• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PERTANAHAN

Dalam dokumen Administrasi Pertanahan (Halaman 25-38)

Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintah Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota maka masing-masing mempunyai kewenangan dalam bidang pertanahan. Berikut ini akan diuraikan masing-masing kewenangan tersebut dimulai dari Pemerintah atau merupakan kewenangan Pemerintah Pusat. Kemudian disusul oleh kewenangan pemerintah daerah provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/ Kota dalam bidang Pertanahan.

1. Izin Lokasi

Untuk kewenangan pemerintah pusat adalah:

a. Melakukan penetapan kebijakan nasional mengenai norma, standar,  prosedur dan kriteria izin lokasi.

 b. - Memberikan izin lokasi lintas provinsi.

- Membatalkan izin lokasi atas usulan pemerintah provinsi dengan  pertimbangan kepala kantor wilayah BPN provinsi.

c. Melakukan pembinaan, pengendalian dan monitoring terhadap  pelaksanaan izin lokasi.

Untuk kewenangan pemerintah daerah provinsi adalah sebagai berikut. a. - Melakukan penerimaan permohonan dan pemeriksaan kelengkapan

 persyaratan.

- Kompilasi bahan koordinasi. - Pelaksanaan rapat koordinasi. - Pelaksanaan peninjauan lokasi.

- Penyiapan berita acara koordinasi berdasarkan pertimbangan teknis  pertanahan dari kantor wilayah BPN provinsi dan pertimbangan

teknis lainnya dari instansi terkait.

- Melakukan pembuatan peta lokasi sebagai lampiran surat keputusan izin lokasi yang diterbitkan.

- Menerbitkan surat keputusan izin lokasi.

- Pertimbangan dan usulan pencabutan izin dan pembatalan surat keputusan izin lokasi atas usulan kabupaten/kota dengan  pertimbangan kepala kantor wilayah BPN provinsi.

 b. Monitoring dan pembinaan perolehan tanah.

Untuk kewenangan pemerintah daerah kabupaten/kota adalah:

a. - Menerima permohonan dan memeriksa kelengkapan persyaratan. - Kompilasi bahan koordinasi.

- Melaksanakan rapat koordinasi - Melaksanakan peninjauan lokasi.

- Menyiapkan berita acara koordinasi berdasarkan pertimbangan teknis pertanahan dari kantor pertanahan kabupaten/kota dan  pertimbangan teknis lainnya dari instansi terkait.

- Membuat peta lokasi sebagai lampiran surat keputusan izin lokasi yang diterbitkan.

- Menerbitkan surat keputusan izin lokasi.

- Melakukan pertimbangan dan usulan pencabutan izin dan  pembatalan surat keputusan izin lokasi dengan pertimbangan kepala

kantor pertanahan kabupaten/kota.

2. Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum

Untuk kewenangan pemerintah pusat adalah:

a. menetapkan kebijakan nasional mengenai norma, standar, prosedur dan kriteria pengadaan tanah untuk kepentingan umum.

 b. Pengadaan tanah untuk pembangunan lintas provinsi.

c. Pembinaan, pengendalian dan monitoring terhadap pelaksanaan  pengadaan tanah untuk kepentingan umum.

Untuk kewenangan pemerintah daerah provinsi adalah pengadaan tanah untuk pembangunan lintas kabupaten/kota.

a. Menetapkan lokasi.

 b. Pembentukan panitia pengadaan tanah sesuai dengan peraturan  perundang-undangan.

c. Pelaksanaan penyuluhan. d. Pelaksanaan inventarisasi.

e. Pembentukan Tim Penilai Tanah (khusus DKI).

f. Penerimaan hasil penaksiran nilai tanah dari lembaga/Tim Penilai Tanah. g. Pelaksanaan musyawarah.

h. Penetapan bentuk dan besarnya ganti kerugian. i. Pelaksanaan pemberian ganti kerugian.

 j. Penyelesaian sengketa bentuk dan besarnya ganti kerugian.

k. Pelaksanaan pelepasan hak dan penyerahan tanah di hadapan kepala kantor pertanahan kabupaten/kota.

Untuk kewenangan pemerintah daerah kabupaten/kota adalah: a. Penetapan lokasi.

 b. Pembentukan panitia pengadaan tanah sesuai dengan peraturan  perundang-undangan.

c. Pelaksanaan penyuluhan. d. Pelaksanaan inventarisasi.

e. Pembentukan Tim Penilai Tanah.

f. Penerimaan hasil penaksiran nilai tanah dari lembaga/Tim Penilai tanah. g. Pelaksanaan musyawarah.

h. Penetapan bentuk dan besarnya ganti kerugian. i. Pelaksanaan pemberian ganti kerugian.

 j. Penyelesaian sengketa bentuk dan besarnya ganti kerugian.

k. Pelaksanaan pelepasan hak dan penyerahan tanah di hadapan kepala kantor pertanahan kabupaten/kota.

3. Penyelesaian Sengketa Tanah Garapan

Untuk kewenangan pemerintah pusat adalah:

a. Menetapkan kebijakan nasional mengenai norma, standar, prosedur dan kriteria penyelesaian sengketa tanah garapan.

 b. Melakukan pembinaan, pengendalian dan monitoring terhadap  pelaksanaan penanganan sengketa tanah garapan.

Untuk kewenangan pemerintah daerah provinsi adalah penyelesaian sengketa tanah garapan lintas kabupaten/kota dan untuk Provinsi DKI Jakarta, yaitu:

a. Penerimaan dan pengkajian laporan pengaduan sengketa tanah garapan.  b. Penelitian terhadap objek dan subjek sengketa.

c. Pencegahan meluasnya dampak sengketa tanah garapan.

d. Koordinasi dengan instansi terkait untuk menetapkan langkah-langkah  penanganannya.

e. Fasilitasi musyawarah antar pihak yang bersengketa untuk mendapatkan kesepakatan para pihak.

Untuk kewenangan pemerintah daerah kabupaten/kota adalah:

a. Penerimaan dan pengkajian laporan pengaduan sengketa tanah garapan.  b. Penelitian terhadap objek dan subjek sengketa.

c. Pencegahan meluasnya dampak sengketa tanah garapan.

d. Koordinasi dengan kantor pertanahan untuk menetapkan langkah-langkah penanganannya.

e. Fasilitasi musyawarah antar pihak yang bersengketa untuk mendapatkan kesepakatan para pihak.

4. Penyelesaian Masalah Ganti Kerugian dan Santunan Tanah untuk Pembangunan

Untuk kewenangan pemerintah pusat adalah:

a. Penetapan kebijakan nasional mengenai norma, standar, prosedur dan kriteria penyelesaian masalah ganti kerugian dan santunan tanah untuk  pembangunan.

 b. Melakukan pembinaan, pengendalian dan monitoring terhadap  pelaksanaan pemberian ganti kerugian dan santunan tanah untuk  pembangunan.

Untuk kewenangan pemerintah daerah provinsi adalah:

a. Menyelesaikan masalah ganti kerugian dan santunan tanah untuk  pembangunan.

 b. Melakukan pembinaan dan pengawasan pemberian ganti kerugian dan santunan tanah untuk pembangunan.

Untuk kewenangan pemerintah daerah kabupaten/kota adalah: a. Melakukan pembentukan tim pengawasan pengendalian.

 b. Menyelesaikan masalah ganti kerugian dan santunan tanah untuk  pembangunan.

5. Penetapan Subjek dan Objek Redistribusi Tanah serta Ganti Kerugian Tanah Kelebihan Maksimum dan Tanah

 Absentee

Untuk kewenangan pemerintah pusat adalah:

a. Melakukan penetapan kebijakan nasional mengenai norma, standar,  prosedur dan kriteria penetapan subjek dan objek redistribusi tanah serta

ganti kerugian tanah kelebihan maksimum dan tanah absentee.  b. membentuk panitia pertimbangan landreform nasional.

c. melakukan pembinaan, pengendalian dan monitoring terhadap  pelaksanaan subjek dan objek tanah, ganti kerugian tanah, kelebihan

maksimum dan tanah absentee.

Untuk kewenangan pemerintah daerah provinsi adalah:

a. melakukan pembentukan panitia pertimbangan landreform  provinsi, menyelesaikan permasalahan penetapan subjek dan objek tanah, kelebihan maksimum dan tanah absentee.

 b. Pembinaan, penetapan subjek dan objek redistribusi tanah serta ganti kerugian tanah kelebihan maksimum dan tanah absentee.

Untuk kewenangan pemerintah daerah kabupaten/kota adalah:

a. Melakukan pembentukan panitia pertimbangan landreform  dan sekretariat panitia.

 b. Pelaksanaan sidang yang membahas hasil inventarisasi untuk penetapan subjek dan objek redistribusi tanah serta ganti kerugian tanah kelebihan maksimum dan tanah absentee.

d. Penetapan tanah kelebihan maksimum dan tanah absentee sebagai objek landreform berdasarkan hasil sidang panitia.

e. Penetapan para penerima redistribusi tanah kelebihan maksimum dan tanah absentee berdasarkan hasil sidang panitia.

f. Penerbitan surat keputusan subjek dan objek redistribusi tanah serta ganti kerugian.

6. Penetapan Tanah Ulayat

Untuk kewenangan pemerintah pusat adalah:

a. Menetapkan kebijakan nasional mengenai norma, standar, prosedur dan kriteria penetapan dan penyelesaian masalah tanah ulayat.

 b. Membina, mengendalikan dan monitoring terhadap pelaksanaan  penetapan dan penyelesaian masalah tanah ulayat.

Untuk kewenangan pemerintah daerah provinsi adalah: a. Pembentukan panitia peneliti lintas kabupaten/kota.  b. Penelitian dan kompilasi hasil penelitian.

c. Pelaksanaan dengar pendapat umum dalam rangka penetapan tanah ulayat.

d. Pengusulan rancangan peraturan daerah provinsi tentang penetapan tanah ulayat.

e. Penanganan masalah tanah ulayat melalui musyawarah dan mufakat. Untuk kewenangan pemerintah daerah kabupaten/kota adalah:

a. Pembentukan panitia peneliti.

 b. Penelitian dan kompilasi hasil penelitian.

c. Pelaksanaan dengar pendapat umum dalam rangka penetapan tanah ulayat.

d. Pengusulan rancangan peraturan daerah tentang penetapan tanah ulayat. e. Pengusulan pemetaan dan pencatatan tanah ulayat dalam daftar tanah

kepada kantor pertanahan kabupaten/kota.

f. Penanganan masalah tanah ulayat melalui musyawarah dan mufakat.

7. Pemanfaatan dan Penyelesaian Masalah Tanah Kosong

Untuk kewenangan pemerintah pusat adalah:

a. Penetapan kebijakan nasional mengenai norma, standar, prosedur dan kriteria serta pelaksanaan pembinaan dan pengendalian pemanfaatan dan  penyelesaian masalah tanah kosong.

 b. Pembinaan, pengendalian dan monitoring terhadap pelaksanaan,  pemanfaatan dan penyelesaian masalah tanah kosong.

Untuk kewenangan pemerintah daerah provinsi adalah: a. Menyelesaikan masalah tanah kosong.

 b. Pembinaan pemanfaatan dan penyelesaian masalah tanah kosong. Untuk kewenangan pemerintah daerah kabupaten/kota adalah:

a. Inventarisasi dan identifikasi tanah kosong untuk pemanfaatan tanaman  pangan semusim.

 b. Penetapan bidang-bidang tanah sebagai tanah kosong yang dapat digunakan untuk tanaman pangan semusim bersama dengan pihak lain  berdasarkan perjanjian.

c. Penetapan pihak-pihak yang memerlukan tanah untuk tanaman pangan semusim dengan mengutamakan masyarakat setempat.

d. Fasilitasi perjanjian kerja sama antara pemegang hak tanah dengan pihak yang akan memanfaatkan tanah dihadapan/diketahui oleh kepala desa/lurah dan camat setempat dengan perjanjian untuk dua kali musim tanam.

e. Penanganan masalah yang timbul dalam pemanfaatan tanah kosong jika salah satu pihak tidak memenuhi kewajiban dalam perjanjian.

8. Izin Membuka Tanah

Untuk kewenangan pemerintah pusat adalah:

a. Menetapkan kebijakan nasional mengenai norma, standar, prosedur dan kriteria serta pelaksanaan pembinaan dan pengendalian pemberian izin membuka tanah.

 b. Melakukan pembinaan, pengendalian, dan monitoring terhadap  pelaksanaan izin membuka tanah.

Untuk kewenangan pemerintah daerah provinsi adalah:

a. Menyelesaikan permasalahan pemberian izin membuka tanah.

 b. Melakukan pengawasan dan pengendalian pemberian izin membuka tanah (tugas pembantuan).

Untuk kewenangan pemerintah daerah kabupaten/kota adalah: a. Menerima dan memeriksa permohonan.

 b. Memeriksa lapangan dengan memperhatikan kemampuan tanah, status tanah dan rencana umum tata ruang wilayah kabupaten/kota.

c. Menerbitkan izin membuka tanah dengan memperhatikan pertimbangan teknis dari kantor pertanahan kabupaten/kota.

d. Pengawasan dan pengendalian penggunaan izin membuka tanah.

9. Perencanaan Penggunaan Tanah Wilayah Kabupaten/Kota

Untuk kewenangan pemerintah pusat adalah:

a. Menetapkan kebijakan nasional mengenai norma, standar, prosedur dan kriteria perencanaan penggunaan tanah di wilayah kabupaten/kota.

 b. Pembinaan, pengendalian dan monitoring terhadap pelaksanaan  perencanaan penggunaan tanah di wilayah kabupaten/kota.

Untuk kewenangan pemerintah daerah provinsi adalah:

Merencanakan penggunaan tanah lintas kabupaten/kota yang berbatasan. Untuk kewenangan pemerintah darah kabupaten/kota adalah:

a. Membentuk tim koordinasi tingkat kabupaten/kota  b. Mengkompilasi data dan informasi yang terdiri dari:

1) peta pola penatagunaan tanah atau peta wilayah tanah usaha atau  peta persediaan tanah dari kantor pertanahan setempat.

2) rencana tata ruang wilayah.

3) rencana pembangunan yang akan menggunakan tanah baik rencana  pemerintah, pemerintah kabupaten/kota, maupun investasi swasta. c. Menganalisis kelayakan letak lokasi sesuai dengan ketentuan dan kriteria

teknis dari instansi terkait.

d. Menyiapkan draf rencana letak kegiatan penggunaan tanah.

e. Melaksanakan rapat koordinasi terhadap draf rencana letak kegiatan  penggunaan tanah dengan instansi terkait.

f. Konsultasi publik untuk memperoleh masukan terhadap draf rencana letak kegiatan penggunaan tanah.

g. Menyusun draf final rencana letak kegiatan penggunaan tanah.

h. Menetapkan rencana letak kegiatan penggunaan tanah dalam bentuk peta dan penjelasannya dengan keputusan bupati/walikota.

i. Sosialisasi tentang rencana letak kegiatan penggunaan tanah kepada instansi terkait.

 j. Evaluasi dan penyesuaian rencana letak kegiatan penggunaan tanah  berdasarkan perubahan RT/RW dan perkembangan realisasi  pembangunan.

Berdasarkan uraian di atas nampak terlihat begitu banyak tugas dan wewenang pemerintah pusat maupun daerah dalam bidang administrasi  pertanahan. Dengan demikian maka dalam mata kuliah Administrasi

Pertanahan ini tidak akan mungkin untuk menguraikan secara keseluruhan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Pemerintah dalam bidang administrasi pertanahan ini. Tetapi kegiatan-kegiatan (administrasi) yang  pokok seperti dalam pendaftaran tanah, administrasi hak-hak atas tanah,

landreform, administrasi pengadaan tanah, peralihan hak atas tanah, administrasi penatagunaan tanah serta dukungan sistem informasi pertanahan sangat relevan untuk diketengahkan.

1) Coba Anda uraikan kembali mengenai pengertian tentang Administrasi Pertanahan!

2) Sebutkan faktor-faktor yang menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan tanah!

3) Apakah yang dimaksud dengan catur Tertib Pertanahan? Jelaskan!  Petunjuk Jawaban Latihan

1) Yang dimaksud administrasi pertanahan adalah suatu usaha dan manajemen yang berkaitan dengan penyelenggaraan kebijaksanaan  pemerintah di bidang pertanahan dengan mengerahkan sumber daya untuk mencapai tujuan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

L A T I H A N

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!

2) Faktor-faktor yang menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan tanah adalah:

a. Pertumbuhan penduduk.

 b. Meningkatnya kebutuhan penduduk akan ruang sebagai akibat  peningkatan kualitas hidup.

c. Meningkatnya fungsi kota terhadap daerah sekitarnya.

d. Terbatasnya persediaan tanah yang langsung dapat dikuasai atau dimanfaatkan.

e. Meningkatnya pembangunan.

3) Yang dimaksud catur tertib pertanahan adalah tertib hukum pertanahan; tertib administrasi pertanahan; tertib penggunaan tanah; dan tertib  pemeliharaan tanah lingkungan hidup.

Administrasi pertanahan merupakan suatu usaha dan manajemen yang berkaitan dengan penyelenggaraan kebijaksanaan pemerintah di  bidang pertanahan dengan mengerahkan sumber daya untuk mencapai

tujuan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Dengan demikian maka administrasi pertanahan merupakan bagian dari administrasi negara.

Tujuan pembangunan bidang pertanahan adalah menciptakan kemakmuran dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pencapaian tujuan tersebut dilaksanakan dengan pengelolaan pertanahan dan  pengembangan administrasi pertanahan. Untuk itu dibuatlah Keputusan

Presiden Nomor 7 Tahun 1979 tentang Catur Tertib Pertanahan.

Begitu banyak tugas dan wewenang pemerintah pusat maupun daerah dalam bidang administrasi pertanahan. Dengan demikian maka dalam mata kuliah Administrasi Pertanahan ini tidak akan mungkin untuk menguraikan secara keseluruhan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Pemerintah dalam bidang administrasi pertanahan ini. Tetapi kegiatan-kegiatan (administrasi) yang pokok seperti dalam  pendaftaran tanah, administrasi hak-hak atas tanah, landreform,

administrasi pengadaan tanah, peralihan hak atas tanah, administrasi  penatagunaan tanah serta dukungan sistem informasi pertanahan sangat

relevan dan perlu dibahas.

1) Faktor-faktor yang menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan tanah, adalah berikut ini kecuali ....

A. pertumbuhan penduduk

B. meningkatnya pembangunan

C. meningkatkan jaminan kepastian hukum

D. meningkatnya fungsi kota terhadap daerah sekitarnya 2) Dasar hukum tentang Catur Tertib Pertanahan adalah ….

A. Keppres Nomor 7 Tahun 1979

B. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1979 C. Keppres Nomor 7 Tahun 1997

D. Keppres Nomor 26 Tahun 1988

3) Administrasi pertanahan merupakan bagian dari .... A. administrasi niaga

B. administrasi negara C.  private administration D. administrasi bisnis

4) Upaya untuk memperlancar setiap usaha masyarakat yang menyangkut tanah merupakan tertib ....

A. Hukum Pertanahan

B. Administrasi Pertanahan C. Penatagunaan Tanah

D. Pemeliharaan Tanah dan Lingkungan Hidup

5) Upaya untuk menghindarkan kerusakan tanah, memulihkan kesuburan tanah dan menjaga kualitas sumber daya alam merupakan tertib ....

A. Hukum Pertanahan

B. Administrasi Pertanahan C. Penatagunaan Tanah

D. Pemeliharaan Tanah dan Lingkungan Hidup

6) Fungsi pengurusan hak atas tanah adalah pelaksanaan dari UUPA  pasal ….

A. 2 B. 6

T E S F O R M A T I F 2

C. 7 D. 10

7) Kegiatan pendaftaran tanah meliputi hal berikut, kecuali …. A. pengukuran, pemetaan dan pembukuan tanah

B. pendaftaran hak-hak atas tanah dan peralihan hak-hak tersebut

C. pemberian surat-surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat  bukti yang kuat

D. peremajaan tanah dan pemberantasan sertifikat ganda

8) Tertib penatagunaan tanah yang diharapkan meliputi aspek berikut, kecuali ….

A. tidak terdapat benturan kepentingan antar sektor dalam peruntukan  penggunaan tanah

B. penggunaan tanah di daerah perkotaan telah dapat menciptakan suasana aman, tertib, lancar dan sehat

C. penataan bidang pertanahan telah dapat menunjang upaya  pengelolaan kelestarian lingkungan hidup

D. tanah telah digunakan secara optimal, serasi dan seimbang sesuai dengan potensinya

9) Agraria berasal dari bahasa Latin ager  yang berarti .... A. tanah atau sebidang tanah

B. tanah pertanian C. bumi

D. air

10) Kewenangan bidang pertanahan telah dibagi-bagi antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, hal ini di atur secara rinci dalam ....

A. UUPA

B. UU No. 32 Tahun 2004 C. PP N0. 38 Tahun 2007 D. UU No. 22 Tahun 1999

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2.

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali 80 - 89% = baik

70 - 79% = cukup < 70% = kurang

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan modul selanjutnya. Bagus!  Jika masih di bawah 80%, Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang  belum dikuasai.

Tingkat penguasaan = Jumlah Jawaban yang Benar  100% Jumlah Soal

Dalam dokumen Administrasi Pertanahan (Halaman 25-38)

Dokumen terkait