HASIL DAN PEMBAHASAN
D. Pelaksanaan Tanaman
1. Pembuatan lubang tanam (1700 bh/Ha) 42.500
2. Penanaman (1700 btg/ha) 34.000
3. Biaya kontrak tanaman 20.000
4. Materai (2 buah/lokasi) 6.000
Jumlah 1.023.620 Tabel 18. Rincian biaya pemeliharaan I Pinus merkusii KPH Cianjur
No Uraian Biaya (Rp/Ha)
1. Pengadaan benih/bibit
a. Tanaman tepi (12 btg/ha) 480
b. Tanaman pagar (0.4 kg/ha) 1.200
2. Penyulaman Tanaman
a. Pembuatan lubang tanam (340 buah/ha) 8.500
b. Penanaman (340 btg/ha) 6.800
3. Pembuatan dan pasang ajir termasuk pewarnaan 6.800 Jumlah 23.780
Tabel 19. Rincian biaya pemeliharaan II Pinus merkusii KPH Cianjur
No Uraian Biaya (Rp/ha)
1. Babad jalur 2.100
2. Pembayaran tutup kontrak 20.000
3. Materai (2 buah/lokasi) 12.000
4. Pembuatan dan pasang plang tutupan 30.000
5. Pembuatan dan pasang plang larangan 10.000 Jumlah 74.100
Sedangkan kegiatan penjarangan merupakan kegiatan menghilangkan pohon-pohon yang jelek atau rusak. Penjarangan bertujuan untuk mengoptimalkan jarak antar pohon sehingga didapat ruang tumbuh yang optimal dan pertumbuhan pohon yang maksimal. Dengan penjarangan diharapkan tidak ada lagi pohon- pohon yang tertekan karena adanya persaingan dalam memperoleh cahaya matahari. Selain itu dengan penjarangan perusahaan memperoleh pendapatan pendahuluan dari pohon-pohon yang ditebang tersebut. Penjarangan pada tegakan pinus berdaur 25 tahun dilakukan pada umur 5, 10, 15, dan 20 tahun. Rincian biaya penjarangan disajikan pada Tabel 20.
Tabel 20. Rincian biaya penjarangan Pinus merkusii KPH Cianjur
No Uraian Biaya(Rp/Ha)
1. Upah tenaga kerja wiwil 21.500
2. Upah tenaga kerja babad rayud/oyod-oyodan 21.500
3. Pembuatan tanda batas/babat trowong 3.800
4. Petak ukur dalam penyusunan RTT 7.125
5. Petak Coba Penjarangan (PCP) 7.125
6. Tunjuk tolet panjarangan 14.250
7. Plang penjarangan 30.000
8. Babad tumbuhan bawah 500
Jumlah 105.800 Gangguan Keamanan Hutan
Gangguan keamanan hutan yang umum terjadi di KPH Cianjur antara lain pencurian dan perencekan, penggembalaan, kebakaran hutan, bibrikan, dan sengketa tanah. Kegiatan yang dilakukan untuk mengatasi masalah pencurian antara lain aktif dan tertib melakukan pembuatan HURUF A (Reporting dan
Recording) yaitu memeriksa dan mencatat kehilangan pohon, melakukan patroli selama 24 jam, meningkatkan Pembangunan Masyarakat Desa Hutan (PHBM) agar masyarakat merasakan pentingnya keberadaan hutan dalam kehidupan
mereka yang dapat dilakukan dengan mengadakan penyuluhan kepada masyarakat, dan meningkatkan mutu Pos Patroli Tunggal Mandiri (PTM).
Untuk mengatasi masalah penggembalan umumnya dilakukan penjagaan pada tanaman muda dan membeli pupuk kandang dari masyarakat sekitar hutan, agar mereka terangsang untuk tidak melepas ternaknya secara liar. Kebakaran hutan merupakan ancaman gangguan hutan yang paling utama, karena akibat dari kebakaran hutan yang amat sangat merugikan maka perlu ditanggulangi secara serius. Penanggulangan yang dilakukan adalah dengan membangun pos-pos pengamatan kebakaran hutan di tempat yang strategis, melengkapi sarana dan prasarana yang memadai, dan mengadakan penyuluhan untuk meningkatkan peran serta masyarakat. Secara umum, gangguan keamanan hutan dapat berkurang dengan melakukan pendekatan kepada masyarakat desa hutan agar mereka juga merasakan pentingnya keberadaan hutan di kehidupan mereka. Rincian biaya pengendalian kebakaran dan pengamanan hutan disajikan pada Tabel 21.
Tabel 21. Rincian biaya pengendalian kebakaran dan pengamanan hutan KPH Cianjur
No Uraian Biaya (Rp) Biaya KP Pinus (Rp)
1. Perlindungan terhadap pencurian 196.227.775 137.359.443 2. Perlindungan terhadap kebakaran 15.600.000 10.920.000 3. Penyelesaian perkara 53.953.300 37.767.310
4. Hukum dan Agraria 9.515.600 6.660.920
5. Sarana dan prasarana perlindungan hutan 5.900.000 4.130.000 6. Honorarium pakam dan upah pekerja harian 119.480.230 83.636.161 7. Perlindungan hutan lainnya 289.236.055 202.465.239
Jumlah 689.912.960 482.939.072
Pemanenan
Pemanenan merupakan kegiatan memungut hasil hutan baik kayu maupun non kayu (getah). Sadapan, penebangan, dan angkutan adalah kegiatan pemanenan yang dilakukan di KPH Cianjur.
a. Sadapan
Penyadapan merupakan kegiatan untuk memperoleh hasil berupa getah pada pohon-pohon pinus yang telah mencapai umur 11 tahun (KU III). Dengan adanya hasil non kayu seperti getah ini perusahaan mendapat pemasukan awal sambil menunggu hasil utama yaitu kayu yang memiliki waktu panen yang lama. Produktivitas getah meningkat seiring dengan pertambahan umur, hal ini
disebabkan karena bertambahnya diameter dan tinggi pohon sehingga getah yang dihasilkan semakin banyak.
Pada KPH Cianjur produktivitas getah terlihat meningkat mulai KU III sampai KU IV, pada KU V sampai KU VI mengalami penurunan walaupun sedikit. Umumnya pada KU V dan KU VI produktivitas getah meningkat, namun penurunan ini terjadi karena pada saat pengamatan getah dilaksanakan cuaca tidak mendukung untuk getah untuk keluar artinya ada satu hari dimana hujan turun dan cahaya matahari tidak ada. Penurunan yang cukup besar mulai terjadi pada KU VII dan KU VIII. Pada KU ini dilakukan sadap mati untuk kemudian ditebang habis dan jumlah pohon per ha pada KU ini berkurang karena dilakukan penjarangan. Dengan penjarangan produktivitas getah per pohon memang meningkat namun karena jumlah pohon per ha berkurang maka produktivitas getah per ha ikut menurun.
b. Penebangan
Kegiatan penebangan di KPH Cianjur dimaksudkan untuk memperoleh hasil hutan berupa kayu dengan cara tebang habis (Clear Cutting System). Sistem tebang habis ini dapat diterapkan pada hutan yang memiliki tegakan homogen dan seumur. Dalam pelaksanaannya perlu dilakukan pengaturan hasil sesuai dengan kondisi tegakan hutan tersebut. Pada KPH Cianjur yang mempunyai sebaran KU tidak merata pada setiap BH perlu dilakukan pengaturan hasil dengan menggunakan jangka benah dan UTM untuk memperoleh jatah tebang per tahun yang sesuai dengan etat luas dan volume. Hal ini dilakukan agar KU muda dapat memperoleh waktu yang cukup untuk mencapai UTM dan tidak terjadi penebangan pada KU muda. Hasil perhitungan jatah tebang per tahun per bagian hutan pada tiap fungsi hutan disajikan pada Lampiran 5, 6, dan 7.
c. Pengangkutan
Kegiatan pengangkutan pada KP Pinus meliputi pengangkutan kayu dan getah. Pengangkutan kayu dilakukan dengan memindahkan kayu dari tempat pengumpulan getah (TPn) ke tempat penimbunan kayu (TPk) atau tempat penimbunan sementara. Sedangkan pengangkutan getah dilakukan dengan mengangkut hasil getah ke tempat penampungan getah (TPG) untuk kemudian
selanjutnya diangkut ke pabrik untuk diolah. KPH Cianjur mengangkut getahnya ke PGT Sindangwangi di nagrek untuk diolah menjadi gondorukem dan terpentin.
Rincian biaya pemanenan (eksploitasi kayu dan eksploitasi getah) yang dikeluarkan KPH Cianjur disajikan pada Tabel 22 dan 23.
Tabel 22. Rincian biaya eksplotasi kayu Pinus merkusii KPH Cianjur
No Uraian Biaya (Rp/m3)
1. Persiapan eksploitasi kayu
a. Babat trowong 357.500
b. Pembuatan dan pemasangan patok tanda batas 975.000
c. Babat tumbuhan bawah 1.950.000
d. Klem dan penomoran pohon 665.800
2. Penerimaan kayu bakar dan kayu pertukangan 30.375.465 3. Pengangkutan kayu bakar dan kayu pertukangan 12.381.241
Jumlah 46.705.006
Volume produksi kayu bakar dan kayu perkakas 415 Rata-rata biaya eksploitasi 112.542,18 Tabel 23. Rincian biaya eksploitasi getah Pinus merkusii KPH Cianjur
No Uraian Biaya (Rp/ton)
1. Persiapan Sadapan Pinus
a. Pembagian blok sadapan 2.447.600
b. Babat bidang sadapan 6.140.074
c. Klem/penomoran pohon 21.661.380
d. Pengadaan alat-alat 77.454.584
e. Lain-lain 11.153.750
2. Penerimaan getah pinus 353.782.111
3. Pengangkutan getah pinus 22.195.676
Jumlah 494.835.175
Volume Produksi Getah (Ton) 353,16
Rata-rata biaya penyadapan 1.401.164,27 Provisi Sumberdaya Hutan (PSDH)
Berdasarkan Kep. MenHut No.124/Kpts-II/2003 tentang PSDH, dijelaskan bahwa PSDH merupakan pungutan yang dikeluarkan sebagai pengganti nilai dari hasil hutan yang dipungut dari hutan negara. Rincian biaya PSDH KPH Cianjur disajikan pada Tabel 24.
Tabel 24. PSDH kayu Perum Perhutani jenis Pinus merkusii
No Uraian Satuan PSDH (Rp)
1. Diameter < 19 cm (AI) m3 8.000
2. Diameter 20 - 29 cm (AII) m3 11.800
3. Diameter > 30 cm up (AIII) m3 13.440
4. Kayu bakar Rimba Sm 1.500
Sedangkan untuk PSDH Getah diatur berdasarkan KepMen Kehutanan dan Perkebunan No.859/Kpts-II/1999 yaitu sebesar Rp. 14.300,- per ton.
Pemasaran
Kegiatan pemasaran di KP Pinus KPH Cianjur dibagi menjadi dua yaitu pemasaran kayu dan pemasaran getah. Kegiatan pemasaran di KPH Cianjur disebut dengan pengaturan kayu bundar pinus. Kegiatan pemasaran kayu meliputi kegiatan mengatur kayu bundar dan persegi. Sedangkan pada pemasaran getah yang dilakukan adalah mengatur hasil getah dan memelihara sarana dan prasarana. Rincian biaya pemasaran kayu dan getah disajikan pada Tabel 25 dan Tabel 26. Tabel 25. Rincian biaya pemasaran kayu Pinus KPH Cianjur
No Uraian Biaya (Rp)
1. Biaya Mengatur Kayu Bundar 33.180.915
2. Penjualan kayu (meterai) 1.700.000
3. Iuran Hasil Hutan
a. Kayu bundar rimba pinus 5.588.669
b. Kayu bakar rimba 6.000
4. Mengatur Kayu Persegi 2.057.104
Jumlah 42.532.688
Volume Penjualan Kayu 489,34
Rata-rata biaya Pemasaran 86.918,48 Tabel 26. Rincian biaya pemasaran getah Pinus KPH Cianjur
No Uraian Biaya (Rp)
1. Biaya mengatur hasil getah pinus 840.000
2. Penjualan 1.700.000
3. Pemeliharaan Sarana dan Prasarana 6.315.700 4. Penyusutan Sarana dan Prasarana 20.658.096
Jumlah 29.513.796
Volume Penjualan Hasil Getah Pinus (Ton) 330,83 Rata-rata biaya Pemasaran 89.211,37 Jumlah Biaya Pemasaran Kayu dan getah 176.129,84
Kegiatan pemasaran dikelola oleh Kesatuan Bisnis Mandiri (KBM) Industri Kayu dan KBM Industri Non Kayu. Untuk pemasaran kayu pinus KPH Cianjur dilakukan melalui penjualan langsung dimana pembeli datang langsung ke KBM untuk transaksi penjualan dan pengurusan dokumen. Setelah dokumen lengkap maka kayu pinus yang berada di TPKh berpindah tangan kepada pembeli. Dokumen yang harus dimiliki yaitu Surat Ijin Penjualan Hasil Hutan (SIPAHA), bon penjualan, dan kuitansi. Sedangkan untuk getah setelah dikirim ke PGT
Sindangwangi dan diolah menjadi gondorukem dan terpentin kemudian dijual melalui dua saluran yaitu saluran luar negri dan dalam negri.
Pembinaan Masyarakat Desa Hutan (PMDH)
PMDH merupakan salah satu upaya untuk merangkul Masyarakat Desa
Hutan (MDH) dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. KPH Cianjur saat ini sedang menjalankan sistem Participatory Rural Apraisal
(PRA) yang akan menganalisa seluruh aspek yang terkait dengan sumber daya hutan. Melalui metode ini dapat dilaksanakan pengkajian permasalahan, kebutuhan, serta potensi yang dimiliki MDH. Sehingga dapat diperoleh gambaran awal mengenai aspek sosial yang selanjutnya dipakai sebagai dasar dalam menentukan pola pengelolaan sumber daya hutan yang sesuai dengan karakter daerah, tanpa mengabaikan asas kelestarian lingkungan dan perusahaan. Rincian biaya yang harus dikeluarkan untuk kegiatan PMDH di dalam dan di luar kawasan disajikan pada Tabel 27 dan 28.
Tabel 27. Rincian biaya PMDH dalam kawasan KPH Cianjur No Uraian
Biaya KPH Cianjur (Rp)
Biaya KP Pinus (Rp)
1. Biaya Pembinaan Awal 593.000 415.100
2. Biaya Persiapan Perhutanan Sosial 593.000 415.100 3. Biaya Perhutanan Sosial Berjalan 11.635.000 8.144.500 4. Biaya Perhutanan Sosial Tahun yang lalu 7.769.500 5.438.650 5. Biaya Penyuluhan Perhutanan 86.313.100 60.419.170
6. Biaya Terasering 13.994.400 9.796.080
Jumlah 120.898.000 84.628.600 Tabel 28. Rincian biaya PMDH luar kawasan KPH Cianjur
No Uraian
Biaya KPH Cianjur (Rp)
Biaya KP Pinus (Rp)
1. Biaya Desa Model 13.738.000 9.616.600
2. Biaya Kaptering Air 82.626.775 57.838.743 3. Biaya Bibit Kepada Pihak III 4.699.676 3.289.773 4. Biaya PMDH diluar Kawasan Lainnya 270.488.805 189.342.164 Jumlah 371.553.256 260.087.279
Analisis Finansial Menghitung Nilai Tegakan
Berdasarkan metode biaya historis, nilai tegakan ditentukan dengan menurunkan biaya yang telah dikeluarkan sampai tegakan tersebut mencapai umur masak tebang dengan memperhitungkan tingkat suku bunga. Kemudian total
biaya yang dikeluarkan tersebut dijumlahkan dengan biaya investasi yang dikeluarkan pada awal pengusahaan. Tahap selanjutnya adalah membandingkan nilai penjumlahan tersebut dengan total produksi tebangan akhir daur. Pada KP pinus KPH Cianjur, investasi awal yang dikeluarkan sebesar Rp. 11.828.991.250,-
dan total biaya yang dikeluarkan sampai tegakan masak tebang sebesar Rp. 535.896.110.313,- dengan total produksi tebangan akhir daur sebesar
100.098,71 m3 kemudian dilakukan penghitungan dan diperoleh nilai tegakan pinus adalah sebesar Rp. 376.083,48/m3.
Nilai tegakan dengan metode nilai sisa turunan diperoleh dengan cara menghitung selisih harga jual kayu dengan biaya total rata-rata yang dikeluarkan mulai dari pemanenan sampai ke pengolahan kayu yang dikalikan dengan
discount factor dengan menggunakan tingkat suku bunga bank rata-rata yaitu sebesar 12%. Harga jual kayu yang berlaku di KP Pinus untuk mutu pertama (P) dengan persentase penjualan 90% sebesar Rp. 560.000/m3, total biaya pemanenan dan pengolahan kayu sebesar Rp. 112.542,18/m3. Sehingga diperoleh nilai tegakan sebesar Rp. 433.952,76/m3 yang apabila dibandingkan dengan nilai tegakan metode biaya historis memiliki perbedaan yang tidak terlalu besar. Selisih nilai tegakan dengan metode nilai sisa turunan dan metode biaya historis menunjukkan tingkat keuntungan pengusahaan hutan pinus. Hasil penghitungan menunjukkan bahwa pengusahaan hutan pinus KPH Cianjur mendatangkan keuntungan sebesar Rp. 57.869,28/m3. Hal ini menandakan bahwa tegakan pinus KPH Cianjur dapat mendatangkan keuntungan sehingga perlu dikelola dengan baik dan bijaksana.
Menghitung Nilai Harapan Tanah
Nilai harapan tanah merupakan nilai dasar dari pendapatan bersih yang dapat diharapkan dengan menentukan tingkat suku bunga tertentu. Sehingga dapat digunakan sebagai salah satu indikator untuk mengetahui bagaimana tegakan hutan tersebut di masa yang akan datang apakah menguntungkan atau tidak. Penghitungan nilai harapan hutan ini menggunakan formula Faustmann yaitu dengan membandingkan pendapatan bersih total akhir daur baik dari tebangan akhir maupun dari penjarangan dengan faktor diskonto yang kemudian dikurangi dengan biaya tahunan.
Pada KP Pinus KPH Cianjur pendapatan bersih tebangan akhir dan penjarangan sebesar Rp. 50.449.749.840,- dan biaya tetap tahunan sebesar Rp. 28.385.176.031,67. Setelah dibandingkan dengan faktor diskonto yang menggunakan tingkat suku bunga 12% diperoleh nilai harapan tanah sebesar Rp. 116.814.752.798,69/ha/thn. Hal ini menandakan bahwa tegakan hutan tersebut dapat mendatangkan keuntungan dimasa yang akan datang. Oleh karena itu tegakan hutan tersebut perlu dikelola dengan baik dan sejalan dengan prinsip kelestarian.
Analisis Kelayakan Usaha
Analisis kelayakan usaha dilakukan untuk mengetahui kelayakan pengelolaan KP Pinus KPH Cianjur di masa yang akan datang dengan menggunakan tiga kriteria kelayakan investasi, yaitu Net Present Value (NPV),
Internal Rate of Return (IRR), dan Benefit Cost Ratio (BCR). Suatu pengusahaan dapat dikatakan layak untuk dijalankan seterusnya apabila memiliki NPV>0, IRR>tingkat suku bunga yang berlaku, dan BCR>1. Penghitungan tiga kriteria ini
menggunakan pendapatan dan biaya yang digunakan dalam pengusahaan KP Pinus selama 1 daur (25 tahun). Nilai pendapatan dan biaya yang digunakan dalam penghitungan merupakan nilai yang telah didiskontokan. Artinya, nilai uang yang sekarang digunakan tidak sama dengan nilai uang dengan jumlah yang sama di masa yang akan datang. Oleh karena itu, nilai uang tersebut didiskontokan dengan menggunakan tingkat suku bunga 12%.
Tahap pertama dalam penghitungan yang dilakukan adalah mengelompokkan biaya-biaya yang dikeluarkan dan pendapatan yang diperoleh dalam pengelolaan KP Pinus selama 1 daur. Selanjutnya nilai biaya (Cost) dan pendapatan (Benefit) tersebut didiskontokan sehingga diperoleh nilai biaya dan pendapatan per tahun selama 1 daur mendatang. dan sebagai gambaran mengenai kondisi pengusahaan KP Pinus maka dibuat grafik benefit-cost KP Pinus. Grafik
Gambar 10. Grafik Benefit-Cost berdasarkan penjualan kayu dan upah sadap KPH Cianjur 0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 1000 2006 2008 2010 2012 2014 2016 2018 2020 2022 2024 2026 2028 2030 Tahun Rp (x1. 000. 000. 000) Benefit Cost
Gambar 11. Grafik Benefit-Cost berdasarkan penjualan kayu dan harga jual gondorukem dan terpentin KPH Cianjur
Gambar 10 merupakan grafik Benefit-Cost dimana penerimaan yang berasal dari hasil penjualan kayu dan hasil dari getah didasarkan pada upah getah. Upah getah yang berlaku di KPH Cianjur adalah Rp. 1.010/kg sudah termasuk dengan biaya pikul. Penyadap di KP Pinus ini umumnya adalah masyarakat desa sekitar atau disebut juga penyadap lokal. Dengan menggunakan penyadap lokal diharapkan masyarakat desa akan ikut menjaga kelestarian hutan. Namun, banyak penyadap yang mengeluhkan upah sadap yang berlaku karena dianggap tidak sebanding dengan jarak yang harus mereka tempuh untuk ke lokasi. Hal ini
0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 2006 2008 2010 2012 201 4 2016 2018 2020 202 2 2024 2026 202 8 2030 Tahun Rp (x1. 000. 000. 000) Benefit Cost
berakibat kepada menurunnya jumlah produksi getah yang dihasilkan karena banyak penyadap enggan meneruskan pekerjaannya.
Dari Gambar 10 dapat dilihat bahwa pada awal tahun pengusahaan garis
benefit selalu berada di bawah garis cost. Hal ini menandakan bahwa pengusahaan KP Pinus menderita kerugian atau tidak mendapat keuntungan hingga pertengahan pengusahaan. Kerugian tersebut terjadi karena pada awal pengusahaan pendapatan yang diperoleh dari hasil penebangan rendah dan pendapatan dari upah sadap juga rendah sehingga tidak dapat menutupi besarnya biaya yang dikeluarkan. Rendahnya hasil penebangan disebabkan kondisi tegakan KP Pinus KPH Cianjur yang masih dalam tahap pembangunan sehingga didominasi oleh KU muda yang belum dapat dipungut hasilnya sebelum masak tebang. Hal ini diperparah dengan rendahnya upah sadap yang diberlakukan yang berakibat pada menurunnya kinerja penyadap sehingga hasil getah yang diperoleh tidak maksimal. Namun mulai dari pertengahan hingga akhir daur KP Pinus mulai mengalami keuntungan karena adanya peningkatan produksi kayu pinus yang memiliki harga jual cukup tinggi sehingga mampu menutupi biaya yang dikeluarkan. Proyeksi laba-rugi dan
cash-flow berdasarkan penjualan kayu dan upah sadap juga menunjukkan kerugian yang dialami oleh perusahaan pada awal hingga pertengahan daur. Proyeksi laba-rugi dan cash-flow berdasarkan penjualan kayu dan upah sadap selama 1 daur disajikan pada Lampiran 16 sampai 20.
Sedangkan pada Gambar 11 penerimaan berasal dari penjualan kayu dan harga jual getah (Rp. 1.950,-) yang diperoleh dari hasil konversi harga jual gondorukem dan terpentin dengan biaya produksi gondorukem dan terpentin. Dapat dilihat bahwa pada awal-awal tahun pengusahaan garis benefit berada di bawah garis cost dan mulai bergerak naik pada tahun 2016 sampai akhir daur sehingga diperoleh keuntungan hingga akhir daur. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada proyeksi laba-rugi yang disajikan pada Lampiran 14 dan 15, serta proyeksi cash-flow pada Lampiran 21 sampai 23.
Penghitungan kriteria kelayakan pengusahaan KP Pinus di KPH Cianjur berdasarkan penjualan kayu dan upah sadap menghasilkan nilai NPV sebesar Rp. 119.230.806.354,17,- IRR sebesar 17,72% dan BCR sebesar 1,26. Nilai NPV sebesar Rp. 119.230.806.354,17,- menandakan bahwa pengusahaan KP Pinus
dapat mengembalikan senilai biaya yang dikeluarkan bahkan mengalami keuntungan sebesar Rp. 119.230.806.354,17,- dan oleh sebab itu layak untuk dijalankan. IRR sebesar 17,72% atau lebih besar dari suku bunga yang digunakan dan oleh sebab itu layak untuk dijalankan. Dan nilai BCR sebesar 1,26 atau dengan kata lain lebih besar dari 1, menandakan bahwa pendapatan yang diperoleh lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan sehingga pengusahaan KP Pinus memperoleh keuntungan dan oleh sebab itu layak untuk dijalankan.
Dengan nilai NPV lebih besar dari nol, IRR lebih besar dari Social Discount Rate, dan nilai BCR lebih besar dari 1, maka dapat dikatakan kegiatan pengusahaan KP Pinus KPH Cianjur dimana pendapatan berasal dari penjualan kayu dan hasil dari getah didasarkan pada upah sadap layak untuk dijalankan (“ go”).
Penghitungan kriteria kelayakan pengusahaan KP Pinus di KPH Cianjur berdasarkan penjualan kayu dan harga jual getah yang diperoleh dari hasil konversi harga jual gondorukem dan terpentin dengan biaya produksi gondorukem
dan terpentin menghasilkan nilai NPV sebesar Rp. 188.640.235.744,17,
IRR sebesar 21,56% dan BCR sebesar 1,41. Nilai NPV sebesar Rp. 188.640.235.744,17 menandakan bahwa pengusahaan KP Pinus dapat
mengembalikan senilai biaya yang dikeluarkan bahkan mendapat keuntungan sebesar Rp. 188.640.235.744,17 dan oleh sebab itu layak untuk dijalankan. IRR sebesar 21,56% atau lebih besar dari suku bunga konsumsi (12%) menunjukkan tingkat pengembalian investasi tinggi dan oleh sebab itu layak untuk dijalankan. Dan nilai BCR sebesar 1,41 atau dengan kata lain lebih dari 1, menandakan bahwa pengembangan KP Pinus di KPH Cianjur mendatangkan keuntungan bagi perusahaan.
Dengan nilai NPV lebih besar dari nol, IRR lebih besar dari Social Discount Rate, dan nilai BCR lebih besar dari 1, maka dapat dikatakan kegiatan pengusahaan KP Pinus KPH Cianjur memberikan keuntungan bagi perusahaan dan turut serta membangun ekonomi nasional khususnya dalam rangka pelaksanaan program pembangunan nasional di bidang kehutanan dengan tetap memegang prinsip pengelolaan hutan yang lestari.