F. NSPK Pelatihan Kanker Payudara dan Kanker Leher
1.2. Pelatihan Provider Deteksi Dini Kanker Payudara dan
Pelatih pelatihan provider merupakan tim yang telah mengikuti TOT.
Peserta pelatihan provider terdiri dari dokter umum dan bidan. Pelatihan provider dilaksanakan 5 (lima) hari, dengan tahapan sebagai berikut :
Sebelum memulai pelatihan, peserta mengikuti BLC(Building
melakukan
c. Melakukan supervisi teknis dan dokter umum
d. Melakukan rujukan kepada
menerima rujukan dari
bedah onkolog pada kasus-kasus yang
Kabupaten/Kota
Learning Comimitmen) untuk membangun komitmen belajar yang efektif.
Materi teori di disampaikan dalam 1 hari di kelas, tentang :
menggunakan pre test, penilaian image/citra tengah pelatihan gambar IVA, ketrampilan pemeriksaan payudara IVA krioterapi sesuai cek lis, serta post test pada model maupun klien - - - - - - - - - -
Kebijakan Kemenkes/Program pengendalian Kanker HPV, patofisiologi Kanker Leher Rahim
Konseling tentang kanker payudara dan leher rahim Deteksi dini kanker payudara
Deteksi dini kanker leher rahim Pencegahan infeksi
Pengobatan dan tindak lanjut Kanker lain pada perempuan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Rencana tindak lanjut
Kompetensi provider : 1. Dokter umum mampu:
a. Mengajarkan SADARI (perikSA payuDAra sendiRI) kepada klien dan melakukan penapisan
payudara dengan tehnik CBE (Clinical Examination)
Melakukan penapisan kanker leher rahim metode IVA
kanker
Breast
b. dengan
Praktek di kelas selama 1 hari meliputi :
c. Melakukan penatalaksanaan lesi pra-kanker leher rahim dengan Krioterapi
Melakukan rujukan kepada obgin umum dan bedah umum pada kasus-kasus yang tidak dapat ditangani di tingkat Puskesmas
- -
ketrampilan konseling,
deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim pada model panthom payudara dan panggul/pelvis
d. - berlatih menginterprestasikan pemeriksaan IVA
menggunakan flash card, atlas IVA interaktive
krioterapi pada model sesuai langkah-langkah penuntun belajar/ceklist.
- 2. Bidan mampu :
a. Mengajarkan SADARI (perikSA payuDAra sendiRI) Praktik di klinik dengan memberikan pelayanan deteksi dini
selama 3 (tiga) hari. Setiap peserta memeriksa CBE dan IVA terhadap minimal 6 klien dan dokter melakukan krioterapi. Kemajuan penguasaan pengetahuan dan keterampilan, diukur
kepada klien dan melakukan penapisan payudara dengan tehnik CBE (Clinical Examination)
kanker
Breast
b. Melakukan penapisan kanker metode IVA
leher rahim dengan - Telah melakukan pemeriksaan CBE dan IVA
terhadap minimal 50 klien, dan menemukan 3 IVA positif dengan benar (melalui konfirmasi oleh supervisor)
melakukan krioterapi terhadap 3 klien IVA positif, dengan pendampingan supervisor c. Melakukan rujukan apabila ditemukan IVA (+) dan atau
benjolan pada payudara
- SERTIKASI :
1. certicate of attendence / sertifikat kehadiran Bidan (kompetensi sebatas IVA)
Sertifikat of attendence dikeluarkan peserta :
dengan persyaratan - Telah melakukan pemeriksaan CBE dan IVA
terhadap minimal 50 klien, dan menemukan 3 IVA positif dengan benar (melalui konfirmasi oleh supervisor)
diujikan disesuaikan dengan kompetensi atau a.
b. c.
Telah mengikuti TOT (7 hari)
Telah mengikuti pelatihan provider (5 hari)
Mengikuti workshop (< 5 hari) kemudian dilanjutkan Materi yang
dengan melakukan pemeriksaan CBE dan IVA terhadap minimal 50 klien (diisikan pada logbook)
Serticate of attendence dikeluarkan oleh penyelenggara pelatihan (pusat/dinkesprov/dinkeskabkota) dengan diketahui lembaga akreditasi (PPSDM, Bapelkes).
standard profesi yang dibutuhkan provider. Proses penentuan standar kelulusan dilakukan dengan melibatkan komponen yang mewakili
setempat dan dimaksudkan
pemegang kebijakan yaitu dinas kesehatan supervisor klinis (profesi terkait). Hal ini agar dapat terjaga akurasinya serta menghindari penyalahgunaan.
2. Sertifikat kompetensi
Setelah memperoleh certicate of attendence, provider melakukan pemeriksaan yang diisikan pada logbook untuk dinilai oleh supervisor. Sertifikat kompetensi diberikan kepada provider yang telah dinyatakan kompeten, apabila :
Dokter (kompetensi IVA dan krioterapi)
G. PENGOBATAN
Pengobatan kanker dilkukan secara individual tergantung jenis, lokasi, stadium. Digunakan sebagai pengobatan tunggal (hanya operasi saja, kemoterapi saja, radiasi saja) atau kombinasi dari 2 atau lebih jenis pengobatan. Bertujuan untuk memusnahkan kanker
atau membatasi perkembangan penyakit serta menghilangkan gejala- gejalanya.
Adriamicin (Doxorubicin dan Epirubicin) Cytoxan Methotrexate 5-Fluorouracil Paclitaxel Docetaxe Cisplatin Carboplatin Paclitaxel Fluorouracil (5FU) Cyclophosphamide Docetaxel Ifosfamide Gemzitabin a. Pembedahan
Untuk meningkatkan harapan hidup, pembedahan biasanya diikuti dengan
kemoterapi. Radiasi
terapi tambahan seperti radiasi, hormon atau
b.
Merupakan jenis terapi menggunakan radiasi tingkat tinggi untuk merusak sel-sel kanker sehingga proses multiplikasi sel-sel kanker akan terhambat. Berperan sebagai pengobatan secara radikal, sebagai terapi paliatif yaitu untuk mengurangi dan menghilangkan rasa sakit atau tidak nyaman akibat kanker, dan sebagai adjuvant yakni bertujuan untuk mengurangi risiko kekambuhan dari kanker. Seiring dengan perkembangan teknologi, terapi radiasi lebih tertarget dan lebih efektif. Terdapat 2 jenis terapi penyinaran yaitu penyinaran external dan penyinaran internal (brachytherapy).
Kemoterapi
Merupakan suatu metode pengobatan yang bertujuan untuk membunuh sel kanker. Obat ini menyasar sel kanker dengan cara merusak dan menghambat factor-faktor pertumbuhan sel. Obat kemoterapi biasanya diberikan secara sistemik melalui intravena (IV) atau per oral, dapat digunakan secara tunggal atau dikombinasikan.
Obat kemoterapi yang sering digunakan antara lain :
H. MENYUSUN RENCANA KEGIATAN
I. PROPINSI
c. SEBELUM PELATIHAN
1. Pertemuan persiapan di propinsi
Pertemuan persiapan dilaksanakan di provinsi, dengan melibatkan lintas program dan lintas sektor (Yayasan kanker,P2KS,Organisasi perempuan,dll).
Pada pertemuan tersebut membahas tentang :
- Sosialisasi tentang kegiatan penyakit kanker, khususnya kanker leher rahim dan payudara
- Gambaran umum penyakit kanker di wilayah tersebut, isu tentang kanker, khususnya kanker payudara dan kanker leher rahim
Waktu pelaksanaan : 5 hari (2 hr teori dan praktek di kelas, 3 hr praktek penapisan di Puskesmas/RS)
Sasaran : 20 orang, terdiri dari: dokter umum, bidan puskesmas, bidan RS
- Menggali kegiatan apa saja yang sudah ada pengendalian faktor risiko kanker
terkait
Materi dan jadwal sesuai standar Kemenkes. Pelatih : tim pelatih provinsi dan pusat, Dari pelatihan diharapkan peserta mampu : - Menggali organisasi
pengendalian kanker
apa saja yang bermitra dalam
2. Assesment/penilaian: Melatih SADARI (periksa payudara sendiri)
kepada klien dan melakukan CBE (Clinical Breast Examination) yaitu pemeriksaan klinis payudara oleh petugas terlatih untuk kanker payudara, bila menemukan benjolan langsung - Sarana, prasarana, dan ketersediaan SDM provinsi
(Dokter Onkolog Provinsi, Obgin Provinsi, Onkologi, Bedah)
Bedah
- Data jumlah penderita kanker leher rahim di provinsi tersebut
payudara dan kanker
dirujuk ke dokter bedah; serta dapat
3. Pertemuan tim terlatih (Trainer) mempengaruhi sikap positif klien terhadap
- Pesertanya adalah tim pelatih provinsi, dinas manfaat dari skrining/penapisan dengan
kesehatan provinsi dan dinas kesehatan kabupaten menggunakan metode IVA untuk kanker leher
rahim dan bila positif diberi pengobatan dengan krioterapi,
Bidan dapat melakukan skrining CBE dan IVA, sedangkan dokter dapat melakukan CBE, IVA, dan Cryterapi
- Melalui pertemuan tim pelatih ini diharapkan memperoleh informasi tentang hasil kegiatan penapisan deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim, rujukan, masalah dan kendala yang
dihadapi, serta berikutnya
rencana pelaksanaan pelatihan
Memberikan keterampilan konseling saat - Rencana pelaksanaan pelatihan provider deteksi dini
Tempat : dapat dilaksanakan di provinsi maupun di kabupaten
pemeriksaan kanker leher rahim
payudara dan kanker - Menggali kegiatan terkait pengendalian faktor risiko penyakit tidak menular
Menggali Organisasi apa saja yang telah bermitra dalam kegiatan penanggulangan kanker
Sosialisasi tentang kanker secara umum, khususnya kanker leher rahim dan payudara
Di dalam kelas: belajar teori, praktek gambar, deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim menggunakan panthom, sedangkan
-
-
praktek dilaksanakan di puskesmas penapisan dengan kepada memberikan klien. pelayanan 2. Assesmen/penilaian
- Sarana (Meja gyn, spekulum, lampu sorot, kapas lidi, dll) dan prasarana, ketersediaan SDM (dr.Obgin dan dr.Bedah di Kabupaten) sebagai rujukan kasus dari puskesmas.
Diperolehnya informasi tentang data jumlah kasus kanker payudara dan kanker leher rahim
Pada akhir pelatihan, peserta membuat rencana kegiatan sebagai tindak lanjut
-
pelatihan, jadwal rujukan dengan dr.obgin dan dr.bedah.
3. Pertemuan Tim pelatih Provinsi, Dinas Kesehatan Provinsi, dan dinkes Kabupaten, pimpinan puskesmas yang akan dipilih SETELAH PELATIHAN
menjadi tempat pelatihan sebagai persiapan pelatihan deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim :
- Mendapat data laporan skrining yang telah dilaksanakan, baik dari Puskesmas, rujukan
Kabupaten, dan rujukan ke RS.Provinsi.
ke RS
- - -
Menunjuk puskesmas tempat praktek lapangan Pembagian tugas pada saat pelatihan
Menentukan sasaran/klien yang diperiksa untuk praktek lapangan
Inventarisasi kebutuhan peralatan dan bahan
II. KABUPATEN/KOTA
SEBELUM PELATIHAN
1. Rapat koordinasi yang dilakukan di kabupaten -
- Gambaran umum penyakit kanker di wilayah tersebut, isu 4. Pelatihan Kader
Pelatihan kader oleh petugas puskesmas yang sudah dilatih, hasil kegiatan yang diharapkan adalah :
tentang kanker, khususnya kanker payudara dan kanker leher rahim
- Meningkatnya pengetahuan kader dan kanker leher rahim
tentang kanker payudara Dr. SpOG Kabupaten juga mempresentasikan hasil bintek yang
telah dilaksanakan maupun hasil rujukan dari puskesmas. Pengumpulan dan pengolahan data hasil deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim. Harus disepakati tanggal laporan kegiatan dari puskesmas ke dinkeskab secara rutin. Bintek oleh Petugas Kabupaten dan Rumah Sakit. Bimbingan teknis dilakukan oleh dr. Obsgin kabupaten dan petugas dinkes kabupaten terhadap puskesmas dalam hal :
- Meningkatnya pengetahuan kader tentang metode penapisan kanker leher rahim dan payudara
- Meningkatnya keterampilan kader untuk melakukan dan mengajarkan cara melakukan SADARI.
- Terbentuknya komitmen kader untuk mengajak masyarakat agar bersedia melakukan penapisan.
-
-
1. Mengevaluasi rujukan
pelaksanaan penapisan dan SETELAH PELATIHAN
2. 3.
Cakupan sasaran yang telah dicapai Pelaksanaan laporan
- Mendapat data laporan skrining yang telah dilaksanakan, baik dari Puskesmas, rujukan ke RS.Kabupaten
Melaksanakan pertemuan evaluasi, masing-masing puskesmas mempresentasikan hasil seluruh rangkaian kegiatan seperti sosialisasi, pelatihan kader, penyuluhan, hasil kegiatan deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim dan yang telah dilakukan; meliputi jumlah klien yang telah diperiksa, jumlah yang ditemukan curiga kanker leher rahim, IVA (+), yang dirujuk untuk konfirmasi IVA (+) dengan kolposkopi, yang dirujuk untuk penanganan selanjutnya, jumlah klien dengan benjolan payudara, dan jumlah klien yang dilakukan krioterapi. Di samping itu, juga disampaikan hambatan dan kendala yang ditemukan selama pelaksanaan skrining dan rujukan.
-
III. PUSKESMAS
a. Rapat koordinasi di puskesmas
Rapat koordinasi di puskesmas dilaksanakan sebagai persiapan kegiatan program deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim. Melibatkan lintas program dan lintas sektor antara lain camat, Ketua PKK, Pimpinan puskesmas, Pimpinan KBPM, Kepala Desa, pembina desa, Kapolsek, Danramil, kader kesehatan, bidan, lintas sektor dan lintas program lainnya.
Sasaran penyuluhan adalah PKK, kader, dan lintas
sektor lainnya. Melalui penyuluhan diharapkan 5.1 Pencatatan dan Pelaporan
Deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim merupakan salah satu kegiatan dalam pengendalian kanker payudara dan kanker leher rahim. Agar data dapat dianalisa, petugas harus mencatat secara lengkap informasi dan hasilnya pada formulir yang telah ditetapkan. Kejujuran mutlak diperlukan supaya data yang didapatkan benar-benar valid.
Kegiatan deteksi dini tersebut dicatat dan dilaporkan secara rutin dan berjenjang, mulai dari pelayanan kesehatan dasar (Puskesmas), pelayanan kesehatan rujukan (rumah sakit), dinas kesehatan kabupaten/kota, dinas kesehatan provinsi, dan Kementerian Kesehatan. Adapun tahapannya sebagai berikut : pengetahuan masyarakat tentang pentingnya deteksi
dini kanker payudara dan kanker leher rahim diharapkan meningkat; masyarakat sadar
memeriksaan diri CBE dan IVA Pengumpulan data puskesmas
dan tergerak untuk
c.
Mengumpulkan data jumlah penduduk, PUS, WUS, sasaran IVA (WUS usia 30-50 thn), dan jumlah kader kesehatan di wilayah kerja puskesmas.
Pelayanan petugas di dalam dan luar gedung d.
Dilakukan oleh petugas puskesmas yang telah dilatih dengan mengadakan penapisan kanker payudara dan kanker leher rahim disertai promosi kepada masyarakat. Dilaksanakan antara lain di pustu, polindes dan balai desa. Harap diperhatikan sarana air bersih yang cukup agar sterilitas alat dan jaminan proteksi petugas terjamin.
1. Puskesmas
a. Petugas Puskesmas melakukan anamnese terhadap klien, kemudian mencatat data dan informasi klien secara lengkap ke dalam formulir Catatan Medis (Form B). Identitas pasien dan faktor risiko diisi oleh petugas pendaftaran, sedangkan pemeriksaan dan hasil deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim diisi oleh petugas medis (provider). Persetujuan tindakan medis (informed concent) harus disampaikan pada klien, apabila Catatan :
Untuk serangkaian kegiatan deteksi dini kanker leher rahim dan payudara, perlu perencanaan anggaran bersumber dari APBD terkait kegiatan tersebut.
dilakukan tindakan pengobatan, selanjutnya klien menandatanganinya persetujuan tersebut.
b. Hasil deteksi dini diinformasikan kepada klien 2. Rumah Sakit menggunakan Kartu Deteksi Dini (Form C) yang diisi oleh
provider. Kartu tersebut disimpan oleh pasien dan dibawa pada waktu kontrol atau kunjungan ulang
Hasil pemeriksaan IVA yang tidak tampak SSK nya, harus dilakukan pemeriksaan Papsmear. Klien harus dirujuk untuk pemeriksaan Papsmear ke RS kabupaten/kota (RS rujukan) menggunakan formulir/pengantar rujukan yang sudah ada di Puskesmas.
Klien yang telah diperiksa, dicatat pada Register Deteksi Dini Kanker Payudara dan Kanker Leher Rahim Puskesmas. (Form D). Formulir register tersebut direkap setiap 1 bulan.
Untuk memudahkan tindaklanjut kasus lesi prakanker, apabila ditemukan kasus IVA (+), klien dicatat dalam Formulir Register IVA + (Form E). Formulir register IVA + tersebut direkap setiap 1 bulan.
Puskesmas merekap data dari Form D dan E berdasar kelompok umur, ke dalam formulir Rekapitulasi Deteksi Dini Kanker Payudara dan Kanker Leher Rahim Puskesmas (Form F). Selanjutnya, hasil rekapitulasi dilaporkan secara rutin setiap bulan ke dinas kesehatan kabupaten/kota, maksimal tanggal 10 bulan berikutnya.
Non Rujukan
a. Petugas rumah sakit yang telah dilatih, baik RS pemerintah/swasta, di tingkat provinsi maupun c.
kabupaten/kota, dapat melakukan deteksi dini dengan IVA/Papsmear dan CBE (non rujukan) dengan mengikuti prosedur yang dilaksanakan oleh Puskesmas. Sehingga, petugas RS mengisi formulir B, C, D, dan E.
Hasil deteksi dini kanker leher rahim dilaporkan ke dinas kesehatan kabupaten/kota menggunakan Rekapitulasi Deteksi Dini Kanker Leher Rahim Rumah Sakit Kabupaten/Kota (Form G, pilih Non-Rujukan). Laporan disampaikan setiap bulan sebelum tanggal 10 bulan berikutnya
Hasil deteksi dini kanker payudara dilaporkan ke Dinas Kesehatan kabupaten/kota menggunakan Rekapitulasi a.
d.
e.
b.
Deteksi Dini Kanker Payudara Rumah Sakit f.
Kabupaten/Kota (Form H, pilih Non-Rujukan). Laporan disampaikan setiap bulan sebelum tanggal 10 bulan berikutnya
Rujukan
a. Petugas rumah sakit baik RS pemerintah/swasta, di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, menerima
rujukan baik rujukan leher rahim maupun rujukan b. Dinas kesehatan kabupaten/kota melaporkan hasil rekapitulasi (Form I) kepada Dinas kesehatan provinsi setiap triwulan.
Untuk mengetahui cakupan (coverage) deteksi dini payudara dari Puskemas. Petugas RS melakukan
pemeriksaan lanjutan dan penatalaksanaannya, serta melakukan pencatatan menggunakan catatan medis yang sudah ada di RS.
Hasil rujukan leher rahim dilaporkan ke Dinas Kesehatan kabupaten/kota menggunakan Rekapitulasi Deteksi Dini Kanker Leher Rahim Rumah Sakit Kabupaten/Kota (Form G, pilih Rujukan). Laporan disampaikan setiap bulan sebelum tanggal 10 bulan berikutnya
Hasil rujukan payudara dilaporkan ke Dinas Kesehatan kabupaten/kota menggunakan Rekapitulasi Deteksi Dini Kanker Payudara Rumah Sakit Kabupaten/Kota (Form H, pilih Rujukan). Laporan disampaikan setiap bulan sebelum tanggal 10 bulan berikutnya.
c.
selama setahun, Dinas kesehatan kabupaten/kota
b. melakukan rekapitulasi menggunakan formulir
Rekapitulasi Tahunan Deteksi Dini Kanker Payudara dan Kanker Leher Rahim Kabupaten/Kota (Form J). Selanjutnya, rekapitulasi tersebut dilaporkan ke Dinas Kesehatan Provinsi setiap awal tahun.
Dinas kesehatan kabupaten/kota memberikan umpan
c. d.
balik terhadap laporan bulanan yang diberikan Puskesmas dan RS.
4. Dinas Kesehatan Provinsi
d. RS memberikan umpan balik kepada mengirimkan rujukan.
Puskesmas yang a. Dinas kesehatan provinsi menerima laporan triwulanan
dari Dinas Kesehatan Kabupaten/kota di wilayah kerjanya. Dinas merekap dan menvalidasi laporan triwulanan tersebut menggunakan formulir Rekapitulasi Deteksi Dini Kanker Payudara dan Kanker Leher Rahim Provinsi (Form K).
Dinas kesehatan provinsi melaporkan hasil rekapitulasi (Form K) setiap triwulan kepada Subdit Penyakit Kanker Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PPTM), 3. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
a. Dinas kesehatan kabupaten/kota menerima laporan bulanan dari Puskesmas dan Rumah Sakit. Dinas merekap dan menvalidasi laporan bulanan tersebut mengunakan formulir Rekapitulasi Deteksi Dini Kanker Payudara dan Kanker Leher Rahim Kabupaten/Kota (Form I).
b.
Penyehatan Lingkungan (Ditjen PP dan PL) Kementerian kesehatan RI.
c. Untuk mengetahui cakupan (coverage) deteksi dini selama setahun, Dinas kesehatan provinsi melakukan rekapitulasi menggunakan formulir Rekapitulasi Tahunan Deteksi Dini Kanker Payudara dan Kanker Leher Rahim Provinsi (Form L). Selanjutnya, rekapitulasi tersebut dilaporkan ke Dinas Kesehatan Provinsi setiap awal tahun.
d. Dinas kesehatan provinsi memberikan umpan balik terhadap laporan triwulanan yang diberikan dinas kesehatan kabupaten/kota
Kementerian Kesehatan
c. Kementerian Kesehatan memberikan umpan balik terhadap laporan triwulanan yang
kesehatan provinsi.
diberikan dinas
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada alur pelaporan sebagai berikut:
pencatatan dan
Alur Pencatatan dan Pelaporan
5.
a. Kementerian Kesehatan (Subdit Penyakit Kanker, Direktorat PPTM, Ditjen PP dan PL) menerima laporan triwulanan dari Dinas Kesehatan provinsi. Selanjutnya, data direkap dan divalidasi menggunakan formulir Rekapitulasi Deteksi Dini Kanker Payudara dan Kanker Leher Rahim Nasional (Form M).
Untuk mengetahui cakupan (coverage) deteksi dini selama setahun, Kementerian Kesehatan melakukan rekapitulasi menggunakan formulir Rekapitulasi Tahunan Deteksi Dini Kanker Payudara dan Kanker Leher Rahim Nasional (Form N). b. Keterangan: = Melaporkan = Umpan balik = Merujuk
VI. PENUTUP
Kanker payudara dan kanker leher rahim merupakan kanker terbanyak pada perempuan yang ditemukan di Indonesia dan mempunyai angka kematian yang tinggi.
Kanker leher rahim merupakan kanker yang sudah diketahui patofisiologinya dengan pasti dan tersedianya teknologi untuk memeriksa lesi prakanker serta pengobatannya yang efektif menjadikan kanker leher rahim adalah salah satunya kanker yang dapat dicegah.
Kanker payudara merupakan salah satu kanker yang dapat ditemukan pada stadium dini sehingga dapat diobati dengan efektif.
Keterpaduan dalam penanggulangan adalah kunci keberhasilan program pengendalian kedua kanker melalui KIE kepada masyarakat, penapisan yang diikuti dengan pengobatan yang adekuat. Baik yang dilakukan di puskesmas maupun proses rujukan yang efektif ke rumah sakit tingkat kabupaten/ kota, propinsi serta rumah sakit regional yang menyediakan pengobatan radioterapi dan sebagainya.
Dengan dukungan manajemen oleh tim yang ada di puskesmas, kabupaten/ kota, propinsi dan pusat dalam perencanaan, pelaksanaan, pembinaan, monitoring dan evaluasi diharapkan pelaksanaan kegiatan ini dapat berjalan dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Alliance for Cervical Cancer Prevention (ACCP). Cervical Cancer Preventation Fact Sheet. 2002
Cox TJ. Management of Intraepithelial Neoplasia. Lancet 353 (9156):941-943.1999.
Visual_Screening.Pdf
Http://Www.Path.Org/Files/RH_
Kitchener HC and P Symonds. Detection of Cervical Intraepithelial Neoplasia in Developing Countries. Lancet 353:856-857.1999
Nuranna L. Cervical Cancer Control, Focus on VIA Sceening 2006
National Cancer Institute. Breast Cancer. U.S.National PInstitute of Health.Http://www.cancer.gov/cancertopics/pdg/treatment/br east/Patient.2005
Rubin MM.Cytologic Concerns In Adolescents : Entering The Transformation Zone. ADVANCE for Nurse Practitioners 7 : 53-54, 56. 1999
Purwoto G. Mengenal dan Diagnosis Dini Kanker Kandungan. Jakarta, April 2005
Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), 2001
Sutjipto. Skrining Kanker Payudara dan Problemnya di Indonesia.
Naskah Sambutan. Jakarta, 2006
Sankaranarayan R Et A1. Visual Inspection of The Uterine Serviks After The Aplication of Acetuc Acid In The Detection of
Cervical Carcinoma and Its Precursors. 2156. 1998
Cancer 83:2150- FORM A
PERALATAN BAKU UNTUK FASILITAS PENAPISAN DAN PENGOBATAN KANKER LEHER RAHIM
(dibuat untuk melayani maksimal 24 klien per hari)
Tietjen L, D Bossemeyer and N McIntosh. Infection Prevention Guidelines for Healthcare Fasilities with Limited Resources. JHPIEGO:Baltimore, Maryland. 2004
University of Zimbabwe/JHPIEGO. Cervical Cancer Project. Visual Inspection with Acetic Acid for Cervical Cancer Screening : Test Qualities In A Primary Care Setting. Lancet 353 (9156) : 869-873.1999
WHO. Comprehensive Cervical Cancer Control : A Guide to Essential Practice. Switzerland.2006
WHO. Cervical Cancer Screening in Developing Countries. Report of WHO Consultation, 2002
Item Jumlah
Meja peralatan 1
Wadah peralatan dengan tutup 1 Meja pemeriksaan 1 Sumber cahaya (60 watt) 1
Bivalved speculum 24 (20 medium dan 4 besar) Kain perlak untuk table 12
Chucks 12
Penutup nampan 5
Penutup trolley 5
Kursi beroda 1
Torch/senter 1
Forceps untuk spons 24 Gallipots antikarat 24 Unit Cryotherapy** 1
Cryotherapy tip 2 (1 untuk cadangan) Karet penahan untuk cryo unit 1 per unit
Tabung C02 2 (1 untuk cadangan) Kereta dorong untuk tabung C02 1
Tang/spanner 1
Mur/baut W ashers untuk cryo machine 5 (bila dibutuhkan)
Ember plastik untuk dekontaminasi 2, satu untuk air sabun, satu untuk alat dalam
Tempat sampah plastic 1 untuk masing-masing ruang pemeriksaan Sarung tangan rumah tangga 2 pasang
Antibiotik untuk IMS* Suplai awal dengan 50 packet Baterai kering untuk senter* 2 buah/bulan
Sarung tangan sekali pakai(disposable) * 700 (14 boks @50) Asam asetat * 12 botol ukuran 750 ml / bulan
* Suplai mungkin diperlukan setiap bulan
** Cadangan tabung krioterapi unit harus tersedia di gudang
Item Jumlah
Cotton wool* 5 gulung/bulan Swab panjang 8” untuk kapas, atau spatula
kayu
1 boks berisi 50 – sesuai kebutuhan Bahan klorin 12 liter/bulan
Kantung plastik * 60/bulan
Sabun bubuk* 1 kotak besar atau 2 kotak kecil Swab kassa* 100 / bulan
Sanitary pads/cotton for post-cryo 20 / bulan
Kondom 200 / bulan
Sikat gigig* (untuk cuci alat) 1 Masker (untuk PI) 2
Atlas VIA 2
Panduan Perbaikan dan Perawatan 1 Buku Panduan Pelayanan
(Service Delivery Guidelines)
1 Pengatur waktu / Timer 1 Panduan pemeriksaan VIA 2
Stempel untuk persetujuan ibu di kartu status ibu
1
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA ME N TE RI K E SE H A T A N R EP U B L IK I ND O N ES IA ME N T E RI K E SE H A T A N R EP U B L IK I ND O N ES IA
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA ME N T E RI K E SE H A TA N R EP U B L IK I ND O N ES IA ME N T E RI K E SE H A TA N R EP U B L IK I ND O N ES IA
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA ME N T E RI K E SE H A TA N R EP U B L IK