• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembagian infeksi perinatal

Dalam dokumen Makalah tentang sheborrhea datiom han (Halaman 34-48)

H. Penggolongan Obat Diare

3. Infeksi pascanatal

2.6.5 Pembagian infeksi perinatal

Infeksi pada neonatus dapat dibagi menurut berat ringannya dalam dua golongan besar, yaitu infeksi berat dan infeksi ringan.

1. Infeksi berat (major infections) : sepsis neonatal, meningitis, pneumonia, diare epidemik,pielonefritis, osteitis akut, tetanus neonatorium.

2. Infeksi ringan (minor infections) : infeksi pada kulit, oftalmia neonatorum, infeksi umbilikus (omfalitis), moniliasis.

1. Infeksi berat a. Sepsis neonatal

Gejala sepsis pada neonatus telah diterangkan pada diagnosis infeksi perinatal. Dengan menemukan gejala tersebut, apalagi dari anamnesis diketahui terdapat kemungkinan adanya infeksi antenatal atau infeksi maka tindakan yang dilakukan adalah:

1. Memberikan antibiotika spektrum luas sambil menunggu biakan darah dan uji resistensi. Antibiotika yang menjadi pilihan pertama adalah sepalosforin (sefotaksim) dengan dosis 200mg/kgbb/hari intravena dibagi dalam dua dosis, dikombinasikan dengan amikasin yang diberikan dengan dosis awal 10mg/kgbb/hari atau dengan gentamisin 6mg/kgbb/hari masing-masing dibagi dalam dua dosis. Pilihan kedua ialah ampisilin 300-400mg/kgbb/hari intravena, dibagi dalam empat dosis. Pilihan selanjutnya ialah kotrimoksazol 10mg/kgbb/hari intravena dibagi dalam dua dosis selama 3 hari, dilanjutkan dengan dosis 6mg/kgbb/hari intravena dibagi dalam dua dosis (dihitung berdasarkan dosis trimetropin). Lama pengobatan unuk sepsis neonatal ialah 14 hari. Pada pemberian antibiotika ini yang perlu diperhatikan ialah pemberian kloramfenikol pada neonatus tidak melebihi 50mg/kgbb/hari untuk mencegah terjadinya sindrom ”grey baby” dan pemberian sefalosforin serta kotrimoksazol tidak dilakukan pada bayi yang berumur kurang dari 1 minggu.

2. Pemeriksaan labolatorium rutin. 3. Biakan darah dan uji resistensi.

4. Pungsi lumbal dan biakan cairan serebrospinalis dan uji resistensi. 5. Bila ada indikasi dapat dilakukan biakan tinja dan urin.

b. Meningitis pada neonatus

Meningitis biasanya didahului oleh sepsis, karena itu pada setiap persangkaan sepsis harus dilakukan pungsi lumbal. Penilaian cairan serebrospinalis harus hati-hati, karena pada umumnya cairan serebrospinalis pada neonatus sifatnya xantokrom, pleiositik, reaksi nonne dan pandy-nya positif. Penyelidikan di RSCM Jakarta oleh Monintja dkk(1971) menunjukkan bahwa jumlah sel yang normal pada neonatus dapat mencapai 20/mm3 (60/3/mm3). Dengan demikian untuk membantu diagnosis meningitis purulenta pada neonatus jumlah sel harus lebih dari 20/mm3. Etiologi meningitis pada neonatus di RSCM

Jakarta ialah salmonella spp, terutama e.coli, pneumococcus,

staphylococcus dan streplococcus

Gejala klinis yang mungkin ditemukan ialah mula-mula terdapat gejala seperti sepsis yang kemudian dapat disertai kejang, ubun-ubun besar menonjol, kaku kuduk, opistotonis. Pada neonatus kaku kuduk tidak begitu sering ditemukan.

Diagnosis dapat ditegakkan dengan anamnesis kehamilan atau persalinan yang pertolongannya tidak asepik; kemungkinan adanya infeksi antenatal, intranatal atau pascanatal disertai gejala klinis dan hasil pemeriksaan cairan serebrospinalis.

Pengobatan yang diberikan sama dengan pengobatan sepsis neonatal, hanya berbeda dalam lama pengobatan yaitu pada meningitis antibiotika diberikan selama 21 hari. Komplikasi yang mungkin ditemukan ialah efusi subdural (keluarnya cairan kedalam bagian yang terletak diantaradurameter dan arakhnoid), ventrikulitis (radang ventrikel, khususnya ventrikel otak karena terjadinya penjalaran infeksi lebih lanjut), hidrosefalus yang merupakan komplikasi lanjutan dari efusi subdural dan ventrikulitis yang selanjutnya menimbulkan gejala sisa neorologis.

c. Pneomonia kongenital

Infeksi terjadi intrauterin karena inhalasi likuor amnion yang septik. Hal ini terjadi karena masuknya cairan amnion yang terinfeksi ke dalam paru-paru. Gejala pada waktu lahir sangat menyerupai asfiksia neonatorum, penyakit membran hialin atau perdarahan intrakranial. Kelainan ini sulit didiagnosis dengan tepat. Penting sekali mengetahui peristiwa yang terjadi pada saat kehamilan dan kelahiran, yaitu apakah ada kemungkinan infeksi. Gejala yang mungkin ditemukan ialah apneu neonatal atau gejala seperti penyakit membran hialin. Diagnosis ditegakkan setelah pemeriksaan radiologis thoraks.

Pneumonia kongenital harus dicurigai bila terdapat ketuban pecah lama, air keruh berbau dan bila terdapat kesulitan pernafasan pada saat bayi lahir. Tanda klinis pada pemeriksaan paru misalnya ronki tidak selamanya ada.

Pengobatan yang diberikan adalah resusitasi yang baik pada saat bayi baru lahir. Pemberian oksigen (30-40%)dengan kelembaban udara lebih dari 75%. Suhu tubuh dipertahankan dan harus di jaga jangan sampai terjadi hipotermia bila bayi tidak dimasukkan dalam inkubator. Diberikan antibiotika spektrum luas yaitu ampisilin 100mg/kgbb/hari intravena dikombinasikan dengan gentamisin 3-5 mg/kgbb/hari. Bila obat tersebut tidak ada, dapat dicoba memberikan penisilin 50.000u/kgbb/hari dikombinasikan dengan kloramfenikol dengan dosis tidak melebihi 50mg?kgbb/hari.

d. Pneumonia aspirasi

Penyakit ini merupakan penyebab kematian utama BBLR. Hal ini disebabkan saat pemberian makanan peroral dimulai, terjadi aspirasi yaitu karena refleks menelan dan refleks

batuk belum sempurna. Pneumonia aspirasi ini harus dicurigai bila BBLR tiba-tiba menunjukkan gejala letargi, anoreksia, berat badan tiba-tiba menurun dan kalau terdapat serangan apneu . Diagnosis dibuat dengan pemeriksaan radiologi thoraks.

e. Pneumonia karena infeksi ”airborn”

Patogenesis panyakit ini sama dengan patogenesis bronkopneumonia pada bayi yang lebih tua. Biasanya akibat kontak dengan orang dewasa yang menderita infeksi saluran pernafasan bagian atas.

Penyebabnya biasanya pneumococcus, h.influenza atau virus. Selain itu dapat juga disebabkan oleh e.coli, enterococcus, proteus dan pseudomonas. Gejala klinis biasanya didahului oleh infeksi saluran pernafasan bagian atas dengan rinitis (radang membran mukosa hidung) dan seterusnya. Kemudian terjadi dispneu, pernapasan cuping hidung, sianosis dan batuk. Pada pemeriksaan paru dapat ditemukan ronki basah yang nyaring. Pada pemeriksaan radiologis thoraks dapat terlihat infiltrat. Pengobatan yang diberikan sama seperti bronkopneumonia yang lain.

f. Pneumonia staphylococcus

Terutama terjadi pada bayi yang lahir di rumah sakit. Mula-mula terdapat infeksistaphylococcus pada suatu tempat, kemudian terjadi penyebaran ke paru sehingga terjadipneumonia atau piotoraks.

Proses ini terjadi dengan cepat disertai gejala sesak nafas, sianosis, keadaan umum bayi cepat memburuk. Pengobatan yang diberikan ialah dengan pemberian antibiotika yang masih efektif terhadap staphylococcus misalnya kloksalisin, sefalsporin. Pengobatan lain sesuai dengan pengobatan bronkhopneumonia yang lain.

g. Infeksi traktus urinarius

Neonatus yang menderita penyakit ini biasanya menunjukkan gejala demam, tidak mau minum, muntah, pucat dan berat badan menurun. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan urin (hasil biakan urin). Pada neonatus jumlah leukosit dalam urin menjadi berarti bila lebih dari 15/mm3. Pengobatannya ialah dengan pemberian ampisilin dan aminoglikosida, sambil menunggu hasil biakan urin dan uji resistensi.

h. Osteitis akut

Penyakit ini biasanya diakibatkan metastatis dari fokus infeksi staphylococcus ditempat lain. Penyebab utamanya ialah staphylococcus aureus. Gejala penyakit ini ialah suhu tubuh meninggi, bayi tampak sakit berat; lokal terdapat pembengkakan dan bayi menangis kalau bagian yang terkena digerakkan. Keadaan ini pada neonatus dapat ditemukan pada beberapa tempat dan umumnya terjadi

pada maksila dan pelvis. Pengobatannya ialah dengan pemberian antibiotika yaitu kloksalisin 50mg/kgBB/hari secara parenteral. Lokal dilakukan aspirasi dari pus.

i. Tetanus neonatorum

Penyakit tetanus neonatorum adalah penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus (bayi berusia kurang 1 bulan) yang disebabkan kuman anerobik Clostridium tetani yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (racun) yang menyerang sistem saraf pusat. Spora kuman tersebut masuk kedalam tubuh bayi melalui pintu masuk satu-satunya, yaitu tali pusat, yang dapat terjadi pada saat pemotongan tali pusat ketika bayi lahir dengan alat tidak suci hama, terutama dengan sembilu bambu oleh dukun, maupun pada saat perawatannya sebelum puput (terlepasnya tali pusat) melalui pemakaian obat, bubuk, talkum atau daun-daunan yang di gunakan masyarakat. Masa inkubasi 3-28 hari, rata-rata 6 hari. Apabila masa inkubasi kurang dari 7 hari, biasanya penyakit lebih parah dan angka kematiannya tinggi. Tetanus neonatorum masih banyak terdapat di negara-negara sedang membangun termasuk indonesia dengan kematian bayi yang tinggi, dengan angka kematian 80%.Angka kematian kasus ( Case Fetality Rate atau CFR) sangat tinggi. Pada kasusu tetanus neonatorum yang tidak dirawat, angkanya mendekati 100% terutama yang memiliki masa inkubasi kurang dari 7 hari. Angka kematian kasus tetanus neonatorum yang dirawat di rumah sakit di Indonesia bervariasi dengan kisaran 10,8 – 55%.

Beberapa factor resiko yang dapat menyebabkan terjadinya tetanus neonatorum diantaranya adalah ; pemberian imunisasi tetanus toksoid (TT) pada ibu hamil tidak dilakukan, atau tidak lengkap, atau tidak sesuai dengan ketentuan program, dan kerena perawatan tali pusat tidak memenuhi persyaratan kesehatan.

Kekebalan terhadap tetanus hanya dapat diperoleh melalui imunisasi TT. Sembuh dari penyakit tetanus bukan berarti seseorang / bayi selanjutnya kebal terhadap tetanus. Toksin tetanus dalam jumlah yang cukup untuk menyebabkan penyakit tetanus, tidak cukup untuk merangsang tubuh penderita dalam membentuk zat anti (antibody) terhadap tetanus. Itulah sebabnya seseorang / bayi penderita tetanus harus menerima imunisasi TT pada saat diagnosis dan atau setelah sembuh.

TT akan merangsang pembentukan antibody spesifik yang mempunyai peranan penting dalam perlindungan terhadap tetanus. Ibu hamil yang mendapatkan imunisasi TT dalam tubuhnya akan membentuk antibody tetanus. Seperti difteri, antibody tetanus termasuk dalam golongan IgG yang mudah melewati sawar plasenta , masuk dan menyebar melalui aliran darah janin ke seluruh tubuh janin, yang akan mencegah terjadinya tetanus neonatorum.

Imunisasi TT pada ibu hamil diberikan 2 kali (2 dosis). Jarak pemberian TT pertama dan kedua, serta jarak antara TT kedua dengan saat kelahiran , sangat menentukan kadar antibody tetanus dalam darah bayi. Semakin lama interval antara pemberian TT pertama dan kedua, serta antara TT kedua dengan kelahiran bayi, maka kadar antibody tetanus dalam darah bayi akan semakin tinggi, karena interval yang panjang akan mempertinggi respon imunologik dan diperoleh cukup waktu untuk menyeberangkan antibody tetanus dalam jumlah yang cukup tinggi dari tubuh ibu hamil ketubuh bayinya.

Gejala klinik tetanus neonatorum antara lain sebagai berikut :

a. Bayi yang semula dapat menetek menjadi sulit menetek karena kejang otot rahang dan faring (tenggorok).

b. Mulut bayi mencucu seperti mulut ikan.

c. Kejang terutama apabila terkena rangsangan cahaya, suara dan sentuhan. d. Kadang-kadang disertai sesak nafas dan wajah bayi membiru.

Cara penanganan tetanus neonatorum yaitu :

Mengatasi kejang dengan memberikan suntikan anti kejang.

Menjaga jalan nafas tetap bebas dengan membersihkan jalan nafas. Pemasangan spatel lidah yang dibungkus kain untuk mencegah lidah tergigit.

Mencari tempat masuknya spora tetanus, umumnya ditali pusat atau di telinga.

Mengobati penyebab tetanus dengan dengan anti tetanus serum (ATS) dan antibiotika. Perawatan yang adekuat : kebutuhan oksigen, makanan, keseimbangan cairan dan

elektrolit.

Penderita /bayi ditempatkan dikamar yang tenang dengan sedikit sinar mengingat penderita sangat peka akan suara dan cahaya yang dapat merangsang kejang.

Bagan penanganan tetanus neonatorum

Tanda-tanda Tiba-tiba bayi demam/panas, mendadak bayi tidak mau menetek (mulut tertutup atau trismus), mulut mencucu seperti ikan, mudah sekali kejang (misalnya kalau dipegang, kena sinar atau kaget), disertai sianosis, kaku kuduk posisi punggung melengkung, kepala mendongak ke atas (opistotonus)

Kategori Tetanus neonatorum sedang Tetanus neonatorum berat Penilaian

> 7 hari 0-7 hari

- Frekuensi kejang - Bentuk kejang

- Posisi badan - Kesadaran

-Tanda-tanda infeksiMulut mencucu

Trismus kadang-kadang Kejang rangsang (+)

Opistotonus kadang-kadang

sering Mulut mencucu

Trismus terus menerus Kejang rangsang (+)

Selalu opistotonus Penanganan

Puskesmas Bersihkan jalan nafas.

Masukkan sendok/spatel dibungkus kain untuk menekan lidah. Beri oksigen.

Atasi kejang dengan:

- Diazepam 0,5 mg/kg/i.m. atau supositoria - Apabila masih kejang, ulangi tiap 30 menit.

- Ditambah Luminal 30 mg i.m. sampai kejang berhenti. Infus glukose 10% sebanyak 80 ml/kg/hari.

Antibiotika 1 kali (penisilin prokain 50.000 U/kg/hari/i.m.) Bersihkan tali pusat.

Rujuk ke rumah sakit.

Rumah sakit Umur lebih dari 24 jam ditambah Bikarbonas Natrikus 1,5% (4:1).

Dosis anti kejang i.v. dengan dosis rumat. Diazepam 8-10 mg/kg i.v. tiap 6 jam.

ATS 10.000 mg/kg i.v. atau Prokain Penisilin 50.000 U/kg i.m. selama 3 hari.

2. Infeksi ringan. a. Pemfigus neonatorum

Biasanya bersifat sebagai impetigo bulosa (vesikel-vesikel berkembang membentuk bula / lepuhan lesi kulit yang berbatas jelas, mengandung cairan dan dapat pecah ). Infeksi ini disebabkan oleh staphylococcus. Mula-mula timbul sebagai vesikel yang jernih kemudian menjadi purulen, yang dikelilingi daerah yang kemerahan. Infeksi ini dapat meluas dan dapat menyebabkan gejala sistemik yang berat. Kadang-kadang kulit mengelupas dan menjadi dermatitis eksfoliativa (penyakit retter). Pemphigus neonatorum ini dapat mengakibatkan suatu epidemi dalam suatu bangsal bayi baru lahir.

Pengobatannya ialah dengan mengisolasi penderita dan pada perawatan hendaknya harus diingat syarat asepsis. Lokal dapat di cuci dengan larutan kalikus permanganas. Antibiotika yang diberikan ialah kloksalisin 50mg/kgbb/hari. Bula di insisi dan lesi kulit yang ringan cukup diberi pengobatan lokal dengan salep neomisin dan basitrasin.

b. Oftalmia neonatorum

Blenorea atau konjungtivitis gonoreika disebabkan oleh infeksi kuman neisseria gonorrhoeae pada konjungtiva bayi pada waktu melewati jalan lahir. Selain itu dapat ditularkan melalui tangan perawat yang mendapat kontaminasi kuman ini. Gejala klinisnya adalah konjungtiva mula-mula hiperemis (konjunctiva berwarna lebih merah), terdapat edema palpebra, bulu mata lengket karena pus dan mata mengeluarkan sekret yang purulen. Penyakit ini biasanya bersifat bilateral. Pada stadium selanjutnya kornea akan terserang dan dapat menyebabkan kebutaan. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan sekret mata. Dengan pewarnaan gram dapat ditemukandiplococcus yang gram negatif intrasel dan ekstrasel.

Pengobatan yang diberikan ialah penderita harus diisolasi dan lokal dapat diberikan salep mata yang mengandung neomisin dan basitrasin, kloramfenikol atau penisilin. Diberikan pula antibiotika sistemik yaitu penisilin. Profilaksis dengan cara crede sampai sekarang masih diakui sebagai cara terbaik. Segera sesudah bayi lahir, mata ditetesi larutan argenti nitral 1% yang masih baru. Bila terdapat iritasi, mata dapat dibilas dengan larutan garam fisiologis.

c. Omfalitis

Pangkal umbilikus seringkali terkena infeksi staphylococcus aureus. Pada tempat ini terjadi radang dan dapat mengeluarkan nanah, sekitarnya merah dan terdapat edema. Pada keadaan yang berat, infeksi dapat menjalar ke hepar melalui ligamentum falsiforme dan menyebabkan abses yang multipel. Pada keadaan kronik dapat terjadi granuloma (nodus kecil) pada umbilikus. Pengobatan yang diberikan ialah lokal dapat diberikan salep yang mengandung neomisin dan basitrasin. Selain itu dapat dipakai juga salep gentamisin. Bila terdapat granuloma, kelainan ini dapat diberi argentinitras 3%. Pencegahan dapat dilakukan dengan perawatan tali pusat yang baik. Bila dalam bangsal perawatan bayi terdapat banyak infeksi dengan staphylococcus, hendaknya perawatan tali pusat dilakukan dengan memberikan tingtura jodii pada bagian ujung tali pusat setelah dipotong, kemudian batang tali pusat, dasar tali pusat dan kulit sekeliling tali pusat dapat diberi ”triple dye” yaitu larutan yang merupakan campuran brilian hijau 2,29 gram, proflavin hemisulfat 1,14 gram dan kristal violet 2,29 gram dalam 1 liter air. Sekiranya obat ini tidak ada , dapat di ganti dengan merkurokrom atau ”povidoneiodine”10%. Tali pusat cukup ditutup dengan kasa steril dan diganti setiap hari.

d. Moniliasis

Infeksi yang disebabkan oleh Candida albicans. Candida albicans merupakan jamur yang sering ditemukan pada neonatus, biasanya tidak menimbulkan gejala atau bersifat saprofit. Pada keadaan tertentu bila daya tahan tubuh menurun atau pada penggunaan antibiotika dan atau kortikosteroid yang lama, dapat terjadi pertumbuhan berebihan jamur ini yang dapat menimbulkan kelainan berupa stomatitis (oral trush), diare, dermatitis, bahkan infeksi parenteral. Infeksi mula-mula terdapat dimulut kemudian esofagus dan traktus digestivus yang lain dan menyebabkan diare. Pada bayi yang mendapat makanan secara parenteral dalam waktu yang lama sering timbul kematian karena infeksi parenteral jamur ini (sepsis). Pengobatan stomatitis adalah dengan gentian violet 0,5% atau polesan oral daktarin salep. Secara oral dapat diberikan obat antifungus.

oral thrush e. Stomatitis

Biasanya dimulai sebagai bercak putih pada lidah, bibir dan mukosa mulut. Hal ini dapat dibedakan dengan sisa susu, yaitu karena sukar dilepaskan dari dasarnya. Diagnosis dapat dibuat dengan membuat sediaan hapus yang diwarnai biru metilen. Dalam sediaan akan tampak miselium dan spora yang khas. Pengobatan lokal dapat diberikan gentiant violet 0,5% yang dioleskan pada lidah dan mukosa mulut. Obat yang lebih baik tetapi lebih mahal ialah larutan nistatin dengan dosis 3 kali 100,000 u/hari. Dapat juga dicoba ampoterisin (fungilin) selama 1 minggu.

KASUS

Ny. A datang ke puskesmas membawa bayinya yang berusia 9 hari dengan keluhan bayinya tiba-tiba demam/panas, mendadak tidak mau menetek, mulut mencucu seperti ikan, mudah

sekali kejang (misalnya kalau dipegang, kena sinar atau kaget), disertai sianosis, kaku kuduk posisi punggung melengkung, kepala mendongak ke atas (opistotonus).

Diagnosa : bayi Ny.A usia 9 hari dengan tetanus neonatorum. ASUHAN

 Bersihkan jalan nafas.

 Masukkan sendok/spatel dibungkus kain untuk menekan lidah.  Beri oksigen.

 Atasi kejang dengan:Diazepam 0,5 mg/kg/i.m. atau supositoria  Infus glukose 10% sebanyak 80 ml/kg/hari.

 Antibiotika 1 kali (penisilin prokain 50.000 U/kg/hari/i.m.)  Bersihkan tali pusat.

 Rujuk ke rumah sakit.

2.7 Suddent Infant Death Syndrome (SIDS)

Sudden Infant Death Syndrome adalah sindrom kematian mendadak pada bayi. SIDS terjadi pada bayi dibawah usia 1 tahun, frekuensi yang paling sering terjadi yaitu pada bayi usia 2-3 bulan(1). Hingga saat ini belum diketahui penyebabnya secara pasti. Namun ada beberapa penelitian yang telah dilakukan para ahli untuk mencari pemicu terjadinya SIDS.

Berikut ini adalah berbagai pemicu terjadinya SIDS menurut Centers for Disease Control and Prevention, Atlanta, U.S.A.

1. Bayi tidur tengkurap atau tidur miring.

Kecenderungan untuk menidurkan bayi secara tengkurap atau miring memicu terjadinya SIDS pada bayi tersebut daripada bayi yang ditidurkan terlentang.

2. Alas tidur yang lembut.

Seperti tidur di atas kasur air, sofa, bantal, atau memeluk mainan. 3. Tertutup selimut.

Tidur dengan bantal atau selimut sehingga kemungkinan terjadinya wajah bayi tertutup bantal atau selimut.

Bayi yang kepanasan bisa disebabkan oleh terlalu banyaknya selimut atau di dalam ruangan yang terlampau panas.

5. Asap rokok.

Ibu yang sejak mengandung tetap merokok, suasana rumah yang berasap rokok, serta pembantu atau asisten yang merokok.

6. Suhu tempat tidur.

Bayi yang tidurnya masih menjadi satu dengan orang tua atau saudara lainnya, terlebih yang mempunyai kebiasaan merokok, meminum alkohol.

7. Berat bayi lahir kurang.

Berat bayi lahir yang kurang dari normal atau bayi lahir prematur. Namun suatu pelatihan pediatri mengungkapkan bahwa (2):

1. Bayi ditidurkan tengkurap untuk menjaga jalan udara agar tetap terbuka.

2. Bayi biasanya diletakkan setelah disusui, jadi ketika mereka meludah (gumoh) tidak akan menyebabkan tersedak.

Pernyataan Academy belum didukung oleh penelitian mengenai penyebab SIDS. Jika penelitian belum membuahkan hasil maka pendapat Academy berupa upaya-upaya yang dapat para ibu lakukan untuk mencegah terjadinya SIDS.

Seorang dokter spesialis skoliosis pada anak, R. B. Mawhiney D. C., D.I.S.R.Cmengungkapkan pendapatnya. Selama 47 tahun beliau praktik, beliau belum menemukan kasus kematian yang disebabkan oleh SIDS. Namun beliau melihat bagaimana proses kelahiran dapat mempengaruhi keadaan seorang anak di masa yang akan datang.

Beliau berpendapat, bahwa trauma saraf frenik (terletak di tulang belakang leher) adalah penyebab SIDS yang paling logis. Ada penjelasan mengenai informasi klinis yang menegaskan mengapa tekanan yang merusak saraf frenik dapat menimbulkan suatu kondisi yang dikenal sebagai SIDS. Saraf mengontrol fungsi dari diafragma, yaitu mengontrol pernafasan kita. Saraf frenik keluar dari tulang belakang leher, dari ruas tulang belakang (vertebra) ketiga. Banyak penyumbatan / tekanan pada saraf menyebabkan suatu gangguan di transmisi saraf, yang berpengaruh pada fungsi diafragma (2).

Setiap saraf tulang belakang merupakan perpanjangan dari otak, yang mengontrol seluruh fungsi tubuh. Ketika satu saraf dipotong, semua fungsi dari bagian yang dikuasai berhenti. Hal yang sama akan terjadi jika transmisi saraf dipengaruhi oleh apapun termasuk tekanan atau kerusakan pada lapisan pelindung saraf.

Hipotesis berdasarkan pada premis otak, yang merupakan pusat saraf pertama yang dibentuk di dalam embrio, mengontrol fungsi dari seluruh sistem melalui saraf-saraf. Daerah yang menjadi perhatian saat proses melahirkan adalah saraf leher yang berasal dari tulang belakang leher. Selama kelahiran bayi menurut ilmu kebidanan, trauma yang di timbulkan di tulang belakang leher memicu aksi penyumbatan foraminal (menutup pembukaan untuk saraf). Seiring dengan waktu, hal ini akan mempengaruhi fungsi diafragma dan menyebabkan gangguan pernapasan.

Beliau menyimpulkan bahwa disfungsi muskuloskeletal berperan penting dalam mengakibatkan SIDS. Tanda-tanda awal yang harus diperhatikan yaitu ketika bayi menghasilkan reaksi seperti berikut :

1. Bayi yang kelihatan jelas lebih suka memutar kepalanya ke arah yang sama, baik terlentang maupun tengkurap.

2. Bayi yang memberi reaksi pada tekanan jari yang lembut di leher, seolah-olah hal itu menyebabkan rasa tidak nyaman.

3. Gejala pernapasan atas dengan aliran udara ke hidung di atas normal yang sering terjadi. 4. Lebih banyak menangis ketika kepala ada di posisi tertentu dan akan segera berhenti ketika

kepala diputar.

Gejala-gejala ini bukanlah petunjuk langsung adanya serangan SIDS tetapi menunjukkan bahwa terjadi beberapa tekanan abnormal pada tulang belakang leher.

Apakah yang dapat orang tua lakukan?

Letakkan bayi dengan posisi terlentang dan dengan hati-hati letakkan tangan Anda di bawah leher sehingga telapak tangan Anda menahan leher dan dasar kepala. Lakukan sedikit tarikan dengan lembut dan putar kepalanya perlahan-lahan dari satu sisi ke sisi yang lain.

Dalam dokumen Makalah tentang sheborrhea datiom han (Halaman 34-48)

Dokumen terkait