• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMANFAATAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN PAKAN KAMBING

Hama dan Penyakit Hama dan Penyakit

PEMANFAATAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN PAKAN KAMBING

Oleh : Yenni Yusriani Pendahuluan

Ternak ruminansia merupakan jenis ternak yang sangat berperan dalam mewujudkan swasembada daging. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya laju produksi daging adalah ketersediaan pakan ruminansia. Kambing merupakan komoditas ternak ruminansia kecil yang berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai sumber protein hewani bagi masyarakat pedesaan. Dalam penyediaan swasembada daging, ternak kambing merupakan ternak unggulan kedua setelah sapi (Rostini, 2014). Pada umumnya pemeliharaan kambing secara semi intensif yaitu ternak dikandangkan, namun terkadang digembalakan di pekarangan atau di lahan sekitar sawah. Ternak diberi pakan hijauan berupa rumput lapang dan daun-daunan dari tanaman pohon dan pemberian konsentrat atau pakan tambahan lain belum dilakukan karena keterbatasan pengetahuan peternak.

Sistem pemeliharaan dan pemberian pakan tersebut belum mampu mencukupi standar kebutuhan ternak akan nutrient pakan (Huda dkk., 2020).

Pakan merupakan faktor yang mempengaruhi dari produktivitas ternak, banyak peternak memiliki kendala saat musim kemarau dalam penyediaan bahan pakan di mana hijauan jenis rumput dan leguminosa sulit di dapat (Kushartono dan Iriani, 2004).

Permasalahan utama yang menyebabkan pakan khususnya pakan ternak ruminansia yang diberikan tidak memenuhi kecukupan jumlah dan asupan nutrient yaitu pada umumnya bahan pakan berasal dari limbah pertanian yang rendah kadar protein kasarnya dan tinggi serat kasarnya (Daning dkk., 2019).

Tingginya kadar serat ini yang umumnya didominasi komponen lignoselulosa yang sulit dicerna (McDonald dkk., 2002). Masalah lainnya adalah ketersediaan pakan yang tidak kontinyu. Ini dikarenakan langkanya bahan pakan terutama di musim kemarau dan bersifat fluktuatif. Untuk mengatasi masalah tersebut berbagai terobosan telah dilakukan.

Untuk meningkatkan nilai gizi, yang umum dilakukan adalah dengan membuat menjadi hijauan kering (hay), penambahan urea

(amoniasi) dan awetan hijauan (silase) atau pengolahan yang dilakukan untuk menghilangkan anti nutrisi yang ada pada tanaman dengan cara penggabungan beberapa metode (Ndidi dkk., 2014; Iwuozor, 2019), karena penggunaan hanya satu metode mungkin tidak mampu menurunkan atau menghilangkan antinutrisi secara maksimal sehingga kombinasi dari dua metode atau lebih mungkin diperlukan (Bello dkk.,2017; Duodu dkk.,2018). Yanuarto dkk, (2019) menambahkan metode gabungan pengolahan secara fisik, mekanik dan biologi yang sederhana dan dapat diaplikasi ke peternak adalah dengan metode fermentasi.

Sistem Pemberian Pakan Kambing

Umumnya, peternakan kambing diusahakan oleh masyarakat sebagai pekerjaan sambilan dan sistem pemeliharaannya masih tradisional, pakan yang diberikan seadanya, sehingga produktivitas yang tinggi sulit dicapai (Purbowati dkk., 2015). Selanjutnya Murdjito dkk., (2011) menyatakan bahwa rata-rata peternak kambing hanya memiliki modal kecil dalam skala 2-7 ekor yang mana kambing dipelihara dengan memanfaatkan potensi hijauan yang tersedia. Potensi hijauan yang tersedia sebagai pakan kambing meliputi vegetasi rumput, legum alam dan daun- daunan (Murni dkk., 2012 ; Riswandi dkk., 2018).

Proporsi biaya terbesar dalam manajemen pemeliharaan ternak (70%) digunakan untuk pakan (Ketaren, 2010).

Perhitungan faktor ekonomis juga menjadi perhitungan bagi peternak dalam pemilihan komponen pakan (Erniasih dan Saraswati 2006). Pemanfaatan tanaman lokal diharapkan mampu mengurangi proporsi biaya pakan (Farida dkk., 2018). Manajemen pemberian pakan yang dilakukan secara tradisional dapat diberikan secara langsung (cut and carrry) pada ternak kambing yang dikandangkan atau melepas kambing. Penyediaan hijauan pakan dengan sistem tersebut dilakukan pada pagi hingga siang hari sekitar pukul 10.00-12.00 WIB atau pada siang hari hingga sore sekitar pukul 14.00-16.00 WIB. Permasalahan pada ternak kambing adalah ketersediaan pakan tergantung musim dan bersifat. Pemberian pakan dengan memanfaatkan potensi hijauan seadanya dari lahan akan mengakibatkan

Buletin BPTP Aceh iu 64 pertumbuhan ternak kambing menjadi

terhambat, terutama pada musim kemarau yang potensi hijauan sangat sulit untuk ditemui sehingga kondisi ini tidak sesuai dalam menuju manajemen pemberian pakan yang diharapkan.

Teknik pemberian pakan sebelum disajikan, sebaiknya sudah melayukan pakan di bawah sinar matahari sehingga kadar air dapat diturunkan dengan tujuan untuk mencegah terjadinya kembung (bloat). Hasil penelitian Blood dkk., (1983) yang menyatakan bahwa faktor pakan yang dapat menyebabkan kembung adalah hijauan jenis kacang-kacangan (leguminosae), hijauan yang dipanen sebelum berbunga dan hijauan yang dipanen sesudah turunnya hujan.

Nilai Nutrisi Dari Pengolahan

Fermentasi merupakan salah satu metode untuk meningkatkan nilai nutrisi yang sesuai dengan karakteristik karena prosesnya relatif mudah serta hasilnya bersifat palatable sehingga lebih mudah diberikan pada ternak ruminansia (Liu dkk.,2015). Hasil penelitian Iglesias dkk., (2014) fermentasi merupakan proses yang memanfaatkan mikroba dengan tujuan merubah substrat menjadi produk tertentu seperti yang diharapkan. Chiltonet dkk.,(2015) melaporkan definisi pakan fermentasi adalah pakan yang diberi perlakuan dengan penambahan mikroorganisme atau enzim sehingga terjadi perubahan biokimiawi dan selanjutnya akan mengakibatkan perubahan yang signifikan pada pakan. Penambahan substrat fermentasi baik secara langsung maupun tidak langsung merupakan salah satu metode yang dapat dilakukan guna meningkatkan kualitas hasil fermentasi (Zhang dkk.,2010; Malik dkk.,2015). Fermentasi mikroba juga dapat meningkatkan palatabilitas, asupan pakan dan kinerja ternak (Colombatto dkk.,2007; Gado dkk.,2011).

Silase merupakan hijauan yang diawetkan dengan cara fermentasi dalam kondisi kadar air yang tinggi (40-80%).

Keunggulannya adalah pakan tahan lama, tidak memerlukan proses pengeringan, meminimalkan kerusakan zat makanan/gizi akibat pemanasan serta mengandung asam-asam organik yang berfungsi menjaga keseimbangan populasi mikroorganisme pada rumen. Konsep teknologi silase yang

dikembangkan selama ini masih bersifat silase tunggal (single silage) dengan menggunakan satu jenis hijauan, beberapa penelitian tentang pengembangan teknologi silase sudah banyak diterapkan mulai dari penggunaan berbagai mikroorganisme dan silase komplit yaitu menggunakan silase dengan berbagai campuran hijauan baik rumput dan legume.

Berbeda dengan silase tunggal, silase komplit memiliki beberapa keunggulan sebagai berikut: 1) lebih mudah dalam pembuatannya, 2) kandungan gizi yang dihasilkan lebih tinggi dapat memenuhi 70-90 persen kebutuhan gizi ternak kambing 3) Memiliki sifat organoleptis (bau harum, asam) sehingga lebih disukai ternak (palatable).

Proses pembuatan silase harus memerhatikan pelayuan dan kadar tetes.

Pelayuan yang baik (kadar air hijauan ± 60) penggunaan aditif tetes dengan level 1–3

dapat mempertahankan karakteristik dan kandungan nutrien silase rumput (Hidayat, 2014). Silase memiliki bau asam karena pada proses pembuatannya melibatkan bakteri anaerob yang menghasilkan asam organik (Herlinae dkk., 2015). Menurut penelitian Chalisty (2017) penggunaan silase total campuran hijauan yang terdiri dari jerami padi (48,5%), jerami jagung (36,5%), rumput raja (5%), Gamal (5%), dan jerami kacang tanah (5%) dengan ditambahkan beberapa mikroorganisme asam laktat dihasilkan kualitas Uji kualitas fisik menunjukkan warna hijau kekuningan, bau asam, tekstur padat, dan keberadaan jamur sedikit/tidak ada jamur.

Pemanfaatan teknologi pengolahan pakan, dengan teknologi amoniase dapat meningkatkan kualitas jerami padi yang akan diberikan pada ternak (Susilo dan Pratama, 2002). Amoniase adalah salah satu perlakuan kimia terhadap limbah pertanian, seperti jerami padi kering dengan cara menambahkan bahan kimia berupa NaOH atau urea (Suyitno, 2016). Adapun fungsi urea adalah untuk meningkatkan daya konsumsi dan kandungan nitrogen. Urea mampu meningkatkan protein kasar ransum karena urea mengandung sekitar 45% nitrogen atau equivalen dengan 284% protein kasar. Penambahan urea sebanyak 0,99% dalam ransum mampu meningkatkan kadar protein kasar ransum dari 15,99% menjadi 17,85% (Puastuti dan Mathius, 2008)Prinsip amoniase adalah pemutusan ikatan lignin dengan

Buletin BPTP Aceh

Buletin BPTP Aceh 65

selulosa/hemiselulosa melalui perlakuan dengan bahan kimia yang bersifat alkalis (Klopfenstein, 2018). Amoniase ini berrtujuan meningkatkan kecernaan dengan melonggarkan ikatan lignoselulosa sehinga karbohidrat menjadi mudah dicerna mikroba rumen dan meningkatkan palatabilitas pakan (Ilham dkk, 2018). Mikrobia rumen dapat mencerna serat pakan, memanfaatkan nitrogen non protein dan menjadi sumber protein bagi induk semang (Achmadi, 2012).

Ammoniasi dapat melarutkan hemiselulosa, silica dan mengurangi kandungan lignin dari dinding sel (Sheikh dkk.,2018).

Kesimpulan

Tantangan utama saat ini dalam usaha peternakan ruminansia adalah upaya untuk menekan biaya pakan serta peningkatan kualitas produk. Berbagai metode pengolahan secara fisik dan mekanik secara tradisional telah banyak dilakukan di wilayah peternakan tingkat pedesaan, meskipun masih dalam skala kecil karena mudah dilakukan dan hanya membutuhkan biaya yang ringan dengan harapan dapat meningkatkan nilai gizi pakan, khususnya ternak kambing.

Daftar Pustaka

Achmadi, J. 2012. Aspek Komparatif Nutrisi Ternak Monogastrik dan Ruminansia.

Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.

Bello, F.A., Inyang, U.E., & Umoh, A.P. 2017.

Effect of Alkaline Steeping on the Nutritional, Antinutritional and Functional Properties of Malted Millet (Pennisetum glaucum) Flour. Int. J.

Innovative Food, Nut. & Sust. Agric, 5(3), 17-23.

Blood, D.C., Henderson, J.A. dan Radostitis, O.M. 1983. Veterinary Medicine 6th. e Bailliere Tindall ang Cox, London.

Chalisty, V.D., R.U. Utomo, dan Z. Bachrudin.

2017. The effect of molasses, Lactobacillus plantarum, Trichoderma virideae, and its mixtures additionon the quality of total mixed forage silage.Buletin Peternakan. 41 (4): 431-438, ISSN-0126-4400 E-ISSN-2407-876X.

DOI:

Colombatto, D., F.L. Moulda, M.K. Bhat dan E.

Owena. 2007. Influence of exogenous fibrolytic enzyme level and incubation pH on the in vitro ruminal fermentation of

2019. Teknologi Silase Komplit Sebagai Pakan Kambing Pada Kelompok Ternak Rezeki di Desa Segaran kecamatan Pagedangan kabupaten Malang. Buletin Udayana Mengabdi. 18 (2). 128- 135.

Duodu, C.P., Adjei-Boateng, D., Edziyie, R E., Agbo, N. W., Owusu-Boateng, G., Larsen, B. K., & Skov, P. V. 2018. Processing techniques of selected oilseed by-products of potential use in animal feed: Effects on proximate nutrient composition, amino acid profile and antinutrients. Animal Nutrition, 4(4), 442-451.

https://doi.org/10.1016/j.aninu.2018.05.00 7.

Erniasih, I., Saraswati, T.R. 2006.

Penambahan Limbah Padat Kunyit (Curcuma Domestica) pada Ransum Ayam dan Pengaruhnya terhadap Status Darah dan Hepar Ayam (Gallussp.).

Buletin Anatomi dan Fisiologi. XIV(2): 1–

6.

Farida, Y., H. Sasongko, Sugiyarto. 2018.

Pemanfaatan Tanaman Lokal sebagai Pakan Ternak Fermentasi dan Suplemen Pakan di Desa Sendang, Kabupaten Wonogiri. Agrokreatif, Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat. ISSN 2460-8572, EISSN 2461-095X. 4 (1):

6167.

Gado, H.M., A.Z.M. Salem, N.E. Odongo dan B.E. Borhami. 2011. Influence of exogenous enzymes ensiled with orange

Buletin BPTP Aceh iu 66

Herlinae, Yemima, Rumiasih, 2015. Pengaruh Aditif EM4 dan Gula Merah Terhadap Karakteristik Silase Rumput Gajah (Pennisetum purpureum). Jurnal Ilmu Hewani Tropika. 4(1): 27–30.

Hidayat, N. 2014. Karakteristik dan Kualitas Silase Rumput Raja Menggunakan Berbagai Sumber dan Tingkat Penambahan Karbohidrat Fermentable.

Jurnal Agripet. 14(1): 42–

49.https://doi.org/10.17969/agripet.v14i1.

1204.

Huda, A.N., Mashudi, Y. Nuningtyas, P. H.

Ndaru, R. M. Aprilia dan D. N. Edi. 2020.

Introduksi Teknologi Tepat Guna Untuk Meningkatkan Kualitas Pakan Kambing Lokal Di Desa Margomulyo, Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar. Jurnal Nutrisi Ternak Tropis. DOI:

10.21776/ub.jnt.2020.003.01.2 3 (1). Pp : 7-13.

Iglesias, A., A. Pascoal, A. B.Choupina, C. A.

Carvalho, X. Feás dan L. M. Estevinho.

2014. Developments in the Fermentation Process and Quality Improvement Strategies for Mead Production.

Molecules 19: 12577-12590.

doi:10.3390/molecules190812577.

Ilham, F., Sayuti, M., & Nugroho, T. A. E.

2018. Peningkatan Kualitas Jerami Padi Sebagai Pakan Sapi Potong Melalui Amoniasi Mengunakan Urea Di Desa Timbuolo Tengah Provinsi Gorontalo.

Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 24(2), 717-722.

Ketaren, P.P. 2010. Kebutuhan nutrien ternak unggas di Indonesia. Wartazoa. 20 (4):

172–180.

Kushartono, B., dan Iriani, N. 2004.

Inventarisasi Keanekaragaman Pakan Hijauan Guna Mendukung Sumber Pakan Ruminansia. Prosiding Temu

Teknis Nasional Tenaga Fungsional Pertanian 2004. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Hal. 66-71.

Klopfenstein, T. 2018. Increasing the nutritive value of crop residues by chemical treatment. In Upgrading residues andby-products for animals (pp. 39-60). CRC Press.Prabowo, A., Van Eys, J. E.

Liu, J., X. Liu, J. Ren, H. Zhao,X. Yuan,X.

Wang, Z. M. S. Abdelfattah dan Z, Cui.

2015. The effects of fermentation and adsorption using lactic acid bacteriaculture broth on the feed quality of rice straw. Journal of Integrative

Agriculture 14(3):

503-

Murdjito,G., I.G.S. Budisatria, Panjono, N.

Ngadiyono dan E. Baliarti. 2011. difermentasi dengan kapang Phanerochaeta chrysosporiumsebagai pengganti hijauan dalam ransum ternak kambing. Agrinak. 2:6-10.

Puastuti, W. dan I.W. Mathius. 2008. Respon domba jantan muda pada berbagai tingkat substitusi hidrolisat bulu ayam dalam ransum. JITV 13(2): 95 –102.

Buletin BPTP Aceh

Buletin BPTP Aceh 67

Purbowati, E., Rahmawati, I. dan Rianto, E.

2015. Jenis hijauan pakan dan kecukupan nutrien kambing Jawarandu di Kabupaten Brebes Jawa Tengah.

Pastura5(1): 10-14.

Riswandi dan R. A. Muslima. 2019.

Manajemen Pemberian Pakan Ternak Kambing di Desa Sukamulya Kecamatan Indralaya Utara Kabupaten Ogan Ilir.

ISSN 2303 –1093. Jurnal Peternakan Sriwijaya, 7, (2), pp.24-32.

Rostini,T. 2014. Differences in chemical composition and nutrient quality of swamp forage ensiled. International Journal of Biosciences. 5 (12): 145-151.

Sheikh, G.G., A.M. Ganai, P.A. Reshi, S. Bilal andS.Mir.2018. Improved Paddy Straw as Ruminant Feed: A Review. JOJ scin.1(1):

1-8.

Susila, T.G.O dan I.B.G Pratama. 2002.

Penggunaan nitrogen pada sapi bali penggemukan yang diberi ransum berbasis jerami padi dengan amoniasi urea dan suplemnetasi mineral. Majalah Ilmiah Peternakan, 8(1); 5-15.

Suyitno, M. 2006. Amoniasi Jerami Padi Kering Sebagai Pakan alternatif Ternak Sapi Pada Musim Kemarau di Kabupaten Gunung kidul. Pelita-Jurnal Penelitian Mahasiswa UNY, 1(2): 29-35.

Yanuartono, A. Nururrozi, S. Indarjulianto, H.

Purnamaningsih, S. Raharjo. 2019.

Metode tradisional pengolahan bahan pakan untuk menurunkan kandungan faktor antinutrisi: review singkat. Jurnal Ilmu Ternak, 19(2):97-107. p-ISSN 1410-5659 e-ISSN 2621-5144. Published by Fakultas Peternakan UNPAD. Unpad Press.

DOI:10.24198/jit.v19i2.23974.Available online at http://jurnal.unpad.ac.id/jurnal ilmu ternak.

Zhang, J.G., H.Kawamoto dan Y.M. Cai. 2010.

Relationships between the addition ratesof cellulase or glucose and silage fermentation at different temperatures.

Animal Science Journal. 81(3):325-330.10.1111/j.1740-0929.2010.00745.x.

Buletin BPTP Aceh iu 68 MENILIK POTENSI LAMTORO

UNTUK PAKAN SAPI