PEROLEHAN SUARA SETELAH
C. Pelanggaran Yang Bersifat Masif
1. Bahwa berdasarkan permohonan a quo, ruang lingkup dalil pelanggaran yang bersifat terstruktur, sistematis dan masif hanya terbatas di 25 TPS, yaitu TPS 09, 10, 11, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33 dan 34 Desa Tambusai Utara, Kecamatan Tambusai Utara saja.
Sedangkan jumlah TPS di Kabupaten Rokan Hulu sejumlah 1.126 TPS termasuk 25 TPS dimaksud.
2. Bahwa pengertian masif adalah sesuatu yang bersifat kokoh, berjumlah banyak/besar dan padat. Dalam penjelasan Pasal 135A Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016, berbunyi “yang dimaksud dengan “masif” adalah dampak pelanggaran yang sangat luas pengaruhnya terhadap hasil pemilihan bukan hanya sebagian-sebagian”.
3. Bahwa Pemohon tidak mendalilkan dampak politik uang yang diduga dilakukan Pasangan Calon Nomor Urut 3 dan Pihak Terkait terjadi dimana saja, sehingga dampak pelanggarannya dapat terlihat kemasifannya, mengingat jumlah TPS di Kabupaten Rokan Hulu berjumlah 1.126 TPS termasuk 25 TPS dimaksud. Dan jika Pemohon hanya mendalilkan di 25 TPS di Desa Tambusai Utara, Kecamatan Tambusai Utara, maka dampak masifnya itu tidak berpengaruh terhadap seluruh hasil pemilihan.
4. Bahwa jika dilakukan pemungutan suara ulang di 25 TPS tersebut tidak berdampak pada hasil pemilihan atau mempengaruhi Pemohon untuk ditetapkan sebagai calon terpilih, hal itu sangat berdasar karena jumlah seluruh pemilih di 25 TPS berjumlah 3.706 pemilih dan jika semua memilih Pemohon pun tidak akan berpengaruh terhadap hasil pemilihan atau ditetapkannya Pemohon sebagai calon terpilih, karena selisih perolehan suara Pemohon dengan Pihak Terkait adalah 42.799 suara.
5. Bahwa syarat diskualifikasikan pelanggaran menjanjikan dan/atau memberikan uang atau materi lainnya yang terjadi secara masif harus memenuhi syarat sebagaimana ditentukan pada Pasal 15 ayat (3) huruf b Perbawaslu Nomor 9 Tahun 2020 berbunyi “syarat dokumen untuk membuktikan pelanggaran TSM berupa “untuk pemilihan Bupati dan Wakil Bupati atau Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota terdapat bukti yang menunjukan terjadinya pelanggaran di paling sedikit 50% (lima puluh persen) kecamatan dalam 1 (satu) kabupaten/Kota”. Jadi, jika berdasarkan ketentuan tersebut pelanggaran politik uang harus terjadi di 50 % kecamatan, yaitu terjadi di 8 (delapan) kecamatan dari jumlah kecamatan di Kabupaten Rokan Hulu berjumlah 16 Kecamatan. Sedangkan Pemohon hanya mendalilkan di 25 TPS Desa Tambusai Utara, Kecamatan Tambusai Utara saja, maka dalil Pemohon tidak memenuhi kualifikasi pemenuhan syarat 50% kecamatan, yaitu 8 (delapan) kecamatan, sehingga dalil permohonan Pemohon tidak beralasan menurut hukum.
6. Bahwa jika pemenuhan syarat masif hanya terjadi di 1 (satu) kecamatan saja in casu Kecamatan Tambusai Utara, maka tidak mewakili ketentuan sifat masif minimal terjadi di 8 (delapan) kecamatan, sehingga dalil Pemohon berkaitan dengan pelanggaran yang bersifat masif tidak beralasan menurut hukum, maka sudah sepatutnya permohonan Pemohon untuk dinyatakan ditolak seluruhnya.
23) Bahwa untuk membuktikan adanya pelanggaran yang bersifat TSM harus terbukti secara kumulatif, artinya jika yang terbukit hanya terstruktur saja dan pelanggaran sistematis dan masif tidak terbukti, maka tidak terjadi pelanggaran yang bersifat TSM. Jadi, jika hanya terbukti sebagian-sebagian saja, maka pelanggaran itu tidak dalam kulifikasi pelanggaran yang bersifat terstruktur, sistematis, dan masif, karena sanksi terhadap pelanggaran yang bersifat TSM adalah pembatalan pasangan calon, maka pembuktiannya harus dibuktikan secara kumulatif, baik terstruktur, sistematis, dan masif.
24) Bahwa berkaitan dengan bukti P-30, bukti P-31, bukti P-32, bukti P-33, bukti P-34 Pemohon merupakan surat pernyataan yang yang ditandatangani oleh orang seorang yang tidak mengetahui isinya dan format surat pernyataannya tersebut hurufnya sama dan diduga dibuat oleh satu orang, dan terhadap surat pernyataan tersebut tidak bernilai dalam pembuktian, sehingga harus dinyatakan ditolak.
25) Bahwa berkenaan dengan bukti P-35 dan bukti P-36 Pemohon, Pihak Terkait menolak dengan tegas bukti tersebut, karena bukti tersebut adalah kegiatan Ketahanan Pangan dan Pemanfaatan Lahan yang dilaksanakan pada tanggal 16 Juli 2020, di Desa Tambusai Utara dan tidak ada kaitannya dengan penyelenggaraan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Rokan Hulu Tahun 2020, karena kegiatan itu murni kegiatan Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu. (vide Bukti PT-11 dan Bukti PT-12).
26) Bahwa Pihak Terkait menolak terhadap bukti-bukti selain dan selebihnya, karena bukti-bukti tersebut tidak relevan dengan pokok permohonan Pemohon, karena tidak didasarkan dengan fakta yang sebenarnya, maka oleh karenanya bukti-bukti tersebut harus dinyatakan ditolak seluruhnya.
27) Bahwa berdasarkan uraian di atas, maka seluruh dalil Pemohon berkaitan dengan pelanggaran politik uang, intimidasi dan surat instruksi, serta pelanggaran yang bersifat terstruktur, sistematis dan masif (TSM) tidak dapat dibuktikan secara hukum, maka dalil demikian harus dianggap tidak ada atau idem est non proban et non esse, sehingga dalil permohonan a
quo tidak beralasan menurut hukum, maka sudah sepatutnya untuk dinyatakan ditolak seluruhnya.
28) Bahwa berdasarkan seluruh uraian di atas, dan sebagai akhir jawaban dan tanggapan Pihak Terkait, maka Pihak Terkait berkesimpulan sebagai berikut:
a. Bahwa Mahkamah Konstitusi tidak berwenang memeriksa, mengadili dan memutus permohon Pemohon a quo.
b. Bahwa Pemohon tidak memiliki kedudukan hukum (legal standing) dalam perkara a quo, karena tidak memenuhi syarat ambang batas 1
% (satu persen) yang ditentukan pada ketentuan Pasal 158 ayat (2) huruf c Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016.
c. Bahwa terhadap tenggang waktu pengajuan permohonan tidak dipertimbangkan.
d. Bahwa pokok permohonan Pemohon tidak beralasan menurut hukum, karena faktanya tidak terjadi pelanggaran sebagaimana dalil permohonan a quo, dan terhadap pelanggaran yang bersifat terstruktur, sistematis dan masif (TSM) tidak dapat dibuktikan secara sah dan meyakinkan, sehingga dalil permohonan a quo tidak beralasan menurut hukum.
e. Bahwa permohonan a quo untuk mendiskualifikasi Pasangan Calon Nomor Urut 2 in casu Pihak Terkait dan Pasangan Calon Nomor Urut 3 tidak beralasan menurut hukum, karena dalam permohonan a quo tidak menguraikan dan menjelaskan pelanggaran yang bersifat terstruktur, sistematis dan masif, yang dilakukan Pasangan Calon Nomor Urut 2 dan Pasngan Calon Nomor Urut 3, dan dalil permohonan a quo tidak mendalilkan peran, tindakan dan perbuatan Pasangan Calon Nomor Urut 3 yang bersifat terstruktur, sistematis, dan masif, maka sudah sepatutnya pokok permohonan a quo menjadi tidak jelas, sehingga harus dinyatakan untuk ditolak seluruhnya.
f. Bahwa permohonan a quo untuk dilakukan pemungutan suara ulang di seluruh TPS di Kabupaten Rokan Hulu tidak beralasan hukum, karena terhadap keberadaan 1.101 TPS berdasarkan Keputusan KPU
Rokan Hulu Nomor 620/PL.02.6-Kpt/1406/KPU-Kab/XII/2020 tidak dibatalkan oleh Mahkamah dan terhadap 1.101 TPS tersebut telah diperiksa dan diadili oleh Mahkamah, maka sepanjang perolehan suara masing-masing pasangan calon berdasarkan Keputusan KPU Rokan Hulu Nomor 620/PL.02.6-Kpt/1406/KPU-Kab/XII/2020 harus dinyatakan tetap sah dan berlaku, sehingga menjadi tidak relevan jika Pemohon memohon untuk dilakukan pemungutan suara ulang di 1.126 TPS termasuk 25 TPS Desa Tambusai Utara, Kecamatan Tambusai Utara yang sudah pernah diperiksa dan diadili oleh Mahkamah dan terhadap 25 TPS sudah dilakukan pemungutan suara ulang Pasca Putusan Mahkamah Nomor 70/PHP.BUP-XIX/2021.
g. Bahwa pelaksanaan pemungutan dan penghitungan suara ulang di 25 TPS, yaitu TPS 9, 10, 11, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, dan 34, Desa Tambusai Utara, Kecamatan Tambusai Utara, Kabupaten Rokan Hulu telah dilakukan oleh Termohon dan jajarannya sesuai dengan tahapan, jadwal dan program serta telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan, maka harus dinyatakan perolehan saura yang benar dan sah, yang hasilnya telah tertuang dalam Model C.Hasil Salinan Ulang-KWK, Pemilihan Ulang (vide Bukti PT-7).
h. Bahwa hasil pemungutan dan penghitungan suara ulang di 25 TPS tersebut digabungkan dengan perolehan suara berdasarkan Keputusan KPU Rokan Hulu Nomor 620/PL.02.6-Kpt/KPU-Kab/XII/2020 yang tidak dibatalkan oleh Mahkamah, dan telah tertuang dalam Keputusan Termohon Nomor 49/PL.02.6-Kpt/1406/
KPU-Kab/IV/2021 tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 70/PHP.BUP-XIX/2021 dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Rokan Hulu Tahun 2020, tertanggal 24 April 2021 (vide Bukti PT-1), harus dinyatakan rekapitulasi hasil penghitungan suara yang benar dan sah serta tetap berlaku.
i. Bahwa menyatakan sah Berita Acara Nomor 61/PL.02.6-BA/1406/
KPU-Kab/IV/2021 tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 70/PHP.BUP-XIX/2021 Dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Rokan Hulu Tahun 2020. (vide Bukti PT-2).
III. PETITUM
Berdasarkan uraian sebagaimana tersebut di atas, Pihak Terkait memohon kepada Yang Mulia Mahkamah Konstitusi untuk menjatuhkan putusan sebagai berikut: