PTPN VIII,
B. PELUANG DAN USAHA KONSERVASI ENERGI
Konservasi energi adalah upaya yang dilakukan untuk mengoptimalkan penggunaan sumber-sumber energi yang digunakan oleh suatu proses. Proses
yang dimaksudkan disini adalah produksi teh hitam. Upaya konservasi energi identik dengan penghematan. Penghematan hemat energi ditujukan untuk mengurangi pos pengeluaran biaya sumber energi baik langsung maupun tidak langsung.
Secara umum program konservasi tersusun atas 4 langkah yaitu pengorganisasian program, pengauditan energi, perencanaan langkah penghematan dan penginformasian kepada karyawan. Pengorganisasian program tidaklah berarti pembentukkan suatu departemen khusus namun minimal berupa penunjukkan penanggung jawab (PJ). PJ ini bertanggung jawab untuk melakukan pendataan, auditing dan pembuatan ringkasan peluang-peluamg konservasi dan implementasinya. Di perkebunan, PJ dapat dirangkap oleh mandor tiap tahap produksi teh hitam. Langkah selanjutnya yaitu audit energi baik umum maupun rinci. Audit umum dilakukan dengan mencari tahu jumlah, tipe dan biaya energi yang dapat dilihat di rekening bulanan atau tahunan perusahaan. Pada tahap ini konsep neraca massa dan energi sangat berguna. Langkah ketiga adalah pencarian langkah-langkah penghematan dengan cara mengamati proses secara langsung atau dengan menelaah data harian proses. Bila langkah-langkah telah dirinci, maka pada tahap implementasi para karyawan harus dikutsertakan dan diiformasikan.
Berikut ini adalah langkah-langkah penghematan/konservasi berbagai tipe energi di perkebunan Parakan Salak.
1. Produksi pucuk
Penggunaan pupuk perkebunan Parakan Salak lebih besar dari Jayanegara dan Tehnusambah namun lebih kecil dari Gedeh, Goalpara dan Ciater. Sehubungan dengan itu, produktifitas lahannya pun memiliki tren menurun dari tahun 2003-2005. Berkenaan dengan pencarian dosis pupuk yang tepat dalam rangka penghematan input pupuk maka perlu dilakukan analisa kesuburan tanah. Selain itu, pemupukan yang dilakukan harus tepat cara. Pemberian pupuk yang baik biasanya dengan cara pembenaman di bawah tajuk namun dapat ditabur jika tanaman sudah sedemikian rupa menutupi tanah atau pupuk dapat pula diberikan pada galur dan ditutup
tanah pada pemupukan di lahan miring. Kehilangan pupuk akibat limpasan air dapat diantisipasi dengan perorakan yang teratur.
Parakan Salak mengunakan dua cara penyiangan untuk membasmi gulma yaitu manual dan kimia. Penghematan herbisida dapat dilakukan dengan penggunaan rasio weeding manual yang lebih besar dibandingkan dengan weeding kimia (menurut Verianti (2004) rasio kebun adalah 60:40).
Konsekuensi dari langkah ini adalah makin besarnya jumlah HK dan biaya pekerja borongan yang diperlukan. Selain itu penggiatan kembali kegiatan pembenaman serasah atau dengan memfasilitasi para warga peternak untuk mencari pakan ternaknya dari gulma kebun juga dapat menekan pertumbuhan gulma dan memperkecil konsumsi herbisida. Gulma yang banyak tumbuh di kebun Parakan Salak adalah sintrong (Erechites valerianifolia) dikenal sangat disukai Helopeltis antonii. Menurut Setiawati dan Nasikun (1991), pemberantasan gulma seperti sintrong dapat mencegah peningkatan populasi hama teh yang nanti akan berimplikasi pada lebih sedikitnya insektisida yang diperlukan.
Insektisida di kebun teh Parakan Salak diaplikasikan dengan motor sprayer. Berkenaan dengan itu, salah satu hal yang dapat dilakukan agar insektisida digunakan secara efektif maka saluran penyemprotnya dan persambungannya harus dijaga agar tetap rapat dan tidak bocor sehingga tidak ada bahan yang terbuang percuma. Selain itu nosel semprot harus dirawat dengan baik dan diganti bila lingkar semprotnya rendah.
Tenaga pemetik yang besar nampaknya sebagian akan digantikan dengan mesin petik. Hal ini terlihat dari uji coba penggunaannya di afdelling PAR 1 dan PAR 3 pada bulan Januari 2006. Nugraha (2003) menyatakan bahwa sekitar 20-30% dari harga jual teh dibentuk dari upah pemetik. Dari penelitiannya dengan mesin petik tipe NV60H untuk kebun seluas 1 ha dengan produksi teh kering sebanyak 3500 Kg, mesin ini mampu menyubsitusi 181 tenaga petik per tahun dan mampu mengurangi biaya petik dari Rp. 240,-/Kg menjadi Rp. 148-192,-/Kg dengan kualitas petik sebesar 64.9%.
2. Transportasi Pucuk
Rasio jarak tempuh terhadap konsumsi BBM keduabelas truk pengangkut pucuk berkisar antara 3.5-4.03 Km/ltr pada tahun 2005.
Konsumsi BBM normal untuk jenis-jenis truk yang ada sekitar 8 Km/liter.
Daya tempuh yang rendah selain mungkin disebabkan oleh kondisi truk yang kurang perawatan, kebiasaan mengemudi yang kurangbaik dan jalan yang rusak. Faktor terpenting dalam memperbaiki jarak tempuh per liter BBM untuk pengiriman barang ataupun pengangkutan pucuk adalah pelatihan supir dan adanya motivasi supir untuk menghemat BBM. Selain itu dari pada beberapa truk, rasio itu cenderung menurun setiap tahunnya.
Kecenderungan ini menunjukkan bahwa diperlukan juga kegiatan pemeliharaan truk yang baik dan teratur. Hal lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efektifitas penggunaan BBM adalah dengan membatasi anggaran pembelian solar per hari seperti yang dlakukan oleh perkebunan Ciater yaitu sebanyak 10-15 liter/hari. Faktor pembatas ini akan memaksa pengemudi untuk mulai memikirkan penghematan BBM.
Beberapa tips berkendaraan yang baik dapat diterapkan untuk meminimalkan konsumsi BBM truk pengangkut. Tips-tips itu antara lain:
1. Meminimalkan injakan pada pedal gas sehingga tidak terjadi aliran BBM yang belebih
2. Gunakan transmisi yang lebih rendah bila jalan menanjak atau sedang membawa beban berat
3. Meminimalkan menginjak pedal gas (sebagai contoh jika harus menekan pedal rem di dekat perempatan sebaiknya pindahkan transmisi ke netral dan baru menekan rem setelah dekat perempatan) 4. Jangan sampai terlambat mengganti oli. Semakin lama penggunaan
oli, maka daya pelumasannya akan semakin berkurang. Akibatnya lebih banyak BBM yang terkonversi menjadi panas di dalam mesin (www.priyadi.net).
3. Pelayuan
Dengan konsumsi BBM pelayuan sebesar 0.004 liter/Kg teh (nilai rata-rata tahun 2003-2004 dan bulan Januari-Februari 2005) maka diperlukan kira-kira dibutuhkan asupan energi sebesar 0.19112 MJ/Kg teh atau 19.112 KJ/Kg teh dari BBM. Nilai energi dari BBM ini sebenarnya dapat digantikan dari energi panas yang terbuang baik melalui burner exhaust ducting maupun dari FBD/VFBD exhaust ducting. Diagram sederhana pemanfaatan panas untuk pelayuan dapat dilihat pada Gambar 10. Dengan asumsi-asumsi perhitungan yang dibuat pada Lampiran 14 diperoleh nilai pindah panas ke udara adalah 11.561 KJ/detik. Nilai ini setara dengan 0.002 liter solar dan berpotensi digunakan untuk pelayuan. Peluang penggunaan limbah energi panas ini dapat mempersingkat waktu layu sehingga waktu operasi kipas penghembus dapat dikurangi. Pengurangan waktu operasi penghembus udara berarti mengurangi konsumsi energi listrik pada pelayuan pucuk.
Konsumsi energi listrik yang besar pada pelayuan disebabkan oleh banyaknya jumlah dan besarnya daya kipas penghembus yakni sebesar 10 HP atau 7.460 KW. Penghematan dapat dilakukan dengan segera mematikan withering trough setelah pucuk mencapai derajat layu yang diinginkan.
Apabila giliran giling belum tiba maka sekitar 1.5 jam semenjak withering trough dipadamkan, pucuk hendaknya dihembus kembali dengan udara selama 30 menit. Hal ini menuntut pengawasan yang teratur oleh mandor pelayuan.
Untuk menimimalkan efek kenaikan harga BBM, pihak pabrik tidak lagi mengoperasikan pemanas udara pelayuan dan menggantikannya dengan pola penghembusan udara lingkungan ditambah peningkatan frekuensi pengiraban pucuk walaupun begitu jumlah dan jam kerja para pegawai tidak ditambah ( tetap 35 orang dan 7 jam kerja/hari). Dengan langkah ini, pabrik dapat menghemat BBM senilai 0.003 liter/kg teh atau 0.14 MJ/Kg teh apabila diasumsikan seluruh input lain tetap jumlahnya.
Sumber: Lawrence et al. (1980)
Gambar 10. Diagram rekuperator tipe radiasi.
4. Penggilingan dan Fermentasi
Seluruh kegiatan pada tahapan ini digerakkan oleh energi listrik karena seluruh proses melibatkan penggunaan elektromotor. Langkah penghematan yang dapat digunakan salah satunya dengan mencari kombinasi jumlah antara duster dan humidifier yang paling hemat namun tetap dapat menjaga suhu ruang 20-28oC. Faktor daya listrik pabrik rata-rata adalah 0.99 sehingga masalah efisiensi daya akibat faktor daya dapat dihilangkan dari daftar penyebab rendahnya efisiensi motor listrik. Pabrik menjaga faktor daya tetap tinggi agar tidak terkena power factor penalty dari PLN namun spesifikasi sebagian besar elektromotor tidak sesuai dengan faktor daya tersebut. Selain itu, sebagian besar motor listrik juga telah mengalami penggulungan ulang. Hal ini terlihat dari efisiensi daya rata-rata yang rendah namun terdapat beberapa elektromotor yang dayanya lebih besar dari daya nominal.
5. Pengeringan
Solar banyak dikonsumsi oleh tahapan ini dan ini terlihat dari nilai rata-rata konsumsi bulan Januari 2006 yang sebesar 77.8 liter/jam.
Sehubungan dengan konsumsi solar yang besar, perusahaan berusaha beralih menggunakan bahan bakar lain yakni berupa cangkang (BBC) sawit dengan kadar abu berkisar 5-7% dari berat bahan (Tim PTPN IV Medan, 2005).
BBC dibeli dari pabrik kelapa sawit Kertajaya, Banten Selatan. Pada bulan Januari 2006 telah diujicobakan pengoperasian 1 jalur produksi dengan heat exchanger berbahan bakar cangkang. Selama pengujian laju konsumsi rata-rata BBC untuk mendapat suhu yang diinginkan adalah 161.51 Kg/jam.
Dengan tingkat harga solar Rp. 6170,00/liter dan harga cangkang sawit Rp.
200,00/kg maka penggunaan BBC akan menghemat Rp. 447 725,00/jam operasi pengeringan. Analisa perbandingan energi pengeringan BBC terhadap BBM dapat dilihat pada Tabel 16.
Biaya pengoperasian BBC lebih unggul dibandingkan BBM dan konsumsi energinya pun relatif sama dengan BBM yaitu hanya selisih 1.96 MJ/kg teh hitam. Nilai kalor cangkang yang digunakan 18.39 MJ/Kg (PTPN VII Rejosari dalam Rahmat, 2002). Kedua nilai selisih ini menunjukkan keunggulan komparatif BBC dan bahwa efisiensi pemanasan heat exchanger dengan BBM relatif tidak berbeda dengan BBC. Nilai rataan efisiensi pengeringan FBD dan VFBD pabrik adalah 9.74859 dan 11.82504%
(Lampiran 17). Bahan bakar biomassa lokal lain yang potensial digunakan adalah sekam padi karena di wilayah sekitar pabrik paling tidak terdapat sedikitnya 3 tempat penggilingan padi. Nilai kalor sekam tidak berbeda jauh dengan BBC yaitu 15 MJ/Kg dengan kadar abu yang lebih tinggi yakni sebesar 30% (Abdullah, 2005).
Tabel 16. Perbandingan produksi dengan BBC terhadap BBM Bahan bakar
Uraian
BBM BBC