• Tidak ada hasil yang ditemukan

H. Sistematika Pembahasan

2. Pemahaman Dekonstruksi

70

yang telah terjadi beserta makna materinya yang sekarang telah ada bagi

individu yang bersangkutan.4

Menurut Dr. Yu>suf al-Qard}a>wi> (lahir 1926 M), rekonstruksi memiliki tiga poin penting, yaitu: pertama, memelihara inti bangunan asal

dengan tetap menjaga watak dan karakteristiknya; kedua, memperbaiki

hal-hal yang telah runtuh dan memperkuat kembali sendi-sendi yang telah

lemah; dan ketiga, memasukkan beberapa watak aslinya. Dari sini dapat

dipahami bahwa pembaharuan bukanlah menampilkan sesuatu yang

benar-benar baru, namun lebih tepatnya merekonstruksi kemudian

menerapkannya dengan realitas saat ini.5

Berangkat dari berbagai definisi rekonstruksi di atas, pemahaman

rekonstruksi dalam judul penelitian ini adalah membangun kembali fikih

zakat sebagai domain muamalah setelah terlebih dahulu dilakukan

perombakan (dekonstruksi) dan dipisahkan dari rumpun ibadah. Oleh

karena konstruksi fikih zakat sudah sangat kuat sebagai komponen dari

ibadah, maka peneliti terlebih dahulu harus melakukan dekonstruksi.

2. Pemahaman Dekonstruksi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dekonstruksi /dékonstruksi/ merupakan bentuk nomina yang berarti penataan ulang dan

dimaknai pula sebagai bentuk struktur bangunan yang tidak lazim, misal

4 James P. Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997), 421.

5 Yu>suf al-Qard}a>wi>, al-Fiqh al-Isla>mi> bayn al-As}lah} wa al-Tajdi>d dalam jurnal “Problematika Rekonstruksi Ushul Fiqh” (Beirut: Mu’assasat al-Risa>lah, 2014), 36.

71

bangunan berbentuk miring.6 Sementara itu, menurut Muhammad

Al-Fayyadl (lahir 1985), dekonstruksi adalah testimoni terbuka kepada

mereka yang kalah, mereka yang terpinggirkan oleh stabilitas rezim

bernama pengarang. Maka, sebuah dekonstruksi adalah gerak perjalanan

menuju hidup itu sendiri.7

Umar Junus (w. 2010 M) memandang dekonstruksi sebagai

perspektif baru dalam penelitian sastra. Dekonstruksi justru memberikan

dorongan untuk menemukan segala sesuatu yang selama ini tidak

memperoleh perhatian dan memungkinkan untuk melakukan penjelajahan

intelektual dengan apa saja, tanpa terikat dengan suatu aturan yang

dianggap telah berlaku universal.8

Adalah seorang filsuf kontemporer Perancis, Jacques Derrida (w.

2004 M), yang dianggap menyuguhkan sebuah pembacaan secara radikal

terhadap tek-teks filsafat dan kemudian mempermainkannya. Ia membuka

sebuah undang-undang untuk menggugat klaim filsafat sebagai

satu-satunya penjelas bagi segala-galanya. Kata “dekonstruksi” merupakan kata

yang pertama kali keluar melalui mulutnya dan konon pembacaannya

tidaklah mengenal kata akhir. Ia selalu memulai pembacaannya dengan

pertanyaan dan mengakhirinya dengan pertanyaan.9

Dekonstruksi memang kata yang sulit untuk didefinisikan, namun

6 Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), 307.

7 Muhammad Al-Fayyadl, Derrida (Yogyakarta: LKiS, 2011), 232.

8 K. Bertens, Sejarah Filsafat Kontemporer: Prancis (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2006), 363.

72

menurut Derrida (w. 2004 M), dekonstruksi bukanlah sebuah metode,

teknik, sebuah gaya kritik sastra, atau sebuah prosedur untuk menafsirkan

teks. Inti dari dekonstruksi ini berhubungan dengan bahasa. Dekonstruksi

adalah semua yang ditolaknya. Konsep ini memakai asumsi filsafat atau

filologi untuk menghantam logosentrisme.

Pendekatan dekonstruktif lebih menyoroti isi teks agar ia dapat

menyingkapkan makna yang seharusnya literal, tetapi telah termanifestasi

ke dalam berbagai metafora maupun perwujudan kata-kata. Tujuan

dekonstruksi bukan untuk menjembatani dua jurang yang ada itu antara

kata dan makna, melainkan hanya untuk menunjukkan jika jurang itu

memang sudah seharusnya ada dan tidak dapat dielakkan lagi.10

Prinsip- prinsip yang terdapat dalam teori dekonstruksi adalah:

a. Melacak unsur-unsur aporia (makna paradoks, makna kontradiktif, dan

makna ironi)

b. Membalikkan atau merubah makna-makna yang sudah

dikonvensionalkan.

Secara garis besar, dekonstruksi adalah cara untuk membawa

kontradiksi-kontradiksi yang bersembunyi di balik konsep-konsep kita

selama ini dan keyakinan yang melekat pada diri ini ke hadapan kita.

Dalam tradisi Islam, Muhammad Arkoun (w. 2010 M) adalah

sosok filsuf Islam Modern yang kerap kali disebut ketika mewacanakan

perihal dekonstruksi. Muhammad Arkoun (w. 2010 M) menilai Islam

73

bukanlah agama yang terorganisir secara kaku dan dogmatis. Dalam

perjalanan historisnya, melalui jalur kekuasaan, Islam menjadi dogma mati

untuk kepentingan kekuasaan itu sendiri. Oleh karena itu, pemikiran Islam

telah mandek, terkotak-kotak, tertutup, sempit, dan logosentris.

Bagi Muhammad Arkoun (w. 2010 M) pemikiran Islam tidak lagi

mau menerima perubahan dalam prosedur dan kegiatannya. Umat Islam

harus mengakui bahwa selama empat abad pemikiran Islam tidak

berdenyut sebagaimana pemikiran Eropa. Pemikiran Islam hanya

mengulang-ulang sikap akal religius skolastik yang konservatif,

sebagaimana yang digunakan selama Abad Pertengahan, tanpa bergeser

sedikit pun dari posisi ini ke posisi modern.

Oleh karena itu, Muhammad Arkoun (w. 2010 M) mencanangkan

sebuah proyek besar yang disebutnya “kritik nalar Islam” dan “pembukaan

kembali pintu ijtihad”. Dalam kenyataannya, ijtihad hanyalah memenuhi

tuntutan ideologis dari penguasa. Oleh karena itu, ia mengusulkan agar

tugas ijtihad diperluas lagi dengan usaha kritik nalar Islam.11

Sementara itu, Ah}med al-Na’im (lahir 1946) lebih memandang

bahwa dekonstruksi sebagai cara baca yang sangat intoleran terhadap

pembekuan dan pembakuan teks. Oleh karena itu, pembacaan

dekonstruktif selalu mengejutkan, bahkan seringkali subversif. Mengapa?

Karena ia membongkar dan menembus ke dalam teks untuk menampilkan

74

watak arbitrer dan ambigunya yang senantiasa terkubur oleh

“kepentingan” penulis selaku pengucap teks itu.12

Setidaknya dekonstruksi merupakan pembelaan terhadap the other

(makna yang lain yang tertindas). Semangatnya untuk menjunjung tinggi

martabat perbedaan makna perlu kita hargai. Sekali lagi, keberadaan

makna akan menjadi lebih bermakna hanya dengan adanya makna-makna

lain yang mengitarinya. Dengan kata lain, sebuah dekonstruksi adalah

gerak perjalanan menuju hidup itu sendiri. Hidup yang selalu menuntut

kita dengan rendah hati untuk mengakui kebenaran sebagai

ke(tak)mungkinan. Kita hanya bisa berharap mampu menemukan sesuatu

yang berharga dalam perjalanan ini tanpa pernah tahu apakah kita

benar-benar memperoleh apa yang kita inginkan. Hidup ini merupakan sebuah

perjalanan panjang, sementara Derrida (w. 2004 M) mengajarkan pada kita

bahwa hidup adalah petualangan tanpa akhir dan menuju kebenaran.

Dokumen terkait