BAB II ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
B. PEMBAHASAN
Pelaksanaan program Jaminan Kesehatan Masyarakat di Rumah Sakit
Umum Daerah Kabupaten Karanganyar pada tahun 2010 sedikit berbeda dari
pelaksanaan program Jaminan Kesehatan Masyarakat pada tahun 2009. Hal
ini dikarenakan adanya beberapa kelemahan yang terjadi pada pelaksanaan
program Jaminan Kesehatan Masyarakat pada tahun 2009, sehingga
pelaksanaan program ini mengalami perubahan secara nasional.
4. Kelemahan- kelemahan yang terjadi pada penyelenggaraan program pada tahun 2009 antara lain:
a) Kepesertaan
Database peserta Jaminan Kesehatan Masyarakat sampai dengan
sekarang masih mengacu pada data makro Badan Pusat Statistik
Tahun 2005, dan ditetapkan by name by address oleh Bupati/
Walikota Tahun 2008. Dengan demikian banyak
perubahan-perubahan data di lapangan seperti banyaknya kelahiran baru,
kematian, pindah tempat tinggal, perubahan tingkat sosial ekonomi,
dan lain-lain. Melalui pedoman pelaksanaan Jaminan Kesehatan
Bupati/ Walikota untuk melakukan up dating data sehingga menjadi
data kepesertaan Tahun 2009. Tetapi hanya sebagian kecil yang
merespons hal tersebut. Karena kondisi ini diperlukan kebijakan untuk
melakukan up dating data peserta Jaminan Kesehatan Masyarakat.
Badan Pusat Statistik pada akhir Tahun 2008 telah mengeluarkan data
baru dimana jumlah masyakat miskin sesuai kriteria, by name dan by
address telah menurun menjadi 60,3 juta jiwa. Data Badan Pusat Statistik terbaru ini menjadi dasar acuan untuk diterbitkannya
kepesertaan Jaminan Kesehatan Masyarakat yang baru. Sementara
sasaran kepesertaan program Jaminan Kesehatan Masyarakat 2010,
tetap sama yaitu 76,4 juta jiwa.
b) Pelayanan Kesehatan
Kendala dalam pelayanan kesehatan antara lain adalah keterlambatan implementasi INA-DRG di beberapa Rumah Sakit serta
masih belum komprehensifnya pemahaman penyelenggaraan
pelayanan berbasis paket dengan INA-DRG, terutama oleh dokter dan
petugas pemberi pelayanan langsung sehingga belum terlaksananya
pelayanan yang efisien dan mengakibatkan biaya pembayaran paket
seringkali dianggap tidak mencukupi. Di sisi lain, clinical pathway
sebagai instrumen untuk pemberian pelayanan yang adekuat dan
rasional belum digunakan di banyak Rumah Sakit. Demikian pula,
terjaminnya ketersediaan obat dan vaksin untuk pelayanan Jaminan
Kesehatan Masyarakat.
c) Pendanaan Program
Pertanggungjawaban pendanaan Pemberi Pelayanan Kesehatan
pada pelaksanaan Jaminan Kesehatan Masyarakat 2009 masih
ditemukan permasalahan ketidaktepatan waktu, jumlah dan sasaran.
Bahkan masih ditemukan beberapa rumah sakit belum dapat
menggunakan format INA-DRG secara benar. Dengan demikian,
perlu kerja keras Rumah Sakit agar pertanggungjawaban keuangan
sesuai dengan pengaturannya.
d) Pengorganisasian, Peran dan Fungsi Pemerintah Daerah
1) Peran, tugas dan fungsi Tim Pengelola dan Tim Koordinasi Provinsi/ Kabupaten/ Kota belum dapat berjalan secara optimal. Kegiatan sosialiasi, advokasi, monitoring, evaluasi dan pelaporan
dalam keuangan serta kinerja pelayanan kesehatan masih belum
berjalan sebagaimana seharusnya. Karena itu diperlukan komitmen
dari seluruh Dinas Kesehatan sebagai penanggung jawab
pengelolaan Jaminan Kesehatan Masyarakat di daerahnya.
Perhatian khusus juga untuk pelaksanaan kegiatan pada Tim
Koordinasi Jaminan Kesehatan Masyarakat di daerah, terkait
dengan kebijakan-kebijakan yang dalam pelaksanaannya
memerlukan koordinasi seperti kebijakan penatalaksanaan
2) Komitmen yang masih kurang terutama terhadap kontribusi
Pemerintah Daerah dalam pendanaan Jaminan Kesehatan
masyarakat diluar kuota. Harmonisasi kegiatan dengan mekanisme
Jaminan Kesehatan Masyarakat harus perlu terus dilakukan
terutama bagi daerah yang sudah melaksanakan Jaminan Kesehatan
Daerah. Hal tersebut amat penting agar kedua kegiatan tersebut
dapat bersinergi dengan baik dalam rangka mempercepat
pelaksanaan jaminan kesehatan semesta serta menghindari
duplikasi anggaran (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), duplikasi sasaran
dan manfaat yang diterima oleh peserta.
3) Masih banyak Pemerintah Daerah yang memasukkan dana belanja
bantuan sosial ini kedalam Pendapatan Asli Daerah. Hal ini akan mengganggu pelayanan kesehatan peserta Jaminan Kesehatan
Masyarakat, seharusnya dana belanja bantuan sosial sepenuhnya
diperuntukkan bagi pelayanan kesehatan peserta sebelum menjadi
pendapatan Rumah Sakit.
5. Kebijakan Jaminan Kesehatan Masyarakat Tahun 2010
Kebijakan Jaminan Kesehatan Masyarakat Tahun 2010 pada
prinsipnya sama dan merupakan kelanjutan pelaksanaan program Jaminan
Kesehatan Masyarakat Tahun 2009 dengan tetap melakukan perbaikan
a. Tata Laksana Kepesertaan
1) Sasaran Tahun 2010 adalah sama dengan Tahun 2009 yakni 76,4
juta meski data masyarakat miskin menurut Badan Pusat Statistik
Tahun 2008 telah turun menjadi 60,39 juta. Baseline data
kepesertaan Tahun 2010 tetap menggunakan data sebelumnya.
Sedangkan masih ada yang miskin di luar kuota yang ada (bagi
peserta luar kuota yang menggunakan Surat Keterangan Tidak
Mampu) tetap menjadi tanggungan Pemerintah Daerah. Perhatian
khusus kepada peserta Jaminan Kesehatan Masyarakat yang belum
masuk database seperti bayi baru lahir dari keluarga miskin, anak
terlantar/ gelandangan/ pengemis (rekomendasi Dinas Sosial),
peserta Program Keluarga Harapan.
2) Dalam rangka memperluas cakupan kepesertaan pada Tahun 2010, terdapat kelompok peserta baru menjadi sasaran peserta Jaminan
Kesehatan Masyarakat, yaitu:
a) Masyarakat miskin penghuni Lapas/ Rutan dengan melampirkan
surat keterangan dari Kepala Rutan / Lapas setempat.
b) Masyarakat miskin penghuni panti-panti sosial melalui, melalui
Kepala Dinas/ Institusi Sosial Kabupaten/ Kota setempat,
selanjutnya Kementerian Kesehatan akan segera membuatkan
kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat.
c) Masyarakat miskin akibat bencana paska tanggap darurat
d) Untuk semua kepesertaan diatas, Surat Keabsahan Peserta
diterbitkan petugas PT Askes (Persero).
b. Tata Laksana Pelayanan Kesehatan
Tata laksana pelayanan dilakukan beberapa perubahan meliputi:
1) Diberlakukan pola pembayaran dengan INA-DRG versi 1.6
terhitung mulai 1 Maret 2010. Dengan demikian, semua pasien
rawat jalan dan rawat inap setelah episode perawatan
penyakitnya selesai tanggal 1 Maret dan seterusnya
dipertanggungjawabkan/ diklaimkan dengan software
INA-DRG versi 1.6. Melalui pola pembayaran ini mendorong
Pemberi Pelayanan Kesehatan untuk lebih efisien dan lebih
efektif karena pengendalian biaya dan peningkatan mutu
pelayanan sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pemberi Pelayanan Kesehatan. Untuk pelaksanaan INA-DRG versi 1.6
dilakukan peningkatan kapasitas tenaga koder dan tenaga
administrasi klaim di Rumah Sakit.
2) Penyediaan obat dan vaksin sebagaimana Keputusan Menteri
Kesehatan Nomor 885/ Menkes/ SK/ X/ 2009 tentang
penugasan PT Indofarma (Persero) Tbk, PT Kimia Farma
(Persero) Tbk, PT Phapros Tbk, dan PT Biofarma (Persero)
sebagai penyedia obat dan vaksin dalam penyelenggaraan
perlu ditindak lanjuti pada tingkat rumah sakit. Penugasan
tersebut ditindak lanjuti oleh distributor setempat sebagai
wakil dari konsorsium Badan Usaha Milik Negara sektor
Farmasi dengan rumah sakit dalam bentuk perjanjian kerja
sama. Menjadi kewajiban pihak rumah sakit untuk
melaksanakan penyediaan obat dan vaksin program Jaminan
Kesehatan Masyarakat mengacu pada Keputusan Menteri
Kesehatan tersebut. Untuk memberi kejelasan pelaksanaan
penugasan tersebut, diterbitkan petunjuk teknis khusus untuk
hal tersebut agar dapat dipedomani rumah sakit.
3) Anak terlantar, pengemis dan gelandangan yang belum
teridentifikasi dan belum mempunyai kartu Jaminan Kesehatan
Masyarakat, dapat dilayani dengan membawa rekomendasi dari Dinas Sosial setempat.
4) Masyarakat miskin dan tidak mampu penghuni panti sosial dan
lapas/ lembaga pemasyarakatan, dapat dilayani dengan
membawa kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat atau
pengantar dari lapas/ rutan disertai surat rujukan dari klinik
lapas/ rutan atau puskesmas setempat.
5) Upaya-upaya peningkatan pelayanan kesehatan dan
peningkatan efisiensi baik di Puskesmas maupun di Rumah
Sakit dan Pemberi Pelayanan Kesehatan lainnya terus
dilakukan untuk menilai kewajaran pelayanan kesehatan yang
dilakukan.
c. Tata Laksana Pendanaan dan Pengorganisasian
Untuk aspek pendanaan, pengorganisasian dan manajemen
secara prinsip dan mekanisme pelaksanaannya sama seperti yang
telah ditetapkan pada pelaksanaan Jaminan Kesehatan Masyarakat
2009.
6. Jenis-jenis Pelayanan Kesehatan yang Diberikan kepada Pasien Jaminan Kesehatan Masyarakat
a. Rawat Jalan
1) Konsultasi medis, pemeriksaan fisik dan penyuluhan kesehatan
oleh dokter spesialis maupun umum
2) Rehabilitasi medik
3) Penunjang diagnostik: laboratorium klinik, radiologi dan
elektromedik
4) Tindakan medis
5) Pemeriksaan dan pengobatan gigi lanjutan
6) Pelayanan Keluarga Berencana, termasuk kontap efektif, kontap
pasca persalinan/ keguguran, penyembuhan efek samping &
komplikasinya (kontrasepsi disediakan Badan Koordinasi Keluarga
Berencana Nasional)
9) Pemeriksaan kehamilan dengan resiko tinggi dan penyulit
b. Rawat inap
1) Akomodasi rawat inap pada kelas III
2) Konsultasi medis, pemeriksaan fisik dan penyuluhan kesehatan
3) Penunjang diagnostik: patologi klinik, patologi anatomi,
laboratorium mikro patologi, patologi radiasi dan elektromedik
4) Tindakan medis
5) Operasi sedang, besar, dan khusus
6) Pelayanan rehabilitasi medis
7) Perawatan intensif
8) Pemberian obat mengacu pada formularium
9) Pelayanan darah
10) Bahan dan alat kesehatan habis pakai 11) Persalinan dengan resiko tinggi dan penyulit
c. Instalasi Gawat Darurat
d. Seluruh penderita Thalasemia dijamin termasuk bukan peserta non
Jaminan Kesehatan Masyarakat.
7. Pelayanan yang Tidak Dijamin Oleh Jaminan Kesehatan Masyarakat a. Pelayanan yang tidak sesuai dengan prosedur dan ketentuan
b. Bahan, alat dan tindakan yang bertujuan untuk kosmetika
c. General check up
e. Pengobatan alternatif dan pengobatan lain yang belum terbukti secara
ilmiah
f. Rangkaian pemeriksaan, pengobatan dan tindakan dalam upaya
mendapatkan keturunan, termasuk bayi tabung dan pengobatan
impotensi
g. Pelayanan kesehatan pada masa tanggap bencana alam, kecuali
memang yang bersanagkutan sebagai peserta Jaminan Kesehatan
Masyarakat
h. Pelayanan kesehatan yang diberikan pada kegiatan bakti sosial
8. Prosedur Pelayanan Jaminan Kesehatan Masyarakat di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Karanganyar pada Tahun 2011
Syarat-syarat yang diperlukan pasien Jaminan Kesehatan Masyarakat
untuk memperoleh pelayanan kesehatan antara lain: a. Fotokopi kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat
b. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk
c. Fotokopi Kartu Keluarga
d. Surat Rujukan Dari Puskesmas
Unsur-unsur yang terkait dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan
program Jaminan Kesehatan Masyarakat meliputi:
a. Loket Pendaftaran
b. Poliklinik (Instalasi Rawat Jalan)
e. Instalasi Gawat Darurat
f. Kasir (Bagian Keuangan)
Unsur-unsur tersebut merupakan bagian yang terpadu dalam prosedur
pelaksanaan program Jaminan Kesehatan Masyarakat. Antara unsur
tersebut saling berkaitan mendukung pelaksanaan program Jaminan
Kesehatan Masyarakat di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten
Karanganyar.
Unit-unit yang terkait dalam pelaksanaan Jaminan Kesehatan
Masyarakat di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Karanganyar
antara lain:
a. Loket Pendaftaran
b. PT Askes
c. Poliklinik (Instalasi Rawat Jalan) d. Instalasi Farmasi (Apotek)
e. Instalasi Gawat Darurat
f. Intensive Care Unit
g. Instalasi Rawat Inap
h. Bagian Keuangan (tim input data dan verifikasi)
Prosedur-prosedur yang berjalan dalam setiap unit-unit yang berlaku
dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan kepada pasien yang menggunakan
kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat antara lain:
a. Loket Pendaftaran
1) Pasien datang kerumah sakit dengan membawa fotokopi kartu
Jaminan Kesehatan Masyarakat dan surat rujukan dari
Puskesmas serta kelengkapan lain seperti fotokopi Kartu Tanda
Penduduk dan Kartu Keluarga setelah itu melakukan
pendaftaran di loket pendaftaran.
2) Petugas loket pendaftaran kemudian melakukan input data pada
komputer dan berdasarkan data-data yang dibawa oleh pasien.
3) Petugas kemudian membuat kartu pendaftaran dan menerbitkan
Rekam Medik
4) Sedangkan dari pihak PT Askes yang berada di dalam rumah
sakit melakukan verifikasi kepesertaan pasien dengan cara
mencocoKartu Keluargaan data-data yang dibawa pasien dengan
database peserta Jaminan Kesehatan Masyarakat pada PT Askes. 5) PT Askes kemudian menerbitkan Surat Keabsahan Peserta
sebanyak 3 lembar sebagai salah satu bukti bahwa pasien
benar-benar peserta Jaminan Kesehatan Masyarakat.
Surat Keabsahan Peserta yang diterbitkan oleh PT Askes antara
lain berisi tentang:
a) Nomor peserta
b) Nama peserta
c) Tanggal lahir
f) Nomor Surat Keabsahan Peserta
b. Poliklinik ( Instalasi Rawat Jalan)
1)Setelah mendapatkan Surat Keabsahan Peserta, pasien kemudian
dirujuk ke poliklinik masing-masing untuk menjalani
pemeriksaan, sebelum pasien masuk ke poliklinik masing-masing
petugas dari bagian pendaftaran memberikan dokumen-dokumen
pasien dan rekam medik ke petugas klinik sedangkan pasien
menunggu dipanggil petugas poliklinik masing-masing
berdasarkan no urut pendaftaran dan no Rekam Medik.
2)Penentuan untuk pemeriksaan pasien pada masing-masing
poliklinik dapat dilihat pada loket pendaftaran.
3)Setelah itu petugas poliklinik kemudian memanggil pasien
berdasarkan no urut atas Rekam Medik yang dimasukan ke poliklinik.
4)Petugas berdasarkan Surat Keabsahan Peserta, kartu pendaftaran,
fotokopi kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat, fotokopi Kartu
Tanda Penduduk dan Kartu Keluarga untuk mengisi data pada
buku register rawat jalan.
5)Dokumen surat keterangan pemberian tindakan ada dua-duanya
yaitu berwarna putih. Dokumen putih dijadikan lembar satu
dengan fotokopi kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat, fotokopi
Kartu Tanda Penduduk dan Kartu Keluarga serta Surat
ke kasir oleh petugas. Sedangkan dokumen berwarna putih
lembar kedua dijadikan sebagai arsip poliklinik.
6)Dokumen berwarna putih lembar satu yang disatukan dengan
fotokopi kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat, Surat Keabsahan
Peserta dan berkas lainnya diserahkan ke bagian kasir oleh
petugas poliklinik pada saat jam kerja berakhir atau pada
keesokan harinya.
c. Instalasi Gawat Darurat
Prosedur yang berjalan di Instalasi Gawat Darurat antara lain:
1)Pasien datang ke rumah sakit kemudian masuk ke Instalasi Gawat
Darurat.
2)Pihak lain dari pasien yang masuk ke Instalasi Gawat Darurat
mendaftarkan pasien ke loket pendaftaran dengan membawa fotokopi kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat, fotokopi Kartu
Tanda Penduduk dan Kartu Keluarga serta surat rujukan dari
puskesmas .
3)Pihak loket pendaftaran kemudian mencatat dan memasukan data
sesuai dengan jenisnya, bila pasien dirujuk untuk rawat inap,
maka pihak yang mendaftar juga ikut mendaftar dan petugas
memasukan data pada komputer serta mengeluarkan kartu
pendaftaran dan Rekam Medik.
dirujuk rawat inap, maka pasien masuk ke bangsal sesuai rujukan
dokter.
5)Pihak pasien juga harus mendaftar ke PT Askes untuk
mendapatkan Surat Keabsahan Peserta.
6)Pengisian hasil tindakan pada status yang kemudian dalam status
Rekam Medik masuk ke bangsal sesuai dengan bangsal pasien
yang dirawat. Pelayanan untuk pasien peserta Jaminan Kesehatan
Masyarakat rawat inap adalah bangsal kelas III.
7)Pelayanan kemudian dilanjutkan oleh pihak bangsal.
8)Pasien dari Instalasi Gawat Darurat apabila akan pulang atau
keluar dari rumah sakit maka petugas Instalasi Gawat Darurat
akan menghitung rincian biaya dan memberikannya ke bagian
kasir bersama dengan dokumen-dokumen pasien.
9)Pihak pasien akan mendapatkan kupon berisi keterangan gratis dari
kasir yang akan diberikan kepada petugas Instalasi Gawat Darurat
sebagai bukti pelunasan meskipun pasien tidak mengeluarkan
uang sedikitpun.
10)Sedangkan dokumen-dokumen yang diberikan akan diarsip
sebagai bukti pengklaiman dan arsip rumah sakit.
d. Intensive Care Unit
Prosedur yang berjalan di Intensive Care Unit antara lain:
1)Pasien dirujuk dari Instalasi Gawat Darurat untuk mendapatkan
petugas mencatat dalam buku register pasien berdasarkan
data-data pasien.
2)Kemudian Rekam Medik yang masuk diisi oleh petugas lain dan
diserahkan ke dokter pemeriksa untuk diisi.
3)Petugas mendokumentasikan semua surat keterangan yang
diotorisasi oleh dokter/ perawat.
4)Surat Keabsahan Peserta dan kelengkapan lain dari pasien seperti
fotokopi identitas, kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat
diserahkan ke bagian kasir (bagian keuangan).
5)Pasien kemudian diberikan kupon berisi keterangan gratis dari
kasir sebagai syarat agar pasien dapat pulang.
6)Pasien diijinkan pulang setelah menyerahkan kupon berisi
keterangan gratis dari kasir kepada petugas Intensive Care Unit. e. Instalasi Rawat Inap
Prosedur yang berjalan pada rawat inap hampir sama dengan
prosedur yang ada pada Intensive Care Unit. Prosedur-prosedur
tersebut antara lain:
1)Pasien yang masuk ke rumah sakit masuk ke Instalasi Gawat
Darurat
2)Setelah diperiksa di Instalasi Gawat Darurat pasien kemudian
masuk ke bangsal.
fotokopi kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat, dan surat rujukan
dari puskesmas.
4)Petugas bangsal kemudian mencatat data pasien pada buku register
pasien rawat inap.
5)Pihak bangsal menerbitkan Surat Persetujuan Rawat Inap apabila
Instalasi Gawat Darurat belum menerbitkan untuk digunakan
untuk mencari Surat Keabsahan Peserta dari PT Askes dan
Rekam Medik dari bagian pendaftaran.
6)Selama pasien dirawat dirumah sakit semua jenis pelayanan dan
tindakan yang diberikan kepada rumah sakit dimasukan dalam
Rekam Medik.
7)Semua tindakan yang diberikan dimasukan dalam formulir
tindakan oleh pihak bangsal sesuai dengan instruksi dokter.
8)Pengumpulan semua tindakan dimasukan dan dijumlah pada
bagian/ pihak bangsal dan diserahkan ke kasir beserta dengan
dokumen kelengkapan pasien termasuk Surat Keabsahan Peserta
lembar 1, sementara Surat Keabsahan Peserta lembar 2 diberikan
ke pihak farmasi untuk disatukan dengan Daftar Pemberian Harga
Obat yang jumlahnya juga akan ditotal dan diberikan kepada
kasir.
9)Dalam pengumpulan berkas ke kasir juga dimasukan surat hasil
10)Pihak petugas bangsal kemudian membawa Surat Keabsahan
Peserta lembar 1 yang disatukan dengan fotokopi Kartu Tanda
Penduduk dan Kartu Keluarga, fotokopi kartu Jaminan Kesehatan
Masyarakat serta rujukan puskesmas dan juga Surat Keabsahan
Peserta lembar 2 yang dijadikan satu dengan Daftar Pemberian
Obat yang dikeluarkan bagian Farmasi ke bagian Kasir.
11)Pihak pasien kemudian diberikan kupon berisi keterangan gratis
oleh kasir.
12)Pasien diperbolehkan pulang setelah menyerahkan kupon berisi
keterangan gratis tersebut ke petugas bangsal.
f. Kasir (Bagian Keuangan)
Prosedur-prosedur yang berlaku di bagian kasir (keuangan) antara
lain:
1)Dokumen-dokumen yang masuk ke kasir antara lain:
a) Surat tindakan dari Instalasi Gawat Darurat
b) Surat tindakan dari Intensive Care Unit
c) Rekam medik dan rincian biaya.
d) Surat Keabsahan Peserta lembar 1, fotokopi kartu Jaminan
Kesehatan Masyarakat, fotokopi kartu keluarga, dan fotokopi
identitas pasien serta surat rujukan dari kelurahan.
2)Dokumen-dokumen yang masuk ke bagian kasir kemudian
dipilah-pilah berdasarkan tanggal pemberian pelayanan untuk rawat jalan
dan tanggal keluar untuk rawat inap serta jenis dan nama pasien.
3)Kemudian setelah dokumen dipilah-pilah, dilakukan koding oleh
bagian rekam medik, data kemudian dikembalikan ke bagian
keuangan setelah dilakukan koding.
4)Data yang sudah dikoding kemudian dilakukan entry data ke dalam
software INA-DRG versi 1.6.
5)Setelah melakukan entry data diperoleh nominal sebagai dasar
untuk mengajukan klaim ke Departemen Kesehatan.
6)Semua berkas dan saldo nominal kemudian diverifikasi ulang oleh
verifikator independen.
7)Setelah dinilai layak oleh verifikator kemudian dilakukan pengajuan klaim ke Departemen Kesehatan setelah form
pengajuan ditandatangani oleh direktur rumah sakit dan
Gambar 2.1
Prosedur Klaim yang Berjalan di Bagian Keuangan (Kasir)
SKP Lb.2 DPO F.C. Identitas F.C.KK Rekam Medik F.C.K. Jamkesmas Mulai Pemilahan Dokumen Koding Diagnosa Entry Data File Txt 1 Surat Tindakan Surat Rujukan puskesmas Rincian biaya SKP Lb. 1
commit to user
Gambar 2.2Prosedur Klaim yang Berjalan di Verifikator
Ya Tidak Kembali ke Bagian Keuangan 1 File Txt Verifikasi Kelayakan Ditandatangani Direktur Hardcopy form 3 Softcopy File Txt LPJ. Jamkesmas di Otorisasi Direktur Hardcopy form 3 Softcopy File Txt Lap. Pertanggung jawaban Klaim ke Depkes
9. Tata Laksana Pendanaan Jaminan Kesehatan Masyarakat Tahun 2010 pada Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Karanganyar
a) Ketentuan Umum
1) Pendanaan Jaminan Kesehatan Masyarakat merupakan jenis
belanja sosial.
2) Pembayaran ke Puskesmas disalurkan langsung dari Kantor
Pelayanan Perbendaharaan Negara melalui PT POS, sedangkan
pembayaran ke Pemberi Pelayanan Kesehatan lanjutan (Rumah
Sakit) dikucurkan langsung dari Kantor Pelayanan Perbendaharaan
Negara ke rekening masing-masing Pemberi Pelayanan Kesehatan
lanjutan Jaminan Kesehatan Masyarakat melalui Bank.
3) Pertanggungjawaban dana luncuran tetap menggunakan pola
pembayaran dengan INA-DRG dan berlaku untuk seluruh Pemberi Pelayanan Kesehatan lanjutan. Pada saatnya apabila semua
Pemberi Pelayanan Kesehatan dan Tim Pengelola Pusat telah siap,
akan dilakukan perubahan pola pertanggungjawaban dana dengan
pola klaim.
4) Peserta tidak boleh dikenakan iuran biaya dengan alasan apapun.
b) Sumber dan Alokasi Dana
Sumber dana berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara sektor Kesehatan dan Anggaran Pendapatan dan Belanja
pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu di
daerah masing-masing meliputi antara lain:
1) Masyarakat miskin dan tidak mampu yang tidak termasuk dalam
pertanggungan kepersertaan Jaminan Kesehatan Masyarakat.
2) Biaya transportasi rujukan dari rumah sakit yang merujuk ke
pelayanan kesehatan lanjutan beserta biaya pemulangan pasien
menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah asal pasien.
3) Biaya transportasi petugas pendamping pasien yang dirujuk.
4) Dukungan biaya operasional manajemen Tim Koordinasi dan Tim
Pengelola Jaminan Kesehatan Masyarakat Provinsi/ Kabupaten/
Lokal.
5) Biaya lain-lain diluar pelayanan kesehatan, sesuai dengan spesifik
daerah dapat dilakukan oleh daerahnya. c) Lingkup Pendanaan
Pendanaan dalam Jaminan Kesehatan Masyarakat meliputi:
1) Dana Pelayanan Kesehatan
Adalah dana yang diperuntukan untuk pelayanan kesehatan di
Pemberi Pelayanan Kesehatan
2) Dana Operasional Manajemen
Adalah dana yang diperuntukan untuk operasional manajemen Tim
Pengelola dan Tim Koordinasi Pusat/ Provinsi/ Kabupaten/ Kota
d) Penyaluran Dana Jaminan Kesehatan Masyarakat untuk Rumah Sakit
1) Dana untuk pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah
Kabupaten Karanganyar disalurkan dari Kantor Pusat
Perbendaharaan Negara ke rekening rumah sakit di bank.
Pengucuran dana dilakukan secara bertahap.
2) Pelayanan Dana Pelayanan ke rumah sakit berdasarkan Surat
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia yang
mencantumkan nama rumah sakit dan besaran dana yang