• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III BENTUK ATURAN HUKUM INTERNASIONAL BAGI

B. Pelaku Pengeksploitasian Anak di Bawah Umur Sebagai Pekerja di

Seperti yang sudah diketahui di atas bahwasanya Afrika Tengah, Republik Kongo merupakan negara yang menghasilkan setidaknya 50 persen dari kobalt di dunia, yang menyebabkan salah satu pembeli kobalt terbesar dari wilayah ini adalah Congo Dongfang Mining International (CDM). Perusahaan ini merupakan anak perusahaan Cina yang bermarkas di Zhejiang, Huayou Cobalt, salah satu produsen kobalt terbesar di dunia.

Produk kobalt yang diproduksi di Huayou Cobalt kemudian dijual ke produsen komponen baterai di Cina dan Korea Selatan. Mereka lalu menjualnya kepada pembuat baterai yang mengaku memasok perusahaan teknologi dan otomotif, termasuk Apple, Microsoft, Samsung, Sony, Daimler dan Volkswagen, seperti yang diungkapkan oleh Amnesty International (AI).59

59 DW, Pemasok Apple, Sony, Samsung Hadapi Tuduhan Mempekerjakan Anak-anak, dalam

laman web :

Amnesty International menuduh perusahaan elekronik Apple, Samsung, Sony dan perusahaan lainnya tidak menjamin pasokan mereka bebas dari mineral yang ditambang oleh anak-anak. Kelompok HAM itu mengatakan dalam sebuah laporan tentang penambangan kobalt bahwa anak-anak semuda tujuh tahun dipekerjakan dalam kondisi berbahaya di Republik Demokratik Kongo.

http://www.dw.com/id/pemasok-apple-sony-samsung-hadapi-tuduhan-mempekerjakan-anak-anak/a-18988643, terakhir diakses pada tanggal 11 Desember 2016

Perusahaan teknologi dunia tersebut dikabarkan tengah jadi sorotan dunia.

Hal ini terjadi setelah adanya laporan dari Amnesty International yang menemukan bahwa beberapa perusahaan tersebut dinilai lalai memastikan bahwa kobalt yang mereka gunakan ternyata ditambang oleh pekerja anak-anak.

Laporan ini dipastikan setelah kelompok pendukung hak asasi manusia tersebut melacak penggunaan kobalt untuk baterai lithium yang dijual ke 16 perusahaan multinasional. Pada penelusuran tersebut ditemukan bahwa kobalt yang berasal dari Kongo itu ternyata ditambang oleh pekerja anak-anak.

Tak hanya itu, kebanyakan pekerja baik anak-anak maupun dewasa mengalami situasi kerja yang tidak manusiawi, seperti dibayar satu dolar per hari. Juga banyak pekerja yang mengalami kekerasan, pemerasan, serta intimidasi. Republik Demokratik Kongo sendiri memang dapat dikatakan sebagai penghasil kobalt terbesar di dunia. Hampir setengah kebutuhan kobalt di dunia dihasilkan oleh negara tersebut.Namun, di sisi lain, penambang kobalt di Kongo tidak mendapat perhatian yang cukup. Temuan UNICEF di 2012 memperkirakan ada sekitar 40 ribu penambang anak di negara itu.60

Mark Dummett, ilmuwan dari Amnesty International mengatakan bahwa etalase-etalase glamor berisi gadget dan pemasaran mewah teknologi saat ini sangat kontras dengan gambaran anak-anak yang menggotong karung besar

60 Liputan6.com, Perusahaan Teknologi Dunia Tersandung Kasus Pekerja Anak, dilihat dalam web : http://tekno.liputan6.com/read/2417297/perusahaan-teknologi-dunia-tersandung-kasus-pekerja-anak, terakhir diakses pada tanggal 11 Desember 2016

berisi batu dan penambangan yang merayap dalam terowongan buatan tangan, mengabaikan resiko penyakit paru-paru yang bisa mereka derita.61

Menurut Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC), paparan butiran halus dalam kandungan kobalt bisa mengakibatkan penyakit paru-paru yang berpotensi fatal. DCD menyebutkan, menghirup partikel kobalt juga dapat menyebabkan gangguan pernapasan, asma, sesak napas, dan penurunan fungsi paru. Meskipun penambang anak tidak bekerja langsung untuk CDM, menurut AI, mereka merupakan bagian aktif dari rantai pasokan mineral perusahaan.

Anak-anak yang bekerja berjam-jam di tambang kobalt ini juga harus mengangkut beban berat bijih yang ditambang, kisarannya antara 20-40 kilogram. Mereka juga bekerja tanpa alat pelindung seperti sarung tangan dan masker wajah.

62

Ada juga yang bekerja untuk tambang kobalt milik perusahaan. Namun, anak-anak yang bekerja di tambang milik perusahaan hanya menerima upah Tambang rakyat biasanya minim sistem pengaman. Peralatan yang digunakan pun sangatlah sederhana. Bahkan jika ingin menambang, mereka harus masuk dalam terowongan yang gelap serta tak ada tangga atau pun tali pengaman.

61 Okezone.com, Tetesan Keringat dan Darah Anak Anak Kongo di Dalam Smartphone Mewah

Kita, dalam laman web : http://warungkopi.okezone.com/thread/497314/tetesan-keringat-dan-darah-anak-anak-kongo-di-dalam-smartphone-mewah-kita, terakhir diakses pada tanggal 11 Desember 2016

62 DW, op.cit.

$1 hingga $2 dengan jam kerja mencapai 12 jam per hari. Jumlah tersebut berbanding terbalik dengan bahaya yang harus dihadapi anak-anak tersebut saat bekerja di bawah terik matahari tanpa masker dan sarung tangan. Padahal harga kobalt terbilang mahal, $20.000 hingga $26.000 per ton.

Industri tambang adalah tempat kerja terburuk bagi anak-anak, mengingat bahaya kesehatan dan keamanan yang ditimbulkan. Perusahaan-perusahaan dengan keuntungan total 125 triliun dollar AS tak bisa mengklaim mereka tak mampu mengecek dari mana komponen-komponen produk mereka berasal, begitulah yang diutarakan oleh salah seorang tim peneliti dari Amnesty International, Mark Dummet tersebut.63

Setidaknya ada 16 perusahaan teknologi yang dimaksud Dummet, yakni Ahong, Apple, BYD, Daimler, Dell, HP, Huawei, Inventec, Lenovo, LG, Microsoft, Samsung, Sony, Vodafone, Volkswagen dan ZTE. Melalui jalur diplomasi, Amnesty International dan Afrewatch meminta pemerintah menetapkan regulasi yang mengikat. Mulai dari jejeran industri tambang, penyuplai, hingga pabrikan smartphone.64

Tanpa hukum yang mengharuskan perusahaan mengecek dari mana sumber komponen, mereka akan terus mengambil keuntungan dari penindasan hak asasi manusia. Pemerintah harus bertindak, karena anak-anak pekerja di bawah umur itu juga harus memikul hasil tambang dan berjalan berkilo-kilo

63 Kompas.com, Derita Pekerja Anak di Tambang Bahan Baku Smartphone, dilihat dalam laman web :

http://tekno.kompas.com/read/2016/01/20/20090057/Derita.Pekerja.Anak.di.Tambang.Bahan.Bak u.Smartphone, terakhir diakses pada tanggal 11 Desember 2016

64 Ibid.

jauhnya setiap hari. Tak jarang, anak-anak tersebut dipukuli oleh para penjaga keamanan yang dipekerjakan oleh perusahaan tambang. Belum lagi penyakit yang mereka derita akibat sering bersentuhan dengan barang tambang tersebut.

Menanggapi hal tersebut, 2 perusahaan multinasional membantah telah menggunakan kobalt yang berasal dari Kongo dan ada 5 perusahaan yang menampik mempunyai hubungan dengan Huayou Cobalt. Sementara itu, perusahaan lainnya menerima temuan Amnesty ini dan masih melakukan penyelidikan internal terhadap klaim tersebut.

Amnesty International juga memberikan rekomendasi pada Huayou Cobalt untuk mampu mengetahui sumber penambangan kobalt yang dimlikinya.

Selain itu, juga memastikan bahwa tidak ada penambang anak atau pekerja yang diperlakukan tidak layak.

Dokumen terkait