• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelayanan Kesehatan Rujukan dan Penunjang

Bab IV SITUASI UPAYA KESEHATAN

B. Pelayanan Kesehatan Rujukan dan Penunjang

paya pelayanan kesehatan kepada masyarakat dilakukan secara rawat jalan bagi masyarakat yang mendapat gangguan ringan dan pelayanan rawat inap baik secara langsung maupun melalui rujukan pasien bagi masyarakat yang mendapatkan gangguan kesehatan sedang hingga berat. Sebagian besar sarana pelayanan Puskesmas dipersiapkan untuk memberikan pelayanan kesehatan dasar bagi kunjungan rawat jalan sedangkan Rumah Sakit yang dilengkapi berbagai fasilitas di samping memberikan pelayanan pada kasus rujukan untuk rawat inap juga melayani untuk kunjungan rawat jalan.

Gambaran pencapaian pelayanan kunjungan rawat jalan dan pasien rawat inap hasil pemutahiran data/pengumpulan data dalam tiga tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar IV. 14

GAMBAR IV. 14

JUMLAH KUNJUNGAN RAWAT JALAN DAN PASIEN RAWAT INAP DI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN TAHUN 2004 - 2006

1.609.826 70.224 1.749.407 133.815 2.110.401 73.187 0 500.000 1.000.000 1.500.000 2.000.000 2.500.000 2004 2005 2006

Rawat Jalan Rawat Inap

Sumber : Seksi Rumah Sakit

Profil Kesehatan Propinsi Sulawesi Tengah 2006 53

Berdasarkan gambar tersebut diatas terlihat bahwa pelayanan kesehatan untuk rawat jalan selama tahun 2006 menunjukkan peningkatan, sedangkan rawat jalan terjadi penurunan dengan proporsi pasien rawat inap 3,5% tahun 2006, 4,4% tahun 2003 dan 7,6% pada tahun 2005.

Sedangkan secara rinci jumlah kunjungan rawat jalan dan pasien rawat inap menurut kabupaten/kota selama tahun 2006 dapat dilihat pada lampiran tabel 41.

1. Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit

Beberapa indicator standar terkait dengan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit yang dipantau antara lain pemanfaatan tempat tidur (BOR), rata-rata lama hari perawatan (LOS), rata-rata tempat tidur dipakai (BTO), rata-rata selang waktu pemakaian tempat tidur (TOI), persentase pasien keluar yang meninggal (GDR), dan persentase pasien keluar yang meninggal < 24 jam perawatan (NDR).

a.

Angka Penggunaan Tempat Tidur (BOR)

Angka penggunaan tempat tidur (BOR) adalah indikator yang digunakan untuk mengetahui tingkat pemanfaatan tempat tidur rumah sakit. Rata-rata BOR rumah sakit di Sulawesi Tengah pada tahun 2006 adalah 47,3% dengan kisaran terendah 3,7% (RS Banggai Kepulauan) dan tertinggi RSU Undata dan RSU Anutapura masing-masing (81%). RSU Bangkep adalah RSU yang baru operasional tahun 2006.

b. Rata-Rata Lama Perawatan (LOS)

Rata-rata lama perawatan di Rumah Sakit (LOS = Length Of Stay) merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur efisiensi pelayanan rumah sakit . Rata-Rata LOS pada RSU di Sulawesi Tengah pada tahun 2006 adalah sebesar 4,3 hari. LOS tertinggi terdapat di RSJ Madani yaitu 7 hari perawatan dan yang terendah di RS Banggai Kepulauan yaitu 1,7 hari perawatan.

Profil Kesehatan Propinsi Sulawesi Tengah 2006 54

c. Interval Penggunaan Tempat Tidur (TOI/Turn Over Interval)

Turn Over Interval (TOI) adalah rata-rata jumlah hari TT tidak terpakai dari saat kosong sampai saat terisi berikutnya. Angka ini merupakan salah satu indikator tingkat efisiensi pelayanan rumah sakit. Standard TOI adalah 1 – 3 hari. Rata-rata TOI di RSU Sulawesi Tengah tahun 2006 adalah 4,8 hari, TOI di RSU Sulawesi Tengah tahun 2006 adalah berkisar 1-42,8 hari, TOI terendah di RSU Anutapura (1,1) kemudian RSU Undata (1,2) dan yang tertinggi adalah RS Banggai Kepulauan yakni 42,8 hari. Bila dibandingkan dengan standard TOI maka keadaan RSU di Sulawesi Tengah menunjukkan bahwa tingkat efisiensi RSU masih rendah.

d.

Angka Kematian Umum (GDR/Gross Death Rate)

Gross Death Rate (GDR) adalah angka kematian total pasien rawat inap yang keluar RS per 100 penderita keluar hidup dan mati. Indikator ini menggambarkan kualitas pelayanan suatu RS secara umum, meskipun GDR

dipengaruhi juga oleh angka kematian ≤ 48 jam yang umumnya merupakan

kasus gawat darurat.

Rata-rata GDR di RSU Sulawesi Tengah pada tahun 2006 adalah 27,5%0

GDR tertinggi di RSU Al;khaerat (354,7%o ) dan yang terendah di RSU Budi

Agung (15,4%o).

e.

Angka Kematian Netto (NDR/Nett Death Rate)

Nett Death Rate (NDR) adalah angka kematian ≥ 48 jam pasien rawat

inap per 100 penderita keluar (hidup + mati). Indikator ini berguna untuk mengetahui kualitas pelayanan rumah sakit.

Rata-rata NDR di RSU Sulawesi Tengah tahun 2006 adalah 11,2 %o , dengan NDR tertinggi di RSU Sinar Kasih Tentena (22,5%o) dan yang terendah di RS Jiwa Madani (5,4 %o)

Pencapaian indicator pelayanan kesehatan di RS selama dua tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar IV.15 berikut ini.

Profil Kesehatan Propinsi Sulawesi Tengah 2006 55

GAMBAR IV.15

PENCAPAIAN INDIKATOR BOR, GDR, NDR, LOS DAN TOI RUMAH SAKIT TAHUN 2005-2006

64 47,3 10 27,5 4 11,2 5 4,3 6 4,8 0 20 40 60 80

BOR GDR NDR LOS TOI 2005 2006

Sumber : Seksi Rumah Sakit

Berdasarkan gambar tersebut diatas menunjukkan bahwa pemakaian tempat tidur di rumah sakit selama tahun 2006 mengalami penurunan yaitu 64 pada tahun 2005 menjadi 47 pada tahun 2006, hal ini terjadi karena mungkin disebabkan adanya beberpa RS yang baru operasional pada tahun 2006. Banyak faktor yang mempengaruhi angka BOR suatu rumah sakit, diantaranya semakin meningkatnya jumlah rumah sakit dan tempat tidur yang tersedia sedangkan jumlah populasi yang mencari pelayanan tidak terlalu tinggi perkembangannya atau perlu adanya pemisahan perhitungan BOR pada Rumah Sakit Khusus.

Meningkatnya angka GDR dan NDR pada tahun 2006, perlu ditindaklanjuti dengan strategi baru dalam pelayanan kesehatan yang dikaitkan dengan peningkatan kemampuan tenaga kesehatan termasuk prosedur rujukan.

Sedangkan indikator pemakaian tempat tidur (TOI) dan lamanya hari rawatan dan selang waktu dalam pemakaian tempat tidur tidak banyak mengalami perubahan. Gambaran secara rinci indikator pelayanan kesehatan di RS menurut kabupaten/kota tahun 2006 dapat dilihat pada lampiran tabel 41.

Profil Kesehatan Propinsi Sulawesi Tengah 2006 56

2. Pelayanan Ibu Hamil dan Neonatus Risiko Tinggi

Hasil pemutahiran data/pengumpulan data profil kesehatan kabupaten/kota menunjukkan bahwa persentase ibu hamil risiko tinggi dan neonatus risiko tinggi yang dirujuk dan mendapat pelayanan kesehatan dalam dua tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar IV. 16

GAMBAR IV. 16

PERSENTASE IBU HAMIL DAN NEONATUS RISIKO TINGGI DIRUJUK DAN MENDAPAT PENANGANAN KESEHATAN

TAHUN 2005 – 2006 93,22% 2,65% 20,07% 26,57% 0,00% 50,00% 100,00% 2005 2006

Bumil risti dirujuk dan ditangani Neonatus risti dirujuk dan ditangani

Sumber : Profil Kesehatan Kab/Kota

Cakupan pelayanan ibu hamil risiko tinggi yang dirujuk dan mendapatkan penanganan kesehatan selama tahun 2006 menunjukkan penurunan menjadi 20,07% dibandingkan tahun 2005 sebesar 93,22%. Kabupaten yang cakupannya tertinggi adalah kabupaten Poso (35,20%), Donggala (34,90%), sedangkan yang terendah adalah kabupaten Morowali (9,45%).

Untuk pelayanan neonatus memiliki risiko tinggi yang dirujuk dan mendapatkan penanganan kesehatan selama tahun 2006 menunjukkan kenaikan menjadi 26,57% dibandingkan cakupan tahun 2005 (2,65%). Sebanyak 5 kabupaten/kota yang mencapai 100% yaitu Donggala, Buol, Parigi Moutong, Tojo Una-una dan Palu dan yang terendah cakupannya adalah di Banggai (12,91%) dan Banggai Kepulauan (20,26%). Persentase cakupan pelayanan kesehatan pada kelompok ibu hamil dan neonatus dengan risiko tinggi yang dirujuk menurut kabupaten/kota selama tahun 2006 dapat dilihat pada lampiran tabel 27.

Profil Kesehatan Propinsi Sulawesi Tengah 2006 57

3. Pemanfaatan Obat Generik

Penggunaan obat generik merupakan salah satu langkah dalam upaya meningkatkan kemampuan masyarakat menjangkau obat yang berkualitas. Keberhasilan dalam sosialisasi pemanfaatan obat generik sangat dipengaruhi oleh keseriusan tenaga kesehatan dan terjaminnya ketersediaan obat generik di fasilitas kesehatan.

Berdasarkan hasil pemutahiran data/pengumpulan data profil kesehatan kabupaten/kota penulisan resep obat generik selama tahun 2006 adalah sejumlah 469.226 lembar (91,01%) dari total jumlah resep yaitu 515.551 lembar. Angka ini masih kasar karena laporan dari apotek-apotek Swasta masih banyak yang belum menyampaikan laporannya, khususnya apotek di kota Palu belum ada yang menyampaikan laporannya.

Dokumen terkait