SITUASI UPAYA KESEHATAN
A. PELAYANAN KESEHATAN DASAR
1. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak
Secara umum upaya kesehatan terdiri atas dua unsur utama, yaitu Upaya Kesehatan Masyarakat dan Upaya Kesehatan Perorangan. Upaya Kesehatan Masyarakat adalah setiap kegiatan yang dilakukan pemerintah dan atau masyarakat serta swasta, untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan sertamencegah dan menanggulangi timbulnya masalah kesehatan masyarakat. Upaya Kesehatan Masyarakat meliputi upaya‐upaya promosi kesehatan, pemeliharaan kesehatan, pemberantasan penyakit menular, pengendalian penyakit tidak menular, penyehatan lingkungan dan penyediaan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, kesehatan jiwa, pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan, pengamanan zat adiktif dan bahan berbahaya, serta penanggulangan bencana dan bantuan kemanusiaan.
Upaya Kesehatan Perorangan adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat serta swasta, untuk mmelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan. Upaya Kesehatan Perorangan meliputi upaya‐upaya promosi kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan rawat jalan, pengobatan rawat inap, pembatasan dan pemulihan kecacatan yang ditujukan pada perorangan.
Situasi upaya kesehatan di Kabupaten Jombang yang telah dilakukan pada tahun 2011 dapat disimak dalam uraian sebagai berikut :
A. PELAYANAN KESEHATAN DASAR
Upaya pelayanan kesehatan dasar merupakan langkah penting dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Pelayanan kesehatan dasar yang diberikan dengan cepat dan tepat diharapkan dapat mengatasi berbagai masalah kesehatan masyarakat. Upaya‐upaya pelayanan kesehatan masyarakat diurakan sebagai berikut :
1. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak
Kebijakan tentang kesehatan ibu dan bayi baru lahir secara khusus berhubungan dengan pelayanan antenatal, persalinan, nifas dan perawatan bayi baru lahir yang diberikan di semua fasilitas kesehatan mulai dari Posyandu hingga rumah sakit. Kesehatan anak meliputi bayi, anak balita, balita dan remaja.
a. Pelayanan Kesehatan Ibu hamil (K1 dan K4)
Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan untuk ibu selama masa kehamilannya sesuai standar pelayanan Kebidanan (SPK); sedangkan tenaga kesehatan yang berkompeten memberikan pelyanan pelayanan antenatal kepada bumil adalah dokter spesialis kebidanan, dokter, bidan, dan perawat. Ditetapkan pula bahwa frekuensi pelayanan pada ibu hamil (antenatal) adalah minimal
25 4 kali selama masa kehamilannya. Dengan ketentuan waktu pemberian pelayanan adalah 1 kali pada triwulan pertama, 1 kali pada triwulan kedua, dan 2 kali pada triwulan ketiga.
Hasil pencapaian program pelayanan kesehatan ibu hamil dapat dinilai dengan menggunakan indikator cakupan K1 dan K4. Cakupan pelayanan K1 di Kabupaten Jombang pada tahun 2011 adalah 22.085 ibu hamil (93,4%), sedangkan K4 adalah 20.679 ibu hamil (87,5%). Tahun 2010 diketahui K1 sebesar 21.735 atau 92%, sedangkan cakupan K4 adalah sebesar 20.352 atau 86%. Artinya terjadi peningkatan cakupan pelayanan K1 dan K4 pada tahun 2011, walaupun sedikit. Tetapi kesenjangan antara K1 dan K4 seharusnya dicari penyebabnya untuk dibuatkan penyelesaianya sehingga seluruh ibu hamil mendapat pelayanan paripurna. Gambar 18 Cakupan Pemeriksaan K1 & K4 Menurut Puskesmas Kabupaten Jombang Tahun 2011 Sumber : Data tabel 28 Profil Kesehatan Kab. Jombang
Berdasarkan gambar 18 dapat diketahui bahwa di setiap puskesmas cakupan K1 lebih banyak daripada K4. Adanya kesenjangan cakupan K1 dan K4 menunjukkan angka drop out K1‐K4. Penyebab kesenjangan K1‐K4 karena adanya mobilitas penduduk (perpindahan), kelahiran, perpindahan penduduk, dan ibu hamil yang belum waktunya kontrol (K2, K3). Jika kesenjangan K1‐K4 kecil menunjukkan hampir semua ibu hamil yang melakukan kunjungan pertama pelayanan antenatal, meneruskan hingga kunjungan keempat pada triwulan 3, sehingga kehamilan dapat terus dipantau oleh petugas kesehatan dan diharapkan semua ibu hamil melahirkan di tenaga kesehatan.
Terdapat 14 puskesmas telah mencapai target SPM untuk cakupan pelayanan K4 (95%) yaitu Puskesmas Bareng, Mojoagung, Gambiran, Ploso, Cukir, Brambang, Jarakkulon, Tembelang, Japanan, Pulo Lor, Mayangan, Pulorejo, Sumobito, Peterongan,
26 Japanan. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2010 yang hanya terdapat 8 puskesmas dengan capaian K4 sesuai target. b. Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan dengan Kompetensi Kebidanan Periode persalinan merupakan salah satu periode yang berkontribusi besar terhadap angka Kematian Ibu di Indonesia. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dengan kompetensi kebidanan. Estafet pertolongan persalinan sudah dilakukan sesuai dengan standar dan kematian ibu sebagian besar di RSUD. Komplikasi dan kematian ibu maternal dan bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa di sekitar persalinan, hal ini disebabkan pertolongan tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan kompetensi kebidanan dipelayanan persalinan yang aman.
Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan di Kabupaten Jombang tahun 2011 adalah 20.900 (96,3%). Angka ini telah mencapai target SPM Kabupaten Jombang yaitu sebesar 92%. Ada sebanyak 23 puskesmas memiliki angka cakupan pertolongan persalinan sesuai target dan bahkan lebih. Sedangkan tahun 2010 hanya ada 22 Puskesmas yang memenuhi target SPM. Gambar 19 Cakupan Pertolongan persalinan oleh tenaga Kesehatan Menurut Puskesmas Kabupaten Jombang Tahun 2011 Sumber : Data tabel 28 Profil Kesehatan Kab. Jombang Data cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan di Kabupaten diperoleh dari semua fasilitas kesehatan yang ada, meliputi puskesmas, rumah sakit, polindes, bidan praktik swasta, rumah bersalin. Berikut ini rekaman cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan tahun 2007‐2011. Target SPM 2011 92% (%)
27 Gambar 20 Persentase Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Di Kabupaten Jombang Tahun 2007 – 2011 Sumber : Profil Kesehatan Jombang Tahun 2007 – 2011
Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan yang handal dengan kompetensi kebidanan, Seksi Kesehatan Keluarga pada tahun 2011 telah melakukan berbagai pelatihan untuk tenaga bidan diantaranya adalah pelatihan APN (Asuhan Persalinan Normal), manajemen asfiksia bayi baru lahir, manajemen bayi dengan berat lahir rendah, pelatihan kelas ibu hamil.
c. Ibu Hamil Komplikasi yang Ditangani
Komplikasi kebidanan adalah keadaan penyimpangan dari normal, yang secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi. Komplikasi yang dimaksud misalnya ketuban pecah dini, pendarahan melalui jalan lahir, hipertensi dalam kehamilan dengan atau tanpa edema (bengkak) pre tibial, ancaman persalinan prematur, infeksi berat dalam kehamilan, persalinan macet atau tidak maju, dan infeksi masa nifas.
Melalui pemeriksaan kehamilan secara rutin, dapat diketahui sejak dini apabila ada ibu hamil yang masuk dalam kategori resiko tinggi atau komplikasi dan memerlukan pelayanan kesehatan rujukan.
Jumlah ibu hamil risti atau komplikasi di Kabupaten Jombang tahun 2011 adalah 4.639 bumil 98,1% dari sasaran ibu hamil. Sedangkan maksimal jumlah ibu hamil resiko tinggi adalah 20% dari ibu hamil yang ada. Jika dibanding tahun 2010 ada 4.378 atau 93% ibu hamil resiko tinggi. Adanya kasus ibu hamil resiko tinggi ini perlu diiringi dengan peningkatan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kehamilan secara teratur dan pemenuhan gizi selama kehamilan, serta peningkatan kompetensi petugas.
28 Gambar 21 Persentase Cakupan Komplikasi Kebidanan menurut Puskesmas Di Kabupaten Jombang Tahun 2011 Sumber : Data Tabel 31 Lampiran Profil Kesehatan Jombang Tahun 2011 d. Pelayanan Ibu Nifas Pelayanan nifas adalah pelayanan kesehatan sesuai stándar pada ibu nifas mulai 6 jam sampai 42 hari pasca persalinan oleh tenaga kesehatan. Untuk deteksi dini komplikasi pada ibu nifas diperlukan pemantauan pemeriksaan terhadap ibu nifas dengan melakukan kunjungan ibu nifas minimal 3 kali, yaitu 6 jam setelah persalinan sampai 3 hari, kunjungan yang kedua dilakukan dilakukan dalam waktu hari ke‐4 sampai hari ke 28 setelah persalinan, kunjungan ke tiga dilakukan dalam waktu hari ke 29 sampai dengan hari ke 42 setelah persalinan.
Masa nifas adalah masa dimana organ reproduksi mulai mengalami pemulihan untuk kembali normal dan baru pulih betul setelah tiga bulan pasca persalinan. Kunjungan nifas ditujukan untuk memperkecil resiko kelainan dan kematian ibu.
Berdasarkan data pelaporan tahun 2011 cakupan pelayanan ibu nifas sebesar 20.973 (96,6%) sedangkan seluruh ibu nifas yang ada adalah 21.703 orang.
Pemberian kapsul vitamin A sangat penting bagi ibu nifas karena untuk mencegah infeksi pada masa nifas. Karena ibu nifas mengalami masa transisi antara masa bersalin dengan masa kondisi tubuh normal (Masa antara).
Berikut ini perbandingan antara pelayanan ibu nifas dengan pemberian Vitamin A pada ibu nifas.
29 Gambar 22 Perbandingan Cakupan Pelayanan Ibu Nifas dengan Pemberian Vitamin A pada Ibu Nifas Di Kabupaten Jombang Tahun 2011 Sumber : Data tabel 28 dan 32 Profil Kesehatan Jombang Tahun 2011 Pada gambar 22 di atas nampak bahwa rata‐rata ibu nifas mendapat kapsul vitamin A seluruhnya atau hampir seluruhnya. Tetapi khusus di wilayah Puskesmas Cukir terjadi kondisi khusus dimana pemberian kapsul vitamin A lebih sedikit (830 bufas) dibanding bufas yang mendapat pelayanan (1.091 bufas). e. Pelayanan Kesehatan Neonatus Bayi hingga usia kurang dari satu bulan (0‐28 hari) merupakan golongan umur yang paling rentan atau memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi. Pelayanan Kesehatan yang diberikan bagi bayi baru lahir antara lain melaukan persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan dan memberikan pelayanan kesehatan sesuai stándar pada kunjungan bayi baru lahir.
Berdasar Riskesdas tahun 2007,sebagian besar (78,5%) kematian neonatus terjadi pada minggu pertama kehidupan (0‐6 hari). Mengingat besarnya resiko kematian pada minggu pertama ini , setiap bayi baru lahir harus mendapat pemeriksaan sesuai stándar lebih sering pada minggu pertama. Terkait hal tersebut, tahun 2008 ditetapkan perubahan kebijakan dalam pelayanan bayi baru lahir (neonatus), yang semula 2 kali menjadi 3 kali. Sehingga jadwal Kunjungan Neonatus adalah pada waktu bayi usia 6‐48 jam, 3‐7 hari, dan umur 8‐28 hari.
30 Gambar 23 Cakupan Kunjungan Neonatus (KN 2) di Kabupaten Jombang Tahun 2007 – 2011 Sumber : Profil Kesehatan Jombang 2007 – 2011
Secara keseluruhan cakupan KN lengkap di Kabupaten Jombang pada tahun 2011 adalah 95.9 % dari 21.488 bayi,; dan capaian ini menurun dibanding tahun 2010 yaitu 96,3%.
Berikut ini diagram cakupan KN lengkap di wilayah kerja Puskesmas se Kabupaten Jombang tahun 2011. Gambar 24 Cakupan Kunjungan Neonatus Lengkap (KN 3) menurut Puskesmas di Kabupaten Jombang Tahun 2011 Sumber : Data tabel 36 Profil Kesehatan Jombang Tahun 2011
Target SPM KN lengkap 2011 adalah 80%. Pada gambar 19 diatas Nampak bahwa sebagian besar Puskesmas telah mencapai target KN lengkap, kecuali 4 Puskesmas yang belum mencapai target SPM yaitu Puskesmas Jatiwates, Jabon, Plandaan, dan Tambakrejo.
31
f. Pelayanan Kesehatan Bayi
Pelayanan Kesehatan bayi adalah pelayanan kesehatan sesuai standar oleh tenaga kesehatan (Dokter, Bidan, dan Perawat) minimal 4 kali dalam setahun, yaitu satu kali pada umur 29 hari‐3 bulan, 1 kali pada umur 3‐6 bulan, 1 kali pada umur 6‐9 bulan, dan 1 kali pada umur 9‐11 bulan.
Pelayanan yang diberikan meliputi pemberian imunisasi dasar, Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) bayi, dan penyuluhan perawatan kesehatan bayi. Tujuan pelayanan ini adalah agar bayi mendapat pelayanan kesehatan dasar, diketahui sejak dini adanya kelainan atau penyakit, dan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit.
Cakupan pelayanan kesehatan bayi pada tahun 2011 adalah sebanyak 21.049 bayi dari 21.488 bayi yang ada atau 98%. Angka ini telah mencapai target SPM yaitu 90%. Sedangkan Puskesmas yang telah mencapai target atau belum dapat dilihat dalam diagram berikut ini. Gambar 25 Cakupan Kunjungan Bayi Menurut Puskesmas di Kabupaten Jombang Tahun 2011 Sumber : Data tabel 37 Profil Kesehatan Jombang Tahun 2011
Terdapat 25 puskesmas yang di wilayah kerjanya memiliki cakupan kunjungan bayi sesuai atau melebihi target. Pencapaian tertinggi adalah Puskesmas Mayangan (127,8%), Cukir (123%) dan Jelakombo (113%). Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kunjungan bayi antara lain validasi data sasaran, pelatihan dan penerapan SDIDTK, pemenuhan kebutuhan sarana dan tenaga, koordinasi dengan RS dan swasta, serta kegiatan menumbuhkan peran serta masyarakat dalam memanfaatkan UKBM terutama Posyandu.
32
g. Pelayanan Kesehatan Balita
Pelayanan Kesehatan anak balita adalah pelayanan kesehatan pada anak umur 12‐59 bulan sesuai standar meliputi pemantauan pertumbuhan minimal 8 kali setahun, pemantauan perkembangan minimal 2 kali setahun dan pemberian vitamin A 2 kali setahun (bulan februari dan Agustus).
Pemantauan pertumbuhan dilakukan dengan penimbangan Berat Badan, pengukuran Tinggi Badan di Posyandu, Bidan Praktik Swasta atau Puskesmas. Pemantauan perkembangan dilakukan dengan SDIDTK oleh petugas kesehatan, pemberian Vitamin A dilaksanakan oleh petugas kesehatan di Posyandu, Poskesdes atau Puskesmas.
Pada tahun 2011 cakupan pelayanan kesehatan anak balita (12‐59 bulan) sebesar 67,9% atau 57.549 dari 84.752 balita yang ada. Gambar 26 Cakupan Kunjungan Anak Balita dibanding balita Ditimbang dan Pemberian Vit A 2 x Setahun Menurut Puskesmas di Kabupaten Jombang Tahun 2011 Sumber : Data tabel 32, 43, 44 Profil Kesehatan Jombang Tahun 2011 Pada gambar 21 diatas terlihat pola kegiatan pelayanan pada anak balita di tiap wilayah kerja Puskesmas se Kabupaten Jombang. Balita yang ada yang mendapat pelayanan paripurna atau lengkap 4 kali setahun ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan Penimbangan Berat Badan Balita maupun pemberian Vitamin A 2 kali setahun. Puskesmas yang nampak paripurna dalam pelayanan pada anak balita adalah Puskesmas Tembelang, Jatiwates, Mayangan dan Peterongan. Selebihnya terjadi kesenjangan terutama Puskesmas Sumobito nampak bahwa antara Kunjungan Balita atau balita yang diberi pelayanan kesehatan dengan Balita Ditimbang dan balita yang mendapat Vitamin A 2 x pada jumlah yang berbeda beda. Hal ini memiliki arti bahwa ada beberapa balita yang belum mendapat
Target SPM 90%
33 pelayanan kesehatan atau terdeteksi tumbuh kembangnya. Selain Puskesmas Sumobito ada pula Puskesmas dalam kondisi semisal yaitu Puskesmas Tapen, dan Pulo Lor.
Sedangkan Puskesmas yang telah mencapai target kunjungan balita 90 % ada 4 Puskesmas yaitu Puskesmas Cukir (100%), Tembelang (112%), Jatiwates (129%), dan Mayangan (115%).