ANALISIS STRUKTUR MELODI SINUNÖ
5.6 Pemakaian Nada/Jumlah Nada (Frequency of Notes)
Jumlah nada dapat dilihat dari banyaknya pemakaian nada yang dipakai dalam sebuah komposisi. Penulis menyusun jumlah nada yang dipakai dalam lagu sesuai dengan tangga nada yang telah dibuat sebelumnya. Dapat dilihat dari gambar garis paranada berikut
6 12 14 8
Maka, dapat dilihat nada B adalah nada yang paling banyak muncul sedangkan nada G merupakan nada yang paling sedikit muncul dalam lagu tersebut.
105 5.7 Pola Kadensa (Cadence pattern)
5.8 Kontor (contour)
Kontur dapat diartikan alur melodi yang biasanya ditandai dengan menarik garis. Menurut Malm, ada beberapa jenis kontur (Malm dalam Jonson 2000: 76). Jenis-jenis tersebut antara lain:
1. Ascending, yaitu garis melodi yang sifatnnya naik dari nada rendah ke nada yang lebih tinggi, seperti gambar :
2. Descending, yaitu garis melodi yang sifatnya turun dari nada yang tinggi ke nada yang rendah, seperti gambar :
3. Pendulous, yaitu garis melodi yang sifatnya melengkung dari nada yang rendah ke nada yang tinggi, kemudian kembali ke nada yang rendah. Begitu juga sebaliknya, seperti gambar :
4. Teracced, yaitu garis melodi yang sifatnya berjenjang seperti anak tangga dari nada yang rendah ke nada yang lebih tinggi kemudian sejajar, seperti gambar :
106
5. Statis, yaitu garis melodi yang sifatnya tetap atau apabila gerakan-gerakan intervalnya terbatas, seperti gambar:
Dari jenis-jenis kontur yang tertera di atas, penulis menyimpulkan bahwa jenis kontur dalam lagu Sinunö pengiring tari Ya’ahowu ini mempunyai kontur
pendulous. Untuk lebih jelasnya, penulis akan menggambarkan bentuk kontur sesuai nada pada garis paranada.
107
BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Penelitian yang penulis lakukan terhadap analisis sinunö pada pertunjukan fanari ya’ahowu dalam kebudayaan nias di kota gunungsitoli ini menghasilkan beberapa kesimpulan mengenai struktur sinunö (nyanyian) pengiring tari ya’ahowu.
Setelah menganalisi struktur teks dari sinuno, secara umum struktur teks/lirik dari nyanyian atau Sinunö pengiring tari ya’ahowu merupakan teks yang baku. Artinya teks yang diungkapkan oleh penyaji tidak lagi berubah-rubah sesuai isi hati si penyaji. Di dalam keseluruhan teks Sinuno pengiring tari ya’ahowu berisi pesan-pesan yang jelas yang disampaikan kepada setiap tamu yang datang pada setiap acara adat di Nias. Dari teks sinunö di atas jelas mengambarkan tentang isi dari nyanyian tersebut merupakan pemberian penghormatan kepada tamu, baik itu tamu yang agung/balugu dan tuhenöri serta kepada seluruh tamu yang hadir pada acara adat tersebut. Pemberian penghormatan kepada para tamu ini disampaikan di dalam mbola nafo (sekapur sirih) yang mana di dalam sekapur sirih ini mengandung 5 unsur kesatuan yaitu: sirih, pinang, gambir, kapur, dan tembakau. Didalam teks sinunö ini juga terdapat unsur teks yang berstruktur yang terdiri dari teks pembuka, isi,dan penutup.
Setelah menganalisis unsur-unsur melodi nya, maka penulis menemukan struktur umum melodi dari nyanyian tersebut. Adapun kesimpulan mengenai
108
struktur umum dari nyanyian ini adalah pertama bahwa dalam nyanyian sinunö ini penulis menyusun semua nada-nada yang terdapat dalam nyanyian tersebut. Penulis mengurutkan tangga nada dari nada terendah hingga nada tertingi termasuk nada oktaf jika ada ke dalam garis paranada. Nada terendah adalah G dan tertinggi adalah C. Lagu ini hanya memakai empat buah nada. Dalam wilayah nada sinunö ini dimulai dari nada terendah G dan nada tertingginya C. nada dasar dari sinunö ini adalah nada dasar G. Pada lagu Sinunö pengiring tari Ya’ahowu
ini, penulis menyimpulkan bahwa bentuk lagu tersebut adalah Repetitive. Dalam sinunö ini juga nada yang di pakai tidak terlalu berfasiasi dan nada yang paling sering muncul dalam sinunö ini adalah nada B. pada kontur melodinya penulis menyimpulkan bahwa jenis kontur dalam lagu Sinunö pengiring tari Ya’ahowu ini mempunyai kontur pendulous.
Dalam penyajiannya, tari ya’ahowu dan sinunö ya’ahowu ini mempunyai peranan yang sangat penting pada masyarakat Nias khususnya di kota Gunungsitoli. Tarian ini lebih sering dipertunjukan untuk menyambut kedatangan tamu-tamu adat yang mana di dalam tarian ini dimelambangkan rasa sukacita atas datangnya para tamu, tamu yang agung yang disebut balugu (orang yang di hormati) dan kepada tuhenöri (penatua-penatua adat). Sinunő atau nyanyian pengiring tari Ya’ahowu ini tergolong nyanyian baru yang baru diciptakan sekitar bulan Maret tahun 2004 oleh Bapak Man Harefa yang merupakan salah seorang budayawan Nias. Nyanyian ini banyak dipengaruhi oleh nyanyian gereja yang dapat di lihat dari nada-nada yang diciptakan dan teksnya yang berisi kalimat-kalimat yang lembut yang berbeda jauh dari cara masyarakat Nias Selatan yang lebih keras.
109
6.2. Saran
Dari hasil penelitian yang penulis kerjakan, maka penulis mamberi saran kepada pembaca dan masyarakat umum, penulis mengaharapkan kepada masyarakt umum agar lebih peka, memelihara, menjaga dan menghargai setiap tradisi kebudayaan yang ada di Pulau Nias, baik itu dari segi musik, tarian,nyanyian vocal, dan lain sebagainya. Sebab memelihara tradisi ini merupakan hal terpenting bagi kita masyarakat Nias pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya sebagai salah satu aset budaya bangsa yang penting dan harus dipelihara.
Penulis juga mengharapkan kepada pemerintah khususnya Departemen Kebudayaan untuk membantu dalam proses pelestarian budaya dengan lebih sering mengadakan acara-acara yang bernuansa budaya seperti seminar-seminar budaya dan pertunjukan-pertunjukan kesenian. Dalam hal ini juga diharapkan agar pemerintah mengadakan program regenerasi pemusik, penari dan penyanyi hoho (sifahoho) tradisional khususnya di di Kota Gunungsitoli dan kepada seluruh masyarakan Nias pada umumnya, sehingga musik tradisional dapat dilestarikan. Saran terakhir dari penulis adalah dalam rangka mengembangkan aktivitas kesenian dan tumbuh suburnya iklim saintifik di kalangan kita, tak lain tak bukan adalah perlunya kerjasama antara semua unsur masyarakat seperti seniman, pengelola seni, komponis, koreografer, penulis skenario, sutradara, pemerintah (departemen pendidikan nasional, departemen pariwisata, seni, dan budaya), dan semuanya. Dengan demikian persatuan dan kesatuan yang dibina ini akan dapat memberdayakan masyarakat Indonesia di semua bidang tanpa harus
110
menggadaikan harga diri dan marwah kebangsaan. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi generasi peneliti selanjutnya, dan dapat menggali lebih lagi tentang budaya-budaya Nias yang masih belum dikaji dan di teliti.
111
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan Nasional
1998 Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai pustaka
Budiman Indra
2004 Analisis Ritme Famoji Gondra yang Dipertunjukan Pada Upacara Perkawinan Dalam Budaya Masyarakat Nias Di Kota Medan. Skripsi Sarjana Etnomusikologi Fakultas Ilmu Budaya USU
Koentjaraningrat
1981 Metode Penelitian Masyarakat, Jakarta : Gramedia
Koentjaraningrat
1990 Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta, PT Rineka Cipta.
Koentjaraningrat
1973 Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta : Gramedia
Nettle, Bruno dalam Merriam
1964 Theory and Method In Ethnomusicology, New York : The Free Press
112
1977 Music Culture Of Pacific Music The Near East and Asia, New Jersey : Prentice Hall, Inc. England Wood Cliffs. Terjemahan Rizaldi Siagian
Nettl, Bruno dalam Merriam
1964 Theory and Method in Etnomusicology. New York, The Press
Poerwadarminta
2005 Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai
Pustaka.
Qureshi, Regina B
1986 Sufi, Music of Indian and Pakistan. England, Cambridge University Press
Sudarsono
1972 Pengantar Pengetahuan dan Komposisi Tari.
Yogyakarta, ASTI Yogyakarta
Sedyawati
113