BAB 2 : TINJAUAN UMUM PERBANKAN SYARIAH
2.2 Prinsip-Prinsip Perbankan Syariah
2.2.1 Pelarangan Riba
Perbankan syariah memberikan layanan bebas bunga kepada para nasabahnya. Pembayaran dan penarikan bunga dilarang dalam semua bentuk kegiatan usahanya. Islam melarang kaum muslimin menarik atau membayar bunga atau riba. Pelarangan inilah yang membedakan sistem perbankan Islam dengan perbankan konvensional. Bank Syariah beroperasi tidak berdasarkan bunga, sebagaimana yang lazim dilakukan oleh bank konvensional, karena bunga mengandung unsur riba yang jelas-jelas dilarang dalam Al-Qur’an. 77
Menurut Ensiklopedi Islam Indonesia yang disusun oleh Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah:
Ar-Riba atau Ar-Rima makna asalnya ialah tambah, tumbuh, dan subur.
Adapun pengertian tumbuh dalam konteks riba ialah tambahan uang atas modal yang diperoleh dengan cara yang tidak dibenarkan syara’, apakah
77 Yumanita, op. cit., hlm. 5.
Universitas Indonesia
tambahan itu berjumlah sedikit maupun berjumlah banyak, seperti yang diisyaratkan dalam Al-Qur’an. (Syarif Hidayatullah, 2002)
Riba secara bahasa bermakna ziyadah yang bearti tambahan. Dalam pengertian lain, secara linguistik, riba juga bearti tumbuh dan membesar.
Adapun menurut istilah teknis, riba bearti pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara batil. Beberapa pendapat yang menjelaskan arti riba, namun secara umum terdapat benang merah yang menegaskan bahwa riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam meminjam secara batil atau bertentangan dengan prinsip muamalah dalam Islam.78
Mengenai hal ini, Allah SWT mengingatkan dalam firman-Nya dalam Al- Qur’an Surat An-Nisaa’: 29: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil...”79
Dalam kaitannya dengan pengertian al-bathil, dikatakan bathil karena pemilik dana mewajibkan peminjam untuk membayar lebih dari yang dipinjam tanpa memperhatikan apakah peminjam mendapat keuntungan atau mengalami kerugian.80
Riba dilarang dalam Islam secara bertahap, sejalan dengan kesiapan masyarakat pada masa itu. Larangan riba yang terdapat dalam Al-Qur’an tidak diturunkan sekaligus, melainkan diturunkan dalam empat tahap, yaitu tahap pertama disebutkan bahwa riba akan menjauhkan kekayaan dari keberkahan Allah, sedangkan sedekah akan meningkatkan keberkahan berlipat ganda.81 Hal ini Allah SWT berfirman dalam Qur’an Surat Ar-Rum :39,
Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai
78 Antonio, op. cit., hlm. 37.
79 Nazry Adlany, Hanafie Tamam dan Faruq Nasution, Al-Quran Terjemahan Indonesia, cet.
18, (Jakarta: PT. Sari agung, 2004), hlm. 150.
80 Ibid.
81 Yumanita, loc. cit.
Universitas Indonesia
keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya).82
Ayat ini diturunkan di Mekkah. Pada saat itu Mekkah merupakan kota perdagangan yang maju. Para pedagang tidak saja secara aktif dalam melakukan jual-beli barang, ekspor-impor, dan ekspedisi (caravan) melainkan juga terlibat dalam pinjam-meminjam dan spekulasi. Para pedagang melakukan hal ini karena tidak ingin uang mereka menganggur tanpa menghasilkan sambil menunggu keberangkatan atau kedatangan rombongan ekspedisi yang mengangkut barang mereka. Kondisi inilah yang merupakan asbab an-nuzul (sebab-sebab turunnya) ayat ke-39 surat ar-Rum.83
Tahap kedua, kilas balik tentang dilaranganya riba bagi kaum sebelum Islam serta ancaman bagi mereka yang tetap melakukannya. Pada awal periode Madinah, riba dipersamakan dengan mereka yang mengambil kekayaan orang lain secara tidak benar, dan mengancam kedua belah pihak dengan siksa Allah yang amat pedih. 84Allah SWT berfirman dalam Surat an-Nisa: 160-161:
Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.85
Tahap ketiga, pelarangan riba dengan dikaitkan pada suatu tambahan yang
“berlipat ganda.”86
82 Nazry Adlany, Hanafie Tamam dan Faruq Nasution, op. cit., hlm. 800.
83 Institut Bankir Indonesia, op. cit., hlm.47.
84 Ibid., hlm. 48.
85 Nazry Adlany, Hanafie Tamam dan Faruq Nasution, op. cit., hlm. 186.
86 Ibid.
Universitas Indonesia
Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 130 : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda, dan bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat kemenangan.”87
Ayat ini turun setelah perang Uhud yaitu tahun ke-3 Hijriah di Madinah.
Sifat riba yang berlaku umum pada waktu itu adalah “berlipat-ganda” yang konteksnya adalah pada peminjaman hewan ternak.88
Tahap terakhir, Allah dengan tegas dan jelas mengharamkan apapun jenis tambahan yang diambil dari pinjaman, menegaskan perbedaan yang jelas antara perniagaan (al-Ba’i) dengan bunga (ar-Riba), dan menuntut kaum muslimin agar menghapuskan seluruh utang-piutang yang mengandung riba, menyerukan mereka agar mengambil pokok hutangnya saja, dan mengikhlaskan kepada peminjam yang mengalami kesulitan. 89
Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat al-Baqarah : 278-279
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa-sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu mengerjakan (meninggalkan sisa-sisa riba), maka ketahuilah bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (tidak memperbuat riba lagi), maka bagimu pokok hartamu (modal); kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.90
Selain tertulis dalam Al-Qur’an, larangan riba juga dikemukakan dalam berbagai hadist Rasullah Saw yang berisi baik berupa penjelasan mengenai aktivitas riba itu sendiri, larangan untuk melakukannya maupun perintah meninggalkannya. Dalam beberapa hadist, Rasullah Saw mengutuk semua yang terlibat dalam riba, termasuk yang mengambil, memberi, dan mencatatnya. Rasullah Saw menyamakan dosa riba sama dengan dosa zina 36
87 Nazry Adlany, Hanafie Tamam dan Faruq Nasution, op.cit., hlm. 121.
88 Ibid.
89 Yumanita, op. cit., hlm. 6.
90 Nazry Adlany, Hanafie Tamam dan Faruq Nasution, op. cit., hlm. 85.
Grafindo Persada, 2007), hlm. 43.
94 Nazry Adlany, Hanafie Tamam dan Faruq Nasution, op. cit., hlm. 220.
Universitas Indonesia
(tiga puluh enam) kali lipat atau setara dengan orang yang menzinahi ibunya sendiri.91