• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2.3. Pemanfaatan Teknologi Informasi

Thompson et al, (1991) dalam Jin (2003) menyatakan bahwa pemanfaatan teknologi informasi merupakan manfaat yang diharapkan oleh pengguna sistem informasi dalam melaksanakan tugasnya.

Seperti yang dikemukakan oleh Mortensen (1988) dalam Jin (2003) bahwa teknologi informasi telah menjadi satu komponen yang tidak terpisahkan dari mekanisme kantor. Walaupun banyak program yang tersedia, namun akan sulit sekali jika digabung dengan personel yang tidak terlatih. Pemahaman secara lengkap dari sistem merupakan kunci dari efektivitas dari penggunaan sistem tersebut. Mawhinney dan Lederer (1990) dalam Jin (2003), mengembangkan model penelitian yang menggambarkan pemanfaatan teknologi informasi sebagai fungsi dari organisasi, personal, sistem teknologi informasi dan perlengkapan dalam melakukan processing.

Menurut Iqbaria et al, (1997) dalam Jin (2003), persepsi tentang kemudahan dalam menggunakan teknologi informasi merupakan faktor yang dominan untuk menjelaskan persepsi dari manfaat dan penggunaan suatu sistem. Persepsi tentang manaat mempunyai pengaruh yang kuat terhadap penggunaan sistem.

Schmiit dan McCharty (1993) dalam Jin (2003) melakukan penelitian terhadap pemanfaatan teknologi informasi pada usaha jasa pelayanan kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui pemanfaatan teknologi informasi, sistem jasa pelayanan kesehatan yang diberikan dapat tepat waktu dan mudah.

Ghani (1992) dalam Jin (2003) menyatakan bahwa pemanfaatan teknologi informasi juga dapat dihubungkan dengan faktor ketidakpastian tugas. Hasil penelitian menyarankan pengguna perangkat teknologi informasi oleh individu dalam organisasi harus didasari oleh keinginan individu itu sendiri dan karakteristik kerja dala masing-masing unit kerja.

Pemanfaatan teknologi informasi yang tepat dan didukung keahlian personil yang mengoperasikannya dapat meningkatkan kinerja perusahaan maupun kinerja individu yang bersangkutan. Diterimanya suatu teknologi komputer tergantung pada teknologi itu sendiri dan tingkat skill dan expertise dari individu yang akan menggunakannya, bagi perushaan, aplikasi teknologi yang tepat akan mendatangkan competitive advantages,

sedangkan bagi individu, keahlian yang dimiliki akan dapat meningkatkan kinerja individu yang bersangkutan.

Compeau et al, (1999) dalam Jin (2003) mengemukakan bahwa terdapat hubungan antara efektivitas dari penggunaan teknologi informasi dengan hasil yang diharapkan dari penggunaan teknologi informasi tersebut. Baik efektivitas sendiri maupun ekspektasi hasil yang diharapkan akan berpengaruh pada emosional individu dan reaksi perilaku terhadap teknologi informasi.

Thompson et al, (1991) dalam Jin (2003) menyatakan sikap dan kepercayaan pemakai dapat memprediksi pemanfaatan sistem informasi yang menggunakan teknologi informasi. Sebagian besar pemanfaatan didasarkan pada teori sikap dan perilaku yang dikemukakan oleh Triandis (1980). Sikap pemakai dan faktor-faktor lainnya berpengaruh pada keinginan untuk menggunakan sistem dan secara langsung akan meningkatkan pemanfaatan. Peningkatan pemanfaatan ini akan memberikan dampak positif terhadap kinerja.

Menurut Goodhue dan Thompson (1995) dalam Jin (2003), kinerja individual yang dicapai berkaitan dengan pencapaian serangkaian tugas-tugas individu dengan dukungan teknologi informasi yang ada. Selain itu, pemanfaatan teknologi dapat memberikan implikasi kinerja yang lebih baik pada sistem informasi.

Pemanfaatan teknologi informasi merupakan suatu langkah awal perusahaan untuk meningkatkan pekerjaan. Namun sikap dan perilaku individu-individu yang mengoperasikan teknologi informasi tersebut berpengaruh terhadap penerimaan teknologi informasi. Karena itu, tanpa dukungan SDM yang handal maka kinerja individu dan kinerja perusahaan tidak dapat meningkat.

2.2.4 Kinerja

2.2.4.1 Definisi Kinerja

Menurut (Mangkunegara, 2005;67) kinerja berasal dari kata job performance atau actual performa (prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang). Pengertian kinerja (prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang di berikan kepadanya.

Simamora (2004;339) menyatakan bahwa kinerja (performance) mengacu kepada kadar pencapaian tugas-tugas yang membentuk sebuah pekerjaan karyawan. Kinerja merefleksikan seberapa baik karyawan memenuhi persyaratan sebuah pekerjaan.

Menurut Stolovitch and Keeps (1992) yang dikutip oleh (Rivai dan Basri, 2005;14) bahwa kinerja merupakan seperangkat hasil yang dicapai untuk merujuk pada tindakan pencapaian serta pelaksanaan suatu pekerjaan yang diminta. Sedangkan Griffin (1987) dalam (Rivai dan Basri, 2005;14)

menyatakan bahwa kinerja merupakan salah satu kumpulan total dari kerja yang ada pada diri pekerja.

Beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa kinerja merupakan batasan sebagai kesuksesan seseorang didalam melaksanakan tugas/pekerjaan yang dibebankan kepadanya yang biasanya digunakan sebagai dasar penilaian atas diri karyawan atau organisasi kerja yang bersangkutan, semakin tinggi kualitas dan kuantitas hasil kerja karyawan maka tujuan utama PT. Bank Mandiri (Persero, Tbk) untuk meningkatkan mutu dan kinerja karyawan dan mempercepat keputusan manajemen strategis berdasarkan data yang akurat akan dapat terwujud yaitu salah satunya dengan didukung teknologi informasi yang online dan juga SDM yang mengoperasikannya.

2.2.4.2 Penilaian Kinerja

Penilaian kinerja berhubungan dengan penyelesaian tugas-tugas tertentu, apakah berhasil atau gagal dicapai oleh karyawan. Pencapaian ini juga perlu dikaitkan dengan perilaku dari pekerja selama proses penilaian. Kinerja yang semakin tinggi melibatkan kombinasi dari peningkatan efisiemsi dan peningkatan efektivitas, peningkatan produktivitas dan/ kualitas. Goodhue dan Thompson (1995) dalam Jin (2003) menyatakan bahwa kinerja yang lebih baik akan tercapai jika individu dapat memenuhi kebutuhan individual dalam melaksanakan dan menyelesaikan tugasnya.

Penilaian kinerja adalah proses yang dipakai oleh organisasi untuk mengevaluasi pelaksanaan kerja individu karyawan yaitu dengan menilai kontribusi karyawan kepada organisasi selama periode tertentu (Simamora, 2004;338)

Rivai dan Basri (2005;18) menjelaskan bahwa penilaian kinerja merupakan kajian sistematis tentang kondisi kerja karyawan yang dilaksanakan secara formal yang dikaitkan dengan standar kerja yang telah ditentukan oleh perusahaan.

Tujuan penilaian kinerja menurut (Simamora, 2004;343) adalah untuk menghasilkan informasi yang akurat dan sahih tentang perilaku dan kinerja anggota organisasi yang kemudian hasilnya digunakan sebagai bahan evaluasi (evaluate) dan pengembangan (development) bagi organisasi.

Jadi, penilaian kinerja merupakan proses penting yang seharusnya dilakukan oleh setiap perusahaan atau organisasi karena dengan penilaian kinerja perusahaan dapat mengetahui seberapa besar tingkat kontribusi kerja karyawan untuk perusahan yang mana hasilnya dapat digunakan sebagai bahan evaluasi (evaluate) untuk pencapaian kinerja yang lebih baik di masa yang akan datang.

2.2.4.3 Manfaat Penilaian Kinerja

Penilaian kinerja dimanfaatkan perusahaan untuk pengambilan keputusan kompensasi dan pemberian umpan balik atas kinerja, memasok data yang berfaedah tentang keberhasilan aktivitas-aktivitas lainnya.

Sedangkan bagi individual, penilaian kinerja bermanfaat sebagai peluang pengembangan diri (Simamora, 2004;343).

Rivai dan Basri (2005;55) berpendapat bahwa manfaat penilaian kinerja bagi semua pihak adalah agar mereka mengetahui manfaat yang mereka harapkan.

2.2.4.4 Hubungan Model Rantai Teknologi Kinerja

Goodhue dan Thompson (1995) dalam Jurnali (2001) menyatakan bahwa kinerja yang dihasilkan oleh factor kesesuaian tugas-teknologi berimplikasi pada efisiensi, efektivitas dan kualitas yang lebih tinggi terhadap pemanfaatan teknologi serta implikasi kerja yang lebih baik pada sistem informasi.

Menurut Goodhue dan Thompson (1995) dalam Jurnali (2001), ada tiga model yang menghubungkan antara teknologi dan kinerja yaitu model yang berfokus pada kesesuaian tugas-teknologi dan model teknologi kinerja.

Gambar 2.2 : Model Rantai Teknologi Kinerja Theories of Fit Task Characteristi Technology Characteristi Individual Characteristi Task Technology Fit       Theories of Attitude   and Behaviour  Precusor of Utilization

Affect toward using Social Norms, Habit, Facilitation

Condition Utilization Performance Impact Expected Consecuences of Utilization (Beliefs)

Sumber : Goodhue & Thompson dalam Jurnali (2001)

Model rantai teknologi-kinerja adalah model yang menggambarkan cara teknologi membimbing pada penekanan pekerjaan pada level individu. Hal ini berarti bahwa teknologi harus digunakan dan disesuaikan dengan tugas yang didukung untuk menghasilkan penekanan keefektivan pekerjaan, sebagai model teknologi-kinerja memberikan gambaran yang lebih akurat dan jelas dan cara, teknologi, penggunaan tugas dan pemanfaatan saling berinteraksi menciptakan suatu perubahan baru dalam pekerjaan.

DeLone dan McLean (1992) dalam Jin (2003) menyatakan baik pemanfaatan maupun sikap pelakai mengenai teknologi akan mempengaruhi

kinerja individual dengan menjelaskan faktor kecocokan tugas teknologi (task-technology fit) yang menguraikan bagaimana teknologi informasi dengan teknologi informasi dapat mempengaruhi kinerja, disamping itu Goodhue dan Thompson (1995) dalam Jin (2003) juga mengemukakan bahwa juga agar suatu teknologi informasi dapat memberikan dampak yang positif terhadap kinerja individual maka teknologi tersebut harus dimanfaatkan dengan tepat dan harus mempunyai kecocokan dengan tugas yang didukungnya.

Kinerja terkait dengan kesesuaian tugas teknologi (task-tecnology fit) dikembangkan oleh Goodhue dan Thompson (1995) yang dikutip Jurnali (2001), yang berpendapat bahwa pengukuran variable faktor kesesuaian tugas teknologi dapat diukur dengan (1) kualitas data (data quality), (2) lokabilitas data (locability data), (3) otoritas akses data (authorization to access data), (4) kompabilitas data (data compability), (5) kemudahan dan pelatihan dalam pemakaian sistem (training an ease to use) (6) production timeliness, (7) reliabilitas sistem ( system reliability), (8) hubungan sistem informasi dengan pengguna (IS relationship with user).

2.2.5 Pengaruh Faktor Sosial, Kompleksitas, Kesesuaian Tugas, Konsekuensi

Dokumen terkait