BAB IV : PENYAJIAN DATA
IV.2. Data Variabel Penelitian
IV.2.1. Pemekaran Kelurahan
IV.2.2.7. Pelayanan Berkesinambungan
Yaitu pelayanan yang diberikan harus merupakan pelayanan yang berkesinambungan. Dalam hal ini, berarti aparat pemerintah harus selalu siap untuk memeberikan pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan bantuan pelayanan.
Tabel 4.24
Tingkat Kemampuan Pelayanan Yang Diberikan Oleh Pihak Kelurahan
Dalam Memenuhi Kebutuhan Vital Masyarakat (Misalnya, Penyaluran JPS,
GAKIN, ASKESKIN, RASKIN, Dll)
No. Karakteristik Frekuensi Persentase
1. Sudah mampu 69 71,875 % 2. Kurang mampu 20 20,833 % 3. Tidak mampu 7 7,292 %
Total 96 100 %
Sumber : Kuesioner Penelitian 2008
Bernilai 2,645 termasuk kategori tinggi, yaitu masyarakat dapat merasakan bahwasannya pihak kelurahan sudah mampu menyelesaikan tugasnya dengan penyaluran bantuan-bantuan kepada warga yang benar-benar membutuhkan. Namun, ada 20 responden yang menyatakan bahwasannya pihak kelurahan masih kurang mampu dalam memenuhi kebutuhan vital masyarakat, sehingga untuk ke depannnya perlu diadakan perbaikan-perbaikan lagi. Selain itu, secara ekstrim ada 7 responden yang menjustifikasi bahwasannya pelayanan yang diberikan oleh pihak kelurahan tidak mampu memenuhi kebutuhan vital masyarakat.
BAB V
ANALISA DATA
Pada bab ini disajikan pembahasan mengenai data-data yang sudah tersedia pada bab sebelumnya (bab IV). Pembahasan tersebut meliputi data yang diperoleh dari kedua variabel melalui kuesioner pada saat penelitian dilaksanakan, yaitu variabel pemekaran kelurahan (X) dan variabel kualitas pelayanan publik (Y), serta pengaruh yang diberikan oleh variabel pemekaran kelurahan (X) terhadap kualitas pelayanan publik (Y) di Kota Tebing Tinggi dengan menggunakan teknik analisa data kuantitatif dengan menggunakan rumus product moment, determinan, dan analisa regresi linier sederhana, sehingga mampu menjawab permasalahan penelitian.
V. 1. Pemekaran Kelurahan
Berdasarkan variabel indikator yang digunakan untuk meneliti permasalahan penelitian dapat dijelaskan bahwasannya proses pemekaran kelurahan yang dilaksanakan oleh pemerintah Kota Tebing Tinggi memang sudah sesuai dengan urgensi dan relevansinya, yaitu untuk penuntasan masalah yang dimiliki oleh wilayah tersebut. Hal itu dapat dilihat dari sejumlah pertanyaan yang diberikan kepada responden melalui kuesioner menghasilkan jawaban yang sangat positif, yaitu masyarakat mendukung sepenuhnya atas kebijakan pemekaran ini karena dianggap sangat berguna sebagai solusi atas permasalahan pelayanan publik yang ada di Kota Tebing Tinggi, serta pemekaran ini dianggap sebagai suatu kebutuhan yang harus segera dipenuhi.
Dengan dilaksanakannya pemekaran, berarti Kota Tebing Tinggi sudah melakukan suatu usaha untuk memecahkan persoalan pelayanan publik yang
terjadi di wilayahnya, yaitu seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk Kota Tebing Tinggi yang secara otomatis juga meningkatkan volume kegiatan di bidang pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan dirasakan pelayanan yang diberikan oleh pihak kelurahan sudah tidak efektif dan efisien lagi, yaitu misalnya dengan adanya keluhan dari warga mengenai lamanya waktu penyelesaian suatu urusan. Selain itu juga, Kota Tebing Tinggi terlepas dari kemungkinan sanksi yang akan dikenakan terkait karena kota ini sebelumnya hanya terdiri dari tiga kecamatan. Kemungkinan sanksi itu yaitu bisa berupa penggabungan dengan kabupaten/kota yang berbatasan (dalam hal ini, yaitu Kabupaten Serdang Bedagai).
Pemekaran kelurahan ini dilaksanakan sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku, yaitu mengikuti Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 31 Tahun 2006 yang menyatakan bahwasannya sebuah kelurahan itu dibentuk untuk meningkatkan pelayanan masyarakat, melaksanakan fungsi pemerintahan, dan pemberdayaan masyarakat dalam rangka mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Dan untuk melaksanakan tujuan tersebut harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
(1) Jumlah penduduk, untuk wilayah Sumatera dan Sulawesi paling sedikit 2.000 jiwa atau 400 KK.
Di setiap kelurahan yang dibentuk dalam proses pemekaran di Kota Tebing Tinggi ini sudah memenuhi persyaratan tersebut yaitu sudah mencapai paling sedikit 2000 jiwa atau 400 KK (data terlampir).
Wilayah kelurahan yang ada di Kota Tebing Tinggi ini pun rata-rata wilayahnya juga sudah mencapai lebih dari 5 Km2 (data terlampir).
(3) Bagian wilayah kerja, wilayah yang dapat dijangkau dalam meningkatkan pelayanan dan pembinaan masyarakat. Setelah melaui observasi di lapangan diketahui bahwa bagian wilayah kerja dapat dijangkau dan justru lebih dekat dibandingkan sebelum pemekaran, berarti tujuan dari pemekaran ini sudah tercapai.
(4) Sarana dan prasarana pemerintahan:
a. Memiliki kantor pemerintahan
Seluruh kelurahan yang dimekarkan sudah memiliki kantor pemerintahan sendiri, meskipun masih ada yang bersifat sewa, karena proses pembangunan untuk kantor yang permanent belum selesai.
b. Memiliki jaringan perhubungan yang lancar
Jaringan perhubungan juga lancar, karena jalan yang menuju setiap kelurahan tersebut sudah lancar dan dapat dilalui oleh kendaraan umum. c. Sarana komunikasi yang memadai. Artinya di setiap kelurahan tersebut
sudah memiliki sarana yang bisa membantu kelancaran komunikasi antar warga di kelurahan tersebut, seperti wartel, telepon umum, dll.
d. Fasilitas umum yang memadai, seperti rumah ibadah, adanya posyandu, puskesmas, dll.
Sedangkan implikasi dari hasil kebijakan pemekaran ini, yaitu sejauh mana pemekaran kelurahan ini dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat, dapat dilihat melalui hasil penelitian yang dilakukan melalui teknik angket (kuesioner) yang disebarkan
kepada masyarakat, yaitu masyarakat sepakat bahwasannya dengan adanya pemekaran ini semakin memberikan mereka kemudahan dalam urusan pelayanan publik di kelurahan, yaitu karena jumlah penduduk yang diurusi semakin sedikit, maka aparat kelurahan semakin fokus dalam menjalankan tugasnya; jarak kantor kelurahan yang semakin dekat dengan masyarakat; pihak kelurahan pun semakin transparan dalam menyampaikan program-program pelayanan kepada masyarakat; pemerataan pembangunan, yaitu seperti dengan dibentuknya kelurahan yang baru berarti pemerintah pusat pun akan memberikan jatah bantuan kepada kelurahan yang baru pula , otomatis jatah masyarakat yang menerimanya pun akan lebih banyak, sehingga pemerataan bantuan itu lebih terasa dengan adanya pembentukan kelurahan baru. Juga seperti dalam pelaksanaan musrenbang kelurahan yang diikuti oleh sebagian besar elemen masyarakat kelurahan, maka prioritas pembangunan akan bertambah jumlahnya, yaitu apabila sebelumnya di satu kelurahan mendapat jatah prioritas pembangunan sebanyak 6 (enam), maka ketika pemekaran dilaksanakan jumlahnya akan bertambah menjadi 12 (dua belas) untuk wilayah tersebut, karena wilayah tersebut sekarang sudah terbagi menjadi 2 kelurahan)
Selain itu, dengan adanya pemekaran ini tingkat fokus pemerintah kelurahan (perhatian dan kepedulian) dengan kesejahteraan masyarakat akan semakin meningkat pula, seperti sebuah jalan setapak kecil yang rusak mungkin tidak menjadi fokus perhatian pihak pemerintahan sebelum adanya pemekaran, namun ketika pemekaran itu dilaksanakan, maka jalan kecil pun akan menjadi pusat perhatian, karena memang luas wilayahnya menjadi semakin kecil, sehingga kalau ada yang rusak sedikit pasti akan kelihatan dengan jelas.
Namun, disamping kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh pemekaran tersebut, ternyata masih menyisakan beberapa kekurangan-kekurangan, seperti sarana dan prasarana yang masih belum seluruhnya sempurna, yaitu seperti kondisi kantor kelurahan yang belum semuanya permanen (masih sewa), perlengkapan kantor yang belum lengkap, dan juga formasi pegawai kelurahan yang belum lengkap. Tapi memang disadari kekurangan tersebut memang mengingat usia kebijakan pemekaran ini yang tergolong masih sangat muda, sehingga perlu dilaksanakan secara bertahap. Namun, masalah ini juga tidak boleh dibiarkan secara berlarut-larut, artinya harus segera ditindak lanjuti agar tujuan pelayanan itu dapat sampai ke tangan masyarakat dengan kualitas yang terbaik, sehingga tujuan utama untuk melaksanakan kebijakan pemekaran ini dapat tercapai secara sempurna.
V. 2. Kualitas Pelayanan Publik
Apabila dilihat dari indikator yang digunakan untuk menilai kualitas pelayanan publik yang meliputi transparansi, akuntabilitas, kondisional, partisipatif, kesamaan hak, keseimbangan hak dan kewajiban, serta pelayanan berkesinambungan, maka kualitas pelayanan publik di Kota Tebing Tinggi sudah masuk dalam kategori baik. Hal itu terbukti dari hasil kuesioner yang diperoleh dari para responden yang selalu menunjukkan kategori tinggi.
Apabila dilihat dari aspek transparansinya, maka pelayanan yang diberikan oleh pemerintah kelurahan di Kota Tebin Tinggi sudah tergolong bagus, yaitu dapat dilihat dari terbukanya pihak pemerintah kelurahan dalam menyampaikan prosedur urusan di kelurahan yaitu baik secara lisan maupun melalui papan
publikasi di kelurahan dan di setiap lingkungan. Selain itu, transparansi ini juga bisa dilihat dari terbukanya pihak pemerintah kelurahan dalam menyalurkan segala bentuk bantuan dari pemerintah pusat.
Dari indikator akuntabilitas, dapat dilihat bahwasannya para responden merasakan bahwa prosedur pelayanan yang diberikan oleh pihak pemerintah kelurahan mudah untuk dipahami dan dilaksanakan, sehingga akan mempercepat proses penyelesaian urusan pelayanan publik tersebut. Indikator akuntabilitas lainnya yaitu meliputi rincian tarif biaya yang diberikan oleh pihak pemerintah kelurahan kepada masyarakat yang ingin berurusan dirasakan jelas besar biayanya dan peruntukannya. Masalah penguluran waktu dalam penyelesaian tugas pelayanan publik pun hampir tidak pernah dilakukan oleh pihak kelurahan dan juga sikap mereka dalam memberikan pelayanan dirasakan sopan dan ramah. Hal itu menunjukkan bahwasannya pihak pemerintah kelurahan sudah memposisikan diri sebagai seorang public server. Kondisi seperti inilah yang memang diharapkan dari seorang birokrat.
Melalui indikator kondisional dapat dinilai kemampuan pelayanan yang diberikan oleh pihak pemerintah kelurahan dalam menyesuaikan dengan kondisi yang ada pada saat itu (misalkan dalam kondisi tanggap darurat) juga tergolong kategori tinggi, artinya pihak kelurahan sudah bisa bertindak memberikan pelayanan dengan menyesuaikan kondisi yang ada pada saat itu. Misalnya yaitu pada saat ada warga yang ingin minta surat keterangan miskin untuk kebutuhan supaya anaknya bisa segera dirawat di rumah sakit karena terkena penyakit demam berdarah, maka pihak kelurahan mampu mendahulukan pembuatan tugas
untuk urusan darurat tersebut daripada tugas lainnya yang memang masih bisa ditunda karena hal ini menyangkut nyawa seorang manusia.
Dari indikator partisipatif, sebahagian besar dari responden menyatakan bahwasannya mereka diundang dan hadir dalam forum yang diadakan oleh pihak kelurahan yang bertujuan untuk menampung aspirasi masyarakat, dalam hal ini dicontohkan pada forum musrenbang kelurahan yang dilaksanakan pada bulan januari lalu. Pihak kelurahan mengundang berbagai elemen masyarakat untuk menyampaikan aspirasi kebutuhan mereka, sehingga pembangunan yang dilaksanakan itu memang berpihak kepada rakyat dan sesuai dengan kebutuhan mereka.
Dari indikator kesamaan hak yang diwujudkan dalam ketiadaan tindak diskriminasi yang dilakukan oleh pihak kelurahan diperoleh hasil bahwasannya pihak kelurahan tidak pernah melakukan tindak diskriminasi terhadap masyarakat, baik ketika mereka melakukan urusan di kelurahan maupun pada saat pembagian jatah bantuan-bantuan.
Pada indikator keseimbangan hak dan kewajiban diperoleh hasil bahwa warga selalu memenuhi persyaratan administratif yang ditetapkan oleh pihak kelurahan sebelum melakukan urusan di kelurahan, sehingga tidak menghambat waktu penyelesaian. Karena sebelum meminta haknya untuk cepatnya penyelesaian suatu urusan kepada pihak kelurahan, maka warga terlebih dahulu harus memenuhi kewajibannya dalam memenuhi prasyarat tersebut, sehingga hak dan kewajiban kedua belah pihak seimbang.
Pada indikator pelayanan berkesinambungan, dapat dilihat bahwasannya masyarakat dapat melihat bahwasannya pihak kelurahan sudah mampu
menyelesaikan tugasnya dengan memberikan pelayanan yang bersifat keberlanjutan, seperti pemenuhan kebutuhan vital masyarakat melalui bantuan- bantuan JPS, GAKIN, ASKESKIN, RASKIN, dll.
V. 3. Pengaruh Pemekaran Kelurahan Terhadap Kualitas Pelayanan Publik
Di Kota Tebing Tinggi.
Untuk melihat apakah ada variabel pemekaran kelurahan (x) terhadap kualitas pelayanan publik (y) seperti yang menjadi perumusan maslah dalam penelitian ini, maka dapat dilihat melalui rumus korelasi product moment, untuk melihat seberapa besar pengaruh yang diberikan oleh variabel pemekaran kelurahan (x) terhadap variabel kualitas pelayanan publik (y), maka digunakan rumus koefisien determinan, sedangkan untuk melihat bagaimana hubungan diantar kedua variabel tersebut, maka digunakan analisa regresi linier sederhana.
a) Untuk mengetahui adakah pengaruh pemekaran kelurahan terhadap
kualitas pelayanan publik di Kota Tebing Tinggi, maka digunakan rumus
Product Moment (Sugiyono, 2005:212) untuk mencari koefisien korelasi
antara kedua variabel tersebut.
(
)(
)
(
)
{
∑
∑
−∑
∑
}{
∑
∑
−(∑
)
}
− = 2 i 2 i 2 i 2 i i i i i xy Y Y n X X n Y X Y X n r(
)(
)
(
)
{
2}{
(
)
2}
2708 76954 . 96 2807 82307 . 96 2708 2807 79401 . 96 − − − =(
7901472 7879249)(
7387584 7333264)
7601356 7622496 − − − = 1207153360 21140 =608 , 0
=
Hasil perhitungan korelasi tersebut yaitu 0,608 bernilai positif, berarti ada hubungan antara pemekaran kelurahan dengan kualitas pelayanan publik di Kota Tebing Tinggi. Untuk mengetahui kadar lemah kuatnya koefisien korelasi, maka diperlukan interpretasi sebagai berikut (Sugiyono, 2005:214) :
Tabel 4.8
Interpretasi Koefisien Korelasi
INTERVAL KOEFISIEN TINGKAT HUBUNGAN
0,00 – 0,199 Sangat lemah
0,20 – 0,399 Lemah
0,40 – 0,599 Sedang
0,60 – 0,799 Kuat
0,80 – 1,000 Sangat kuat
Berdasarkan pedoman di atas, dapat dinyatakan bahwa koefisien korelasi adalah sebesar 0,608 yang berarti korelasi (tingkat hubungan) antara kedua variabel adalah KUAT. Kemudian untuk menguji apakah harga tersebut signifikan, maka dari hasil penghitungan korelasi sebelumnya perlu dikonsultasikan dengan nilai tabel. Dari perhitungan korelasi di atas diperoleh nilai rhitung 0,608, bila dikonsultasikan dengan nilai rtabel untuk n=96 dan kesalahan 5%, maka rtabel adalah 0,202. Berarti rhitung lebih besar dari rtabel, artinya hipotesis diterima. Dengan demikian korelasi 0,608 itu signifikan.
Dengan demikian hipotesis dalam penelitian ini yang menyatakan ”TERDAPAT PENGARUH YANG POSITIF DAN SIGNIFIKAN ANTARA
PEMEKARAN KELURAHAN TERHADAP KUALITAS PELAYANAN PUBLIK DI KOTA TEBNG TINGGI” DAPAT DITERIMA.
b) Untuk menghitung kontribusi (seberapa besar pengaruh) pemekaran
kelurahan terhadap peningkatan kualitas pelayanan publik di Kota
tebing Tinggi, digunakan perhitungan determinasi sebagai berikut :
D = (rxy)2 x 100 %
= (0,608)2 x 100 % = 0,369664 x 100 % = 36,97 %
c) Untuk melihat hubungan (bagaimana pengaruh) antara variabel X dan Y
digunakan rumus regresi linier sederhana, Sugiyono (2005 : 204).
Y = a + bx
( )(
) (
)(
)
(
2) (
)
2 2 2∑
∑
∑
∑
∑
∑
− − = X X n Y X X Y a(
)((
) () (
)()
2)
2807 82307 96 76954 2807 82307 2708 − − ==309,4
(
) (
)( )
(
)
∑
∑∑
∑
∑
− − = 2 2 X X n Y X XY n b(
) (
(
)()
2)
2807 82307 . 96 2708 2807 79401 96 − − ==0,951
Dengan demikian persamaan regresi linier Y atas X adalah :
Y=309,4 + 0,951X. Persamaan tersebut dapat digunakan untuk melakukan prediksi (ramalan) berapa nilai dalam variabel dependen akan terjadi bila nilai dalam variabel independen ditetapkan. Misalkan nilai pemekaran kelurahan adalah = 28, maka kualitas pelayanan publiknya adalah :
Y=309,4 + 0,951 (28) = 336,028. Jadi, diperkirakan nilai kualitas pelayanan publik menjadi 336,028 kalau nilai pemekaran kelurahannya adalah 28. Dari persamaan regresi tersebut di atas dapat diartikan bahwa apabila nilai pemekaran kelurahan dinaikkan satu satuan, maka nilai kualitas pelayanan publik pun akan meningkat sebesar 0,951. Hal ini menunjukkan bahwa apabila kebijakan pemekaran kelurahan dilaksanakan dengan semakin baik, maka kualitas pelayanan pun akan semakin baik pula. Hubungan tersebut dapat dilihat pada grafik seperti berikut :
Gambar 4.1
Grafik Regresi Linier
Dengan melihat hipotesis yang telah diuji sebelumnya, maka dapat diketahui bahwa variabel pemekaran kelurahan memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kualitas pelayanan publik di Kota Tebing Tinggi. Besarnya pengaruh yang diberikan variabel pemekaran kelurahan terhadap kualitas pelayanan publik di Kota tebing Tinggi adalah sebesar 36,97 %. Artinya, kualitas pelayanan publik yang ada di kota Tebing Tinggi saat ini dipengaruhi oleh pemekaran kelurahan sebanyak 36,97 %, sisanya bisa saja dari faktor lain-lain seperti tingkat pendidikan aparatur, tingkat kecakapannya dalam memberikan pelayanan, dan lain sebagainya yang tidak dijadikan pembahasan dalam penelitian
ini. Persentase tersebut dianggap cukup besar mengingat usia pemekaran ini masih berkisar 7 (tujuh) bulan. Pengaruh yang diberikan oleh pemekaran kelurahan terhadap kualitas pelayanan publik tersebut dikatakan positif karena apabila nilai variabel pemekaran dinaikkan satu satuan, maka nilai kualitas pelayanan publik pun akan turut meningkat pula.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
V. 1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dianalisis pada bab sebelumnya, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1. Dari perhitungan koefisien korelasi diperoleh rhitung sebesar 0,608 yang berarti terdapat hubungan antara variabel pemekaran kelurahan (X) dengan variabel kualitas pelayanan publik (Y), dan tingkat hubungannya adalah KUAT.
2. Berdasarkan penghitungan nilai koefisien korelasi product moment tersebut, maka dapat dilakukan pengujian hipotesis, yaitu dengan mengkonsultasikan nilai rhitung dengan nilai rtabel. Nilai rhitung diperoleh sebesar 0,608dan lebih besar dari rtabel sebesar 0,202 pada taraf signifikansi 95% atau alpha 5%. Berarti hipotesis dapat diterima, yaitu terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara variabel pemekaran kelurahan dengan kualitas pelayanan publik di Kota Tebing Tinggi.
3 Besarnya pengaruh variabel pemekaran kelurahan terhadap kualitas pelayanan publik adalah sebesar 36,97 % yang diperoleh dari perhitungan determinasi. 4. Pengaruh dari pemekaran kelurahan terhadap kualitas pelayanan publik adalah
positif yang dapat diuji melalui rumus regresi linier sederhana yang diperoleh persamaan Y=309,4 + 0,951X. Artinya apabila nilai dari variabel X (pemekaran kelurahan) dinaikkan sebanyak satu satuan, maka nilai variabel Y (kualitas pelayanan publik) pun juga akan meningkat pula.
V. 2. SARAN
1. Walaupun berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara pemekaran kelurahan dan kualitas pelayanan publik, namun juga harus senantiasa dilakukan perbaikan- perbaikan ke depan seperti misalnya melengkapi sarana dan prasarana kantor dengan secepatnya, karena masalah ini merupakan masalah yang sangat penting, mengingat tujuan dari diadakannya pemekaran ini yaitu untuk meningkatkan pelayanan publik, oleh karena itu dengan dilengkapinya sarana dan prasarana tersebut otomatis juga akan semakin meningkatkan kualitas pelayanan publik tersebut.
2. Segera melengkapi formasi pegawai yang bekerja di kantor kelurahan, sehingga proses pelayanan di kelurahan dapat terlaksana secara maksimal, karena seperti data yang diperoleh di lapangan yaitu hamper di seluruh kelurahan yang dimekarkan belum memiliki formasi pegawai yang lengkap. 3. Membina dan meningkatkan peran serta aktif masyarakat dalam usaha untuk
memajukan kelurahan yang baru saja dibentuk yang dapat menimbulkan rasa kecintaan terhadap wilayah tempat tinggalnya, sehingga kelurahan yang baru dibentuk tersebut dapat mengejar ketertinggalannya dari kelurahan induk.
DAFTAR PUSTAKA
Dwiyanto, Agus, dkk. 2006. Reformasi Birokrasi Publik di Indonesia. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
---2005. Mewujudkan Good Governance Melalui Pelayanan Publik. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Juliantara, Dadang. 2004. Pembaruan Kabupaten, Mewujudkan Kabupaten Partisipatif. Yogyakarta : Pustaka Jogja Mandiri
Kurniawan, Agung. 2005. Transformasi Pelayanan Publik. Yogyakarta : Pembaruan.
Moenir, H. A. S. 2002. Manajemen Pelayanan Umum di Indonesia. Jakarta : Bumi Aksara.
Prasetyo, Bambang dan Ina Miftahul Jannah. 2005. Metode Penelitian Kuantitatif. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Sinambela, Poltak. 2006. Reformasi Pelayanan Publik. Jakarta : Bumi Aksara. Singarimbun, Masri. 1995. Metode Penelitian Survey. Jakarta : LP3ES.
Soehartono, Irawan. 2004. Metode penelitian Sosial. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Sugiyono. 2005. Metode Penelitian Administrasi Negara. Bandung : Alfabet. Suharsimi, Arikunto. 1990. Manajemen Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta. Syafii, Inu Kencana. 1994. Sistem pemerintahan Indonesia. Jakata : Rineka
Cipta.
Syaukani, dkk. 2004. Otonomi Daerah dalam Negara Kesatuan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Tangkilisan, Hessel Nogi. 2004. Penataan Birokrasi Publik Memasuki Era Millenium. Yogyakarta : YPAPI.
Tjandra, Riawan, dkk. 2005. Peningkatan Kapasitas Pemerintah Daerah dalam Pelayanan Publik. Yogyakarta : Pembaruan.
Tjiptono, Fandy & Anastasia Diana. 2003. Total Quality Management. Yogyakarta : Andi Yogyakarta.
Utomo, Warsito. 2006. Administrasi Publik Baru Indonesia. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Wahyudhi, dkk. 2002. Etnis Pakpak dalam Pemekaran Wilayah. Sidikalang : Yayasan Sada Ahmo.
Sedu, Wonosastro. 2006. Pemekaran Wilayah. Jurnal Litbang Jawa Timur, Vol. 5, No. 1, hal. 1.
REFERENSI LAIN :
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945.
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Peraturan Pemeritah Nomor 73 Tahun 2005 tentang Kelurahan.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 31 Tahun 2006 tentang Pembentukan, Penghapusan, dan Penggabungan Kelurahan.
Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63 Tahun 2003 tentang Penyelenggaraan pelayanan Publik.
Peraturan Daerah Kota Tebing Tinggi Nomor 15 Tahun 2006 tentang Pembentukan Kecamatan dan Kelurahan di Kota Tebing Tinggi.
Syahzinan. 2007. PEMEKARAN, solusi atau kegagalan. www. batampos. co id/24 september 2007.