BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Human Immunodeficiency Virus/ Acquired Immuno-
2.3.3 Pelayanan Kesehatan Klinik IMS/HIV-AIDS
Menurut Levey dan Loombo yang dijabarkan oleh Azwar (1996), menyatakan bahwa pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan secara sendiri atau secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok dan ataupun masyarakat.
Dalam mencapai kesejahteraan dan pemeliharaan penyembuhan penyakit sangat diperlukan pelayanan kesehatan yang bermutu dimana tanpa adanya pelayanan kesehatan yang bermutu dan menyeluruh di wilayah Indonesia ini tidak akan tercapai derajat kesehatan yang optimal. (Azwar, 1996).
1. Pelayanan Kesehatan Klinik IMS
Pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di Klinik IMS mencakup: (a)melaksanakan kegiatan pencegahan seperti promosi kondom dan seks aman,
(b)memberikan layanan pemeriksaan dan pengobatan bagi mereka yang telah tertular IMS, (c) melaksanakan kegiatan penapisan untuk IMS asymptomatic bagi semua populasi beresiko secara rutin sedikitnya sekali setiap 3 (tiga) bulan, (d) memberikan layanan konseling, pemeriksaan, dan pengobatan bagi pasangan tetap klien pekerja seks melalui sistem partner notification, (e) menjalankan sistem monitoring dan surveilans, dan (f) memberikan layanan KIE tentang mitos penggunaan obat-obat bebas untuk mencegah atau mengobati IMS (KPA Nasional, 2008).
Setiap klinik harus mempunyai staf yang ramah, client-oriented, tidak menghakimi dan dapat menjaga konfidensialitas, serta dapat melakukan fungsi-fungsi berikut ini dengan baik, meliputi : (a) administrasi klinik, registrasi pasien, pencatatan dan pelaporan, (b) anamnesis kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual, pemeriksaan fisik dan pengobatan, (c) laboratorium berdasarkan tes diagnostik, (d) konseling, serta (e) memelihara standar klinis untuk penatalaksanaan IMS (Depkes RI, USAID dan FHI, 2007).
Standar Minimum untuk Klinik IMS yang telah dikembangkan untuk memperbaiki kualitas diagnosis dan pengobatan IMS secara keseluruhan untuk klinik IMS di Indonesia. Untuk melaksanakan ini, setiap klinik IMS harus melakukan hal-hal:
a. Kegiatan pencegahan seperti promosi kondom dan seks yang aman
b. Pelayanan ditargetkan untuk kelompok beresiko tinggi; (kelompok “inti” misalnya pekerja seks dan kelompok “penghubung” pelanggan mereka).
d. Program penapisan, dan pengobatan secepatnya untuk IMS yang tanpa gejala pada kelompok risiko tinggi yang menjadi sasaran.
e. Program penatalaksanaan mitra seksual,
f. Sistim monitoring dan surveilans yang efektif. Jika sebagai model klinik untuk klinik-klinik yang ada disekitarnya harus berusaha untuk melaksanakan pelayanan klinis IMS yang sama, dengan memberikan pelatihan yang sesuai pada klinik-klinik tersebut. Bentuk pelayanan IMS dan promosi yang diberikan harus berdasarkan pada pengetahuan dari kelompok sasaran dalam kebiasaannya mencari pengobatan (Depkes RI, USAID dan FHI, 2007).
2. Pelayanan Kesehatan Klinik HIV/AIDS
Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) memerlukan pelayanan kesehatan yang berkesinambungan, pemantauan yang seksama untuk mencegah infeksi, serta pengobatan segera agar infeksi sekunder tidak berlarut-larut dan menyebabkan cacat. Seringkali merawat ODHA lebih sulit dari penyakit kronik lain, karena:
a. Terbatasnya tenaga yang terdidik dan terlatih b. ODHA memerlukan dukungan emosi khusus.
c. Pemantauan medik untuk mencegah kekambuhan sehingga dapat dicegah perawatan di rumah sakit.
d. Beberapa tenaga kesehatan sendiri masih cemas dan ketakutan untuk merawat karena belum mendapat penerangan dan pendidikan yang baik.
a. Fasilitas Perawatan Akut
Fasilitas rawat inap intensif yang mempunyai staf lengkap dan sudah berpengalaman. Di ruang rawat ini pasien AIDS diawasi 24 jam penuh. Jenis pelayanan dasar yang diperlukan adalah penyakit dalam, bedah, anastesi, laboratorium, radiologi, gizi, dan farmasi.
b. Fasilitas Perawatan Khusus
Adalah fasilitas perawatan yang sudah terbiasa merawat pasien AIDS. Unit ini menyediakan perawatan untuk pasien AIDS yang tidak dalam fase akut tetapi memerlukan perawatan si rumah sakit untuk rehabilitasi.
c. Fasilitas Perawatan Intermediat
Fasilitas ini diperlukan untuk ODHA yang tidak terus menerus memerlukan dokter atau perawat yang berpengalaman. Ini berlaku baik untuk fasilitas rawat inap maupun rawat jalan.
d. Fasilitas Perawatan Masyarakat (Shelter)
ODHA yang sedang tidak dirawat di rumah sakit kadang-kadang memerlukan beberapa jenis fasilitas non medik, seperti perumahan, pengadaan makanan, dan bantuan aktifitas sehari-hari seperti makan, mandi atau ke toilet.
e. Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas)
Puskesmas yang diperlukan adalah yang dilengkapi dengan pelayanan psikologis, rehabilitasi, sosial, gizi, dan pendidikan kesehatan.
Fasilitas ini diperlukan oleh ODHA agar ia tetap tinggal dirumahnya sambil terus dipantau dan mendapat perawatan medik yang berkesinambungan. Untuk tujuan tersebut diperlukan pekerja sosial, perawat, dan relawan baik dari kalangan agama maupun dari lapisan masyarakat lain (Djoerban, 2000).
a) Voluntary Counselling and Testing (VCT)
Konseling dalam VCT adalah kegiatan konseling yang menyediakan dukungan psikologis, informasi dan pengetahuan HIV/AIDS, mencegah penularan HIV, mempromosikan perubahan perilaku yang bertanggung jawab, pengobatan ARV dan memastikan pemecahan berbagai masalah terkait dengan HIV/AIDS (Depkes RI, 2005).
VCT merupakan proses konseling pra testing, post testing dan testing HIV secara sukarela yang bersifat confidential dan secara dini membantu orang mengetahui status HIV. Konseling pra testing memberikan pengetahuan tentang HIV dan manfaat testing, pengambilan keputusan untuk testing dan perencanaan atas issue
HIV yang akan dihadapi. Konseling post testing membantu seseorang untuk mengerti dan menerima status (HIV +) dan merujuk pada layanan dukungan (KPA Sumut, 2009).
Konseling dan Testing Sukarela yang dikenal sebagai Voluntary Counselling and Testing (VCT) merupakan salah satu strategi kesehatan masyarakat dan sebagai pintu masuk ke seluruh layanan kesehatan HIV/AIDS berkelanjutan.
1) Layanan VCT dapat dilakukan berdasarkan kebutuhan klien pada saat klien mencari pertolongan medik dan testing yaitu dengan memberikan layanan dini dan memadai baik kepada mereka dengan HIV positif maupun negatif. Layanan ini termasuk konseling, dukungan, akses untuk terapi suportif, terapi infeksi opurtunistik, dan ART.
2) VCT harus dikerjakan secara profesional dan konsisten untuk memperoleh interfensi efektif dimana memungkinkan klien, dengan bantuan konselor terlatih, menggali dan memahami diri akan risiko terinfeksi HIV, mendapatkan informasi HIV/AIDS, mempelajari status dirinya, dan mengerti tanggung jawab untuk menurunkan perilaku berisiko dan mencegah penyebaran infeksi kepada orang lain guna mempertahankan dan meningkatkan perilaku sehat.
3) Testing HIV dilakukan secara sukarela tanpa paksaan dari orang lain, setelah klien memahami berbagai keuntungan, konsekuensi yang ada (Depkes RI, 2005)
Berdasarkan pendapat di atas, bahwa pelayanan kesehatan klinik IMS/HIV-AIDS pada umumnya bertujuan untuk meningkatkan kesehatan reproduksi atau kesehatan jasmani, fisik dan mencegah supaya tidak menular kepada orang lain sehingga masyarakat berusaha untuk merubah perilaku risiko mendapat penyakit menular seksual dan penyebaran HIV.
Upaya Kementerian Kesehatan RI dalam penanggulangan HIV/AIDS terhadap epidemi sudah ada sejak tahun 1986, yaitu sejak sebelum kasus AIDS ditemukan di Indonesia pada tahun 1987, dan terus meningkat sejalan dengan
masalah yang dihadapi. Salah satu kegiatan pengendalian HIV/AIDS dan IMS (Infeksi Menular Seksual) di Indonesia, meliputi:
1. Memperkuat aspek legal pengendalian HIV-AIDS dan IMS.
2. Melaksanakan advokasi dan sosialisasi termasuk Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) dan Intervensi Perubahan Perilaku (IPP).
3. Pengembangan sumber daya manusia.
4. Memperkuat jejaring kerja dan meningkatkan partisipasi masyarakat. 5. Memperkuat logistik.
6. Meningkatkan konseling dan tes HIV.
7. Meningkatkan perawatan, dukungan dan pengobatan. 8. Meningkatkan pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak. 9. Meningkatkan pengendalian IMS.
10. Meningkatkan program pengurangan dampak buruk. 11. Meningkatkan pengamanan darah donor dan produk danah 12. Meningkatkan kewaspadaan universal.
13. Meningkatkan kolaborasi TB-HIV.
14. Meningkatkan surveilans epidemiologi dan pengembangan sistem informasi. 15. Monitoring dan evaluasi.
16. Mengembangkan dan memperkuat sistem pembiayaan (Depkes RI, 2005).
Salah satu upaya penting untuk pencegahan HIV adalah menghindari hubungan seks berisiko tinggi, maka upaya yang dilakukan antara lain:
1. Mendorong daerah untuk menyusun regulasi tentang pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS, khususnya pencegahan pada hubungan seks berisiko. 2. Bekerja sama dengan KPAN untuk peningkatan jumlah outlet, distribusi, dan
promosi penggunaan kondom.
3. Peningkatan jumlah klinik Infeksi Menular Seksual (IMS) di Puskesmas wilayah berisiko tinggi (Depkes RI, 2005).
2.3.4. Faktor–faktor yang Memengaruhi Pelayanan Kesehatan Klinik