WAJIB PAJAK
E. Pelaporan Pajak oleh Wajib Pajak Orang Pribadi Setelah Diterapkannya e-felling
DJP tidak memiliki kewenangan untuk menentukan pajak perorangan atau badan tertentu, dan sebaliknya, jumlah pajak terhutang ditentukan oleh wajib pajak itu sendiri. Untuk dapat mengawasi kejujuran wajib pajak dalam penentuan besarnya pajak, DJP membutuhkan sarana untuk melakukan kontrol.
Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan menurut Peraturan DJP No.
PER/01/PJ/2016, Pasal 1 ayat (2), SPT Tahunan adalah SPT Tahunan adalah Surat Pemberitahuan untuk suatu tahun pajak atau Bagian Tahun Pajak, yang meliputi SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi (SPT 1770, SPT 1770 S, SPT 1770 SS) dan SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan (SPT 1771 dan SPT 1771 S), termasuk SPT Tahunan Pembetulan.68
Pelaporan pajak oleh wajib pajak sebelum diterapkannya sistem elektronik, wajib pajak harus mendatangi KPP sesuai dengan domisilinya melalui Account Representative masing-masing dari wajib pajak. DJP terus melakukan pengembangan dan perbaikan guna meningkatkan penerimaan pajak. Account Representative yang ditunjuk untuk memberikan pelayanan pajak kepada wajib pajak, juga menjalankan fungsi konsultasi. Konsultasi cukup penting karena, dengan adanya konsultasi diharapkan wajib pajak dapat bertanya kepada petugas Account Representative tentang undang-undang atau peraturan perpajakan yang
67 Ibid, hlm 98
68 Yuli Nawangsasi, Analisis Pelaporan E-Filing terhadap Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak. Jurnal Aset (Akuntansi Riset) Vol.9 | No.2 | 2017, hlm 50
tidak dimengerti, sehingga terjadinya kerja sama yang baik antara wajib pajak dengan KPP dimana diwakili oleh petugas Account Representative.
Pelaporan SPT Tahunan PPh wajib pajak orang pribadi secara e-filling adalah suatu cara penyampaian e-SPT Tahunan yang dilakukan secara online dan realtime melalui internet pada website DJP dan ASP.69 Peraturan perpajakan pada awal Januari 2014, telah mewajibkan wajib pajak orang pribadi untuk melaporkan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi secara online dengan menggunakan aplikasi e-filling seperti yang tercantum pada Per-1/PJ/2014 tentang tata cara penyampaian SPT bagi Wajib Pajak Orang Pribadi yang menggunakan formulir 1770 S dan 1770 SS secara e-filling, e-filling merupakan salah satu bentuk reformasi administrasi perpajakan. Reformasi administrasi perpajakan yaitu penyempurnaan administrasi baik secara individu, kelompok maupun kelembagaan agar lebih efisien ekonomis dan cepat.70
Penggunaan e-filling adalah suatu cara penyampaian SPT Tahunan secara elektronik yang dilakukan secara online oleh Wajib Pajak dengan menggunakan sistem e-filling. Penggunaan e-filling dapat diukur dalam beberapa aspek yaitu selalu menggunakan e-filling setiap melaporkan pajak, berkehendak menggunakan e-filling di masa depan, serta mempunyai fitur yang membantu wajib pajak dalam melaporkan pajak. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penggunaan e-filling yaitu persepsi kebermanfaatan, persepsi kemudahan penggunaan, kepuasan, keamanan dan kerahasiaan, serta kesiapan teknologi informasi Wajib Pajak.71
69 www.pajak.go.id, diakses tanggal 11 Januari 2019
70 Ibid, hlm 50-51
71Adisti Putri Utami, Op.Cit, hlm 18
Pelaporan SPT Tahunan PPh wajib pajak orang pribadi secara e-filling adalah suatu cara penyampaian SPT Tahunan secara elektronik yang dilakukan secara online dan realtime melalui ASP. Peraturan perpajakan pada awal Januari 2014, telah mewajibkan wajib pajak orang pribadi untuk melaporkan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi secara online dengan menggunakan aplikasi e-filling seperti yang tercantum pada Per-1/PJ/2014 tentang tata cara penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan bagi Wajib Pajak Orang Pribadi yang menggunakan formulir 1770 S dan 1770 SS secara e-filling, e-filling merupakan salah satu bentuk reformasi administrasi perpajakan. Reformasi administrasi perpajakan adalah penyempurnaan atau perbaikan kinerja administrasi baik secara individu, kelompok maupun kelembagaan agar lebih efisien, ekonomis dan cepat.72
Accurate is careful, exact, and free from error and accurancy means exactness or correctness. Keakuratan juga mengandung arti mempunyai ciri atau sifat yang teliti, seksama, cermat, dan tepat benar. Keakuratan dalam penggunaan fasilitas e-filling dapat dilihat dari tiga aspek, aspek pertama adalah aspek kebenaran, dalam aspek ini yang dilihat adalah kebenaran dari data-data yang disampaikan oleh wajib pajak dalam mengisi permohonan pendaftaran e-filling dan pengisian SPT yang sudah disediakan oleh sistem informasi DJP. Aspek kedua adalah aspek kejelasan, dalam aspek ini segala data-data yang di sampaikan wajib pajak baik dalam permohonan pendaftaran e-filling dan pengisian SPT harus nyata dan tidak mengandung ambiguitas bagi aparat pajak. Aspek ketiga adalah aspek kelengkapan, dalam aspek ini segala data-data yang disampaikan
72 L. Triwigati, Pengaruh Penerapan Modernisasi Sistem Administrasi Perpajakan Terhadap Tingkat Kepatuhan. Wajib Pajak (Studi Kasus atas Wajib Pajak Orang Pribadi pada KPP Pratama Malang Utara). Jurnal Ilmiah Universitas Brawijaya, No. 2, Vol. 1 , 2013, hlm 23
wajib pajak harus lengkap sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan dalam peraturan perpajakan atau dalam hal ini Peraturan DJP, Keputusan DJP maupun Surat Edaran DJP PER 47/PJ/2008, Pasal 5 dan Pasal 7.73
Proses penyampaian SPT e-filling akan melalui beberapa tahap yaitu, wajib pajak secara tertulis mengajukan permohonan untuk mendapatkan e-fin yang diterbitkan oleh KPP tempat wajib pajak terdaftar apabila dalam pengajuan permohonan tidak memenuhi syarat-syarat yang ditentukan maka permohonan tersebut akan ditolak kepala KPP tempat wajib pajak terdaftar. Wajib pajak yang sudah mendapatkan e-fin dapat mendaftar melalui ASP yang resmi ditunjuk oleh DJP guna mendapatkan User ID dan Password, Aplikasi e-SPT, serta sertifikat (Digital Certificate), pada bagian ini wajib pajak harus menyetujui Agreement atau persetujuan berlangganan e-filling dan syarat-syarat yang diajukan oleh Aplication Service Provider apabila wajib pajak tidak setuju (decline) dengan persyaratan dan persetujuan ini, maka serfikat (digital certificate) atas nama wajib pajak tidak akan diberikan. 74
Penyampaian e-SPT secara e-filling, dalam tahap ini apabila ada kesalahan maupun kekurangan dari e-SPT yang dikirimkan, sistem Data Base di DJP akan mengirimkan pemberitahuan kepada wajib pajak secara elektronik bahwa e-SPT terdapat kesalahan atau tidak lengkap dan tidak akan diteruskan dalam proses e-filling. Apabila data-data tersebut telah dianggap memenuhi syarat maka akan
73A.S. Hornby. Oxford Leaner’s Dictionary of Current English. Oxford University Press, 1994, hlm 7
74 Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 47/PJ/2008 Tentang Tata Cara Penyampaian Surat Pemberitahuan dan Penyampaian Pemberitahuan Perpanjangan Surat Pemberitahuan Tahunan Secara Elektronik (e-Filling) Melalui Perusahaan Penyedia Jasa Aplikasi (ASP), Pasal 5 dan 6
diteruskan ke proses berikutnya dalam e-filling. Apabila data tersebut telah melewati pemeriksaan, maka data tersebut telah akurat dan dapat dipertanggung jawabkan.75
Proses penyampaian data SPT yang terkirim melalui jaringan internet dari Wajib Pajak mengalami proses acak, makahanya sistem informasi DJP yang dapat menerjemahkan data acak tersebut. Verifikasi juga dilakukan untuk memastikan bahwa data yang sudah diterima oleh DJP tidak mengalami perubahan dari data asli yang dikirim oleh wajib pajak sehingga data itu sifatnya tidak terbantahkan dan autentik. Hal ini dikarenakan adanya Digital Certificate yang berfungsi sebagai pengaman data wajib pajak dalam setiap proses e-filling.
Digital Certificate adalah informasi mengenai identitas pemilik yang ditandatangani secara digital oleh sebuah badan Independen atau dalam hal ini DJP yang menjamin bahwa pemilik sertifikat layak untuk ikut dalam transaksi (penyampaian SPT) tersebut.76
Dalam pengisian lembar SPT melalui e-filling, data-datanya harus di input secara benar, jelas dan lengkap. Kesalahan input data dapat dengan mudah direvisi pada saat pengisian data pada aplikasi SPT,tanpa harus menghapus atau mengganti kertas lembar SPT. Hal ini dikarenakan perbedaan cara pengisian dan proses upload data antara SPT konvensional (dalam bentuk kertas) dengan SPT digital. e-filling perpajakan telah disinkronkan dengan sistem administrasi perpajakan DJP sehingga upload data ke dalam server DJP dapat dilakukan secara otomatis. e-filling juga lebih mudah dan akurat dikarenakan software atau aplikasi
75 Ibid
76 Budi Agus Riswandi, Aspek Hukum Internet Banking, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2005), hlm 52
dibuat untuk mempermudah penghitungan dan akurasi karena penjumlahan dilakukan secara otomatis melalui sistem.77
e-filling lebih maju dan lebih akurat daripada pelaporan SPT secara konvensional, disebabkan kesalahan input data dapat dengan mudah direvisi pada saat pengisian data pada aplikasi SPT, tanpa harus menghapus atau mengganti kertas lembar SPT. Software atau aplikasi juga dibuat sedemikian rupa untuk mempermudah penghitungan dan akurasi karena penjumlahan dilakukan secara otomatis melalui sistem serta sistem e-filling telah disinkronkan dengan sistem Master File perpajakkan DJP sehingga upload data ke dalam data base DJP dapat dilakukan secara otomatis. Tahap awal penerapan sistem e-filling, DJP gagal membuktikan kesiapan dan kemampuannya dalam menyediakan fasilitas e-Filling ini.78
Realisasi penyampaian SPT Pajak masih jauh dari target. Berdasarkan data DJP Kementerian Keuangan, kepatuhan wajib pajak berdasarkan SPT mencapai 67,2 persen. Pelaporan SPT Tahunan 2019 yang optimal terhadap para wajib pajak tersebut tidak mungkin dapat ditingkatkan, sehingga diharapkan dengan adanya e-filling, sistem pelaporan SPT menjadi mudah dan cepat, dan diharapkan juga seiring dengan hal itu jumlah wajib pajak dapat meningkat.
e-filling ini dalam tiga tahun ke depan diharapkan terjadi peningkatan jumlah wajib pajak menjadi sepuluh juta dan pada akhirnya hal ini akan berpengaruh kepada jumlah pemasukan negara dari penerimaan pajak.79
77 Ibid
78 Ibid
79 https://tirto.id/pelaporan-spt-tahunan-2019-baru-672-masih-jauh-dari-target-efxq/
diakses tanggal 11 Januari 2019
Kebenaran mengandung arti sesuai sebagaimana adanya (seharusnya), betul, tidak salah, dapat dipercaya, sah. Kebenaran-kebenaran pelaporan SPT dalam sistem Administrasi perpajakan di Indonesia dapat dilihat dari itikad baik dari wajib pajak sebagai pihak yang mempunyai kewajiban untuk melaporkan pajaknya. Terbentuknya budaya kepercayaan ini dikarenakan sistem pemungutan pajak di Indonesia menggunakan Self Assessment System. SPT dianggap benar selama memenuhi semua syarat legalitas dan formalitas yang telah ditentukan dalam peraturan perundang-undangan perpajakkan.
Syarat legal yang mengedepankan keabsahan dan ontektisitas data-data yang disampaikan oleh wajib pajak. Hal ini dapat terlihat dari kewajiban wajib pajak dalam menandatangani SPT dan apabila SPT tersebut diisi dan ditandatangani oleh orang lain selain wajib pajak, maka SPT tersebut harus dilampiri surat kuasa khusus. Untuk wajib pajak badan, SPT harus ditandatangani oleh pengurus atau direksi. Syarat formal berbicara mengenai kelengkapan dari data-data yang disampaikan oelh wajib pajak, kelengkapan data-data di sini diartikan sebagai kelengkapan yang berkaitan dengan objek pajak baik itu berupa surat setoran pajak dan data-data lain yang berhubungan dengan SPT yang ditentukan dalam peraturan perundang- undangan perpajakkan.80
Kebenaran pelaporan SPT dalam sistem administrasi perpajakkan di Indonesia dapat dilihat melalui benar tidaknya wajib pajak dalam proses pengisian SPT. SPT dalam bentuk kertas atau bentuk elektronik diisi dan dilaporkan dengan benar, lengkap, dan jelas sesuai dengan petunjuk pengisian yang diberikan
80 Muqodim, Op.Cit, hlm : 24-25
berdasarkan ketentuan peraturan perundang- undangan perpajakkan. Sementara itu, yang dimaksud dengan benar, lengkap, dan jelas dalam mengisi SPT adalah benar dalam perhitungan, termasuk benar dalam penerapan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakkan, dalam penulisan, dan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya; lengkap adalah memuat semua unsur-unsur yang berkaitan dengan objek pajak dan unsure-unsur lain yang harus dilaporkan dalam surat pemberitahuan; dam jelas adalah melaporkan asal-usul atau sumber dari objek pajak dan unsur-unsur lain yang harus dilaporkan dalam surat pemberitahuan.81
Dalam sistem e-Filling ini data pajak yang dimasukan benar-benar data yang bersumber dari wajib pajak sendiri tanpa campur tangan dari pihak petugas pajak sehingga kebenaran dalam perhitungannya, termasuk benar dalam penerapan ketentuan peraturan perundang-undangannya, dan penulisannya tergantung pada wajib pajak sendiri. Terkait dengan kebenaran pelaporan SPT tersebut, dalam sistem e-Filling perhitungan perpajakan dalam SPT dilakukan secara otomatis sesuai peraturan yang berlaku. Hal ini dikarenakan Software atau aplikasi dibuat untuk mudah digunakan dan akurat karena penjumlahahan dilakukan secara otomatis melalui sistem. Meskipun begitu dalam pelaksanaanya masih sering terjadi kesalahan pengisian dan perhitungan serta penerapan ketentuan peraturan perundang-undangan oleh wajib pajak. Hal ini terjadi karena
81 Ibid
kurangnya sosialisasi ketentuan dan kebijakan yang dilakukan petugas pajak kepada wajib pajak. 82
Akibat, fungsi lain yang tidak kalah penting seperti penyuluhan, administrasi, pemrosesan data, perencanaan pegawai dan penyusunan konsep aturan mengalami banyak kekurangan baik dari sisi jumlah maupun kapasitas sumber daya manusianya.83
Wajib pajak yang menggunakan sistem e-filling ini mendapatkan perlindungan hukum. DJP dapat memberikan jaminan kepada wajib pajak atas keamanan, kerahasiaan dan keasliannya. Tanda tangan digital yang dibubuhkan dalam e-SPT merupakan proses penyisipan status subjek hukum pada informasi, bahwa pengirim informasi adalah subjek hukum yang benar. Dasar hukum mengenai e-filling ini antara lain:
a. Peraturan DJP No. PER-26/PJ/2012 tentang Tata Cara Penerimaan dan Pengolahan Surat Pemberitahuan Tahunan;
b. Peraturan DJP No. PER-1/PJ/2014 tentang Tata Cara Penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan bagi Wajib Pajak Orang Pribadi yang menggunakan formulir 1770 S atau 1770 SS secara e-filling melalui website direktorat jenderal pajak.
Ketentuan Pelaporan e-SPT;
1) Penyampaian e-SPT dapat dilakukanselama 24 (dua puluh empat) jam sehari dan 7 (tujuh) hari seminggu dengan standar Waktu Indonesia Bagian Barat (WIB).
82 https://www.cermati.com/artikel/melaporkan-spt-tahunan-dengan-e-filling-pajak-dan-tahapan-pengisiannya/diakses tanggal 11 Januari 2019.
83 Ibid
2) Surat Pemberitahuan yang disampaikan secara elektronik pada akhir batas waktu penyampaian SPT yang jatuh pada hari libur, dianggap disampaikan tepat waktu.
3) Wajib Pajak mencetak dan menandatangani induk SPT yang telah diterima oleh DJP.
4) Wajib Pajak wajib menyampaikan dokumen lainnya yang wajib dilampirkan ke KPP tempat wajib pajak terdaftar secara langsung atau melalui pos secara tercatat, paling lama :
a) 14 (empat belas) hari sejak batas terakhir pelaporan SPT dalam hal SPT disampaikan sebelumbatas akhir penyampaian
b) 14 (empat belas) hari sejak tanggal penyampaian e-SPT dalam hal SPT disampaikan setelahlewat batas akhirpenyampaian Meskipun wajib pajak sudah menyampaikan SPT nya melalui file yang dikirim ke DJP sudah digitalisasi, tetapi hukum yang berlaku masih belum memperbolehkan”digital signature” atau tanda tangan digital diperbolehkan secara hukum, yang masih diakui keabsahannya adalah tanda tangan asli.
5) Dalam hal wajib pajak tidak menyampaikan dokumen lainnya yang dipersyaratkan, wajib pajak dianggap tidak menyampaikan SPT.
6) Surat Pemberitahuan dianggap telah diterima dan tanggal Penerimaan Surat Pemberitahuan sesuai dengan tanggal yang tercantum pada Bukti Penerimaan secara elektronik
7) Bukti Penerimaan secara elektronik berisi informasi yang meliputi NPWP, yang berisikan tanggal, jam, Nomor Transaksi Penyampaian Surat Pemberitahuan (NTPS) dan Nomor Transaksi Pengiriman ASP (NTPA) serta nama perusahaan ASP.84
F. Sistem Aplikasi E-Filling Dalam Pelayanan Perpajakan Terhadap