• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sasaran V : pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan

6. Pelayanan Kesehatan Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat)

Bidang Penunjang Medis

Seperti yang telah diketahui bahwa peran penunjang medis pada sebuah rumah sakit adalah penting, karena tanpa pelayanan penunjang medis, proses perawatan dapat jadi terhambat. Peran seperti bidang Farmasi, Laboratorium, Rehabilitasi Medis dan Radiologi menjadi sangat penting disamping peranan Unit Gizi, Instalasi Binatu, Cleaning Service dan yang lainnya.

Lima Dimensi Respons Dokter tentang Pelaksanaan Budaya Keselamatan Pasien Rumah Sakit Umum Haji Medan

Keselamatan pasien rumah sakit adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman, mencegah terjadinya cidera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.

Untuk itu sangat penting adanya keselamatan pasien di Rumah Sakit Umum Haji Medan. Menjadikan keselamatan pasien sebagai budaya yang harus di prioritaskan khususnya oleh dokter yang terpapar langsung dalam memberikan pelayanan medis terhadap pasien. Sebab, dokter sangat berpotensi untuk mendukung dan membangun budaya keselamatan pasien di Rumah Sakit Umum Haji Medan.

Berdasarkan teori-teori yang sudah dijelaskan, maka pengukuran budaya keselamatan pasien yang ada di Rumah Sakit Umum Haji Medan akan mendapat

gambaran dimensi-dimensi budaya keselamatan pasien yang menjadi kekuatan dan kelemahan oleh dokter di Rumah Sakit Umum Haji Medan. Lima dimensi keselamatan pasien yang digunakan untuk menggambarkan budaya keselamatan pasien di Rumah Sakit Umum Haji Medan adalah budaya keterbukaan (open culture), budaya pelaporan (reporting culture), budaya keadilan (just culture), budaya pembelajaran (learning culture), budaya informasi (informed culture).

Budaya keselamatan pasien berkaitan dengan sejauh mana organisasi memprioritaskan dan mendukung peningkatan keselamatan pasien dengan aman.

Organisasi dengan budaya keselamatan positif memiliki komunitas dengan dengan atas dasar saling percaya, persepsi bersama tentang pentingnya keselamatan pasien, keyakinanan pada efektifitas langkah-langkah pencegahan,dan dukungan bagi tenaga kerja.

Hasil wawancara dengan sumber Informan (SI) yaitu dokter umum dan dokter spesialis (spesialis penyakit dalam, spesialis bedah, spesialis obgyn dan spesialis anak) tentang Respons Dokter tentang Pelaksanaan Budaya Keselamatan Pasien (patient safety culture) di Rumah Sakit Haji Medan Tahun 2019, adalah sebagai berikut :

Budaya keterbukaan (open culture). Budaya ini menggambarkan semua dokter di rumah sakit merasa nyaman berdiskusi tentang insiden yang terjadi atau topik tentang keselamatan dengan teman satu tim ataupun dengan pimpinan, komunikasi terbuka dapat juga diwujudkan pada saat serah terima pasien. Briefing staff maupun morning report.

Hasil wawancara dengan SI 1 di unit IGD Rumah Sakit Umum Haji Medan tentang komunikasi yang berjalan sesama tim adalah sebagai berikut:

“Hubungan dokter dengan dokter lain baik baik aja, saling menghargai satu dan yang lain, ketika bekerja sama dengan satu tim ya nyaman .”

(SI 1)

SI 1 mengatakan bahwa komunikasi yang berjalan sesama tim di unit IGD berjalan dengan baik, menghargai satu dengan lainnya, bekerjasama dengan baik sebagai tim.

Hasil wawancara dengan SI 2 di unit IGD Rumah Sakit Umum Haji Medan tentang komunikasi yang berjalan sesama tim adalah sebagai berikut:

“Menurut saya,timnya sangat menghargai satu sama lain, disini nyaman untuk bekerja, saling mendukung iya“ (SI 2)

SI 2 mengatakan bahwa tim di unit IGD menghargai satu sama lain, nyaman untuk bekerjasama sebagai tim, dan saling mendukung.

Hasil wawancara dengan SI 3 di unit IGD Rumah Sakit Umum Haji Medan tentang komunikasi yang berjalan sesama tim adalah sebagai berikut:

“Komunikasi disini baik, saling menghargai namanya satu tim ya harus bekerjasama satu sama lain.” (SI3)

SI 3 mengatakan bahwa komunikasi yang berjalan di unit IGD baik, menghargai satu dengan lainnya, bekerjasama sebagai tim.

Hasil wawancara dengan SI 4 di Poli Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Haji Medan tentang komunikasi yang berjalan sesama tim adalah sebagai berikut:

“Komunikasi, saya nyaman ketika bekerja sama sebagai tim, unit satu dengan yang lainnya saling mendukung, komunikasi tim dokter disini sudah baik.” (SI 4)

SI 4 mengatakan bahwa komunikasi yang berjalan sudah baik, , nyaman bekerjasama sebagai tim, unit atau poli satu dengan yang lainnya saling mendukung.

Hasil wawancara dengan SI 5 di Poli Kebidanan Rumah Sakit Umum Haji Medan tentang komunikasi yang berjalan sesama tim adalah sebagai berikut:

“Di poli ini, tim dokter disini dengan perawat-perawatnya komunikasi sudah baik, saling menghargai, nyaman bekerja disini, ketika bekerja sama dengan dokter spesialis lain nyaman-nyaman aja sih, untuk tim dokter kandungan sudah cukup baik lah.“ (SI 5)

SI 5 mengatakan bahwa komunikasi yang berjalan antar dokter dengan perawat sudah baik, saling menghargai,nyaman bekerja sama dengan dokter lainnya, tim dokter kandungan di Rumah Sakit Umum Haji Medan sudah cukup baik.

Hasil wawancara dengan SI 6 di Poli Pediatri Rumah Sakit Umum Haji Medan tentang komunikasi yang berjalan sesama tim adalah sebagai berikut:

“Komunikasi yang terjadi di tim antar dokter dengan perawat ataupun dokter dengan sesama dokter di poli ataupun rawat inap ya sudah lumayanlah.” (SI 6)

SI 6 mengatakan bahwa komunikasi yang berjalan dengan perawat atau dokter cukup baik.

Hasil wawancara dengan SI 7 di Poli Bedah Rumah Sakit Umum Haji Medan tentang komunikasi yang berjalan sesama tim adalah sebagai berikut:

“Kerjasama dalam tim disini sudah baik, sudah nyaman kalau bekerja disini, kalau bekerjasama dengan spesialis-spesialis lain tidak ada kaitannya.“ (SI 7)

SI 7 mengatakan bahwa kerjasama sebagai tim sudah baik, nyaman ketika bekerja, menurut dokter Yusril bekerjasama dengan dokter spesialis lain tidak ada kaitannya.

Berdasarkan hasil wawancara dengan 7 informan diatas dapat dimaknai bahwa komunikasi yang berjalan sesama dokter maupun tenaga kesehatan lain seperti perawat berjalan dengan baik sebagai satu tim, saling menghargai, merasa nyaman bekerja sama sebagai tim.

Hasil wawancara dengan SI 1 di unit IGD Rumah Sakit Umum Haji Medan tentang bagaimana kerjasama dalam unit dan antar unit yang berjalan adalah sebagai berikut:

“pasien rame minta tolongnya dari unit atau ruangan lain tapi melalui MANGO (manager on duty) saya lupa kepanjangannya itu seperti koordinatornya gitu, pengganti direktur lah seumpamanya kalau lagi jam jaganya, biasanya kami melapor ke MANGO lalu nanti pihak mereka yang ngarahin siapa yang akan dikirim untuk membantu itu sih biasanya kalau sudah repot pasien sampai ke belakang-belakang terus yang gawat-gawat, kalau yang pasiennya aman- aman sih masih bisa diatasin, tapi kalau pasiennya datang bersamaan dengan yang gawat baru butuh bantuan, tapi itu jarang sih terjadi karena biasanya kalau pasien rame masih bisa teratasi dengan tim yang ada.“ (SI 1)

SI 1 mengatakan bahwa ketika beban kerja tinggi, pasien ramai, butuh bantuan tenaga dokter lain, minta bantuan dari unit atau ruangan lain melalui MANGO, tim tersebut yang mengarahkan siapa yang akan dikirim untuk membantu. Dokter IGD akan meminta bantuan ketika kondisi pasien ramai dengan kondisi yang gawat-gawat saja, kalau pasien ramai dengan kondisi yang aman tim dokter di unit IGD masih bisa mengatasinya.

Hasil wawancara dengan SI 2 di unit IGD Rumah Sakit Umum Haji Medan tentang bagaimana kerjasama dalam unit dan antar unit yang berjalan adalah sebagai berikut:

“Pekerjaan dilakukan dengan cepat sebagai tim, Menurut saya kurang sih sebagai tim, karena jarang, misalnya ada masalah ni disini lama diajukan ke atas, kecuali masalahnya ekstrim baru cepet respon dari atas untuk menyelesaikan, kalau yang biasa-biasa masih bisa ditangin disini.“ (SI 2) SI 2 mengatakan bahwa pekerjaan dilakukan dengan cepat sebagai tim masih kurang, ketika ada masalah tim di IGD lama mengajukan ke pihak manajemen rumah sakit. Ketika masalah yang ekstrim saja manajemen rumah sakit cepat merespon.

Hasil wawancara dengan SI 3 di unit IGD Rumah Sakit Umum Haji Medan tentang bagaimana kerjasama dalam unit dan antar unit yang berjalan adalah sebagai berikut:

“Kalau IGD harus cepat, nanti datang pasien ditensi oleh perawat, saya datang lalu periksa penyakitnya apa. Ketika beban kerja tinggi , kebutuhan tenaga dokter. Semua masing-masing punya job nya jadi kalau ada masalah ya ditangin sendiri, dipala-palakan istilahnya, ya kalaupun kurang tidak ada dokter dari luar ikut membantu, karenakan kita kadang yang jaga dokternya 2, 1 diruangan 1 di IGD, kalau diruangan tidak ada pasien ya dia datang bantu kita, tergantung kalau pasiennya banyak dibantu, kalau tidak ya sendiri.” (SI 3)

SI 3 mengatakan bahwa semua mempunyai tugas dan fungsi masing-masing ketika ada masalah ditangi sendiri. Diusahakan untuk ditangani sendiri, ketika tidakada dokter dibantu dokter dari unit lain. Tetapi, kalau kondisi pasien masih bisa diatasi, tidak meminta bantuan dokter lain.

Hasil wawancara dengan SI 4 di Poli Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Haji Medan tentang bagaimana kerjasama dalam unit dan antar unit yang

“Disini bisa bekerja sama dengan cepat tim, untuk kerjasama. Ketika kekurangan tenaga dokter saat pasien sedang ramai dokter yang sedang tidak bertugas bisa langsung dikontak, ketika hari ini kita tidak bisa datang, bisa langsung telfon teman untuk menggantikannya, langsung dihubungi saja.” (SI 4)

SI 4 mengatakan bahwa tim dokter bisa bekerja sama dengan baik, ketika pasien ramai kekurangan tenaga dokter bisa langsung menghubungi dokter yang tidak bertugas, ketika tidak dapat hadir bisa menhubungi dokter lain untuk menggantikan.

Hasil wawancara dengan SI 5 di Poli Kebidanan Rumah Sakit Umum Haji Medan tentang bagaimana kerjasama dalam unit dan antar unit yang berjalan adalah sebagai berikut:

“Pasien ramai, pasien meningkat, di poli sih gak pernah sampai butuh bantuan masih terartasi, tapi kalau di ruang rawat inap ada pasien darurat misalnya terus kita itu sudah komunikai sebenarnya, misalnya saya mau keluar kota itu saya sudah komunikasi, jadi bisa diatasi, jadi komunikasikan saja.“ (SI 5)

SI 5 mengatakan bahwa di Poli Kebidanan tidak pernah sampai butuh bantuan dokter tambahan untuk menangani pasien, tetapi ketika di ruang rawat inap ada pasien dengan kondisi gawat darurat dokter jaga tidak dapat hadir sudah dikomunikasi dengan dokter yang lain. Jadi tinggal komunikasi dengan dokter lain saja.

Hasil wawancara dengan SI 6 di Poli Pediatri Rumah Sakit Umum Haji Medan tentang bagaimana kerjasama dalam unit dan antar unit yang berjalan adalah sebagai berikut:

“Ketika bekerjasama dengan dokter lainpun saya nyaman. Secara keseluruhan dalam memberikan pelayanan dengan baik sedanglah.“

(SI 6)

SI 6 mengatakan bahwa ketika bekerjasama dengan dokter lain nyaman, namun dalam memberikan pelayanan dengan baik secara keseluruh masih cukup baik.

Hasil wawancara dengan SI 7 di Poli Bedah Rumah Sakit Umum Haji Medan tentang bagaimana kerjasama dalam unit dan antar unit yang berjalan adalah sebagai berikut:

“Padat pasien tidak pernah mengalami kekurangan tenaga, selalu teratasi.“ (SI 7)

SI 7 mengatakan bahwa tidak pernah mengalami kekurangan tenaga, selalu teratasi.

Berdasarkan hasil wawancara diatas dengan 7 informan, dapat dimaknai bahwa kerjasama dokter dengan sesama dokter sudah cukup baik, di pelayanan Instalasi Gawat Darurat dan ada beberapa spesialis yang masih kurang tenaga dokter sehingga sering mengalami beban kerja tinggi karena kepadatan pasien walapun begitu dokter di pelayanan IGD dan spesialis lain masih bisa mengatasinya dengan jumlah dokter yang ada. Ketikadokter jaga tidak dapat hadir dapat kontak langsung dokter lain via telfon untuk segera menggantikan dokter yang berhalangan hadir.

Hasil wawancara dengan SI 1 di Unit IGD Rumah Sakit Umum Haji Medan tentang bagaimana persepsi keselamatan pasien adalah sebagai berikut:

“Iklim kerja RS yang mendukung keselamatan pasien seperti SKP, 7 langkah sudah mulai dijalankan. Sudah mulai dijalankan, patient safety sudah mulai dijalankan, tapi kalau kurangnya sih masih ada yang kurang, semenjak akreditasi itu memang sudah digalakkan lagi, ya cumankan namanya juga orang kadang ada lupanya, jadi belum terlalu baik masih ada yang kurang-kurang.“ (SI 1)

SI 1 mengatakan bahwa iklim kerja yang mendukung program keselamatan pasien sudah dijalankan setelah akreditasi, seperti standar keselamatan pasien, 7 langkah keselamatan pasien. Tetapi belum menyeluruh masih ada yang kurang-kurang.

Hasil wawancara dengan SI 2 di Unit IGD Rumah Sakit Umum Haji Medan tentang bagaimana persepsi keselamatan pasien adalah sebagai berikut:

“Untuk patient safety saya rasa sudah cukup baik lah ya, untuk obat-obat alergi, identifikasi pasien, SKP sudah berjalan. Iklim kerja sudah mendukung keselamatan pasien rumah sakit sudah mendukung.“ (SI 2) SI 2 mengatakan bahwa program keselamatan pasien di Rumah Sakit Umum Haji Medan cukup baik, standar keselamatan pasien sudah berjalan, iklim kerja yang di sediakan pihak rumah sakit sudah mendukung keselamatan pasien.

Hasil wawancara dengan SI 3 di Unit IGD Rumah Sakit Umum Haji Medan tentang bagaimana persepsi keselamatan pasien adalah sebagai berikut:

“Iklim kerja sudah mendukung patient safety. Sudah mendukung, safety dalam segala hal ya.“ (SI 3)

SI 3 mengatakan bahwa iklim kerja di rumah sakit sudah mendukung keselamatan pasien.

Hasil wawancara dengan SI 4 di Poli Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Haji Medan tentang bagaimana persepsi keselamatan pasien adalah sebagai berikut:

“Dokter disini sudah bekerja sama memberikan pelayanan yang terbaik untuk pasien. Sejauh ini rumah sakit sudah memberikan iklim kerja yang mendukung keselamatan pasien.“ (SI 4)

SI 4 mengatakan bahwa dokter disini sudah memberikan pelayanan yang terbaik kepada pasien. Rumah sakit sudah memberikan iklim kerja yang mendukung keselamatan pasien.

Hasil wawancara dengan SI 5 di Poli Kebidanan Rumah Sakit Umum Haji Medan tentang bagaimana persepsi keselamatan pasien adalah sebagai berikut:

“Untuk pasient safety di rumah sakit sudah cukup digalakkan terfokus ke patient safetynya. Iklim kerja patient safety sudah cukuplah.“ (SI 5)

SI 5 mengatakan bahwa program keselamatan pasien di Rumah Sakit Umum Haji Medan cukup digalakkan. Iklim kerja cukup mendukung keselamatan pasien.

Hasil wawancara dengan SI 6 di Poli Pediatri Rumah Sakit Umum Haji Medan tentang bagaimana persepsi keselamatan pasien adalah sebagai berikut:

“Manajemen di rumah sakit untutk menyediakan Iklim kerja yang baik untuk keselamatan pasien sedanglah, ada yang di ruangan ini bagus, di ruangan lain belum bagus.“ (SI 6)

SI 6 mengatakan bahwa manajemen rumah sakit cukup menyediakan iklim kerja yang mendukung keselamatan pasien. Sudah ada yang baik dan masih ada yang belum baik.

Hasil wawancara dengan SI 7 di Poli Bedah Rumah Sakit Umum Haji Medan tentang bagaimana persepsi keselamatan pasien adalah sebagai berikut:

“Rumah sakit sudah memberikan pelayanan yang terbaik untuk keselamatan pasien. Saya tidak tahu itu apa itu patient safety, kenapa dokter bedah yang ditanya tentang patient safety, saya gaktau itu patient safety. Iklim kerja kadangbaik, kadang buruk.” (SI 7)

SI 7 mengatakan bahwa tidak paham tentang keselamatan pasien, rumah sakit sudah memberikan yang terbaik untuk keselamatan pasien.

Berdasarkan hasil penelitian dengan 7 informandiatas, dapat dimaknai bahwa persepsi keselamatan pasien yang dibangun cukup baik. Untuk program keselamatan pasien sudah dijalankan setelah akreditasi 2 tahun terakhir. Akan tetapi masih belum menyeluruh, sudah ada yang baik dan masih ada yang belum.

Iklim kerja di rumah sakit cukup mendukung untuk keselamatan pasien, namun masih ada pernyataan dari salah satu dokter yang menyatakan tidak paham tentang keselamatan pasien (patient safety).

Menurut Canadian Nurse Association, faktor-faktor yang menjadi tantangan bagi tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan yang aman dan memberikan kontribusi dalam keselamatan pasien salah satunya adalah kerjasama tim (Setiowati, 2010). Kinerja kerja sama tim yang terganggu juga salah satu penyebab insiden keselamatan pasien yang merupakan kombinasi kegagalan sistem. Peluang terjadi insiden akibat kondisi-kondisi tertentu. Kondisi yang memudahkan terjadinya keselahan misalnya gangguan lingkungan dan teamwork yang tidak berjalan. Maka, komunikasi sesama tim dan kerja sama yang baik akan mempengaruhi keselamatan pasien.

Berdasarkan hasil penelitian komunikasi dokter dengan sesama tim di Rumah Sakit Umum Haji Medan sudah berjalan dengan baik, dokter merasa nyaman ketika bekerjasama dengan dokter lain ataupun petugas kesehatan lainnya. Kerjasama sebagai tim sudah berjalan cukup baik berjalan. Makna hasil penelitian diatas, dimensi budaya keterbukaan sudah berjalan, komunikasi dan kerjasama tim sudah dilakukan dengan baik. Akan tetapi, persepsi keselamatan masih belum menyeluruh berjalan dengan baik, iklim kerja yang cukup

mendukung keselamatan pasien sudah diberikan oleh manajemen rumah sakit.

Tetapi belum sepenuhnya masih ada yang kurang-kurang dan belum berjalan sesuai standarnya.

Banyaknya informan yang mempunyai motivasi tinggi merupakan kebutuhan mencapai prestasinya tinggi. Motivasi kerja yang tinggi dapat terbentuk dari kenyamanan lingkungan kerja sesama tim. Hal ini ditunjukkan dari hasil penelinitian yang merasa nyaman bekerjasama, berkomunikasi dengan tim.

Kebutuhan untuk mencapai prestasi merupakan kunci dalam motivasi dan kepuasan kerja karena akan mendorong untuk mengembangkan kreativitas dan mengarahkan kemampuan demi mencapai prestasi kerja optimal. Prestasi kerja tersebut juga termasuk dalam mencapai penerapan budaya keselamatan pasien yang baik (Simamora, 2004).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nivalinda dkk (2013) menunjukkan bahwa sebagian besar responden yaitu sejumlah 57 responden (53%) mempunyai motivasi rendah. Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi perawat antara lain keinginan adanya peningkatan, rasa percaya bahwa gaji yang dimiliki sudah mencukupi, memiliki kemampuan pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai yang diperlukan. Faktor lainnya yaitu adanya umpan balik, adanya kesempatan untuk mencoba pendekatan baru dalam melakukan pekerjaan, adanya instrumen kinerja untuk promosi, kerja sama dan peningkatan penghasilan.

Budaya keadilan (just culture). Hal tersebut membawa atmosfer “trust”

sehingga dokter bersedia dan memiliki motivasi untuk memberikan data dan

informasi serta melibatkan pasiendan keluarganya secara adil dalam setiap pengambilan keputusan terapi. Lingkungan terbuka dan adil akan membantu dalam pembuatan laporan insiden keselamatan pasien secara jujur mengenai kejadian yang terjadi dan menjadikan insiden sebagai pelajaran dalam upaya meningkatkan keselamatan pasien.

Hasil wawancara dengan SI 1 di Unit IGD Rumah Sakit Umum Haji Medan tentang bagaimana umpan balik dan komunikasi yang berjalan adalah sebagai berikut:

“Kalau terjadi insdien, dikomunikasikan secara aktif kepada pasien, ya selalu, pokoknya setiap pasien yang datang kita jelasin apapun masalahnya kita harus jelasin, karena itu penting, hal itu menjadi prioritas untuk dokter-dokter yang ada di RS , karena banyak pasien yang aneh-aneh disini, ini safety buat kita juga, karena kalau kita gak ngejelasin tiba-tiba keluarga pasien datang, bertanya ini kenapa begini?

Dan lain-lain, jadi harus detail ngejelasin apalgi untuk pasien yang gawat darurat.” (SI 1)

SI 1 mengatakan bahwa ketika terjadi insiden dikomunikasikan secara aktif kepada pasien, apapun masalah dijelaskan kepada pasien. Hal itu menjadi prioritas dokter-dokter di rumah sakit.

Hasil wawancara dengan SI 2 di Unit IGD Rumah Sakit Umum Haji Medan tentang bagaimana umpan balik dan komunikasi yang berjalan adalah sebagai berikut:

“Saya melibatkan pasien secara aktif untuk insiden KNC, KPC itu jarang sih ya, tapi kalau KTD pasti diinformasikan, kalau untuk KNC, KPC, karena belum terjadi dampaknya biasanya internal kita aja sih yang tau, ketika terjadi insiden KTD misalnya ya harus kita sampaikan ke keluarga pasien, seharusnya tidak begitu, yang namanya sudah terlanjur, tapikan untuk penyelesaiannya kan tetap berjalan.“ (SI 2)

SI 2 mengatakan bahwa melibatkan pasien secara aktif ketika ada insdien

(Kejadian Nyaris Cidera), KPC (Kejadian Potensi Cidera) itu jarang dikomunikasikan.

Hasil wawancara dengan SI 3 di Unit IGD Rumah Sakit Umum Haji Medan tentang bagaimana umpan balik dan komunikasi yang berjalan adalah sebagai berikut:

“Libatkan secara aktif pasien dan keluarga? Kesalahan-kesalahan, insiden tidak pernah terjadi disini, paling yang insiden sekali disini pasien jatuh, pasien sakit kepala lupa memasang pingiran tempat tidur lalu pasien terjatuh, biasanya kami disini yang menjadi masalah itu pelayanan ke pihak rumah sakit, jadi umpama mereka bilang pelayanan kami itu lambat jadi ngadu ke pimpinan, yang seperti itu aja masalahnya, kalau insiden seperti KNC, KPC yang belum terjadi atau hampir hanya kami bahas perawat dan dokter saja, jadi insiden yang paling banyak disini ya soal pelayanan, paling pelayanan ya keluarga pasien marah, keterlambatan pelayanan.“ (SI 3)

SI 3 mengatakan bahwa kesalahan atau insdien belum pernah terjadi.

Insdien yang pernah terjadi seperti pasien jatuh, masalah yang terjadi biasa pasien melapor karena keterlambatan pelayanan.

Hasil wawancara dengan SI 4 di Poli Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Haji Medan tentang bagaimana umpan balik dan komunikasi yang berjalan adalah sebagai berikut:

“Jika ada sesuatu, apapun itu baik atau buruk kita komunikasikan kepada pasien dan keluarga, kita harus komunikasikan kita mau buat apa kepada pasien. pokoknya pada saat kita perlu sampaikan ya saya sampaikan, bahwa inilah yang akan kita buat, misalnya kita akan buat ini, harus buat ini, pokoknya kita harus sampaikan, mesti detail dan harus jelas. Misalnya

“Jika ada sesuatu, apapun itu baik atau buruk kita komunikasikan kepada pasien dan keluarga, kita harus komunikasikan kita mau buat apa kepada pasien. pokoknya pada saat kita perlu sampaikan ya saya sampaikan, bahwa inilah yang akan kita buat, misalnya kita akan buat ini, harus buat ini, pokoknya kita harus sampaikan, mesti detail dan harus jelas. Misalnya