BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN
III. 2Angka Kesakitan
IV.8 Pelayanan Kesehatan Lingkungan Dan Sanitasi Dasar
Rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang berfungsi sebagai tempat tinggal dan sarana pembinaan keluarga. Rumah dikategorikan sehat jika memenuhi syarat kesehatan yaitu memiliki jamban sehat, sarana air bersih, tempat
8.05 7.8 6.64 8.4 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Th. 2010 Th. 2011 Th. 2012 Th. 2013
PROFIL KESEHATAN KOTA PASURUAN TAHUN 2013 62 pembuangan sampah, pembuangan air limbah, ventilasi baik, kepadatan hunian rumah yang sesuai dan lantai rumah yang tidak terbuat dari tanah.
Jumlah rumah di Kota Pasuruan tahun 2013 sebanyak 43.823 rumah dan 100% diantaranya telah diperiksa serta 28.328 rumah (64,64%) dinyatakan memenuhi syarat kesehatan. Capaian tersebut meningkat bila dibandingkan dengan capaian di tahun 2012. Adapun tren/fluktuasi persentase rumah tangga sehat dalam kurun waktu 4 tahun tersaji dalam gambar 4.39.
Gambar 4.39 Persentase Rumah Sehat Kota Pasuruan Th. 2010 s/d 2013
Sumber: Data Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Pasuruan, 2010 s/d 2013
Capaian rumah sehat masih harus ditindaklanjuti dengan upaya pembinaan yang lebih intensif kepada masyarakat agar memperhatikan kesehatan rumahnya karena rumah yang sehat dan nyaman akan berdampak bagi penghuninya dalam meningkatkan produktivitasnya. Adapun persentase rumah tangga sehat per wilayah kerja Puskesmas tahun 2013 tersaji di gambar dibawah ini
Gambar 4.40 Persentase Rumah Sehat Per Wilayah Kerja Puskesmas di Kota Pasuruan tahun 2013
55 60 65 70 Th. 2010 Th. 2011 Th. 2012 Th. 2013 64.16 68.4 61.67 64.64
PROFIL KESEHATAN KOTA PASURUAN TAHUN 2013 63
Sumber : Data Seksi Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Pasuruan, 2013
Gambar 4.40 di atas sesuai dengan lampiran 62 data profil kesehatan menunjukkan bahwa persentase terbesar rumah sehat terdapat di wilayah kerja Puskesmas Sekargadung yakni sebesar 79,18% dan persentase terkecil di wilayah kerja Puskesmas Trajeng sebesar 38,47%.
Selain PHBS sebagai kunci pemberdayaan masyarakat, Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) juga merupakan pendekatan terbaru dalam upaya pemberdayaan masyarakat yang berfungsi untuk menekan angka kesakitan akibat penyakit berbasis lingkungan. STBM mempunyai 5 pilar yakni: 1. Bebas Buang Air Besar Sembarangan atau Open Defecation Free (ODF); 2. Cuci Tangan dengan Sabun; 3. Pengelolaan Air Minum; 4. Pengelolaan Air Limbah; dan 5. Pengelolaan Sampah. Apabila STBM diterapkan dalam sebuah rumah, maka akan didapatkan gambaran sebuah rumah sehat, karena rumah sehat bukan hanya rumah yang selalu dijaga kebersihannya tetapi selain kondisi fisik bangunan rumah seperti luas ruangan, penerangan, ventilasinya harus memenuhi standar; juga harus mempunyai sarana sanitasi dasar. Apabila dikaji lebih lanjut, pencapaian yang lebih baik pada indikator ini membutuhkan koordinasi lintas program dan lintas sektor terkait selain upaya pemberdayaan yang harus dilakukan lebih intensif.
IV.8.2 Rumah/Bangunan Bebas Jentik Nyamuk Aedes
Rumah/bangunan yang diperiksa jentik nyamuk aedes berarti rumah/bangunan di suatu wilayah yang dijadikan sasaran pemeriksaan jentik berkala yang diperiksa jentik nyamuknya sesuai jadwal yang ditetapkan. Sedangkan rumah/bangunan bebas jentik aedes berarti rumah/bangunan di suatu wilayah yang dijadikan sasaran pemeriksaan jentik berkala yang diperiksa jentik nyamuknya sesuai jadwal yang ditetapkan dan dinyatakan bebas jentik nyamuk. Jumlah rumah/bangunan bebas jentik aedes selanjutnya menunjukkan Angka Bebas Jentik (ABJ).
0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 61.59 66.54 69.69 79.18 62.53 67.73 38.47 64.64
PROFIL KESEHATAN KOTA PASURUAN TAHUN 2013 64 Pada tahun 2013 pencapaian persentase rumah/bangunan yang diperiksa dan rumah bebas jentik nyamuk aedes per wilayah Puskesmas seperti tampak pada lampiran 63 data profil kesehatan dan gambar 4.41 berikut :
Gambar 4.41 Persentase Rumah/Bangunan Bebas Jentik Nyamuk aedes Per Wilayah Puskesmas di Kota Pasuruan Tahun 2013
Sumber : Data Seksi Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Pasuruan, 2013
Gambar 4.41 menunjukkan dari sejumlah rumah/bangunan yang diperiksa diperoleh angka bebas jentik (ABJ). Pencapaian ABJ tertinggi masih terdapat di wilayah kerja Puskesmas Karangketug sebesar 85,40% Sedangkan ABJ terendah masih terdapat di wilayah kerja Puskesmas Kandangsapi sebesar 71,61%. Perkembangan ABJ di Kota Pasuruan selama 3 tahun terakhir dalam dilihat dalam gambar dibawah ini.
Gambar 4.42 Realisasi ABJ Dibanding Target Kota Pasuruan Tahun 2011 s/d 2013
Sumber : Data Seksi Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Pasuruan, 2011 s/d 2013
Secara keseluruhan di tingkat kota, persentase rumah/bangunan bebas jentik (ABJ) sebesar 81,41%. Angka ini menurun sedikit dibanding tahun 2012 sebesar
60.00 65.00 70.00 75.00 80.00 85.00 90.00 82.19 85.40 79.25 85.17 79.65 71.61 75.50 74.12 74.79 81.82 81.41 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 70 72 74 76 78 80 82 84 Th. 2011 Th. 2012 Th. 2013 ABJ Target
PROFIL KESEHATAN KOTA PASURUAN TAHUN 2013 65 81,82%. Kendati demikian, angka ini masih kurang dari target ABJ nasional yang ≥ 95%.
ABJ merupakan indikator keberhasilan PSN DBD. Apabila lebih atau sama dengan 95% diharapkan penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi karena jentik nyamuk aedes aegypti sudah terberantas sehingga vektor penular DBD dapat diputuskan daur hidupnya.Untuk menjaga suatu daerah pemukiman aman dari ancaman penyakit DBD, maka ABJ harus dipertahankan terus sampai waktu tak tertentu. Apabila nilai ABJ kurang dari itu, berarti virus Dengue masih mempunyai peluang menular.
Angka kesakitan DBD di Kota Pasuruan belum dapat ditekan dan program penanggulangan DBD belum berhasil karena alasan faktual bahwa sebagian masyarakat Kota Pasuruan masih beranggapan bahwa fogging adalah upaya utama dalam penanggulangan DBD. Fogging memang harus tetap dilakukan setiap ada kasus DBD terutama di daerah endemis seperti Kota Pasuruan. Namun yang harus tetap diingat di sini, PSN (Pemberantasan SarangNyamuk dengan 3M Plus) yang intensif didukung abatisasi dan PJB (Pemeriksaan Jentik Berkala) adalah solusi utama penanggulangan DBD terutama bila dilakukan serentak dan intensif. Oleh karena itu, Dinas Kesehatan dan jaringannya akan terus berupaya meningkatkan penyuluhan, pemberdayaan masyarakat serta kerja sama lintas program dan lintas sektor untuk penanggulangan DBD agar angka kesakitan DBD dapat ditekan menjadi jauh lebih rendah.
IV.8.3Keluarga Yang Memiliki Akses Terhadap Air Bersih
Air bersih yang dimaksud adalah air ledeng (PDAM), sumur pompa tangan (SPT), sumur galian (SGL) dan air bersih dari sumber lainnya. Sedangkan persentase keluarga yang memiliki akses terhadap air bersih berarti jumlah Kepala Keluarga (KK) yang memiliki akses terhadap air bersih dibandingkan jumlah KK yang ada pada kurun waktu yang sama.
Pada tahun 2013 di Kota Pasuruan tercatat 47.468KK dan untuk memperoleh data keluarga yang memiliki akses terhadap air bersih dilakukan pemeriksaan terhadap 47.468KK (100% dari total KK yang ada). Dari 47.468KK, 35,06% memiliki akses terhadap air bersih jenis ledeng; 41,49% memiliki akses terhadap air bersih jenis SPT; dan 12,48% memiliki akses terhadap air bersih jenis SGL (Lampiran 64 Data Profil Kesehatan). Adapun tren keluarga yang memiliki akses terhadap air bersih selama 3 tahun terakhir tersaji dalam gambar dibawah ini.
PROFIL KESEHATAN KOTA PASURUAN TAHUN 2013 66
Sumber : Data Seksi Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Pasuruan, 2011 s/d 2013
Akses air bersih menjadi sangat penting dalam upaya penyelenggaraan kesehatan lingkungan terutama untuk mencegah penularan penyakit yang ditularkan melalui air (water born disease). Hal tersebut menjadi sangat penting, karena masih banyak masyarakat Kota Pasuruan yang menggunakan Sumur Gali (SGL) dan Sumur Pompa Tangan (SPT) sebagai sumber air bersih, sedangkan kondisi air SGL dan SPT harus selalu dilakukan pengawasan baik dari sisi bakteriologis ataupun kimia apabila dipakai sebagai sumber air bersih.
Untuk itu, Dinas Kesehatan dan jaringannya akan lebih mengoptimalkan kegiatan pengawasan sarana Sumber Air Bersih di masyarakat baik air PDAM maupun SGL dan SPT untuk mengendalikan prevalensi penyakit yang ditularkan melalui air (water born disease).
IV.8.4 Keluarga Yang Memiliki Sarana Sanitasi Dasar
Pada umumnya, sarana sanitasi dasar yang dimiliki oleh masyarakat di tingkat rumah tangga meliputi tempat sampah, sarana pembuangan air limbah (SPAL) dan jamban. Upaya peningkatan kualitas air bersih akan berdampak positif apabila diikuti perbaikan sarana sanitasi dasar, karena pembuangan kotoran baik sampah, air limbah maupun tinja yang tidakmemenuhi syarat kesehatan dapat menyebabkan rendahnya kualitas air dan menimbulkan penyakit SPAL (Saluran Pembuangan Air Limbah) adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang air buangan dari kamar mandi, tempat cuci, dapur dan yang lainnya dan bukan dari jamban, dimana SPAL yang sehat hendaknya memenuhi persyaratan sehat antara lain tidak mencemari sumber air bersih, tidak menimbulkan genangan air yang dapat digunakan untuk sarang nyamuk, tidak menimbulkan bau dan tidak menimbulkan becek.
Gambar 4.44 Jumlah KK Memiliki Tempat Sampah dan SPAL Rumah Tangga dan Jumlah KK Memiliki Tempat Sampah dan SPAL Rumah Tangga Sehat
88.9 72.81 89.03 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Th. 2011 Th. 2012 Th. 2013
PROFIL KESEHATAN KOTA PASURUAN TAHUN 2013 67 di Kota Pasuruan Tahun 2013
Sumber : Data Seksi Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Pasuruan, 2013
Berdasarkan gambar 4.44 diatas maka diperoleh informasi sbb:
1. Tahun 2013 di Kota Pasuruan dari 47.468 KK yang ada, sebanyak 46.662 KK diperiksa kepemilikan jambannya; sebanyak 45,263 KK diperiksa kepemilikan tempat sampahnya; dan 45,263 KK diperiksa kepemilikan SPAL rumah tangganya (Lampiran 66 data profil kesehatan).
2. Jumlah KK yang memiliki jamban di tahun 2013 sebanyak 30.655 KK, jumlah KK yang memiliki tempat sampah sebanyak 39.088 KK dan jumlah KK yang memilki SPAL sebanyak 36.982 KK
3. Jumlah KK yang memiliki jamban sehat sebanyak 26.376 KK, jumlah KK yang memiliki tempat sampah sehat sebanyak 28.338 KK dan jumlah KK yang memiliki SPAL sebanyak 30.588 KK
Gambar 4.45 Persentase Jamban Sehat, Tempat Sampah Sehat dan SPAL Sehat Kota Pasuruan Tahun 2011 s/d 2013
Sumber: Data Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Pasuruan, 2011 s/d 2013 0 10000 20000 30000 40000 50000
Jml keluarga Jamban Tempat sampah SPAL
47468 46662 45263 45263 30655 39088 36982 26376 28338 30558
diperiksa memiliki sehat
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
jamban sehat tempat sampah sehat SPAL sehat 92 93.6 75.8 97.78 86.94 79.91 86.04 72.5 82.63 Th. 2011 Th. 2012 Th. 2013
PROFIL KESEHATAN KOTA PASURUAN TAHUN 2013 68 Berdasarkan 4.45 diatas maka dapat diperoleh informasi bahwa persentase jamban sehat tahun 2013 cenderung menurun (86,04) bila dibandingkan dengan capaian di tahun 2012 (97,78%) dan tahun 2011 (92%), persentase tempat sampah sehat di tahun 2013 juga cenderung menurun (72,5%) bila dibandingkan dengan capaian di tahun 2012 (86,94%) dan tahun 2011 (93,6%). Sedangkan persentase SPAL sehat di tahun 2013 cenderung meningkat (82,63%) bila dibandingkan dengan capaian di tahun 2012 (79,91%) dan tahun 2011 (75,8%).
Untuk kemajuan dan pencapaian yang lebih baik pada program di masa yang akan datang, maka Dinas Kesehatan dan jaringannya berupaya lebih meningkatkan pemeriksaan sarana sanitasi dasar di tiap rumah tangga beriringan dengan melakukan optimalisasi penyuluhan, pemberdayaan masyarakat serta kerja sama lintas program dan lintas sektor terkait disertai monitoring dan evaluasi internal. Hal ini diharapkan agar semakin banyak rumah tangga yang mengupayakan sarana sanitasi dasar di tempat tinggalnya demikian pula rumah tangga yang sudah mempunyai sarana dimaksud agar lebih meningkatkan kesehatan pribadi, tempat tinggal dan lingkungannya.
IV.8.5Tempat Umum Dan Pengelolaan Makanan (TUPM) Sehat
Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan yang dimaksud dalam hal ini adalah hotel, restoran/rumah makan, pasar dan TUPM lain. Pada tahun 2013 di Kota Pasuruan terdapat 240 tempat umum dan pengelolaan makanan. Dari jumlah tersebut 117 tempat umum dan pengelolaan makanan diperiksa dan didapatkan 86 tempat umum dan pengelolaan makanan memenuhi syarat 73,5% (Lampiran 67 data profil kesehatan).
Gambar 4.46 Persentase Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) Sehat Kota Pasuruan Tahun 2011 s/d 2013
Sumber: Data Seksi Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Pasuruan, 2011 s/d 2013
Bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, maka persentase TUPM yang memenuhi syarat pada tahun 2013 menurun sebesar 73,5% bila dibandingkan
45.07 85.92 73.5 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Th. 2011 Th. 2012 Th. 2013
PROFIL KESEHATAN KOTA PASURUAN TAHUN 2013 69 dengan capaian di tahun 2012 sebesar 85,92% dan meningkat bila dibandingkan dengan capaian di tahun 2011 sebesar 45,07%
Gambar 4.47 Distribusi Jumlah Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan Sehat yang Ada, Diperiksa dan Memenuhi Syarat di Kota Pasuruan Tahun 2013
Sumber : Data Seksi Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Pasuruan, 2013
IV.8.6 Insitusi Dibina Kesehatan Lingkungannya
Institusi yang dimaksud dalam hal ini meliputi sarana pelayanan kesehatan, instalasi pengolahan air minum, sarana pendidikan (SD,SMP,SMA), sarana ibadah, perkantoran, dan sarana lain.Pada tahun 2013 tercatat 364 institusi yang ada di Kota Pasuruan. Dari jumlah tersebut, sebanyak274diantaranya (75,3%) dibinakesehatan lingkungannya(Lampiran 68 data profil kesehatan). Secara terperinci dapat dideskripsikan melalui gambar 4.48 berikut :
Gambar 4.48 Institusi Dibina Kesehatan lingkungannya Kota Pasuruan 2013
Sumber : Data Seksi Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Pasuruan, 2013 0 50 100 150 200 250
Hotel Restoran-makan Pasar TPUM lainnya
3 30 5 202 2 17 3 95 2 14 2 68
Jumlah Diperiksa Sehat
0 20 40 60 80 100
SARANA PELAYANAN KESEHATAN INSTALASI PENGOLAHAN AIR MINUM SARANA PENDIDIKAN SARANA IBADAH PERKANTORAN SARANA LAIN 67.8 97.83 84.56 63.04 60.29 44.44
PROFIL KESEHATAN KOTA PASURUAN TAHUN 2013 70 Belum terpenuhinya setiap target dalam indikator ini dikarenakan koordinasi lintas program dan lintas sektor terkait yang masih kurang. Kesehatan TTU bukan menjadi tanggung jawab Dinas atau sektor kesehatan saja, tapi semua sektor dan masyarakat. Koordinasi dan kerja sama semua pihak terkait sangat perlu ditingkatkan untuk meningkatkan pencapaian indikator TTU yang memenuhi syarat kesehatan.
Bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, persentase institusi yang dibina kesehatan lingkungnnya di tahun 2013 meningkat 75,3% bila dibandingkan dengan tahun 2012 sebesar 67,2% dan tahun 2011 sebesar 64%.
PROFIL KESEHATAN KOTA PASURUAN TAHUN 2013 70 I.
Sumber daya kesehatan merupakan salah satu pendukung di segala level pelayanan kesehatan. Dan dengan terpenuhinya sumber daya kesehatan, diharapkan juga dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan sehingga derajat kesehatan masyarakat akan terjaga. Pada bab ini, situasi sumber daya kesehatan akan menyajikan gambaran sarana kesehatan, tenaga kesehatan dan anggaran kesehatan.