METODE PENELITIAN
4.4 Pelaksanaan Percobaan .1 Persiapan lahan
4.4 Pelaksanaan Percobaan 4.4.1 Persiapan lahan
Lahan yang dipergunakan adalah kebun petani yang sudah ada tanaman kakao dewasa umur 15 – 20 tahun. Areal dibagi menjadi tiga blok (ulangan), dimana masing – masing ulangan terdapat 45 tanaman.
4.4.2 Penyiapan batang bawah
Batang bawah yang digunakan adalah kakao dewasa umur 15 - 20 tahun, pertumbuhan baik, sehat dan sedang bertunas. Batang bawah yang akan disambung terlebih dahulu dilakukan pemupukan, pemangkasan, penyiangan gulma serta pengendalian hama dan penyakit.
4.4.3 Penyediaan batang atas (entres)
Entres diambil dari perkebunan milik Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Jember yang secara individu telah diseleksi terkecuali klon lokal Bali. Penyediaan batang atas (entres) yang digunakan adalah entres dari klon kakao lokal Bali, Sulawesi 1, Sulawesi 2, ICCRI 03 dan ICCRI 04. Batang atas dipilih dari ranting yang baik, dan tidak terserang hama dan penyakit, bentuknya lurus panjang sekitar 15 cm dan terdiri dari 4 - 5 mata tunas. Entres berupa cabang plagiotrop berwarna hijau atau hijau kecoklatan dan sudah mengayu, dengan ukuran diameter 0,75-1,0 cm.
4.4.4 Pengemasan entres
Entres yang telah diambil langsung disambung pada hari itu juga, namun karena pada percobaan ini jarak antara kebun sumber entres dengan lokasi penelitian cukup jauh dan terdapat perlakuan dimana entres disimpan beberapa hari kemudian baru dilakukan penyambungan, maka entres dikemas terlebih dahulu (Gambar 4.2) dengan cara sebagai berikut :
1. Potong entres sepanjang ± 45 cm, masukkan kedalam dos ukuran 45 cm x 20 cm x 23 cm berisi media yang dilapisi plastik.
2. Media terdiri dari kertas koran yang telah dibasahi dengan air dan dicampur dengan larutan alcosorb tiga g dan setelah itu dibungkus dengan plastik. 3. Bahan entres diatur sedemikian rupa sehingga setiap bahan tertutupi oleh kertas
koran yang telah dibasahi dengan air secukupnya dan setiap satu ikatan plastik berisi 50 entris.
4. Entres yang akan disambung pada hari ke tiga dan ke enam dibungkus dengan pelepah pisang dan plastik kemudian disimpan dalam ruangan yang sejuk sehingga kesegaran entres tetap terjaga.
(1) Pengemasan entres
(3) Penyimpanan entres 3-6 hari
( 2) Pengepakan entres sebelum diangkut
(4) Media entres (kertas koran dan larutan alkosorb)
Gambar 4.2
4.4.5 Pelaksanaan penyambungan
Tapak sambungan dibuat pada ketinggian 45 – 75 cm diatas permukaan tanah, lalu kulit batang bawah disayat secara horizontal dengan panjang 4-6 cm sampai menyentuh lapisan kambium (Gambar 4.3). Selanjutnya diatas sayatan horizontal disayat/dikerat secara hati-hati sampai membentuk cekungan hingga bertemu pada ujung dari sayatan horizontal, sehingga membentuk cekungan. Bagian bawah cekungan disayat vertikal selebar 1,5 – 2,0 cm dan panjangnya ± 5 cm sampai menyentuh lapisan kayu/kambium. Selanjutnya kulit keratan diungkit sedikit untuk mengetahui apakah batang tersebut mudah terkelupas/dibuka.
Tapak sambungan yang baik akan menunjukkan warna keputihan apabila kulit tapak torehan dibuka. Kulit torehan ini ditutup kembali setelah dibuka sementara menunggu entres disediakan. Entres yang telah disediakan dipotong – potong dengan panjang ± 15 cm dan terdapat 3-4 mata tunas. Ujung entres yang telah terpilih disayat sampai runcing menyerupai mata bajing dengan panjang sayatan 4-5 cm. Entres yang telah disayat dimasukkan secara perlahan-lahan kedalam tapak sambungan dengan membuka lidah torehan supaya bagian potongan tidak rusak.
Sisi sayatan yang panjang pada entres harus menghadap ke arah kayu tapak sambungan kemudian lidah kulit batang ditutup kembali. Setelah entres dimasukkan ke dalam tapak sambungan lalu tapak sambung diikat kuat dengan tali rafia pada titik pertautan sambungan sehingga sambungan tidak goyang. Kemudian entres ditutup dengan plastik transparan dan diikat kuat dengan tali
rafiah karena keberhasilan sambungan juga ditentukan oleh sejauh mana entres terhindar dari penguapan berlebihan dan pastikan air hujan tidak akan masuk.
(1) Tapak sambung
(3) Entres disisip pada batang bawah
( 2) Entres di sayat membentuk mata bajing
(4) entres disungkup
Gambar 4.3
4.4.6 Pemeliharaan sambungan
Pemeliharaan batang bawah dan batang atas harus dilakukan secara rutin dan intensif setelah penyambungan agar tunas dapat tumbuh sehat dan normal. Tunas air yang tumbuh dari batang bawah dibuang, tajuk tanaman batang bawah yang menaungi batang atas dipotong secara bertahap (disiwing), pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara teratur (Gambar 4.4).
Ketika tunas muda hasil sambungan sudah mencapai 2-3 cm, maka plastik sungkup dibuka sedikit, sedangkan tali pengikat pertautan tidak dilepas. Dua bulan setelah penyambungan tali ikatan dapat dilepas, karena pada saat itu entres sudah menyatu erat dengan batang bawah.
(1) Pencegahan hama dan penyakit (2) Pembukaan sungkup
Gambar 4.4
Pemeliharaan Entres Sambung Samping 4.5 Pengamatan
Pengamatan dilakukan untuk mendapatkan data pertumbuhan entres kakao setelah dilakukan penyambungan. Pengamatan terhadap variabel pertumbuhan dilakukan pada tiga tanaman sampel pada masing - masing
perlakuan kemudian dirata - ratakan. Pengamatan dilakukan secara non destruktif setiap 15 hari sekali mulai sambungan entres berumur 45 sampai 75 hari setelah penyambungan (hsp).
4.5.1 Variabel pengamatan
Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah: 1. Persentase sambung hidup
Pengamatan dilakukan pada setiap sambungan hidup yang ditandai tumbuhnya tunas pada entres ataupun pada entres yang belum bertunas yang dicirikan dengan entres yang masih segar, hijau dan masih bertautan dengan batang bawah. Pengamatan dilakukan pada umur 75 hsp. Persentase sambung hidup (%) dihitung dengan menggunakan rumus :
a
P = X 100 % ...(1) b
Dimana :
P = Persentase batang atas (entres) yang hidup a = Jumlah batang atas (entres) yang hidup b = Jumlah batang atas (entres) yang disambung
2. Jumlah tunas (pucuk)
Pengamatan dilakukan pada setiap sambungan yang hidup dan bertunas. 3. Panjang tunas (cm)
Panjang tunas diukur mulai dari dasar tunas sampai titik tumbuh dengan menggunakan penggaris. Pengamatan dilakukan pada umur 45, 60, dan 75 hsp.
4. Jumlah daun total tanaman (helai)
Jumlah daun yang diamati dengan cara menghitung seluruh helai daun yang telah terbuka sempurna pada batang atas (entres). Pengamatan dilakukan pada umur 45, 60, dan 75 hsp.
5. Diameter tunas entres (mm)
Diameter tunas diukur menggunakan jangka sorong, 5 cm dari bagian pangkal tunas. Pengamatan dilakukan pada umur 45, 60, dan 75 hsp.
6. Luas daun tanaman (cm²)
Luas daun ditentukan dengan mengukur panjang dan lebar daun maksimum, kemudian dikalikan dengan konstanta (Hamid 2009). Pengamatan dilakukan pada umur 45, 60, dan 75 hsp.
LD = P x L x k ...(2) Dimana:
LD : Luas daun
P : Panjang daun (cm)
L : Lebar daun maksimum (cm) k : Konstanta
Konstanta ditentukan berdasarkan metode planimetri yaitu luas helai daun diukur diatas kertas milimeter blok, sedangkan panjang dan lebar daun maksimum diukur menggunakan penggaris. Nilai konstanta dicari dengan cara membagi luas daun sebenarnya pada kertas milimeter blok dengan panjang x lebar daun maksimum.
Konstanta = Luas daun sebenarnya (di atas kertas milimeter blok) (cm2)...(3) Panjang x Lebar daun maksimum (cm2)