• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

C. Pelayanan 1. Pelayanan resep 1.Pelayanan resep

Pelayanan resep meliputi skrining resep dan penyiapan obat. a. Skrining resep

Skrining resep dilakukan dengan tujuan untuk meminimalisasi terjadinya medication error. Menurut Kepmenkes RI Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 medication error adalah kejadian yang merugikan pasien akibat pemakaian obat selama dalam penanganan tenaga kesehatan, yang sebetulnya dapat dicegah. Medication error yang berusaha diminimalisir melalui skrining resep ini adalah dispensing error

yang merupakan lingkup tanggung jawab farmasis. Kepmenkes RI Nomor 1027 tahun 2004 apoteker melakukan skrining resep meliputi persyaratan administratif, kesesuaian farmasetik dan pertimbangan klinis.

1) Persyaratan administratif

Kepmenkes RI Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 menyebutkan bahwa skrining resep mengenai persyaratan administrasi meliputi :

a) nama,SIP dan alamat dokter b) tanggal penulisan resep

c) tanda tangan/paraf dokter penulis resep

d) nama, alamat, umur, jenis kelamin, dan berat badan pasien e) nama obat , potensi, dosis, jumlah yang minta

f) cara pemakaian yang jelas g) informasi lainnya.

Tabel XXV. Skrining resep mengenai persyaratan administratif

No Persyaratan administrasi Jumlah Persentase (%) n = 35

1 Ya 33 94

2 Tidak 2 6

Total 35 100

Hasil penelitian tersebut dapat dilihat bahwa sebanyak 94% responden selalu melakukan skrining resep mengenai persyaratan administrasi dan sebanyak 6% responden tidak selalu melakukan skrining resep mengenai persyaratan administrasi.

2) Kesesuaian farmasetik

Kepmenkes RI Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 menyebutkan bahwa skrining resep mengenai kesesuaian farmasetik meliputi : bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas, cara dan lama pemberian.

Tabel XXVI. Skrining resep mengenai kesesuaian farmasetik No Kesesuaian farmasetik Jumlah Persentase (%)

n = 35 1 Bentuk sediaan, dosis,

potensi, stabilitas,

inkompatibilitas, cara dan lama pemberian.

21 60

2 Bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas, cara pemberian. 1 3 3 Bentuk sediaan, dosis,potensi,

inkompatibilitas, cara dan lama pemberian.

1 3

4 Bentuk sediaan, dosis,potensi, cara dan lama pemberian.

3 8

5 Bentuk sediaan, dosis,

stabilitas, cara pemberian. 1 3 6 Bentuk sediaan, dosis,

inkompatibilitas, cara dan lama pemberian.

1 3

7 Bentuk sediaan, dosis, cara

dan lama pemberian. 3 8

8 Bentuk sediaan, potensi,

cara dan lama pemberian. 1 3 9 Dosis,potensi, cara dan

lama pemberian. 2 6

10 Tidak melakukan 1 3

Hasil penelitian didapatkan bahwa bahwa enam puluh persen responden telah melakukan skrining resep mengenai kesesuaian farmasetik meliputi bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas, cara pemberian dan lama pemberian sesuai dengan Kepmenkes RI Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004, sedangkan 37% responden belum melakukan skrining resep kesesuaian farmasetik secara menyeluruh, termasuk tiga persen sama sekali tidak melakukan skrining resep kesesuaian farmasetik sehingga kemungkinan terjadinya

medication error masih relatif besar.

3) Pertimbangan klinis

Kepmenkes RI Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 menyebutkan bahwa skrining resep mengenai pertimbangan klinis meliputi : alergi, efek samping, interaksi, dosis, durasi dan jumlah obat.

Hasil penelitian didapatkan bahwa enam puluh persen responden telah melakukan skrining resep tentang pertimbangan klinis yang meliputi alergi, efek samping, interaksi, durasi dan jumlah obat sesuai dengan Kepmenkes RI Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004, sedangkan sebanyak empat puluh persen responden hanya melakukan sebagian skrining resep sehingga kemungkinan terjadinya medication error relatif besar.

Tabel XXVII. Skrining resep mengenai pertimbangan klinis No Pertimbangan klinis Jumlah Persentase (%)

n = 35 1 Alergi, efek samping,

interaksi, dosis, durasi dan jumlah obat

21 60

2 Alergi, efek samping, interaksi, dosis dan jumlah obat

4 11

3 Alergi, efek samping, interaksi, dosis dan durasi obat

1 3

4 Alergi, efek samping, interaksi, durasi dan jumlah obat

1 3

5 Alergi, efek samping, dosis, durasi dan jumlah obat

3 8

6 Alergi, interaksi, durasi

dan jumlah obat 1 3

7 Alergi, efek samping, interaksi, dosis dan jumlah obat

1 3

8 Efek samping, interaksi,

dosis dan jumlah obat 1 3 9 Efek samping, dosis,

durasi dan jumlah obat 1 3 10 Efek samping, dosis dan

jumlah obat 1 3

Total 35 100

4) Konsultasi dengan dokter penulis resep

Kepmenkes RI Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 menyebutkan bahwa jika ada keraguan terhadap resep hendaknya dikonsultasikan kepada dokter penulis resep dengan memberikan

pertimbangan dan alternatif seperlunya bila perlu menggunakan persetujuan setelah pemberitahuan. Hal ini bertujuan untuk meminimalisasi terjadinya medication error. Menurut Kode Etik Apoteker Indonesia pasal 13, dinyatakan bahwa setiap Apoteker harus mempergunakan setiap kesempatan untuk membangun dan meningkatkan hubungan profesi, saling mempercayai, menghargai, dan menghormati sejawat petugas kesehatan. Sehingga konsultasi dengan dokter penulis resep juga dapat dimanfaatkan untuk membangun dan meningkatkan hubungan dengan rekan sejawat petugas kesehatan.

Tabel XXVIII. Konsultasi dengan dokter apabila ada ketidakjelasan dalam penulisan resep

No Konsultasi dengan dokter

penulis resep Jumlah

Persentase (%) n = 35

1 Ya 29 83

2 Tidak 6 17

Total 35 100

Hasil penelitian dapat dilihat bahwa sebanyak 83% responden selalu melakukan konsultasi dengan dokter penulis resep apabila ada ketidakjelasan dalam penulisan resep dan sebanyak 17% responden tidak selalu melakukan konsultasi dengan dokter penulis resep apabila ada ketidakjelasan dalam penulisan resep.

5) Rangkuman hasil pelaksanaan Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek bagian skrining resep

60% 60% 94% 83% 0.00% 50.00% 100.00% Persyaratan administratif Kesesuaian farmasetik Pertimbangan klinis

Konsultasi dengan dokter penulis resep

Gambar 7. Standar Pelayanan Kefarmasian bidang pelayanan resep bagian skrining resep

Berdasarkan keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek bidang pelayanan bagian skrining resep telah dilaksanakan dengan baik. Pelayanan skrining resep yang telah dilaksanakan, yaitu yang memiliki persentase pelaksanaan di atas 50%, meliputi skrining resep persyaratan administratif (94%), skrining resep kesesuaian farmasetik (60%), skrining resep pertimbangan klinis (60%) dan konsultasi dengan dokter penulis resep (83%).

b. Penyiapan obat 1) Etiket

Kepmenkes RI Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 menebutkan bahwa etiket harus jelas dan dapat dibaca. Etiket yang tidak jelas dapat menyebabkan terjadinya medication error karena pasien salah

membaca/mengartikan apa yang tertulis di etiket, karena itulah maka etiket harus jelas dan dapat dibaca

Kepmenkes No. 280 tahun 1981 pasal 11 menyatakan bahwa obat yang diserahkan atas dasar resep,. harus dilengkapi dengan etiket berwarna putih untuk obat dalam dan warna biru untuk obat luar. Pada etiket, harus dicantumkan :

a) nama dan alamat apotek

b) nama dan nomor Surat Izin Pengelolaan Apotek Apoteker Pengelola Apotek

c) nomor dan tanggal pembuatan d) nama pasien

e) aturan pemakaian

f) tanda lain yang diperlukan, misalnya : “Kocok dulu…”, “ tidak boleh diulang tanpa resep dokter” dan sebagainya.

Tabel XXIX. Keluhan tentang etiket oleh pasien No Keluhan dari pasien

mengenai etiket Jumlah

Persentase (%) n = 35

1 Ya 6 17

2 Tidak 29 83

Total 35 100

Hasil penelitian didapatkan bahwa sebanyak 83% responden belum pernah mendapatkan keluhan mengenai etiket dan 17% responden pernah mendapatkan keluhan mengenai etiket.

2) Penyerahan Obat.

Kepmenkes RI Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 menyebutkan bahwa sebelum obat diserahkan pada pasien harus dilakukan pemeriksaan akhir terhadap kesesuaian antara obat dengan resep. Penyerahan obat dilakukan oleh apoteker disertai pemberian informasi obat dan konseling kepada pasien dan tenaga kesehatan.

Hal ini juga tertera pada Standar Kompetensi Farmasis Indonesia hal asuhan kefarmasian yang menyebutkan bahwa salah satu standar prosedur operasional apoteker di apotek adalah memberikan pelayanan informasi obat dan memberikan konsultasi obat. Pasal 7 Kode Etik Apoteker Indonesia menyebutkan bahwa seorang Apoteker harus menjadi sumber informasi sesuai dengan profesinya. Berdasarkan keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa salah satu kewajiban apoteker adalah memberikan informasi mengenai obat kepada pasien sehingga apoteker sebaiknya selalu terlibat langsung dalam penyerahan obat kepada pasien agar dapat menjalankan kewajiban tersebut.

Tabel XXX. Pengecekan resep sebelum diserahkan ke pasien No

Pengecekan sebelum

diserahkan ke pasien Jumlah Persentase (%) n = 35

1 Ya 35 100

2 Tidak 0 0

Hasil penelitian didapatkan bahwa semua responden (100%) selalu melakukan pengecekan terhadap kesesuaian obat dan etiket terhadap resep sebelum diserahkan kepada pasien. Pemeriksaan akhir (medication review) dilakukan dengan tujuan untuk menghindari terjadinya medication error terutama dispensing error yang merupakan tanggung jawab pihak farmasis.

Tabel XXXI. Apoteker selalu terlibat langsung dalam penyerahan obat ke pasien

No Apoteker selalu terlibat

dalam penyerahan obat Jumlah

Persentase (%) n = 35

1 Ya 20 57.

2 Tidak 15 43

Total 35 100

Hasil penelitian didapatkan bahwa 57% responden selalu terlibat langsung dalam penyerahan obat ke pasien dan 43% responden tidak selalu terlibat langsung dalam penyerahan obat kepada pasien sehingga tidak bisa menjalankan kewajibannya untuk memberikan informasi kepada pasien.

3) Informasi obat

Menurut Kepmenkes RI Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004, Apoteker harus memberikan informasi yang benar, jelas dan mudah dimengerti, akurat, tidak bias, etis, bijaksana, dan terkini. Informasi obat pada pasien sekurang-kurangnya meliputi: cara pemakaian obat,

cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi.

Tabel XXXII. Informasi obat yang diberikan apoteker No Informasi obat yang

diberikan Jumlah

Persentase (%) n = 35

1

cara pemakaian, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan,

makanan, minuman dan aktivitas yang harus dihindari.

20 57

2

cara pemakaian, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan,

makanan dan minuman yang harus dihindari.

4 11

3

cara pemakaian, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan dan aktivitas yang harus dihindari.

2 5

4

cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat dan jangka waktu pengobatan

3 8

5

cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, dan aktivitas yang harus dihindari.

1 3

6

cara pemakaian obat, jangka waktu pengobatan, makanan dan minuman yang harus dihindari

1 3

7 cara pemakaian obat dan

jangka waktu pengobatan 3 8

8 Tidak ada informasi 1 3

Total 35 100

Hasil penelitian didapatkan bahwa 57% responden telah memberikan informasi kepada pasien sesuai Kepmenkes RI Nomor

1027/MENKES/SK/IX/2004 yaitu meliputi cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, makanan dan minuman yang harus dihindari dan aktivitas yang harus dihindari. Sedangkan 43% responden belum memberikan informasi secara menyeluruh kepada pasien sesuai Kepmenkes RI Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004.

Pemberian informasi ini seharusnya lebih diperhatikan oleh apoteker karena melalui pemberian informasi apoteker dapat meminimalisasi terjadinya medication error yang mungkin dilakukan oleh pasien pada saat pasien mengkonsumsi obat.

4) Konseling

Kepmenkes RI Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 menyebutkan bahwa konseling adalah suatu proses komunikasi dua arah yang sistematik antara apoteker dan pasien untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan obat dan pengobatan. Apoteker harus memberikan konseling, mengenai sediaan farmasi, pengobatan dan perbekalan kesehatan lainnya, sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien atau yang bersangkutan terhindar dari bahaya penyalahgunaan atau penggunaan salah sediaan farmasi atau perbekalan kesehatan lainnya.

Tabel XXXIII. Ketersediaan jam konseling setiap hari di apotek No Jam konseling bagi pasien Jumlah Persentase (%)

n = 35

1 Ya 32 91

2 Tidak 3 9

Total 35 100

Berdasarkan penelitian didapatkan bahwa sebanyak 91% responden telah menyediakan jam konseling bagi pasien setiap hari dan sembilan persen responden tidak menyediakan jam konseling bagi pasien setiap hari.

Kepmenkes RI Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 menyebutkan bahwa untuk penderita penyakit tertentu seperti cardiovascular, diabetes, TBC, asthma, dan penyakit kronis lainnya, apoteker harus memberikan konseling secara berkelanjutan.

Tabel XXXIV. Konseling secara berkelanjutan No Konseling secara berkelanjutan Jumlah Persentase (%) n = 35 1 Ya 21 60 2 Tidak 14 40 Total 35 100

Hasil penelitian didapatkan bahwa enam puluh persen responden memberikan konseling secara berkelanjutan untuk penderita penyakit tertentu seperti cardiovascular, diabetes, TBC, asthma dan penyakit kronis lainnya. Sedangkan empat puluh persen rersponden tidak

memberikan konseling secara berkelanjutan. Konseling berkelanjutan sangat penting bagi proses penyembuhan, dikarenakan penyakit yang disebutkan di atas membutuhkan jangka waktu pengobatan yang lama untuk dapat sembuh. Selain itu juga meningkatkan kepatuhan pasien untuk meminum obat yang telah diberikan.

5) Rangkuman hasil pelaksanaan Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek bagian penyiapan obat

100% 60% 83% 57% 57% 91% 0.00% 50.00% 100.00%

Etiket jelas dan dapat dibaca

Pengecekan resep sebelum diserahkan

Keterlibatan apoteker dalam penyerahan obat

Informasi obat, meliputi: cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari Jam konseling setiap hari

Konseling secara berkelanjutan

Gambar 8. Standar Pelayanan Kefarmasian bidang pelayanan resep bagian penyiapan obat

Berdasarkan keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa pelayanan penyiapan obat telah dilaksanakan dengan baik karena memiliki

persentase pelaksanaan di atas 50%, meliputi penulisan etiket yang jelas dan dapat dibaca (83%), pengecekan resep sebelum diserahkan kepada pasien (100%), keterlibatan apoteker secara langsung dalam penyerahan obat (57%), pemberian informasi oleh apoteker kepada pasien (57%), adanya jam konseling setiap hari (91%), dan adanya konseling secara berkelanjutan (60%).

2. Promosi dan edukasi

Kepmenkes RI Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 menyebutkan bahwa dalam rangka pemberdayaan masyarakat, apoteker harus berpartisipasi secara aktif dalam promosi dan edukasi. Apoteker ikut membantu diseminasi informasi, antara lain dengan penyebaran leaflet/brosur, poster, penyuluhan dan lain-lainnya.

Tabel XXXV. Diseminasi informasi kesehatan

No Diseminasi informasi kesehatan Jumlah Persentase (%) n = 35

1 Ya 9 26

2 Tidak 26 74

Total 35 100

Dari hasil penelitian di dapatkan bahwa 26% responden pernah melakukan diseminasi (penyebaran) informasi kesehatan dan 74% responden tidak pernah melakukan diseminasi (penyebaran) informasi kesehatan. Promosi dan edukasi yang berupa diseminasi informasi kesehatan belum sepenuhnya dilaksanakan dengan baik, yaitu yang memiliki persentase pelaksanaan di bawah 50%.

3. Pelayanan residensial (Home Care)

Kepmenkes RI Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 menyebutkan bahwa apoteker sebagai care giver diharapkan juga dapat melakukan pelayanan kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah (pelayanan residensial), khususnya untuk kelompok lansia dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya. Untuk aktivitas ini apoteker harus membuat catatan berupa catatan pengobatan (medication record)

Tindak lanjut terapi merupakan salah satu bentuk perhatian yang seharusnya dilakukan oleh seorang apoteker. Tindak lanjut terapi dengan kunjungan rumah atau komunikasi dengan telepon akan sangat banyak membantu pasien, terutama bagi pasien lansia atau pasien yang karena penyakit yang dideritanya tidak memungkinkan untuk datang dan melakukan konseling secara langsung ke apotek.

Tabel XXXVI. Tindak lanjut terapi

No Melakukan tindak lanjut terapi Jumlah Persentase (%) n = 35

1 Ya 12 34.

2 Tidak 23 66

Total 35 100

Hasil penelitian didapatkan bahwa 34% responden melakukan tindak lanjut terapi, misalnya dengan mengunjungi pasien atau komunikasi melalui telepon untuk memantau keadaan pasien. Sedangkan 66% responden tidak melakukan tindak lanjut terapi. Pelayanan residensial yang dilakukan dengan tindak lanjut terapi belum sepenuhnya dilaksanakan dengan baik, yaitu yang

memiliki persentase pelaksanaan di bawah 50%. Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa responden merasa kesulitan dalam melakukan tindak lanjut terapi dikarenakan keterbatasan waktu dan sumber daya manusia. Selain itu pasien juga tidak selalu menggunakan jasa apotek yang bersangkutan.