• Tidak ada hasil yang ditemukan

UPAYA PELAYANAN KESEHATAN

1. Pelayanan Kesehatan

a. Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil

Pelayanan kesehatan ibu hamil diberikan oleh tenaga kesehatan profesional sesuai dengan standar yang ditetapkan dalam standar pelayanan kebidanan pada masa kehamilan. Tujuan pelayanan antenatal adalah mengantisipasi dan mendeteksi dini kelainan kehamilan dan kelainan janin serta mempersiapkan ibu hamil agar dapat ibu dan bayinya sehat ketika proses bersalin. Pelayanan kesehatan ibu hamil dapat dikategorikan pada layanan antenatal, persalinan, dan ibu nifas.

a.1. Pemeriksaan Ibu Hamil

Pemeriksaan ibu hamil (bumil) dilakukan setidaknya 4 kali dalam masa kehamilan seorang ibu. Indikaror K1 adalah adalah proporsi kelahiran yang mendapat pelayanan kesehatan ibu hamil minimal 1 kali tanpa memperhitungkan periode waktu pemeriksaan. Sementara K1 ideal adalah proporsi kelahiran yang mendapat pelayanan kesehatan ibu hamil pertama kali pada trimester 1.

Terdapat 45.189 ibu hamil di Kota Bandung tahun 2017 secara estimasi. Kunjungan ibu hamil pertama pada usia kehamilan (K1) di Kota Bandung tahun 2017 sebanyak 45.547 Bumil atau sebesar 100,79%. Cakupan layanan kunjungan Bumil K1 dari periode 3 tahun terakhir memiliki tren meningkat. Perkembangan cakupan K1 dari tahun 2013 – 2017 dapat dilihat pada grafik di bawah ini.

Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2017 43

Gambar 35

Cakupan Layanan Kunjungan Bumil K1 di Kota Bandung

Tahun 2013 -2017

Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi tahun 2017

K4 adalah proporsi kelahiran yang mendapat pelayanan kesehatan ibu hamil selama 4 kali dan memenuhi kriteria 1-1-2 yaitu minimal 1 kali pada trimester 1, minimal 1 kali pada trimester 2 dan minimal 2 kali pada trimester 3. Pemeriksaan minimal kehamilan yang dianjurkan oleh tenaga kesehatan seorang ibu hamil adalah 4 kali selama kehamilan.

Cakupan K4 pada tahun 2017 di Kota Bandung sebanyak 44.711 Bumil atau 98,94 % dari sasaran ibu hamil. Cakupan layanan kunjungan Bumil K4 dalam beberapa tahun terakhir dapat diamati pada grafik di bawah ini.

Gambar 36

Cakupan Layanan Kunjungan Bumil K4 di Kota Bandung

Tahun 2013 -2017

Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi tahun 2017 103,4 95,43 96,49 98,45 100,79 94 96 98 100 102 104 2013 2014 2015 2016 2017 P ER SE N TA SE TAHUN K1 97,3 95 104,29 94,36 98,94 92 94 96 98 100 102 104 106 2013 2014 2015 2016 2017 PE RSE N TASE TAHUN K4

Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2017 44

Layanan kunjungan K4 Bumil di Kota Bandung memperlihatkan pola yang berfluktuasi. Sempat menurun di tahun 2016 untuk kemudian meningkat kembali di tahun 2017 ini. Penurunan persentase pada periode tahun 2016 dikarenakan juga oleh capaian K4 tahun 2015 melampaui 100,00 % dari sasaran ibu hamil di populasi.

Penetapan sasaran target kelompok kesehatan menjadi penting karena menentukan acuan kerja dan kualitas kesehatan masyarakat setempat. Oleh sebab itu penetapan sasaran kelompok kesehatan yang ideal bersumber pada data senyata mungkin di lapangan.

Tiga wilayah dengan cakupan K1 dan K4 tertinggi terdapat di wilayah Kecamatan Regol, Arcamanik, dan Cibeunying Kidul. Cakupan K1 dan K4 tahun 2017 per-wilayah di Kota Bandung dapat dilihat pada peta tematik grafik di bawah ini.

Gambar 37

Cakupan Layanan Kunjungan Bumil K1 dan K4 di Kecamatan Kota Bandung

Tahun 2017

Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2017 45

Besar kunjungan K1 dan K4 idealnya adalah sama sehingga semua ibu hamil terpantau dari awal kehamilan hingga masa persiapan persalinannya. Bumil yang tidak memeriksakan kembali kesehatan kehamilannya sehingga memenuhi kriteria K4 dapat di kategorikan sebagai drop out / mangkir. Peredaan jumlah kunjungan K1 dan K4 tahun 2017 di Kota Bandung seperti ditunjukkan pada data di atas adalah sebesar 836 Bumil.

Wilayah Kecamatan Bandung Kulon (150 Bumil), Ciparay (101 Bumil), dan Bojongloa Kaler (85 Bumil) adalah tiga kecamatan yang terbesar jumlah perbedaan kunjungan bumil K1 dan K4-nya. Kecamatan Mandalajati memiliki kunjungan K4 yang lebih besar dari pada kunjungan K1nya (-2 Bumil). Besar jumlah perbedaan pemeriksaan Bumil K1 dan K4 dapat dikarenakan beberapa hal yang antara lain yaitu tingginya perpindahan warga (bumil).

Penguatan pencacatan dan tracking bumil untuk mengurangi under reporting yang mungkin terjadi merupakan solusi untuk mengatasi permasalahan mangkir / drop out. Jumlah perbedaan jumlah pemeriksaan kesehatan Bumil K1 di K4 per-wilayah seperti pada grafik berikut ini.

Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2017 46

Gambar 38

Perbedaan Jumlah Kunjungan Bumil K1 dan K4 di Kecamatan Kota Bandung

Tahun 2017

Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi tahun 2017

Standar kualitas pelayanan antenatal yaitu antara lainnya adalah pemberian imunisasi TT (Tetanus Toksoid) dan zat besi (Fe) 90 tablet pada ibu hamil. Oleh karena itu layanan kunjungan K4 pada Bumil mencatat pemberian pemberian TT2 dan Tablet Fe. Dengan demikian ibu hamil yang tercatat sebagai cakupan dalam K4 juga tercatat dan menjadi cakupan pemberian Fe3 dan TT2.

a.2. Imunisasi Tetanus Toksoid (TT) Ibu Hamil

Upaya pencegahan Tetanus Neonatorum dilakukan dengan memberikan imunisasi TT (Tetanus Toksoid) pada ibu hamil dan juga

30 9 3 14 28 31 0 13 2 14 47 28 8 52 5 85 28 101 150 26 -2 47 18 16 19 1 11 17 20 15 -2 48 98 148 SUKASARI SUKAJADI CICENDO ANDIR CIDADAP COBLONG BANDUNG WETAN SUMUR BANDUNG CIBEUNYING KALER CIBEUNYING KIDUL KIARACONDONG BATUNUNGGAL LENGKONG REGOL ASTANAANYAR BOJONGLOA KALER BOJONGLOA KIDUL BABAKAN CIPARAY BANDUNG KULON ANTAPANI MANDALAJATI ARCAMANIK UJUNGBERUNG CINAMBO CIBIRU PANYILEUKAN GEDEBAGE RANCASARI BUAHBATU BANDUNG KIDUL JUMLAH BUMIL KE CMA TA N Drop Out 2017

Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2017 47

pada wanita usia subur (WUS). Konsep imunisasi TT adalah life long immunization yaitu pemberian imunisasi imunisasi TT1 sampai dengan TT5 pada Bumil / WUS.

Imunisasi TT pada Bumil pada kehamilan pertama diberikan 2 kali sebelum usia kehamilan 8 bulan untuk mendapatkan kekebalan imunisasi TT lengkap. TT1 dapat diberikan sejak diketahui positif hamil biasanya diberikan pada kunjungan pertama ibu hamil ke sarana kesehatan. Berikut adalah tabel yang menguraikan jumlah ibu hamil yang diimunisasi TT di Kota Bandung tahun 2017.

Tabel 3

Pemberian Imunisasi TT Bumil di Kota Bandung

Tahun 2017

JENIS IMUNISASI TT JUMLAH PERSENTASE (%)

TT 1 33.980 75,20 TT 2 29.026 64,23 TT 3 9.734 21,54 TT 4 6.431 14,23 TT 5 4.892 10,83 TT2+ 50.083 110,83

Sumber : Seksi Surveilans dan Imunisasi Tahun 2017

a.3. Pemberian Tablet Besi Pada Bumil

Sebanyak 36.206 Bumil diberikan tabelt Fe1 (80,12 %) dari 45.189 estimasi Bumil di Kota Bandung tahun 2017. Ibu hamil dengan pemberian tablet Fe3 sebanyak 35.314 Bumil atau 78,15 % dari seluruh sasaran bumil. Dari data itu diketahui terdapat gap sebanyak 892 ibu hamil tidak mendapatkan pemberian tablet Fe3. Bila jumlah Fe3 dibandingkan dengan layanan K4, maka terdapat perbedaan sebanyak 9.397 bumil yang mendapatkan K4 tetapi tidak mendapatkan layanan pemberian tablet Fe3. Penguatan Sistem Informasi Kesehatan dengan memadukan (sinkronisasi) beberapa sumber pencacatan, kordinasi petugas kesehatan, dan standarisasi pelaporan layanan ibu hamil perlu dilakukan untuk mendapatakan data yang valid yang mengggambarkan cakupan sesunguhnya di lapangan.

Cakupan tertinggi pemberian Fe3 (90 tablet) berada di Kecamatan Mandalajati (100 %), Kiaracondong (99,86%), dan

Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2017 48

Batununggal (99,15 %). Perkembangan capaian pemberian tablet Fe kepada ibu hamil yang tercatat di Dinkes Kota Bandung dapat diamati sebagai perbandingan melalui grafik di bawah ini.

Gambar 39

Persentase Cakupan Fe1 dan Fe3

di Kecamatan Kota Bandung Tahun 2013 - 2017

Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi tahun 2017

a.4. Komplikasi Kebidanan yang Ditangani oleh Tenaga Kesehatan

Ibu hamil dengan komplikasi kebidanan di Kota Bandung tahun 2017 sebanyak 6.183 bumil atau sebesar 13,68 % dari jumlah ibu hamil tahun 2017. Dari jumlah tersebut sebanyak 5.946 bumil (96,17%) ditangani oleh petugas kesehatan sesuai standar di pelayanan dasar dan rujukan.

Gambar 40

Persentase Cakupan Penanganan Bumil Komplikasi di Kota Bandung

Tahun 2013 - 2017

Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi tahun 2017 87,63 88,99 90,77 95,98 80,12 83,04 83,04 87,46 84,18 78,15 75,00 80,00 85,00 90,00 95,00 100,00 2013 2014 2015 2016 2017 P ER SE N TAS E TAHUN Fe1 Fe3 93,58 94,37 98,93 93,09 96,17 91,00 93,00 95,00 97,00 99,00 101,00 2013 2014 2015 2016 2017 P ER SE N TA SE TAHUN Penanganan Komplikasi

Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2017 49

Sepuluh kecamatan telah mencapai 100,00% cakupan penanganan Bumil komplikasi yang ditemui dan ditangani. Cakupan Bumil komplikasi ditemui dan ditangani terendah ditemui di Kecamatan Sumur Bandung (45,53%). Untuk lebih jelas melihat cakupan penanganan Bumil komplikasi ditemui dan ditangani per-wilayah dapat dilihat pada peta tematik di bawah ini.

Gambar 41

Peta Cakupan Penanganan Bumil Komplikasi di Kecamatan di Kota Bandung

Tahun 2017

Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi tahun 2017

a.5. Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan

Proses persalinan merupakan proses yang kritis dan menentukan baik bagi ibu maupun bagi bayinya. Semua ibu bersalin (bulin) diharapkan mendapat pertolongan dari tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi kebidanan. Dengan bersalain di Faskes (oleh Nakes terlatih) ibu dan bayi akan memperoleh pelayanan sesuai standar

Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2017 50

kesehatan dan akses yang adekuat bila terjadi komplikasi yang mungkin timbul.

Capaian pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan berkompetensi kebidanan di Kota Bandung pada tahun 2017 sebanyak 42.622 persalinan, atau 94,30 % dari 45.189 perkiraan persalinan. Proporsi persalinan yang ditolong oleh nakes tahun 2016 sebesar 93,03% sehingga terjadi peningkatan cakupan persalinan oleh nakes di tahun 2016. Dalam grafik berikut ini dijelaskan mengenai perkembangan cakupan layanan persentase linakes tahunan di Kota Bandung.

Gambar 42

Persentase Cakupan Linakes di Kota Bandung

Tahun 2014 - 2017

Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi tahun 2017

a.6. Pelayanan Nifas dan Pemberian Vitamin A kepada Ibu Nifas (Bufas)

Kematian ibu seringkali terjadi dalam periode nifas sehingga layanan kesehatan nifas sangat diperlukan dalam mencegah terjadinya kematian ibu. Upaya pelayanan kesehatan nifas berbentuk kunjungan bufas yaiut sesuai standar sedikitnya 3 kali, kunjungan nifas ke-1 pada 6 jam setelah persalinan s.d 3 hari; kunjungan nifas ke-2 hari ke 4 s/d hari ke 28 setelah persalinan, kunjungan nifas ke-3 hari ke 29 s/d hari ke 42 setelah persalinan.

Sebanyak 40.021 ibu nifas (KF3) mendapatkan pelayanan kesehatan Nifas atau 88,56 % dari perkiraan jumlah ibu hamil tahun 2017 di Kota Bandung. Persentase pelayanan Bufas bila disandingkan tahun

93,58 94,37 98,93 93,09 94,30 90,00 92,00 94,00 96,00 98,00 100,00 2013 2014 2015 2016 2017 PE RSE N TASE TAHUN LINAKES

Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2017 51

2016 ada penurunan cakupan yakni dari 93,00%. Gambaran cakupan layanan Bufas dari tahun ke tahun dapat diamati pada grafik sebagaimana berikut.

Gambar 43

Persentase Cakupan Layanan Bufas (KF3) di Kota Bandung

Tahun 2014 - 2017

Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi tahun 2017

Pemberian Vitamin A merupakan salah satu komponen layanan kesehatan pada ibu Nifas. Pada tahun 2017 di Kota Bandung diberikan vitamin A kepada sebanyak 42.803 Bufas atau 94,72 % dari jumlah ibu hamil. Jika melihat data layanan Bufas dan pemberian Vitamin A, maka tampak perbedaan sebanyak 2.782 ibu hamil yang diberikan Vitamin A dalam rangka peningkatan kesehatan paska melahirkan akan tapi tidak terkategorikan sebagai kunjungan ibu nifas. Cakupan layanan pemberian Vitamin A pada ibu Nifas dapat diamati pada grafik di bawah ini.

Gambar 44

Persentase Cakupan Pemberian Vit A pada Bumil di Kota Bandung

Tahun 2014 - 2017

Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi tahun 2017 81,39 87,14 93,00 88,56 78,00 83,00 88,00 93,00 98,00 2014 2015 2016 2017 P ER SE N TA SE TAHUN KF3 71,96 87,14 89,48 94,72 68,00 78,00 88,00 98,00 2014 2015 2016 2017 P ER SE N TA SE TAHUN VIT A BUFAS

Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2017 52 b. Pelayanan Keluarga Berencana (KB)

b.1. Peserta Keluarga Berencana Baru dan Aktif

Kota Bandung, sebagai ibu kota Jawa Barat dan termasuk kota terbesar setelah Jakarta, mempunyai daya tarik untuk memancing masuknya penduduk dari luar daerah. Hal tersebut, selain faktor fertilitas, membuat Kota Bandung mengalami masalah kepadatan penduduk sebagaimana permasalah perkotaan lainnya di Indonesia.

Pelayanan KB merupakan upaya untuk mendukung kebijakan Program Keluarga Berencana Nasional. Tujuan program KB sendiri adalah guna membatasi jumlah penduduk dan merencanakan keluarga. Sektor kependudukan berperan penting dan strategis dalam mewujudkan hal tersebut.

Perhitungan cakupan peserta KB baru ditujukan untuk mengetahui partisipasi masyarakat yang baru mengikuti program Keluarga Berencana. Sedangkan perhitungan peserta KB aktif adalah pasangan usia subur yang pada saat ini masih menggunakan salah satu cara atau alat kontrasepsi.

Persentase Peserta KB Aktif dihitung dengan memproporsikan jumlah peserta KB baru dengan pasangan usia subur (PUS) di suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu. Jumlah pasangan usia subur di Kota Bandung tahun 2017 sebanyak 474.608 pasangan. Sebesar 57,06% dari jumlah tersebut atau 270.822 pasangan menjadi peserta KB aktif dan 27.232 pasangan atau 5,74% tercatat sebagai peserta KB baru. Grafik proporsi peserta

Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2017 53

Gambar 45

Proporsi Peserta KB Baru, Aktif, dan Belum berKB di Kota Bandung Tahun 2017

Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi tahun 2017

b.2. Peserta KB Aktif dan Baru Menurut Jenis Alat Kontrasepsi

Proporsi peserta KB Aktif menurut jenis kontrasepsi KB metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) di Kota Bandung tahun 2017 sebesar 41,24 % (111.683 peserta aktif) dan 58,76 % (270.822 peserta aktif) jenis non-MKJP. Proporsi KB Baru menurut jenis kontrasepsi KB MKJP sebesar 15,32% (4.171 peserta baru) dan 84,68% (27.227 peserta baru) untuk non-MKJP.

Pada peserta KB aktif penggunaan alat kontrasepsi berturut suntik, IUD (intra uterine device), dan pil menjadi alat kontrasepsi yang paling diminati. Peserta KB baru menggunaan alat kontrasepsi berturut suntik, pil dan IUD sebagai jenis alat kontrasepsi yang paling diminati. Proporsi penggunaan jenis alat kontrasepsi pada kedua kelompok peserta KB tersebut dapat dilihat pada grafik di bawah ini.

5,74

57,06 37,20

Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2017 54

Gambar 46

Proporsi Peserta KB Baru dan Aktif Menurut Jenis Alat Kontrasepsi di Kota Bandung

Tahun 2017

Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi tahun 2017

c. Pelayanan Kesehatan Bayi c.1. Kunjungan Neonatus

Masa neonatus adalah masa sejak lahir sampai dengan 4 minggu (28 hari) sesudah kelahiran. Kelompok usia ini masa yang sangat penting karena merupakan masa dengan risiko gangguan keshatan yang tinggi sehingga diperlukan upaya khusus perawatannya.

Pelayanan ini diberikan sesuai standar sedikitnya tiga kali yaitu pada kurun bayi berumur 6-24 jam setelah lahir, pada 3 – 7 hari, 3 hari – 7 hari, dan pada <28 hari yang dilakukan di fasilitas kesehatan maupun kunjungan rumah oleh tenaga kesehatan. Kunjungan Neonatal untuk memeriksakan kesehatan neonatus tersebut dilakukan sebanyak 3 kali atau dikenal dengan KN1, KN2, dan KN3.

Cakupan KN1 di Kota Bandung tahun 2017 sebanyak 42.622 neonatus (101,84%) dan cakupan KN3 sebanyak 39.580 (94,58%). Penetapan sasaran neonatus secara estimasi memungkinkan pencapaian melebihi 100% dikarenakan neonatus yang dilayani melebihi target/populasi sasaran neonatus awal. Meskipun pencapaian KN1 tinggi, akan tetapi terdapat gap yang besar dengan KN lengkap. Bila

34,31 0,29 4,34 2,30 2,34 41,06 15,37 Peserta KB Aktif

IUD MOP MOW

IMPLAN KON DOM SUNTIK PIL 12,88 0,04 0,41 1,99 6,77 63,81 14,10 Peserta KB Baru

IUD MOP MOW

IMPLAN KON DOM SUNTIK PIL

Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2017 55

dibandingkan cakupan KN1 dan KN3 maka tampak sebanyak 3.042 neonatus tidak kembali melakukan kunjungan hingga lengkap. Gap KN1 dan KN3 tahun 2017 terbesar dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Gambaran cakupan KN1 dan KN3 dalam beberapa tahun dapat diperhatikan pada grafik di bawah ini.

Gambar 47

Cakupan KN1 dan KN3 di Kota Bandung Tahun 2017

Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi tahun 2017

Cakupan KN1 terbesar terdapat di wilayah Kecamatan Regol (109,62%), Kecamatan Bojongloa Kaler 104,66%), dan Sukarasa (104,21%). Cakupan KN3 terbesar berada Kecamatan Sukasari (104,00%), Buahbatu (100,00%) dan Gedebage (99,51%). Lebih rinci mengenai cakupan KN1 dan KN3 tahun 2017 di kecamatan di Kota Bandung dapat diperhatikan pada gambar peta tematik berikut ini.

89,9 97,74 87,55 92,63 101,84 82,86 91,36 85,16 90,23 94,58 0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 2013 2014 2015 2016 2017 PE RSE N TASE TAHUN KN1 KN3

Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2017 56

Gambar 48

Peta Cakupan KN1 dan KN3 di Kecamatan Kota Bandung Tahun 2017

Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi tahun 2017

c.2. Imunisasi Bayi

Gambaran imunisasi bayi secara keseluruhan di suatu daerah dapat diketahui dari cakupan imunisasi dasar lengkap. Cakupan dasar imunisasi lengkap di Kota Bandung tahun 2017 sebesar 100,69 % meningkat dari tahun 2016 yang sebesar 91,17%. Grafik yang menunjukkan perkembangan cakupan imunisasi dasar lengkap pada bayi dapat diamati pada gambar di bawah ini

Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2017 57

Gambar 49

Cakupan Imunisasi Dasar Bayi Lengkap di Kota Bandung

Tahun 2017

Sumber: Seksi Surveilans dan Imunisasi DinKes Kota Bandung 2017

Gambar 50

Peta Cakupan Imunisasi Dasar Lengkap di Kecamatan Kota Bandung

Tahun 2017

Sumber: Seksi Surveilans dan Imunisasi DinKes Kota Bandung 2017

Bila ditinjau dari perspektif kewilayahan, beberapa kecamatan dengan cakupan imunisasi terendah di tahun 2017 yaitu Bandung Wetan

98,92 94,07 91,17 100,69 86,00 91,00 96,00 101,00 2014 2015 2016 2017 PE RSE N TASE TAHUN

Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2017 58

(60,46%), Sumur Bandung (77,38%), dan Bandung Kidul (88,54%). Lebih rinci cakupan imunisasi per-wilayah dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Capaian cakupan imunisasi menurut jenis imunisasinya (HB<7, BGG, DPT HiB3, Polio4, Campak) meningkat dalam periode tahun 2015 – 2017 pada jenis imunisasi HB<7, BCG, Polio, dan Campak. Untuk periode dua tahun yakni tahun 2016 – 2017, semua jenis imunisasi terjadi peningkatan cakupannya. Grafik di bawah ini menerangkan mengenai cakupan imunisasi menurut jenis imunisasinya pada 3 tahun terakhir.

Gambar 51

Cakupan Imunisasi Dasar Lengkap di Kota Bandung

Tahun 2017

Sumber: Seksi Surveilans dan Imunisasi DinKes Kota Bandung 2017

Universal child immunization (UCI) adalah upaya pemberian imunisasi dasar lengkap pada seluruh bayi di suatu wilayah. Seluruh kelurahan harus mencapai pemberian imunisasi dasar lengkap minimal 80,00% dari populasi bayi yang ada. Semua kelurahan yang ada di Kota Bandung (151 kelurahan) telah mencapai 100,00 % kelurahan UCI.

c.3. ASI Eksklusif

Air susu ibu (ASI) memiliki banyak manfaat dan keunggulan bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi. Keunggulan dan manfaat menyusui dapat dilihat dari beberapa aspek yaitu aspek gizi, aspek

95,05 95,08 99,6 99,07 99,34 96,31 98,83 97,69 98,34 99,39 100,31 101,12 100,38 100,53 100,84 92,00 93,00 94,00 95,00 96,00 97,00 98,00 99,00 100,00 101,00 102,00

Hb<7 BCG DPT HiB 3 Polio 4 Campak

PE RSE N TASE JENIS IMUNISASI 2015 2016 2017

Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2017 59

imunolgik, aspek psikologi, aspek kecerdasan, neurologis, ekonomis dan penundaan kehamilan. ASI Eksklusif adalah pemberian hanya air susu ibu saja kepada bayinya di usia 0 – 6 bulan.

ASI eksklusi pada bayi usia 0-6 bulan di Kota Bandung tahun 2017 sebanyak 18.374 bayi (67,33%). Cakupan ASI eksklusif pada bayi dari tahun ke tahun memperlihatkan pola menaik. Grafik di bawah ini menggambarkan perkembangan cakupan ASI eksklusif dari tahun 2013- 2017 di Kota Bandung.

Gambar 52

Cakupan Pemberian ASI Eksklusif di Kota Bandung

Tahun 2013 - 2017

Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi tahun 2017

Dari perspektif kewilayahan, cakupan pemberian ASI Eksklusif cukup bervariasi antar daerah. Cakupan pemberian ASI Eksklusif terbesar terdapat di Kecamatan Gedebage (95,04%), Cicendo (91,79%), dan Bandung Kidul (89,93%). Sedangkan cakupan pemberian ASI Eksklusif terkecil berada di Kecamatan Ujungberung ( 18,51%). Cakupan ASI Eksklusif per kecamatan dapat dilihat pada peta tematik berikut ini.

41,66 52,8 54,25 56,06 67,33 35,00 45,00 55,00 65,00 75,00 2013 2014 2015 2016 2017 PE RSE N TASE TAHUN ASI Eksklusif

Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2017 60

Gambar 53

Cakupan Pemberian ASI Eksklusif di Kota Bandung

Tahun 2017

Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi tahun 2017

d. Pelayanan Kesehatan Anak Balita

Masa anak-anak, terlebih masa usia anak balita, adalah masa penting dalam pertumbuhan serta perkembangan anak. Berbagai aspek perkembangan motorik, kognitif, serta bahasa sangat pesat terjadi pada usia anak balita selain pertumbuhan fisik itu sendiri. Oleh karena itu perlu upaya yang dilakukan untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan anak balita termasuk pertumbuhan dan perkembangannya.

Pelayanan kesehatan bagi anak umur 12 - 59 bulan yang memperoleh pelayanan sesuai standar, meliputi pemantauan pertumbuhan minimal 8 x setahun, pemantauan perkembangan minimal 2 x setahun, pemberian vitamin A 2 x setahun. Pelayanan kesehatan anak balita di Kota Bandung tahun 2017 diberikan kepada 152.346 anak balita atau 95,02% dari estimasi populasi anak balita.

Pemberian Vitamin A pada balita (termasuk bayi usia 6-11 bulan) rutin diberikan 2 kali dalam setahunnya pada bulan Februari dan Agustus

Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2017 61

bersamaan dengan bulan penimbangan balita. Pada tahun 2017, terdapat sebanyak 202.758 anak balita (6-59 bulan) di Kota Bandung, dari jumlah tersebut yang telah diberi Vitamin A 2 kali tercatat sebanyak 117.886 anak balita atau 58,14%. Pemberian Vitamin A kepada bayi usia 6-11 bulan sebanyak 13.736 bayi atau sekitar 32,38 % dan pada anak balita (12-59 bulan) sebanyak 104.150 balita atau sekitar 64,04 %. Grafik perkembangan persentase pemberian Vitamin A berdasarkan kategori usia anak balita dari tahun ke tahun dapat dilihat dalam grafik berikut.

Gambar 54

Cakupan Pemberian Vitamin A Anak Balita di Kota Bandung

Tahun 2014 - 2017

Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi tahun 2017

Pemberian vitamin A pada anak balita terlihat berfluktuasi tiap tahun per kelompok usia pemberiannya (6-11 bulan dan 12–59 bulan). Di tahun 2017, meski pemberian vitamin A pada balita bayi (6-11 bulan) terlihat menurun, secara keseluruhan (usai 6 – 59 bulan) persentase pemberian vitamin A pada anak balita meningkat di bandingkan tahun-tahun sebelumnya. (Gizi : Kualitas laporan secara keselurahan ditingkatkan)

e. Pelayanan Gizi

e.1. Balita Ditimbang (D) dan Naik (N) Berat Badannya

Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak sangatlah diperlukan. Pemantauan pertumbuhan dilaksanakan dengan rutin berupa

73,3 76,12 56,42 58,14 75,58 60,72 70,29 32,38 63,78 60,38 53,35 64,95 25,00 35,00 45,00 55,00 65,00 75,00 85,00 2014 2015 2016 2017 PE RSE N TASE TAHUN

Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2017 62

aktivitas penimbangan berat badan yang di Posyandu maupun di sarana faskes lain. Tujuannya adalah untuk mengetahui sejak dini status pertumbuhan (status gizi) dan perkembangan oleh balita.

Jumlah balita di Kota Bandung tahun 2017 secara estimasi adalah 202.758 balita. Sebanyak 129.355 balita atau 63,80% terpantau ditimbang berat badannya di Posyandu atau sarana faskes lainnya. Cakupan penimbangan balita usia di bawah dua tahun (Baduta) sebanyak 48. 255 (82,01%) dari 58.840 balita. Cakupan penimbangan balita di Kota Bandung dari tahun ke tahun dapat diperhatikan pada gambar grafik di bawah ini.

Gambar 55

Cakupan Penimbangan Balita di Kota Bandung

Tahun 2017

Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi tahun 2017

Cakupan balita ditimbang tertinggi terdapat di Kecamatan Cinambo (98,96%) dan terendah ada di Kecamatan Panyileukan (47,39%). Selain bertujuan untuk memantau perkembangan dan pertumbuhan, kegiatan penimbangan balita juga dapat mengukur tingkat pertisipasi masyarakat di Posyandu. Cakupan penimbangan balita tahun 2017 di Kota Bandung dapat diperhatikan pada gambar di bawah ini.

61,68 64,89 74,37 63,8 50,00 55,00 60,00 65,00 70,00 75,00 80,00 2014 2015 2016 2017 PE RSE N TASE TAHUN BALITA DITIMBANG

Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2017 63

Gambar 56

Cakupan Penimbangan Balita di Kota Bandung

Tahun 2017

Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi tahun 2017

Hasil pengamatan penimbangan berat badan balita berupa peroporsi balita yang naik berat badannya dari penimbangan bulan sebelumnya. Sebanyak 73.495 balita (56,82 %) dari balita yang ditimbang mengalami kenaikan berat badannya (N). Kecamatan Babakan Ciparay memiliki cakupan balita naik berat badannya (80,60%) diikuti Panyileukan (78,45%), dan Kiaracondong (71,55%). Wilayah dengan proporsi balita berat badan naik terkecil berada di wilayah Kecamatan Bandung Kidul (24,68%).

Profil Kesehatan Kota Bandung Tahun 2017 64

Gambar 57

Cakupan Penimbangan Balita di Kota Bandung

Tahun 2017

Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi tahun 2017

e.2. Anak Balita dengan Status Bawah Garis Merah (BGM)

Berat badan balita menjadi patokan pertumbuhan Balita. Balita yang sehat akan terus menunjukkan kenaikan berat badan seiring

Dokumen terkait