BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
E. Pembahasan
Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan antara konformitas dengan perilaku konsumtif terhadap pembelian jilbab pada mahasiswi, dengan kuat hubungannya sebesar 0,693. Hubungan antara konformitas dengan perilaku konsumtif ini bernilai positif, artinya bahwa ketika semakin tinggi tingkat konformitas maka semakin tinggi pula perilaku konsumtif terhadap pembelian jilbab pada mahasiswi, begitu juga sebaliknya semakin rendah tingkat konformitas maka semakin rendah pula perilaku konsumtif terhadap pembelian jilbab pada mahasiswi. Menurut Sarwono (2009) kekuatan hubungan korelasi dapat dikategorisasikan sebagai berikut :
Tabel 16. Interval Kekuatan Hubungan
Koefisien Kekuatan Hubungan 0 Tidak ada korelasi 0.00 – 0.25 Korelasi sangat lemah 0.25 – 0.50 Korelasi cukup 0.50 – 0.75 Korelasi kuat 0.75 – 0.99 Korelasi sangat kuat
1 Korelasi sempurna
Menurut tabel diatas, dapat disimpulkan bahwa hubungan antara konformitas dengan perilaku konsumtif terhadap pembelian jilbab pada mahasiswi memiliki korelasi kuat dengan nilai R = 0,693.
Hasil kategorisasi tingkat konformitas terhadap pembelian jilbab pada mahasiswi lebih banyak berada pada kategori sedang yaitu 69 orang (69%), kemudian 14 orang (14%) dalam kategori rendah dan 17 orang (17%) dalam kategori tinggi. Menurut Myers (2005) konformitas adalah perubahan perilaku ataupun keyakinan agar sama dengan orang lain. Kemudian Spangenberg Dkk
(dalam Rusich,2008) juga mengatakan bahwa disaat seseorang menyatakan ataupun telah melakukan pembelian produk dikarenakan adanya tekanan atau paksaan dari kelompok maka disaat itu juga dapat dikatakan bahwa konformitas memberikan peran penting pada pemakaian ataupun konsumsi produk. Berdasarkan dengan apa yang dikemukakan oleh para tokoh, mahasiswi yang menyatakan ataupun telah melakukan pembelian produk dikarenakan adanya tekanan atau paksaan dari kelompoknya tergolong dalam kategori sedang. Namun konformitas yang berdampak negatif ini juga perlu dikurangi pada mahasiswi karena memiliki resiko munculnya perilaku konsumtif terhadap pembelian jilbab.
Hasil kategorisasi perilaku konsumtif terhadap pembelian jilbab pada mahasiswi lebih banyak berada pada kategori sedang yaitu 66 orang (66%), kemudian 11 orang (11%) dalam kategori rendah dan 23 orang (23%) dalam kategori tinggi. Menurut Sumartono (1998) perilaku konsumtif adalah membeli barang tanpa pertimbangan rasional atau bukan atas dasar kebutuhan. Kemudian Hasibuan (2010) juga mengatakan bahwa Perilaku konsumtif adalah sebuah tindakan manusia sebagai konsumen dalam membeli barang-barang yang bukan lagi didasarkan oleh kebutuhan dan pertimbangan yang rasional, tetapi hanya berdasarkan hasrat keinginan yang didominasi oleh faktor emosi dan sifatnya berlebihan.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini akan diuraikan kesimpulan dan saran-saran sehubungan dengan hasil yang diperoleh dari penelitian. Pertama akan dijabarkan kesimpulan dari penelitian, kemudian dilanjutkan dengan saran-saran praktis dan metodologis yang diharapkan dapat berguna bagi penelitian mendatang yang berhubungan dengan penelitian.
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, maka dapat dibuat beberapa kesimpulan, yaitu :
1. Ada hubungan positif antara konformitas dengan perilaku konsumtif terhadap pembelian jilbab pada mahasiswi. Dengan nilai r = 0,693 dengan p (0,00). Hal ini mengandung pengertian semakin tinggi konformitas maka semakin tinggi pula perilaku konsumtif terhadap pembelian jilbab pada mahasiswi.
2. Berdasarkan deskripsi data penelitian pada variabel perilaku konsumtif dengan menggunakan mean empirik, didapatkan bahwa perilaku konsumtif subjek penelitian berada pada kategori sedang, yaitu sebanyak 66 orang (66%).
3. Berdasarkan deskripsi data penelitian pada variabel konformitas dengan menggunakan mean empirik, didapatkan bahwa konformitas berada pada kategori sedang, yaitu sebanyak 69 orang (69%).
B. SARAN
Mengingat bahwa penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih perlu mendapat perhatian lebih lanjut. Berikut akan disajikan saran-saran yang diharapkan dapat membantu penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan konformitas dan perilaku konsumtif terhadap jilbab pada mahasiswi.
B.1 Saran Metodologis
Untuk peneliti selanjutnya yang ingin membuat penelitian yang sejenis, maka disarankan agar : Mengingat bahwa konformitas hanya salahsatu faktor yang mempengaruhi perilaku konsumtif, disarankan peneliti selanjutnya untuk meneliti faktor-faktor lain yang mempengaruhi perilaku konsumtif. Seperti yang dikemukakan oleh Sumartono (2002), faktor yang mempengaruhinya ada faktor internal antaralain motivasi, harga diri, observasi, proses belajar, kepribadian dan konsep diri. Sedangkan faktor eksternal antara lain adalah kebudayaan, kelas sosial, dan keluarga.
B.2 Saran Praktis
Berdasarkan hasil penelitian, tingkat konformitas dan perilaku konsumtif mahasiswi berada pada kategori sedang. Walaupun demikian, diharapkan mahasiswi dapat mengontrol diri dalam berbelanja dan lebih mengutamakan kebutuhan daripada berbelanja karena terpengaruh oleh teman. Dan bagi mahasiswi yang berada pada kategori tinggi, diharapkan dapat meminimalkan perilaku konsumtifnya, dengan cara mengisi waktu luang dengan aktifitas yang positif dan memilih teman yang juga memiliki aktivitas yang lebih positif.
LANDASAN TEORI
A.PERILAKU KONSUMTIF
A.1 Definisi Perilaku Konsumtif
Albarry (1994) mengemukakan arti kata konsumtif (consumtive) adalah boros atau perilaku yang boros, yang mengkonsumsi barang atau jasa secara berlebihan. Albarry (1994) juga melanjutkan pengertian konsumtif dalam artian luas yaitu perilaku konsumsi yang boros dan berlebihan, yang lebih mendahulukan keinginan dari pada kebutuhan, serta tidak ada skala prioritas atau juga dapat diartikan gaya hidup yang bermewah-mewah.
Sumartono (1998) mendefinisikan perilaku konsumtif adalah membeli barang tanpa pertimbangan rasional atau bukan atas dasar kebutuhan. Kemudian Sumartono (2002) melanjutkan pengertian perilaku konsumtif adalah suatu perilaku yang tidak lagi didasarkan pada pertimbangan yang rasional, melainkan karena adanya keinginan yang sudah mencapai taraf yang tidak rasional lagi.
Hotpascaman (2010) Perilaku konsumtif adalah perilaku membeli barang atau jasa yang berlebihan tanpa pertimbangan rasional demi mendapatkan kepuasan hasrat dan kenyamanan fisik sebesar-besarnya yang bersifat berlebihan. Kemudian menurut Hasibuan (2010) Perilaku konsumtif adalah sebuah tindakan manusia sebagai konsumen dalam membeli barang-barang yang bukan lagi didasarkan oleh kebutuhan dan pertimbangan yang rasional, tetapi hanya berdasarkan hasrat keinginan yang didominasi oleh faktor emosi dan sifatnya berlebihan.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa perilaku konsumtif adalah suatu perilaku yang tidak lagi didasarkan pada pertimbangan yang rasional, melainkan karena adanya keinginan yang sudah mencapai taraf yang tidak rasional lagi, dimana seseorang lebih mengutamakan keinginan daripada kebutuhan, yang dapat memberikannya kepuasan dan kenyamanan fisik sebesar-besarnya, dilakukan konsumen hanya untuk kesenangan semata.
A.2 Indikator Perilaku Konsumtif
Menurut Sumartono (2002), ada beberapa indikator perilaku konsumtif yaitu:
a. Membeli produk karena iming-iming hadiah.
Individu membeli suatu barang karena adanya hadiah yang ditawarkan jika membeli barang tersebut.
b. Membeli produk karena kemasannya menarik.
Individu sangat mudah terbujuk untuk membeli produk yang dibungkus dengan rapi dan dihias dengan warna-warna yang menarik. Artinya motivasi untuk membeli produk tersebut hanya karena produk tersebut dibungkus dengan rapi dan menarik.
c. Membeli produk demi menjaga penampilan dan gengsi.
Individu mempunyai keinginan yang tinggi, karena pada umumnya remaja mempunyai ciri khas dalam berpakaian, berdandan, gaya rambut, dan sebagainya dengan tujuan agar konsumen selalu berpenampilan yang dapat menarik perhatian orang lain. Konsumen membelanjakan uangnya lebih banyak untuk menunjang penampilan diri.
d. Membeli produk atas pertimbangan harga (bukan atas dasar manfaat dan kegunaannya).
Individu cenderung berprilaku yang ditandai oleh adanya kehidupan mewah sehingga cenderung menggunakan segala hal yang dianggap paling mewah.
e. Membeli produk hanya sekedar menjaga simbol status.
Individu mempunyai kemampuan membeli yang tinggi baik dalam berpakaian, berdandan, gaya rambut, dan sebagainya sehingga hal tersebut dapat menunjang sifat eksklusif dengan barang yang mahal dan memberi kesan berasal dari kelas sosial yang lebih tinggi. Dengan membeli suatu produk dapat memberikan symbol status agar kelihatan lebih keren dimata orang lain.
f. Memakai sebuah produk karena unsur konformitas terhadap model yang mengiklankan.
Individu cenderung meniru perilaku tokoh yang diidolakannya dalam bentuk menggunakan segala sesuatu yang dipakai oleh tokoh idolanya. Konsumen juga cenderung memakai dan mencoba produk yang ditawarkan bila ia mengidolakan public figure produk tersebut.
g. Munculnya penilaian bahwa membeli produk dengan harga mahal akan menimbulkan rasa percaya diri yang tinggi.
Individu sangat terdorong untuk mencoba suatu produk karena mereka percaya apa yang dikatakan oleh iklan yaitu dapat menumbuhkan rasa percaya diri. Cross dan Cross (dalam Hurlock, 1997) juga menambahkan
bahwa dengan membeli produk yang mereka anggap dapat mempercantik penampilan fisik, mereka akan menjadi lebih percaya diri.
h. Mencoba lebih dari dua produk sejenis (merek berbeda).
Individu akan cenderung menggunakan produk jenis sama dengan merek yang lain produk sebelumnya ia gunakan, meskipun produk tersebut belum habis dipakainya.
A.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumtif
Menurut Sumartono (2002), munculnya perilaku konsumtif disebabkan oleh:
a. Faktor Internal
Faktor internal yang berpengaruh pada perilaku konsumtif individu adalah motivasi, harga diri, observasi, proses belajar, kepribadian dan konsep diri.
b. faktor eksternal
Faktor eksternal yang berpengaruh pada perilaku konsumtif individu adalah kebudayaan, kelas sosial, kelompok-kelompok sosial dan referensi serta keluarga.
B. KONFORMITAS
B.1 Definisi Konformitas
Myers (2005) mengartikan konformitas sebagai “A change in behavior or bilief to accord with others”. Konformitas adalah perubahan perilaku ataupun keyakinan agar sama dengan orang lain.
Konformitas adalah penyesuaian terhadap kelompok sosial, karena adanya tuntutan dari kelompok tersebut untuk menyesuaikan diri, meskipun tuntutan tersebut tidak secara terbuka (Baron & Byrne, 2005). Konformitas muncul ketika individu meniru sikap atau tingkah laku orang lain dikarenakan tekanan yang nyata maupun yang dibayangkan (Santrock, 2003).
Menurut Taylor, Peplau, dan Sears, “Conformity is the tendency to change one’s belief or behaviors in ways that are consistent with group standards”, artinya Konformitas adalah kecenderungan untuk merubah keyakinan atau perilaku seseorang dengan cara-cara yang sesuai dengan kelompok (Taylor dkk, 2000).
Berdasarkan beberapa definisi konformitas diatas, maka ditarik kesimnpulan bahwa konformitas adalah kecenderungan individu untuk merubah perilaku ataupun keyakinannya karena adanya tuntutan dari kelompok tersebut untuk menyesuaikan diri, dimana individu mengikuti perilaku yang sesuai dengan kelompok disebabkan tekanan kelompok yang nyata maupun yang dibayangkan.
B.2 Indikator Konformitas
Menurut Myers (2005) terdapat dua dasar pembentuk konformitas, yaitu :
a. Pengaruh normatif
Penyesuaian diri dengan keinginan atau harapan orang lain untuk mendapatkan penerimaan. Pengaruh ini membuat individu berusaha untuk mematuhi standar norma yang ada didalam kelompok.
b. Pengaruh informasional
Penyesuaian individu ataupun keinginan individu untuk memiliki pemikiran yang sama sebagai akibat dari adanya pengaruh penerima pendapat maupun asumsi pemikiran kelompok, dan beranggapan bahwa informasi dari kelompok lebih kaya daripada informasi milik pribadi, sehingga individu cenderung untuk konformitas dalam menyamakan pendapat atau sugesti.
B.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konformitas
Menurut Myers (2005) faktor-faktor yang mempengaruhi individu untuk konformitas adalah:
a. Ukuran kelompok (Group size)
Semakin besar jumlah anggota kelompok, semakin besar pula pengaruhnya terhadap individu.
b. Kohesivitas (Cohession)
Kohesivitas merupakan perasaan yang dimiliki oleh anggota dari kelompok dimana mereka merasa ada ketertarikan dengan kelompok, semakin seseorang memiliki kohesif dengan kelompoknya maka semakin besar pengaruh dari kelompok pada individu tersebut.
c. Status (status)
Dalam sebuah kelompok bila seseorang memiliki status yang tinggi cenderung memiliki pengaruh yang lebih besar, sedangkan orang yang memiliki status yang rendah cenderung untuk mengikuti pengaruh yang ada.
d. Respon didepan umum (Public Response)
Ketika seseorang diminta untuk menjawab secara langsung pertanyaan dihadapan publik, individu cenderung akan lebih conform, dari pada individu tersebut diminta untuk menjawab dalam bentuk tulisan.
e. Kurangnya komitmen (No Prior Comitment)
Seseorang yang sudah memutuskan untuk memiliki pendiriannya sendiri, akan cenderung mengubah pendiriannya disaat individu tersebut dipertunjukkan pada adanya aspek tekanan sosial. Konformitas akan lebih mudah terjadi pada orang yang tidak mempunyai komitmen.
C. JILBAB
C.1 Definisi Jilbab
Menurut Alfatri (2006) jilbab dalam Islam berasal dari kata jalaba yang artinya menghimpun atau membawa. Sedangkan menurut Quraish (2004) jilbab merupakan pakaian penutup aurat yang menutupi seluruh tubuh wanita kecuali wajah dan telapak tangan. Kemudian menurut Milani (2006) istilah jilbab di Indonesia pada awalnya dikenal sebagai kerudung untuk menutupi kepala (rambut) wanita hingga dada. Namun saat ini menurut Hasbi (2007) cara berpakaian dan jilbab yang dikenakan wanita muslimah sudah banyak modelnya, model jilbab yang dikenakan saat inipun beraneka ragam, ada yang mengenakan jilbab hanya sebatas menutup kepala saja, dan adapula yang memakai sesuai syariat agama islam.
Saat ini banyak sekali merk serta tipe jilbab yang bisa kita temui dipusat- pusat perbelanjaan. Padahal sebelumnya model-model jilbab tidak menarik minat masyarakat Indonesia. Menurut Fitri, dkk (2011) dahulu sebagian masyarakat
berpendapat bahwa jilbab adalah pakaian orang kampung yang kolot. Oleh karena itu jilbab tidak lagi cocok dipakai di masa modern seperti saat ini.
Stigma yang kurang baik terhadap jilbab tersebut, memunculkan sebuah kelompok sosial pecinta fashion yang terus menerus mengkampanyekan penggunaan jilbab melalui berbagai model style yang mereka ciptakan. Peragaan jilbab dengan balutan gaya yang sedang digandrungi masyarakat juga mulai banyak diselenggarakan. Para designer turut berlomba-lomba menunjukkan jilbab hasil karyanya dengan berbagai model yang siap dikonsumsi masyarakat Indonesia.
Jilbab menjadi pakaian yang dapat disesuaikan dengan perkembangan
fashion yang terkadang dalam penciptaannya luput dari aspek syari’at. Malcolm
(2011) menyatakan bahwa fashion merupakan fenomena kultural yang digunakan kelompok untuk mengkontruksi dan mengkomunikasikan identitasnya. Jilbab dapat digunakan menjadi symbol untuk merepresentasikan gaya hidup kelompok sosial melalui fashion.
D. KONFORMITAS DENGAN PERILAKU KONSUMTIF TERHADAP
PEMBELIAN JILBAB PADA MAHASISWI
Menurut Sumartono (1998) perilaku konsumtif adalah membeli barang tanpa pertimbangan rasional atau bukan atas dasar kebutuhan. Albarry (1994) juga mengatakan bahwa perilaku konsumtif adalah perilaku konsumsi yang boros dan berlebihan, yang lebih mendahulukan keinginan dari pada kebutuhan, serta tidak ada skala prioritas atau juga dapat diartikan gaya hidup yang bermewah-mewah.
Sumartono (2002) menyatakan bahwa perilaku konsumtif begitu dominan dikalangan remaja. Hal tersebut terjadi karena secara psikologis, remaja masih berada dalam proses pembentukan jati diri dan sangat sensitif terhadap pengaruh dunia luar. Usia remaja sebagian individu ada yang masih duduk dibangku sekolah dan ada yang sudah kuliah. Menurut Monk, dkk (2001) bahwa fase
remaja akhir dalam rentang usia 18 sampai 21 tahun. Dimana pada usia 18-21 tahun individu telah memasuki perkuliahan menjadi mahasiswi. Segut (2008) juga mengatakan bahwa kelompok usia yang sangat konsumtif adalah kelompok remaja. perilaku konsumtif pada remaja, juga didorong adanya perubahan trend
ataupun mode yang secara cepat diikuti remaja. Seperti halnya jilbab yang sedang
trend saat ini.
Reynold (dalam Hotpascaman, 2010) menyatakan bahwa remaja putri lebih banyak membelanjakan uangnya daripada remaja putra untuk keperluan penampilan seperti pakaian, kosmetik, asesoris, dan sepatu. Hal ini jelas menunjukkan bahwa mahasiswi lebih konsumtif dibandingkan mahasiswa. Menurut Sumartono (2002) indikator perilaku konsumtif adalah membeli produk karena iming-iming hadiah, membeli produk karena kemasannya menarik, membeli produk demi menjaga penampilan diri dan gengsi, membeli produk atas pertimbangan harga (bukan atas dasar manfaat atau kegunaannya), membeli produk hanya sekedar menjaga symbol status, memakai produk karena unsur konformitas terhadap terhadap model yang mengiklankan, munculnya penilaian bahwa membeli produk dengan harga mahal akan menimbulkan rasa percaya diri yang tinggi, mencoba lebih dari dua produk sejenis (merek berbeda).
Menurut Sumartono (2002) faktor yang mempengaruhi perilaku konsumtif adalah faktor internal dan faktor eksternal. Faktor eksternal yang berpengaruh terhadap perilaku konsumtif individu adalah kebudayaan, kelas sosial, kelompok- kelompok sosial dan referensi serta keluarga. Remaja yang memiliki hubungan sosial dengan peergroup-nya atau teman sebaya, merupakan bentuk kelompok referensi (Dacey dan Kenny, 1997). Adanya tekanan dari teman sebaya atau yang biasa disebut dengan peer pressure secara sadar ataupun tidak dapat mempengaruhi perilaku mahasiswi, misalnya saja dalam hal penampilan dan berperilaku, yang sama seperti teman-temannya agar ia dapat diterima dan tidak disisihkan dari pergaulan (Utamadi, 2002 dalam Meliala 2009 ). Remaja yang berada dibawah peer pressure cenderung untuk conform, untuk menilai, meyakini atau bertindak sesuai dengan penilaian, keyakinan atau tindakan kelompok teman sebayanya (Santrock, 1998). Adanya sikap patuh tetapi lebih kepada mengalah ini biasanya dikenal dengan istilah konformitas, yaitu perubahan perilaku seseorang dengan mengikuti tekanan-tekanan dari kelompok (Sarwono, 1993).
Menurut Taylor, Dkk (2000) konformitas adalah kecenderungan untuk merubah keyakinan atau perilaku seseorang dengan cara-cara yang sesuai dengan kelompok. Ada dua dasar faktor konformitas yaitu pengaruh normatif dan pengaruh informasional. Pengaruh normatif pada konformitas memiliki arti penyesuaian diri dengan keinginan atau harapan orang lain untuk mendapatkan penerimaan dari anggota kelompoknya, sedangkan pengaruh informasional yaitu tekanan yang terbentuk oleh adanya keinginan dari individu untuk memiliki pemikiran yang sama dan beranggapan bahwa informasi dari kelompok lebih kaya
dari pada informasi milik pribadi, sehingga individu cenderung untuk konformitas dalam menyamakan pendapat atau sugesti (Myers, 2005).
Pengaruh normatif memiliki peranan pada proses konsumsi, terjadi disaat individu mengikuti peraturan kelompok. Sedangkan pengaruh informasional memiliki peranan pada proses konsumsi terjadi, apabila individu mendengarkan pendapat dari kelompok dalam hal mengkonsumsi suatu produk, individu menjadikan kelompok sebagai acuan dalam merekomendasikan produk yang akan dikonsumsi (Carmen, 2008). Kemudian William (1985) juga mengatakan bahwa konformitas merupakan salah satu faktor kelompok sosial yang mempengaruhi seseorang dalam melakukan perilaku konsumsi.
Hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Hotpascaman (2010) menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara konformitas dengan perilaku konsumtif yang didasarkan pada pengaruh normatif dan pengaruh informasional pada subjek remaja. Kemudian penelitian tentang jilbab oleh Budiati (2011) mengungkapkan bahwa jilbab sebagai praktik konsumtif, dimana beragam model jilbab ditawarkan dari mulai peragaan busana muslim sampai butik khusus jilbab dijual di Mall, dan jilbab dapat menunjukkan kelas sosial tertentu.
E. HIPOTESIS PENELITIAN
Berdasarkan uraian teoritis yang telah peneliti paparkan maka hipotesis penelitian ini adalah : “Terdapat hubungan positif antara konformitas dengan perilaku konsumtif terhadap pembelian jilbab pada mahasiswi”.
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG MASALAH
Indonesia merupakan Negara Muslim terbesar didunia, dengan jumlah penduduk Muslim mencapai 88% atau ± 205 juta jiwa (Indonesia halal food expo, 2016). Belakangan ini, fenomena perkembangan fashion yang sedang menjadi
trend dikalangan wanita muslim Indonesia adalah jilbab. Beragam faktor yang
membuat fashion muslim terus berkembang, dari munculnya banyak komunitas seperti Hijabers Community, Hijabers Mom, sampai diselenggarakannya beragam bazar, dan peragaan busana muslim. Dampaknya kian terlihat, jika dulu wanita berjilbab lebih banyak wanita dewasa, saat ini jilbab semakin dikenal dan digemari oleh wanita-wanita muda, bahkan remaja-remaja putri (Kementrian Perindustrian Republik Indonesia, 2014).
Salah satu bukti pesatnya perkembangan jilbab di Indonesia adalah munculnya brand-brand seperti Dian Pelangi, Rabbani, Aliya, Zoya, El Nifa, El Zeta, Dauky, Pasmina dan masih banyak lagi brand-brand jilbab lainnya, sehingga masyarakat disuguhkan berbagai macam model dan varian harga terkait dengan model jilbab yang ditawarkan. Trend jilbab juga membuat para produsen jilbab semakin bertambah, sehingga menciptakan persaingan yang kompetitif antar perusahaan jilbab di Indonesia, dan banyak menghasilkan berbagai model dan motif jilbab, sehingga jilbab saat ini modelnya tidak dianggap kuno lagi bagi masyarakat.
Beberapa model jilbab yang berada diindonesia seperti pasmina (satin, kaftan, sifon), hijab instan hanna, hijab instan kalung putri, hijab segi empat rawis polos, hijab kaftan motif bunga, Syria, segi empat satin, instan syar’i dravia, kerudung rawis segi empat, dan masih banyak lagi model jilbab lainnya. Berbagai model jilbab ini dipakai oleh remaja sampai lansia. Tidak ada model khusus untuk usia tertentu, siapa saja bisa menggunakan berbagai macam model tergantung kebutuhan dan kesukaannya.
Target produsen jilbab salah satunya adalah mahasiswi, dimana mahasiswi sekarang terlihat banyak yang memakai jilbab keluaran terbaru. Jilbab saat ini tidak lagi dianggap kuno bagi mereka, bahkan sekarang jilbab dianggap suatu hal yang dapat menunjang penampilannya. Esensi awal jilbab yaitu sebagai simbol keagamaan yang menunjukkan identitas dan religiusitas kelompok muslim, namun pada kenyataannya kini menurut Releigh (dalam Nursyahbani, 2012) bahwa jilbab telah menjadi suatu kebudayaan populer dan mendorong kecenderungan jilbab tidak hanya sebagai simbol yang mencerminkan identitas agama namun jilbab juga dapat menjadi identitas kolektif bagi kelompok.
Jilbab telah menjadi suatu kebudayaan populer, dalam arti jilbab sebagai komoditas dan pengalaman yang diterima dan dinikmati perempuan Indonesia dan pemakainya memperoleh kesenangan dari tindakan berjilbab, (Releigh, dalam Nursyahbani 2012). Kemudian Hela, dkk (2013) mengatakan bahwa sebagian mahasiswi memakai jilbab yang ia pakai selain mengikuti aturan berbusana dalam Islam, juga karena terpengaruh mengikuti fashion jilbab yang sedang trend. Jilbab yang mereka pakaipun merambah pada suatu gaya hidup berjilbab modern dan mengikuti trend yang sedang populer dimasyarakat, sehingga jilbab menjadi suatu
koleksi dan mengakibatkan perburuan belanja perilaku konsumtif (Hela dkk, 2013). Berikut penuturan dari salah satu mahasiswi “E”
“Saya udah lama pakai jilbab tapi sekarang lebih menetap pakai
jilbabnya, rasanya pakai jilbab itu lebih cantik dan nyaman, jilbab sekarangkan banyak modelnya ya dan bisa dikreasikan sesuka kita jadi bisa modis, apalagi motifnya cantik-cantik jadi suka beli jilbab, padahal jilbab dirumah udah banyak, karena jilbabnya cantik-cantik jadi pingin beli lagi.
Wawancara personal, 18 Januari 2016
Mahasiswi tampaknya berbelanja jilbab bukan karena kebutuhan namun karena terpengaruh mengikuti fashion jilbab yang sedang trend. Menurut Moningka (2006) dahulu orang belanja karena ada kebutuhan yang harus