• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV DATA PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

2. Pemaparan Data Siklus II

a. Tahap Perencanaan

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan ini adalah:

1. Membuat skenario pembelajaran berdasarkan metode partisipatori untuk pertemuan pertama sampai pertemuan ketiga. Dimana skenario pembelajaran ini sedikit berbeda dengan siklus I yakni penggunaan alat peraga lebih ditekankan untuk menghindari kegaduhan di kelas serta komunikasi antara guru dan siswa lebih lancar sehingga materi lebih mudah dipahami dan dapat meningkatkan hasil belajar yang diperoleh.

2. Mempersiapkan lembar observasi untuk mencatat aktivitas dan perubahan tingkah laku siswa selama belajar mengajar berlangsung pada pelaksanaan tindakan siklus II.

32

3. Mempersiapkan lembar kerja siswa (LKS) yang dikerjakan secara individu pada setiap pertemuan.

4. Mempersiapkan alat evalusi berupa soal tes siklus II.

5. Mempersiapkan lembar jawaban yang akan digunakan siswa untuk menjawab soal tes siklus II.

b. Tahap Pelaksanaan Tindakan

B. Pembahasan

1. Pembahasan Siklus I Pertemuan I

Pada pertemuan pertama ini dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 19 Agustus 2014 dengan materi yang akan dibahas adalah menjelaskan pengertian wacana dan jenis-jenis wacana

Pada kegiatan awal, guru membuka pelajaran, memotivasi siswa dan menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, mengecek kehadiran siswa, menyampaikan judul materi pokok pembahasan, dan menjelaskan sambil memberikan motivasi belajar, mengingatkan kembali tentang materi dengan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, pada kegiatan inti guru menyajikan informasi tentang materi yang akan diajarkan, guru memberikan permasalahan berupa LKS kepada siswa, guru membimbing pelatihan kepada siswa sampai benar-benar menguasai konsep yang dipelajari. Sebelum mengakhiri kegiatan pembelajaran pada pertemuan ini siswa dan guru bersama-sama menyimpulkan/merangkum materi yang telah dibahas dan guru mengingatkan

33

kepada siswa untuk mempelajari materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya.

Pertemuan II

Pertemuan kedua ini dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 21 Agustus 2014 dengan materi yang dibahas adalah menjelaskan jenis-jenis wacana dan contoh dari setiap jenis-jenis wacana. Secara umum, langkah-langkah kegiatan yang dilakukan pada pertemuan kedua hampir sama dengan kegiatan pertemuan sebelumnya, karena mengacu pada langkah-langkah kegiatan yang telah direncanakan pada RPP dengan penerapan metode partisipatori.

Hal-hal yang lebih khusus pada pertemuan kedua antara lain:

a. Siswa mengingat kembali materi yang dibahas pada pertemuan I dan guru menyampaikan hasil LKS pertemuan lalu guna memotivasi siswa untuk lanjut ke pembahasan berikutnya.

b. Kegiatan pembelajaran mengacu pada RPP, dan LKS.

Pertemuan III

Pertemuan ketiga ini dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 22 Agustus 2014 dengan pembahasan mengungkapkan kembali isi wacana dengan menggunakan kata-kata sendiri.

Pertemuan III ini pada dasarnya hampir sama dengan pertemuan I dan II, hanya saja nilai dari tugas yang dikerjakan siswa masih berada pada kategori rendah dan sedang hal ini disebabkan karena mereka masih malu bertanya pada

34

guru sehingga mempengaruhi nilai mereka. Oleh karena itu, guru melakukan perbaikan berupa menjalin keakraban yang lebih pada siswa.

Pertemuan IV

Pada pertemuan keempat ini dilakukan tes siklus I untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa memahami isi wacana tanpa menggunakan teks rumpang dalam belajar bahasa Indonesia dengan alokasi waktu yang digunakan sama dengan pembelajaran biasanya yaitu selama 2 jam pelajaran (2 x 40 menit).

a. Tahap Observasi dan Evaluasi.

Pada siklus I tercatat aktivitas siswa yang terjadi selama proses pembelajaran berlangsung. Aktivitas tersebut diperoleh dari lembar observasi yang dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 4.1 Hasil Observasi Aktivitas Siswa pada Siklus 1

No Komponen yang Diamati Siklus I Persentase I II III IV (%)

1 Siswa yang hadir pada saat

proses pembelajaran berlangsung 31 31 32 T E

Siswa yang mendengarkan atau memperhatikan penjelasan guru pada saat proses pembelajaran berlangsung

22 25 24 73,95

3

Siswa yang mengajukan

pertanyaan kepada guru pada saat proses pembelajaran berlangsung

9 10 13 33,33

4

Siswa yang menjawab pertanyaan, baik dari guru maupun dari siswa lain pada saat proses pembelajaran berlangsung

8 6 11 29,16

5 Siswa yang aktif mengerjakan

LKS 23 26 22 71,87

35

6

Siswa yang melakukan kegiatan lain (ribut, bermain, tidur dll) pada saat proses pembelajaran berlangsung

12 11 10 I 34,37

Sumber: diolah dari lampiran VI

Berdasarkan tabel 4.1 di atas bahwa terdapat beberapa komponen yang diamati dalam mengobservasi aktivitas siswa pada Siklus I diantaranya:

1. Siswa yang hadir pada saat proses pembelajaran berlangsung di pertemuan I siklus I berjumlah 31 siswa, pertemuan II siklus I berjumlah 31 siswa, pertemuan III siklus I berjumlah 32 siswa dan persentase keseluruhannya adalah 97,92

2. Siswa yang mendengarkan atau memperhatikan penjelasan guru pada saat proses pembelajaran berlangsung di pertemuan I siklus I berjumlah 22 siswa, pertemuan II siklus I berjumlah 25 siswa, pertemuan III siklus I berjumlah 24 siswa dan persentase keseluruhannya adalah 73,95%.

3. Siswa yang mengajukan pertanyaan kepada guru pada saat proses pembelajaran berlangsung di pertemuan I siklus I berjumlah 9 siswa, pertemuan II siklus I berjumlah 10 siswa, pertemuan III siklus I berjumlah 13 siswa dan persentase keseluruhannya adalah 33,33%.

4. Siswa yang menjawab pertanyaan, baik dari guru maupun dari siswa lain pada saat proses pembelajaran berlangsung di pertemuan I siklus I berjumlah 8 siswa, pertemuan II siklus I berjumlah 6 siswa, pertemuan III siklus I berjumlah 11 siswa dan persentase keseluruhannya adalah 29,16%.

36

5. Siswa yang aktif mengerjakan LKS di pertemuan I siklus I berjumlah 23 siswa, pertemuan II siklus I berjumlah 26 siswa, pertemuan III siklus I berjumlah 22 siswa dan persentase keseluruhannya adalah 71,87%.

6. Siswa yang melakukan kegiatan lain (ribut, bermain, tidur dll) pada saat proses pembelajaran berlangsung di pertemuan I siklus I berjumlah 12 siswa, pertemuan II siklus I berjumlah 11 siswa, pertemuan III siklus I berjumlah 710siswa dan persentase keseluruhannya adalah 34,37%.

Selanjutnya, pada Siklus I ini dilaksanakan tes hasil belajar setelah penyajian materi selama 3 kali pertemuan. Adapun stasistik skor hasil belajar bahasa Indonesia pada Siklus 1 dapat dilihat pada Tabel 4.2 berikut:

Tabel 4.2 Statistik Skor Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siklus I

No Statistik Nilai

Sumber: diolah dari lampiran IV

Berdasarkan tabel 4.2 di atas bahwa subjek yang diteliti adalah 32, skor ideal yang diharapkan adalah 100, skor maksimum yang dicapai adalah 75, skor minimum yang dicapai adalah 50, rentang skornya adalah 25, skor rata-rata yang telah dicapai adalah 63,43 dan standar deviasinya adalah 8,92

Jika skor hasil belajar bahasa Indonesia pada Siklus I di kelompokkan ke dalam lima kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase skor seperti disajikan pada Tabel 4.3 berikut:

37

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siklus I

Sumber: Diolah dari Lampiran III

Berdasarkan tabel 4.3, di atas dapat dinyatakan bahwa dari 32 siswa yang menjadi subjek penelitian, 6 siswa yang berada pada kategori sangat rendah, 7 siswa yang berada pada kategori rendah, 19 siswa yang berada pada kategori sedang, 0 siswa yang berada pada kategori tinggi, dan 0 siswa yang berada pada kategori sangat tinggi.

Apabila hasil belajar pada Siklus I dianalisis, maka persentase ketuntasan belajar siswa pada siklus I dapat dilihat pada Tabel 4.4 berikut:

Tabel 4.4 Deskripsi Ketuntasan Belajar Bahasa Indonesia Siklus I

Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)

0 – 69

Sumber: diolah dari lampiran IV

Berdasarkan tabel 4.4 di atas bahwa siswa yang berada pada kategori tidak tuntas sebanyak 21 siswa dengan persentase 65,62%, sedangkan siswa yang berada pada kategori tuntas sebanyak 11 siswa dengan persentase 34,37%.

Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)

0 – 54

38

b. Refleksi

a) Umumnya siswa menunjukkan antusias belajar yang positif, seperti menanggapi pertanyaan, keberanian mengajukan pertanyaan atau tanggapan pada guru, dan keinginan untuk menyelesaikan LKS. Namun karena siswa belum terbiasa dengan tindakan yang diberikan maka kelas menjadi agak gaduh sehingga pengelolaan kelas lebih ditekankan pada siklus II.

b) Masih ada beberapa siswa yang sulit dalam menyelesaikan LKS berkomunikasi dengan teman kelompoknya. Untuk itu guru harus membimbing siswa tersebut.

c) Dari hasil tes siklus 1, masih terdapat beberapa siswa yang mendapatkan nilai dibawah KKM. Hal ini disebabkan karena dalam kegiatan pembelajaran selama 3 pertemuan sebelumnya, beberapa siswa tersebut kurang aktif dalam pembelajaran, tidak memperhatikan penjelasan, dan tidak hadir dalam beberapa pertemuan.

c. Keputusan

Hasil belajar siswa pada Siklus I belum mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan yaitu tuntas individu jika memperoleh skor rata-rata 65 ke atas, sehingga pelaksanaan tindakan masih dilanjutkan pada Siklus II dengan berbagai perbaikan berdasarkan pada refleksi pada Siklus I.

2. Pembahasan Siklus II Pertemuan I

Pertemuan pertama pada siklus II ini dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 28 Agustus 2014 dengan materi yang akan dibahas adalah mampu

39

membedakan jenis-jenis wacana. Secara umum, langkah-langkah kegiatan yang dilakukan pada siklus II hampir sama dengan kegiatan siklus sebelumnya, karena mengacu pada langkah-langkah kegiatan yang telah direncanakan pada RPP dengan penerapan metode partisipatori. Hal-hal yang lebih khusus pada siklus kedua ini adalah guru lebih sering mendatangi siswa yang selalu malu dan enggan bertanya ataupun menjawab pertanyaan.

Pertemuan II

Pertemuan kedua pada Siklus II ini dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 29 Agustus 2014 dengan materi yang akan dibahas adalah membuat karangan wacana berdasarkan jenis-jenisnya

Pada pertemuan kedua siklus II ini, motivasi dan minat siswa untuk belajar bahasa Indonesia mulai meningkat. Hal ini ditandai dengan bertambahnya jumlah siswa yang aktif dalam mengajukan pertanyaan, semakin banyak siswa yang menjawab pertanyaan dan meningkatnya jumlah siswa yang mengerjakan.

Lembar Kegiatan Siswa (LKS). Hal ini menandakan bahwa siswa mulai mempunyai kesungguhan dalam belajar bahasa Indonesia.

Pertemuan III

Pada siklus II ini, siswa sudah dapat mengerjakan soal-soal bahasa Indonesia dalam tes siklus II berupa wacana dengan teks rumpang. Selain itu terlihat keseriusan siswa dalam memperhatikan pelajaran dan mengerjakan soal-soal yang diberikan. Hasil belajar mereka dengan penerapan metode partisipatori meningkat dengan skor rata-rata 76,09 Secara umum dapat dikatakan bahwa

40

seluruh kegiatan pada siklus II ini mengalami peningkatan dibanding pada siklus I. Hal ini terlihat pada kehadiran siswa meningkat, keseriusan siswa memperhatikan pelajaran, minat, sikap dan motivasi mereka juga meningkat, dan juga tingkat pemahaman lebih tinggi dengan wacana rumpang.

a. Tahap Observasi dan Evaluasi.

Pada siklus II tercatat aktivitas siswa yang terjadi selama proses pembelajaran berlangsung. Aktivitas tersebut diperoleh dari lembar observasi yang dabat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 4.5 Hasil Observasi Aktivitas Siswa pada Siklus II

N

o Komponen yang Diamati Siklus II Persentas

e (%)

I II III IV

1 Siswa yang hadir pada saat proses

pembelajaran berlangsung 32 32 31 T

E 2 Siswa yang mendengarkan atau

memperhatikan penjelasan guru pada saat proses pembelajaran berlangsung

23 26 27 79,16

3 Siswa yang mengajukan pertanyaan kepada guru pada saat proses pembelajaran berlangsung

9 12 14 36,45

4 Siswa yang menjawab pertanyaan, baik dari guru maupun dari siswa lain pada saat proses pembelajaran berlangsung

9 11 13 34,37

5 Siswa yang aktif mengerjakan LKS 23 27 29 82,29

6 Siswa yang melakukan kegiatan lain (ribut, bermain, tidur dll) pada saat proses

pembelajaran berlangsung 11 7 4 22,91

Sumber: diolah dari lampiran VII

Berdasarkan tabel 4.7 di atas bahwa terdapat beberapa komponen yang diamati dalam mengobservasi aktivitas siswa pada siklus II, diantaranya:

41

1. Siswa yang hadir pada saat proses pembelajaran berlangsung di pertemuan I siklus II berjumlah 32 siswa, pertemuan II siklus II berjumlah 32 siswa, pertmuan III siklus II berjumlah 31 siswa dan persentase keseluruhannya adalah 98,95%.

2. Siswa yang mendengarkan atau memperhatikan penjelasan guru pada saat proses pembelajaran berlangsung dipertemuan I siklus II berjumlah 23 siswa, pertemuan II siklus II berjumlah 26 siswa, pertemuan III siklus II berjumlah 27 siswa dan persentase keseluruhannya adalah 79,16%.

3. Siswa yang mengajukan pertanyaan kepada guru pada saat proses pembelajaran berlangsung di pertemuan I siklus II berjumlah 9 siswa, pertemuan II siklus II berjumlah 12 siswa, pertemuan III siklus II berjumlah 14 siswa dan persentase keseluruhannya adalah 36,45%.

4. Siswa yang menjawab pertanyaan, baik dari guru maupun dari siswa lain pada saat proses pembelajaran berlangsung di pertemuan I siklus II berjumlah 9 siswa, pertemuan II siklus II berjumlah 12 siswa, pertemuan III siklus II berjumlah 13 siswa dan persentase keseluruhannya adalah 34,37%.

5. Siswa yang aktif mengerjakan LKS di pertemuan I siklus II berjumlah 23 siswa, pertemuan II siklus II berjumlah 27 siswa, pertemuan III siklus II berjumlah 29 siswa dan persentase keseluruhannya adalah 82,29%.

6. Siswa yang melakukan kegiatan lain (ribut, bermain,tidur dll) pada saat proses pembelajaran berlangsung di pertemuan I siklus II berjumlah 11 siswa, pertemuan II siklus II berjumlah 7 siswa, pertemuan III siklus II berjumlah 4 siswa dan persentase keseluruhannya adalah 22,91%.

42

Selanjutnya, pada siklus ini juga dilaksanakan tes hasil belajar seperti pada siklus 1. Adapun data skor hasil belajar pada siklus II dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.6 Statistik Skor Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siklus II.

No Statistik Nilai

Sumber: diolah dari lampiran IV

Berdasarkan tabel 4.8 di atas bahwa subjek yang diteliti adalah 32, skor ideal yang diharapkan adalah 100, skor maksimum yang dicapai adalah 95, skor minimumnya adalah 65, rentang skornya adalah 30, skor rata-rata yang dicapai adalah 76,09 dan standar deviasinya adalah 9,73 .

Jika skor hasil belajar bahasa Indonesia tersebut di kelompokkan kedalam lima kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase seperti disajikan pada tabel 4.8 berikut:

Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi dan Persentase Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siklus II.

Skor Kategori Frekuensi Persentase (%) 0 – 54

Sumber: diolah dari lampiran III

Berdasarkan tabel 4.7 di atas dapat dinyatakan bahwa dari 32 siswa yang menjadi subjek penelitian, 0 siswa yang berada pada kategori sangat rendah, 0

43

siswa yang berada pada kategori rendah, 18 siswa yang berada pada kategori sedang, 8 siswa yang berada pada kategori tinggi, dan 6 siswa yang berada pada kategori sangat tinggi.

Apabila hasil belajar pada siklus II dianalisis, maka persentase ketuntasan belajar siswa pada siklus I dapat dilihat pada tabel 4.8 berikut:

Tabel 4.8 Deskripsi Ketuntasan Belajar Bahasa Indonesia Siklus II

Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)

0 – 69

Sumber: diolah dari lampiran IV

Berdasarkan tabel 4.10 di atas bahwa siswa yang berada pada kategori tidak tuntas berjumlah 9 siswa dengan persentase 28,12%, sedangkan siswa yang berada pada kategori tuntas berjumlah 23 siswa dengan persentase 71,87%.

b. Refleksi

Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan pemahaman isi wacana pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Tanete Rilau Kabupaten Barru melalui penerapan teknik teks rumpang menglami peningkatan, guru selaku peneliti tidak terlepas dari perhatian dan perubahan sikap siswa dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat dilihat pada lembar observasi yang dilakukan selama pelaksanaan tindakan.

Kegiatan siswa pada siklus II ini, semangat dan perhatian siswa dalam proses pembelajaran meningkat. Hal ini tampak dari perhatian siswa dalam memperhatikan materi dan siswa yang mengajukan pertanyaan. Pada saat guru memantau siswa dalam mempelajari materi pada umumnya aktif. Selain itu, siswa

44

yang melakukan kegiatan yang tidak relevan dengan pembelajaran mengalami penurunan.

Berdasarakan hasil observasi yang mempengaruhi semangat belajar meningkat, yaitu: (1) Guru memberikan penguatan dan memberikan motivasi pada siswa, (2) guru mengubah struktur dan variasi kelompok yaitu dengan memasukkan satu atau lebih tutor yang bisa membimbing teman kelompoknya agar setiap siswa mampu memahami isi wacana dengan baik, (3) guru menampilkan media yang menarik sesuai dengan konteks dan kebiasaan anak, (5) guru memberikan penilaian secara proporsional terhadap tugas yang dikerjakan oleh siswa.

45

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan

Pembelajaran dengan penerapan teknik teks rumpang dapat meningkatkan hasil belajar pemahaman isi wacana pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Tanete Rilau Kabupaten Barru. Hal ini ditunjukkan dengan terjadinya peningkatan skor rata-rata hasil belajar dari siklus I yaitu 63,43 dengan pencapaian ketuntasan belajar dari siklus I yaitu 34,37% dan meningkat pada siklus II dengan skor rata-rata hasil belajar yaitu 76,09 dengan ketuntasan belajar yaitu meningkat pada Siklus II menjadi 71,87%.

Demikian juga terjadinya perubahan aktivitas atau sikap siswa saat penerapan teknik teks rumpang dalam pembelajaran wacana yang dilihat kehadiran siswa dari siklus I yaitu 97,92% meningkat pada siklus II yaitu 98,95%, keaktifan dalam memperhatikan materi yang dijelaskan oleh guru dari siklus I yaitu 73,95% meningkat pada siklus II yaitu 79,16%, siswa yang mengajukan pertanyaan dari siklus I yaitu 33,33% meningkat pada siklus II yaitu 36,45%, siswa yang menjawab pertanyaan dari siklus I yaitu 29,16% meningkat pada siklus II yaitu 34,37%, siswa yang aktif mengerjakan LKS dari siklus I yaitu 71,87% dan meningkat pada siklus II yaitu 82,29%.

B. Saran

Hendaknya pendidik mampu menggunakan metode atau teknik sesuai dengan materi yang diajarkan, dan guru juga dituntut untuk dapat menerapkan

metode pembelajaran dengan benar. 48

69

46

Hendaknya orangtua memperhatikan pendidikan anaknya dan memberikan motivasi untuk belajar agar dapat meningkatkan prestasi anaknya sehingga apa yang diharapkan oleh orang tua dan guru dapat tercapai yakni keberhasilan siswa.

Hendaknya Pemerintah lebih memperhatikan sekolah yang betul-betul membutuhkan bantuan khususnya yang menyangkut tentang pengembangan profesionalisme guru.

47

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan, dkk. 2010. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa dan Balai Pustaka.

Anderson, Paul S, 1972 Language Skill in Elementary Education. New York:

Macmillan Publishing Co.

As-Sirjani, Raghib. 2007. Spiritual Reading: Hidup Lebih Bermakna dengan Membaca. Solo: Aqwam.

Coste, Gallisonet. 1976. Dictionnaire Didactiquedes Langues. Indonesia

Cuq. 2003. Dictionnaire de Didactique du Francais Langues Etrangere et Seconde.

Damaianti, Vismaia Sabariah. 1995. Kecendrungan Pola Sintaksis dan Semantis Wacana Ilmiah dan Wacana Sastra Terpilih Dilihat dari Segi Tingkat Keterpahamannya (Tesis). Bandung: Program Pascasarjana IKIP.

Depdikbud. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Faisal, Ismail. 1999. Pembinaan Dan Pengembangan Bahasa Indonesia.

Makassar: Unm Makassar.

Harjasujana, A.S. dan Mulyati Y. 1997. Bahan Ajar Membaca dan Keterbacaan dalam Membaca 2. Jakarta: Ditjen Dikdasmen.

... 1987. “Penyelarasan Buku dan Siswa” dalam Materi Kuliah Seminar Pengajaran Bahasa. Jakarta: P2LPTK.

Hodgson, F.M. 1960. Learning Modern Language. London Reutledge: Hegen Paul

Huda, Miftahul. 2011. Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Junus, Muhammad. 2010. Analisis Kesalahan Berbahasa. Makassar: Badan Penerbit Unm Makassar.

Kokasih. 2006. Cerdas Berbahasa Indonesia Untuk SMA/MA Kelas XII. Jakarta:

Erlangga.

Muhammad. 2009. Pembentukan kalimat Bahasa Indonesia. Makassar: Badan Penerbit Unm Makassar.

48

Maskurun. 1997. Bahasa Dan Sastra Indonesia Untuk SMA. Yogyakarta: CP21P.

Mulyati. 1995. Psikologi Belajar. Indonesia: Andi Publisher

... 1995. “Teknik Rumpang: Suatu Alternatif Metode Pengujian Keterbacaan Wacana dan Strategi Pembelajaran Membaca” dalam Media

Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia No.1. Bandung: FPBS-IKIP.

Nadeak & Djajasudarma. 1996. Bahasa dan Sastra Indonesia. Bandung: Pustaka Wina.

Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Penilaian Pengajaran Bahasa Dan Sastra Indonesia. Yogyakarta: BPFE.

Salem, Laurensius. 1999. Tingkat Keterbacaan Bahan Mulok bagi Murid SD Berdasarkan Pertimbangan Pakar dan Hasil Tes (Tesis). Bandung:

Pascasarjana UPI.

Tampubolon, DP. 2008. Kemampuan Membaca Teknik Membaca Efektif dan Efisien. Indonesia: Angkasa

Taniredja, Turikan, dkk. 2011. Model-model pembelajaran Inovatif dan Efektif.

Bandung: Alfabeta

Tarigan, Henri Guntur. 1980. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.

Bandung: Angkasa.

Tatang, Atep, dkk. 2012. Bahasa Indonesia, Bahasa Negeriku Untuk SMA/MA Kelas XI. Jakarta: Platinum.

Tim Penyusun, 2012. Pedoman Penulisaan Skripsi. Makassar: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

Wilson, Taylor. 20 November 1995. “Summary of Citing Internet Sites”.

NETTRAIN Discussion List, (Online), ([email protected], diakses 22 Nopember 1995).

Wiryodijoyo, Wuwuyono, 1989. Membaca: strategi pengantar dan tekniknya.

Jakarta: DEPDIKBUD

Lampiran I

TES SIKLUS I Materi Pelajaran : Bahasa Indonesia Pokok Bahasan : Wacana

Sekolah : SMP Negeri 1 Tanete Rilau Kabupaten Barru

 Petunjuk

1. Tulis nama lengkap dan NIS (Nomor Induk Siswa) Anda pada bagian atas!

2. Isilah titik-titik dalam wacana rumpang dengan jawaban yang benar ! Wacana Narasi

Kesialanku

Sekitar jam 11. 00 wita pekan lantas, saya baru ... dari kuliah.

Layaknya umumnya... pulang kerumah naik ojek yang berada di ...

kampusku. Kebetulan waktu itu matahari amat terik-teriknya sehingga udara panas menyelimuti ... serta lagi ditambah rasa lapar yang... tadi menghantuiku, bikin situasi waktu itu tidak mengenakkan untukku.

sDiperjalanan menuju kerumah terselip perihal lucu, nyatanya ojek yang saya ... salah jalur. Semula saya pernah kesal tetapi sesudah ia ...

untuk bertanya jalur yang benar, ia memakai logat bahasa jawa yang tidak kutahu.

Tanpa sengaja saya tertawa kecil. Tetapi saya nalar saja maksudnya yaitu menanyakan jalur yang benar. Perihal tersebut ... membuatku geli disaat terik matahari yang ... menusuk tubuhku.

Sesampainya dirumah kesialan kembali ... Nyatanya rumahku tetap terkunci, tidak seorangpun yang ada di dalam ... serta kebetulan waktu itu saya tidak membawa kunci cadangan. Kembali saya jadi amat ... waktu itu.

Selanjutnya saya menanti untuk sebagian menit sampai orang tua ku kembali. 10 menit pertama sudah berlalu, saya tetap duduk di kursi teras depan rumahku. 10 menit selanjutnya sudah jalan tanpa kusadari, lagi-lagi tidak ... orangtuaku kembali.

Sesudah hampir 40 menit saya... dengan rasa jemu. Terbesit sekilas dalam pikiranku untuk menghubungi orangtuaku. Selanjutnya saya menghubungi orangtuaku. Saya heran kenapa perihal ini tidak terpikirkan olehku sejak tadi, barangkali dikarenakan terlampau ... hingga perihal sekecil itu tidak lagi terpikirkan olehku.

Lampiran II

KUNCI JAWABAN SIKLUS I Wacana Narasi

Kesialanku

Sekitar jam 11. 00 wita pekan lantas, saya baru pulang dari kuliah.

Layaknya umumnya saya pulang kerumah naik ojek yang berada didepan kampusku. Kebetulan waktu itu matahari amat terik-teriknya hingga udara panas menyelimuti tubuhku serta lagi ditambah rasa lapar yang sejak tadi menghantuiku, bikin situasi waktu itu tidak mengenakkan untukku.a

Diperjalanan menuju kerumah terselip perihal lucu, nyatanya ojek yang saya naiki salah jalur. Semula saya pernah kesal tetapi sesudah ia bicara untuk bertanya jalur yang benar, ia memakai logat bahasa jawa yang tidak kutahu.

Diperjalanan menuju kerumah terselip perihal lucu, nyatanya ojek yang saya naiki salah jalur. Semula saya pernah kesal tetapi sesudah ia bicara untuk bertanya jalur yang benar, ia memakai logat bahasa jawa yang tidak kutahu.

Dokumen terkait