BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN
A. PELAYANAN KESEHATAN DASAR
1. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi
Seorang ibu mempunyai peran yang sangat besar di dalam pertumbuhan bayi dan perkembangan anak. Gangguan kesehatan yang dialami seorang ibu bisa berpengaruh pada kesehatan janin dalam kandungan hingga kelahiran dan masa pertumbuhan bayi dan anaknya.
Kebijakan tentang kesehatan ibu dan bayi baru lahir secara khusus berhubungan dengan pelayanan
antenatal, persalinan, nifas, dan perawatan bayi baru lahir yang diberikan di semua jenis fasilitas kesehatan dari posyandu sampai rumah sakit pemerintah maupun fasilitas kesehatan swasta.
a. Pelayanan Antenatal (K1 dan K4)
Masa kehamilan merupakan masa yang rawan kesehatan, baik kesehatan ibu yang mengandung maupun janin yang dikandungnya sehingga dalam masa kehamilan perlu dilakukan pemeriksaan secara teratur. Hal ini dilakukan guna menghindari gangguan sedini mungkin dari segala sesuatu yang membahayakan terhadap kesehatan ibu dan janin yang dikandungnya.
Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan professional (dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dokter umum dan bidan) kepada ibu hamil selama masa kehamilannya, yang mengikuti pedoman pelayanan antenatal yang ada diutamakan pada kegiatan promotif dan preventif. Hasil pelayanan antenatal dapat dilihat dari cakupan pelayanan K1 dan K4.
Cakupan K1 atau juga disebut akses pelayanan ibu hamil merupakan gambaran besaran ibu hamil yang telah melakukan kunjungan pertama ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal. Sedangkan K4 adalah gambaran besaran ibu hamil yang telah mendapatkan pelayanan ibu hamil sesuai dengan standar serta paling sedikit empat kali kunjungan, dengan distribusi sekali pada trisemester pertama, sekali pada trisemester kedua dan dua kali pada trisemester ketiga. Angka ini dapat dimanfaatkan untuk melihat kualitas pelayanan kesehatan
Laporan Profil Kesehatan Kabupaten/Kota se-Provinsi NTT pada tahun 2013 presentase rata-rata cakupan kunjungan ibu hamil (K1) sebesar (85 %), sedangkan pada tahun 2014 sebesar 113.657 (82 %), berarti terjadi penurunan sebanyak 3 %, sedangkan target yang harus dicapai adalah sebesar 100%, berarti untuk capaian cakupan K1 ini belum tercapai. Persentase rata-rata cakupan kunjungan ibu hamil (K4) tahun 2013 sebesar 64%, sedangkan pada tahun 2014 sebesar 63,2%, berarti terjadi penurunan sebanyak 1 %, sedangkan target pencapaian K1 dan K4 yang harus dicapai sesuai Renstra Dinkes. Prov. NTT sebesar 95%,berarti belum mencapai target.
Rincian cakupan K1 dan K4, pada masing-masing Kabupaten/Kota dapat dilihat pada Lampiran Tabel 29 dan Gambar 4.1 di bawah ini.
GAMBAR 4.1
PERSENTASE CAKUPAN PELAYANAN K1 DAN K4 IBU HAMIL MENURUT KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
TAHUN 2014
Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2014
Laporan Bidang Kesmas Dinkes Provinsi NTT Tahun 2014
Dari Gambar 4.1 di atas dapat kita lihat bahwa cakupan K1 dan K4 yang tertinggi adalah Kota Kupang sebesar 90 %, sedangkan yang terendah adalah di Kabupaten Sumba Barat Daya sebesar 36,2 %. Namun tidak ada satupun Kabupaten/Kota yang mencapai target.
b. Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan dengan Kompetensi Kebidanan
Proses persalinan dapat mempengaruhi keselamatan ibu dan bayinya, sehingga dapat mempengaruhi angka kematian bayi maupun angka kematian ibu saat melahirkan. Dan pertolongan persalinan oleh nakes ini juga harus dilakukan di fasilitas kesehatan. Pemerintah Provinsi NTT melalui Pergub. NTT No.42 Tahun 2009 telah membuat Kebijakan tentang Revolusi Kesehatan Ibu dan Anak (Revolusi KIA) dengan mottonya semua ibu hamil melahirkan di fasilitas kesehatan yang memadai. Fasilitas kesehatan yang memadai ini harus didukung 6 aspek. Dari 6 aspek, Aspek Sumber Daya Manusia (Bidan dan Perawat) harus memenuhi jumlah dan kompetensi pelatihan yang dimiliki sesuai standar. Disamping itu juga sarana/gedung juga menjadi perhatian. Oleh karena itu pemerintah selalu memperluas akses sarana, pelayanan, serta menambah tenaga kesehatan dengan menempatkan bidan-bidan di desa dan pemenuhan tenaga bidan di setiap puskesmas menjadi minimal 5 tenaga. Hal ini sesuai dengan Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2010-2014 yang telah ditetapkan dalam Perpres No.5 tahun 2010 yaitu meningkatkan pengembangan dan pembangunan SDM kesehatan yang merata dan bermutu.
Komplikasi dan kematian ibu maternal dan bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa di sekitar persalinan, hal ini antara lain disebabkan pertolongan tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi kebidanan (profesional). Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan termasuk pendampingan pada tahun 2013 cakupan persalinan nakes sebesar 77,7%, pada tahun 2014 mencapai 75,4 % berarti
terjadi penurunan, sedangkan target yang harus dicapai sesuai Renstra Dinkes. Prov. NTT pada tahun 2014 adalah sebesar 90%, berarti tidak mencapai target. Rincian cakupan persalinan ditolong oleh nakes per Kabupaten/Kota dapat dilihat pada Lampiran Tabel 29 dan Gambar 4.2.
Pada Gambar 4.2 di bawah ini adalah gambaran tentang Cakupan persalinan yang ditolong nakes per kabupaten/kota tahun 2014 adalah sebagai berikut :
GAMBAR 4.2
PERSENTASE CAKUPAN PERTOLONGAN PERSALINAN OLEH TENAGA KESEHATAN MENURUT KABUPATEN/KOTA
DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2014
Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2014
Laporan Bidang Kesmas Dinkes Provinsi NTT Tahun 2014
Dari Gambar 4.2 tersebut di atas dapat dilihat bahwa cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Provinsi NTT tahun 2014 yang tertinggi adalah di Kabupaten .Flores Timur
sebesar 131,7 % (di atas 100% karena ada ibu hamil yang datang dari luar wilayah) sedangkan yang terendah adalah Kab. TTS sebesar 60,8 %.
Dari Lampiran Tabel 29 kita dapat melihat gambaran tentang pelayanan ibu Nifas dan cakupan vitamin A pada ibu Nifas. Pelayanan pada ibu nifas di semua Kabupaten/Kota sudah berjalan dengan baik berkisar antara 98 % - 100%. Artinya cakupan pelayanan nifas Provinsi NTT sudah mencapai 99,2 %. Sedangkan untuk cakupan vitamin A pada ibu nifas hasilnya sebesar 74,5
%, dengan cakupan tertinggi adalah Kabupaten Flores Timur sebesar 132 % (melampau target), sedangkan yang paling rendah adalah Kabupaten Rote Ndao sebesar (57,43%) dan Sabu Raijua sebesar 58,6%).
c. Imunisasi Ibu Hamil (TT2+)
Imunisasi yang diberikan pada ibu hamil adalah mulai dari TT1, TT2, TT3, TT4, TT5 dan TT2+. Indikator imunisasi ibu hamil yang digunakan adalah TT2+, dimana hasilnya hanya sebesar 25%. Gambaran per Kabupaten/Kota dapat kita lihat pada Lampiran Tabel 30 dan gambar 4.3 di bawah ini.
GAMBAR 4.3
PERSENTASE CAKUPAN IMUNISASI TT2+ PADA IBU HAMIL MENURUT KABUPATEN/KOTA
DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2014
Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2014
Laporan Bidang Kesmas Dinkes Provinsi NTT Tahun 2014
Pada Gambar 4.3 di atas dapat diketahui bahwa cakupan imunisasi ibu hamil TT2+
pada tahun 2014 yang tertinggi di Provinsi NTT yaitu Kota Kupang (79,9 %), sedangkan yang
d. Tablet Fe3
Tablet Fe3 yang diberikan pada ibu hamil adalah salah satu program untuk mencegah terjadinya anemia pada ibu hamil, dimana hasilnya hanya sebesar 72,37 %. Gambaran per Kabupaten/Kota dapat kita lihat pada Lampiran Tabel 32 dan gambar 4.4 di bawah ini.
GAMBAR 4.4
PERSENTASE CAKUPAN Fe3 PADA IBU HAMIL MENURUT KABUPATEN/KOTA
DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2014
Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2014
Laporan Bidang Kesmas Dinkes Provinsi NTT Tahun 2014
Pada Gambar 4.4 tersebut di atas dapat diketahui bahwa cakupan Fe3 pada ibu hamil tahun 2014 yang tertinggi di Provinsi NTT yaitu Kabupaten Manggarai Barat (82,96 %), sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Sikka dan Nagekeo sebesar 53 %.
e. Penanganan Komplikasi Neonatal
Penanganan Komplikasi Kebidanan dan Neonatal, adalah penanganan yang diberikan bagi ibu hamil dan neonatal yang mengalami resiko. Ibu hamil yang beresiko tinggi adalah kelompok ibu hamil dengan K1 dan K4 yang rendah, umur < 20 tahun, umur > 35 tahun, kehamilan ke-4 atau lebih, tinggal di pedesaan dan tingkat pendidikan dan status ekonomi rendah.
Penanganan komplikasi kebidanan pada tahun 2014 oleh tenaga kesehatan bagi ibu hamil adalah sebesar 61,85 %, yang seharusnya ditargetkan 100 %. Gambaran tentang penanganan komplikasi kebidanan menurut Kab/Kota dapat dilihat pada Lampiran Tabel 33 dan gambar 4.5 di bawah ini.
GAMBAR 4.5
PERSENTASE CAKUPAN KOMPLIKASI KEBIDANAN MENURUT KABUPATEN/KOTA
DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2014
Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2014
Pada Gambar 4.5 cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani pada tahun 2014 yang tertinggi di Provinsi NTT yaitu Kabupaten Ngada (173 %), melampaui target karena adanya ibu hamil yang datang dari luar wilayah, sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Sabu Raijua sebesar 9,2 %.
Penanganan komplikasi Neonatal yang diberikan pada tahun 2014 oleh tenaga kesehatan bagi Neonatal adalah 33 % . Gambaran tentang penanganan komplikasi kebidanan pada Neonatal menurut Kab/Kota dapat dilihat pada Lampiran Tabel 33 dan gambar 4.6 di bawah ini.
GAMBAR 4.6
PERSENTASE PENANGANAN KOMPLIKASI NEONATAL MENURUT KABUPATEN/KOTA
DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2014
Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2014
Pada Gambar 4.6 tersebut di atas cakupan penanganan neonatal yang ditangani yang tertinggi di Provinsi NTT yaitu Kabupaten Flores Timur ( 117 %), melampaui target karena penetapan sasaran yang kurang tepat, sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Alor sebesar 7,5 %.
f. Pelayanan Keluarga Berencana (KB)
Masa subur seorang wanita memiliki peran penting bagi terjadinya kehamilan sehingga peluang wanita melahirkan cukup tinggi. Menurut hasil penelitian, usia subur seorang wanita biasanya antara umur 15-49 tahun. Oleh karena itu untuk mengatur jumlah kelahiran atau menjarangkan kehamilan, wanita lebih diprioritaskan untuk menggunakan alat/cara KB. Tingkat pencapaian pelayanan KB dapat digambarkan melalui cakupan peserta KB yang ditunjukkan melalui kelompok sasaran program yang sedang/pernah menggunakan alat kontrasepsi menurut daerah tempat tinggal, tempat pelayanan serta jenis kontrasepsi yang digunakan akseptor.
Laporan Profil Kesehatan Kabupaten/Kota se-Provinsi NTT jumlah PUS yang menjadi peserta KB aktif tahun 2013 sebanyak 534.278 (60,1%), sedangkan tahun 2014 sebesar 428.018 (45,7 %) berarti pada tahun 2014 terjadi penurunan jumlah persentase peserta KB aktif. Untuk KB baru pada tahun 2014 sebanyak 99.701 (10,6%. Rincian peserta KB Aktif dan Baru menurut Kabupaten/Kota dapat di lihat Lampiran Tabel 36 dan Gambar 4.7 berikut ini.
GAMBAR 4.7
PERSENTASE KB AKTIF PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2014
Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2014
Dari Gambar 4.7 di atas diketahui bahwa penggunaan alat KB yang tertinggi adalah suntik (53,53) dan yang palig rendah adalah MOP (0,78%).
g. Berat Badan Bayi Lahir Rendah (BBLR)
Berat Badan Lahir Rendah (kurang dari 2.500 gram) merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal. BBLR dibedakan dalam 2 kategori yaitu : BBLR karena prematur (usia kandungan kurang dari 37 minggu) atau BBLR karena Intrauterine Growth Retardation (IUGR), yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi berat badannya kurang. Di negara berkembang banyak BBLR dengan IUGR karena ibu berstatus gizi buruk, anemia, malaria, dan penyakit menular seksual (PMS) sebelum konsepsi atau pada saat hamil.
Laporan Profil Kesehatan Kabupaten/Kota 2013 jumlah bayi dengan BBLR sebesar 4.457, sedangkan pada tahun 2014 menjadi sebesar 3.830 (5,1 %), berarti terjadi penurunan. Rincian persentase Bayi dengan BBLR di kabupaten/kota pada tahun 2014 disajikan pada lampiran Tabel 37 dan Gambar 4.8 di bawah ini.
GAMBAR 4.8
PERSENTASE BAYI DENGAN BBLR MENURUT KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2014
Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2014
Dari gambar 4.8 tersebut di atas dapat diketahui bahwa Persentase Kabupaten/Kota se-Provinsi NTT dengan BBLR tertinggi terdapat di Kabupaten Nagekeo sebesar 10,5 % sedangkan yang terendah Kabupaten Alor yaitu sebesar 0,1 %.
h. Kunjungan Neonatus (KN1 dan KN Lengkap)
Bayi hingga usia kurang satu bulan merupakan golongan umur yang memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi. Upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan pada neonatus (0-28 hari) minimal dua kali, satu kali pada umur 0-7 hari dan satu kali lagi pada umur 8-28 hari. Dalam melaksanakan pelayanan neonatus, petugas kesehatan disamping melakukan pemeriksaan kesehatan bayi juga melakukan konseling perawatan bayi kepada ibu. Pelayanan tersebut meliputi pelayanan kesehatan neonatal dasar yang terdiri dari tindakan resusitasi, pencegahan hipotermia, pemberian ASI dini dan ASI eksklusif, pencegahan infeksi (perawatan mata, perawatan tali pusat, perawatan kulit dan pemberian imunisasi), pemberian vitamin K, penyuluhan perawatan neonatus di rumah menggunakan buku KIA.
Berdasarkan Renstra Dinkes. Provinsi NTT pada tahun 2014 target cakupan Kunjungan Neonatus (KN Lengkap) ini adalah sebesar 90%, sedangkan pada laporan Profil Kesehatan kabupaten/kota se-Provinsi NTT, persentase rata-rata cakupan Kunjungan Neonatus (KN Lengkap) tahun 2013 sebesar 88,9%, sedangkan pada tahun 2014 sebesar 84,76 %, berarti terjadi penurunan sedangkan KN1 sudah mencapai (90,7 %). Gambaran per Kabupaten/Kota K1 dan KN3 dapat dilihat pada Lampiran Tabel 38 dan Gambar 4.9 dan 4.10 berikut ini.
GAMBAR 4.9
PERSENTASE CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL 1 KALI (KN1) MENURUT KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
TAHUN 2014
Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2014
GAMBAR 4.10
PERSENTASE CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL 2 KALI (KN3) MENURUT KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
TAHUN 2014
Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2014
Pada gambar 4.10 di atas dapat dilihat bahwa cakupan Kunjungan Neonatus Lengkap (KN3) yang tertinggi adalah Kota Kupang (91,7 %), sedangkan yang terendah adalah Kabupaten TTS (56 %) dan kabupaten Sabu raijua (57,2 %).
i. Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif
Pemberian ASI Eksklusif pada bayi diberikan pada usia 0 – 6 bulan. Cakupang pemerian ASI Eklusif di Provinsi NTT baru mencapai 70,1 %. Gambaran menurut Kabupaten/Kota dapat kita lihat pada Lampiran Tabel 39 dan Gambar 4.11 di bawah ini.
GAMBAR 4.11
PERSENTASE CAKUPAN ASI EKSKLUSIF MENURUT KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2014
Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2014 Laporan Bidang P2MK Dinas Kesehatan Tahun 2014
Dari gambar 4.11 tersebut di atas dapat diketahui bahwa Persentase Kabupaten/Kota se-Provinsi NTT dengan ASI Eksklusif tertinggi terdapat di Kabupaten Sumba Tengah sebesar 92,5 % sedangkan yang terendah Kabupaten Alor yaitu sebesar 46,9 %.
j. Pelayanan Kesehatan Bayi
Laporan Profil Kesehatan Kabupaten/Kota tahun 2013 menunjukkan bahwa persentase cakupan pelayanan bayi pada tahun 2013 adalah sebesar (81,6%), sedangkan pada tahun 2014 sebesar 83,6%, sedangkan target yang harus dicapai 90%, berarti pencapaian dari tahun 2013 s/d 2014 belum pernah mencapai target. Rincian cakupan kunjungan bayi menurut kabupaten/kota pada tahun 2014 dapat dilihat pada Lampiran Tabel 40 dan Gambar 4.12 di bawah ini.
GAMBAR 4.12
PERSENTASE CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN BAYI
MENURUT KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2014
Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2014
Dari gambar 4.12 di atas dapat di lihat bahwa kunjungan bayi yang paling tinggi di Kabupaten Sumba Barat Daya sebesar (262 %), sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Sumba Barat dan Sumba Timur 0 %.
k. Kunjungan Balita
Cakupan kunjungan balita (minimal 8 kali) pada tahun 2014 adalah sebesar (80 %). Rincian cakupan kunjungan balita menurut kabupaten/kota pada tahun 2014 dapat dilihat pada Lampiran Tabel 46 dan Gambar 4.13 di bawah ini.
GAMBAR 4.13
PERSENTASE CAKUPAN KUNJUNGAN BALITA (MINIMAL 8 KALI) MENURUT KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
TAHUN 2014
Dari gambar 4.13 di atas dapat di lihat bahwa kunjungan balita yang paling tinggi di Kabupaten Manggarai sebesar 148%, sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Manggarai Barat sebesar 32 %, Kabupaten Alor, Lembata, Sumba Barat Daya dan Sumba Barat tidak melaporkan.
l. Universal Child Immunization (UCI)
Cakupan UCI ini diukur dari jumlah cakupan imunisasi dasar yang lengkap pada setiap desa yang mencapai 100%. Cakupan imunisasi dasar lengkap ini dapat kita lihat pada tabel 42, bahwa IDL yang mencapai 100% hanya Kota Kupang yaitu sebesar 103,9%. Cakupan Universal Child Imunization (UCI) pada Provinsi NTT tahun 2014 sebesar hanya sebesar 72,02 %. Rincian menurut Kabupaten/Kota dapat kita lihat pada Lampiran Tabel 41 dan gambar 4.14 di bawah ini.
GAMBAR 4.14
PERSENTASE UCI MENURUT KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2014
Laporan Bidang P2MK Dinas Kesehatan Prov.NTT Tahun 2014
Dari gambar 4.14 di atas dapat di lihat bahwa UCI Kabupaten yang tertinggi adalah Kabupaten Kupang sebesar 90,4 %, sedangkan IDL yang tertinggi adalah Kota Kupang. UCI yang terendah adalah Kabupaten Malaka sebesar 25,4 %, sedangkan IDL yang terendah adalah Kabuapaten Manggarai Timur dan Rote Ndao yaitu sama-sama 0%.
m. Pemberian Tablet Vitamin A pada bayi dan Balita
Vitamin A adalah salah satu zat gizi mikro yang diperlukan oleh tubuh yang berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan kesehatan mata. Anak yang menderita kekurangan vitamin A jika terserang penyakit campak, diare atau penyakit infeksi lain, penyakit tersebut akan bertambah parah dan dapat mengakibatkan kematian. Infeksi akan menghambat kemampuan tubuh untuk menyerap zat-zat gizi dan pada saat yang sama akan mengikis habis simpanan vitamin A dalam tubuh. Kekurangan vitamin A untuk jangka waktu yang lama juga akan mengakibatkan terjadinya gangguan pada mata yang jika tidak segera ditangani dapat mengakibatkan kebutaan.
Pemberian vitamain pada bayi dan balita dalam setahun dilakukan 2 kali yaitu pada bulan Februari dan Agustus. Cakupan pemberian vitamin pada tahun 2014 untuk bayi sebesar 88,11 %, sedangkan pada balita sebesar 93,44 %. Gambaran cakupan vitamin A ini dapat dilihat pada Lampiran Tabel 44 dan gambar 4.15 di bawah ini.
GAMBAR 4.15
PERSENTASE CAKUPAN VITAMIN A PADA BAYI DAN BALITA MENURUT KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
TAHUN 2014
Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2014
Dari gambar 4.15 di atas dapat di lihat bahwa vitamin A pada bayi yang tertinggi adalah Kab.
Malaka yaitu sebesar 98,04 % sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Sabu Raijua yaitu
Lembata, Manggarai Timur, Manggarai, Sumba Barat dan Sumba Tengah, semua > 100%, sedangkan yang paling rendah adalah Kota Kupang sebesar 11,68 %.
n. Baduta dan Balita Bawah Garis Merah (BGM)
Berdasarkan pencatatan Kartu Menuju Sehat (KMS) dapat diketahui bahwa Baduta atau Balita yang ditimbang apakah berat badannya di Bawah Garis Merah. Pada tahun 2014 Baduta yang berada pada BGM adalah sebesar 3,5 %, sedangkan pada Balita adalah sebesar 3,2%. Gambaran BGM pada Baduta dapat kita lihat pada lampiran tabel 45, sedangkan Balita pada Lampiran Tabel 47 dan gambar 4.16 di bawah ini.
GAMBAR 4.16
PERSENTASE BGM PADA BADUTA DAN BALITA
MENURUT KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2014
Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2014
Dari gambar 4.16 di atas dapat di lihat bahwa kunjungan Baduta BGM yang paling tinggi di Kabupaten TTS sebesar 26 %, sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Ende sebesar 0,6 % dan Sumba Tengah sebesar 0,3 %. BGM pada Balita yang paling tinggi di Kabupaten TTS sebesar 7,4 %, sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Ende sebesar 0,9 %
o. Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan
Pada tahun 2014 dari 3.304 jumlah balita Gizi Buruk yang ditemukan semuanya mendapat perawatan (100%). Gambaran Kabupaten/Kota tentang Kasus Gizi Buruk ini dapat dilihat pada Lampiran Tabel 48.
p. Pelayanan Kesehatan Anak Usia Sekolah
Pelayanan kesehatan anak usia sekolah ini meliputi Penjaringan Kesehatan Siswa SD dimana diketahui bahwa anak sekolah yang mendapat pelayanan sebesar 61 % (Lampiran Tabel 49). Untuk kesehatan gigi anak sekolah yang dilakukan melalui kegiatan Upaya Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) dimana dari 76,54 % yang perlu mendapat perawatan, namun yang dirawat hanya 59 %. Gambaran Kabupaten/Kota dapat dilihat pada Lampiran Tabel 51 dan gambar 4.17 berikut ini.
GAMBAR 4.17
PERSENTASE CAKUPAN SISWA YANG MENDAPAT PERAWATAN GIGI MENURUT KABUPATEN/KOTA
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2014
Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2014
Gambar 4.17 tersebut di atas menunjukkan bahwa cakupan Kabupaten/Kota yang melakukan perawatan gigi tertinggi adalah kabupaten Sumba Tengah, TTU dan Sumba Barat Daya masing-masing 100%, sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Rote Ndao (26,7 %).
q. Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut (USILA)
Pelayanan kesehatan usia lanjut, adalah pelayanan kesehatan yang diberikan pada kelompok umur 60 tahun ke atas. Dari pengumpulan data profil kesehatan Kabupaten/Kota tahun 2014, diketahui cakupan pelayanan kesehatan usila ini sebesar 58,98 %. Gambaran Kabupaten/Kota dapat dilihat pada Lampiran Tabel 52 dan gambar 4.18 berikut ini.
GAMBAR 4.18
PERSENTASE CAKUPAN USILA YANG MENDAPAT PERAWATAN MENURUT KABUPATEN/KOTA
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR TAHUN 2014
Gambar tersebut di atas menunjukkan bahwa cakupan Kabupaten/Kota yang mendapat perawatan kesehatani tertinggi adalah kabupaten Manggarai dan Sumba Timur masing-masing 100%, sedangkan yang terendah adalah Kabupaten TTU (11, 58 %).