personel yang terdiri dari 32 PNS, 8 orang CPNS dan 13 orang tenaga honorer petugas keamanan dan kebersihan dengan beban tugas yang harus rangkap bagi setiap pegawai.
2. Untuk meningkatkan pengawasan lalulintas pemasukan dan pengeluaran kapal laut yang waktu sandarnya siang sampai malam hari dan pesawat terbang jadual penerbangannya dari pukul 06.00 pagi sampai pukul 23.00 WITA, maka pelayanan harus dilaksanakan dengan sistem jaga 24 jam.
Dikarenakan keterbatasan petugas, maka setiap petugas yang ikut jadual piket harus siaga selama 24 jam sesuai jadual yang telah ditetapkan, sedangkan biaya lembur yang tersedia belum bisa membiayai jam lembur / piket yang dilaksanakan.
3. Fungsi Pengawasan dan penindakan belum dapat berjalan optimal, dikarenakan belum tersedia tenaga POLSUS, Inteligen dan PPNS yang mandiri, sedangkan yang ada adalah merangkap pejabat fungsional.
4. Kemampuan petugas dalam bidang tugasnya sangat terbatas, khusus untuk Pejabat Struktural diperlukan pembekalan managemen kepemimpinan yang lebih intensif sehingga memiliki inovasi dan tingkat tanggung jawab yang tinggi.
5. Pengalokasian anggaran belum proporsional, sehingga masih ditemukan kesulitan dalam pertanggungjawaban dan kadangkala pelaksanaan kegiatan dipaksakan sehingga menjadi kurang efektif.
6. Pengembangan laboratorium Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin menjadi agak terhambat dikarenakan adanya rencana ruislag
46
BAB V PERMASALAHAN DAN SOLUSINYA
V
bangunan yang sudah ada, sehingga pengembangan metode pemeriksaan belum dapat dikembangkan.
B. SOLUSI
1. Dalam mengantisipasi keterbatasan jumlah dan kualitas personel, beberapa pegawai yang memiliki tingkat loyalitas terhadap organisasi tinggi, harus melaksanakan beberapa tugas rangkap.
2. Untuk mengoptimalkan realisasi anggaran harus dilakukan revisi POK yang berulang-ulang.
3. Pelaksanaan kegiatan laboratorium tetap efektik dilaksanakan sesuai kondisi yang sudah ada.
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
Laporan Tahunan 2010 BKP Kelas I Banjarmasin 48
VI
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
1. Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin sedang berusaha untuk terus meningkatkan kinerja yang optimal, dengan melaksanakan langkah-langkah reformasi birokrasi dengan mengacu pada pedoman yang sudah ada.
2. Peningkatan pelayanan untuk masyarakat khususnya para pengguna jasa sudah dapat dilihat terutama dengan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menyampaikan permohonan pemeriksaan secara langsung ke kantor kaantina.
3. Kesadaran masyarakat sangat dirasakan meningkat karena pembawa hewan, tanaman dan media pembawa lain rata-rata sudah memenuhi persyaratan dokumen karantina dari daerah asal, kecuali untuk sayuran yang diperdagangkan masih belum mengurus dokumen karantina tumbuhan di daerah asal.
B. SARAN
1. Formasi pegawai hendaknya dibuat standar, UPT memiliki jumlah pegawai yang memenuhi standar kebutuhan sesuai eselonering UPT.
2. Pengalokasian anggaran hendaknya benar-benar memperhatikan kebutuhan UPT, karena kalau hanya mengikuti standar nasional tidak seluruh anggaran akan efektif dan efisien.
3. Dalam pengembangan pola karir pegawai, perlu dibuat konsep yang transparan terutama untuk pejabat fungsional sehingga dapat memberi motivasi bagi mereka untuk meningkatkan prestasi kerja terutama bagi pejabat fungsional yang memiliki dedikasi dan loyalitas tinggi yang bertugas di daerah-daerah terpencil.
48
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
VI
4. Pengalokasian biaya perjalanan koordinasi antar UPT Karantina Pertanian masih diperlukan, karena banyak hal yang sifatnya operasional antar UPT dapat dikoordinasikan lebih cepat tanpa harus menunggu pertemuan yang difasilitasi Kantor Pusat.