Operasional V ariabel Penelitian
PENGUJIAN HIPOTESIS
E. PEM BAHASAN
Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa kunjungan wisatawan memiliki hubungan yang paling kuat dengan Pajak Restoran. Bandung selalu jadi trademark dan trendsetter yang cukup menawan hati dengan produk-produk kulinernya. Dibukanya Tol Cipularang, dan event-event nasional maupun internasional yang sering digelar di Kota Bandung menyebabkan tempat-tempat hiburan bermunculan dan menjamur di tiap sudut Kota Bandung. Faktor-faktor itulah yang mendongkrak pendapatan pajak hiburan, selain itu tarif harga hiburan yang selalu meningkat tiap tahun pun turut ikut andil dalam kenaikan pendapatan pajak hiburan.
Tanda positif koefisien korelasi
menunjukan bahwa pengaruh
kunjungan wisatawan terhadap Pajak Hiburan, Pajak Hotel, Pajak Restoran dan Pendapatan Asli Daerah adalah positif artinya setiap penambahan 1 orang wisatawan akan berpengaruh terhadap peningkatan Pajak Hiburan sebesar Rp. 799.000, Pajak Hotel sebesar Rp. 804.000, Pajak Restoran sebesar Rp. 897.000 dan PAD sebesar Rp. 727.000 per tahun dengan asumsi variabel lain bernilai konstan.
Hal ini menjelaskan bahwa semakin banyak jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kota Bandung maka pendapatan daerah dari sektor pariwisata yang diterima akan semakin meningkat hal ini sejalan dengan pendapat (Nasrul, 2010:92).
Selain itu, hasil penelitian ini sesuai teori yang menyatakan bahwa kunjungan wisatawan berpengaruh terhadap Pajak Hiburan, Pajak Hotel, Pajak Restoran dan Pendapatan Asli Daerah Kota Bandung. Hasil penelitian
▪ ▪ ▪ November 2014 119 ini sejalan dengan penelitian sebelumnya
yaitu:
1. Ni Nyoman Suartini (2013) dalam penelitiannya yang berjudul Pengaruh Jumlah Kunjungan Wisatawan, Pajak Hiburan, Pajak Hotel dan Restoran Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Gianyar mengemukakan hasil bahwa jumlah kunjungan wisatawan, pajak hiburan, pajak hotel dan restoran berpengaruh signifikan terhadap PAD Kabupaten Gianyar Tahun Anggaran 1991 - 2010. Dari nilai koefisien regresi terstandar menunjukkan nilai variable PHR tertinggi, maka dapat disimpulkan PHR memiliki pengaruh paling dominan terhadap PAD Kabupaten Gianyar.
2. Widya Karisma & Abidin
Lating (2011) dalam
penelitannya yang berjudul Analisis Peran Industri
Pariwisata Terhadap
Pendapatan Asli Daerah
Kabupaten Wonosobo
menyiimpulkan bahwa industri pariwisata yang terdiri dari retribusi obyek wisata, jumlah kunjungan wisatawan domestik dan jumlah wisatawan manca negara berpengaruh terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Wonosobo. Retribusi obyek wisata mempunyai pengaruh dominan terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Wonosobo.
3. Simamora Daniel Reinhard Agustino yang berjudul
Pengaruh Kunjungan
Wisatawan Terhadap
Peningkatan Pendapatan Masyarakat Di Kecamatan
Pandan Dalam Rangka
Pengembangan Wilayah
Kabupaten Tapanuli Tengah, Hasil pebelitian ini
menunjukkan bahwa
kunjungan wisatawan
berpengaruh positif dan signifikan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah sektor pariwisata Kabupaten Tapanuli Tengah, disebabkan adanya meningkatnya kontribusi sektor perdagangan, hotel, dan restoran, dan sektor jasa-jasa. 4. Luluk Fadliyanti (2001) yang
berjudul Dampak
pengembangan pariwisata terhadap pendapatan asli daerah (PAD) pada Kabupaten Lombok Barat di Nusa Tenggara Barat Hasil analisis potensi menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata dalam upaya peningkatan jumlah kunjungan wisatawan mengakibatkan potensi Pajak Hotel dan Restoran menjadi meningkat rata-rata sebesar 44,27% dalam waktu 17 tahun, ha1 tersebut mengakibatkan sumbangan sektor parwisata terhadap Pendapatan Asli Daerah menjadi meningkat. Dari hasil analisis dan uji statistik serta berdasarkan beberapa penelitian terdahulu, dapat diambil kesimpulan bahwa sumbangan sektor pariwisata melalui peningkatan Kunjungan Wisatawan mengakibatkan perolehan Pajak Hiburan, Pajak Hotel dan restoran, meningkat, dan mengakibatkan sumbangan melalui sektor pariwisata terhadap Pendapatan Asli Daerah ikut meningkat.
F.PENUTUP
1. Jumlah kunjungan wisatawan berpengaruh positif Pajak Hiburan, tanda positif koefisien korelasi menunjukan bahwa pengaruh jumlah kunjungan
wisatawan terhadap Pajak Hiburan adalah positif artinya setiap penambahan 1 orang wisatawan akan berpengaruh terhadap peningkatan Pajak Hiburan sebesar Rp. 799.000 per tahun.
2. Jumlah kunjungan wisatawan berpengaruh positif terhadap Pajak Hotel, tanda positif koefisien korelasi menunjukan
bahwa pengaruh jumlah
kunjungan wisatawan terhadap Pajak Hotel adalah positif artinya setiap penambahan 1 orang wisatawan akan berpengaruh terhadap peningkatan Pajak Hotel sebesar Rp. 804.000 per tahun
3. Jumlah kunjungan wisatawan berpengaruh positif terhadap Pajak Restoran, tanda positif koefisien korelasi menunjukan
bahwa pengaruh jumlah
kunjungan wisatawan terhadap Pajak Restoran adalah positif artinya setiap penambahan 1
orang wisatawan akan
berpengaruh terhadap
peningkatan Pajak Restoran sebesar Rp. 897.000 per tahun. 4. Jumlah kunjungan wisatawan
berpengaruh positif terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), tanda positif koefisien korelasi menunjukan bahwa pengaruh jumlah kunjungan wisatawan terhadap PAD adalah positif artinya setiap penambahan 1
orang wisatawan akan
meningkatkan PAD sebesar Rp. 727.000 per tahun.
Selanjutnya disarankan bagi Kota Bandung dikarenakan industri pariwisata sebagai salah satu sektor yang diandalkan bagi penerimaan daerah, maka Pemerintah Kota Bandung dituntut untuk terus menggali dan mengelola potensi pariwisata yang
dimiliki sebagai usaha untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara maupun domestik ke Kota Bandung, seperti menjadikan Bandung sebagai MICE city, mempertahankan kebudayaan asli daerah yang dimiliki, menata infrastruktur, serta mengembangkan wisata buatan.
DA FTA R PUSTA KA
Abiola, James and Asiweh, M oses. (2012). Impact of Tax Administration on Government Revenue in a Developing Economy – A Case Study of Nigeria. International Journal of Business and Social Science Vol. 3 No. 8 [Special Issue - April 2012]
Agustino, S.D.R. (2012). Pengaruh Kunjungan W isatawan Terhadap Peningkatan Pendapatan Masyarakat di Kecamatan Pandan Dalam Rangka Pengembangan W ilayah Kabupaten Tapanuli Tengah. Tesis pada Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan
Pedesaan pada Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Medan.
Domanik, J. Dan Weber, H.F.
Perencanaan Ekowisata (Teori ke Aplikasi). Yogyakarta: Andi Fadliyanti, Luluk. (2001). Dampak
pengembangan pariwisata terhadap pendapatan asli daerah (PAD) pada Kabupaten Lombok Barat di Nusa Tenggara Barat. Tesis pada Program Studi Magister Ekonomika Pembangunan UGM Yogyakarata.
Faisal, Ahmad Ihwan. (2010). Pengaruh Biaya Promosi Pariwisata terhadap Pendapatan Asli Daerah Sektor Pariwisata Suatu Kasus pada Dinas Perhubungan dan Pariwisata Kabupaten Cianjur. Skripsi pada Jurusan Akuntansi UPI Bandung
▪ ▪ ▪ November 2014 121 Karisma, W idya. (2011). Analisis Peran
Industri Pariwisata Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten W onosobo. Jurnal Ilmiah Mahasiswa FEB Universitas Brawijaya
Kuncoro, M (2004). Otonomi dan Pembangunan Daerah: Reformasi, Perencanaan, Strategi, dan Peluang. Jakarta: Erlangga
Kusuma PS, Ika. (2006). Pelaksanaan Otonomi Daerah Di Bidang Kepariwisataan (Studi Kasus di Bali). Jurnal Kepariwisataan Indonesia Volume 01. No. 03 September 2006.
Mahmudi. (2010). Manajemen
Keuangan Daerah. Jakarta:
Erlangga
Putra, I Wayan Gede Sedana. (2011). Pengaruh Jumlah Kunjunagn W isatawan terhadap Penerimaan Retribusi Objek W isata, Pndapatan Asli Daerah (PAD) dan Anggaran Pembangunan Kabupaten Gianyar tahun 1991-2010. Tesis Program Pascasarjana Bidang Ilmu Kajian Pariwisata Universitas Udayana Bali. Tidak diterbitkan
Putra, I.B.W. Hukum Bisnis Pariwisata. (2003). Bandung: Refika Aditama Qadarrochman, Nasrul. (2010). Analisis
Penerimaan Daerah dari Sektor Pariwisata di Kota Semarang dan
Faktor-Faktor yang
M empengaruhinya. Skripsi pada Jurusan IESP Universitas Diponegoro Semarang
Rahmawati, Disma. (2012). Pengaruh Service Covinence Terhadap Keputusan Menginap di Hotel Guci
Bandung. Skripsi pada Jurusan Manajemen Pemasaran Pariwisata UPI Bandung
Rina, Wiyandi T dan Edy, P. (2005). Analisis Daya Saing Industri Pariwisata Untuk M eningkatkan
Ekonomi Daerah. Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 1. Hal 61-70. Suartini, Ni Nyoman. (2013). Pengaruh
Jumlah Kunjungan W isatawan, Pajak Hiburan, Pajak Hotel dan Restoran Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Gianyar. E-Jurnal Ekonomi dan Bisnis Volume 02. No.03. Tahun 2013 Universitas Udayana
Jurnal Wacana Kinerja ▪ Volume 17 ▪ Edisi 2 ▪ November 2014 123
RESENSI BUKU
Judul : Menegakan Hukum dan Hak Warga Negara : Pers Buku dan Film Penulis : Adinda Tenriangke Muchtar & Antonius Wiwan Koban
Penerbit : Freedom Institute dan Friedrich Naumann Stiftung Kolasi : vii + 64 halaman
Waktu terbit : November 2010 ISBN : 978-979-19466-8-1
Sebuah Tafsir Ringkas Terhadap Kebebasan Pers sebagai Pilar Demokrasi di Indonesia Pascareformasi kran kebebasan pers terbuka lebar dengan disahkannya Undang- Undang (UU) No. 40 Tahun 1999 tentang Pers. Meski demikian, dengan disahkannya UU tersebut kasus-kasus kekerasan dan kriminalisasi terhadap media berekspresi tidak musnah sama sekali, melainkan semakin banyak muncul dengan dalih pencemaran nama baik. Di sisi lain, hadirnya UU tersebut membuat penafsirannya menjadi liar. Beberapa media elektronik maupun cetak banyak yang terkooptasi dengan kepentingan pengusaha dan politikus yang berkuasa di ruang publik. Media terkooptasi tersebut akhirnya terjebak pada pemberitaan yang tidak berimbang dan minim fakta yang terverifikasi untuk membangun opini publik dalam dukungan pada pihak tertentu. Maka itu, policy paper yang disusun dalam bentuk buku berjudul M enegakan Hukum dan Hak W arga Negara : Pers Buku dan Film ini hadir untuk menegaskan kembali garis kebebasan pers sebagai pilar keempat demokrasi di Indonesia.
Kehadiran pers di negara demokrasi mutlak dibutuhkan. Kebutuhan terhadap pers berfungsi sebagai kontrol pemerintah dan kehidupan bernegara. Tantangan terbesar dalam menerapkan kebebasan pers terdapat pada paradoks kebebasan itu sendiri. Buku yang berfokus pada dua tema yakni kebebasan berekspresi dan kebebasan berpikir ini
menjabarkan beberapa kasus tentang bagaimana kebebasan pers dan berekspresi masih terbatasi oleh persepsi paranoid aparatur di Indonesia dan paradoks kebebasan. Lebih lanjut, buku ini membagi pembahasannya dalam empat pembahasan utama yakni permasalahan mendesak, pokok-pokok rekomendasi, analisis rekomendasi kebijakan, dan kesimpulan.
Pembedaaan antara kebebasan pers dan kebebasan berpikir dijelaskan penulis pada pembahasan pertama. Kebebasan berekspresi terkait dengan pengungkapan dan penyaluran informasi atay ppendapat, sedangkan kebebasan berpikir erat dengan aspek keyakinan dan pemikiran seseorang sebagai ide-ide yang berdiri sendiri. Beberapa permasalahan mendesak yang diangkat penulis terkait dengan kebebasan pers dan kebebasan berpikir antara lain kebijakan lain yang kontraproduktif dengan UU Pers dan tidak jelas penafsirannya seperti aturan UU No. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang memuat pasal tentang pencemaran nama baik, adanya UU no. 16 tahun 2004 tentang Kejaksaan RI yang melegalkan pelarangan buku tanpa proses pengadilan dan pertimbangan yang transparan dan jelas, serta UU No. 33 tahun 2009 tentang Perfilman.
Buku ini memberikan beberapa rekomendasi signifikan bagi kebijakan kaitannya dengan kebebasan berekspresi antara lain: 1) Meninjau atau melakukan judicial review kembali UU lain yang bertentangan dengan UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers seperti UU ITE dan penghapusan pasal-pasal sanksi pidana terhadap insan pers, 2) pelarangan terhadap kooptasi media oleh kepentingan politk, 3) Penegasan penggunaan mekanisme hak jawab secara demokratis dan santun oleh pihak yang merasa dirugikan dengan pemberitaan pers tanpa harus dengan cara kekerasan dan kriminalisasi insan pers, 4) Penghapusan peraturan perundang-undangan yang meniadakan ruang bagi debat publik untuk diskusi dan argumentasi sejarah serta pertukaran informasi dalam masyarakat, sehingga tidak akan ada lagi proses penyitaan tanpa pengadilan. Pengadilan harus memperhatikan nilai kebebasan berkespresi, pemerintahan yang tidak antikritik dan menyediakan ruang bagi depat publik, 5) Menggalakan literasi media kepada masyarakat agar lebih kritis dan dewasa dalam menghadapi isu dan pemberitaan yang sensitif dan kontroversial.
Pada pembahasan berikutnya buku ini menganalisis tantangan dan peluang kebebasan berekspresi di Indonesia. Dari pembahasan tersebut, dapat diidentifikasi bahwa besaran jumlah media cetak yang beredar di Indonesia dari tahun 1997-2008. Meski demikian, kebebasan pers masih menghadapi sejumlah tantangan antara lain profesionalisme, independensi, dan depersonalisasi, serta etika jurnalisme kaitannya dengan kooptasi kepentingan politik dan pengusaha. Untuk mengantisipasi hal tersebut, MA telah mengeluarkan keputusan No 1608 K/ Pid/ 2005 dan no. 903 K/ Pdt/ 2005. Keputusan tersebut berbunyi bahwa filosofoi dalam UU Pers ibahwa filosofi yang dianut dalam UU Pers telah menempatkan pers sebagai pilar keempat demokrasi. Adanya instumen hukum dan kode etik pers, kode etik dan mekanisme hak jawab perlu untuk menjawab tantangan independensi dan paradoks kebebasan pers serta mencegah pemberitaan yang keliru. Buku ini juga menjabarkan data laporan indeks kebebasan pers Indonesia. Pada 2009, Indonesia menempati peringkat tertinggi dalam kebebasan pers jika dibandingkan dengan negara ASEAN yang lain. Peringkat tersebut terdorong oleh euforia pascareformasi. Meski demikian, euforia kemunculan media-media yang diterbitkan oleh perusahaan pers memunculkan fenomena kelompok media yang dimiliki oleh pengusaha besar di belakangnya. Kendala kebebasan pers dari pemerintah berupa sensor dan pemberdelan yang dilakukan tanpa proses diskursus dan juga ancaman dari kelompok masyarakat tertentu yang radikal serta tantangan lain dari kebebasan berekspresi adalah
Jurnal Wacana Kinerja ▪ Volume 17 ▪ Edisi 2 ▪ November 2014 125 sosialisasi peraturan perundang-undangan terkait bagi pemerintah, khu-sus nya aparat penegak hukum (Kepolisian). Hal ini sangat memprihatinkan karena akan berpengaruh terhadap pengakuan dan jaminan perlindungan hukum terhadap kebebasan ber-ekspresi di indonesia.
Pada akhir buku ini penulis mempertegas kembali rekomendasi tentang upaya- upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk mendukung demokratisasi dan efektivitas pembangunan dengan adanya pers sebagai pilar keempat demokrasi. Upaya- upaya tersebut antara lain revisi beberapa pasal peraturan perundang-undangan. Dengan adanya revisi dan pembukaan debat publik dalam kebebasan berekspresi maka jika terjadi pelangaran terhadap hak asasi dan norma masyarakat, proses hukum dan pengadilan harus ditempuh, sehingga tercipta ruang debat publik serta keadilan. Penghapusan beberapa pasal terkait kriminalisasi dan kekerasan terhadap pers diperlukan karena tidak seharusnya kekerasan digunakan untuk menyelesaikan konflik. Sebab, kompetisi ide-ide dan keragaman pendapat akan lebih berkontribusi bagi sebuah proses demokratisasi dan tentu saja sebagai salah satu tanda literasi dan kualitas sumber daya manusia Indonesia telah mengalami kedewasaan dalam menerima perbedaan. Secara keseluruhan, buku ini dapat dijadikan referensi untuk lebih memahami hubungan antara pers dan instansi pemerintah. Penyajiannya yang runut disertai contoh-contoh kasus juga memudahkan pemahaman pembaca. (Pratiwi)