A. Landasan Teoretis
6. Pemanfaatan Novel Tetralogi Andrea Hirata pada Pembelajaran
Apresiasi Sastra di SMA
a. Pengertian Pembelajaran
Istilah “pembelajaran” sama artinya dengan “pengajaran”. Purwadarminta (dalam Gino, 1998: 30) menyatakan bahwa pengajaran mempunyai arti cara (perbuatan) mengajar atau mengajarkan.
Bila pengajaran diartikan sebagai perbuatan mengajar tentunya ada yang mengajar yaitu guru, dan ada yang diajar atau yang belajar yaitu siswa. Dengan demikian pembelajaran diartikan sama dengan perbuatan belajar (oleh siswa). Mengajar (oleh guru). Kegiatan belajar mengajar merupakan satu kesatuan dari dua kegiatan yang searah. Kegiatan belajar adalah kegiatan yang primer dalam kegiatan belajar mengajar tersebut, sedangkan mengajar merupakan kegiatan sekunder yang dimaksudkan untuk dapatnya terjadi kegiatan belajar mengajar yang optimal ….
Pembelajaran …, yaitu: sebagai usaha sadar dari guru untuk membuat siswa
belajar, yaitu terjadi perubahan tingkah laku pada diri siswa yang belajar, dimana perubahan itu dengan didapatkannya kemampuan baru yang berlaku dalam waktu yang relatif lama dan karena adanya usaha (Gino, 1998: 30).
b. Ciri-ciri Pembelajaran
Gino (1998: 36) menjelaskan bahwa ciri-ciri pembelajaran terletak pada adanya unsur-unsur dinamis pada proses belajar siswa. Unsur-unsur tersebut antara lain:
1) Motivasi Belajar
Motivasi tidak dapat dirangsang oleh faktor-faktor dari luar, tetapi motivasi tumbuh di dalam diri seseorang. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri seseorang atau siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjalin kelangsungan dan memberikan arah pada kegiatan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki oleh siswa dapat dicapai (Sardiman dalam Gino, 1998: 37).
commit to user
27 2) Bahan Belajar
Bahan pengajaran merupakan segala informasi yang berupa fakta prinsip dan konsep yang diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Isi bahan ajar juga harus dapat memancing daya cipta siswa sehingga pembelajaran akan semakin hidup dan tujuan pembelajaran pun lebih mudah tercapai.
3) Alat Bantu Belajar
Alat bantu belajar adalah semua alat yang dapat membantu siswa dalam memahami materi belajar untuk mancapai tujuan pembelajaran. Makin banyak alat indera yang digunakan untuk mempelajari sesuatu, maka akan semakin mudah siswa dalam mengingat dan memahami materi.
4) Suasana Belajar
Suasana belajar yang baik adalah suasana belajar yang dapat menimbulkan semangat siswa dalam beraktivitas dan berpartisipasi aktif untuk mempelajari materi bahan belajar. Hal tersebut dapat dicapai dengan beberapa cara, antara lain: a) Adanya komunikasi dua arah (antara siswa dengan guru dan antara siswa
dengan siswa).
b) Adanya suasana yang menggembirakan siswa dalam belajar. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan pemilihan media yang tepat dan menarik.
5) Kondisi Subjek yang Belajar
Setiap siswa memiliki karakter yang berbeda-beda, oleh karena itu guru perlu mengetahui kondisi siswa pada saat akan menerima pelajaran. Kondisi psikologis yang baik akan memudahkan siswa dalam memahami pelajaran dan memudahkan guru mengajarkan materi pelajaran. Kondisi psikologis yang baik perlu diciptakan oleh guru jika timbul indikasi bahwa siswa belum siap belajar karena suatu masalah yang dihadapi siswa karena kegiatan pembelajaran lebih menekankan pada peranan dan partisipasi siswa, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator, motivator, dan pembimbing.
c. Tujuan Pembelajaran
Latuheru (dalam Gino, 1998: 40) mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran adalah apa yang ingin dicapai oleh peserta didik setelah mereka
commit to user
28
mengikuti kegiatan pembelajaran. Dalam dunia pendidikan nasional dikenal dua macam tujuan yang ingin dicapai, yaitu Tujuan Instruksional Umum (TIU) dan Tujuan Instruksional Khusus (TIK). Tujuan instruksional khusus merupakan satu tujuan yang konkret dan spesifik dan dianggap cukup berharga, wajar, dan pantas; yaitu dapat direalisir dan bertahan lama, yang menunjang tercapainya tujuan instruksional yang bersifat lebih umum (Djiwandono dalam Gino, 1998:40).
Tujuan pembelajaran dapat dibedakan menjadi dua, yaitu 1) instructional effect atau tujuan langsung adalah satu tujuan yang pencapaiannya secara relatif dapat diketahui segera dan 2) nurturant effect atau tujuan tak langsung adalah tujuan jangka panjang.
d. Sastra dan Pembelajarannya
Bila pengertian tentang apresiasi dikaitkan dengan pembelajaran, maka dapat dikatakan bahwa pembelajaran apresiasi sastra adalah suatu usaha yang dilakukan oleh guru untuk membelajarkan siswanya untuk dapat mengenal, memahami, dan menilai karya sastra. Pembelajaran apresiasi sastra adalah proses pembelajaran siswa berkaitan dengan karya sastra. Dalam proses tersebut terjadi interaksi antara guru dan siswa dengan karya sastra. Selain itu, dalam interaksi tersebut juga memungkinkan terjadinya proses pengenalan, pemahaman, penghayatan, penikmatan terhadap karya sastra sehingga siswa mampu menerapkan temuannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian pembelajaran apresiasi sastra akan memperoleh manfaat dari karya sastra yang dipelajari atau diapresiasinya.
Sastra terutama novel adalah sebuah cerita tentang kehidupan masyarakat, bahkan tidak jarang isi dalam sebuah karya sastra merupakan cermin hal-hal yang sedang terjadi dalam masyarakat ketika karya sastra tersebut dihasilkan. Pendapat senada keterkaitan dengan hubungan antara sastra dengan masyarakat dikatakan oleh Ogunyemi (2011: 301):
“Literature is a social institution, using as its medium language, a social creation. They are conventions and norm which could have arisen only in society. But, furthermore, literature „represent‟ „life‟;and;„life‟;is, in large measure, a social reality, eventhough the natural world and the inner or subjective world of the individual have also been objects of literary „imitation‟. The poet himself is a member
commit to user
29
of society, possesed of a specific social status; he recieves some degree of social recognition and reward; he addresses an audience, however hypothetical” (Sastra adalah sebuah hasil dari kehidupan sosial, menggunakan bahasa sebagai mediumnya dan merupakan satu hasil cipta sosial. Sastra adalah konvensi-konvensi dan norma yang ada dan ditimbulkan dalam masyarakat. Sastra merupakan representasi dari kehidupan yang ada dalam sebuah komunitas masyarakat, sebuah kenyataan sosial yang terjadi secara alami. Sastra menjadikan nilai yang ada, kelas sosial, serta struktur dalam sebuah masyarakat sebagai obyeknya).
Rahmanto (1991: 16) menyatakan bahwa pengajaran sastra dapat membantu pendidikan secara utuh apabila cakupannya meliputi empat manfaat, yaitu:
a. Membantu Keterampilan Berbahasa
Ada empat keterampilan berbahasa dalam bahasa Indonesia, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Memasukkan pengajaran sastra ke dalam kurikulum berarti melatih siswa untuk meningkatkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
b. Meningkatkan Pemahaman Budaya
Sastra berkaitan dengan aspek kehidupan yang meliputi aspek manusia dan alam beserta seluruh isinya. Setiap karya sastra selalu mengandung sesuatu yang apabila dihayati dengan mendalam akan menambah kekayaan pengetahuan orang yang menghayatinya. Setiap sistem pendidikan perlu disertai usaha untuk menanamkan pemahaman budaya bagi setiap anak didik. c. Mengembangkan Cipta dan Rasa
Kecakapan yang perlu dikembangkan dalam pengajaran sastra adalah kecakapan yang bersifat indra, penalaran, afektif, sosial, dan religius. Pengajaran sastra jika dilakukan dengan benar dapat menyediakan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan kecakapan-kecakapan tersebut secara lebih baik apabila dibandingkan dengan mata pelajaran lainnya, sehingga pengajaran sastra dapat lebih mendekati tujuan pengajaran. 1. Indra
Pengajaran sastra dapat digunakan untuk memperluas pengungkapan apa yang diterima oleh panca indra. Ungkapan-ungkapan yang digunakan
commit to user
30
dalam karya sastra biasanya lebih halus daripada ungkapan dalam bahasa sehari-hari. Dengan mengikuti tafsiran serta makna kata yang disampaikan pengarang, siswa diantar mengenali berbagai pengertian dan mampu membedakan hal yang satu dengan yang lainnya. Apabila kepekaan perasaan sudah dipahami, usaha selanjutnya adalah memahami berbagai aktivitas yang dilakukan manusia untuk mengungkapkan dirinya yang dilakukan secara fisik. Ungkapan diri melalui aktivitas fisik dapat dipelajari oleh siswa, salah satunya dengan kegiatan drama.
2. Penalaran
Penalaran dapat juga diartikan sebagai berpikir logis. Proses berpikir logis banyak ditentukan oleh hal-hal seperti ketepatan pengertian, ketepatan interpretasi kebahasaan, klasifikasi dan pengelompokan data, penentuan berbagai pilihan, serta formulasi rangkaian tindakan yang tepat (Rahmanto, 1991: 20). Sejak awal seharusnya guru melatih siswanya untuk memahami fakta-fakta, membedakan hal yang pasti dengan hal yang bersifat dugaan, memberikan bukti untuk pendapat mereka, serta tahu bagaimana cara berargumen yang benar.
3. Perasaan
Kepekaan rasa dan emosi sangat erat kaitannya dengan karya sastra karena sebuah karya sastra diciptakan berdasarkan emosi pengarang. Perasaan merupakan hal yang rumit yang ada dalam diri manusia sebagai anggota masyarakat. Anggapan yang keluar berdasarkan perasaan seorang individu belum tentu sama dengan anggapan individu lain. Perbedaan- perbedaan tersebut hampir selalu terjadi dalam lingkungan masyarakat yang menyebabkan sulitnya pencapaian tujuan yang sehati. Oleh karena itu, dalam masyarakat diadakan kesepakatan tentang tindakan yang bisa diterima dan yang tidak bisa diterima atau hal yang baik dan yang buruk.
4. Kesadaran Sosial
Kesadaran sosial yaitu kepedulian terhadap kondisi orang lain dan lingkungan. Sikap tersebut dapat diwujudkan dengan menghargai orang lain tanpa memandang perbedaan suku, ras, kekayaan, status pekerjaan, tingkat
commit to user
31
pendidikan, dan sebagainya. Pengajaran tentang kesadaran sosial sudah ada dalam kurikulum mata pelajaran lain (selain pengajaran sastra). Meskipun demikian, sastra lebih mampu memberikan pendidikan tentang kesadaran sosial. Seorang pengarang yang berkualitas mampu untuk mengidentifikasi dirinya dengan orang lain, menerobos suatu masalah dan mengenali intinya. Pemilihan bahan pengajaran sastra yang tepat akan mampu membantu siswa untuk memahami diri dan orang lain.
5. Nilai Religius
Rasa religius ada dalam hati setiap manusia sebagai tolok ukur atau dasar dari setiap tingkah lakunya, begitu juga dengan pengarang yang yakin akan nilai religius. Mereka cenderung membuat karya sesuai dengan kepercayaan yang mereka yakini. Karya-karya yang didasarkan pada segi religi akan mampu menciptakan sesuatu yang lebih hakiki.
d. Menunjang Pembentukan Watak
Adanya anggapan bahwa orang yang banyak membaca sastra pasti berperilaku baik tidaklah sepenuhnya benar. Perilaku seseorang lebih ditentukan oleh pribadinya sendiri. Pendidikan hanya bersifat membina dan membentuk, hasil akhir tetap ada pada masing-masing individu. Demikian juga dengan karya sastra, dalam karya sastra terdapat pendidikan nilai-nilai kehidupan yang akan berfungsi jika pembaca meresapinya secara mendalam. Tujuan pembelajaran sastra yang pertama adalah pengajaran hendaknya mampu membina perasaan yang lebih tajam. Seseorang yang banyak membaca karya sastra biasanya mempunyai perasaan yang lebih peka untuk menunjukkan hal yang bernilai dan yang tidak bernilai. Kemudian dia akan mampu mengatasi permasalahan hidupnya dengan pemahaman, wawasan, toleransi, dan simpati yang mendalam. Tuntutan kedua adalah pengajaran sastra hendaklah dapat memberikan bantuan dalam usaha untuk mengembangkan berbagai kualitas kepribadian siswa. Dalam pembelajaran sastra dengan berbagai ciri khas, siswa diberi kesempatan untuk menelusuri pengalaman hidup yang berisi permasalahan dan pemecahannya agar terus mengalir. Pengalaman tersebut sangat berguna bagi perkembangan
commit to user
32
kepribadian siswa terutama dalam hal menilai suatu hal dan mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah.
Pada hakikatnya pembelajaran apresiasi sastra Indonesia ialah memperkenalkan kepada siswa nilai-nilai yang didukung karta sastra dan mengajak siswa ikut menghayati pengalaman-pengalaman yang disajikan. Pembelajaran apresiasi sastra Indonesia bertujuan mengembangkan kepekaan siswa terhadap nilai-nilai indrawi, nilai akali, nilai efektif, nilai keagamaan, dan nilai sosial secara sendiri-sendiri, atau gabungan keseluruhan, seperti yang tercermin di dalam karya sastra (Purwo, 1991: 61). Pada hakikatnya, pengajaran sastra adalah menciptakan situasi siswa membaca dan merespon karya sastra serta membicarakan secara bersama dalam kelas. (http://www.KondisiPembelajaranSastraIndonesia.htm).
Di dalam mengapresiasikan sastra, kita mengenal nilai-nilai yang terdapat di dalam karya sastra. Dengan kegairahan dan empati akhirnya kita dapat merasakan kenikmatan. Supriyadi (1997: 310) menyatakan kenikmatan itu dapat karena: (1) merasa berhasil dalam menerima pengalaman orang lain, (2) bertambah pengalaman sehingga dapat mengahadapi kehidupan dengan lebih baik, (3) kekaguman akan kemampuan sastrawan dalam mengarahkan segala alat yang ada pada medium seninya sehingga berhasil memperjelas, memadukan, dan memberikan makna terhadap pengalaman yang diolahnya, (4) menikmati sesuatu demi sesuatu itu sendiri yaitu kenikmatan estetik. (http://www.KondisiPembelajaranSastraIndonesia.htm).
Dalam memilih bahan pengajaran sastra, tahap-tahap perkembangan psikologis siswa hendaknya diperhatikan karena tahap-tahap ini sangat besar pengaruhnya terhadap minat dan kesenangan siswa dalam banyak hal. Tahap perkembangan psikologis ini juga sangat besar pengaruhnya terhadap: daya ingat, kemauan mengerjakan tugas, kesiapan bekerja sama, dan kemingkinan pemahaman situasi atau pemecahan masalah yang dihadapi.
Pelaksanaan pembelajaran sastra dengan tujuan meningkatkan kemampuan mengapresiasikan sastra secara kreatif perlu memperhatikan beberapa konsep dasar pembelajaran apresiasi sastra. Menurut Imam Syafi’ie
commit to user
33
(1993: 68-69) dikemukakan ada empat konsep dasar yang perlu diperhatikan. Keempat itu diuraikan sebagi berikut:
2. Pembelajaran sastra bukan proses pembentukan penguasaan pengetahuan tentang sastra, melainkan pembinaan peningkatan kemampuan mengapresiasikan sastra. Oleh karena itu, pembelajaran sastra harus diupayakan agar tidak terpengaruh pada pemberian pengetahuan kesastraan, misalnya pengetahuan tentang hal-hal tersebut harus diletakkan dalam posisi sebagi penunjang kegiatan mengapresiasikan sastra.
3. Pembelajaran mengapresiasikan dilaksanakan dengan memberikan kesempatan sebanyak-banyaknya kepada siswa untuk terlibat secara langsung dalam proses mengapresiasi. Untuk itu, siswa perlu lebih banyak menggauli karya sastra dengan membaca berbagai bentuk karya sastra.
4. Peranan guru dalam pengajaran sastra janganlah sebagai pemberi tahu yang mendiktekan catatan-catatan tentang sinopsis, nama-nama tokoh dalam novel, nilai-nilai keindahan yang ditemukannya, dan sebagainya. Guru hendaknya menciptakan situasi yang mendorong siswa untuk mendapatkan sendiri kenikmatan dan kemanfaatan membaca sastra. 5. Pembelajaran sastra menghindarkan diri dari proses yang bersifat
mekanis, misalnya menghafalkan hal-hal yang tidak berguna. Yang lebih dipentingkan adalah pemerolehan pengalaman batin dalam diri siswa yang mereka peroleh dari proses membaca sastra dengan mengenali, memahami, mengahayati, menilai, dan akhirnya menghargai karya sastra itu. Proses inilah yang akan meningkatkan kualitas kehidupan batin siswa.
Pembelajaran novel yang dikemukakan dalam landasan teori adalah pembelajaran novel di sekolah lanjutan tingkat atas (SMA). Kurikulum 2006 diberlakukan berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Pendidikan Dasar dan Menengah. Di dalam kurikulum tersebut dapat diketahui bahwa pembelajaran novel
commit to user
34
berlangsung pada jenjang kelas XI. Dengan demikian, telaah teoretis pembelajaran novel dalam konteks ini difokuskan pada pembelajaran novel di kelas XI.
Lebih lanjut dijelaskan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 bahwa pembelajaran novel di SMA mencakup pemahaman terhadap unsur intrinsik (struktural) dan ekstrinsik, membandingkan kedua unsur tersebut, dan pemahaman terhadap nilai-nilai edukatif di dalamnya. Seperangkat pengetahuan tersebut, diajarkan di kelas XI semester dua. Standar kompetensi dan kompetensi dasar pembelajaran novel di SMA dapat dicermati dari tabel 1 berikut.
Tabel 1. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Pembelajaran Novel di Kelas XI Semester 2
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Membaca: Memahami buku biografi, novel, dan hikayat.
Mengungkapkan hal-hal yang menarik dan dapat diteladani dari tokoh.
Menganalisis nilai-nilai yang terdapat dalam novel.
Mendeskripsikan unsur-unsur novel. Sumber: Peraturan Menteri Pndidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006