BAB II PELAKSANAAN PRINSIP KETERBUKAAN MELALUI
E. Pelaksanaan Prinsip Keterbukaan Dalam Prospektus
Pelaksanaan prinsip keterbukaan yang paling awal dalam mekanisme pasar modal sudah dimulai pada saat perusahaan memasuki tahap pra-pencatatan pernyataan pendaftaran (registration statement), yaitu berupa penyerahan prospektus awal dan dokumen pendukung lainnya kepada OJK110. Prospektus Awal merupakan dokumen tertulis yang memuat seluruh informasi dalam prospektus yang disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan sebagai bagian dari pernyataan pendaftaran, kecuali informasi mengenai nilai nominal, jumlah dan harga penawaran efek, penjaminan emisi efek, tingkat suku bunga obligasi, atau
110 Bismar Nasution, Op.Cit., hlm 91.
hal lain yang berhubungan dengan persyaratan penawaran yang belum dapat ditentukan111.
Kemudian, pelaksanaan prinsip keterbukaan selanjutnya dilakukan pada pasar perdana, yaitu dengan penyampaian prospektus kepada calon investor.
Namun dalam hal ini, terdapat masalah yang muncul yang terpusat pada penyampaian penawaran saham melalui prospektus dan pengaturan prospektus, yaitu berupa tuntutan bahwa prospektus harus memuat keakuratan informasi dan dilarang memuat keterangan yang tidak benar tentang fakta materiel.112 Fakta materiel merupakan informasi atau fakta penting dan relevan mengenai peristiwa, kejadian, atau fakta yang dapat mempengaruhi harga efek dan/atau keputusan pemodal atas informasi tersebut. Hal ini muncul dikarenakan sulitnya memperoleh informasi dalam prospektus yang mengandung nilai akurat.113
Mantan ketua Bapepam I Putu Gede Ary Suta mengatakan bahwa, investor sebelum mengambil keputusan investasi harus memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan informasi emiten yang terdapat dalam prospektus, antara lain114:
a. Informasi belum bersifat siap pakai. dalam banyak hal informasi yang disajikan dalam prospektus merupakan informasi yang masih memerlukan interpretasi dan analisis agar dapat menjadi informasi yang dapat dipakai dalam sebagai dasar pengambilan keputusan, b. Informasi banyak bersifat kualitatif. Data yang diungkapkan dalam
prospektus banyak yang bersifat kualitatif yang tentunya akan banyak berpengaruh terhadap jalannya perusahaan dimasa yang akan datang.
111 Pasal 1 angka 2 POJK No 8/POJK.04/2017.
112 Bismar Nasution, Op.Cit.,hlm 133.
113 Ibid.
114 Ibid. hlm 134.
c. Informasi yang bersifat kuantitatif dibuat berdasarkan taksiran. Dalam banyak hal informasi yang bersifat yang diungkapkan dalam prospektus dibuat berdasarkan taksiran atau metode-metode penilaian sehingga dalam membaca prospektus sangat diperlukan pertimbangan untuk mengambil keputusan.
d. Informasi yang disajikan banyak bersifat historica. Prospektus lebih banyak memuat data dan informasi masa lalu perusahaan daripada mengungkapkan tentang proyeksi perusahaan mendatang. Sehingga pemodal harus membuat proyeksi dan perkiraan tentang kondisi perusahaan di masa mendatang.
e. Kondisi makro ekonomi jauh berbeda antara saat prospektus dibuat dengan kondisi sebenarnya yang terjadi setelah go public. Perlu pertimbangan oleh pemodal mengenai asumsi kondisi makro ekonomi yang perubahannya sangat cepat, sehingga dalam melakukan analisi perlu menganalisis fenomena ekonomi secara global.
Sebenarnya, tuntutan atas ketidakakuratan informasi dalam prospektus tidak akan terjadi, jika pembuatan prospektus dilakukan sesuai dengan pasal 78 ayat (1) dan pasal 81 ayat (1) Undang-Undang Pasar Modal. Karena ketentuan tersebut telah menetapkan prospektus harus memuat keterangan yang benar tentang fakta materiel115.
Apabila suatu kejadian sulit untuk ditentukan sebagai suatu informasi atau fakta materiel, maka konsep kewajiban untuk menyampaikan informasi (duty to disclose) itu menjadi terhambat. Ada beberapa pandangan untuk menentukan
115 Ibid., hlm 135.
apakah suatu informasi adalah fakta materiel atau bukan116. Pertama, suatu informasi diklasifikasikan sebagai fakta materiel bila informasi yang sifatnya tidak publik tersebut menurut ¾ pemegang saham yang berakal sehat, adalah penting bagi para pemegang saham, bukan semata-mata karena apa yang ingin mereka ketahui. Bila fakta yang dihilangkan atau pernyataan yang tidak benar itu secara substantif mungkin berarti (penting) sehingga dapat mengubah informasi yang menjadi milik masyarakat, maka fakta tersebut adalah materiel117. Kedua, penafsiran tentang fakta materiel berkembang kepada apa yang dimaksud dengan informasi “firm-specific”. Standarnya adalah informasi yang spesifik untuk perusahaan yang bersangkutan. Standar ini merupakan suatu terobosan terhadap standar fakta materiel sebagaimana lazimnya diatur dalam federal securities laws.
Berdasarkan standar baru ini, kewajiban penyampaian informasi tidak lahir berdasarkan federal securities laws, tetapi berdasarkan adanya informasi yang bersifat firm specific. Suatu informasi tidak dapat menjadi materiel, kecuali informasi itu memiliki firm specific. Ketiga, di Indonesia ada pula yang berpendapat bahwa suatu informasi merupakan fakta materiel bila informasi tersebut dapat mempengaruhi turun-naiknya harga saham118.
Pelaksanaan prinsip keterbukaan dalam prospektus dapat dilakukan dengan menyusun dan membuat prospektus sesuai dengan isi dan bentuk prospektus secara objektif dan sebenar-benarnya sebagaimana yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan dalam bidang pasar modal serta harus memuat informasi atau fakta materil yang benar dan diperlukan dalam pasar modal.
116 Ibid., hlm. 11.
117 Ibid.
118 Ibid., hlm. 12.
Dalam pasar modal, terdapat peraturan yang mengatur ketentuan mengenai bentuk dan isi prospektus, yaitu Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 8/POJK.04/ 2017 tentang Bentuk dan Isi Prospektus dan Prospektus Ringkas dalam Rangka Penawaran Umum Efek Bersifat Ekuitas.
Dalam POJK tersebut telah terdapat pengaturan mengenai bentuk dan isi prospektus. untuk mengetahui bahwa suatu prospektus telah melaksanakan prinsip keterbukaan, maka dapat dilihat apakah suatu prospektus yang disampaikan oleh emiten telah memenuhi dan sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam POJK tersebut atau tidak. Hal ini sesuai dengan pertimbangan yang terdapat pada konsideran POJK tersebut, yang menyatakan bahwa untuk meningkatkan kualitas keterbukaan informasi dalam prospektus maupun prospektus ringkas, maka diperlukan peraturan yang menjadi pedoman mengenai bentuk dan isi prospektus maupun prospektus ringkas.
Secara umum, isi prospektus dapat dilihat berdasarkan pada bagian-bagian dalam suatu prospektus, dalam POJK tersebut dinyatakan bahwa bagian-bagian prospektus paling sedikit terdiri atas119:
a. Informasi pada bagian kulit muka Prospektus;
b. Daftar isi;
c. Ringkasan Prospektus;
d. Penawaran Umum;
e. Penggunaan dana yang diperoleh dari hasil Penawaran Umum;
f. Pernyataan utang;
g. Ikhtisar data keuangan penting;
119 Pasal 6 POJK No 8/POJK.04/2017.
h. Analisis dan pembahasan oleh manajemen;
i. Faktor risiko;
j. Kejadian penting setelah tanggal laporan Akuntan Publik;
k. Keterangan tentang Emiten, kegiatan usaha, serta kecenderungan dan prospek usaha;
l. Ekuitas;
m. Kebijakan dividen;
n. Perpajakan;
o. Penjaminan emisi Efek (jika ada);
p. Lembaga dan profesi penunjang pasar modal serta pihak lain;
q. Ketentuan penting dalam anggaran dasar dan ketentuan penting lainnya terkait pemegang saham;
r. Tata cara pemesanan Efek bersifat ekuitas;
s. Penyebarluasan Prospektus dan formulir pemesanan pembelian Efek bersifat ekuitas;
t. Pendapat dari segi hukum;
u. Laporan keuangan; dan
v. Laporan Penilai dan laporan tenaga ahli (jika ada).
Dalam POJK tersebut juga diatur bahwa prospektus dan prospektus tingkas dalam rangka penawaran umum efek bersifat ekuitas wajib memuat rincian informasi atau fakta materiel mengenai penawaran umum dan informasi dan/atau keterangan yang dapat mempengaruhi keputusan pemodal, yang diketahui atau layak diketahui emiten dan dilarang memuat keterangan yang tidak benar tentang fakta materiel atau tidak memuat keterangan yang benar tentang
fakta materiel yang diperlukan agar tidak memberikan gambaran yang menyesatkan120.
Prospektus dan prospektus ringkas harus dibuat sedemikian rupa sehingga jelas dan komunikatif serta tidak dikaburkan dengan informasi yang kurang penting yang mengakibatkan informasi penting terlepas dari pembaca. Fakta dan pertimbangan yang paling penting harus dibuat ringkasannya dan diungkapkan pada bagian awal prospektus dan prospektus ringkas121.
Informasi atau fakta materiel yang diungkapkan dalam prospektus dan prospektus ringkas harus dilakukan dengan jelas dengan penekanan yang sesuai dengan bidang usaha dan sektor industrinya sehingga tidak menyesatkan, dan penggunaan foto, diagram dan tabel dalam prospektus dilarang memberikan gambaran yang menyesatkan122.
Namun, terdapat beberapa kekurangan dalam pelaksanaan prinsip keterbukaan dalam prospektus, misalnya pelaksanaan prinsip keterbukaan mengenai perlindungan lingkungan hidup123. Peraturan pelaksanaan prinsip keterbukaan belum mengatur secara menyeluruh dan cukup berkenaan dengan perlindungan hidup. Ketentuan mengenai perlindungan lingkungan hidup masih berupa ketentuan yang bersifat administratif.124 Pelaksanaan prinsip keterbukaan mengenai lingkungan hidup pada prospektus dapat dimuat dan ditemukan pada bagian pendapat dan laporan dari segi hukum oleh konsultan hukum yang berkenaan dengan izin dan persetujuan, seperti izin usaha, izin gangguan, lokasi
120 Lihat pasal 2 ayat (1), (2) POJK No 8/POJK.04/2017.
121 Lihat pasal 2 ayat (3), (4), (5) POJK No 8/POJK.04/2017.
122 Lihat pasal 2 ayat (6), (7), POJK No 8/POJK.04/2017.
123 Bismar Nasution, Op.Cit., hlm 179.
124 Ibid.
dan sayarat mendirikan bangunan, penggunaan bangunan untuk pabrik, analisis mengenai dampak lingkungan dan pengolahan limbah.125
125 Ibid.
MISLEADING STATEMENT DALAM PROSPEKTUS PADA PROSES
PENAWARAN UMUM (INITIAL PUBLIC OFFERING) A. Proses Penawaran Umum (Initial Public Offering)
Penawaran umum merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan oleh emiten untuk memperoleh penambahan modal dari masyarakat. Dalam pasal 1 angka15 Undang-Undang Pasar Modal disebutkan bahwa penawaran umum adalah kegiatan penawaran efek yang dilakukan oleh emiten untuk menjual efek kepada masyarakat berdasarkan tata cara yang diatur dalam undang-undang ini dan peraturan pelaksanaannya.
Pada umumnya, efek atau surat berharga yang paling dikenal oleh masyarakat dalam pasar modal adalah saham, yaitu tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan120. Padahal, Efek atau surat berhaga yang dapat ditawarkan atau diperjualbelikan dalam pasar modal cukup bervariasi, antara lain dapat berupa surat pengakuan utang, surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti utang, unit penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas efek, dan setiap derivatif dari efek seperti waran dan efek121.
Perusahaan atau emiten yang melakukan penawaran umum dengan mengeluarkan efek dapat berupa122:
120 Adrian Sutedi, Op. Cit., hlm. 35.
121 Lihat pasal 1 angka 5 dan penjelasan pasal 1 angka 5 UU Pasar Modal.
122 M. Irsan Nasaruddin, et.a.l, Op.Cit., hlm. 214.
a. Perusahaan milik pemerintah yang terdiri dari Badan Usaha Miliki Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD);
b. Perusahaan swasta, seperti perusahaan swasta nasional, perusahaan swasta asing dan perusahaan campuran (Joint Venture).
Hingga bulan maret 2017, sudah terdapat 21 BUMN yang sudah melakukan initial public offering (IPO)129, sedangkan untuk tahun 2017, setidaknya terdapat 4 anak usaha BUMN yang sedang dalam proses initial public offering (IPO), antara lain seperti Garuda Maintenance Facility (GMF), PT PP Presisi, PT Wijaya Karya Gedung, dan PT Jasa Armada Indonesia130.
Semakin bertambahnya perusahaan yang melakukan penawaran umum, menunjukan bahwa penawaran umum di pasar modal merupakan pilihan yang menguntungkan untuk memperoleh penambahan modal bagi suatu perusahaan.
Keuntungan yang dapat diperoleh perusahaan yang melakukan penawaran umum antara lain adalah131:
a. Perusahaan menginginkan potensi untuk mendapatkan tambahan modal daripada harus melalui kredit pembiayaan (debt financing);
b. Peningkatan likuiditas perusahaan terhadap kepentingan pemegang saham utama dan pemegang saham minoritas;
c. Dapat melakukan penawaran efek di pasar sekunder d. Meningkatkan prestise dan publisitas perusahaan;
129Achmad Dwi Afriyadi, “23 Perusahaan Antre IPO di BEI”, http://m.liputan6.com/bisnis/read/2888319/23-perusahaan-antre-ipo-di-bei (Akses 06 Desember 2017 Pukul 11.50 WIB ).
130Ilyas Istianur Praditya, “Hanya 4 Anak Usaha BUMN Yang Bakal IPO di 2017”, http://m.liputan6.com/bisnis/read/3075899/hanya-4-anak-usaha-bumn-yang-bakal-ipo-di-2017 (Akses 06 Desember 2017 Pukul 11.53 WIB).
131 M. Irsan Nasaruddin, et.al., Op.Cit., hlm. 215-216.
e. Kemampuan untuk mengadopsi karyawan kunci dengan menawarkan opsi (option).
Selain terdapat keuntungan, dalam penawaran umum juga terdapat kelemahan, antara lain132:
a. Adanya tambahan biaya untuk mendaftarkan efek pada penawaran umum;
b. Meningkatkan pengeluaran dan pemaparan potensi kewajiban berkenaan dengan registrasi dan laporan berkala;
c. Hilangnya kontrol terhadap persoalan manajemen, karena terjadi dilusi kepemilikan saham;
d. Keharusan untuk mengumumkan besarnya pendapatan perusahaan dan pembagian deviden;
e. Efek yang diterbitkan mungkin saja tidak terserap oleh masyarakat sesuai dengan perhitungan perusahaan.
Dalam proses melakukan penawaran umum, terdapat tahap-tahap yang harus terlebih dahulu dipenuhi dan dipersiapkan oleh suatu perusahaan, tahap-tahap tersebut dapat berkaitan dengan internal perusahaan, ataupun tahap-tahap-tahap-tahap yang berkaitan dengan eksternal perusahaan. Dalam Undang-Undang Pasar Modal tidak diatur secara lengkap mengenai tahap-tahap dalam proses penawaran umum, melainkan lebih mengatur hal-hal yang berkaitan dengan syarat yang harus dipenuhi dalam proses penawaran umum. Seperti pada pasal 70 ayat 1 Undang-Undang Pasar Modal, menyatakan bahwa penawaran umum hanya dapat
132 Ibid., hlm. 256.
dilakukan oleh emiten yang telah menyampaikan pernyataan pendaftaran ke OJK dan pernyataan pendaftran tersebut telah efektif, kecuali ditentukan lain sebagaimana diatur pada pasal 70 ayat (2) Undang-Undang Pasar Modal.
Terdapat tiga tahap yang perlu diperhatikan oleh perusahaan dalam rangka melakukan penawaran umum (IPO), yaitu133:
1. Tahap pra-emisi
Dalam tahap pra-emisi ini, terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan perusahaan, yaitu:
a. Perusahaan melakukan kajian mendalam (due diligence) terhadap keadaan keuangan, aset, kewajiban perusahaan kepada pihak lain ataupun sebaliknya dan rencana penghimpunan dana. Dari kajian tersebut akan diketahui terhadap hal-hal apa saja yang perlu dilakukan restrukturisasi oleh perusahaan134. Dalam proses restrukturisasi perusahaan untuk proses IPO, terdapat beberapa macam restrukturisasi yang dapat dilakukan oleh perusahaan, antara lain:
1. Restrukturisasi finansial;
2. Restrukturisasi bisnis;
3. Restrukturisasi korporat;
4. Restrukturisasi posisi SDM;
5. Restrukturisasi hutang/pinjaman135.
133 Ibid.
134 Ibid.
135 Munir Fuady (a), Pengantar Hukum Bisnis (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2012), hlm 54.
Sebagai gambaran tentang bagaimana dilakukannya restruktusisasi, misalnya terhadap restrukturisasi finansial, yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Reevaluasi aset;
2. Menjual anak perusahaan yang sering merugi atau memiliki prospek yang tidak bagus;
3. Jika terdapat anak perusahaan dalam kelompok yang mempunyai profit yang tinggi, maka anak perusahaan tersebut dimasukkan menjadi anak perusahaan yang akan melakukan IPO136.
Kajian mendalam terhadap hal-hal tersebut akan menghasilkan sejumlah rekomendasi tindakan yang harus dilakukan perusahaan dalam rangka memenuhi persyaratan melakukan penawaran umum137.
b. Perusahaan menyusun rencana penawaran umum yang harus mendapatkan persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Keputusan RUPS akan menjadi landasan hukum untuk dapat melakukan penawaran umum. Selain itu, RUPS juga akan memutuskan perubahan Anggaran Dasar (AD) perusahaan138.
c. Perusahaan menentukan penjamin emisi (underwriter), profesi penunjang dan lembaga penunjang yang telah terdaftar di OJK untuk melakukan penawaran umum139.
1. Penjamin emisi efek (underwriter). Secara umum, pihak underwriter berfungsi sebagai pihak yang akan mengatur
136 Ibid., hlm. 55.
137 M. Irsan Nasaruddin, et.al., Op.Cit., hlm. 216.
138 Ibid.
139 Ibid., hlm. 217.
pemasaran sampai terjualnya efek di pasar perdana140. Dalam pasal 39 Undang-Undang Pasar Modal terdapat penegasan bahwa Penjamin Emisi Efek wajib mematuhi semua ketentuan dalam ketentuan penjaminan emisi sebagaimana dimuat dalam pernyataan pendaftaran141. Secara teoritis ada empat macam kontrak penjaminan emisi yang dikenal, antara lain142:
1) Kesanggupan penuh (full commitment), underwriter bertanggungjawab untuk mengambil sisa efek yang tidak terjual.
2) Kesanggupan terbaik (best effort commitment), underwriter tidak bertanggungjawab atas sisa efek yang tidak terjual, tetapi akan berusaha sebaik-baiknya agar efek yang ditawarkan dapat terjual dalam kuantitas yang paling tinggi.
3) Kesanggupan siaga (standby commitment), underwriter berkomitmen agar saham yang tidak terjual dapat dibeli oleh underwriter pada harga tertentu.
4) Kesanggupan semua atau tidak sama sekali (all or none commitment), underwriter akan berusaha menjual semua efek agar terjual semua, tetapi apabila efek tersebut tidak laku semuanya, maka transaksi dengan pemodal yang ada akan dibatalkan.
140 Munir Fuady (a). Op.cit., hlm.57.
141 M. Irsan Nasaruddin, et.al., Op.Cit., hlm. 145.
142 Ibid., hlm. 145-146.
2. Profesi penunjang pasar modal yang diperlukan dalam proses penawaran umum adalah143:
1) Akuntan publik, untuk melakukan audit terhadap laporan keuangan emiten untuk dua tahun terakhir;
2) Notaris, untuk membuat dokumen atas perubahan Anggaran Dasar, perjanjian-perjanjian dalam rangka penawaran umum, dan notulen rapat.
3) Konsultan hukum, untuk memberikan pendapat dari segi hukum mengenai semua hal yang berkaitan dengan hukum untuk penawaran umum.
4) Penilai (apraisal), untuk memberikan jasa profesional dalam menentukan nilai wajar dari harta milik perusahaan (aktiva).
3. Lembaga penunjang pasar modal.yang diperlukan dalam proses penawaran umum adalah144:
1) Wali amanat, bertindak untuk mewakili kepentingan pemegang obligasi sebagai kreditur. Wali amanat diperlukan dalam emisi obligasi145.
2) Biro Administrasi Efek (PT KPEI), memilki kewenangan untuk mendaftarkan pemilik efek (investor) dalam daftra buku pemegang saham emiten dan melakukan pembagian hak yang berkaitan dengan efek146.
143 Ibid., hlm. 217.
144 Ibid., hlm. 217.
145 Tavinayanti dan Yulia Qamariyanti, Op.cit., hlm. 29.
146 Ibid., hlm. 30.
3) Lembaga Kustodian (PT KSEI), merupakan lembaga yang memberikan jasa penitipan efek dan harta lainnya yang berkaitan dengan efek147.
d. Perusahaan menyiapkan semua dokumen dan perjanjian yang diperlukan untuk penawaran umum, antara lain:
1. Profil perusahaan, informasi tentang rencana IPO, underwriter, dan profesi penunjang pasar modal;
2. Pendapat dan laporan pemeriksaan dari segi hukum dari konsultan hukum;
3. Laporan keuangan yang diaudit Akuntan Publik;
Laporan Penilai (jika ada);
4. Anggaran Dasar perusaahn yang telah disetujui Menteri Hukum dan HAM;
5. Prospektus;
6. Proyeksi keuangan.148
e. Penyampaian permohonan pencatatan saham ke Bursa Efek.Indonesia.
Agar saham suatu emiten dapat diperdagangkan dan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia, emiten harus mengajukan permohonan pencatatan saham dilengkapi dengan dokumen yang telah dipersyaratkan. Selain itu, emiten juga perlu menyampaikan permohonan pendaftaran saham untuk dititipkan secara kolektif (scripless) di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Bursa efek akan melakukan penelaahan atas permohonan yang diajukan perusahaan, dan akan mengundang perusahaan beserta underwriter dan
147 Ibid., hlm. 29.
148 Bursa Efek Indonesia, Panduan Go Public, (Jakarta., 16 Juni 2016), hlm. 11.
profesi penunjang untuk mempresentasikan profil perusahaan, rencana bisnis dan penawaran umum yang dilakukan. Bursa Efek Indonesia juga dapat melakukan kunjungan ke perusahaan dan meminta penjelasan lainnya yang relevan dengan IPO. Apabila perusahaan telah memenuhi persyaratan yang ditentukan, Bursa Efek Indonesia akan memberikan persetujuan prisip berupa perjanjian pendahuluan pencatatan saham kepada perusahaan149.
f. Perusahaan menyampaikan pernyataan pendaftaran ke OJK. Setelah mendapatkan perjanjian pendahuluan pencatatan dari Bursa Efek Indonesia, emiten menyampaikan pernyataan pendaftaran dan dokumen pendukungnya kepada OJK. OJK dapat meminta perubahan atau tambahan informasi kepada perusahaan untuk memastikan bahwa semua fakta material tentang penawaran saham, kondisi keuangan, dan kegiatan usaha perusahaan diungkapkan kepada publik melalui prospektus. Emiten dapat melakukan penawaran awal (bookbuilding) mauupun public expose apabila telah mendapat izin dari OJK. OJK akan memberikan pernyataan pendaftaran efektif setelah perusahaan menyampaikan informasi mengenai harga penawaran umum saham dan keterbukaan informasi lainnya. OJK akan menyampaikan pernyataan pendaftaran efektif dalam waktu 45 hari sejak diterimanya pernyataan pendaftaran secara lengkap oleh OJK.150 2. Tahap emisi
149 Ibid.
150 Ibid., hlm. 15.
Pada tahap emisi terdapat beberapa kegiatan yang dilakukan, antara lain berupa151:
a. Penawaran oleh sindikasi penjamin emisi dan agen penjual di pasar perdana (primer).
b. Penjatahan kepada pemodal oleh sindikasi penjamin emisi dan emiten dipasar perdana (primer). Penjatahan dilakukan dalam hal permintaan dari investor melebihi jumlah efek yang ditawarkan (over-subscribe).
Sedangkan uang pesanan investor yang tidak dipenuhi harus dikembalikan (refund) kepada investor setelah penjatahan152.
c. Penyerahan efek kepada pemodal di pasar perdana (primer). Penyerahan kepada pemodal dilakukan oleh KSEI secara elektronik, tidak dalam bentuk sertifikat153.
d. Pencatatan efek emiten di pasar sekunder. Emiten menyampaikan permohoonan pencatatan efek kepada bursa disertai dengan bukti surat bahwa pernyataan pendaftaran telah dinyatakan efektif oleh OJK, dokumen prospektus dan komposisi pemegang saham. Bursa akan memberikan kode saham (ticker code) perusahaan untuk keperluan perdagangan saham dibursa. Kode saham (ticker code) akan dikenal investor secara luas untuk kepentingan transaksi di Bursa Efek Indonesia154.
e. Perdagangan efek di pasar sekunder. Setelah tercatat di bursa, investor dapat memperjualbelikan efek kepada investor lain melalui broker atau
151 M. Irsan Nasaruddin, et.al., Op.Cit., hlm. 217.
152 Bursa Efek Indonesia, Op.Cit., hlm. 15.
153 Ibid.
154 Ibid.
perusahaan efek yang menjadi anggota bursa terdaftar di Bursa Efek Indonesia155.
3. Tahap setelah emisi
Setelah emisi, emiten berkewajiban untuk menyampaikan informasi, yaitu:
a. Laporan berkala, seperti l aporan tahunan dan laporan tengah tahun (continue disclosure)
b. Laporan kejadian penting dan relevan, seperti akuisisi dan pergantian Direksi (timely disclosure)156.
B. Pengertian Misleading Statement
Misleading statement atau pernyataan menyesatkan merupakan bentuk pelanggaran terhadap prinsip keterbukaan dalam pasar modal. Misleading statement dapat terjadi disebabkan adanya kesalahan dalam memuat fakta materil (misrepresentation) ataupun menghilangkan fakta materil (omission) baik dalam dokumen-dokumen penawaran umum ataupun dalam perdagangan saham157.
Misleading statement yang disebabkan adanya misrepsentation dan omission dapat menciptakan gambaran yang salah kepada investor tentang kualitas emiten, manajemen dan potensi ekonomi emiten, sehingga peraturan pelaksaan prinsip keterbuakaan membuat larangan atas perbuatan misrepsentation dan omission158.
Peraturan pelaksanaan prinsip keterbukaan di pasar modal indonesia telah mengatur ketentuan mengenai larangan perbuatan yang menyesatkan, baik dalam
155 Ibid.
156 M. Irsan Nasaruddin, et.al., Op.Cit., hlm. 219,
157 Bismar Nasution. Op.cit., hlm. 73.
158 Ibid.
prospektus maupun dalam pengumuman media massa yang berhubungan dengan suatu penawaran umum,159 antara lain:
a. Pasal 78 ayat (1) Undang-Undang Pasar Modal menyatakan bahwa, setiap prospektus dilarang memuat keterangan yang tidak benar tentang fakta materiel atau tidak memuat keterangan yang benar tentang fakta materiel yang diperlukan agar prospektus tidak memberikan gambaran yang menyesatkan.
b. Pasal 79 ayat (1) menyatakan bahwa, setiap pengumuman dalam media massa yang berhubungan dengan suatu Penawaran Umum dilarang memuat keterangan yang tidak benar tentang Fakta Material dan atau tidak memuat pernyataan tentang Fakta Material yang diperlukan agar keterangan yang dimuat di dalam pengumuman tersebut tidak memberikan gambaran yang menyesatkan.
Namun, peraturan pelaksanaan prinsip keterbukaan yang memuat ketentuan larangan perbuatan yang menyesatkan tersebut sangat sederhana dan
Namun, peraturan pelaksanaan prinsip keterbukaan yang memuat ketentuan larangan perbuatan yang menyesatkan tersebut sangat sederhana dan