• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN

4.1. Pelayanan Kesehatan

a. Cakupan Kunjungan K1 dan K4

PWS KIA bertujuan untuk memantau secara berkesinambungan pelayanan kesehatan ibu hamil, dari mulai ANC sampai persalinannya serta kesehatan anaknya. Pemantauan yang dilakukan adalah pemantauan K1, K4, Deteksi Resti oleh tenaga kesehatan/masyarakat, Kunjungan Neonatus, Persalinan oleh tenaga kesehatan, dan persalinan yang ditolong dukun.

Target pencapaian program untuk K1 = 100 % dan K4 = 95 %. Tahun 2016 ibu hamil yang ada di Kota Padang sebanyak 18.439 orang dengan capaian K1 sebanyak 18.362 orang (99.58%) dan K4 sebanyak 17.755 orang (96.29%). Jika dibanding tahun 2015 capaian ini sama-sama melebihi target program, yakni K1 = 100.28 % dan K4 = 95,61 %.



Semakin baiknya capaian K4 ini menggambarkan adanya jalinan kerja sama yang baik dalam melaksanakan pemantauan wilayah setempat antara Puskesmas dengan Bidan Praktek Swasta (BPS) yang berpraktek di wilayah kerja Puskesmas, sehingga kunjungan K4 terpantau dan terlaporkan dengan lebih baik. Diharapkan kedepan Puskesmas lebih meningkatkan kualitas forum komunikasi BPS di Puskesmas, sehingga kualitas dan kuantitas pemantauan dan pelaporan dari BPS ke Puskesmas akan semakin lebih baik dan lebih maksimal.

b. Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan

Ibu hamil yang melakukan persalinan dengan tenaga kesehatan adalah 16.762 orang dari 17.601 orang ibu bersalin (95.23%). Angka ini sudah mencapai target (95%). Cakupan Persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan menunjukan trend peningkatan setiap tahunnya, ini menunjukan adanya peningkatan kerjasama antara Puskesmas dan BPS dalam pelaksanaan PWS KIA. Meskipun demikian masih harus tetap dilakukan pembinaan kepada pengelola program KIA Puskesmas, pembina Wilayah dan BPS yang ada di Kota Padang.

c. Cakupan Pelayanan Nifas dan Cakupan Pemberian Vitamin A pada Ibu Nifas

Ibu yang mendapatkan pelayanan kesehatan nifas sebanyak 90,68%, sedikit melebihi target tahun 2016 (90%), cakupan ini menurun bila dibanding cakupan tahun 2015 (91.15%). Sasaran ibu bersalin pada tahun 2016 adalah 17.601 orang dengan cakupan ibu mendapat pelayanan nifas 15.961 orang.

Untuk capaian pemberian vitamin A pada ibu nifas jauh menurun dari 95.19% (16.820 orang) di tahun 2015 menjadi 78.90% di tahun 2016 (13.887 orang).



d. Persentase Cakupan Imunisasi TT pada Ibu Hamil dan WUS

Untuk pencegahan terjadinya Tetanus Toksoid pada ibu hamil dilakukan imunisasi TT. Cakupan Imunisasi Tetanus Toksoid pada ibu hamil pada tahun 2016 adalah TT-1 = 27.32%, TT-2 = 21.71%, TT-3 = 16.21%, TT-4 = 19.96%, TT-5 = 12,38% dan TT2+ = 70.26%. Cakupan Imunisasi Tetanus Toksoid pada ibu hamil pada tahun 2015 adalah TT-1 = 28,00%, TT-2 = 22,09 %, TT-3 = 19,24%, TT-4 = 20,07 %, TT-5 = 12,67 % dan TT2+ = 74,07 %. Secara keseluruhan, cakupan di tahun 2016 lebih kecil dibanding tahun 2015. Imunisasi TT juga diberikan pada Wanita Usia Subur (WUS) dan lebih banyak dilakukan untuk imunisasi TT-1.

e. Persentase Ibu Hamil yang Mendapatkan Tablet Fe

Untuk mencegah terjadinya Anemia pada ibu hamil, dilakukan pendistribusian tablet Fe pada ibu hamil selama tiga bulan. Pada tahun 2016, dari 18.439 orang ibu hamil, yang mendapat Fe1 sebanyak 18.362 orang atau 99,58 % dan Fe3 sebanyak 17.755 atau 96,29 %. Capaian ini tidak jauh tidak jauh berbeda dari tahun 2015 yaitu Fe1 sebanyak 100,28% dan untuk Fe3 sebanyak 95,61 %.

f. Cakupan Komplikasi Kebidanan dan Cakupan Neonatus dengan Komplikasi yang Ditangani

Pada Tahun 2016, penanganan komplikasi kebidanan sebanyak 2.582 (70,01%) dari 3.688 perkiraan ibu hamil dengan komplikasi. Cakupan ini jauh meningkat dari Tahun 2015 yakni penanganan komplikasi kebidanan sebanyak 1.544 orang dari 3.702 perkiraan bumil dengan komplikasi yang ditangani atau sebesar 41,70%. Sementara itu Cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani sebesar 1.575 (62,83%) orang dari sebesar 2.507 orang perkiraan neonatal komplikasi.



Cakupan ini meningkat dari Tahun 2015 yakni 1.401 orang dari 2.563 orang perkiraan neonatal komplikasi (54,66%)

g. Persentase KB Aktif dan KB Baru

Pasangan usia subur adalah pasangan suami istri yang istrinya berumur 15-49 tahun. Pada tahun 2016, PasanganUsia Subur (PUS) Kota Padang berjumlah 172.055. Peserta KB baru adalah PUS yang baru pertama kali menggunakan salah satu alat/cara kontrasepsi, sementara KB aktif adalah akseptor yang sedang memakai kontrasepsi. Pada tahun 2016, jumlah peserta KB baru 16.544 orang (9,62%) dan perserta KB aktif sebanyak 112.781 orang (65,55%). Jenis kontrasepsi ini bisa dikatagorikan atas 2, yaitu Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) terdiri dari IUD, MOP/MOW, Implan dan non MKJP terdiri dari suntik, pil, kondom dan obat vagina. Peserta KB baru yang menggunakan MKJP sebanyak 2.941 orang dan non MKJP sebanyak 13.603 orang. Untuk pesera KB aktif yang menggunakan MKJP sebanyak 17.485 orang dan non MKJP 95.296 orang. Capaian penggunaan alat kontrasepsi KB baru lebih besar dibanding tahun 2015, sementara KB aktif hampir sama.

Kondisi tahun 2015 adalah Pasangan Usia Subur (PUS) berjumlah 177.268 orang. PUS yang merupakan peserta KB aktif mengunakan MKJP adalah 17.519 orang dan Non MKJP 83.105 orang. Alat kontrasepsi yang digunakan oleh peserta KB baru dengan MKJP sebanyak 2.075 orang dan non MKJP sebanyak 16.340 orang.

h. Persentase Berat Badan Bayi Lahir Rendah

Berat bayi lahir rendah adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gr. Pada Tahun 2015 ditemukan 2,17% bayi BBLR atau sebesar 371 orang terdiri dari 200 bayi laki-laki dan 171 bayi perempuan.



Dari semua bayi yang ditimbang pada tahun 2016, ditemukan 2,10% bayi BBLR atau sebesar 351 orang terdiri dari 168 bayi laki-laki dan 183 bayi perempuan. Jumlah ini mengalami penurunan dari tahun sebelumnya

i. Cakupan Kunjungan Neonatus

Jumlah bayi tahun 2016 adalah sebanyak 17.040 orang. Bayi yang mendapatkan pelayanan kesehatan sebanyak 15.801 orang atau 92,73 %, sedikit meningkat bila dibandingkan dengan cakupan tahun 2015 (92,89%).

Untuk kunjungan Neonatus 1 kali (KN1) adalah kunjungan neonatal pertama pada 6-48 jam setelah lahir sesuai dengan standar dan Kunjungan neonatal 3 (KN3) adalah pelayanan kunjungan neonatal lengkap, minimal 1 x usia 6-48 jam, 1 x pada 3-7 hari dan 1 x pada 8-28 hari sesuai dengan standar.

KN1 masih mencapai target dari 97,44% di tahun 2015 menjadi 97,30% di tahun 2016, demikian pula dengan KN3 meningkat dari 93,47% di tahun 2015 menjadi 93,94% di tahun 2016. Jumlah KN1 tertinggi pada Puskesmas Pemancungan dan KN3 tertinggi berada pada wilayah kerja Puskesmas Seberang Padang.

j. Persentase Bayi yang Mendapat ASI Eksklusif

Bayi yang mendapat ASI Ekslusif adalah bayi yang mendapat ASI saja sampai berumur 6 bulan, kecuali obat dan mineral. Bayi yang berumur 0-6 bulan yang tercatat dalam register pencatatan pemberian ASI tahun 2016 adalah sebanyak 5.961 orang dan mendapat ASI Ekslusif sebanyak 4.305 (72,22%). Puskesmas Lubuk Kilangan dan Seberang Padang sudah lebih 90%, Sedangkan cakupan paling rendah berada pada wilayah kerja Puskesmas Air Dingin (33,85%). Secara Umum setiap tahun selalu mengalami peningkatan, dapat dilihat pada grafik berikut :



Grafik 4.1. Trend Cakupan ASI Eksklusif di Kota Padang

k. Cakupan Pelayanan Kesehatan Bayi

Setiap bayi memperoleh pelayanan kesehatan minimal 4 kali yaitu satu kali pada umur 29 hari – 3 bulan, 1 kali pada umur 3 – 6 bulan, 1 kali pada umur 6 – 9 bulan, dan 1 kali pada umur 9 – 11 bulan. Pelayanan kesehatan tersebut meliputi pemberian imunisasi dasar (BCG, DPT/HB 1-3, Polio 1 – 4, Campak), stimulasi deteksi intervensi dini tumbuh kembang (SDIDTK) bayi dan penyuluhan perawatan kesehatan bayi.

Dari 17.040 bayi yang ada, terdapat 15.801 bayi yang mendapat pelayanan kesehatan atau sebesar 92,73%, sementara target tahun 2016 adalah 95%.

l. Cakupan Desa/ Kelurahan “Universal Child Immunization” (UCI)

Kelurahan UCI (Universal Child Immunization) adalah desa atau kelurahan dimana 80% dari jumlah bayi yang ada didesa /kelurahan tersebut sudah mendapat imunisasi dasar lengkap pada kurun waktu tertentu. Tahun 2016, dari 104 kelurahan terdapat 71 desa UCI (68,27 %), cakupan ini jauh menurun dibanding tahun 2015 (102 dari 104 kelurahan atau 98,08%).



Target UCI untuk tahun 2016 sebesar 100%, tahun 2015 hanya 2 Puskesmas yang sudah mencapai target UCI yaitu Puskesmas Ulak Karang dan Pauh. Namun pada Tahun 2016 terdapat 9 Puskemas yang telah mencapai UCI.

m. Persentase Cakupan Imunisasi Bayi

Imunisasi rutin yang diberikan pada bayi adalah Hb<7 hari, BCG, DPT-HB3/DPT-HB-Hib3, Polio4, Campak dan Imunisasi Lengkap. Semua cakupan imunisasi menurun di tahun 2016 : Hb<7 hari = 15.250 orang (91,25%), BCG = 15.144 orang (90,62%), DPT-HB3/DPT-HB-Hib3 = 13.234 orang (77,66%), Polio4 = 13.007 orang (76,33%), Campak 13.045 orang (76,56%) dan imunisasi dasar lengkap 12.956 orang (76,03%).

n. Cakupan Pemberian Vitamin A pada Bayi dan Anak Balita

Pendistribusian Vitamin A dilakukan pada bulan Februari dan Agustus. Vitamin A diberikan pada bayi usia 6-11 bulan dan anak Balita 12-59 bulan. Cakupan pemberian Vitamin A pada bayi 6-11 bulan menurun dari 82,73% di tahun 2015 menjadi 80,26% di tahun 2016. Hal yang sama dengan cakupan pemberian Vitamin A pada anak balita, cakupan ini lebih rendah dari 85,36% di tahun 2015 menjadi 83,29% di tahun 2016.

o. Cakupan Baduta ditimbang

Baduta adalah Bayi di bawah usia 2 tahun (0-23 bulan). Dari 33.517 orang sasaran, 75,42% (25.280 orang) diantaranya dilakukan penimbangan berat badan. Dari hasil penimbangan tersebut terdapat 102 orang (0,40%) dalam kategori Bawah Garis Merah (BGM)



p. Cakupan Pelayanan Anak Balita

Setiap anak umur 12-59 bulan memperoleh pelayanan pemantauan pertumbuhan setiap bulan, minimal 8 x dalam setahun yang tercatat di Kohort Anak

Balita dan Pra Sekolah, Buku KIA/KMS, atau buku pencatatan dan pelaporan lainnya.

Indikator ini mengukur kemampuan manajemen program KIA dalam melindungi anak balita sehingga kesehatannya terjamin melalui penyediaan pelayanan kesehatan.

Dari 64.964 anak balita yang menjadi sasaran, terdapat 58.439 orang atau 89,97% yang mendapat pelayanan kesehatan (minimal 8 kali). Pelayanan yang diperoleh adalah pemantauan pertumbuhan dan pemantauan perkembangan.

q. Balita ditimbang

Salah satu cara pemantauan status gizi Balita dan tingkat partisipasi masyarakat terhadap Posyandu adalah dengan menggunakan indikator SKDN. SKDN adalah data untuk memantau pertumbuhan balita. SKDN sendiri mempunyai singkatan S = juklah Balita yang ada di wilayah Posyandu, K = Jumlah Balita yang terdaftar dan mempunyai KMS, D = Jumlah Balita yang datang ditimbang bulan ini dan N = Jumlah Balita yang naik berat badannya.

Dari 81.994 Balita yang di laporkan, Balita yang melakukan penimbangan sebanyak 57.206 balita atau tingkat partisipasi masyarakat membawa Balitanya ke Posyandu hanya 68,79% %. Dari penimbangan tersebut Balita yang BGM ditemukan sebanyak 233 orang (0,41 %). Tingkat partisipasi masyarakat (D/S) tahun 2016 lebih besar jika dibandingkan dengan tahun 2015 yang hanya 65,94% dengan BGM 0,44%.

r. Cakupan Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan

Balita gizi buruk adalah kekurangan energi dan protein tingkat berat akibat kurang mengkonsumsi makanan yang bergizi dan menderita sakit yang begitu lama.



Keadaan ini dengan status gizi sangat kuru (BB/TB)dan atau hasil pemeriksaan klinis menunjukan gejala marasmus, kwasiorkor atau marasmik kwashiorkor.

Penanggulangan kasus balita gizi buruk pada tahun 2016 dilakukan dengan pemberian PMT yang pendanaanya melalui dana APBD Kota Padang dan APBD Propinsi Sumatra Barat. PMT yang diberikan berupa pemberian Susu, Biskuit MP-ASI dan Bubur Susu. Dari jumlah kasus yang dibantu hampir semuanya mengalami kenaikan Berat Badan yang cukup menggembirakan.

Penanggulangan Balita gizi buruk di Kota Padang yang memerlukan perawatan dilakukan di Puskesmas Nanggalo sebagai Puskesmas rawatan gizi buruk. Jika memerlukan penanganan khusus karena penyakit penyerta dirujuk ke Rumah Sakit.

Kasus gizi buruk yang ditemukan pada balita jauh menurun dari 104 orang di tahun 2015 menjadi 68 orang di tahun 2016, dimana anak laki laki (46 orang) lebih banyak mengalami gizi buruk dibanding balita perempuan (22 orang). Semua kasus yang ditemukan di wilayah kerja Puskesmas mendapat perawatan.

Selama rawat inap Balita gizi buruk diberikan perlakuan sesuai tatalaksana gizi buruk selama beberapa hari sampai kondisi balita tersebut menjadi gizi kurang atau gizi baik dan selanjutnya dipulangkan untuk dilakukan rawat jalan. Setelah pasien pulang ke rumah tetap dilakukan konsultasi gizi dan pemantauan oleh tenaga gizi dan dokter Puskesmas masing-masing.

Balita gizi buruk yang rawat jalan adalah Balita dengan kondisi kurus atau kurus sekali yang tidak mau dirawat inap. Dalam penanggulanan kasus Balita gizi buruk ini, banyak kendala yang ditemui seperti Ibu Balita yang tidak mau merujuk anaknya ke Puskesmas Nanggalo dengan alasan ekonomi dan lainnya. Oleh sebab itu



untuk masa yang akan datang diharapkan partisipasi semua pihak untuk melakukan rujukan pasien gizi buruk.

Hasil Pemantauan Status Gizi dari tahun 2013 hingga tahun 2016 dapat dilihat pada grafik berikut :

Grafik 4.2. Trend Kasus Gizi Buruk Tahun 2013-2016

s. Penjaringan Kesehatan Siswa SD dan Setingkat

Pelayanan kesehatan (penjaringan) siswa SD dan setingkat adalah pemeriksaan kesehatan umum, kesehatan gigi dan mulut siswa SD dan Madrasah Ibtidaiyah yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan bersama tenaga kesehatan terlatih (guru dan dokter kecil) di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

Jumlah SD di Kota Padang tahun 2016 sebanyak 422 buah, semua SD mendapat pelayanan kesehatan (penjaringan). Sementara jumlah murid kelas 1 SD atau setingkat tahun 2016 berjumlah 16.488 orang dan yang mendapat pelayanan kesehatan sebanyak 15.474 orang atau 93,85 %. Capaian Program penjaringan kesehatan siswa kelas 1 tahun 2016 sedikit meningkat dari tahun 2015 .



Untuk Program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah kegiatannya lebih banyak bersifat Promotif dan Preventif. Pelayanan kesehatan gigi dilakukan di seluruh SD/MI di kota Padang. Pada tahun 2016 dari 422 SD/MI di Kota Padang hanya 105 SD melakukan Sikat gigi massal tetapi seluruh SD/MI mendapat pelayanan kesehatan gigi. Pemeriksaan gigi dilakukan terhadap 17.159 murid (18,50%) dari 92.769 murid SD/MI yang ada di kota Padang. Hasil pemeriksaan gigi tersebut menemukan 5.974 murid yang memerlukan perawatan gigi dan yang mendapat perawatan gigi sebanyak 2.404 murid (40,24%). Secara keseluruhan cakupan pelayanan kesehatan gigi sekolah ini sedikit menurun dibanding tahun 2015.

t. Rasio Tumpatan/ Pencabutan Gigi Tetap

Program Pelayanan kesehatan gigi dilaksanakan berupa pelayanan klinik di Puskesmas, Upaya kesehatan gigi di Masyarakat dan Usaha Kesehatan gigi Sekolah melalui kegiatan UKS. Cakupan pelayanan kesehatan gigi dan mulut sudah melebihi target 5%, dimana cakupan pelayanan gigi di Kota Padang sudah mencapai 6,50 % ,artinya program kesehatan gigi dan mulut sudah menyentuh masyarakat di Kota Padang. Kegiatan gigi terintegrasi dengan KIA baru mencapai 46% dari target 50%.

Pelayanan Kesehatan gigi dan mulut tahun 2016 di Puskesmas sekota Padang berupa tumpatan gigi tetap sebanyak 2.421 orang dan pencabutan gigi tetap sebanyak 5 orang, dengan rasio tumpatan/pencabutan : 0,42. Capaian Program pelayanan gigi dan mulut tahun 2016 ini sedikit menglami penurunan dari tahun 2015. Capaian pelayanan gigi di Puskesmas pada tahun 2015 adalah berupa tumpatan sebanyak 2.437 orang dan pencabutan sebanyak 6.715 orang dengan rasio tumpatan/pencabutan 0,36.



u. Cakupan Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut (Usila)

Pada hakikatya menjadi tua merupakan proses alamiah yang akan dialami oleh seseorang. Memasuki masa tua berarti mengalami kemunduran baik dari segi psikis maupun fisik, oleh sebab itu perlu upaya kesehatan agar para usia lanjut (Usila) ini dapat hidup sehat dan mandiri. Progaram upaya kesehatan yang dilakukan antara lain penyuluhan secara berkesimbungan, pemeriksaan kesehatan secara berkala dan melakukan penjaringan Usila resiko tinggi.

Usia lanjut adalah orang yang berumur 60 tahun ke atas dan di kota Padang tahun 2016 berjumlah 59.913 orang dan mendapat pelayanan kesehatan sebanyak 14.694 orang atau 24,53%. Jika dilihat berdasarkan jender, lansia perempuan lebih banyak mendapat pelayanan kesehatan di banding laki-laki. Jika dilihat dari persentasenya, cakupan tahun 2016 sedikit meningkat dibanding tahun 2015.

Usila di Kota Padang tahun 2015, dari 57.362 orang lansia, yang mendapat pelayanan kesehatan sebanyak 12.770 orang atau 22,26% dan lebih besar pada lansia perempuan.

Kelompok lansia ini bisa memanfaatkan Posyandu Lansia untuk pemeriksaan kesehatan, senam lansia secara berkala dan mendapat penyuluhan kesehatan. Untuk meningkatkan cakupan pelayanan lansia ini perlu kerjasama yang baik antara puskesmas, tokoh masyarakat, kader Posyandu dan lintas terkait. Disamping itu beberapa puskesmas sudah melaksanakan program santun lansia.

v. Cakupan Pelayanan Gawat Darurat Level 1 yang Harus Diberikan Pelayanan Kesehatan (RS) di Kota Padang

Rumah Sakit di Kota Padang tahun 2016 berjumlah 29 buah semuanya mempunyai kemampuan gawat darurat, terdiri dari 13 Rumah Sakit Umum dan 16 Rumah Sakit Khusus.



Dokumen terkait