Ada dua guru yang mengajarkan mata pelajaran PKn yaitu Eka Mundiharta S.Pd dan Sunarsih S.Pd. Pemahaman guru PKn tentang PKn
sebagai Pendidikan Karakter. Pertama Bapak Eka Mundiharta S.Pd beliau menyatakan bahwa kaitannya PKn sebagai Pendidikan Karakter adalah landasan dasar bagi para siswa secara rinci yang berkaiatan dengan pembentukan karakter siswa sehingga siswa bisa memahami nilai-nilai Pancasila yang dapat diamalkan secara subjektif atau objektif oleh anak didik. Namun yang pasti bahwasanya anak akan berperilaku sesuai dengan apa yang diatur oleh negara tersebut artinya nilai-nilai yang ada dalam peraturan tersebut akan ditaati oleh siswa sehingga sangat penting peranan PKn. Kemudian peneliti mencoba menanyakan kepada responden untuk lebih memerinci atau garis besarnya mengenai pemahaman tentang PKn sebagai Pendidikan Karakter ini. Beliau mengemukakan bahwa PKn harus memuat nilai-nilai dasar karakter yang harus dilaksanakan oleh siswa.
Peneliti menanyakan kembali nilai-nilai yang sesuai dengan Pancasila itu seperti apa? Beliau mengemukakan bahwa nilai-nilai karakter tersebut bersumber dari nilai-nilai Pancasila. Misalnya religius dimunculkan dari sila pertama. Kemudian peneliti menanyakan kembali apakah nilai-nilai dari Pancasila tersebut dapat dimunculkan ke dalam mata pelajaran PKn.
Beliau menjawab bahwa bisa semua nilai-nilai dapat dimunculkan ke dalam mata pelajaran PKn. Peneliti memberikan pertanyaan yang selanjutnya yaitu kemudian kalau nilai karakter Taqwa apakah bisa dimunculkan ke dalam mata pelajaran PKn. Maksudnya setujukah bapak dengan pernyataan bahwa PKn dapat membentuk karakter taqwa. Responden menjawab bahwa setuju, karena dengan peningkatan taqwa itu otomatis anak akan mematuhi tata
tertib, dan ini akan menjadi pondasi bagi anak untuk berperilaku lebih baik.
Bisa diteliti anak yang taqwanya tinggi pasti disekolah tidak akan aneh-aneh. Tetapi tergantung juga dengan lingkungannya, ketika dimasyarakat lingkungannya tidak agamis maka anak akan mengikutinya. Jadi tidak hanya sekolah yang menentukan karakter anak tetapi semua elemen baik formal maupun non formal.
Apabila kita perhatikan dengan seksama nampak bahwa PKn sebagai pendidikan karakter tentunya kita harus memiliki formula terlebih dahulu tentang Pendidikan Karakter. Kita tahu bahwa Pendidikan Karakter peneliti mengacu pada konsep Grand Design Pendidikan Karakter (Policy Brief, 2011) yang intinya bahwa Pendidikan Karakter adalah upaya yang terencana untuk menjadikan peserta didik mengenal, peduli, dan menginternalisasi nilai-niai sehingga peserta didik berperilaku sebagai insan kamil. Kaitannya dengan PKn sebagai Pendidikan Karakter bahwa salah satu misi yang diemban PKn adalah PKn harus mampu membentuk warga negara yang baik atau civic disposition. Artinya bahwa mata pelajaran PKn harus mampu membentuk karakter peserta didik.
Jadi walaupun Pendidikan Karakter tidak terintegrasi ke dalam mata pelajaran PKn, sudah dengan sendirinya bahwa misi PKn adalah membentuk warga negara yang baik, warga negara yang berkarakter tentunya karakter kewarganegaraan yang sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Jadi PKn sebagai Pendidikan Karakter, PKn harus berupaya untuk menjadikan peserta didik mengenal, peduli dan menginternalisaisi nilai-nilai
sehingga peserta didik berperilaku menjadi lebih baik (Karakter Kewarganegaraan), sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945 melaui proses pembiasaan (Habituasi).
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan bahwa pengertian pemahaman adalah proses, cara, perbuatan memahami atau memahamkan. Dalam Revisi Taksonomi Pendidikan Bloom (2010: 105-106) pengertian memahami adalah bahwa siswa dikatakan memahami bila mereka dapat mengkontruksi makna dari pesan-pesan pembelajaran, baik yang bersifat lisan, tulisan atau grafis, yang disampaikan melalui pengajaran, buku, atau layar komputer. Siswa memahami ketika mereka menghubungkan pengetahuan “baru” dan pengetahuan lama mereka. Lebih tepatnya, pengetahuan yang baru masuk dipadukan dengan skema-skema dan kerangka-kerangka kognitif, Pengetahuan Konseptual menjadi dasar untuk memahaminya. Proses-proses kognitif dalam kategori Memahami meliputi menafsirkan, mencontohkan, mengklasifikasikan, merangkum, menyimpulkan, membandingkan dan menjelaskan.
Sementara (Ari Widodo, 2006: 6-10) menjelaskan dengan lebih rinci mengenai konsep memahami (Understand) yaitu mengkonstruk makna atau pengertian berdasarkan pengetahuan awal yang dimiliki, mengaitkan informasi yang baru dengan pengetahuan yang dimiliki, atau mengintegrasikan pengetahuan yang baru kedalam skema yang telah ada dalam pemikiran siswa. Karena penyusunan skema adalah konsep, maka pengetahuan konseptual merupakan dasar pemahaman. Kategori memahami
mencakup tujuh proses kognitif: menafsirkan (interpreting), memberikan contoh (exemplifying), mengklasifikasikan (classifying), meringkas (summarizing), menarik inferensi (inferring), membandingkan (comparing), dan menjelaskan (explaining).
Pertama, menafsirkan (interpreting): mengubah dari suatu bentuk informasi ke bentuk informasi yang lainnya, misalnya dari kata-kata ke grafik atau gambar, atau sebaliknya, dari kata-kata ke angka, atau sebaliknya maupun dari kata-kata ke kata-kata, misalnya meringkas atau membuat parafrase. Informasi yang disajikan dalam tes haruslah “baru”
sehingga dengan mengingat saja siswa tidak akan bisa menjawab soal yang diberikan. Istilah lain untuk menafsirkan adalah mengklarifikasi (clarifying), memparafrase (paraphrasing), menerjemahkan (translating), dan menyajikan kembali (representing). Kedua, memberikan contoh (exemplifying): memberikan contoh dari suatu konsep atau prinsip yang bersifat umum. Memberikan contoh menuntut kemampuan mengidentifikasi ciri khas suatu konsep dan selanjutnya menggunakan ciri tersebut untuk membuat contoh. Istilah lain untuk memberikan contoh adalah memberikan ilustrsi (illustrating) dan mencontohkan (instantiating).
Ketiga, mengklasifikasikan (classifying): mengenali bahwa sesuatu (benda atau fenomena) masuk dalam kategori tertentu. Termasuk dalam kemampuan mengklasifikasikan adalah mengenali ciri-ciri yang dimiliki suatu benda atau fenomena. Istilah lain untuk mengkelasifikasikan adalah mengkategorisasikan (categorising). Keempat, meringkas (summarising):
membuat suatu pernyataan yang mewakili seluruh informasi atau membuat suatu abstrak dari sebuah tulisan. Meringkas menuntut siswa untuk memilih inti dari suatu informasi dan meringkasnya. Istilah lain untuk meringkas adalah membuat generalisasi (generalising) dan mengabstarksi (abstracting). Kelima, menarik inferensi (inferring): menemukan suatu pola dari sederetan contoh atau fakta. Untuk dapat melakukan inferensi siswa harus terlebih dapat menarik abstarksi suatu konsep atau prinsip berdasarkan sejumlah contoh yang ada. Istilah lain untuk menarik inferensi adalah mengekstrapolasi (extrapolating), memprediksi (predicting), dan menarik kesimpulan (concluding).
Keenam, membandingkan (comparing): mendeteksi persamaan dan perbedaan yang dimiliki dua objek, ide, ataupun situasi. Membandingkan mencakup juga menemukan kaitan antara unsur-unsur satu objek atau keadaan dengan unsur yang dimiliki objek atau keadaan lain. Istilah lain untuk membandingkan adalah mengkontraskan (contrasting), mencocokan (mathcing), dan memetakan (mapping). Ketujuh, menjelaskan (explaining):
mengkonstruk dan menggunakan model sebab-akibat dalam suatu system.
Termasuk dalam menjelaskan adalah menggunakan model tersebut untuk mengetahui apa yang terjadi apabila salah satu bagian sistem tersebut diubah. Istilah lain untuk menjelaskan mengkontruksi model (constructing model).
Seperti kita ketahui dalam Revisi Taksonomi Pendidikan Bloom (2010: 105-115) mengenai konsep pemahaman, ada tujuh indikator
ketercapaian apabila seseorang atau siswa dikatakan memahami sebuah materi atau konsep pelajaran. Tujuh indikator tersebut seperti yang sudah dijelaskan diatas. Indikator-indikator tersebut yaitu menafsirkan, mencontohkan, mengklasifikasikan, merangkum, menyimpulkan, membandingkan, menjelaskan. Jadi ketika kita sudah menguasasi ketujuh indikator tersebut berarti kita sudah dikatakan menguasasi konsep atau materi pembelajaran.
Dari pernyataan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa pemahaman Bapak Eka Mundiharta S.Pd belum maksimal. Karena masih ada beberapa indikator dari Pendidikan Taksonomi Bloom yang belum dikuasasi.
Misalnya indikator memberikan contoh dan juga menjelaskan. Ketika ditanyakan pemahaman beliau mengenai PKn dapat membentuk karakter taqwa. Beliau mengungkapkan bahwa setuju dengan pernyataan bahwa PKn dapat membentuk karakter taqwa. Peningkatan taqwa itu otomatis anak akan mematuhi tata tertib, dan ini akan menjadi pondasi bagi anak untuk berperilaku lebih baik. Peneliti mencoba menganalisis pernyataan yang diungkapkan oleh Bapak Eka Mundiharta S.Pd. Kaitannya dengan PKn dalam membentuk karakter taqwa, bahwa PKn tidak semestinya membentuk karakter taqwa karena ini bukan ranah bagian PKn. PKn seharusnya mendukung dalam membentuk karakter religius.
Selanjutnya data yang kedua diperoleh dari Ibu Sunarsih S.Pd yang mengajar kelas X dan XI IPA. Beliau mengemukakan bahwa PKn sebagai Pendidikan Karakter yaitu karena dalam mata pelajaran PKn itu harus
menanamkan nilai-nilai karakter untuk mengembangkan moral anak didik.
Jadi sejak dini harus dikembangkan pendidikan karakter mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan menengah jangan sampai SD tidak ada SMP tidak ada baru ditingkat SMA jadi memang harus berkelanjutan dalam menanamkan Pendidikan Karakter. Ketika sudah remaja sulit dalam menerapkan pendidikan karakter jadi memang harus berkelanjutan dalam menerapkan Pendidikan Karakter tidak sepotong-sepotong.
Peneliti menanyakan kembali kemudian inti atau konsep PKn sebagai pendidikan karakter itu seperti apa. Responden menjawab bahwa dalam mata pelajaran PKn tidak hanya memuat materi saja atau pengetahuan saja tetapi juga ada aspek penanaman nilai dan sikap yang berpengaruh bagi perilaku siswa dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian peneliti menanyakan kepada responden tentang darimana Ibu Guru memunculkan nilai-nilai karakter tersebut, sehingga ada nilai kejujuran, kepatuhan, tanggung jawab dan sebagainya. Responden menjawab bahwa nilai-nilai karakter tersebut dibentuk dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Kemudian bagaimana pendapat ibu tentang nilai-nilai karakter PKn yang dibentuk dari nilai-nilai Pancasila. Responden menjawab bahwa nilai-nilai karakter yang dibentuk dari nilai-nilai Pancasila yaitu pada dasarnya pengembangan nilai karakter tersebut merupakan realisasi penanaman nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari, misalnya religius sesuai dengan sila pertama dan sebagainya.
Peneliti selanjutnya menanyakan kembali apakah semua nilai-nilai dapat dimunculkan dari Pancasila. Responden menjawab tidak, tergantung konteks materi dan indikatornya. Misalnya nilai demokrasi kan tidak bisa dalam setiap materi dimunculkan. Tetapi misalnya kalau nilai karakter jujur, disiplin bisa dimunculkan dalam kegiatan pembelajaran. Peneliti kemudian menanyakan kembali mengenai PKn dalam membentuk karakter Taqwa, maksudnya bahwa apakah ibu setuju apabila PKn dapat membentuk karakter taqwa. Responden menjawab bahwa tidak karena bukan diranah PKn kalau taqwa dibentuk secara dini dan ini berawal dari prapendidikan formal atau pendidikan keluarga. PKn hanya mencapai ranah atau membentuk karakter yang sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam mata pelajaran PKn. Kalau karakter taqwa berarti masuk mata pelajaran agama nanti.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pemahaman guru PKn tentang PKn sebagai pendidikan karakter dapat dijelaskan sebagai berikut. Guru di SMA N 1 Cangkringan belum maksimal dalam memahami PKn sebagai pendidikan karakter. Apabila kita mengacu pada Revisi Taksonomi Pendidikan Bloom, ada tujuh indikator apabila seseorang dapat dikatakan memahami. Kategori memahami mencakup tujuh proses kognitif:
menafsirkan (interpreting), memberikan contoh (exempliying), mengklasifikasikan (classifying), meringkas (summarizing), menarik inferensi (inferring), membandingkan (comparing), dan menjelaskan (explaning). Apabila diperinci pemahaman Bapak Eka Mundiharta S.Pd
masih ada indikator yang belum dikuasai seperti menjelaskan dan memberikan contoh. Sementara kalau pemahaman Ibu Sunarsih S.Pd sudah cukup dalam memahami PKn sebagai pendidikan karakter. Hanya satu indikator yang belum tercapai yaitu menarik inferensi (Kesimpulan).
2. Nilai-nilai Karakter yang Telah Dikembangkan dalam Pembelajaran