BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BANK BNI DENGAN TOKO (MERCHANT)
A. Pelaksanaan Perjanjian Kerjasama Electronic Data Capture (Studi pada PT Bank BNI, Tbk Medan)
PT. Bank Negara Indonesia, Tbk (selanjutnya disebut BNI) berdiri sejak 1946 merupakan bank pertama yang didirikan dan dimiliki oleh pemerintah Indonesia. Mempunyai visi yaitu menjadi bank yang unggul, terkemuka, dan terdepan dalam layanan dan kinerja. Untuk itu, BNI memiliki 5 (lima) visi, yaitu:
1. Memberikan layanan prima dan solusi yang bernilai tambah kepada
seluruh nasabah dan selaku mitra pilihan utama (the bank choice).
2. Meningkatkan nilai investasi yang unggul bagi investor.
3. Menciptakan kondisi terbaik bagi karyawan sebagai tempat
kebanggaan untuk berkarya dan berprestasi.
4. Meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan
dan sosial.
5. Menjadi acuan pelaksanaan kepatuhan dan tata kelola perusahaan yang
baik.
Dalam upaya mewujudkan sasaran-sasaran di atas, terdapat budaya kerja BNI yang merupakan tuntunan perilaku insan BNI, terdiri dari:
a. 4 (empat) nilai budaya kerja, yaitu:
1. Profesionalisme
2. Integritas
3. Orientasi pelanggan
4. Perbaikan tiada henti
b. 6 (enam) nilai perilaku utama insan BNI, yaitu:
1. Meningkatkan kompetensi dan memberikan hasil terbaik.
2. Jujur, tulus, dan ikhlas.
3. Disiplin, konsisten, dan bertanggung jawab.
4. Memberikan layanan yang terbaik melalui kemitraan yang sinergis.
5. Senantiasa melakukan penyempurnaan.
6. Kreatif dan inovatif.
Selaku badan usaha berbadan hukum berbentuk bank yang berfungsi mengatur mengenai perbankan sesuai undang-undang yang mengaturnya, dalam melaksanakan kegiatannya lembaga ini harus menyesuaikan diri terhadap perkembangan masyarakat yang dinamis dan mengikuti arus perkembangan teknologi informasi untuk dapat menjangkau segala kebutuhan nasabah.
Umumnya keberadaan perusahaan perbankan bertujuan untuk memperoleh
keuntungan maksimal bagi perusahaan, menjamin kelangsungan hidup perusahaan, memenuhi kebutuhan masyarakat, menciptakan lapangan pekerjaan.
Guna mencapai tujuan itulah, Bank sebagai salah satu financial institution tidak
terlepas dari kegiatan untuk melaksanakan perjanjian baik terhadap nasabah
maupun pihak ketiga seperti para pelaku usaha (merchant) mengingat kehadiran
sebuah usaha Bank sangat erat kaitannya dengan perkembangan perdagangan yang semakin „menjamur‟ akhir-akhir ini.
artinya bahwa setiap orang bebas untuk mengadakan perjanjian, baik yang sudah diatur maupun yang belum diatur di dalam undang-undang. Hal ini dapat disimpulkan dari ketentuan yang tercantum dalam Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata, yang berbunyi: “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai
undang-undang bagi mereka yang membuatnya”.
Dalam membuat perjanjian, ada dikenal suatu proses prakontrak. Ada
beberapa pertanyaan yang harus dijawab dalam pembuatan (formation) suatu
kontrak, yaitu :73
a. Sudahkah kesepakatan tercapai, hal ini diatur oleh ketentuan tentang kapan
terjadinya penawaran (offer) dan penerimaan (acceptance);
b. Apakah kontrak tersebut telah mengikat secara sah. Hal ini akan dijawab
oleh syarat sahnya suatu kontrak, dalam KUH Perdata diatur pada Pasal 1320;
c. Apakah ada faktor-faktor yang dapat membatalkan (invaliditate) kontrak.
Pertanyaan tersebut akan dijawab dengan penelitian apakah dalam kontrak tersebut tidak ada unsur-unsur:
i. Informasi bohong (misrepresentation)
ii. Kesalahan (mistake)
iii. Paksaan (duress),
iv. Penyalahgunaan keadaan (undue influence),
v. Posisi tawar yang berat sebelah (unconscionable bargains)
vi. Ketidaksahan (illegality), dan
73
vii. Ketidakmampuan (incapacity)
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan penulis di PT. Bank Negara Indonesia, Tbk Medan (selanjutnya disebut Bank), di dalam pelaksanaan
perjanjian kerjasama mesin EDC di merchant-merchant diperlukan adanya suatu
perjanjian antara Bank acquirer yaitu pemilik mesin EDC dengan para pedagang.
Perjanjian timbul setelah adanya penawaran produk mesin EDC milik bank yang
dilakukan oleh petugas marketing kepada pedagang (merchant) dan pihak yang
ditawari tersebut setuju untuk mengikatkan dirinya. Bank berusaha memberikan
pelayanan terbaik kepada para nasabahnya dengan menyediakan fasilitas untuk mempermudah masyarakat dalam bertransaksi yaitu meminjamkan mesin EDC
sebagai media transaksi nontunai di berbagai merchant. Untuk dapat
merealisasikan hal tersebut, Bank melalui petugas marketing menawarkan mesin
EDC kepada merchant. Dalam hal ini petugas marketing akan mendatangi
pedagang (merchant) atau sebaliknya merchant dapat menghubungi Bank dan
petugas marketing akan segera menindaklanjuti.
Jika dikaitkan dengan pelaksanaan perjanjian kerjasama berkaitan dengan
Electronic Data Capture (EDC), dengan keberadaan teknologi yang semakin canggih dan maju. Hukum harus menyesuaikan diri dengan perkembangan di masyarakat yang dinamis termasuk dalam aspek ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Hal ini dapat menimbulkan fenomena hukum yang sulit terjangkau oleh hukum positif. Melalui interaksi bisnis yang terjadi sekarang ini, diperlukan harmonisasi hukum yang berpotensial meningkatkan keamanan dan keefisienan
Hasil penelitian yang dilakukan penulis menunjukkan bahwa kontrak
kerjasama yang dilakukan antara bank dengan merchant adalah kontrak kerjasama
kontraktual, karena:
1. Kerjasama yang dibuat oleh para pihak yaitu antara Bank dalam hal
penyediaan mesin EDC adalah bersifat perorangan atau menjalin
kerjasama dengan perusahaan yang sudah ada, yaitu merchant yang telah
berbadan hukum
2. Kontrak kerjasama dapat sewaktu-waktu diakhiri oleh para pihak sesuai
dengan substansi kontrak yang telah disepakati sebelumnya
3. Dalam hal penyewaan mesin EDC milik Bank, Bank akan meninjau
terlebih dahulu apakah merchant telah memenuhi syarat untuk penyediaan
fasilitas EDC
4. Bank tidak mempersulit kliennya jika ingin menyediakan fasilitas mesin
EDC karena dalam hal ini Bank selalu berusaha memberikan pelayanan yang baik untuk para nasabahnya.
Hal ini sesuai seperti apa yang dikemukakan oleh Munir Fuady di dalam
bukunya yang berjudul Hukum Kontrak dari Sudut Pandang Hukum Bisnis, yang
mana Beliau mengemukakan bahwa :74
1. Kerjasama kontraktual tidak mendirikan perusahaan baru tetapi hanya
menjalin ikatan kontrak dengan perorangan atau perusahaan yang sudah ada
74
Munir Fuady, Hukum Kontrak-Dari Sudut Pandang Hukum Bisnis, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001, hlm.179
2. Kerjasama kontraktual bersifat temporer
3. Dengan kerjasama kontraktual, mengenal terlebih dahulu calon mitra
bisnisnya
4. Kerjasama kontraktual dapat bersifat lebih spekulatif
5. Jika menyangkut dengan pengembangan usahanya ke luar negeri, maka
kerjasama kontraktual lebih bersifat loosely regulated.
6. Prosedur untuk memformulasi dan merealisasi kerjasama kontraktual lebih
mudah, cepat, dan efisien
Pada prinsipnya kata sepakat dalam menjalin kerjasama dicapai melalui penawaran dan penerimaan. Tanpa didahului penawaran tidak mungkin ada penerimaan, begitu pula sebaliknya. Sumber hukum kontrak bisa berasal dari prinsip-prinsip UNIDROIT. Guna kepentingan kontrak kerjasama Internasional, para penyusun prinsip-prinsip UNIDROIT turut melihat unsur praktis dari proses
terjadinya kontrak.15
Di dalam praktik, kontrak yang menyangkut transaksi yang rumit
seringkali baru terwujud setelah melalui negosiasi yang cukup panjang tanpa dapat diketahui urutan penawaran dan penerimaannya, sehingga sulit menentukan kapan kata sepakat itu terjadi.
Apabila merchant menyepakati penawararan penyediaan mesin EDC
tersebut, selanjutnya pihak bank penerbit mengadakan pertemuan dengan calon
15
Lihat Taryana Soenandar, Op.cit., hlm. 47. Pasal 2.1. UPICCs menyatakan : A contract may be concluded either by the acceptance of an offer or by conduct of the parties that is sufficient to show agreement. Inti dari ketentuan ini adalah bahwa persetujuan terjadi karena :
(1) penawaran dan penerimaan
prospek guna bernegosiasi dan menawarkan kembali red yang berlaku untuk
pengadaan mesin EDC. Red adalah biaya yang dikenakan kepada merchant. Biaya
tersebut akan menjadi keuntungan bank. Jika omset <25juta maka merchant dikenakan biaya sebesar Rp 100.000 (seratus ribu rupiah) per bulan, dan apabila omset merchant >25 juta maka penyewaan mesin EDC tidak dikenakan biaya
bulanan.75
Perjanjian yang dibuat oleh bank penerbit mesin EDC yaitu secara tertulis
dalam bentuk formulir aplikasi. Formulir aplikasi adalah salah satu wujud dari kontrak baku. Praktik penggunaan kontrak baku ini telah biasa digunakan dalam dunia bisnis. Apabila calon prospek telah menandatangani formulir aplikasi maka
pihak merchant secara otomatis telah menyepakati seluruh substansi yang ada
dalam kontrak baku.76
Kontrak baku merupakan kontrak tertulis yang substansinya dibuat hanya
oleh salah satu pihak dalam kontrak tersebut, bahkan sering sekali kontrak sudah
tercetak (boilerplate) dalam bentuk formulir-formulir tertentu, yang dalam hal ini
ketika kontrak tersebut ditandatangani umumnya para pihak hanya mengisikan data-data informatif tertentu saja dengan sedikit atau tanpa perubahan dalam klausula-klausulanya. Di dalam dunia bisnis, kehadiran dari kontrak baku tersebut sangat diperlukan untuk mempermudah operasi bisnis dan mengurangi ongkos-
ongkos.77
75
Hasil wawancara dengan Ade Chandra, Marketing Manager Cards and Business Merchant, PT. Bank Negara Indonesia, Tbk Medan, 12 Maret 2015
76
Hasil wawancara dengan Ade Chandra, Marketing Manager Cards and Business Merchant, PT. Bank Negara Indonesia, Tbk Medan, 12 Maret 2015
77
Munir Fuady, Hukum Kontrak-Dari Sudut Pandang Hukum Bisnis, PT. Citra Aditya Bakti Buku Kedua, Bandung, 2001, hlm.76
Mengenai kontrak baku, baik KUH Perdata maupun RUU Perjanjian tidak mengatur mengenai hal ini. Padahal kontrak baku di dalam dunia bisnis saat ini merupakan praktik transaksi sehari-hari. Menurut Ole Lando, istilah kontrak baku
memiliki banyak padanan kata seperti adhesion contract, agreed document,
document made by official bodies, dan general conditions. Kontrak baku merupakan perjanjian yang ditetapkan secara sepihak, yakni oleh produsen atau penjual produk dan mengandung ketentuan yang berlaku umum (massal), pihak lain (konsumen) dalam hal ini hanya memiliki dua opsi yakni menyetujui atau menolaknya.
Kebebasan berkontrak sebagaimana diatur dalam Pasal 1338 (1) KUH
Perdata sangat ideal jika para pihak yang terlibat dalam suatu kontrak posisi tawarnya seimbang antara satu dengan yang lain. Apabila dalam suatu perjanjian, kedudukan para pihak tidak seimbang, pihak yang lemah biasanya tidak berada dalam keadaan yang betul-betul bebas untuk menentukan apa yang diinginkan di dalam perjanjian.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di PT. Bank Negara
Indonesia, Tbk Medan, di dalam hal perjanjian kerjasama sewa-menyewa mesin EDC, Bank sebagai pihak yang mempunyai hak milik sepenuhnya atas mesin EDC membuat suatu formulir aplikasi yang dipergunakan saat akan menjalin kerjasama dengan kliennya. Hal ini dapat mempermudah Bank dalam hal efisiensi waktu, kepraktisan, dan ketepatan kinerjanya. Seluruh substansi kontrak dibuat sepenuhnya oleh Bank selaku pihak yang menyewakan. Dengan demikian, calon
dalam formulir aplikasi tersebut.
Kedudukan calon prospek yang akan menjalin kerjasama dengan Bank
terlihat lemah, karena hanya mempunyai 2 (dua) pilihan take itor leave it. Hal ini
menjadi konsekuensi yang harus diterima calon prospek. Oleh karena itu, perlu ada negosiasi yang dilakukan antara Bank dengan calon prospek yaitu pedagang (merchant) guna mencapai kata sepakat.
Maka, melalui negosiasi para pihak berupaya menciptakan bentuk-bentuk
kesepakatan untuk saling mempertemukan sesuatu yang diinginkan (kepentingan) dalam suatu kontrak melalui proses tawar-menawar dan kemudian diperoleh
penerimaan dari pedagang (merchant), sehingga kemudian para pihak sama-sama
memperoleh manfaat.
Kewajiban membaca (duty to read) suatu kontrak sangat penting.
Penandatanganan suatu kontrak mengartikan bahwa para pihak telah menyetujui kontrak yang dibuat dengan segala isinya. Ketentuan ini menyimpulkan bahwa sebelum menandatangani suatu kontrak, para pihak harus membaca kontrak dan
mengerti terhadap isi kontrak tersebut terlebih dahulu sebelum
menandatanganinya.
Karena yang merancang format dan isi kontrak adalah pihak yang
memiliki kedudukan lebih kuat, dapat dipastikan bahwa kontrak tersebut memuat klausul-klausul yang menguntungkan baginya, atau meringankan atau menghapuskan beban-beban atau kewajiban-kewajiban tertentu yang seharusnya
menjadi bebannya yang biasanya dikenal dengan klausula eksonerasi.78 Klausula
78
eksonerasi biasanya dimuat dalam perjanjian sebagai klausul tambahan atas unsur esensial dari suatu perjanjian, pada umumnya ditemukan di dalam kontrak baku.
Menurut Mariam Darus Badrulzaman, perjanjian baku dengan klausul
eksonerasi yang meniadakan atau membatasi kewajiban salah satu pihak (kreditor)
untuk membayar ganti kerugian kepada debitur, memiliki ciri sebagai berikut:79
a) Isinya ditetapkan secara sepihak oleh kreditor yang posisinya relatif kuat
daripada debitur.
b) Debitur sama sekali tidak ikut menentukan isi perjanjian itu.
c) Terdorong oleh kebutuhannya, debitur terpaksa menerima perjanjian
tersebut.
d) Bentuknya tertulis.
Dalam perjanjian kerjasama EDC antara pihak Bank dengan merchant,
perjanjian yang dibuat dalam bentuk tertulis tidak hanya berfungsi sebagai alat
pembuktian saja, namun juga merupakan syarat untuk adanya (bestaanwaarde)
perjanjian itu. Penggunaan kontrak baku pada dasarnya dibolehkan untuk memudahkan pembuatan kontrak. Karena untuk transaksi barang produksi massal yang menguasai hajat hidup orang banyak, tidak mungkin dibuat kontrak satu per satu. Namun, pada umumnya kontrak baku dibuat secara sepihak yang seringkali menguntungkan pihak yang membuatnya, sehingga perlu ada aturan hukum yang
hlm.47. Klausula eksonerasi adalah klausul yang dicantumkan dalam suatu perjanjian dengan mana satu pihak menghindarkan diri untuk memenuhi kewajibannya membayar ganti rugi seluruhnya atau terbatas yang terjadi karena ingkar janji atau perbuatan melanggar hukum.
79
dapat memberikan perlindungan hukum kepada pihak yang lemah.80
Hal tersebut di atas tentunya perlu disikapi dan dipahami secara objektif
dalam menilai isi kontrak, terutama terkait dengan klausul-klausul kontrak yang dianggap berat sebelah. Seringkali terjadi kesalahan persepsi mengenai eksistensi kontrak, khususnya mengenai pertanyaan, apakah suatu kontrak itu seimbang atau tidak seimbang (berat sebelah).
Perdebatan mengenai ada atau tidaknya keseimbangan posisi para pihak
pada dasarnya kurang relevan untuk dikaitkan dengan kontrak komersial. Dimensi kontrak komersial yang lebih menekankan aspek kemitraan dan kelangsungan
bisnis (efficiency and profit oriented), tidak lagi berkutat pada keseimbangan
matematis, tetapi justru lebih menekankan pada proposionalitas hak dan kewajiban diantara pelaku-pelakunya. Dengan diterimanya prinsip-prinsip
universal seperti itikad baik dan transaksi yang adil dan jujur (good faith and fair
dealing; redelijkheid en billijkheid; kepatutan dan keadilan) dalam praktek bisnis, membuktikan bahwa yang diutamakan adalah memberikan jaminan bahwa perbedaan kepentingan diantara para pihak telah diatur melalui mekanisme pembagian beban kewajiban secara proporsional, terlepas dari berapa proporsi
hasil akhir yang diterima para pihak yaitu antara merchant sebagai penyewa mesin
EDC dan bank acquirer sebagai pihak yang menyewakankan mesin EDC. Hak
dan kewajiban para pihak sudah tentu disepakati apabila telah melalui negosiasi.
80
B. Prosedur Sistem Electronic Data Capture dan Otorisasi oleh Bank