• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN

A. Pelayanan Kesehatan Dasar

1. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi

a. Pelayanan Antenatal (K 1 dan K 4)

Cakupan K1 untuk mengukur akses pelayanan ibu hamil,

menggambarkan besaran ibu hamil yang melakukan kunjungan

pertama ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pelayanan

antenatal. Indikator ini digunakan untuk mengetahui jangkauan

pelayanan antenatal dan kemampuan program dalam

menggerakan masyarakat. Jumlah Ibu hamil pada tahun 2014

sebanyak 29.223 Ibu. Cakupan K1 tahun 2014 sebesar 94,2%

menurun dibandingkan 2 tahun sebelumnya, dimana pada tahun

2013 sebesar 95%, dan tahun 2012 sebesar 96,5%.

Cakupan K4 adalah gambaran besaran ibu hamil yang telah

mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar, minimal empat

kali kunjungan selama masa kehamilannya (sekali di trimester

pertama, sekali di trimester kedua dan dua kali di trimester ketiga).

Indikator ini berfungsi untuk menggambarkan tingkat perlindungan

dan kualitas pelayanan kesehatan pada ibu hamil.

Profil Kesehatan Sulawesi Barat tahun 2014 39

39

Cakupan K4 Provinsi Sulawesi Barat pada tahun 2014 sebesar 77,3%

dan sama dengan pencapaian tahun sebelumnya dengan

capaian 77,3%

Gambar 4.14

Persentase cakupan pelayanan K1 dan K4 ibu hamil

Di Sulawesi Barat Tahun 2006-2014

Sumber : Program Kesehatan Ibu dan Anak 2014

Dari grafik tersebut terlihat cakupan K4 di Sulawesi Barat menunjukan

capaian K1 berada di atas target SPM 90%. Namun Cakupan K1 dan

K4 mengalami penurunan selama 4 tahun terakhir. Hal ini

menunjukkan adanya penurunan program memberikan pelayanan

kepada masyarakat terutama bagi ibu hamil.

Keadaan ini perlu menjadi perhatian dari pemegang program untuk

meningkatkan program pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil

dan memberikan kesadaran kepada masyarakat (ibu hamil) untuk

memeriksakan kesehatannya, terutama kabupaten Mamasa yang

40

cakupannya terendah 88,7%. Gambaran cakupan pelayanan K1

dan K4 menurut Kabupaten di Sulawesi Barat, dapat di lihat pada

gambar 4.15 berikut:

Gambar 4.15

Persentase Cakupan Pelayanan K1 dan K4 Ibu Hamil

Menurut Kabupaten Tahun 2014

Sumber : Program Ibu dan Anak, Dinkes Sulbar, 2014

Berdasarkan grafik di atas, dapat dilihat bahwa tahun 2014

terdapat 1705 ibu hamil yang tidak pernah melakukan K1 ke

sarana Pelayanan Kesehatan dan terdapat 6643 ibu yang

tidak mendapatkan Pelayanan Antenatal minimal 4 kali

selama masa kehamilan.

b. Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Yang memiliki

kompetensi Kebidanan

Komplikasi dan kematian ibu maternal serta bayi baru lahir sebagian

besar terjadi pada masa disekitar persalinan, hal ini antara lain

Profil Kesehatan Sulawesi Barat tahun 2014 41

41

disebabkan pertolongan tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan

yang mempunyai kompetensi kebidanan (profesional).

Capaian Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat

hal dapat di lihat pada gambar 4.23 berikut ini :

Gambar 4.16

Persentase Cakupan Pertolongan Persalinan dan Nifas Oleh tenaga Kesehatan

Tahun 2007 - 2014

Sumber : Program Kesehatan Ibu dan Anak Bidang Bina Gizi dan KIA

Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat tahun 2014

Dalam kurun waktu 4 tahun terakhir, cakupan pertolongan persalinan

oleh tenaga kesehatan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Tahun 2014 cakupan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan sebesar 85,7%

menurun di bandingkan tahun 2013 sebesar 86,7 %.

42

Gambar 4.17

Jumlah Pertolongan Persalinan Oleh tenaga Kesehatan menurut

Kabupaten Tahun 2014

Berdasarkan grafik di atas, dapat dilihat bahwa tahun 2014

Kabupaten Polewali Mandar menjadi kabupaten dengan ibu

hamil terbanyak yang melakukan persallinan dengan dibantu

oleh Tenaga Kesehatan. Persentase Persalinan tertinggi adalah

kabupaten Mamuju Tebngah dengan capaian 100,8% dan

terendah adalah kabupaten Mamasa dengan capaian hanya

72,8%.

Untuk dapat meningkatkan cakupan linakes dapat didukung

dengan kegiatan Program Perencanaan Persalinan dan

Penanganan Komplikasi (P4K), kemitraan bidan dan dukun,

kelas ibu hamil serta pelatihan APN bagi bidan sehingga

dapat menambah keterampilan bidan menangani persalinan

disamping pelatihan – pelatihan lainnya yang menunjang

Profil Kesehatan Sulawesi Barat tahun 2014 43

43

peningkatan keterampilan bidan memberikan pelayanan di

masyarakat. Serta membuat rumah tunggu untuk ibu hamil

yang tempat tinggalnya jauh dari tenaga kesehatan dan

fasilitas kesehatan.

Serta diharapkan peran serta kader dalam mencari dan

membawa dengan memberikan sosialisasi penggunaan buku

KIA sehingga kader dapat mengenali tanda – tanda dan

mendeteksi secara dini.

c. Ibu Hamil Resiko Tinggi (Risti)/komplikasi yang ditangani

Risiko tinggi pada ibu hamil adalah keadaan penyimpangan dari

normal yang secara langsung menyebabkan kesakitan dan

kematian ibu maupun bayi. Risti/komplikasi kebidanan meliputi Hb<8

%, Tekanan darah tinggi (Sistole >140 mmHg, diastole > 90 mmHg),

oedema nyata, ekslampsia, perdarahan pervaginam, ketuban

pecah dini, letak lintang pada usia kehamilan > 36 minggu, letak

sungsang pada pramigravida, infeksi berat/sepsis, persalinan

prematur.

44

Gambar 4.18

Persentase Penanganan Komplikasi Ibu Hamil Di Sulawesi Barat Tahun

2009 – 2014

Sumber : Program Kesehatan Ibu Dinas Kesehatan Sulawesi Barat tahun

2014

Pada tahun 2014 terdapat 29.223 ibu hamil di Propinsi Sulawesi

Barat. Dari jumlah tersebut, diperkirakan terdapat sebanyak 5.845

ibu hamil risiko tinggi/komplikasi atau sebesar 20% dari jumlah ibu

hamil yang ada. Jumlah ibu hamil risiko tinggi/komplikasi yang

ditangani sebesar 3386 ibu hamil atau sebesar 57,9% .

Gambar 4.19

Persentase Penanganan Komplikasi Ibu Hamil menurut Kabupaten Di

Sulawesi Barat Tahun 2014

Sumber : Program Kesehatan Ibu dan Anak Dinkes Sulawesi Barat tahun

2014

Profil Kesehatan Sulawesi Barat tahun 2014 45

45

Persentase cakupan ibu hamil komplikasi yang ditangani (PK) yang

tertinggi adalah Kabupaten Majene (89,05%) dan yang terendah

adalah Kabupaten Mamasa (36,57%). Untuk dapat meningkatkan

cakupan PK dapat didukung dengan kegiatan Program

Perencanaan Persalinan dan Penanganan Komplikasi (P4K)

sehingga ibu hamil yang komplikasi dapat lebih dini terdeteksi jika

bumil melakukan ANC lengkap, dapat pula didukung oleh kegiatan

pemeriksaan ibu hamil secara brkala dengan menggunakan USG

Mobile yang dilakukan oleh dokter obgyn ke daerah yang sulit

dijangkau, kemitraan bidan dan dukun, kelas ibu hamil sera PKM

mampu PONED sehingga bila ada yang ditedeksi bumil resti oleh

nakes maupun masyarakat dapat terlebih dahulu ditangani di

Puskesmas PONED sebelum dirujuk ke RS. Tapi kendala yang ada

yaitu tim PONED di PKM masih banyak yang belum aktif memberikan

pelayanan disebabkan oleh tiak adanya alat PONED serta seringnya

terjadi pergeseran petugas kesehatan.

d. Pelayanan Nifas

Masa nifas adalah masa 6-8 minggu setelah persalinan dimana

organ reproduksi mulai mengalami masa pemulihan untuk kembali

normal, walau pada umumnya organ reproduksi akan kembali

normal dalam waktu 3 bulan pasca persalinan.

Dalam masa nifas, ibu seharusnya memperoleh pelayanan

kesehatan yang meliputi pemeriksaan kondisi umum, payudara,

dinding perut, perineum, kandung kemih dan organ kandungan.

46

Karena dengan perawatan nifas yang tepat akan memperkecil

resiko kelainan bahkan kematian ibu nifas.

Gambar 4.20

Cakupan Kunjungan Ibu Nifas Di Sulawesi Barat Tahun 2007 – 2014

Sumber : Program Ibu dan Anak Dinkes Sulawesi Barat tahun 2014

Terjadi penurunan pencapaian Pelayanan nifas dari tahun 2013

dengan capaian 86,7% mengalami penurunan pada tahun 2014

menjadi 83,3%.

Gambar 4.21

Cakupan Kunjungan Ibu Nifas Menurut Kabupaten Di Sulawesi Barat

Tahun 2014

Profil Kesehatan Sulawesi Barat tahun 2014 47

47

Kabupaten dengan Capaian tertinggi pelayanan nifas yang

mendapat pelayanan nifas sesuai standar tahun 2014 adalah

kabupaten Mamuju Tengah (101,7%) dan terendah Mamasa

(71,5%).

Persentase pelayanan nifas tidak sama dengan cakupan persalinan

oleh tenaga kesehatan. Terdapat kecenderungan cakupan

pelayanan nifas lebih tinggi dibandingkan dengan persalinan oleh

tenaga kesehatan. Hal ini menandakan bahwa adanya ibu hamil

yang dilahirkan dengan bantuan tenaga non kesehatan yang masa

nifasnya ditangani oleh tenaga kesehatan. Sebaliknya di Kabupaten

Polewali Mandar cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan lebih

rendah dibandingkan dengan cakupan pelayanan ibu nifas.

Sehingga dapat diasumsikan bahwa adanya ibu hamil yang

persalinnya lepas dari tenaga kesehatan dan mendapatkan

pelayanan nifas sebesar 1% atau sebanyak 267 ibu hamil.

e. Kunjungan Neonatus (KN2)

Kunjungan neonatus adalah bayi usia 0-28 hari yang kontak dengan

tenaga kesehatan untuk memperoleh pelayanan kesehatan

minimal tiga kali yaitu dua kali pada umur 0 -7 hari dan satu kali

pada umur 8-28 hari (KN2).

Berdasarkan laporan Program Kesehatan ibu dan Anak jumlah

perkiraan dengan risiko tinggi/komplikasi pada neonatal di Propinsi

Sulawesi Barat tahun 2014 sebanyak 3.924 bayi. Dari jumlah tersebut

48

cakupan penanganan neonatal resiko tinggi ditangani sebanyak

1.561 atau sebesar 39,8%.

Gambar 4.22

Cakupan Penanganan komplikasi Neonatal Menurut Kabupaten Di

Sulawesi Barat Tahun 2014

Sumber : Program Ibu dan Anak, Dinkes Sulawesi Barat 2013

Kabupaten dengan capaian penanganan komplikasi neonatal

tertinggi adalah kabupaten Majene dengan capaian 54,3% dan

yang terendah adalah kabupaten Mamuju Tengah dengan

capaian hanya 20,6%

Dokumen terkait