298.452,85 Kawasan Konservasi
C. Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil Terluar Sumatera Utara
Pulau-pulau kecil yang terdapat di kawasan Pantai Barat dan Pantai Timur Sumatera Utara menagandung potensi yang sangat besar untuk pariwisata bahari dan nilai konservasi keanekaragaman hayati. Selain itu, pulau terluar memiliki nilai strategis dalam kerangka kedaulatan negara dan perwujudan wawasan nusantara.
Akibat keterbatasan kemampuan pemerintah baik dalam anggaran maupun pengawasan, banyak pulau-pulau kecil Sumatera Utara cukup terisolir dan kurang tersentuh dari pembangunan, sehingga masyarakat dominan berada dalam garis kemiskinan, dan terjadi degradasi sumber daya di dalam pulau maupun di sekitar pulau. Di sisi lain, masih banyak pulau di Sumatera Utara yang masih asli dan belum berpenghuni dan belum memiliki nama, dan pulau ini perlu dilindungi untuk tetap mempertahankan keasliaan ekosistemnya.
Pulau-pulau kecil yang terdapat di Pantai Barat dan Timur Sumatera Utara sampai saat ini masih sulit dijangkau akibat terbatasnya sarana dan prasarana trasportasi. Tingginya harga bahan-bahan kebutuhan pokok dan sulitnya memasarkan hasil produksi dari sumberdaya lokal, menyebabkan masyarakat memiliki kesejahteraan yang rendah.
Ekosistem pesisir, laut dan pulau-pulau kecil di kawasan Pantai Barat dan Pantai Timur Sumatera Utara memiliki potensi untuk pariwisata bahari. Di sekitar pulau-pulau kecil, terumbu karang yang sehat bersama biota yang berasosiasi di dalamnya menampilakn panorama bawah laut yang mempesona dan menjadi daya tarik bagi pariwisata. Namun pengembangan eksistensi bahari tidak hanya tergantung pada potensi dan keindahan sumberdaya terumbu karang, tetapi perlu memperhitungkan faktor saranan pendukung seperti penyediaan fasilitas, aksebilitas, keamanan, sikap dan dukungan masyarakat sekitarnya dalam menerima kunjungan wisatawan117.
117 Naskah Akademik, Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Sumatera Utara.
Dalam hal pemanfaatan pulau-pulau terluar Sumatera utara ada beberapa faktor yang mengahambat pemanfaatan pulau-pulau kecil ini, yaitu :
1. Rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia 2. Rendahnya kesejahateraan Masyarakat Nelayan
3. Lemahnya pengawasan dan penegakan hukum di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
4. Belum adanya Tata Ruang Pesisir dan Pulau-Pulau kecil 5. Kerusakan Mangrove dan Terumbu karang
6. Pencemaran wilayah pesisir daan laut oleh limbah industri dan Domestik
7. Potensi wisata bahari belum dikembangkan secara optimal.
8. Terbatasnya saranan dam Prasarana Transpostasi ke Pulau-Pulau Kecil 9. Ancaman abrasi dan instusi air laut di wilayah Pesisir dan pulau-pulau
kecil
10. Belum optimalnya usaha penangkapan ikan dan budidaya laut
Pemanfataan pulau-pulau kecil Sumatera Utara masih relatif kecil dan perairan Samudera Hindia masih under fishing. Akibat kerusakan berbagai jenis ekosistem pesisir dan laut. Oleh sebab itu, perlu dilakukan upaya perlindungan dan rehabilitasi ekosistem pesisir dan laut untuk memulihkan regenerasi sumberdaya ikan, dan pengendalian ilegal fishing melalui penegakan hukum dan pemeberdayaan masyarakat. Mengingat Provinsi Sumatera Utara sebagai Provinsi yang memiliki nilai strategis wilayah baik secara nasional maupun regional tentu
akan memberikan dampak pada aspek pertahanan dan keamanan118. Provinsi Sumatera Utara dilalui jalur pelayaran internasional di Selat Malaka juga beberapa pulau-pulau kecil serta pelabuhan penghubung yang langsung dengan negara tetangga. Sehingga keamanan serta keselamatan di laut harus menjadi salah satu perhatian Pemerintah Daerah dan seluruh stakeholders. Pemanfaatan pulau-pulau kecil Sumatera Uatara oleh Pemerintah Daerah sebagai bentuk pengawasan terhadap kedaulatan Nasional, mengingat Indonesia pernah kehilangan pulau-pulau kecilnya karena kurangnya pemanfaatan yang ada di pulau-pulau-pulau-pulau terluar tersebut.
118 Ibid,.
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan skripsi yang telah penulis uraikan sebelumnya, maka didapatlah beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Hukum internasional merupakan hukum yang berkembang sangat pesat perkembangannya, hukum laut internasional merupakan salah satu cabang ilmu dari hukum internasional tersebut, sehingga mendorong masyarakat internasional untuk membembuat suatu perjanjian internasional melalui konvensi internasioanl untuk mengantur wilayah laut. Konvensi internasional tentang laut telah dilakukan sebanyak tiga kali, namun pada konvensi ke tiga tahun 1982 baru diakuinya adanya konsep Negara Kepulauan oleh masyarakat internasional. Dimana Konvensi Hukum Laut internasional 1982 tersebut mengatur pembagian zona-zona maritim dengan rezim hukumnya masing-masing.
2. Pengelolaan pulau-pulau kecil terluar tidak diatur secara khusus di dalam UNCLOS Tahun 1982 tetapi secara tersirat,bahwasannya sumber kekayaan yang ada dilaut memerlukan pengelolaan yang baik sesuai dengan prinsip-prinsip Pembangunan Berkelanjutan tampa merusak lingkungan laut sehingga dapat digunakan untuk kemakmuran masyarakat. Negara mempunyai kewajiban tersebut untuk melestarikan dan melindungi wilayah lautnya. Pengaturan
pengelolaan pulau-pulau kecil terluar tersebut secara khusus diatur oleh Pemerintah Indonesia, yaitu Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil merupakan meliputi kegiatan perencanaan, pemanfaatan, pengawasan dan pengendalian terhadap interaksi manusia dalam memanfaatkan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil serta proses alamiah secara berkelanjutan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
3. Berbatasan dengan negara- negara tentangga, pulau terluar Sumatera Utara juga sebagai pelabuhan internasional dan merupakan jalur perdangangan internasional di Selat Malaka.
Pengelolaan pulau-pulau terluar di Sumatera Utara dapat dilakukan dari segi parawisata, perikanan, industri, pertambangan dan kawasan konservasi. Pengelolaan pulau-pulau terluar Sumatera Utara masih belum optimal, mengingat susahnya akses transportasi menuju pulau-pulau tersebut. Padahal Pemerintah Sumatera Utara telah mengeluarkan peraturan daerahnya tentang pengelolaan pulau-pulau kecil terluar. Pemanfaatan pulau-pulau-pulau-pulau terluar Sumatera Utara masih relatif kecil, cukup terisolir dan kurang tersentuh dari pembangunan membuat masyarakat dominan berada dalam garis
kemiskinan, dan terjadi degradasi sumber daya di dalam pulau maupun disekitar pulau.
B. Saran
1. Konvensi hukum laut internasional 1982 memberikan kewenagan kepada Negara Kepualauan untuk menarik garis pangkal kepulauannya untuk menentukan lebar laut teritorial,zona tambahan,zona ekonimi eksklusif dan landasan kontinen. Konvensi hukum laut 1982 tidak mengatur lebih jelas mengenai penarikan garis pangkal jika terjadi perubahan tempat penarikan.
2. Konvensi hukum laut tahun 1982 yang telah berlaku baik secara internasional maupun regional, seharusnya lebih dapat memberikan kepastian penjelasan mengenai pengelolaan pulau-pulau terluar suatu negara. Mengingat hal tersebut sangat penting bagi Negara kepulauan dalam membentuk dan menentukan wilayah yurisdiksi kedaulatan negaranya melalui wilayah laut.
3. Pemanfaatan pulau-pulau terluar di Sumatera Utara dengan melakukan pengelolaan yang optimal harus dilakukan oleh Pemerintah Daerah Sumatera Utara, karena pemanfaatan pulau-pulau kecil terluar merupakan sebagai bentuk pengawasan terhadap kedaulatan Nasional, mengingat Indonesia pernah kehilangan pulau terluarnya karena tidak melakukan pengoptimalan pengelolaan di wilayah pulau-pulau yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.