Bab 3 Alur Pelayanan
A. Pelayanan Tenaga Kerja Asing
Yang dimaksud dengan tenaga kerja asing (TKA) ialah warga negara asing dengan maksud bekerja di wilayah Indonesia.
Ada beberapa alasan mengapa negara kita memiliki kebijakan menggunakan tenaga kerja asing (TKA), yaitu alasan kepentingan nasional, globalisasi, dan otonomi daerah.
Alasan kepentingan nasional adalah perlindungan terhadap kesempatan kerja Indonesia (Pasal 27 ayat (2) UUD 1945 dan pasal 28D Amandemen UUD 45). Selain itu, dalam rangka pembangunan nasional, kita masih memerlukan investasi/modal asing, teknologi dan tenaga ahli/skill, dan perdagangan internasional.
Alasan globalisasi meliputi hal-hal berikut ini:
1. Indonesia menganut pasar kerja terbuka/internasional dengan aturan tertentu;
2. Indonesia sepakat untuk melaksanakan pasar kerja bebas: AFTA/ AFAS (2003), APEC (2010), GATS/WTO (2020);
3. kesepakatan regional dan bilateral—People Mobility & Human Resource Development: IMS-GT, IMT-GT, BIMP-EAGA, AANZ, IJEPA, dll.
Adapun alasan yang berhubungan dengan otonomi daerah adalah karena kewenangan pengaturan TKA tidak seluruhnya dilimpahkan: 1. TKA terkait dengan lalu lintas orang asing yang menganut selective
policy dan one gate policy;
2. TKA terkait dengan hubungan internasional.
Sementara itu, yang menjadi dasar kebijakan penggunaan tenaga kerja asing (TKA) adalah sebagai berikut.
1. UUD 1945 Pasal 27 ayat (2) dan Pasal 28;
2. UU 13 Tahun 2003 Bab VIII tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing;
3. UU 20 Tahun 1997 tentang PNBP;
4. PP 65 Tahun 2012 tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak;
5. PP 97 Tahun 2012 tentang Restribusi Pengendalian Lalu Lintas dan Restribusi Perpanjangan IMTA;
6. PP 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota;
7. Permenakertrans Nomor 12 Tahun 2013 tentang Tata Cara Penggunaan Tenaga Kerja Asing.
Berikut ini tata cara penggunaan TKA.
1. Setiap pemberi kerja yang mempekerjakan TKA harus memiliki izin dari menteri atau pejabat yang ditunjuk.
2. Pekerja orang perorang dilarang mempekerjakan TKA.
3. TKA dipekerjakan dalam hubungan kerja untuk jabatan tertentu dan waktu tertentu.
4. TKA yang masa kerjanya habis dan tidak dapat diperpanjang dapat digantikan oleh TKA lainnya.
Adapun pemberi kerja terhadap TKA adalah sebagai berikut.
1. Perwakilan dagang asing/perusahaan asing atau ktr berita asing 2. Perusahaan swasta
3. Badan usaha pelaksana proyek pemerintah 4. Badan usaha berdasarkan hukum di Indonesia
5. Lembaga-lembaga sosial, pendidikan, kebudayaan atau keagamaan 6. Usaha jasa impresariat
* CV, UD dilarang mempekerjakan TKA
Sementara itu, kewajiban pemberi kerja yang mempekerjakan TKA meliputi hal-hal berikut:
1. memiliki izin tertulis dari Menteri Tenaga Kerja & Transmigrasi atau pejabat yang ditunjuk;
2. menunjuk tenaga kerja Indonesia sebagai tenaga pendamping TKA untuk alih teknologi dan alih keahlian (tidak berlaku bagi jabatan direksi dan/atau komisaris);
3. melaksanakan pendidikan dan pelatihan kerja bagi tenaga kerja Indonesia pendamping sesuai dengan kualifikasi jabatan yang diduduki oleh tenaga kerja asing;
4. membayar kompensasi atas setiap TKA yang dipekerjakan; 5. memulangkan TKA ke negara asal setelah hubungan kerja berakhir.
TKA sendiri harus memenuhi persyaratan berikut ini. 1. pendidikan/pengalaman >5 tahun;
2. bersedia mengalihkan keahlian kepada TKI; 3. dapat berkomunikasi bahasa Indonesia; 4. jabatan memenuhi standar kompetensi.
1. Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA)
Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA) adalah rencana penggunaan TKA pada jabatan tertentu yang dibuat oleh Pemberi Kerja TKA untuk jangka waktu tertentu yang disahkan oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuk. RPTKA merupakan dasar untuk mendapatkan Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA).
Pemberi Kerja yang akan mempekerjakan TKA harus memiliki RPTKA, kecuali Instansi Pemerintah, Badan-Badan Internasional dan Perwakilan Negara Asing. RPTKA juga sekurang-kurangnya memuat alasan penggunaan, jabatan TKA, jangka waktu penggunaan, penunjukkan tenaga kerja pendamping.
Untuk mendapatkan pengesahan RPTKA, pemberi kerja TKA harus mengajukan permohonan secara tertulis yang dilengkapi alasan penggunaan TKA dengan melampirkan:
a. formulir RPTKA yang sudah dilengkapi; b. surat izin usaha dari instansi yang berwenang;
c. akta pendirian sebagai badan hukum yang sudah disahkan oleh pejabat yang berwenang;
d. bagan struktur organisasi perusahaan;
e. keterangan domisili perusahaan dari pemerintah daerah setempat; f. surat penunjukan TKI sebagai pendamping TKA yang dipekerjakan;
g. kopi bukti wajib lapor ketenagakerjaan yang masih berlaku berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1981 tentang Wajib Lapor Ketenagakerjaan di perusahaan;
h. rekomendasi jabatan yang akan diduduki oleh TKA dari instansi tertentu.
Adapun formulir RPTKA dimaksud harus memuat hal-hal berikut. a. identitas pemberi kerja TKA;
b. jabatan dan/atau kedudukan TKA dalam struktur bagan organisasi perusahaan yang bersangkutan;
c. besarnya upah TKA yang persyaratan jabatan TKA; d. jumlah TKA;
e. uraian jabatan dan persyaratan jabatan dibayarkan TKA; f. lokasi kerja;
g. jangka waktu penggunaan TKA;
h. penunjukan tenaga kerja warga negara Indonesia sebagai pendamping TKA yang dipekerjakan;
i. rencana program pendidikan dan pelatihan tenaga kerja Indonesia. Permohonan RPTKA disampaikan kepada Dirjen (Dirjen Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja) melalui Direktur (Direktur Pengendalian Penggunaan Tenaga Kerja Asing).
Adapun menurut Peraturan Kepala BKPM Nomor 12 Tahun 2009, Pasal 1 angka 36 disebutkan bahwa permohonan RPTKA, Rekomendasi Visa untuk Bekerja (TA.01), dan IMTA adalah permohonan yang disampaikan oleh perusahaan untuk penggunaan TKA dalam pelaksanaan penanaman modalnya.
Pada Pasal 1 angka 37 disebutkan bahwa RPTKA adalah pengesahan rencana jumlah, jabatan dan lama penggunaan TKA yang diperlukan sebagai dasar untuk persetujuan pemasukan TKA dan penerbitan IMTA
Selanjutnya, Pasal 56 menandaskan bahwa perusahaan penanaman modal dan Kantor Perwakilan Perusahaan Asing (KPPA) yang akan mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (TKA) harus memperoleh pengesahan RPTKA
Permohonan untuk memperoleh pengesahan RPTKA tersebut diajukan kepada PTSP-BKPM dengan menggunakan formulir RPTKA, dengan dilengkapi persyaratan sebagai berikut.
a. Rekaman pendaftaran penanaman modal/izin prinsip penanaman modal/Izin Usaha yang dimiliki.
b. Rekaman akta pendirian perusahaan yang telah disahkan oleh Depkumham dan perubahannya terkait dengan susunan direksi dan komisaris perusahaan.
c. Keterangan domisili perusahaan dari Pemda setempat. d. Bagan struktur organisasi perusahaan.
e. Surat penunjukan tenaga kerja Indonesia sebagai pendamping TKA.
f. Rekaman bukti wajib lapor ketenagakerjaan yang masih berlaku. g. Rekomendasi dari Dirjen terkait, khusus bagi jabatan antara lain
Subsektor Migas, pertambangan umum, dan lain-lain. h. Permohonan yang ditandatangani direksi perusahaan.
i. Surat Kuasa bermaterai cukup untuk pengurusan permohonan yang tidak dilakukan oleh direksi perusahaan.
Sementara itu, pada Pasal 58 disebutkan bahwa TKA yang bekerja pada perusahaan penanaman modal dan KPPA yang sudah siap datang ke Indonesia wajib memiliki Visa Untuk Bekerja (VUB) yang diterbitkan oleh Kantor Perwakilan RI di LN.
Untuk mendapatkan VUB, pengguna TKA harus memiliki rekomendasi untuk memperoleh VUB (Rekomendasi TA.01) dari
PTSP-BKPM dengan berpedoman kepada ketentuan instansi yang berwenang di bidang ketenagakerjaan dan imigrasi.
Permohonan rekomendasi TA.01 diajukan kepada PTSP-BKPM menggunakan formulir TA.01, dengan dilengkapi persyaratan sebagai berikut.
a. Rekaman keputusan pengesahan RPTKA.
b. Rekaman paspor TKA yang bersangkutan yang masih berlaku. c. Daftar riwayat hidup terakhir (asli) yang ditandatangani oleh yang
bersangkutan.
d. Rekaman ijazah dan/atau sertifikat pendidikan serta bukti pengalaman kerja dalam bahasa Inggris atau terjemahannya dalam bahasa Indonesia oleh penerjemah tersumpah.
e. Rekaman akta atau risalah RUPS tentang penunjukan/pengangkatan untuk jabatan direksi dan komisaris.
f. Rekaman surat penunjukan TKI pendamping. g. Pasfoto berwarna, ukuran 4×6 sebanyak 1 lembar. h. Permohonan ditandatangani oleh direksi perusahaan.
Berikut ini bagan proses pengesahan RPTKA berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan Permenakertrans Nomor 12 Tahun 2013.
Pengguna TKA
Dirjen Binapenta u.p. Dir. PTA
Koordinasi Instansi Teknis terkait
Tim Kelayakan Penggunaan TKA Pengesahan RPTKA RPTKA Dirjen Binapenta untuk permohonan 50 orang ke atas Direktur PPTKA untuk permohonan sampai dengan 50 orang
Selain itu, surat keputusan pengesahan RPTKA (Permenakertrans Nomor 12 Tahun 2013) memuat:
a. alasan penggunaan TKA;
b. jabatan dan/atau kedudukan TKA; c. besarnya upah;
d. jumlah TKA; e. lokasi kerja TKA;
f. jumlah Tenaga Kerja Indonesia yang ditunjuk sebagai pendamping; g. jangka waktu penggunaan TKA;
h. jumlah Tenaga Kerja Indonesia yang dipekerjakan.
RPTKA dapat diberikan untuk jangka waktu paling lama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu yang sama dengan memperhatikan kondisi pasar kerja dalam negeri.
Pengajuan perpanjangan RPTKA tersebut diajukan kepada:
a. Menteri dalam hal pengesahan RPTKA perpanjangan lintas provinsi dan pengesahan RPTKA perubahan seperti perubahan jabatan, perubahan lokasi, perubahan jumlah TKA dan/atau perubahan kewarganegaraan.
b. Kepala instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan provinsi untuk pengesahan RPTKA perpanjangan yang tidak mengandung perubahan jabatan, jumlah orang, dan lokasi kerjanya dalam satu wilayah provinsi.
Pengajuan perpanjangan RPTKA tersebut harus dilengkapi: a. laporan pelaksanaan pendidikan dan pelatihan; b. kopi keputusan RPTKA yang masih berlaku; c. kopi IMTA yang masih berlaku;
d. kopi bukti pembayaran dana kompensasi penggunaan TKA melalui bank yang ditunjuk oleh Menteri.
Selain itu, pemberi kerja TKA dapat mengajukan permohonan perubahan RPTKA sebelum berakhirnya jangka waktu RPTKA. Perubahan RPTKA tersebut meliputi:
a. penambahan, pengurangan jabatan beserta jumlah TKA; b. perubahan jabatan;
c. perubahan lokasi kerja.
2. Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA)
Pemberi kerja TKA yang akan mengurus IMTA, terlebih dahulu harus mengajukan permohonan kepada Direktur Pengendalian Penggunaan Tenaga Kerja Asing untuk mendapatkan rekomendasi visa (TA-01) dengan melampirkan:
a. kopi Surat Keputusan Pengesahan RPTKA; b. kopi paspor TKA yang akan dipekerjakan;
c. daftar riwayat hidup TKA yang akan dipekerjakan;
d. kopi ijazah dan/atau keterangan pengalaman kerja TKA yang akan dipekerjakan;
e. kopi surat penunjukan tenaga kerja pendamping;
f. pasfoto berwarna ukuran 4 x 6 cm sebanyak 1 (satu) lembar. g. dana kompensasi penggunaan TKA (DPKK 100 $/orang/bulan)
dikecualikan rohaniawan, sosial, dan kerja sama tehnik dengan pemerintah.
Apabila permohonan telah memenuhi syarat sebagaimana dimaksud, Direktur Pengendalian Penggunaan Tenaga Kerja Asing harus menerbitkan rekomendasi (TA-01) dan menyampaikan kepada Direktur Lalu Lintas Keimigrasian (Lantaskim), Direktorat Jenderal Imigrasi dalam waktu selambat-lambatnya pada hari berikutnya dengan ditembuskan kepada pemberi kerja TKA.
Rekomendasi visa (TA-01) tersebut berlaku untuk jangka waktu 2 (dua) bulan sejak diterbitkan.
Jika Ditjen Imigrasi telah mengabulkan permohonan visa untuk dapat bekerja atas nama TKA yang bersangkutan dan menerbitkan surat pemberitahuan tentang persetujuan pemberian visa, maka pemberi kerja TKA mengajukan permohonan IMTA dengan melampirkan:
a. kopi draf perjanjian kerja;
b. bukti pembayaran dana kompensasi penggunaan TKA melalui bank yang ditunjuk oleh Menteri;
c. kopi polis asuransi;
d. kopi surat pemberitahuan tentang persetujuan pemberian visa; e. foto berwarna ukuran 4x6 cm sebanyak 2 (dua) lembar.
Apabila persyaratan telah dipenuhi, Direktur Pengendalian Penggunaan Tenaga Kerja Asing menerbitkan IMTA selambat-lambatnya 3 (tiga) hari kerja.
Adapun jangka waktu berlakunya IMTA diberikan paling lama 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang.
Apabila akan memperpanjang IMTA, pemberi kerja TKA harus mengajukan permohonan perpanjangan kepada Direktur atau Gubernur atau Bupati/Walikota.
Perpanjangan IMTA diterbitkan oleh
a. Direktur untuk TKA yang lokasi kerjanya lebih dari 1 (satu) wilayah provinsi.
b. Gubernur atau pejabat yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan di provinsi untuk TKA yang lokasi kerjanya lintas kabupaten/kota dalam 1 (satu) provinsi.
c. Bupati/wali kota atau pejabat yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan di kabupaten/kota untuk TKA yang lokasi kerjanya dalam 1 (satu) wilayah kabupaten/kota.
Permohonan perpanjangan IMTA diajukan selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja sebelum jangka waktu berlakunya IMTA berakhir.
Permohonan perpanjangan IMTA dilakukan dengan mengisi formulir perpanjangan IMTA dengan melampirkan
a. kopi IMTA yang masih berlaku;
b. bukti pembayaran dana kompensasi penggunaan TKA melalui bank yang ditunjuk oleh Menteri;
c. kopi polis asuransi;
d. pelatihan kepada TKI pendamping;
e. kopi keputusan RPTKA yang masih berlaku;
f. foto berwarna ukuran 4x6 cm sebanyak 2 (dua) lembar.
Apabila persyaratan tersebut telah lengkap, maka Direktur atau Gubernur atau Bupati atau wali kota menerbitkan IMTA paling lama 3 (tiga) hari kerja.
IMTA dapat diperpanjang sesuai jangka waktu berlakunya RPTKA dengan ketentuan setiap kali perpanjangan paling lama 1 (satu) tahun. IMTA perpanjangan tersebut digunakan sebagai dasar untuk memperpanjang KITAS.
3. Proses Perizinan Penggunaan TKA
Berikut ini bagan proses perizinan penggunaan TKA umum, lembaga sosial/keagamaan, dan paspor dinas.
Instansi Teknis
RPTKA IMTA Telex ke
KBRI KITTAS Pemohon/
Pengguna TKA KEMENAKER-TRANS IMIGRASIDITJEN
KANIM
DPKK (2 bulan)
TA-01 Copy Telex
Gambar 3.2. Bagan proses perizinan penggunaan TKA
Instansi Teknis
RPTKA IMTA ke KBRITelex KITTAS Pemohon/
Pengguna TKA KEMENAKER-TRANS IMIGRASIDITJEN
KANIM (2 bulan)
TA-01 Copy Telex
Gambar 3.3. Bagan proses perizinan penggunaan TKA lembaga sosial/keagamaan (tanpa DPKK)
SETNEG
RPTKA IMTA ke KBRITelex KITTAS Pemohon/
Pengguna TKA KEMENAKER-TRANS IMIGRASIDITJEN KEMLU
DPKK (2 bulan)
TA-01 Copy Telex
Gambar 3.4. Bagan proses perizinan penggunaan TKA K/L - paspor dinas
4. Pembagian Kewenangan Bidang Ketenagakerjaan
Berikut ini pembagian kewenangan bidang ketenagakerjaan, khususnya tata cara penggunaan TKA berdasarkan Permenakertrans Nomor 12 Tahun 2013.
a. Pusat
1) Penerbitan RPTKA baru; 2) Rekomendasi Visa Kerja; 3) Penerbitan IMTA baru;
4) Perpanjangan RPTKA lintas provinsi; 5) Penerbitan pengesahan RPTKA perubahan;
6) Penerbitan IMTA perpanjangan lebih dari 1 (satu) provinsi; 7) Penerbitan IMTA untuk pekerjaan darurat;
b. Provinsi
1) Pengesahan RPTKA perpanjangan yang tidak mengandung perubahan dan lokasi kerjanya dalam 1 (satu) provinsi;
2) Penerbitan IMTA perpanjangan untuk yang lokasi kerjanya lintas kabupaten/kota dalam 1 (satu) provinsi;
3) Penerbitan IMTA perpanjangan untuk yang lokasi kerjanya lintas kabupaten/kota dalam 1 (satu) provinsi.
c. Kabupaten/Kota
1) Penerbitan IMTA perpanjangan untuk TKA lokasi kerja di kabupaten/kota;
2) Waktu pelayanan IMTA lebih cepat, yaitu (semula 4 hari sesuai dengan Permenakertrans Nomor 12 Tahun 2013);
3) Pengaturan RPTKA/IMTA untuk: a) pekerjaan yang bersifat darurat; b) kawasan ekonomi khusus; c) pemandu nyanyi/karaoke.
4) Pembayaran DPKK/dana kompensasi disetorkan ke Kas Negara sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2012 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi; 5) Prosedur dan tata cara permohonan dan perpanjangan RPTKA
sesuai dengan aturan lama, sedangkan untuk pengurusan IMTA ada tambahan persyaratan, yaitu harus melampirkan kopi polis asuransi.