• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS MENGENAI PENERAPAN KONSEP BENEFIT

B. Benefit Sharing Dalam Ekspresi Budaya Tradisional

2. Pemanfaatan Ekspresi Budaya Tradisional Oleh Pihak Asing

Setiap pihak asing yang ingin menggunakan ekspresi budaya tradisional harus izin pada negara yang bersangkutan, izin tersebut langsung pada pemerintah daerah pengetahuan itu berasal. Dengan

persetujuan atau MOU (Memorandum Of Understanding) antara para

pihak baru pihak asing dapat mementaskan atau mempertunjukan ekspresi

budaya tradisional.78

Sejauh ini peraturan pemerintah yang diharapkan menjadi dasar pengaturan untuk itu belum disusun. Dalam hal demikian masih sangat besar kemungkinan terjadi pemanfaatan tanpa prosedur atas ciptaan-

77

Ibid, h. 329. 78

Wawancara Pribadi dengan Bapak Andi Staff Bagian Hak Cipta Di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, Jakarta: 27 April 2015.

ciptaan tradisional yang berada didaerah dan menjadi aset daerah yang bersangkutan. Ada pula kemungkinan digunakan dan dieksploitasi secara cuma-cuma oleh pihak asing.

Bagaimana misalnya jika orang jepang membuat miniatur candi

borobodur untuk gift? Siapa yang harus mengugat karna merasa

dirugikan? Jawabannya masih belum dapat diberikan secara jelas. Untuk itu, terlepas dari belum adanya pengaturan, masyarakat daerah perlu diingatkan mengenai perlunya menjaga aset daerah tersebut dari

kemungkinan pemanfaatannya secara komersial oleh orang asing.79

3. Konsep Eksploitasi Komersial Yang Sah Atas Ekspresi Budaya Tradisional

Di Indonesia, boleh dikatakan belum muncul kesadaran diantara anggota masyarakat lokal akan arti penting perlindungan hukum bagi traditional knowledge. Jika ada kesadaran yang dimaksud, tentunya baru sebatas di kalangan tertentu yang menaruh perhatian pada masalah

pemanfaatan sumber daya hayati dan traditional knowledge, khususnya

dalam hubungannya dengan perdagangan produk-produk yang bersumber

dari pengolahan sumber daya hayati dan traditional knowledge.

Kesadaran ini muncul dari rasa ketidakadilan yang dirasakan oleh negara berkembang berkenaan dengan pemanfaatan sumber daya hayati dan traditional knowledge oleh pihak-pihak di luar anggota masyarakat

79

lokal tanpa adanya benefit sharing bagi “pemilik” sumber daya hayati dan traditionalknowledge yang dimaksud.80

Namun demikian, yang patut disayangkan dari tingginya nilai

ekonomi pada traditional knowledge itu adalah tidak meratanya

penikmatan keuntungan (benefit sharing). Masyarakat (lokal) yang yang

merupakan pihak yang menjaga kelestarian suatu traditional knowledge

justru tidak ikut menikmati nilai ekonomi itu, karena hanya dinikmati

perusahaan-perusahaan swasta dari negara-negara maju.81

Konsep Barat mengenai kekayaan intelektual berbeda secara radikal dari kebanyakan sistem pengetahuan dan inovasi masyarakat pedesaan ataupun lokal. Pada umumnya, masyarakat non-industri melihat pengetahuan dan inovasi sebagai sebuah hasil cipta kolektif yang harus dipelihara dengan sebentuk kepercayaan demi generasi mendatang. Perspektif ini berseberangan dengan sistem kekayaan intelektual industrial yang memandang sumber daya alam, unsur-unsur hayati dan pengetahuan sebagai komoditas.

Masyarakat tradisional tidak memandang pengetahuan dan inovasi sebagai komoditas, melainkan sebagai karya masyarakat yang diterlantarkan dari generasi lalu ke generasi mendatang. Bumi dan alam digunakan dan dikelola, namun tidak dimiliki secara eksklusif. Sebaliknya

80

Jannati, “Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual Terhadap Traditional Knowlegde

Gunu Pembangunan Ekonomi Indonesia”, diakses pada 21 Februari 2014 dari

http://eprints.uns.ac.id/9171/1/79122107200911091.pdf, h. 105. 81

HKI yang berkiblat ke Eropa menyatakan bahwa gagasan-gagasan inovatif dan produk pemikiran manusia dapat dilindungi secara sah sebagai

kekayaan privat.82

Selama ribuan tahun, inovasi dan adaptasi terhadap perubahan telah menjadi bagian dari masyarakat pedesaan. Pengetahuan pun telah terwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Jika sebuah pengetahuan tertentu mengenai ekspresi budaya tradisional, sebagaimana biasa dipercayakan pada kelompok sosial atau dianugerahkan kepada individu tertentu, maka hal ini tidaklah dinyatakan sebagai kekayaan privat.

Beberapa pokok pengetahuan biasanya dipegang secara kolektif dan bersifat inter-generasi. Pengetahuan dijaga sedemikian hati-hati dengan kepercayaan dan diperuntukkan demi generasi mendatang serta ditambahkan demi keuntungan seluruh masyarakat. Kepemilikan individu atas unsur-unsur hayati ataupun pengetahuan mengenai unsur tersebut

sama sekali tak pernah terdengar.83

Banyak masyarakat di negara berkembang menganggap bahwa ilmu pengetahuan sebagai warisan masyarakat yang harus dilestarikan agar keturunannya ikut menikmati pengetahuan tersebut. Oleh karena itu, tidak ada individu yang berhak memonopoli pengetahuan, karena hanya titipan

82

Ignatius Haryanto, Kapling-Kapling Daya Cipta Manusia; Monopoli-Monopoli Intelektual Atas Kearifan Lokal dan Keanekaragaman Hayati,(Yogyakarta: Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas, 2004), h. 39-40.

83

sementara yang kemudian diwariskan kembali untuk keuntungan bersama dan kepentingan generasi masa depan.

Sebaliknya negara-negara maju berpendapat bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan hasil inovasi dan investasi individual. Karena hasil dari pengetahuan menjadi milik para penciptanya dan bukan menjadi milik seluruh umat manusia. Atas dasar pemikiran inilah, maka diciptakan perlindungan HKI yang bertujuan memberikan hak eksklusif pada penemu inovasi. Hak eksklusif diharapkan dapat menciptakan keuntungan ekonomi dari inovasi yang kemudian dianggap akan mendorong penemu atau orang lain untuk melakukan inovasi yang baru lagi.84

Perangkat perundang-undangan HKI yang mengatur masalah ekspresi budaya tradisional, kurang memadai. Undang-undang di bidang HKI, yang dimiliki Indonesia saat ini, sepenuhnya mengadopsi gagasan yang terkandung dalam TRIPs yang berorientasi individual dan bercorak privatisasi itu. HKI mengakui dan telah mengatur sistem pengetahuan dan

teknologi lokal yang dituangkan dalam pemahaman foklore. Foklore itu

dipahami sebagai bentuk kreativitas intelektual masyarakat tradisional.

Namun konsep foklore itu terlalu sempit untuk dapat mencakup bentuk

kekayaan intelektual masyarakat lokal.85

84

Hira Jhamtani dan Lutfiyah Hanim, Globalisasi dan Monopoli Pengetahuan; Telaah tentang TRIPs dan Keanekaragaman Hayati di Indonesia, ( Jakarta: INFID, 2002), h. 43-45.

85

Kusnaka Adimihardja, Sistem Pengetahuan dan Teknologi Lokal dalam Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia, (Bandung: Humaniora, 2004), h. 56.

Pasal 38 Undang-Undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014 yang

berjudul „Ekspresi Budaya Tradisional dan Hak Cipta atas Ciptaan yang

Penciptanya Tidak Diketahui‟ menetapkan :

1) Hak Cipta atas ekspresi budaya tradisional dipegang oleh

Negara.

2) Negara wajib menginventarisasi, menjaga, dan memelihara

ekspresi budaya tradisional sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

3) Penggunaan ekspresi budaya tradisional sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) harus memperhatikan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat pengembannya.

4) Ketentuan lebih lanjut mengenai Hak Cipta yang dipegang oleh

Negara atas ekspresi budaya tradisional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Kenyataan seperti ini sangatlah memprihatinkan, mengingat bangsa Indonesia sangat potensial dalam kekayaan ekspresi budaya tradisional. Kondisi ini akan semakin membuat skeptis lagi ketika melihat realitas penegakan hukum di Indonesia. Harus diakui bahwa pengetahuan hukum di Indonesia, sedang tidak mampu memerankan fungsi dan tujuannya. Kondisi ini juga berlaku bagi penegakan hukum, di bidang HKI, termasuk di dalamnya ekspresi budaya tradisional.

Banyak ekspresi budaya tradisional masyarakat Indonesia yang belum terakomodasi dan belum mendapat perlindungan hukum di dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang hak kekayaan intelektual. Untuk dapat mewujudkan perlindungan hukum terhadap ekspresi budaya tradisional masyarakat Indonesia, membutuhkan koordinasi dan kerja sama dari para pembuat kebijakan negara, akademisi, mahasiswa, dan masyarakat Indonesia. Perlindungan hukum terhadap

ekspresi budaya tradisional masyarakat Indonesia, merupakan tanggung jawab bersama dan saling terkait, dari semua komponen yang ada dalam masyarakat Indonesia.

Pembagian keuntungan (benefit sharing), yang dilakukan antara

pihak yang ingin menggunakan EBT milik Indonesia dengan masyarakat adat (dapat diwakilkan oleh Ketua Adat atau orang yang dianggap relevan) dan Pemerintah Pusat atau Daerah, dibuat untuk dapat menentukan besarnya royalti yang akan diperoleh oleh pihak yang EBT-nya digunakan

untuk kepentingan tertentu.86 Royalti digunakan sebagai sumber dana

untuk melakukan pelestarian terhadap EBT yang dimiliki agar dapat terus dijaga dan dikembangkan demi kemajuan masyarakat adat yang dalam

kehidupan sehari-harinya bergantung pada EBT tersebut.87

Dalam rangka pembagian keuntungan dalam bentuk royalti, maka Pemerintah seharusnya menghimbau atau bahkan mewajibkan setiap masyarakat tradisional membentuk suatu lembaga, dalam hal ini bisa berbentuk organisasi kemasyarakatan atau paguyuban, yang sesuai dengan ketentuan Kementrian Dalam Negeri untuk menjadi wakil mereka dalam

penerapan konsep benefit sharing. Dengan adanya suatu lembaga yang

berwenang atas konsep benefit sharing maka ekspresi budaya tradisional

dan pelakunya akan mendapatkan keuntungan atau nilai ekonomi.

86

Ibid.

87

Mekanisme benefit sharing sebaiknya dilakukan sesuai dengan aturan dan norma yang ada di masyarakat. Pengelola benefit sharing sebaiknya dibawahi oleh pemerintah daerah. Apabila benefit sharing dikelola bebas maka akan menimbulkan keributan karena saling

mengambil keuntungan atas ekspresi budaya tradisional.88

88

Wawancara Pribadi dengan Bapak Andi Staff Bagian Hak Cipta Di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, Jakarta: 27 April 2015.

BAB V Penutup A. Kesimpulan

1. Belum memadainya perlindungan hukum mengenai ekspresi budaya

tradisional untuk kepentingan komersial dalam implementasinya di masyarakat. Hal ini dikarenakan, pemerintah belum mengatur kepentingan komersial terhadap ekspresi budaya tradisional dalam bentuk peraturan

perundang-undangan sui generis (dalam bentuk tersendiri atau khusus).

Selama ini hukum Hak Kekayaan Intelektual nasional, yakni Undang- undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta pada Pasal 38 hanya mengatur bahwa pemerintah sebagai pemegang hak cipta yang tidak diketahui penciptanya.

2. Adanya perbedaan pemikiran antara masyarakat tradisional atau adat

dengan konsep Hak Kekayaan Intelektual, sehingga hal ini yang menjadi

kendala dalam penerapan konsep benefit sharing terhadap ekspresi budaya

tradisional. Peraturan perundang-undangan di bidang hak kekayaan intelektual yang sejauh ini dikenal, senantiasa didasarkan kepada konsep kepemilikan kekayaan intelektual secara individual, mensyaratkan adanya kebaruan, orisinalitas, diketahui ekspresi budaya tradisional atau inventornya, dan adanya pembatasan jangka waktu perlindungan. Sedangkan dalam konteks pemanfaatan pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional, yang diutamakan adalah kepentingan komunal. Orisinalitas dan kebaruan tidak dipersyaratkan, ekspresi budaya

tradisional atau inventornya biasanya tidak diketahui, mengingat keberadaan pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional bersifat peniruan dan diperoleh secara turun-temurun.

B. Saran

1. Pemerintah melalui Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia bersama

Dewan Perwakilan Rakyat seharusnya membentuk peraturan pelaksana

seperti Peraturan Pemerintah untuk menerapkan konsep benefit sharing.

Dalam Undang-undang Hak Cipta saat ini belum mengatur tentang konsep benefit sharing. Mengingat bahwa sistem perlindungan dalam bentuk atau rezim yang selama ini kita telah kita kenal dengan baik, dipandang tidak sepenuhnya sesuai.

2. Seharusnya setiap masyarakat tradisional menuntut atau membentuk suatu

lembaga dalam hal ini bisa berbentuk organisasi kemasyarakatan atau paguyuban yang sesuai dengan ketentuan Kementrian Dalam Negeri untuk

menjadi wakil mereka dalam penerapan konsep benefit sharing. Dengan

adanya suatu lembaga yang berwenang atas konsep benefit sharing maka

ekspresi budaya tradisional dan pelakunya akan mendapatkan keuntungan atau nilai ekonomi.

DAFTAR PUSTAKA

Buku:

Adimihardja, Kusnaka. Sistem Pengetahuan dan Teknologi Lokal dalam

Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia. Bandung: Humaniora. 2004

Bintang, Sanusi. Hukum Hak Cipta. Bandung: PT Citra Aditya Bakti. 1998

Chazawi, Adami Chazawi. Tindak Pidana Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI).

Malang: Bayumedia Publishing. 2007

Damian, Eddy Damian. Hukum Hak Cipta. Bandung: PT. Alumni. 2005

Danandjaja, James. Folklor Indonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. 2002

Daulay, Zainul. Pengetahuan Tradisional: Konsep, Dasar Hukum, dan

Praktiknya. Jakarta: Rajawali Pers. 2011

Fauzannafi, Muhammad Zamzam. Reog Ponorogo Menari Di Antara Dominasi

Dan Keragaman. Yogyakarta: Kepel Press. 2005

Gani, Ramlan A. Disiplin BERBAHASA INDONESIA. Jakarta: FITK PRESS.

2011

Haryanto, Ignatius. Kapling-Kapling Daya Cipta Manusia; Monopoli-Monopoli

Intelektual Atas Kearifan Lokal dan Keanekaragaman Hayati. Yogyakarta: Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas. 2004

Hozumi, Tumotsu. Asian Copyright Handbook. Penerjemah Masri Maris. Jakarta:

Ikatan Penerbit Indonesia. 2006

Jhamtani, Hira dan Lutfiyah Hanim. Globalisasi dan Monopoli Pengetahuan;

Telaah tentang TRIPs dan Keanekaragaman Hayati di Indonesia. Jakarta: INFID. 2002

Kansil, C.S.T.. Hak Milik Intelektual (Hak Milik Perindustrian Dan Hak Cipta).

Jakarta: Bumi Aksara. 1990

Lindsey, Tim, dkk. Hak Kekayaan Intelektual Suatu Pengantar. Bandung: PT

Alumni. 2006

Purba, Achmad Zen Umar. Hak Kekayaan Intelektual Pasca TRIPs. Bandung: PT Alumni. 2005

Purba, Afrillyanna, dkk. TRIPs-WTO dan Hukum HKI Indonesia Kajian

Perlindungan Hak Cipta Seni Batik Tradisional Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta. 2005

Riswandi, Budi Agus. Hak Kekayaan Intelektual dan Budaya Hukum. Jakarta: PT

RajaGrafindo Persada. 2005

Riswandi, Budi Agus dan M. Syamsudin. Hak Kekayaan Intelektual dan Budaya

Hukum. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2004

Saidin. Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual (Intellectual Property Rights).

Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 2007

... Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual. Jakarta: Rajawali Pers. 2010

Sardjono, Agus. Hak Kekayaan Intelektual dan Pengetahuan Tradisional.

Bandung: PT Alumni. 2010

Soelistyo, Henry. Hak Cipta Tanpa Hak Moral. Jakarta: PT RajaGrafindo

Persada. 2011

... Hak Kekayaan Intelektual: Konsepsi, Opini, dan Aktualisasi.

Jakarta: Penaku. 2014

Soenandar, Taryana. Perlindungan HAKI (Hak Milik Intelektual) Di Negara-

negara ASEAN. Jakarta: Sinar Grafika. 2007

Soerjono, Soekanto. PENGANTAR PENELITIAN HUKUM. Jakarta: UI Press.

1986

Usman, Rachmadi. Hukum Hak atas Kekayaan Intelektual. Bandung: PT. Alumni.

2003

Peraturan Perundang-undangan:

Undang-undang RI Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Undang-undang Hak Cipta

Jurnal Hukum:

Lembaga Pengkajian Hukum Internasional Fakultas Hukum UI bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Departemen Hukum

Atas Indikasi Geografis, Sumber Daya Genetika dan Pengetahuan Tradisional. Depok: LPHI-FHUI. 2005.

Hak Kekayaan Intelektual Dan Perkembangannya: Prosiding Rangkaian Lokakarya Terbatas Masalah-masalah Kepailitan dan Wawasan Hukum Bisnis Lainnya Tahun 2004: Jakarta 10-11 Februari 2004/tim editor, Emmy Yuhassarie, Tri Harnowo. Jakarta: Pusat Pengkajian Hukum, 2004.

Internet: http://www.wipo.int/tk/en/tk/ http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0711/14/utama/3988155.htm http://www.heritage.gov.my/kekkwa/viewbudaya.php?id=46 http://www.suaramerdeka.com/harian/0711/30/nas02.htm http://eprints.uns.ac.id/9171/1/79122107200911091.pdf http://www.hukumonline.com Wawancara Pribadi:

Wawancara Pribadi dengan Bapak Andi Staff Bagian Hak Cipta Di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual. Jakarta. 27 April 2015.

Skripsi Dan Tesis:

Kusumastuti, Rizki. ”Tinjauan Hukum Internasional Terhadap Upaya

Perlindungan Pengetahuan Tradisional Milik Negara-Negara Berkembang.”

Skripsi S1 Fakultas Hukum, Universitas Indonesia, 2006.

Pardede, Theresia E.E.. “Evaluasi Kebijakan Diplomasi Kebudayaan Angklung

Indonesia (Studi Kasus Kebijakan Komunikasi Pemerintah Pasca Diakuinya Angklung Dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Tak Benda Oleh

UNESCO).” Tesis S2 Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas

Indonesia, 2012.

Widyastuti, Istie. “Upaya Pencegahan Penggunaan Secara Melawan Hukum

Pengetahuaun Tradisional Dan Ekspresi Budaya Tradisional (PTEBT) Milik

Indonesia Oleh Pihak Asing.” Tesis S2 Fakultas Hukum, Universitas Indonesia,

Dokumen terkait