SITUASI UPAYA KESEHATAN
A. PELAYANAN KESEHATAN DASAR 1. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak
a. Pelayanan Kesehatan Antenatal
Cakupan kunjungan ibu hamil K4 diperoleh dari perhitungan persentase jumlah ibu hamil yang mendapatkan pelayanan Antenatalcare (ANC) minimal 4 kali sesuai dengan standar (dengan distribusi waktu 1 kali pada trimester ke-1, 1 kali pada trimester ke-2, dan 2 kali pada trimester ke-3) oleh tenaga kesehatan dibagi dengan estimasi jumlah ibu hamil di suatu wilayah pada kurun waktu tertentu.
Pada tahun 2013 terdapat 35.354 orang ibu hamil, sebanyak 31.480 orang telah mendapat pelayanan ANC sesuai standar (89,04%). Pencapaian ini sudah mencapai target 2013 sebesar 88 %, tercapainya cakupan ini disebabkan akses pelayanan ANC lebih mudah dengan adanya jampersal , pembiayaan KIA melalui BOK, pencatatan dan pelaporan hasil pelayanan yang mulai akurat dan tepat waktu serta kesinambungan pelayanan kesehatan ibu hamil yang beranjak optimal.
b. Pelayanan Kesehatan Ibu Bersalin
Upaya untuk menurunkan Angka Kematian Bayi dan Ibu Maternal, salah satunya melalui persalinan yang sehat dan aman, yaitu persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan maupun dukun terlatih yang didampingi oleh tenaga kesehatan. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi, dihitung dari persentase jumlah persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan
kompeten dibagi dengan jumlah seluruh ibu bersalin di suatu
wilayah pada kurun waktu tertentu.
Pada tahun 2013, terdapat 32.622 orang ibu bersalin. Sedangkan ibu bersalin yang mendapatkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan kompeten sebanyak 29.111 orang (89,24 %) angka tersebut telah mencapai target tahun 2013 (85 %). Hal ini disebabkan mudahnya akses terhadap pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan karena jaminan pembiayaan melalui jampersal, penggiringan sasaran ke tenaga kesehatan melalui kegiatan-kegiatan yang didanai BOK, pengetahuan masyarakat yang semakin baik dan pencatatan pelaporan yang tepat dan valid.
c. Pelayanan Komplikasi Maternal
Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani, didapat dari perhitungan persentase jumlah komplikasi kebidanan yang mendapatkan penanganan definitif
sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan yang kompeten pada tingkat pelayanan dasar dan rujukan dibagi dengan estimasi jumlah ibu hamil beresiko di suat wilayah pada kurun waktu tertentu. Penanganan definitif adalah penanganan/pemberian tindakan terakhir untuk menyelesaikan permasalahan setiap kasus komplikasi kebidanan. Pada tahun 2013, estimasi jumlah ibu hamil berisiko adalah 7.071 orang dengan 6.416 (90,74%) orang mengalami komplikasi kebidanan yang dapat ditangani. Target pada tahun 2013 yaitu 70 % sehiingga target indikator ini dapat tercapai, hal ini dikarenakan adanya penambahan puskesmas berfungsi PONED,
Sumber Daya manusia/bidan yang terlatih tatalaksana kegawatdaruratan maternal
neonatal serta jejaring rujukan yang lebih baik melalui rujukan dari PONED ke
PONEK.
d. Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas
Cakupan pelayanan nifas, dihitung dari jumlah ibu nifas yang memperoleh 3 kali pelayanan sesuai standar oleh tenaga kesehatan dibagi dengan jumlah seluruh
ibu bersalin di suatu wilayah pada kurun waktu tertentu.
Pada 2013 yang mendapat pelayanan kesehatan bagi ibu nifas
sebanyak 26.259 orang dari jumlah 32.622 ibu bersalin (80,49%).
Meskipun target program telah terlampaui dari target yang ditetapkan yaitu 80% bila dikorelasikan dengan cakupan persalinan sudah mencapai target. Hal ini menunjukan bahwa tingkat kepercayaan terhadap tenaga kesehatan relatif tinggi.
Hal lain yang diduga berpengaruh terhadap kondisi diatas, disebabkan paraji (dukun beranak) sudah ber mitra dengan tenaga kesehatan, juga kelangsungan pelayanan pasca persalinan sudah sesuai standar.
e. Pelayanan Neonatal Komplikasi
Cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani, diperoleh dari perhitungan persentase jumlah neonatus dengan komplikasi yang mendapat penanganan dibagi dengan jumlah keseluruhan neonatus yang ada diwilayah kerja pada kurun waktu yang sama. Pada tahun 2013 terdapat 4.583 neonatus dengan jumlah yang ditangani 3.368 neonatus 73,49 % dengan komplikasi dan ditangani dari target 2013 yaitu 69 % sehingga capaian kinerja program ini 106,5%.
Keberhasilan capaian ini dikarenakan adanya kesiapan tenaga kesehatan untuk memberikan penanganan baik di pelayanan kesehatan dasar maupun rujukan serta sistem pelaporan yang telah terkoordinasi dengan baik. Disamping itu sudah banyak provider yang mampu melakukan tatalaksana / penanganan definitive untuk menyelamatkan neonatal bisa dilakukan ditingkat pelayanan dasar (contoh penaganan BBLR melalui PMK/Perawatan Metode Kanguru dll) dan pra rujukan serta pola rujukan adekuat.
f. Pelayanan Kesehatan Bayi
Cakupan pelayanan bayi, didapat dari perhitungan persentase jumlah bayi yang telah memperoleh 4 kali pelayanan kesehatan sesuai standar dibagi dengan jumlah bayi yang ada di wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Diasumsikan bayi yang berusia 12 bulan telah mendapat 4 kali pelayanan kesehatan sesuai standar, maka cakupan kunjungan bayi dilihat dari kunjungan bayi berusia 12 bulan. Berdasarkan data tahun 2013 ada 26.343 bayi dari sasaran 32.655 bayi (80,7 %) yang dibawa dan mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar.Angka tersebut belum mencapai target yang ditetapkan yaitu 85 %.
g. Pelayanan Kesehatan Balita
Ada 2 indikator pencapaian sasaran dalam pelayanan kesehatan balita, yang pertama adalah pelayanan anak balita, dan kedua adalah pemberian makanan pendamping ASI pada anak usia 6 – 24 bulan keluarga miskin.
Cakupan pelayanan anak balita adalah anak balita (12-59 bulan) yang memperoleh pelayanan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan. Pada tahun 2013 ditetapkan target 80 % tercapai 82 % atau 74.464 balita mendapat pelayanan dari 90.851 balita yang ada. Hal ini dikarenakan mulai optimalnya pelayanan yang berkesinambungan terhadap balita dan pengembangan kegiatan inovasi yang didukung oleh ketersediaan anggaran.
Cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada anak usia 6 – 24 bulan keluarga miskin adalah pemberian makanan pendamping ASI pada anak usia 12-24 bulan dari keluarga miskin selama 90 hari. Pada tahun 2013 ada 71 balita yang mendapat MP-ASI (1,76%) hal ini selain karena keterbatasan anggaran juga karena banyaknya sasaran baduta gakin yang perlu diintervensi (4.038 baduta gakin).
i. Pelayanan Kesehatan Anak Usia Sekolah
Indikator pencapaian sasaran Pelayanan kesehatan anak usia sekolah yaitu penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat. Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat adalah cakupan siswa SD dan setingkat yang telah diperiksa kesehatannya oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih (guru UKS/dokter kecil) melalui penjaringan kesehatan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
Diketahui bahwa dari 1.285 SD/MI semuanya (100%) melaksanakan penjaringan anak sekolah. Hal ini ditunjang oleh ketersediaan anggaran baik dari APBD Kabupaten maupun dari dana BOK.
2. Pelayanan Keluarga Berencana (KB)
Sebagai upaya mengendalikan jumlah kelahiran dan mewujudkan keluarga kecil yang sehat dan sejahtera, pemerintah melakukan konsep pengaturan jarak kelahiran atau pembatasan kelahiran dengan program Keluarga Berencana (KB).
Indikator pencapaian sasaran Keluarga Berencana adalah cakupan peserta KB aktif yang didapat dari perhitungan jumlah PUS yang menggunakan kontrasepsi di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu dibandingkan dengan seluruh pasangan usia subur di satu wilayah kerja dalam kurun waktu yang sama. Pada tahun 2013, realisasi peserta KB Aktif sebesar 76,6 %. Keberhasilan ini dikarenakan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk ber-KB, adanya dukungan dana dari Program JAMPERSAL alat kontrasepsi yang mencukupi dan jumlah bidan yang sudah merata di tiap wilayah serta kerjasama dengan lintas sektor cukup baiknya seperti Badan Koordinasi Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Masyarakat dan Depag.
3. Pelayanan Imunisasi
Untuk menurunkan angka kesakitan, kematian dan kecacatan bayi serta anak balita perlu dilaksanakan program imunisasi untuk penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) seperti penyakit TBC, Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B, Polio dan Campak. Idealnya bayi harus mendapat imunisasi dasar lengkap terdiri dari BCG 1 kali, DPT 3 kali, Polio 4 kali, HB 3 kali dan Campak 1 kali.
Program imunisasi dapat berjalan secara efektif dan memberikan dampak penurunan kejadian penyakit apabila kelengkapan imunisasi telah terlaksana dan mutu pelayanan imunisasi diterapkan sesuai standar, terutama dalam penangan cool chain. Strategi operasional pencapaian cakupan tinggi dan merata dapat dilihat dari pencapaian Universal Child Immunization (UCI) desa/kelurahan.
Cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI) adalah Desa/Kelurahan dimana > 80% dari jumlah bayi yang ada di desa tersebut sudah mendapat immunisasi dasar lengkap dalam waktu satu tahun. Pencapaian program imunisasi sebesar 94.1 % dan masih belum mencapai target sebesar 100 %. Hal ini dikarenakan data sasaran proyeksi di beberapa puskesmas yang dikeluarkan oleh Dinkes Provinsi lebih besar dibandingkan data riil penduduk desa yang ada, sehingga cakupan UCI desa di beberapa wilayah tidak tercapai.
B. PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN