KASUS KONFLIK TANAH DI DESA LEMAH ABANG, KECAMATAN DORO, KABUPATEN PEKALONGAN (KASUS 3)
6.3 Pemetaan Aktor-Aktor Konflik
6.3.1 Aktor yang Terlibat dalam Konflik
6.3.2.2 Pemahaman Konflik Menurut Badan Pertanahan Nasional
Kabupaten Pekalongan
Pihak BPN Kabupaten Pekalongan bertindak sebagai badan hukum yang menangani masalah konflik tanah yang terjadi antara sejumlah petani penggarap di Desa Lemah Abang dengan H. SHJ, Cs yang berbuntut panjang. Pihak BPN mengemukakan bahwa yang bersalah dalam konflik ini adalah para petani penggarap di Desa Lemah Abang. Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap berkas-berkas terkait, sertifikat tanah yang dimiliki oleh H. SHJ cs adalah legal. H.SHJ cs berhak menggunakan secara penuh tanah seluas 5 Ha di Desa Lemah Abang karena beliau merupakan pemilik tanah yang sah.
Pihak BPN mengungkapkan bahwa para petani penggarap sebenarnya tahu bahwa tanah itu adalah tanah negara, namun mereka mengklaim bahwa tanah itu adalah milik Desa lemah Abang agar mereka tetap mendapat penghasilan dari tanah tersebut. Awal terjadinya konflik tanah ini adalah pada waktu H.SHJ cs menunjukkan sertifikat tanah atas nama dirinya dan 9 orang temannya pada tahun 2005. Hal ini memancing emosi masyarakat karena mereka telah menganggap tanah tersebut adalah milik desa yang diwariskan secara turun-temurun. Namun faktanya, proses yang telah dilakukan H.SHJ, Cs telah sah menurut Undang-Undang pertanahan untuk menjadikannya sebagai pemilik tanah.
Perebutan hak atas
Pada tahun 1977, H SHJ, Cs (10 orang) mengajukan pengukuran terhadap tanah GG (tanah negara) yang kini menjadi sengketa dan disebut masyarakat Desa lemah Abang sebagai tanah desa. Proses ini dibuktikan dengan adanya data resmi pada DI.302 (permohonan ukur) data BPN tanggal 10 Desember tahun 1997. Pada tanggal 3 Januari 1998 dilakukan pengukuran oleh petugas dari Kantor Pertanahan Kabupaten Pekalongan, selanjutnya diterbitkan GS (Gambar situasi) pada tanggal 8 Mei 1998, No. 00001 s/d 0010/1998. Pada tanggal 13 Januari 1998 datang pihak dari LMD dan LKMD yang mengirim surat kepada Bupati Pekalongan yang berisi pernyataan keberatan apabila tanah GG tersebut dimohon oleh H.SHJ, Cs. Namun alasan keberatan ini tidak dikemukakan oleh pihak BPN kepada peneliti. Perkembangan lebih lanjut, dengan suratnya pada tanggal 10 April 1999, pihak LKMD dan LMD yang mengajukan keberatan terhadap permohonan kepemilikan tanah oleh H.SHJ, Cs mencabut suratnya pada tanggal 13 Januari 1998.
Akhirnya,setelah melalui proses yang sesuai dengan prosedur, pada tanggal 22 Juni 1999 berdasarkan surat keputusan Kantor Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Pekalongan, H.SHJ, Cs telah resmi menjadi pemilik sah dari tanah GG di Desa lemah Abang dengan Hak Milik No. 159 s/d 168. Setelah terbit sertifikat tanah atas nama H. SHJ, Cs, pada tahun 2006, ketua BPD Lemah Abang pada saat itu membuat surat pengaduan yang ditujukan kepada Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Pekalongan yang isinya berupa permintaan penjelasan mengenai alasan mengapa tanah GG Desa Lemah Abang tersebut telah dimiliki oleh H. SHJ, Cs dan tuntutan agar tanah GG tersebut dikembalikan kepada penggarap. Pengaduan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan memberi penjelasan mengena proses pemberian hak atas tanah di Kantor Pertanahan Kabupaten Pekalongan. Namun, upaya menuntut kembali tanah GG yang telah dimiliki secara sah oleh H.SHj, Cs tetap berlanjut, bahkan sampai pada tingkat komisi A. DPRD Kabupaten Pekalongan yang juga telah meminta keterangan kepada BPN yang selanjutnya dilakukan pertemuan pertemuan dengan masyarakat penggarap, pemegang hak, Kepala Desa, Kepala pemerintahan, kecamatan dan tokoh masyarakat untuk menyelesaikan konflik melalui musyawarah. Keputusan akhir dari musyawarah tersebut adalah “bekas” petani penggarap tetap menuntut agar tanah GG tersebut dikembalikan.
Pihak BPN menyatakan bahwa upaya hukum melalui jalur pengadilan sebaiknya ditempuh oleh kedua belah pihak untuk menuntaskan masalah dan tidak memungkinkan konflik kembali terangkat. Sesungguhnya masalah konflik tanah ini tidak perlu diperpanjang lagi karena sudah ada kejelasan bahwa H.SHJ, Cs, telah melalui proses hukum yang legal untuk mendapatkan kepemilikan tanah GG tersebut. Pada dasarnya, hal yang tidak diketahui oleh masyarakat petani penggarap adalah sejarah lahan tersebut yang sebelumnya telah dikelola oleh petani-petani penggarap sebelum mereka selama 20 tahun.
Menurut hukum land reform, petani-petani penggarap yang lama tersebut telah dapat memiliki tanah GG secara hukum dengan mengajukan permohonan pengalihan hak atas tanah negara kepada pemerintah dan membayar “uang ganti” kepada negara yang selanjutnya uang itu akan menjadi pemasukan negara. Namun, petani-petani penggarap lama tersebut memilih untuk mengalihkan tanah GG kepada H. SHJ, Cs yang berniat untuk membeli tanah tersebut agar mereka mendapat uang ganti atas semua yang telah mereka tanam di tanah tersebut. Kemudian H.SHJ, Cs secara prosedural telah mengajukan permohonan hak milik atas tanah dan telah membayar uang ganti kepada negara dan petani-petani penggarap lama. Hal ini ternyata tidak diketahui oleh petani penggarap baru yang baru menggarap tanah GG tersebut selama beberapa tahun karena petani penggarap yang lama telah meninggal dunia. Kemudian tanpa dasar yang jelas, petani penggarap baru mengaku bahwa tanah tersebut telah menjadi hak mereka untuk digarap. Konflik yang terjadi didasari ketidaktahuan masyarakat mengenai status tanah GG di desanya. Selain itu, diduga adanya provokasi dari FPPP untuk mempermasalahkan tanah GG karena sebelum FPPP hadir, masyarakat dan BPD Lemah Abang tidak mempermasalahkan tanah tersebut. Perwakilan bagian sengketa tanah BPN Pekalongan mengungkapkan pandangannya faktor konflik di di Desa Lemah Abang sebagai berikut :
“Justru petani itu mulai ribut pada waktu FPPP datang, namanya juga LSM, mereka itu cenderung memanas-manasi masyarakat untuk mengangkat kasus yang sudah jelas tidak harus dipermasalahkan”(JKM, 48 tahun, staf BPN)
Jika konflik ini memang dipicu oleh provokasi, bukan suatu ketidakmungkinan bahwa pada suatu saat akan ada pihak lain yang melakukan
provokasi serupa untuk mengangkat kasus ini ke permukaan untuk kepentingan-kepentingan pribadi. Pihak-pihak yang di luar badan hukum yang “berminat” untuk memfasilitasi masyarakat desa dalam menyelesaikan konflik lahan diduga memiliki kepentingan pribadi yang dapat diperoleh dari proses resolusi konflik. Hal ini diungkapkan oleh informan sebagai berikut:
“…namanya aja LSM toh, mereka motifnya apa kalau bukan mencari uang, waktu itu kan gencar sekali LSM mau memfasilitasi petani ke jalur hukum, tapi buktinya apa, sekarang malah mandeg, pasti karena petani ndak bisa mbayar, ya otomatis LSM ninggalin begitu saja” (JKM, 48 tahun, staf BPN).
Tanah di suatu wilayah yang tidak dimiliki secara sah oleh seseorang/ pihak tertentu adalah tanah negara. Namun tanah ini bisa menjadi hak milik orang yang menghendakinya dengan mengajukan permohonan hak milik kepada negara dan membayar uang ganti kepada negara seperti yang telah dilakukan oleh H.SHJ, Cs. Pihak BPN menyatakan bahwa konflik tanah yang terjadi di Desa Lemah Abang dikarenakan oleh ketidakpahaman masyarakat desa mengenai status tanah yang ada di desanya. Secara runtut, kronologi konflik tanah di Desa Lemah Abang menurut pandangan Badan Pertanahan Nasional dapat dipaparkan dalam skema kronologi (Gambar 21).
3 Januari 1998 Pengukuran Tanah GG oleh Petugas Kantor Pertanahan Kabupaten Pekalongan. H.SHJ, Cs telah membeli tahan GG dari petani penggarap lama. Sebelum tahun
1998
13 Januari 1998 Pengajuan surat keberatan dari pihak LKMD dan LMD mengenai permohonan atas tanah GG oleh H. SHJ, Cs.
Gambar 21. Skema Kronologi Konflik Berdasarkan Pandangan Pihak BPN
Kabupaten Pekalongan
Kronologi konflik yang diungkapkan oleh BPN Kabupaten pekalongan menggambarkan bahwa proses terjadi dalam skala waktu yang cukup lama, dimana awal konflik didahului oleh proses yang melibatkan “aktor fiktif” yang saat ini sudah tidak ada. Proses ini mengawali “kebingungan” dan kecurigaan masyarakat Desa lemah Abang yang akhirnya melahirkan konflik kepentingan yang belum belum tuntas hingga saat ini. Isu konflik yang dikemukakan pihak
2006
2006- 2009
Musyawarah yang melibatkan petani penggarap,
Konflik belum selesai, namun upaya menuju proses pengadilan masih tersendat. 18 Mei 1998
22 Juni 1999
7 Februari 2006 1 April 1999
H.SHJ,Cs mengajukan permohonan atas tanah GG.
Pihak LKMD dan LMD mencabut surat keberatan ats permohonan tanah GG oleh H.SHJ, Cs.
Pemberian Hak milik kepada H.SHJ, Cs atas tanah GG berdasarkan keputusan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Pekalongan.
Sertifikat tanah atas nama H.SHJ, Cs terbit dan diketahui oleh Ketua BPD. Ketua BPD kemudian melayangkan surat pengaduan kepada Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten pekalongan.
BPN memperlihatkan kecenderungan yang berbeda dengan penafsiran isu oleh petani penggarap baru.
Menurut pandangan pihak BPN, konflik tanah yang terjadi di Desa Lemah Abang memiliki akar masalah ketidaktahuan masyarakat mengenai status lahan. Masyarakat desa cenderung merasa memiliki lahan tersebut karena kebutuhan mereka atas tanah tersebut. Pihak BPN beranggapan bahwa konflik kepentingan tersebut tidak akan terjadi jika tidak ada pihak luar yang mengangkat isu ke permukaan. Konflik yang melibatkan cukup banyak pihak ini menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap lembaga hukum. Pihak BPN telah memberi penjelasan kepada Badan Perwakilan Desa (BPD) Lemah Abang bahwa status tanah GG di Desa Lemah abang tersebut sebelumnya adalah tanah negara, bukan tanah desa atau tanah adat. Tanah negara dapat dijadikan hak milik jika pihak yang telah memanfaatkan tanah tersebut selama 20 tahun mengajukan permohonan hak milik atas tanah. Namun, masyarakat tidak dengan mudah percaya mengenai status tanah yang ada di Desa Lemah Abang. Masyarakat selalu menganggap bahwa lembaga hukum berlaku tidak adil. Akibat konflik yang muncul ke permukaan yang diduga dipengaruhi oleh aksi provokasi pihak-pihak yang berkepentingan, bukan tidak mungkin pada waktu-waktu tertentu isu kembali diangkat untuk dimanfaatkan oleh pihak-pihak “asing” (Gambar 22).
Ketidakpercayaan masyarakat Kecurigaan yang berlanjut terhadap lembaga hukum
Pemanfaatan isu oleh pihak
lain EFEK
MASALAH INTI
AKAR
Ketidaktahuan masyarakat mengenai status lahan Provokasi
Gambar 22. Pohon Konflik (Isu Konflik) Berdasarkan Pemaparan Pihak BPN Kabupaten Pekalongan.
Perebutan hak atas
6.3.3 Analisis Perbedaan Pemahaman Mengenai Konflik
Dari pemaparan konflik berdasarkan sudut pandang BPN dan masyarakat Desa lemah abang, terdapat perbedaan yang mendasar terhadap pemahaman mengenai konflik yang terjadi. Hal yang paling mendasar yang menjadi perbedaan sudut pandang keduanya adalah mengenai isu konflik.
Dapat disimpulkan bahwa para petani penggarap yang berkonflik dengan pemilik sah tanah GG (H.SHJ,Cs) memiliki kepentingan yang mendasar bagi kehidupan mereka, yaitu untuk memenuhi kebutuhan pokok. Tanah yang telah mereka garap selama beberapa tahun mengandung nilai-nilai pokok bagi masyarakat desa dan keberadaannya sangat bermanfaat jika dikelola sepenuhnya oleh masyarakat Desa Lemah Abang. Masyarakat Desa Lemah Abang beranggapan bahwa konflik terjadi akibat kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh aparat desa pada saat itu dan pihak “asing” untuk menguasai tanah GG di Desa Lemah Abang. Sedangkan BPN yang merupakan lembaga hukum yang berwenang untuk menyelesaikan segala bentuk sengketa tanah memiliki argumen yang kuat bahwa dalam kasus ini yang bersalah adalah para petani penggarap yang telah “dibujuk” oleh pihak FPPP untuk mempermasalahkan peralihan hak tanah tersebut. Perbedaan sudut pandang ini dikarenakan posisi dan kepentingan yang berbeda di antara kedua belah pihak. Di satu sisi, petani penggarap tidak ingin kehilangan “properti” yang berharga bagi mereka dan seluruh masyarakat Desa Lemah Abang. Pada sisi lain, BPN sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam menangani “ketidakseimbangan” dalam masyarakat akibat masalah agraria telah melakukan “kajian” yang dianggap sahih bahwa tidak ada kecurangan dan keilegalan dalam pemberian hak atas tanah GG terhadap H.SHJ, Cs yang dianggap masyarakat abang sebagai “pemicu konflik”. Masyarakat dianggap tidak mengerti mengenai status hukum tanah yang tengah menjadi sengketa.
Perbedaan pemahaman mengenai konflik juga terlihat pada penilaian dan tanggapan kedua pihak (dalam hal ini BPN dan petani penggarap) terhadap “aktor-aktor” lain yang terlibat dalam konflik. Masyarakat desa dengan mudah menaruh curiga kepada pihak-pihak yang ingin “campur tangan” pada masalah konflik tanah GG. Hal ini dikarenakan ketakutan dan kekhawatiran mereka bahwa
pihak-pihak yang “campur tangan” tersebut adalah oknum-oknum dari pihak H.SHJ, Cs yang berupaya untuk mempermudah perkara dengan cara melakukan pendekatan kepada masyarakat. Hal ini dinyatakan oleh salah satu informan sebagai berikut :
“waktu itu orang tua saya diampiri sama orang dari LKMD, disuruh menandatangani surat, orang tua saya yang merupakan tokoh masyarakat di desa ini jelas curiga, mesti ada kaitannya dengan tanah GG, ya orang tua saya ndak mau, karena curiga sama orang-orang itu, siapa tau kaki tangannya H.SHJ” (WRS,45 tahun, aparat desa).
Masyarakat beranggapan bahwa LKMD berada di pihak H.SHJ karena berupaya melakukan pendekatan ke masyarakat, dan pada suatu kesempatan mereka meminta tanda-tangan dari beberapa tokoh masyarakat di atas selembar surat yang tidak diketahui isinya. Namun ternyata, jika ditinjau dari kronologi konflik menurut pemahaman BPN, pada tanggal 13 Januari 1998 LKMD menyatakan keberatan kepada Bupati Pekalongan atas permohonan yang hak tanah GG yang diajukan oleh H.SHJ, Cs. Perbedaan penilaian dari kedua belah pihak ini dikarenakan perbedaan situasi yang dirasakan antara pihak BPN dengan masyarakat desa. Masyarakat desa dalam kasus ini berada pada situasi yang dirugikan, sehingga kecurigaan selalu ada dalam menilai keterlibatan pihak lain.
Pengungkapan kronologi konflik yang berbeda juga diperlihatkan dengan jelas dari sudut pandang kedua belah pihak. BPN telah mengidentifikasi konflik laten yang terjadi sejak tahun 1998, yaitu sejak H.SHJ, Cs mengajukan permohonan kepemilikan tanah GG di Desa Lemah Abang. Sedangkan masyarakat hanya “mengakui” bahwa konflik berawal dari klaim yang dilakukan H.SHJ terhadap tanah GG pada tahun 2005. Pemaparan kronologi konflik yang diungkapkan kedua belah pihak ini menggambarkan rentang waktu konflik yang berbeda serta gambaran aksi yang berbeda pula.
Konflik tanah yang terjadi antara sejumlah petani penggarap di Desa Lemah Abang dengan H.SHJ, Cs dapat dianalisis dengan “teori kebutuhan manusia” menurut Fisher, et.al., (2000) yang menilai bahwa konflik disebabkan oleh kebutuhan dasar manusia yang tidak terpenuhi atau terhalangi. Kebutuhan yang terhalangi adalah tanah. Para petani penggarap di Desa Lemah Abang merasa terhalangi dalam melakukan akses dan kontrol terhadap kebutuhannya,
yaitu tanah yang telah diklaim oleh pihak lain secara tidak sah. Di satu sisi, pihak H.SHJ, Cs telah membayar ganti rugi kepada petani penggarap lama dan melakukan proses yang sah. Kebutuhan akan sasaran yang sama menjadi “tumbukan” kepentingan di antara dua aktor yang berkonflik.