• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Tahapan Upacara Merunjuk

4.1.6 Pembagian Sulang Dalam Upacara Perkawinan

Gambar Pada Saat Pembagian Jambar (Daging Babi, dan Kerbau)

Dalam upacara adat Pakpak, bagian hewan yang sudah dipotong-potong pada saat pesta, merupakan simbol hubungan dari yang berpesta dengan seseorang. Pemberian sulang ini biasanya diberikan kepada seseorang yang masih ada ikatan saudara, dan diberikan kepada peran apa yang dilakukan.

Dalam upacara perkawinan ini, ada dua jenis hewan yang disembelih atau disuguhkan, yaitu nakan penjalon, dan silempoh panas. Nakan penjalon ini disediakan oleh pihak pengantin perempuan, sedangkan silempoh panas ini disediakan oleh pihak pengantin laki-laki. Pada adat ini, pembagian sulang dalam masyarakat Pakpak ada dua jenis hewan dibagikan kepada saudara atau kerabat dari kedua belah pihak pengantin, yaitu:

Babi Kerbau

Isang diberikan kepada sukut simerulahen

Isang diberikan kepada sukut simerulahen

Tulang tengah diberikan kepada kula-kula

Tulang tengah diberikan kepada kula-kula

Rusuk,ate mapenggu diberikan kepada berru-berru

Rusuk, ate mapenggu diberikan kepada berru-berru

3.1.7 Balik Ulbas

Setelah selesai pesta, pengantin tinggal di rumah orang tua perempuan selama dua minggu. Selama itu pula pengantin menikmati bulan madu. Setelah itu mereka pergi kerumah orang tua laki-laki, dan mereka tinggal sampai empat hari.

Kemudian pengantin balik lagi kerumah orang tua perempuan.

Dalam tahap ini, para pengantin beserta kerabatnya dari pihak laki-laki membawa perlengkapan adat yang akan diserahkan kepada orang tua perempuan.

Selain itu pihak laki-laki harus membawa makanan beserta lauknya. Dalam tahap ini, ketika masih ada utang, pada saat ini juga pihak laki-laki membawa.

Sesampai di rumah orang tua perempuan, orang tua perempuan mengundang kerabat dan persinabul. Setelah itu mereka makan bersama.

Pada saat ini pihak dari pengantin laki laki menyampaikan apa tujuan mereka datang kerumah pihak perempuan.

“Medahikaen kene kula kula name isen pe kami roh berru ndene rebakkken berru enket kela ndene imo merkiteken I nggo saut berru ndene gabe permaen name janah anak name nggo saut gabe kela ndene, janah perkiroh nami imo kibegahken meela ulaenta mende ngo janah oda ngo lot si kurangna, janah asa mersodip mo kita medahi tuhan asa beak gabe berru enket kela ndene janah meranak merberru.

Artinya: Buat kelurga terhormat kami, kami disini datang bersama putri dan menantu kalian. Yang dimana kita sudah selesai membuat suatu pesta dimana putri kalian sudah sah menjadi menantu kami dam anak kami sudah sah menjadi menantu kalian. Dan kedatangan kami kesini untuk meberitahukan bahwa saatnya pesta yang kita laksanakan berjalan dengan lancar dan tidak kurang suatu apapun.

Dan kita berdoa kepada tuhan semoga keluarga yang dibentuk anak kita mejadi keluarga yang bahagia dan mempunyai keturunan yang melahirkan putra dan putri yang sehat dan bijaksana.

Setelah acara makan selesai, keluarga laki-laki pulang, tetapi pengantin tetap tinggal dirumah orang tua perempuan. Pada saat itu juga orang tua perempuan memberikan makan dan memotong daging babi kepada pengantin.

Pada saat pengantin pulang atau balik kerumah, orang tua serta kerabat perempuan menyerahkan beberapa ekor ayam, nditak dan lemang. Pada saat itu pula pengantin pamit kepada seluruh keluarga.

4.2 Nilai-Nilai Kearifan Lokal Yang Terdapat Dalam Upacara Perkawinan

4.2.1 Kesopansantunan

Dalam adat Pakpak nilai kesopansantunan sangat dijaga, dalam perkataan, dan cara duduk nya. Dimana raja parhata harus mempunyai kesopansantunan, tidak boleh asal mengucapkan kata-kata. Dalam berpakaian juga, raja parhata harus berpakaian rapi. Begitu juga dengan keluarga calon pengantin laki-laki dan perempuan. Cara duduk juga harus sopan, baik pengantin laki-laki maupun pengantin perempuan. Dan cara berbicara juga harus sopan, tidak boleh mengucapkan kata-kata yang menyakiti orang.

4.2.2 Komitmen

Masyarakat Pakpak juga masih berkomitmen, untuk menjodohkan anaknya dengan anak puhunnya. Dimana silaki-laki harus menikah dengan anak tulangnya. Dimana keluarga berkumpul, untuk membicarakan tentang perjodohan dengan anak tulangnya. Dalam perjodohan ini, keluarga membicarakan berapa mahar yang akan diberikan kepada anak puhunnya. Dan berapa oles diberikan kepada anak puhunnya. Dalam pertemuan ini, keluarga harus datang, untuk menyaksikan acara pertemuan itu. Keluarga silaki-laki datang kerumah tulangnya dengan membawa makanan, dimana makanan tersebut rasa syukur, bahwa ankanya direstui untuk menikah denga putri tulangnya.

Dalam acara perkawinan Pakpak, masyarakat masih mempunyai komitmen yang kuat. Sebagai contoh dalam perkawinan ini, masyarakat masih menggunakan bahasa Pakpak. Masyarakat Pakpak tidak mudah goyah untuk

menghilangkan bahasa Pakpak. Walaupun zaman semakin canggih, mereka tidak mencampurkan dengan bahasa lain.

4.2.3 Gotong Royong

Gotong royong merupakan suatu bentuk kerjasama untuk mewujudkan hasil yang diinginkan. Sama hal nya dalam perkawinan Pakpak. Dalam perkawinan Pakpak ada gotong royong. Seperti hal nya membantu saat pesta perkawinan (Merkebbas).Dalam merkebbas ini ada sebagian masyarakat Pakpak membantu saat upacara perkawinan. Sebagai contoh ada masyarakat yang membantu untuk memotong daging, memasak nasi, dan membagi nasi.

Dalam memotong daging ini, sudah ada sebagian warga yang sudah di pilih untuk memotong daging nya. Yang memotong daging ini khusus laki-laki.

Dan saat upacara berlangsung, yang membagikan daging adalah laki-laki. Dan memasak nasi. Dalam memasak nasi ini, ada laki-laki dan ada juga perempuan.

Dan saat upacara perkawinan berlangsung yang membagikan nasi adalah perempuan. Dan ini biasanya dikerjakan oleh perempuan.

Dalam upacara perkawinan Pakpak, ada juga sebagian anak muda nya membantu. Dalam hal nya anak muda itu membantu untuk meminta tikar setiap rumah tangga. Anak muda ini juga ada sebagian membantu dalam hal memasak nasi dan memasak daging. Dan saat upacara perkawinan berlangsung, anak muda ini juga ikut berpartisipasi untuk membagikan kertas nasi, dan ada juga membagikan minuman. Dalam merkebbas ini, ibu-ibu yang memasak nasi atau

membagikan nasi harus pake sarung, agar terlihat sopan. Begitu juga dengan anak muda nya (anak gadis) harus pake sarung, supaya terlihat sopan.

Dalam masyarakat Pakpak ini, ada juga toktok ripe(saling membantu).

Maksudnya disini saling membantu adalah, ketika ada salah satu masyarakat berpesta, satu kampung itu ada mengumpulkan beras atau uang. Beras atau uang tersebut dikumpulkan tergantung kesepakatan satu kampung itu.

Sebelum acara merunjuk, masyarakat Pakpak terlebih dahulu berkumpul untuk membicarakan siapa-siapa saja yang ikut merkebbas, dan pada saat berkumpul, masyarakat Pakpak sudah dipilih untuk memotong daging, dan siapa saja yang ikut dalam membagikan daging. Dalam perkumpulan ini, masyarakat Pakpak sudah membicarakan semua, dari memotong daging, dan membagikan daging tersebut.

Dalam merunjuk, sebelum hari H tiba, masyarakat Pakpak merkebbas untuk acara tersebut. Dimana masyarakat Pakpak merkebbas, ada yang memotongi bawang, cabe dan lain-lain. Masyarakat Pakpak juga malam nya makan malam. Dimana dalam acara makan malam itu rasa syukur, karena salahsatu masyarakat ada berpesta. Dan sampai acara pun tersebut, masyarakat Pakpak masih ikut gotong royong.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.I Kesimpulan

Setelah membahas adat perkawinan Pakpak ini, maka penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut:

1) Pemahaman yang kurang dari masyarakat tentang adat Pakpak, terutama pada persinabul. Pada hal persinabul harus mengerti tentang adat Pakpak, khususnya dalam perkawinan.

2) Kurangnya kesadaran masyarakat Pakpak, tentang nilai budaya.

Sehingga orang Pakpak begitu mudah terpengaruh, dan begitu mudah menerima adat batak lainnya. Sehingga mereka kurang mengerti tentang adatnya sendiri, dan akan berpengaruh bagi generasi penerus.

3) Kurangnya rasa bangga terhadap nilai budaya sendiri, sehingga mereka kurang mengerti tentang budaya sendiri.

4) Adanya perbedaan atau ketidaksesuaian tentang adat, dari zaman dahulu hingga zaman sekarang. Sehingga mereka menganggap perkawinan itu terlalu rumit. Dan secara ekonomi tidak mampu.

5) Kurangnya sosialisasi antara generasi tua ke generasi muda. Sehingga adanya perbedaan tentang adat Pakpak. Pada hal ini lah kesempatan generasi tua, memperkenalkan adat Pakpak terhadap generasi muda.

6) Kurangnya publikasi tentang adat Pakpak, sehingga orang lain jarang mengetahui tentang adat Pakpak, khususnya dalam kalangan orang Pakpak itu sendiri. Seharusnya adat Pakpak ini, ada yang mempeublikasikan tentang adat Pakpak, sehingga orang mengetahui tentang adat, khususnya dalam masyarakat Pakpak itu sendiri.

5.2 Saran

Dalam adat Pakpak ini, ada sebagian orang mengatakan bahwa Perkawinan Pakpak sangat rumit. Pada hal yang buat rumit adat itu, adalah orang itu sendiri. Mereka membuat adat itu terasa rumit. Seperti dalam jumlah peroleskedek atau peroles mbelen hendaknya dikurangi, karena kalau kita menghilangkan tidak mungkin. Untuk itu pihak kerabat perempuan tidak meminta banyak. Cukup hanya menerima beberapa jumlah uang saja.

Masyarakat Pakpak harus bisa mempertahankan adatnya sendiri, jangan mudah terpengaruh, dan jangan mudah menerima adat batak lainnya. Dan identitas orang Pakpak juga bisa lebih dipertahankan. Supaya identitas itu tidak hilang. Dan orang Pakpak juga harus bangga dengan budaya sendiri.

Jadi saran untuk itu, kita sebagai generasi muda harus bisa menjaga dan melestarikan budaya kita. Jangan malu untuk memperkenalkan budaya kita kepada orang, Terutama orang luar. Dan sebagai generasi muda harus mengerti dan memahami budaya sendiri. Kita harus peka terhadap budaya sendiri.

Peta desa Singgabur, Kecamatan Sitellu Tali Urung Julu, Kabupaten Pakpak Bharat, Sumatera Utara.

DAFTAR PUSTAKA.

Apriayanto.2008.Kearifan Lokal,Jakarta:Gramedia.

Berutu,Lister dan Tandak Berutu.2006.Adat dan Tata Cara Perkawinan Masyarakat Pakpak.Medan:Grasindo Monoratama.

Muchtar.Mulana.2011.Defenisi Adat.(online).faisal muchtar.blogspot.com.

Mulianto Angkat, Koko. 2011. Adat Istiadat Suku Pakpak.(online).

tesandera.blogspot.com.

Prasetya, Joko T.2004.Ilmu Budaya Dasar:Rineka Cipta.

Pundentia.2007.Tradisi Lisan.Medan:Gramedia.

Rosa,Silvia.2014.ProsesiAdatPerkawinanDi Nagari Pauh Kambar.Medan:Skripsi Setiadi, Elly dan Ridwan Efendi.2008.Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta:

Kencana Prenada Media Group.

Sibarani, Robert.2012.Keariafan Lokal.Jakarta Selatan:Asosiasi Tradisi Lisan.

……..2014.Tradisi Lisan.Jakarta Selatan:Asosiasi Tradisi Lisan.

Sunaryo.2003.Kearifan Lokal.Medan:Gramedia.

Vansina,Jan.2016.Tradisi Lisan,Medan:Gramedia

DATA INFORMAN 1. Nama: St. Esmer Berutu

Umur : 54 Tahun Pekerjaan: Wiraswasta Alamat : Silima Kuta 2. Nama : J. Berutu

Umur: 67 Tahun Pekerjaan : Petani Alamat : Silima Kuta 3. Nama : Soara Ciapah

Umur : 50 Tahun Pekerjaan : Petani Alamat : Bangun 1.

4. Nama: Adian Bancin Umur: 58 Tahun Pekerjaan: petani Alamat : Silima Kuta 5. Nama : Sabar Berutu

Umur : 50 Tahun Pekerjaan: Petani Alamat : Silima Kuta

Dokumen terkait