• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI :MEREPOSISI DAN

5.4. Mereposisi Tanaman Obat

5.4.2. Pelestarian Tanaman Obat

Tanaman obat sudah lama dikenal dalam kehidupan masyarakat, bahkan penggunaannya bukan merupakan hal yang baru lagi. Hal ini disebabkan daerah di Indonesia sangat mudah tumbuh beranekaragam tanaman yang dapat dimanfaatkan baik untuk rempah-rempah untuk memasak maupun tanaman lainnya yang berfungsi sebagai obat. Jamu merupakan salah satu contoh yang menunjukkan bahwa tanaman obat sangat banyak di Indonesia. Jamu telah lama dikenal hingga saat ini masih bertahan dan masih dikonsumsi oleh masyarakat. Jamu tidak saja hanya dikenal di daerah Jawa, di Sumatera Utara masyarakat sekitar juga mengonsumsi jamu dan bahkan masyarakat sendiri dapat mengolahnya sendiri. Jamu diolah dengan berbagai rempah-rempah yang memiliki beranekaragam khasiat mulai untuk wanita hingga pria. Jamu merupakan salah satu metode menyembuhkan penyakit yang diakui dalam pengobatan tradisional.

Selain jamu yang telah dikenal oleh masyarakat, dalam masyarakat Batak Toba pada zaman dahulu sudah dikenal beberapa tanaman yang dalam kehidupan sehari-hari dapat menyembuhkan. Pada zaman Sisingamangaraja, menyembuhkan penyakit dengan mengonsumsi tanaman sudah biasa dilakukan. Dalam menyembuhkan luka dan penyakit yang diperoleh Sisingamangaraja selama berperang, ia menggunakan tanaman yang ada disekitarnya. Sejak itu masyarakat Batak Toba tidak asing lagi dengan penggunaan tanaman obat. Hingga saat ini masyarakat Batak Toba masih memiliki pengetahuan mengenai tanaman obat dan masih digunakan dalam kesehariannya. Pengetahuan ini merupakan kearifan lokal yang masih ada dan dilestarikan oleh masyarakat Batak Toba. Tidak mengherankan jika di pekarangan

88

rumah masyarakat terdapat beberapa tanaman obat yang budidayakan. Namun tidak semua masyarakat masih memiliki pengetahuan ini terutama masyarakat yang sudah berada di daerah perkotaan. Pengetahuan mereka akan pengetahuan mengenai tanaman ini sudah sangat minim bahkan sudah hilang.

Eksisnya kembali pengobatan tradisional mengingatkan kembali masyarakat terhadap tanaman yang dapat digunakan sebagai obat. Pengobatan tradisional ini memperkenalkan kembali kepada masyarakat baik masyarakat yang berada di pedesaan hingga perkotaan mengenai manfaat tanaman yang bahkan ada disekitar mereka untuk dapat digunakan sebagai obat. Dalam pengobatan tradisional ini khususnya yang dilakukan oleh Namalo mulai mengalami kesulitan untuk menemukan beberapa tanaman obat. Beberapa penyebab sulitnya menemukan tanaman obat diantaranya:

a. Beberapa tanaman yang tidak dapat tumbuh di daerah tersebut b. Berubahnya bentuk pemukiman warga yang menuju perkotaan

c. Tidak adanya pengetahuan masyarakat mengenai tanaman obat sehingga banyak tanaman yang dapat sebagai obat justru dimusnahkan

Berdasarkan pengalaman Namalo beberapa tanaman obat yang tidak dapat tumbuh di daerah tersebut akhirnya di peroleh dari luar daerah bahkan luar provinsi. Pengetahuan masyarakat yang minim dengan tanaman obat mulai menjadi perhatian dari Namalo. Namun, pengetahuan masyarakat akan tanaman obat yang masih sedikit menyebabkan banyak tanaman obat yang mulai sulit ditemukan. Beberapa diantaranya telah dirusak oleh masyarakat yang dianggap sebagai hama pengganggu karena tidak tahu manfaat dari tanaman tersebut. Beberapa Namalo menggunakan metode agar pasien menemukan sendiri tanaman obat yang dapat menyembuhkannya sesuai dengan arahan yang telah diberikannya. Hal ini bertujuan agar pasien mengenal tanaman tersebut sehingga dapat menimbulkan keinginan untuk menanam tanaman tersebut. Selain penyebab di atas akan dijelaskan kemudian hambatan informan dalam memperoleh obat dari Namalo.

89

Tabel 18. Hambatan dalam mendapatkan tanaman obat

Pernyataan Jumlah %

beberapa obat yang harus dicari sulit untuk didapatkan 44 37,60 obat-obatan disediakan dari Namalo itu sendiri 53 47,86 obat-obatan dari Namalo sangat mahal dan tidak terjangkau

masyarakat miskin - -

obat-obatan dari Namalo murah dan terjangkau masyarakat miskin 12 10,25 obat-obatan dari Namalo sangat jarang diketahui masyarakat 8 6,83

J u m l a h 117 100 Sumber: Data Lapangan, 2017

Dari tabel di atas dapat terlihat bahwa 53 informan (47,86%) menyatakan bahwa mereka tidak mendapatkan hambatan untuk memperoleh ramuan obat dari Namalo karena telah disediakan oleh Namalo. Namun, pendapat berbeda diberikan oleh 44 informan (37,60%) yang menyatakan bahwa mereka menemukan kesulitan untuk mendapatkan tanaman obat. Ramuan obat herbal merupakan pengetahuan berharga yang hanya dimiliki oleh Namalo. Untuk dapat meramu obat, dibutuhkan pengetahuan mengenai jenis tumbuhan yang digunakan dan bagaimana cara mengolahnya agar berkhasiat. Hanya beberapa Namalo yang mau terbuka kepada masyarakat mengenai bagaimana cara meramu tanaman untuk dijadikan obat. Namalo lainnya berusaha menyimpan dan merahasiakan bagaimana mereka meramu tanaman tersebut. Menurut mereka pengetahuan meramu tanaman obat merupakan pengetahuan yang tidak dapat dibagikan karena hanya mereka yang dapat mengetahui cara meramunya dengan baik dan benar. Dari sistem pemberian obat yang berbeda-beda tersebut menjawab timbulnya perbedaan pendapat di atas bahwa hambatan dalam menemukan tanaman obat dirasakan oleh pasien jika mereka sendiri yang mencari tanaman obat itu. Pasien yang tidak merasakan hambatan kesulitan mendapatkan obat dikarenakan Namalo sendirilah yang menyediakan semua jenis ramuan obat yang dibutuhkan oleh pasien.

Dalam penelitian ini tidak ada Namalo yang dapat dikatakan sebagai herbalis atau menyediakan tanaman obat melalui budidaya tanaman obat. Beberapa Namalo hanya menanam beberapa tanaman yang menurutnya sulit ditemukan di daerah tersebut bahkan ada juga yang tumbuh sendiri disekitar pekarangan Namalo ketika ia hendak membuang sisa dari racikan ramuan obat pasien. Herbalis adalah mereka yang memiliki pengetahuan mengenai tanaman obat dan membudidayakannya. Hasil penelitian yang dilakukan oleh

90

Suwankhong (2011) di Thailand mengenai pengobatan tradisional yang dilakukan oleh Mor Baan menunjukkan bahwa pengobat tradisional menanam beberapa tanaman herbal di pekarangan rumahnya agar tanaman tersebut tidak punah yang dikenal dengan mor sa moon prai (herbalis). Kegiatan menanam yang dilakukan oleh mor sa moon prai ini dilakukannya untuk mengisi waktu luangnya ketika tidak ada pasien yang datang. Bahkan ada pengobat tradisional yang disebut dengan herbalis yang focus terhadap pembudidayaan tanaman obat dan membantu menyediakan kebutuhan tanaman obat untuk mor sa moon prai. Berbeda dengan data yang diperoleh dalam penelitian ini, yang membudidayakan bahkan yang membantu pasien untuk menyediakan tanaman obat adalah masyarakat biasa bukan Namalo yang kediamannya tidak jauh dari rumah Namalo. Mereka membantu menyediakan tanaman obat dengan menanamnya sendiri atau dengan membelinya di daerah lain. Dengan membantu kegiatan Namalo dan kebutuhan pasien, masyarakat ini memiliki pengetahuan untuk mengenal tanaman obat dan mengetahui manfaatnya.

Dokumen terkait