BAB III PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PENUMPANG DAN
B. Pelaksanaan Perlindungan Hukum terhadap penumpang dan
penumpang
Perlindungan hukum bagi penumpang dalam jasa pengangkutan udara ketika kita berbicara tentang perlindungan hukum dapat diarikan sebagai upaya atau car melindungi diri atau pihak lain dengan suatu hukum atau aturan.
Berdasarkan hasil pengkajian dan analisis hukum terhadap peraturan perundang-undangan yang telah disebutkan diatas, materi hukum yang berkaitan dengan perlindungan hukum terhadap penumpang adalah menyangkut penentuan tanggung jawab perusahaan pengangkutan udara terhadap penumpang, penentuan ganti kerugian, dan upaya hukum bagi penumpang yang mengalami kerugian.
Titik sentral dalam pembahasan mengenai tanggung jawab pengangkut adalah menyangkut prinsip tanggung jawab yang diterapkan. Ada beberapa
bentuk prinsip pengangkut yang dikenal dalam kegiatan pengangkutan, yang masing-masing berbeda satu sama lainnya, baik itu cara pembebana pembuktian, besarnya ganti kerugian, dan lain sebagainya. Penggunaan prinsip tanggung jawab pengangkut sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor.61
Beberapa sumber formal hukum, secara umum prinsip pertanggungjawaban dalam hukum dapat dibedakan sebagai berikut:62
a. Prinsip tanggung jawab atas adanya unsur kesalahan (liability based on fault).
b. Prinsip praduga untuk selalu tanggung jawab (presemption of liability principle).
c. Prinsip Praduga untuk tidak selalu Bertangung Jawab (presemption non liability principle)
d. Prinsip tanggung jawab mutlak (strict liability).
e. Prinsip Tanggung Jawab dengan Pembatasan (limitation of liability principle).
Dalam hal masalah tanggung jawab hukum produsen pesawat udara dapat didasarkan pada teori hukum Product Liability (tanggung jawab produsen) yang juga dimuat dalam Undang-Undang No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Secara yuridis di dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen (UUPK) diatur beberapa macam tanggung jawab atau liability yaitu:63
61 Baiq Setiani, “Tanggung Jawab Maskapai Penerbangan Sebagai Jasa Penyedia Jasa Penerbangan Kepada Penumpang Akibat Keterlambatan Penerbangan”, Jurnal Pemerhati Penerbangan dan Dosen Hukum Udara Fakultas Hukum Universitas Muhamadiyah Tangerang, 2016, hal. 5
62 Andi Sri Rezky Wulandari dan Nurdiyana Tadjuddin, “Hukum Perlindungan Konsumen”, Jakarta, Mitra Wacana Media, 2018, hal. 41-45
63 Johanes Gunawan, “Tanggung Jawab Pelaku Usaha menurut Undang-Undang No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen”, Jurnal Hukum Bisnis, Volume 8 tahun 1999, Yayasan Pembangunan Hukum Bisnis, Jakarta, hal. 45-46
1. Contractual Liability
Dalam hal terdapat hubungan perjanjian (privaty of contract) antara pelaku usaha (barang atau jasa) dengan konsumen, maka tanggung jawab pelaku usaha didasarkan pada Contractual Liability (pertanggungjawaban kontraktual), yaitu tanggung jawab perdata atas dasar perjanjian/kontrak dari pelaku usaha, atas kerugian yang dialami konsumen akibat mengkonsumsi barang yang dihasilaknnya atau memanfaatkan jasa yang diberikannya.64
Dalam suatu kontrak, menurut hukum pihak-pihak yang membuat perjanjian supaya perjanjian yang mereka buat itu mengikat secara sah.
Mengikat secara sah artinya perjanjian itu menimbulkan hak dan kewajiban bagi pihak-pihak yang diakui oleh hukum. Menurut KUH Perdata, Pasal 1338 mengatur hal yang sama yang mengatakan bahwa suatu perjanjian yang dibuat oleh para pihak berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak yang membuatnya.65
2. Product Liability
Istilah Product Liability dalam pemakaiannya ada beberapa penyebutan seperti “tanggung gugat produk dan tanggung jawab produsen”. Terlepas dari beberapa istilah tersebut, penulis memilih menggunakan istilah tanggungjawab produsen. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa istilah produsen lebih luas dari produk dan istilah
64 Hasim Purba, “Hukum Penerbangan Dan Tanggung Jawab Produsen Pesawat Udara (Studi Upaya Perlindungan Penumpang)”, Medan, Pustaka Bangsa Press, 2010, hal. 97
65 Ibid.
produsen itu menunjuk pada subjek pelaku usaha yang boleh perseorangan atau badan hukum.66
Tanggung jawab produsen (product liability) adalah pertanggung jawaban perdata dari produsen barang (dapat termasuk pihak lain dalam mata rantai distribusi) untuk mengganti kerugian kepada pihak tertentu (dapat pembeli, pemakai atau bahkan pihak ketiga), atas kerusakan benda, cedera dan/atau kematian sebagai akibat penggunaan produk yang dihasilkan oleh produsen tersebut. Inti dari Product Liability adalah pelaku usaha bertanggung jawab atas kerusakan, kecacatan, ketidaknyamanan, dan penderitaan yang dialami oleh konsumen karena pemakaian atau mengkonsumsi barang atau jasa yang dihasilkannya.67
3. Professional Liability
Mengenai pengertian profesi, Henry Campbell Balck memberikan definisi; “Profession A Vacation of occupation reguring Special, usually advanced, edcuation, knowledge, and skill, eg, law or medical profession, Also repers to whole body of such profession” Dengan demikian, ciri utama dari profesi adalah syarat pendidikan, pengetahuan, dan keterampilan khusus bagi pengembannya, sebagaimana dikutip Dardji Darmodihardjo.68
Untuk melindungi kepentingan konsumen jasa yang diberikan oleh para pengemban profesi, pada umumnya para pengemban profesi
66 Ibid, hal. 101
67 Ibid, hal. 101-102
68 Ibid, hal. 104
menetapkan suatu kode etik yang berlaku dilingkungan profesinya.
Pertanggungjawaban profesional ada 2 (dua) macam yaitu:69
1) Secara intern, yakni pertanggungjawaban profesional berdasarkan kode etik organisasi profesi yang bersangkutan.
2) Secara ekstern, yakni pertanggungjawaban profesional berdasarkan hukum.
4. Criminal Liability
Dalam hal hubungan pelaku usaha dengan negara dalam memelihara keselamatan dan keamanan konsumen (masyarakat) maka tanggung jawab pelaku usaha didasarkan pada criminal liability (pertanggungjawaban pidana), yaitu tanggung jawab pidana dan keamanan konsumen (masyarakat). mengingat pembahasan dalam disertasi ini penulis memfokuskan pada pertanggung jawaban perdata, maka topik kriminal liability tidak menjadi pembahasan lebih lanjut.70
5. Limited Liability
Mengenai pengertian pertanggungjawaban terbatas (limited liability) adalah suatu bentuk tanggung jawab yang dibebankan kepada suatu subjek hukum tertentu secara terbatas sesuai dengan apa yang telah ditetapkan dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. Sistem pertanggungjawaban terbatas (limited liability) secara khsusus sering dikemukakan dalam bahasan tentang Perseroan Terbatas (PT). Sistem pertanggungjawaban terbatas dalam PT, dalam sejarahnya banyak
69 Ibid.
70 Ibid, hal. 105
membawa manfaat bagi perdagangan terutama di Inggris dan negara-negara Eropa, dimana mendirikan peseroan tanpa membahayakan asset pribadi.71
Dalam hukum penerbangan prinsip tanggung jawab terbatas (limited liability) umumnya dianut dalam hal penentuan tanggung jawab pihak perusahaan penerbangan (pengangkut sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 143 UU No, 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan. Demikian juga dengan Konvensi Warsaw 1929 maupun Ordonansi Pengangkutan Udara Stb 1939 No. 100, umunya menganut prinsip limited liability. Pembatasan tanggung jawab pengangkut untuk mencegah adanya tindakan sengaja dari pihak penumpang yang menimbulkan kerugian akan tetapi akhirnya menjadi beban bagi pengangkut, jadi limited liability merupakan perlindungan hukum bagi pengangkut terhadap resiko tak terbatas yang harus dipikulnya.72
Materi pokok dalam kajian tentang perusahaan penerbangan niaga baik penerbangan internasional maupun nasional adalah menyangkut tanggung jawab pengangkut bila terjadi kerugian yang dialami oleh pengguna jasa transportasi udara niaga, yaitu penumpang, pemilik bagasi, pengirim atau penerima kargo dan juga kerugian yang dialami pihak ketiga.73
Pasal 1 angka 3 Permenhub 77 tahun 2011 (sama dengan pasal 1 angka 22 Undang-Undang Penerbangan) menyebutkan bahwa “tanggung jawab pengangkut
71 Ibid, hal. 105-106
72 Ibid, hal. 106
73 Lukmanul Hakim, Sri Walny Rahayu, “Perlindungan dan Tanggung Jawab Perusahaan Penerbangan Domestik PT LAI Kepada Konsumen Selaku Penumpangnya”, Kanun Jurnal Ilmu Hukum Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Aceh, 2017, hal 448
adalah kewajiban perusahaan angkutan udara untuk mengganti kerugian yang diderita oleh Penumpang dan atau pengirim barang serta pihak ketiga”.74
a. Penumpang yang meninggal dunia, cacat tetap atau luka-luka.
Menurut Pasal 141 UU Penerbangan tahun 2009, pengangkut memiliki beberapa tanggung jawab terhadap penumpang, sebagai berikut:
1) Pengangkut bertanggung jawab atas kerugian penumpang yang meninggal dunia, cacat tetap, atau luka-luka yang diakibatkan kejadian-kejadian di dalam pesawat dan/atau naik turun pesawat udara.
2) Apabila kerugian sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) timbul karena tindakan sengaja atau kesalahan pengangkut atau orang yang diperkerjakannya, pengangkut bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dan tidak dapat mempergunakan undang-undang ini untuk membatasi tanggung jawabnya.75
Dalam hal batas jumlah ganti rugi terhadap tanggung jawab pengangkut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Perhubungan No. 77/2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara, yaitu Pasal 3 yang menyatakan jumlah ganti kerugian terhadao penumpang yang meninggal dunia, cacat atau luka-luka, sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 2 huruf a Permenhub tahun 2011.76
Berdasarkan peraturan diatas, perusahaan penerbangan harus bertanggung jawab terhadap penumpang yang meninggal dunia, cacat tetap, atau luka-luka yang disebabkan oleh kecelakaan pesawat maupun kejadian lain yang ada hubungannya dengan penerbangan.
74 Peraturan Menteri Perhubungan No. 77 Tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkutan Angkutan Udara, Pasal 1 angka 3
75 Undang-Undang No. 1 tahun 2009 tentang Penerbangan, Pasal 141
76 Lukmanul Hakim, Sri Walny Rahayu, Op Cit, hal. 453.
b. Hilang, musnah atau rusaknya bagasi atau kargo
Berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku, salah satu tanggung jawab pengangkut adalah terhadap barang penumpang. Hal tersebut diatur dalam pasal 144 UU Penerbangan Tahun 2009 yaitu “Pengangkut bertanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh penumpang karena bagasi tercatat hilang, musnah atau rusak yang diakibatkan oleh kegiatan angkutan udara selama bagasi tercatat berada dalam pengawasan pengangkut”. Mengenai jumlah ganti ruginya ditetapkan lebih lanjut dengan PermenHub tahun 2011 tentang tanggung jawab Angkutan Udara, yaitu Pasal 5.77
Berdasakan aturan yang telah ada terkait jumlah ganti rugi terhadap kerugian penumpang dalam hal terjadinya kerusakan atau musnahnya bagasi tercatat, perusahaan penerbangan di Indonesia wajib melaksanakan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perhubungan tersebut.
c. Keterlambatan Penerbangan
Keterlambatan penerbangan menurut UU Penerbangan Tahun 2009, adalah terjadinya perbedaan waktu antara waktu keberangkatan atau kedatangan yang dijadwalkan dengan realisasi waktu keberangkatan atau kedatangan.
Keterlambatan penerbangan bersifat paradoksal dengan tujuan penerbangan yaitu tiba di tempat tujuan dengan cepat dan tepat waktu. Keterlambatan penerbangan sampai dengan saat ini masih menjadi persoalan dalam kegiatan
77 Ibid, hal. 454.
penerbangan. Keluhan konsumen terkait keterlambatan maupun pembatalan penerbangan menjadi hal yang lumrah saat ini.78
Ganti rugi yang disebabkan oleh keterlambatan penerbangan diatur lebih khusus dalam PermenHub No. 89 tahun 2015 tentang Penanganan Keterlambatan Penerbangan (Delay Management) pada bada Usaha Angkutan Udara Berjadwal di Indonesia.
Peraturan Menteri Perhubungan No. 89 tahun 2015 dalam pasal 3 mengkategorikan keterlambatan kepada 6 (enam) kategori, yaitu:79
a. Kategori 1, keterlambatan 30 menit sampai dengan 60 menit.
b. Kategori 2, keterlambatan 61 menit sampai dengan 120 menit.
c. Kategori 3, keterlambatan 121 menit sampai dengan 180 menit.
d. Kategori 4, keterlambatan 181 menit sampai dengan 240 menit.
e. Kategori 5, keterlambatan lebih dari 240 menit; dan f. Kategori 6, pembatalan penerbangan.
Terkait dengan aturan pemberian kompensasi dan ganti rugi diatur oleh Pasal 9 ayat (1) Permenhub No. 89 tahun 2015. Tanggung jawab penyedia jasa penerbangan dalam hal keterlambatan atau pembatalan jadwal penerbangan diatur juga dalam pasal 36 Peraturan Menteri Perhubungan No. KM 25 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Angkutan Udara dan Pasal 10, 11, 12 PM 77 tahun 2011, yang menetapkan ketentuan serta besaran ganti kerugian akibat peristiwa keterlambatan maupun pembatalan penerbangan yang wajib diberikan oleh penyedia jasa kepada penumpang. Kedua aturan tersebut menerapkan prinsip presemption of liability yang memiliki arti bahwa pengangkut secara otomatis
78 Ibid, hal. 455
79 Peraturan Menteri Perhubungan No. 89 Tahun 2015 tentang Penanganan Keterlambatan Penerbangan (Delay Management) Pada Badan Usaha Angkutan Udara Niaga Berjadwal di Indonesia, Pasal 3
berkewajiban untuk mengganti kerugian kecuali pengangkut dapat membuktikkan bahwa ia tidak bersalah atau beban pembuktian terbalik. (Sri Syawali, 2009:95).80
Peraturan perundang-undangan terlah mengatur sedemikian rupa mengenai jumlah ganti kerugian terhadap penumpang. Namun demikian, bagi penumpang masih memiliki tingkat kesadaran hukum yang rendah yang menyebabkan salah satu masaah dalam mendorong terlaksananya keselamatan penerbangan. Menurut Elwick dan Silbey kesadaran hukum adalah terbentuk dalam suatu tindakan dan karenanya merupakan persoalan praktik untuk dikaji secara empiris, dengan kata lain bahwa kesadaran hukum adalah suatu persoalan hukum sebagai perilaku dan bukan hukum sebagai aturan, norma atau asas. Elwick dan Silbey membedakan beberapa jenis kesadara sebagai berikut:81
a. Consciousness as Attitude (kesadaran sebagai sikap)
Konsep ini menunjukkan bahwa kesadaran hukum timbul dari gagasan dan sikap dari individu-individu yang menentukan bentuk dan tekstur kehiduoan sosial. Kesadaran ini timbul dari tindakan-tindakan manusia yang didasari oleh nalar dan keinginan mausia yang dibangun oleh manusia itu sendiri.
b. Consciousness as Epiphenomenon (kesadaran sebagai Epiphenomenon)
80 Baiq Setiani, Op Cit, hal. 6
81 Ahmad Ali, “Menguak Teori Hukum (Legal Theory) dan Teori Peradilan (Judicialprudence) termasuk Interpretasi Undang-Undang (legisprudence), Jakarta, Kencana, 2009, hal 314. Disampaikan pada Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap oleh Hasim Puba, “Mewujudkan Keselamatan Penerbangan Dengan Membangun Kesadaran Hukum Bagi Stakeholder Melalui Penerapan Safety Culture, Gelanggang Mahasiswa, Kampus USU, 15 Februaari 2016, hal. 10
Beberapa ilmuan memandang kesadaran hukum sebagai epiphenomenon, yaitu suatu struktur ekonomi terpenting untuk memproduksi suatu tertib hukum yang berkaitan atau yang tepat.
c. Consciuousness as Culture Practice (kesadaran sebagai praktek cultural)
Dalam hal ini kesadaran bagi para stakeholders dalam kegiatan penerbangan tersebut ditentukan berdasarkan bagaimana situasi dan kondisi dari peraturan yang ada dalam mengatur keselamatan penerbangan.
Dengan demikian kesadaran hukum dengan hukum memiliki kaitan yang sangat erat dengan ketaatan hukum, dimana kedua hal tersebut menentukan secara efektif atau tidaknya pelaksanaan hukum dan undang-undanga ditengah-tengah masyarakat.
C. Upaya hukum dan Penyelesaian Sengketa Konsumen Terhadap