BAB II TINJAUAN PUSTAKA
C. Pemahaman Konselor Tentang Layanan Konsultasi
Konseling sebagai suatu profesi memiliki kompetensi utama minimal profesi konseling, diantaranya Kompetensi Pengembangan Kepribadian (KPK), Kompetensi Landasan Keilmuan dan Keterampilan (KKK), Kompetensi Keahlian Berkarya (KKB), Kompetensi Perilaku Berkarya (KPB), dan Kompetensi Berkehidupan Bermasyarakat Profesi (KBB).
Memahami dan mempraktikkan jenis-jenis layanan konseling termasuk
dalam KKB.
Menurut Miller (Awalya, 1995: 10) mengemukakan bahwa fungsi utama konselor adalah mengimplementasikan berbagai layanan program bimbingan. Seperti yang telah dijelaskan bahwa salah satu layanan dalam konseling adalah layanan konsultasi. Jadi mengimplementasikan layanan konsultasi merupakan tugas bagi konselor sekolah. Untuk mencapai ketercapaian pelaksanaan layanan konsultasi, sebelumnya konselor perlu terlebih dahulu memahami makna tentang layanan konsultasi. Hal tersebut sejalan dengan kompetensi yang harus dimiliki konselor yaitu Kompetensi Keahlian Berkarya (KKB).
Pemahaman dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengerti, mengingat, memperoleh makna dari pengetahuan atau informasi yang diperoleh kemudian dapat menjelaskan apa yang dipahami dengan baik. Pemahaman konselor dapat diperoleh dengan pengetahuan dan keterampilan. Berkaitan dengan layanan konsultasi, maka arah pengetahuan tentang layanan konsultasi yaitu tentang operasionalisasi layanan konsultasi. Operasionalisasi layanan konsultasi meliputi adanya perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, analisis hasil evaluasi, dan tindak lanjut.
Konselor mengetahui bahwa layanan konsultasi dapat dilakukan minimal menyangkut tiga kondisi, yaitu hadapi satu pilihan atau beberapa pilihan dari tiga wilayah kehidupan, berkeinginan kuat terjadinya perubahan atau beberapa perubahan pribadi dalam satu atau lebih dari ketiga wilayah kehidupan, menjadi sangat bingung tentang bagaimana seharusnya mengorganisir memberi arti kehidupan dari satu atau lebih dari ketiga wilayah kehidupan.
Pemahaman konselor tentang layanan konsultasi diartikan bahwa, setelah konselor mendapatkan informasi tentang layanan konsultasi sebagai fase I, kemudian konselor mampu untuk mengingat informasi yang didapatkan (fase II), dan pada akhirnya diperoleh fase III yaitu telah memahami tentang langkah- langkah pelaksanaan layanan konsultasi
35
yang tertib dan lengkap dan mampu untuk menjelaskan kembali apa yang telah dipahami.
Sebelum melakukan layanan konsultasi, akan lebih baik jika konselor terlebih dahulu telah memahami tentang operasionalisasi layanan konsultasi. Peranan pemahaman sangat penting bagi konselor dalam pelaksanaan layanan konsultasi. Adanya pemahaman konselor tentang layanan konsultasi, maka konselor dapat melaksanakan layanan konsultasi dengan baik dan kemungkinan hanya terjadi sedikit kesalahan dalam pelaksanaannya.
D. Ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan konseling
ﺍﺫِﺇ َﻭ ْﻡُﻛَﻟ ُ ﱠT ِﺢَﺳْﻔَﻳ ﺍﻭُﺣَﺳْﻓﺎَﻓ ِﺱِﻟﺎﺟَﻣْﻟﺍ ﻲِﻓ ﺍﻭُﺣﱠﺳَﻔَﺗ ْﻡُﻛَﻟ َﻝﻳﻗ ﺍﺫِﺇ ﺍﻭُﻧَﻣﺁ َﻥﻳﺫﱠﻟﺍ ﺎَﻬﱡﻳَﺃ ﺎﻳ َﻭ ْﻡُﻛْﻧِﻣ ﺍﻭُﻧَﻣﺁ َﻥﻳﺫﱠﻟﺍ ُ ﱠT ِﻊَﻓ ْﺭَﻳﺍﻭُﺯُﺷْﻧﺎَﻓ ﺍﻭُﺯُﺷْﻧﺍ َﻝﻳﻗ ُ ﱠT َﻭ ٍﺕﺎﺟ َﺭَﺩ َﻡْﻠِﻌْﻟﺍ ﺍﻭُﺗﻭُﺃ َﻥﻳﺫﱠﻟﺍ
ٌﺭﻳﺑَﺧ َﻥﻭُﻠَﻣْﻌَﺗ ﺎﻣِﺑ
Terjemahannya:
Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu berlapang-lapanglah pada majlis-majlis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan melapangkan bagi kamu. Dan jika dikatakan kepada kamu ; Berdirilah ! ", maka berdirilah Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang~rang yang diberi ilmu beberapa derajat ; Dan Allah dengan apapun yang kamu kerjakan adalah Maha
Serulah (manusia) kepada jalanTuhan-mu Dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nyadan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.(Departemen Agama RI 2009:)
BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Sesuai judul penelitian ini yaitu Studi Deskriptif Pemahaman Konselor Tentang Layanan Konsultasi Bimbingan dan Konseling SMK Muhammadiyah 2 Bontoala Makassar, maka penelitian diatas termasuk dalam jenis penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif bertujuan menggambarkan secara sistematik dan akurat fakta serta karakteristik mengenai populasi ataupun mengenai bidang tertentu (Azwar, 2004: 7). Hasil penelitian ini disajikan secara deskriptif untuk memberikan gambaran tentang hasil penelitian yang diperoleh. Jenis penelitian deskriptif pada penelitian diatas berdasarkan atas pertimbangan tujuan penelitian, yaitu ingin mendapatkan informasi yang akurat tentang sejauh mana pemahaman konselor tentang layanan konsultasi Bimbingan dan Konseling pada SMK Muhammadiyah 2 Bontoala Makassar.
B.Lokasi dan Objek Penelitian
Lokasi penelitian ini bertempat di SMK Muhammadiyah 2 Bontoala Makassar dengan pertimbangan bahwalokasinya dekat dengan tempat domisil ipeneliti dan tempat dimana peneliti mengajar.
Adapun yang menjad objek dalam penelitian ini adalah guru BP/BK dan siswa di SMK Muhammadiyah 2 Bontoala Makassar
37
C. Variabel Penelitian
Variabel adalah salah satu komponen penting didalam suatu penelitian, karena memahami dan menganalisis setiap variabel membutuhkan kelincahan berpikir bagi peneliti. Menurut Arikunto (2006: 118) variabel merupakan objek penelitian, ataupun apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. Variabel dalam penelitian ini yaitu pemahaman konselor tentang layanan konsultasi.
Variabel tersebut adalah variabel tunggal, sehingga tidak ada hubungan antar variabel, baik variabel yang mempengaruhi (independent) dan variabel yang dipengaruhi (dependen).
D.Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional dalam penelitian ini sebagai berikut: (1) Pemahaman Konselor adalah kemampuan seseorang untuk mengerti, mendapatkan makna dari pengetahuan atau informasi yang diperoleh setelah mengetahui sesuatu. (2) Layanan Konsultasi Bimbingan dan Konseling adalah layanan konseling yang dilakukan oleh para konselor sebagai konsultan kepada konsulti dalam rangka membantu terselesaikannya masalah yang dialami pihak ketiga (konseli yang bermasalah). (3) Pemahaman Konselor tentang Layanan Konsultasi BK yaitu kemampuan konselor untuk memahami tentang langkah-langkah pelaksanaan layanan konsultasi yang tertib dan lengkap. Pemahaman tentang tahap-tahap pelaksanaan layanan konsultasi BK dimaksudkan diantaranya: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) evaluasi, (4) analisis hasil evaluasi, dan (5) tindak lanjut.
E. Populasi dan Sampel
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2005: 55).
Sedangkan menurut Arikunto (2006: 130) populasi merupakan keseluruhan subjek penelitian. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh konselor di SMK Muhammadiyah 2 Bontoala Makassar sebanyak 4 konselor. Adapun ciri-ciri populasi yang dipergunakan dalam penelitian diatas antara lain adalah: (1) Masih aktif sebagai konselor sekolah pada SMK Muhammadiyah 2 Bontoala Makassar (2) Berlatar belakang pada pendidikan minimal sarjana Strata 1 (S1) dari jurusan Bimbingan dan juga Konseling(3) Telah berpengalaman sebagai konselor sekolah selama minimal lima tahun masa kerja.
Sampel adalah sebagian ataupun wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2006:131). Dilihat dari jumlah unit populasi (total sampling) terbatas jumlahnya, sehingga tidak dilakukan pengambilan sampel. Sampel pada penelitian ini adalah keseluruhan subyek populasi yang berjumlah 4 konselor. Hal ini sesuai dengan pertimbangan penentuan sampel seperti yang dikemukakan Arikunto (2006:134) yaitu apabila subyeknya kurang dari 100 maka lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi.
39
Sebelum mengadakan penelitian, penulis melakukan uji coba instrumen kepada konselor dari SMK Muhammadiyah 2 Bontoala Makassar. Digunakan konselor SMK Muhammadiyah 2 Bontoala Makassar untuk uji coba instrumen dengan pertimbangan: konselor SMK Swasta terbatas jumlahnya, konselor pada SMK swasta telah mengetahui adanya layanan konsultasi pada BK, termasuk dalam satu wilayah sehingga informasi yang didapat berkaitan dengan layanan BK dipandang sama. Berikut ini akan disajikan tabel daftar jumlah konselor di SMK Muhammadiyah 2 Bontoala Makassar.
F. Instrumen Penelitian
Instrumen didalam penelitian ini adalah wawancara yang berupa seperangkat pertanyaan yang digunakan untuk memperoleh data atau informasi mengenai pemahaman konselor tentang layanan konsultasi. Kemudian hasil wawancara di analisis dan diberikan kesimpulan tentang pendapat dari para konselor atau yang menjadi sampel dalam penelitian ini.
G.Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang dipergunakan pada penelitian ini adalah wawancara. Wawancara yang dilakukan kepada konselor atau sampel penelitian adalah dengan memberikan sejumlah pertanyaan yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden didalam arti laporan tentang
pribadinya, atau hal-hal yang peneliti ketahui (Arikunto, 2006: 151). Instrumen untuk metode wawancara adalah.
Bentuk pertanyaan yang digunakan pada penelitian ini yaitu jenis pertanyaan yang lebih terbuka dan langsung mengarah kepada apa yang dibutuhkan peneliti (Arikunto, 2006: 128). wawancara pada penelitian ini digunakan untuk memperoleh data pemahaman oleh konselor tentang layanan konsultasi Bimbingan dan Konseling.
Dengan melakukan wawancara maka peneliti dan responden akan bertatap muka secara langsung, maka ini akan memberikan peluang secara langsung kepada peneliti untuk mengenal sampelnya ( responden ). Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan wawancara maka peneliti memberikan penjelasan sebelum masuk ke inti pertanyaan sehingga responden faham inti dari pertanyaannya dan mampu menjawabnya.
H. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data ialah cara yang harus ditempuh untuk menguraikan data menurut unsur-unsur yang ada di dalamnya sehingga mudah dibaca dan diintepretasikan. Data yang terkumpul perlu diolah untuk diketahui kebenarannya sehingga diperoleh hasil yang meyakinkan. Dalam penelitian ini, peneliti akan mengemukakan hasil wawancara penelitian berupa data kualitatif yang akan dianalisis dengan metode analisis deskiptif, kemudian memberikan
41
kesimpulan dari hasil wawancara tersebut. Teknik pada analisis data deskriptif dimaksudkan untuk mengetahui status variabel, yaitu mendiskripsikan pemahaman konselor tentang layanan konsultasi pada BK.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini akan diuraikan mengenai hasil penelitian dan pembahasan pemahaman konselor tentang layanan konsultasi BK di SMK Muhammadiyah 02 Bontoala Makassar Tahun Pelajaran 2014-2015.
A. Kondisi Lokasi Penelitian
1. Riwayat Singkat Lokasi Penelitian
Nama sekolah : SMK Muhammadiyah 2 Bontoala
Alamat : Jl. Andalas No 126 H / 7C (samping kiri mesjid Raya Makassar)
Kecamatan : Bontoala
Kota : Makassar
ISO : 9001 : 2008
Jenjang Akreditasi : A
Awalnya kebijakan pemerintah menutup SPG, sehingga SPG Muhammadiyah Bontoala termasuk yang harus ditutup sehingga manajemen sekolah yang di pimpin Bapak H. Usman Latief ( almarhum) bersama Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bontoala memutuskan mengalihfungsikan SPG menjadi sekolah SMPS. Namun dalam perjalannya setelah satu tahun pertama ternyata bahwa animo masyarakat sangat rendah untuk memasukkan anaknya di SMPS.sehingga para pimpinan sekali lagi mengambil kebijakan setelah di adakan beberapa kali rapat untuk membuka sekolah Teknlologi atau
43
(STM) maka didirikanlah STM Muhammadiyah Bontoala melalui SK PCM Bontoala Bagian Pendidikan nomor :III/A/10/I/19/1992 tangal 1 Agustus 1992 dan izin operasional dari Kandep Pendidikan Makassar nomor :2644/I06.22/A/93 tanggal.28 Juli 1993 Isin Kanwil Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Selatan Nomor : 228/KEP/I06/H/1993 Tanggal : 2 Oktober 1993 dengan Program Studi yang dibuka adalah : 1. Rumpun Otomotif Program Studi Mekanik Otomotif
2. Rumpun Elektronika Program Studi Elektronika Komunikasi.
Dengan kepala Sekolah Bapak. H. Usman Latief sampai bulan Maret tahun 1996. Tenaga pendidikan awalnya untuk pelajaran umum menggunakan guru-guru SPG, sementara untuk pelajaran kejuruan menggunakan guru STM Pembangunan ditambah guru SPG 1 orang, Bpk Drs. Bacruddin pindahan dari SMA Muhammadiyah Mariso dan Bpk. Drs.
Natsir selaku guru honor kejuruan pertama.Tahun ajaran 1995/1996 STM Muhammadiyah Bontoala berubah menjadi SMK Muhammadiyah 2 Bontoaladan Kepala Sekolah Bapak Drs.Natsir.Dalam perkembangannya SMK Muhammadiya 2 Bontoala mengalami kemajuan yang lauar biasa baik kuantitas maupun kualitas, dimana awal berdirinya menerima siswa baru 27 orang, pada tahun ajaran 2010 menerima siswa baru 332 orang.Kemudian sejalan dengan tuntutan perkembangan pada tahun 2006/2007 menambah program keahlian Teknik Informasi dan Komunikasi Bidang Keahlian Multi Media, dan tahun 2009/2010 dengan perubahan
kurikulum ke sfektrum Program keahlian Otomotif berubah menjadi Teknik Otomotif kendaraan Ringan dan Teknik Otomotif Sepeda Motor.
Adapun visi misi SMK Muhammadiyah 2 Bontoala ialah sebagai berikut:
a. Visi : "Menjadi sekolah yang berkualitas, unggul dalam bidang IMTAQ, IPTEK, mandiri, mampu berkompetisi secara Nasional dan Internasional."
b. Misi
1) Meningkatkan kualitas PBM berbasis kompetensi standar Nasional dan Internasional
2) Mengembangkan pelatihan SDM
3) Mengembangkan manajemen Diklat berstandar Nasional dan Internasional.
4) Mengembangkan program Diklat berkualifikasi Nasional
5) Meningkatkan kualitas tamatan berkompeten dibidang otomotif, elektro, dan komputer
6) Mengembangkan kesadaran berwiraswasta bagi tamatan
7) Meningkatkan pemahaman dan pengalaman Al-Islam sesuai tuntunan Alquran dan Assunnah.
2. Keadaan Guru
Guru merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran, dalam usaha mengantarkan siswa kepada kedewasaan baik dalam berfikir maupun dalam bertingkah
45
laku. Oleh karena itu, guru dituntut keahliannya dalam mengajar dan mendidik siswanya, agar ilmu dan bidang studi yang diajarkan mudah diserap dan ditransfer anak didik.Dengan demikian, nampak jelas bahwa menjadi guru bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilaksanakan, sebab keberhasilan suatu sekolah khususnya di SMK Muhammadiyah 2 Bontoala tergantung pada aktivitas dan kreativitas seorang guru dalam memberikan bimbingan dan pembelajaran terhadap siswa.
Kemudian klasifikasi tenaga pengajaran dan staf pegawai di SMK Muhammadiyah 2 Bontoala sebanyak 75 orang termasuk pimpinan sekolah. Untuk mengetahui lebih jelas keadaan jumlah guru, jabatandan bidang study yang diajarkan dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1
Keadaan Guru SMK Muhammadiyah 2 Bontoala
No Nama Guru Dan Pegawai Jabatan
1. Drs.H.Natsir,M.Si
Nip: 19631110 20012 1 002
Kepala Sekolah
2. Drs.Muri Khalid,M.Pd.I Wakasek Humas/Urs. industri
3. Ka’bai S.Pd Wakasek UrusanSarana
4. Abd.Munir,M.Ag Wakasek WMM
5. Agus Purwanto,S.Pd
Nip: 19690822 200701 1 002
Wakasek Kurikulum
6. Ir.H.A.Rosihan Wakasek Urusan SDM
7. Muhammad Said,A.Mk Kaur.Keuangan 8. Ahmad Amiruddin,S.Pd Wakasek Kesiswaan 9. Drs. Nurdin Onci Kapro Kendaraan Ringan 10. Ilham Osman, S.Pd, M.Kes Kajur Audio Vidio
11. M. Nadzirin, S.Kom, M.T Kajur Multimedia
12. Drs.Abdul Rahman Wali Kelas XII R2 Mitra
13. Abd. Rasyid, Amd Kapro Sepeda Motor/Wali Kelas XI-R2-Reguler
14. Drs. H. Masrabu Guru Bidang Study
15. Syamsuddin S.Ag Guru Bidang Study/Wali Kelas XI TKJ Mitra
16. Ir.A.Rosnaeti Administrasi Audio Vidio/ WaLi Kelas XII EK
17. Drs. Rustan Saebe Guru Bidang Study 18. Dra. Hj. St. Saenab
Nip: 19631110 200012 1 002
Guru Bidang Study/ Wali Kelas XII TKM-A
19 Masri, S.Pd Guru Bidang Study/Wali Kelas XI, TKM-B
20 Nur Kahar, S.Pd Guru Bidang Study/Wali Kelas XI Audio Vidio
21 Niswah,S.Pd Guru Bidang Study/Wali Kelas XI R4-MA
22 Drs. Sukri Guru Bidang Study
47
23 Drs. Muhammad Ali Guru Bidang Study/Pemb. Tapak Suci/Wali Kelas X TKM-A
24 Drs. Firdaus Yusuf Guru Bidang Study/Wali Kls.XII R4 Mitra
25 Ramlawati. L, S.Kom Guru Bidang Study/Wali Kls XII TKM B
26 Andi Marliah, M.Pd Guru Bidang Study
27 Siti Nurjannah, S.Pd Guru Bidang Study/KTU/Wali Kls X TSM R
28 Abd. Malik, S.Pd Guru Bidang Study/Wali Kls. XII R2 R
29 Sappewali, S.Pd Guru Bidang Study 30 Drs. A. Wahab Guru Bidang Study
31 Muh. Arif Muhsin, M.Pd Guru Bidang Study/Wali Kelas XI TSM Mitra
32 Mustiah Eni, SS Guru Bidang Study/Wali Kelas X EK
33 Try Sutrisno, S.Pd. M.Pd Guru Bidang Study 34 Rahmat Wijaya, S.Pd Guru bidang Study 35 Dra. Mukrimah, M.Kes Guru Bidang Study
36 Kurnianingsih, S.Pd Guru Bidang Study/Wali Kelas X TKR-B/ BP
37 Nuriyah,S.Pd Guru Bidang Study/Wali Kelas XII
TKM-R
38 Nilawati Safar,S.Pd Guru Bidang Study/Wali Kelas XTKM-B
39 Abdullah Jafar,Spd Guru Bidang Study/Wali Kelas XI-TKM-A
40 Rosmawati,S.Pd Guru Bidang Study
41 Hj. Nuraidar Guru Bidang Study
42 Drs. Abdullah, M.Pd Guru Bidang Study/Wali Kelas XI AP/AK
43 Ahmadi, S.Pd Guru Bidang Study/Wali Kelas X TKR-A
44 A. Rostiati, SH Guru Bidang Study 45 Arini Rusli, S.Pd Guru Bidang Study 46 Hasanuddin Djali, M.Pd.I Guru Bidang Study
47 Suharto Guru Bidang Study/Wali Kelas X TSM-A
48 Suherman, S.Kom, M.I.Kom Guru Bidang Study 49 Bau Ilalang ,S.Pd Guru Bidang Study 50 Radiatul
Adawiyah,S.Pd,M.Pd
Guru Bidang Study/Wali Kelas X AP
51 Dra.Hj. Jumriah Babo Guru Bidang Study
52 Syamsul Asri, A.Md Guru Bidang Study/Wali Kelas XI
49
TKR-MB
53 Dra. Hj. Iksani Guru Bidang Study
54 St. Salwiah, S.Pd Kapro Administrasi Perkantoran 55 Mustamin, A.Mk Guru Bidang Study/Wali Kelas X 56 Budiarman, S.Kom Kajur TKJ
57 Winda Ayu Oktavia, S.Pd Guru Bidang Study/ Wali Kelas X PB/ BP
58 Surahmat Rahmawan, S.Ag Guru Bidang Study/ BP 59 Dra. Hj. Rajening Guru BP
60 M. Sadiq S.Kom Guru Bidang Study-Produktif 61 Ahmad Sulaikin,S.Pd Guru Bidang Study-Produktif 62 Dedi Setiawan, S.pd Guru Bidang Study-Produktif
63 Rus'an, S.Pd Staf
64 Haji Wadang Staf Rumah Tangga
65 Suriani Staf Administrasi Pendidikan
Persuratan
66 Desi Anggarani Staf Adm.TKR/Dapodik 67 Saparuddin Pengelola Lab. Multimedia
68 Wahyudi Pengelola Lab. Kendaraan Ringan
69 Reski Ameliah Staf Kesiswaan
70 Sahar Chaca Pengelola Lab. KKPI
71 Nur Rahmi Perpustakaan, Sarana dan
Prasarana
72 Fikri Gazali S.Pd.I Guru Piket/ Pengawas Guru dan Siswa
73 Muh.Kasim Laboran
73 H. Idrus Keamanan
74 M.Firman Keamanan
75 Hamsir Cleaning Service
Sumber data: Kantor Tata Usaha SMK Muhammadiyah 2 Bontoala
3. Keadaan Siswa
Adapun keadan siswa SMK Muhammadiyah 2 Bontoala, pada tahun pelajaran 2015/2016 menampung 1056 siswa dengan perencian kelas X sebanyak 411 siswa, kelas XI sebanyak 337 siswa, kelas XII sebanyak 308 siswa.
Untuk lebih jelasnya, keadaan siswa SMK Muhammadiyah 2 Bontoaladapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 2
Keadaan Siswa SMK Muhammadiyah 2 Bontoala
No Program Keahlian
Keadaan Siswa
Kelas X Kelas XI Kelas XII
L P L P L P
1 Teknik Kendaraan Ringan 89 0 75 0 75 0
2 Teknik Sepeda Motor 88 0 84 0 64 0
51
Sumber Data : Kantor Tata Usaha SMK Muhammadiyah 2 Bontoala
4. Keadaan Fasilitas Sekolah
SMK Muhammadiyah 2 Bontoala memiliki fasilitas yang dapat dikategorikan sangat memadai yang dapat mendukung keberlangsungan proses pembelajaran yang produktif. Adapun beberapa fasilitas yang terdapat di SMK Muhammadiyah 2 Bontoala Makassar, yakni :
Tabel 3
Keadaan Fasilitas Sekolah SMK Muhammadiyah 2 Bontoala
No Fasilitas Jumlah
1 Ruang Kepala Sekolah /Ruang Wakil Kepala Sekolah
1
2 Ruang Guru 1
3 Ruang Pelayanan Administrasi 1
3 Teknik Elektronika Audio Video
35 3 24 0 30 3
4 Tehnik Komputer
Kemitraan
-- -- 49 21 65 24
4 Teknik Komputer Jaringan 76 39 36 8 11 6 5 Administrasi Perkantoran 2 28 3 28 2 21
6 Akuntansi 3 25 0 9 1 6
7 Perbankan 7 16
Jumlah 300 111 271 66 248 60
Jumlah Siswa 1056
4 Ruang perpustakaan 1
5 Ruang Belajar/Kelas 33
6 Ruang Unit Produksi 1
7 Ruang Ibadah/Mushollah 1
8 Ruang Kantin Sekolah 1
9 Toilet/WC 8
10 Ruang Gudang 1
11 Ruang BP/BK 1
12 Ruang Osis 1
13 Ruang Penjaga Sekolah 1
14 Lapangan Upacara 1
15 Ruang Praktek Komputer 1
16 Ruang Lab Multimedia 1
17 Ruang Praktek Gambar Teknik 1
18 Ruang Praktek Teknik Kendaraan Ringan
1
19 Ruang Praktek Teknik Sepeda Motor 1
20 Ruang Praktek Teknik Audio-Video 1
Sumber Data : Kantor Tata Usaha SMK Muhammadiyah 2 Bontoala
B. Hasil Penelitian
1. Persiapan penelitian
Penelitian dapat dilaksanakan dengan terlebih dahulu mempersiapkan surat izin pelaksanaan penelitian dari Fakultas Agama Islam Universitas
53
Muhammadiyah Makassar. Surat izin kemudian dilanjutkan kepada kepala SMK Muhammadiyah 2 Bontoala baik untuk pelaksanaan observasi ataupun pelaksanaan penelitian. Alat ukur yang digunakan untuk memperoleh data tentang pemahaman konselor tentang layanan konsultasi BK pada SMK Muhammadiyah 2 Bontoala Makassar adalah dengan alat ukur berupa wawancara.
Sebelum melakukan wawancara maka terlebihdahulu melakukan.
Observasi dilaksananakan pada tanggal 6 – 13 Januari 2015 dengan responden berjumlah 4 konselor di SMK Muhammadiyah 2 Bontoala Makassar.
2. Pelaksanaan Penelitian
Penelitian dapat dilaksanakan setelah dilakukan observasi.
Penelitian dilakukan pada SMK Muhammadiyah 2 Bontoala Makassar pada tanggal 17 – 31 Januari 2015. Responden penelitian adalah jumlah konselor di SMK Muhammadiyah 2 Bontoala Makassar Tahun Pelajaran 2014-2015 sebanyak 4 konselor.
Instrumen yang digunakan pada penelitian adalah wawancara, pemahaman konselor tentang layanan konsultasi BK, dengan jumlah 3 butir pertanyaan.
3. Hasil Analisis Deskriptif Penelitian
Penelitian deskriptif ini bertujuan untuk memberikan gambaran sejauh mana pemahaman konselor tentang layanan konsultasi BK di SMK Muhammadiyah 02 Bontoala Makassar. Mengenai masalah Pemahaman Konselor tentang layanan bimbingan konselin di SMK Muhammadiyah 2 Bontoala Makassar dapat dilihat dari pendapat salah seorang konselor yaitu ibu Dra Rajening sebagai guru BK kelas II yang diwawancarai pada hari Sabtu 17 Januari 2015 mengatakan bahwa:
Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor adalah guru yag mempunyai tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh dalam kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah siswa. Layanan bimbingan dan konseling adalah kegiatan Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor dalam menyusun rencana pelayanan bimbingan dan konseling, melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling, serta mengevaluasi proses dan hasil pelayanan bimbingan dan konseling dan hanya itulah yang saya fahami tentang layanan bimbingan konselin.
Tidak jauh berbeda dengan pendapat Ibu Mustiah Eni S.Pd selaku guru BK kelas III
Guru BK membantu Siswa untuk dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya, baik masalah yang dihadapi sekarang maupun masalah yang mungkin timbul pada masa yang akan datang. Dalam hal ini, bimbingan dan konseling dapat memainkan peranan yang amat penting.
Dari p e n d a p a t d i a t a s p e n e l i t i d a p a t m e n y i m p u l k a n b a h w a pemahaman konselor tentang layanan konsultasi BK pada SMK Muhammadiyah 2 Bontoala Makassar termasuk dalam kriteria yang sangat memprihatinkan. Hal ini memberikan makna bahwa konselor belum memahami tentang langkah-langkah yang harus dilakukan dalam layanan konsultasi BK. Pemahaman konselor tentang langkah – langkah layanan konsultasi meliputi pemahaman konselor tentang perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, analisis hasil evaluasi, dan tindak lanjut layanan konsultasi. Jadi yang kurang dari pendapat konselor tersebut adalah melakukan perbaikan tindak lanjut memanfaatkan hasil evaluasi. Hal ini berarti bahwa konselor belum mengetahui langkah awal kegiatan layanan konsultasi BK.
Konselor belum memahami dalam hal mengidentifikasi konsulti, yang artinya konselor kurang paham dengan pihak yang disebut sebagai konsulti dan tindakan yang akan dilakukan setelah mengenal konsulti.
Konselor masih memerlukan suatu penjelasan bahwa pada layanan konsultasi pengertian konsulti bukan hanya orang tua, konsulti adalah
55
orang yang ikut bertanggung jawab terhadap masalah yang dialami konseli. Di sekolah, sebagai konsulti misalnya sesama konselor, guru bidang studi atau wali kelas, pejabat struktural, orang tua atau saudara administrator. Konselor juga belum sepenuhnya mengerti cara mengenal konsulti dapat dilakukan dengan rapport dan wawancara.
Konselor belum memahami tentang menetapkan fasilitas layanan konsultasi yaitu sarana yang dapat menunjang ketercapaian layanan konsultasi. Fasilitas yang ditetapkan tersebut misalnya tempat konsultasi yang menimbulkan perasaan nyaman, kerapian tempat konsultasi, penataan kursi di ruang konsultasi, buku agenda konselor yang berisi janji pertemuan dengan konsulti, alat perekam yang tidak diketahui oleh konsulti (jika diperlukan). Pemahaman Konselor Tentang Pelaksanaan Layanan Konsultasi BK, Evaluasi Layanan Konsultasi dan Evaluasi Layanan Konsultasi BK.
Konselor belum memahami dengan jelas tentang tahap
Konselor belum memahami dengan jelas tentang tahap