METODE PENELITIAN
A. Hasil Penelitian
1. Pemaknaan Temuan
Gambar 6. Diagram Rata-Rata Hasil belajar siswa dan presentase ketuntasan pra siklus, siklus I, II dan III.
B. Pembahasan
1. Pemaknaan Temuan
Pelaksanaan pembelajaran IPA dengan penerapan strategi inkuiri pada kelas IV. Rasionalnya, kelas IV merupakan kelas yang sudah dapat memahami konsep-konsep secara mendalam sehingga dapat mengidentifikasi aspek-aspek pembelajaran IPA dengan penerapan strategi inkuiri. Hal ini terlihat dari kemampuan guru, aktivitas siswa dalam pembelajaran, respon siswa dan hasil belajar siswa dengan penerapan strategi inkuiri diperoleh data sebagai berikut : 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Nilai rata‐rata pra siklus=60 Persentase ketuntasan pra siklus=33% Nilai rata‐rata siklus I=64 Persentase ketuntasan siklus I=40% Nilai rata‐rata siklus II=69.3 persentase ketuntasan siklus II=60% Nilai rata‐rata siklus III=78 Persentase ketuntasan siklus III=86.7
a) Kemampuan Guru Dalam Mengelola pembelajaran
Nilai rata- rata pada siklus I adalah 2,3 kemampuan guru pada aspek pra kegiatan pembelajaran skor rata- rata 2,5; skor rata- rata kegiatan awal 2,3; skor rata- rata kegiatan inti 2,2; skor rata- rata kegiatan akhir 2,5 dan skor rata- rata pengelolaan suasana pembelajaran 2,5. Dari keseluruhan aspek yang diamati skor rata-rata kemampuan guru adalah 2,3 menurut ktiteria penilaian dengan rentang 1-4 termasuk kategori kurang baik. Hal ini disebabkan karena dalam pembelajaraan belum menerapkan strategi inkuiri.
Nilai rata- rata pada siklus II adalah 3 kemampuan guru pada aspek pra kegiatan pembelajaran skor rata- rata 3,5; skor rata- rata kegiatan awal 3; skor rata- rata kegiatan inti 2,8; skor rata- rata kegiatan akhir 3,5 dan skor rata- rata pengelolaan suasana pembelajaran 3. Dari keseluruhan aspek yang diamati skor rata-rata kemampuan guru adalah 3 menurut ktiteria penilaian dengan rentang 1-4 termasuk kategori baik. Hal ini disebabkan karena dalam pembelajaraan guru sudah menerapkan strategi inkuiri meskipun belum bisa dikatakan berhasil dengan baik.
Nilai rata-rata pada siklus III adalah 3,6; kemampuan guru pada aspek pra kegiatan pembelajaran rata-rata adalah 3,5; nilai rata-rata pada kegiatan awal 3,7; nilai rata- rata kegiatan inti 3,4; nilai rata- rata pada kegiatan akhir 3,5; dan nilai rata- rata pengelolaan suasana pembelajaran yaitu 4. Dari
81
guru yang meliputi pra kegiatan pembelajaran, kegiatan awal, kegiatan inti, kegiatan akhir dan pengelolaan suasana pembelajaran adalah 3,6. Skor tersebut menurut kriteria penilaian dengan rentang 1-4 adalah termasuk kategori sangat baik (A).
Menurut Oemar Hamalik (2009: 127) tanggung jawab guru yang terpenting dalam pembelajaran adalah (a) merencanakan dan menuntut siswa melakukan kegiatan – kegiatan belajar guna mencapai pertumbuhan dan perembangan yang diinginkan, (b) turut serta membina kurikulum sekolah agar dapat mengetahui perkembangan siswa, (c) memberikan pembinaan terhadap siswa baik kepribadian, watak maupun jasmaniah, (d) membimbing siswa agar dapat memperoleh keterampilan – keterampilan, pemahaman, perkembangan berbagai kemampuan, kebiasaan yang baik, dan perkembangan sikap yang serasi.(e) memfasilitasi siswa untuk belajar sesuai dengan karakteristiknya masing – masing sehingga siswa tersebut dapat mencapai tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Sesuai dengan kriteria tersebut maka guru sebagai peneliti yang memperoleh kategori sangat baik (A) adalah sudah termasuk guru yang efektif.
Menurut Kauchak dan Eggen (1993:98) menjelaskan kriteria guru yang efektif adalah (a) menuntut siswanya
berprestasi tinggi, (b) sebagai model untuk tingkah laku tertentu, (c) dalam mengajar antusias, (d) responsif terhadap siswanya, (e) menggunakan bahasa yang jelas, (f) menghubungkan logika dengan presentasi, (g) dalam mengajar tahp-tahapnya jelas, (h) penekanan pada hal penting, (i) dalam berkomunikasi ada kesesuaian kata dan perbuatan, (j) tepat waktu, (k) menggunakan pengetahuan awal siswa, (l) mempunyai tanggunga jawab tinggi.
Disisi lain aktivitas siswa pada penggunaan alat peraga meningkat dari siklus sebelumnya, hal ini ada kesesuaian dengan kemampuan guru pada aspek menjelaskan langkah-langkah pengamatan, kemampuan guru tersebut juga ada kesamaan pada hasil respon siswa yang menyatakan sebagian besar siswa senang terhadap cara guru membimbing praktikum dan kegiatan diskusi yang dilakukan siswa yang sangat menggembirakan sekali adalah 100% siswa menyatakan media/alat peraga yang digunakan guru dalam pembelajaran adalah menarik.
b) Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa
Nilai rata- rata pada siklus I adalah 1,58 skor rata- rata aktivitas siswa pada aspek kesiapan siswa mengikuti pembelajaran dan melakukan pengamatan sama yaitu 1,5; siswa memahami pertanyaan,
83
1,6; skor rata- rata mengidentifikasi masalah, membuat hipotesis dan merancang pengamatan 1,7; skor rata- rata mengumpulkan dan menganalisis data 1,4. Secara keseluruhan skor aktivitas siswa dalam pembelajaran 1,58 dengan rentang 1-4 di interpretasikan bahwa aktivitas siswa masih rendah. Hal ini disebabkan karena dalam pembelajaraan aktivitas siswa masih pasif.
Nilai rata- rata pada siklus II adalah 2,57 skor rata- rata aktivitas siswa pada aspek kesiapan siswa mengikuti pembelajaran, merancang pengamatan melakukan pengamatan dan membuat kesimpulan sama yaitu 2,6; siswa mengidentifikasi masalah dan mengumpulkan data skor rata- rata 2,5; skor rata- rata memahami pertanyaan 2,4; membuat hipotesis dan bekerja menggunakan alat 2,7; Secara keseluruhan skor aktivitas siswa dalam pembelajaran 2,57 dengan rentang 1-4 diinterpretasikan bahwa aktivitas siswa sudah baik. Hal ini disebabkan karena dalam pembelajaraan aktivitas siswa sudah aktif dalam pembelajaran guru memberikan motivasi sehingga siswa merasa senang dan sungguh- sungguh dalam belajar. Nilai rata-rata pada siklus III adalah 3,57; skor rata- rata aktivitas siswa pada aspek kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran dan melakukan pengamatan sama yaitu 3,8; skor rata- rata mengidentifikasi masalah 3,5; memahami pertanyaan, membuat hipotesis, dan menganalisis data mempunyai skor rata- rata yang sama yaitu 3,4; merancang pengamatan dan bekerja menggunakan media/alat peraga mempunyai skor rata-rata sama yaitu 3,6; skor rata-rata pada aspek membuat kesimpulan 3,7. Skor tersebut menurut
kriteria penilaian dengan rentang 1-4 adalah termasuk kategori sangat baik (A).
Penelitian ini sesuai dengan Sumantri (2001: 136) yang menyatakan bahwa strategi inkuiri bertujuan melatih siswa merancang, mempersiapkan, melaksanakan dan melaporkan pengamatan, siswa mampu menyimpulkan fakta-fakta informasi atau data yang diperoleh secara berkelompok ataupun individu.
Hal-hal yang menyebabkan aktivitas siswa meningkat adalah karena diantara teman dalam kelompok saling bekerjasama yang positif, setiap kelompok mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan hasil diskusinya, serta saling bekerjasama dalam menggunakan media/alat peraga yang disediakan.
Disisi lain peranan alat peraga juga dapat menunjang aktivitas siswa meningkat dalam pembelajaran menurut Rochman Natawidjaja (1985:28) peranan alat peraga dalam pembelajaran adalah: a) alat peraga dapat membuat pembelajaran lebih efektif, b) alat peraga memungkinkan belajar lebih cepat karena siswa mendapat pengalaman yang baik, c) alat peraga memungkinkan belajar lebih merata, d) alat peraga menjadikan mengajar lebih sistematis.
c) Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Inkuiri
Respon siswa berdasarkan hasil angket terhadap penerapan strategi inkuiri pada siklus I a) kategori cara guru mengajar, siswa menyatakan mudah menerima dengan prosentase 38%, siklus II meningkat menjadi 40% dan pada siklus III
85
mengalami peningkatan yaitu 45%. b) kategori cara guru membimbing diskusi, pada siklus I menyatakan siswa mudah memahami dengan prosentasi 19%, siklus II menjadi 20% dan siklus III meningkat 23%. c) kategori cara guru membimbing presentasi pada siklus I siswa merasa tertarik dengan prosentase 13%, siklus II 15 % dan siklus III menjadi 16 %. d) kategori strategi yang diberikan pada siklus I, II dan III tidak ada siswa yang merasa sulit. e) kategori cara guru membimbing praktikum pada siklus I siswa merasa senang dengan prosentase 13%, siklus II 15 %dan siklus III 16 %. Hal lain yang menggembirakan adalah siswa mudah memahami dan senang dengan strategi yang digunakan guru. Karena siswa telah menunjukkan respon yang positif, siswa mudah memahami pelajaran.
Hal ini sesuai dengan penelitian Kusnanto (2007) yang menyatakan bahwa respon siswa terhadap penerapan strategi inkuiri mampu meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran, pengetahuan tentang konsep – konsep dalam materi IPA meningkat, siswa lebih cepat menemukan jawaban pertanyaan – pertanyaan yang diajukan guru melalui cara yang ditemukan, mempersiapkan diri untuk belajar, keaktifan siswa dalam pembelajaran, mendengarkan penjelasan guru ,melakukan diskusi, melakukan kegiatan pengamatan, dan membuat laporan. Dengan demikian, berarti pembelajaran yang dikehendaki Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang menekankan keterlibatan siswa secara aktif dalam pembelajaran dapat dilaksanakan.
d) Hasil Belajar Siswa
Hasil belajar siswa pada keadaan awal (tes awal) sebelum pembelajaran inkuiri dilaksanakan, nilai rata-rata siswa 60,00. Setelah dilaksanakan pembelajaran dengan penerapan strategi inkuiri, pada siklus I nilai rata- rata siswa 64 dengan nilai tertinggi 90 dan nilai terendah 50, pada siklus II nilai rata- rata siswa meningkat meningkat menjadi 69,3 dengan nilai tertinggi 90, nilai terendah 50, pada siklus III nilai rata- rata siswa mengalami peningkatan yang sangat signifikan yaitu 78 dengan nilai tertinggi 90 dan terendah 60. Hal tersebut ada kesesuaian dengan meningkatnya kemampuan guru dalam pengelolaan suasana pembelajaran skor rata- rata 4,00; aktifitas siswa dalam melakukan pengamatan skor rata- rata 3,80; dan siswa mudah menerima cara guru menyampaikan materi dengan skor rata- rata 86%. Melalui strategi inkuiri pada pembelajaran IPA, siswa akan lebih mudah memahami konsep-konsep yang sulit apabila menggunakan strategi yang menyenangkan dan alat peraga, mengembangkan rasa keingintahuan,berpikir kritis, belajar konstruktivis, menemukan pengetahuan, dan menerapkanya dalam kehidupan sehari-hari. Pada siklus III menunjukkan 86,7% (13 siswa) telah mencapai ketuntasan belajar. Sesuai pendapat Johnson, Johnson dan Smith (1991:2:30) menyebutkan hasil belajar yang dikembangkan
87
oleh pembelajaran kooperatif antara lain: Prestasi yang lebih tinggi dan retensi yang meniningkat, motivasi meraih prestasi lebih tinggi dan motivasi instrinksik untuk belajar, meningkatkan kemampuan untuk memandang situasi dari cara pandang orang lain, lebih memusatkan pada tugas dan mengurangi menggangu, pertimbangan lebih tinggi, pemahaman yang lebih dalam, dan berfikir kritis.
Oleh karena itu, penerapan strategi inkuiri dapat menjadi salah satu alternative pembelajaran inovatif karena dapat meningkatkan hasil belajar siswa, sekaligus dapat meningkatkan kemampuan afektif dan psikomotorik siswa melalui bekerja kelompok serta melakukan aktivitas yang mendukung belajar siswa.