• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA KAJIAN PUSTAKA

TEMUAN DAN PEMBAHASAN A. Temuan

5. Pemanfaatan Tunjangan Profesi Guru

Pemanfaatan tunjangan sertifikasi sedikit memberikan kontribusi terhadap kinerja guru, hal ini dipengaruhi sebagian besar responden memanfaatkan tunjangan sertifikasi untuk kepentingan pribadi seperti menunaikan ibadah haji, membeli busana, tas, atau sepatu, membeli perhiasan, dan untuk kepentingan keluarga seperti membeli atau kredit kendaraan bermotor, membeli/kredit/ renovasi rumah, atau membeli prabot rumah tangga. Pemanfaatan tunjangan sertifikasi untuk kepentingan pribadi dan kepentingan keluarga tidak berdampak pada kinerja guru. Hal ini dimaklumi adanya, karena kalau merujuk pada teori hirarki kebutuhan Abraham Maslow, rata-rata tingkat kebutuhan komponen masyarakat di Negara berkembang seperti Indonesia sebagian besar masih pada taraf kebutuhan fisiologis atau kebutuhan dasar yaitu kebutuhan berupa kelengkapan pangan dan sandang dan pada taraf kebutuhan pada rasa aman, belum pada tingkat kebutuhan aktualisasi diri. Berdasarkan hasil wawancara dan hasil angket kinerja dari aspek pengembangan profesi, maka dapat dikatakan bahwa tujuan program tunjangan profesi guru untuk pengembangan profesi belum tercapai.

Pemanfaatan tunjangan sertifikasi untuk peningkatan profesi seperti melanjutkan pendidikan ke strata berikutnya, melakukan penelitian, mengikuti kursus komputer atau bahasa, dan untuk kepentingan sarana pembelajaran seperti membeli komputer, berlangganan sarana internet, membeli buku/literatur, atau membeli kamera atau media visual, memberikan dampak yang signifikan terhadap kinerja guru. Pemanfaatan tunjangan sertifikasi untuk peningkatan profesi dan pemenuhan fasilitas sarana belajar mengajar memang sudah sesuai dengan salah satu tujuan sertifikasi guru yaitu meningkatkan kompetensi guru dan kesejahteraan guru. Sertifikasi guru merupakan upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu guru sehingga pembelajaran di sekolah juga akan berkualitas. Dengan asumsi, peningkatan mutu guru akan dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan guru sehingga diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan mutu pendidikan secara berkelanjutan.

Peningkatan kesejahteraan guru dalam bentuk tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok bagi guru yang telah memiliki sertifikat pendidik, bertujuan untuk menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan, meningkatkan martabat guru, dan meningkatkan profesionalisme guru (Shoimin, 2013: 79). Pemanfaatan tunjangan sertifikasi guru sebagian besar masih digunakan untuk kepentingan pribadi dan kepentingan keluarga, hal ini diungkapkan oleh bapak H. Muslim (Ketua FKMI Jakarta Barat), bahwa sertifikasi guru belum

sesuai harapan terutama peningkatan kompetensinya, guru belum memperlihatkan peningkatan pembelajaran pada satuan pendidikan secara umum. Hal senada dikemukakan oleh Bapak Ghofur (Ketua KKMI Kec. Kembangan) bahwa dampak secara umum sertifikasi biasa-biasa saja, sepertinya tidak ada perubahan terhadap kompetensi guru baik kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional maupun kompetensi sosial. Jelas yang nyata berdampak adalah pada kesejahteraan guru yang sudah mendapat sertifikasi yaitu sudah bisa memaksimalkan transportasi dari tempat tinggal ke sekolah/madrasah, juga media atau perangkat pengajaran sudah bisa terpenuhi seperti notebook atau laptop. Berikutnya juga disampaikan Kepala Madrasah Ibtidaiyah Kebon Jeruk bahwa dampak sertifikasi yang nyata adalah hanya dari kesejahteraan guru sehingga bisa memenuhi kebutuhan pendukung pengajaran seperti membeli smartphone sebagai alat media komunikasi dan dapat juga digunakan untuk mengakses informasi-informasi mengenai dunia pendidikan termasuk perkembangan pendidikan baik dalam aspek regulasi-regulasi terbaru tentang pendidikan, metode-metode pembelajaran, strategi-strategi pembelajaran maupun hal-hal yang berhubungan dengan pendekatan yang dilakukan kepada peserta didik untuk meningkatkan motivasi belajar.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis kuantitatif terhadap data kuesioner dan hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa kinerja guru MI Bersertifikat baik dilihat secara keseluruhan maupun dilihat dari indikator perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, penilaian dan evaluasi pembelajaran, serta pengembangan profesi, rta-rata masih berada pada klasifikasi kinerja sedang (37,8%), sedangkan motivasi kerja guru MI Bersertifikat rata-rata berada di klasifikasi sedang (71,4% ). Berdasarkan hasil data kualitatif terhadap hasil kuesioner terbuka dan data hasil wawancara dapat ditarik kesimpulan kinerja guru MI Bersertifikat belum mencapai kinerja yang tinggi walaupun memiliki klasifikasi motivasi kerja yang tinggi sebesar 23,8%. Motivasi yang tinggi tanpa dibarengi dengan action atau kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan kinerja guru tetap akan menghasilkan kinerja rendah atau belum mencapai standar kinerja.

Faktor pendukung yang terpenting adalah motivasi atau dorongan untuk maju dan terus berbuat lebih baik, adanya KKG yang merupakan organisasi sebagai wadah solusi untuk para guru dalam permasalahan pembelajaran, adanya pelatihan yang berkelanjutan terkait dengan kompetensi guru untuk mewujudkan kinerja guru yang optimal. Pemanfaatan tunjangan profesi guru sebagian besar masih pada taraf pemenuhan kebutuhan fisiologis atau kebutuhan dasar yaitu kebutuhan berupa kelengkapan pangan dan sandang dan pada taraf kebutuhan pada rasa aman, belum pada tingkat kebutuhan aktualisasi diri.

B. Implikasi

Ada empat hal yang peneliti paparkan dalam tulisan ini sebagai masukan hasil penelitian sebagai berikut: (1) Penelitian tentang guru MI bersertifikat tersebut, diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dan pemikiran bagi pendidik dan calon pendidik. Menjadi profesional adalah cita-cita yang tinggi dalam rangka memotivasi diri untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka melalui hasil penelitian ini disampaikan kepada penanggungjawab pendidikan di Kementerian Agama, khususnya dibidang Pendidikan Madrasah Kota Jakarta Barat, hendaknya profesionalitas guru senantiasa diwujudkan, dijaga dan dikembangkan, (2) perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, penilaian pembelajaran serta pengembangan profesi yang dilakukan oleh guru akan lebih baik apabila tetap ada kontrol dari Pengawas madrasah untuk tetap memberi pengawasan berupa pembinaan secara terus menerus untuk kinerja guru ke arah optimal, (3) proses pencairan pemberkasan dibuat lebih sederhana agar para guru tidak tersita waktu dalam mengajar, (4) Adanya aturan dalam pemanfaatan tunjangan profesi guru agar penggunaan tunjangan profesi guru lebih ke arah pengembangan kualitas pendidik.

C. Saran

Berdasarkan temuan hasil penleitian di atas maka dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut:

1. Bagi Kepala madrasah:

a) Terus memotivasi guru untuk selalu menjaga martabatnya, dengan rajin membaca, melakukan penelitian ilmiah dan mengikuti kegiatan ilmiah; b) mengadakan pembinaan secara intensif agar kompetensi guru meningkat, terutama pada kemampuan guru mengatur waktu pembelajaran di kelas, penguasaan keterampilan bertanya dan pengembangan alat penilaian yang sesuai dengan tujuan pembelajaran,

c) memfasilitasi dan memberi kesempatan pada guru agar dapat memajukan profesinya dengan cara mengikutkan guru pada kegiatan-kegiatan pelatihan karya tulis ilmiah,

d) menciptakan kondisi agar guru berani mengungkapkan permasalahan pembelajaran yang dialaminya, sehingga guru mampu meningkatkan mutu pembelajarannya, dan

e) mendorong guru untuk selalu bekerja secara profesional sehingga pelayanan pendidikan bermutu di madrasah senantiasa meningkat.

2. Bagi Guru:

a) selalu menambah dan memperluas ilmu, wawasan dan keterampilanya dengan rajin membaca, melakukan penelitian ilmiah, mengikuti kegiatan ilmiah dan kegiatan keilmuan lainnya;

b) terus meningkatkan kemampuan pengelolaan kelas terutama mengatur waktu pembelajaran di kelas, keterampilan bertanya dan mengembangkan alat penilaian yang sesuai dengan tujuan pembelajaran;

c) aktif mengikuti pelatihan penulisan karya tulis ilmiah, agar mampu melakukan penelitian ilmiah dan dapat mengkomunikasikan hasil penelitian yang dilakukan melalui forum-forum ilmiah maupun jurnal profesi;

d) proaktif menyampaikan permasalahan pembelajaran yang dialami, sehingga kepala madrasah dapat memberikan supervisi klinis yang tepat; e) peningkatkan profesionalitas dalam bekerja, sehingga selalu dapat memberikan pelayanan pendidikan bermutu di madrasah.

f) Guru-guru yang sudah sertifikasi dan sudah menerima dan merasakan tunjangan profesi yaitu meningkatkan kualifikasi akademis melalui pendidikan lanjutan atau pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, lebih intensif dalam mengeksplorasi model-model pembelajaran yang sifatnya inovatif, memanfaatkan media dalam pembelajaran, serta partisipasi dalam forum-forum pendidikan.

3. Bagi Madrasah

Saran untuk madrasah yaitu mengupayakan fasilitas sesuai dengan kebutuhan minimum proses pembelajaran (standar minimal), pemberdayaan kelompok kerja guru (KKG) semaksimal mungkin. Aktif dalam

mengikutsertakan para guru untuk mengikuti seminar pendidikan atau workshop yang terkait dengan pembelajaran.

4. Kementerian Agama Bidang Pendidikan

Saran untuk instansi terkait yaitu kementerian agama di bidang pendidikan madrasah adalah Penguatan dan peningkatan kualifikasi akademik melalui jalur perkuliahan maupun peningkatan kompetensi guru dan tenaga kependidikan melalui program-program diklat, kursus, workshop terus dilakukan. Program sertifikasi, berbagai ajang kompetisi antar Guru dan tenaga kependidikan, serta pemberian award kepada Guru dan tenaga kependidikan berprestasi dari tingkat daerah hingga nasional terus digalakkan untuk memotivasi dan mendongkrak kinerja guru-guru. Menciptakan iklim yang dapat mendorong berkembangnya profesionalisme guru dengan memfasilitasi berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan, mengupayakan pemenuhan standar minimal pendidikan.

Dokumen terkait