• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. FILM KARTUN SEBAGAI MEDIA AUDIO VISUAL DALAM

B. Film Kartun sebagai Media Audio Visual

4. Peluang dan Tantangan Media Audio Visual dalam Berkatekese

Pada zaman sekarang cara berkomunikasi masyarakat terutama anak-anak, sudah dipengaruhi oleh kemajuan teknologi yang tidak terbendung. Dalam setiap detik selalu ada yang baru, berkembang bahkan berubah. Perkembangan ini sangat terasa pada teknologi informasi secara khusus media digital. Perkembangan teknologi telah mengubah cara berprilaku orang dalam berkomunikasi. Perubahan teknologi informasi dari cetak, audio visual hingga digital mengakibatkan terjadinya perubahan budaya di setiap lintas generasi. Pada zaman ini juga muncul generasi baru, peneliti sosial sekaligus pembicara Mark Mc Crindle mengampanyekan istilah Generasi Alpha lewat tulisannya di majalah Business

Insider. Generasi Alpha (Gen A) adalah lanjutan dari generasi Z. Mereka adalah anak-anak yang baru lahir setelah tahun 2010. McCrindle menyebutkan bahwa sebanyak 2,5 juta anak Generasi Alpha lahir di dunia setiap minggunya. Menurutnya, gen A merupakan generasi yang paling akrab dengan internet sepanjang masa. Mc Crindle juga memprediksi bahwa generasi Alpha tidak lepas dari gadget, kurang bersosialisasi, kurang daya kreativitas, dan juga bersikap individualis. Sementara itu generasi sebelumnya, Generasi Z adalah generasi yang sejak lahir sudah akrab dengan penggunaan teknologi digital. Mereka mahir menggunakan perangkat teknologi digital, karena dibanjiri oleh kemajuan perangkat teknologi digital dengan kecepatan luar biasa. Generasi ini mengandalkan teknologi digital dalam sebagian besar hidupnya. Zaman inilah yang sering disebut “era digital”. Perkembangan teknologi komunikasi dan komputerisasi sangat pesat pada era digital ini. Perkembangan teknologi ini membuat manusia hidup di dalam dunia yang berbeda (KWI, 2015:21).

Hal ini diperkuat dengan pernyataan Mite (2012:18) bahwa manusia memiliki aktivitas sosial. Salah satu aktivitas sosial manusia adalah dunia imaginasi. Dunia imaginasi ini bercorak mental, subjektif dan penuh dengan angan-angan, sensasi-sensasi, utopi-utopi, dan sarat dengan harapan dan kerinduan kita. Dunia imaginasi ini berperan sebagai perangsang dan pemberi hidup bagi dunia praksis hidup keseharian, supaya manusia tidak putus asa dalam rutinitas karya, supaya tidak malas ke sekolah dan supaya tidak melaksanakan kegiatan keagamaan semata-mata karena peraturan dan kewajiban. Dengan kata lain, dunia imaginasi ini menjadi roh (spirit) bagi praksis hidup harian yang

tertimbun oleh kejenuhan rutinitas harian. Dalam hal inilah media audio visual menghadirkan diri dengan memberi kepada manusia keinginan untuk terus hidup dan melaksanakan tugasnya. Menurut Freud dalam Mite (2012:19), setiap manusia memiliki apa yang disebut hasrat-hasrat terpendam. Pengalaman ini bersifat alami dan seragam untuk semua manusia dari segala jenjang usia, jenis kelamin dan profesi. Hasrat ini bukan hanya terpendam, namun juga dipenjarakan dalam ketidaksadaran oleh berbagai kalangan di luar diri seperti: aturan agama, masyarakat atau keterbatasan fisik lain. Misalnya, keinginan seorang anak untuk meniru kepiawaian pahlawan jagoannya dalam cerita kartun. Televisi, dalam strategi siaranya, berusaha mencari dan menangkap hasrat-hasrat terpendam itu, mengolah hasrat itu dalam sajian-sajian yang menakjubkan lalu mengembalikan kepada manusia sebagai bahan pemuas diri. Makna-makna ataupun isi siaran televisi tersirat dalam bahasa-bahasa simbolis. Iswarahadi (2003:31) mengatakan bahwa:

“Bahasa televisi adalah bahasa simbolis, Bahasa yang membujuk, bukan mengajar. Bahasa yang menggetarkan hati dan karenanya menggerakkan seluruh jiwa raga; bahasa yang penuh resonansi dan irama. Kekayaan bahasa televisi ini perlu mendapat perhatian kalau kita mau mewartakan iman untuk orang zaman sekarang. Pendekatan simbolis yang penuh dengan gambar dan cerita memang mempunyai dampak emosional. Tujuannya bukan pertama-tama pemahaman intelektual melainkan keikutsertaan hati dan pertobatan. Pendekatan semacam ini bukan bersandar pada pengajaran melainkan komunikasi pengalaman iman”. Media audio visual memang begitu digandrungi semua kalangan termasuk anak-anak dan menjadi rujukan/referensi membangun nilai. Hal itu tidak lepas dari realitas bahwa lembaga-lembaga pewaris nilai seperti keluarga, agama, dan sekolah sudah ketinggalan zaman dalam mengemas dan menyajikan

doktrin-doktrin moralnya. Lembaga-lembaga itu tidak mampu masuk dalam dunia fantasi generasi terkini (Mite, 2012:21). Menurut Iswarahadi (2003:76), bahasa televisi memang berbeda dengan bahasa guru. Kelebihan televisi adalah bahwa para tokoh dibawa masuk ke dalam otak dan hati pemirsa. Di dalam kelas diajarkan nilai-nilai secara abstrak, namun nilai-nilai yang ditawarkan oleh televisi langsung dirasakan dan melekat di dalam hati anak-anak.Tentu saja tokoh-tokoh yang ditampilkan tidak semua baik, bahkan banyak program-program yang tidak bernilai positif bagi anak. Kelekatan anak terhadap media audio visual itu tentu menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi katekis atau semua penyelenggara katekese. Sebuah pernyataan menarik pernah hadir dari seorang guru/katekis yang mengatakan bahwa anak-anak lebih mengenal tokoh-tokoh kartun dari pada Yesus Kristus Tuhannya. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah kemudian kita patut menyalahkan media audio visual atau bahkan penyedia film kartun yang anak-anak lihat? Jawabannya jelas bahwa tidaklah cukup mempersalahkan media, tetapi kita tidak pernah secara kreatif menciptakan usaha-usaha untuk membendung pengaruh buruk media.

Tantangan ini sudah ditanggapi oleh satu lembaga bersifat Gerejawi yang bergerak di bidang teknologi komunikasi dan informasi. Dalam bukunya yaitu “Media dan Pewartaan Iman”, Iswarahadi (2017:86) mengemukakan bahwa:

Studio Audio Visual Puskat (SAV Puskat) telah berusaha mananggapi tantangan ini. Mereka ikut menopang penyelenggaraan pendidikan katekis pada Program Studi IPPAK Universitas Sanata Dharma yang mempunyai keprihatinan bahwa program-program audio visual untuk pendidikan anak-anak masih kurang. Oleh karena itu, SAV Puskat menyiapkan program-program yang berupa cerita bergambar, program-program-program-program kaset suara dan program-program video. Tema-temanya diangkat dari cerita Kitab Suci, cerita rakyat dan cerita kehidupan. SAV Puskat berusaha

mengkontekstualisasikan pewartaan iman pada situasi masyarakat sekarang

Contoh konkret yang dihadirkan SAV Puskat menjadi dorongan bagi kita tentang bagaimana memanfaatkan peluang yang ada dengan hadirnya media dan menanggapi tantangannya dalam mengembangkan karya katekese. Paus Benediktus XVI dalam surat gembala menyambut Hari Komunikasi Sosial se-Dunia ke-43 menyatakan:

“Pada awal kehidupan Gereja para rasul bersama murid-muridnya mewartakan kabar gembira tentang Yesus kepada dunia orang Yunani dan Romawi. Sudah sejak masa itu, keberhasilan karya eangelisasi menuntut perhatian yang seksama dalam memahami kebudayaan dan kebiasaan bangsa-bangsa kafir, sehingga kebenaran Injil dapat menjamah hati dan pikiran mereka. Demikian juga pada masa kini, karya pewartaan Kristus dalam dunia teknologi baru menuntut suatu pengetahuan yang mendalam tentang dunia kalau teknologi itu dipergunakan untuk melayani perutusan kita secara berdayaguna”.

Pesan yang begitu jelas dari Paus Benediktus XVI kepada kita untuk mendayagunakan teknologi dalam karya perutusan kita menyampaikan kabar gembira. Pesan ini sekaligus menghimbau kita untuk melatih kesadaran dalam bermedia baik itu dalam lingkup keluarga, sekolah, ataupun kelompok-kelompok masyarakat. Latihan ini bertujuan mendidik masyarakat agar menjadi pembaca/pendengar/pemirsa yang aktif. Dalam hal ini Gereja juga harus mulai serius memperhitungkan media, karena jika tidak, kerasulan Gereja juga akan tersaingi oleh media. Jika semuanya sudah terlanjur, Gereja tidak perlu mempermasalahkan siapa pun, kecuali perlu menangisi dirinya sendiri (Iswarahadi 2017:88).

Dokumen terkait