BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
a. Posisi dan Kinerja Keuangan Perusahaan 1) Likuiditas
Dari analisis di atas, maka dapat dibuat grafik Rasio Lancar dan
Rasio Cepat serta tren dari masing-masing rasio seperti pada grafik V.1 dan grafik V.2 di bawah ini.
Grafik V.1
Grafik Rasio Lancar (Current Ratio)dan tren
0 20 40 60 80 100 120 140 160 2003 2004 2005 2006 2007 Tahun Current Ratio Trend Current Ratio
Grafik V.2
Grafik Rasio Cepat(Quick Ratio)dan tren
0 20 40 60 80 100 2003 2004 2005 2006 2007 Tahun Quick Ratio Trend Quick Ratio
Dari grafik di atas dapat dilihat tren tingkat likuiditas yang terjadi selama lima tahun terakhir. Pada tahun 2004 CR meningkat sebesar 73% dari 74% pada tahun 2003 menjadi 147% pada tahun 2004, sedangkan QR mengalami kenaikan sebesar 48% dari 25% tahun 2003 menjadi 73% tahun 2004.
Pada tahun 2005 CR mengalami penurunan sebesar 52% dari 147% pada tahun 2004 menjadi 95% pada tahun 2005, sedangkan QR mengalami penurunan sebesar 19% dari 73% tahun 2004 menjadi 54% tahun 2005. Pada tahun 2006 CR mengalami kenaikan kembali sebesar 48% dari 95% pada tahun 2005 menjadi 143% pada tahun 2006, hal ini terjadi pula pada tingkat QR. Tingkat QR tahun 2006 kembali meningkat sebesar 18% dari 54% pada tahun 2005 menjadi 72% pada tahun 2006. Pada tahun 2007 CR mengalami penurunan kembali sebesar 23% dari 143% di tahun 2006 menjadi 120% di tahun 2007, demikian pula QR tahun 2007 menurun sebesar 2% dibanding tahun sebelumnya.
2) Aktivitas
Dari analisis di atas, maka dapat dibuat grafik Perputaran Piutang, Periode Penagihan Piutang Rata-Rata, Perputaran Persediaan,
Periode penggunaan persediaan rata-rata dan Perputaran Total Aktiva serta tren dari masing-masing rasio seperti pada grafik - grafik di bawah ini.
Grafik V.3
Grafik Perputaran Piutang (Receivable Tunrover) dan tren
0 5 10 15 20 2003 2004 2005 2006 2007 Tahun Receivable Turnover Trend Receivable Turnover
Grafik V.4
Grafik Periode Penagihan Piutang Rata-Rata (Days sales uncollected) dan tren
0 5 10 15 20 25 30 35 2003 2004 2005 2006 2007 Tahun Day's Sales Uncollected Trend Day's Sales Uncollected
Grafik V.5
Grafik Perputaran Persediaan (Inventory Turnover) dan tren
0 2 4 6 8 10 2003 2004 2005 2006 2007 Tahun Inventory Turnover Trend Inventory Turnover
Grafik V.6
Grafik Periode Penggunaan Persediaan Rata-Rata (Day’s Sales in Inventory) dan tren
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 2003 2004 2005 2006 2007 Day's Sales in Inventory Trend Day's Sales in Inventory Grafik V.7
Grafik Perputaran Aktiva (Total Assets Turnover) dan tren
0 0,5 1 1,5 2 2,5 2003 2004 2005 2006 2007 Tahun Total Assets Turnover Trend Total Assets Turnover
Dari grafik di atas dapat dilihat tren tingkat aktivitas yang terjadi selama lima tahun terakhir. Pada tahun 2004 Perputaran Piutang menurun sebesar 1 kali dari 17 kali pada tahun 2003 menjadi 16 kali pada tahun 2004, Perputaran Persediaan meningkat sebesar 2 kali dari 4 kali pada tahun 2003 menjadi 6 kali pada tahun 2004, serta Perputaran Aktiva meningkat sebesar 0,5 kali saja dari 1,5 kali pada tahun 2003 menjadi 2,0 kali pada tahun 2004. Sedangkan Periode Penagihan Piutang Rata-Rata mengalami kenaikan sebesar 2 hari dari 21 hari pelunasan piutang tahun 2003 menjadi 23 hari pelunasan piutang tahun 2004. Periode Penggunaan Persediaan Rata-Rata mengalami penurunan sebesar 24 kali dari 84 hari perputaran persediaannya tahun 2003 menjadi 60 hari waktu yang ditetapkan pada tahun 2004.
Pada tahun 2005 Perputaran Piutang menurun sebesar 4 kali dari 16 kali pada tahun 2004 menjadi 12 kali pada tahun 2005, Perputaran Persediaan meningkat sebesar 1 kali dari 6 kali pada tahun 2004 menjadi 7 kali pada tahun 2005, sementara Perputaran Aktiva menurun sebesar 0,1 kali saja dari 2,0 kali pada tahun 2004 menjadi 1,9 kali pada tahun 2005. Sedangkan Periode Penagihan Piutang Rata-Rata mengalami kenaikan sebesar 9 hari dari 23 hari pelunasan piutang tahun 2004 menjadi 32 hari pelunasan piutang tahun 2005. Periode Penggunaan Persediaan Rata-Rata mengalami penurunan sebesar 9 kali
dari 60 hari perputaran persediaannya tahun 2004 menjadi 51 hari waktu yang ditetapkan pada tahun 2005.
Pada tahun 2006 Perputaran Piutang meningkat sebesar 1 kali dari 12 kali pada tahun 2005 menjadi 13 kali pada tahun 2006, Perputaran Persediaan tidak mengalami perubahan dari tahun 2005 ke tahun 2006, sementara Perputaran Aktiva meningkat sebesar 0,3 kali dari 1,9 kali pada tahun 2005 menjadi 2,2 kali pada tahun 2006. Sedangkan Periode Penagihan Piutang Rata-Rata mengalami penurunan sebesar 3 hari dari 32 hari pelunasan piutang tahun 2005 menjadi 29 hari pelunasan piutang tahun 2005. Periode Penggunaan Persediaan Rata-Rata mengalami peningkatan sebesar 2 hari dari 51 hari perputaran persediaannya tahun 2005 menjadi 53 hari untuk perputaran persediaannya.
Pada tahun 2007 Perputaran Piutang tidak mengalami perubahan tingkat perputaran piutangnya bila dibandingkan dengan tahun 2006, Perputaran Persediaan naik sebesar 1 kali dari 7 kali pada tahun 2006 menjadi 8 kali perputaran pada tahun 2007, sementara Perputaran Aktiva meningkat sebesar 0,1 kali dari 2,2 kali pada tahun 2006 menjadi 2,3 kali pada tahun 2007. Sedangkan Periode Penagihan Piutang Rata-Rata sama dengan pada tahun 2006, yaitu sebesar 29 hari. Periode Penggunaan Persediaan Rata-Rata mengalami penurunan sebesar 7 hari dari 53 hari perputaran persediaannya tahun 2006 menjadi 46 hari untuk perputaran persediaannya di tahun 2007.
3) Rentabilitas
Dari analisis di atas, maka dapat dibuat grafik Margin Laba Kotor, Margin Laba Bersih dan Operating Ratio serta tren dari masing-masing rasio seperti pada grafik - grafik di bawah ini.
Grafik V.8
Grafik Margin Laba Kotor (Gross Margin Ratio) dan tren
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 2003 2004 2005 2006 2007 Tahun Gross Margin Ratio Trend Gross Margin Ratio Grafik V.9
Grafik Margin Laba Bersih (Profit Margin Ratio) dan tren
0 2 4 6 8 10 12 14 2003 2004 2005 2006 2007 Tahun Profit Margin Ratio Trend Profit Margin Ratio
Grafik V.10
Grafik Operating Ratio dan tren
78 80 82 84 86 88 90 92 2003 2004 2005 2006 2007 Tahun Operating Ratio Trend Operating Ratio
Dari grafik di atas dapat dilihat tren tingkat rentabilitas yang terjadi selama lima tahun terakhir. Pada tahun 2004 Margin Laba Kotor menurun sebesar 3% dari 38% pada tahun 2003 menjadi 35% pada tahun 2004, Margin Laba Bersih mengalami perubahan, posisinya masih sama pada 9% sedangkan untuk Operating Ratio mengalami kenaikan sebesar 1% dari 87% di tahun 2003 menjadi 88% di tahun 2004.
Pada tahun 2005 Margin Laba Kotor menurun sebesar 4% dari 35% pada tahun 2004 menjadi 31% pada tahun 2005, Margin Laba Bersih mengalami penurunan sebesar 2% dari 9% pada tahun 2004 menjadi 7% pada tahun 2005, kemudian untuk Operating Ratio mengalami kenaikan sebesar 3% dari 88% di tahun 2004 menjadi 91% di tahun 2005.
Pada tahun 2006 Margin Laba Kotor meningkat sebesar 10% dari 31% pada tahun 2005 menjadi 41% pada tahun 2006, Margin Laba Bersih ikut mengalami peningkatan sebesar 5% dari 7% pada tahun
2005 menjadi 12% pada tahun 2006, akan tetapi Operating Ratio mengalami penurunan sebesar 8% dari 91% di tahun 2005 menjadi 83% di tahun 2006.
Tahun 2007 Margin Laba Kotor mengalami penurunan kembali sebesar 1% dari 41% pada tahun 2006 menjadi 37% pada tahun 2007, Margin Laba Bersih mengalami penurunan pula sebesar 1% dari 12% pada tahun 2006 menjadi 11% pada tahun 2007, sedangkan Operating Ratio meningkat 1% dari 83% di tahun 2006 menjadi 84% di tahun 2007.
b. Prediksi Rasio Laporan Keuangan tahun 2009 - 2012 1) Likuiditas
Dengan melihat persamaan garis lurus Y’= a + bX maka dapat diprediksikan tingkat Rasio Lancar dan Rasio Cepat melalui persamaan berikut ini Y’(Rasio Lancar)= 115,8 + 8,8 X dan Y’(Rasio Cepat)= 58,8 + 8,9 X. Hasil perhitungan untuk prediksi tahun 2009 sampai tahun 2013 adalah sebagai berikut: (%)
Prediksi Rasio Lancar
2009 115,8 + 8,8 (4) = 151 2010 115,8 + 8,8 (5) = 159,8 2011 115,8 + 8,8 (6) = 168,6 2012 115,8 + 8,8 (7) = 177,4 2013 115,8 + 8,8 (8) = 186,2
Prediksi Rasio Cepat 2009 58,8 + 8,9 (4) = 94,4 2010 58,8 + 8,9 (5) = 103,3 2011 58,8 + 8,9 (6) = 112,2 2012 58,8 + 8,9 (7) = 121,1 2013 58,8 + 8,9 (8) = 130 Grafik V.11
Grafik Rasio Lancar(CR) dan Rasio Cepat(QR)
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 2009 2010 2011 2012 2013 Tahun Current Ratio Quick Ratio
Berdasarkan prediksi di atas, dapat dianalisis Rasio Lancar dan Rasio Cepat sebagai berikut:
Prediksi terhadap CR tahun 2009 sebesar 151% yang berarti bahwa setiap Rp 1,00 kewajiban lancar akan dapat dijamin dengan Rp 1,51 aktiva lancar sedangkan untuk Rp 1,00 kewajiban lancar akan dijamin dengan Rp 0,944 oleh aktiva lancarnya. Adanya perbedaan ini timbul karena dalam perhitungan QR, persediaan tidak diikutsertakan dalam perhitungan. Ini terjadi karena persediaan sulit diubah menjadi uang dengan segera apabila tidak disertai penurunan harga.
2) Aktivitas
Dengan melihat persamaan garis lurus Y’= a + bX maka dapat diprediksikan tingkat Perputaran Piutang, Periode Penagihan Piutang Rata-Rata, Perputaran Persediaan, Periode penggunaan persediaan rata-rata dan Perputaran Total Aktiva melalui persamaan berikut ini Y’(Perputaran Piutang)= 14,2–1,1X;
Y’(Perputaran Persediaan)=6,4+0,9X dan
Y’(Perputaran Total Aktiva)=1,98+0,168X. Hasil perhitungan untuk prediksi tahun 2009 sampai tahun 2013 adalah sebagai berikut: (kali) Prediksi Perputaran Piutang (RT)
2009 14,2 – 1,1 (4) = 9,8 2010 14,2 – 1,1 (5) = 8,7 2011 14,2 – 1,1 (6) = 7,6 2012 14,2 – 1,1 (7) = 6,5 2013 14,2 – 1,1 (8) = 5,4
Prediksi Perputaran Persediaan 2009 6,4 + 0,9 (4) = 10 2010 6,4 + 0,9 (5) = 10,9 2011 6,4 + 0,9 (6) = 11,8 2012 6,4 + 0,9 (7) = 12,7 2013 6,4 + 0,9 (8) = 13,6
Prediksi Perputaran Aktiva 2009 1,98 + 0,168 (4) = 2,652 2010 1,98 + 0,168 (5) = 2,82 2011 1,98 + 0,168 (6) = 2,988 2012 1,98 + 0,168 (7) = 3,156 2013 1,98 + 0,168 (8) = 3,324 Grafik V.12
Grafik Prediksi Perputaran Piutang (RT), Perputaran Persediaan(IT) dan Perputaran Aktiva(TAT)
0 2 4 6 8 10 12 14 16 2009 2010 2011 2012 2013 Tahun RT IT TAT
Berdasarkan prediksi di atas, dapat dianalisis Perputaran Piutang, Perputaran Persediaan dan Perputaran Aktiva sebagai berikut:
Prediksi terhadap RT tahun 2009 sebesar 9,8 kali yang berarti bahwa untuk menagih piutang perusahaan selama 1 tahun diperlukan waktu penagihan sebanyak 9,8 kali. Untuk penggunaan persediaannya dalam 1 tahun adalah 10 kali penggunaan ini terlihat dari prediksi pada tahun 2009 sebesar 10 kali, sedangkan untuk perputaran aktiva pada tahun
2009 sebesar 2,652 kali yang berarti bahwa dalam 1 tahun aktiva perusahaan akan berputar sebanyak 2,652 kali.
Selain itu, dapat dilihat pula persamaan:
Y’(Periode Penagihan Piutang Rata-Rata)= 26,8 + 2,2 X dan Y’(Periode penggunaan persediaan rata-rata)= 58,8 – 8.3 X.
Dengan hasil perhitungan untuk prediksi tahun 2009 sampai tahun 2013 adalah sebagai berikut: (%)
Prediksi Periode Penagihan Piutang Rata-Rata(DSU) 2009 26,8 + 2,2 (4) = 35.6
2010 26,8 + 2,2 (5) = 37.8 2011 26,8 + 2,2 (6) = 40 2012 26,8 + 2,2 (7) = 42.2 2013 26,8 + 2,2 (8) = 44.4
Prediksi Periode Penggunaan Persediaan Rata-Rata(DSI) 2009 58,8 – 8.3 (4) = 25.6
2010 58,8 – 8.3 (5) = 17.3 2011 58,8 – 8.3 (6) = 9 2012 58,8 – 8.3 (7) = 0.7 2013 58,8 – 8.3 (8) = -7.6
Grafik V.13
Grafik Prediksi Periode Penagihan Piutang Rata-Rata(DSU) dan Periode penggunaan persediaan rata-rata(DSI)
-20 -10 0 10 20 30 40 50 2009 2010 2011 2012 2013 DSU DSI
Berdasarkan prediksi di atas, dapat dianalisis Prediksi Periode Penagihan Piutang Rata-Rata(DSU) dan Periode penggunaan persediaan rata-rata(DSI) sebagai berikut:
Prediksi terhadap DSU tahun 2009 sebesar 35,6 hari yang berarti bahwa untuk menagih piutang perusahaan selama 1 tahun diperlukan waktu penagihan selama 35,6 hari. Prediksi terhadap DSI tahun 2009 sebesar 25,6 hari yang berarti bahwa untuk pemanfaatan persediaan perusahaan selama 1 tahun diperlukan waktu penggunaan persediaan selama 25,6 hari.
3) Rentabilitas
Dengan melihat persamaan garis lurus Y’= a + bX maka dapat diprediksikan tingkat Margin Laba Kotor, Margin Laba Bersih dan
Operating Ratio melalui persamaan berikut ini Y’(Margin Laba Kotor)= 36,4 + 0,4X; Y’(Margin Laba Bersih)= 9,6 + 0,7X dan Y’(Operating Ratio)= 86,6 - 1,1X. Hasil perhitungan digunakan untuk
memprediksi tahun 2009-2013 tingkat Margin Laba Kotor, Margin Laba Bersihserta Operating Ratio adalah sebagai berikut: (%)
Prediksi Margin Laba Kotor 2009 36,4 + 0,4 (4) = 38 2010 36,4 + 0,4 (5) = 38,4 2011 36,4 + 0,4 (6) = 38,8 2012 36,4 + 0,4 (7) = 39,2 2013 36,4 + 0,4 (8) = 39,6
Prediksi Margin Laba Bersih 2009 9,6 + 0,7 (4) = 12,4 2010 9,6 + 0,7 (5) = 13,1 2011 9,6 + 0,7 (6) = 13,8 2012 9,6 + 0,7 (7) = 14,5 2013 9,6 + 0,7 (8) = 15,2
Prediksi Operating Ratio
2009 86,6 - 1,1 (4) = 82,2 2010 86,6 - 1,1 (5) = 81,1 2011 86,6 - 1,1 (6) = 80 2012 86,6 - 1,1 (7) = 78,9 2013 86,6 - 1,1 (8) = 77,8
Grafik V.14
Grafik Prediksi Margin Laba Kotor(GMR), Margin Laba Bersih(PMR)
dan Operating Ratio(OR)
Dari prediksi di atas, dapat dianalisis Prediksi Margin Laba Kotor, Margin Laba Bersihdan Operating Ratio sebagai berikut: Prediksi terhadap GMR tahun 2009 sebesar 38% yang berarti bahwa setiap Rp 1,00 penjualan bersih menghasilkan laba kotor sebesar Rp 0,38 sedangkan untuk Rp 1,00 penjualan bersih pada PMR akan menghasilkan laba bersih sebesar Rp 0,124 serta setiap Rp 1,00 penjualan bersih Rp 0,822-nya terdiri dari HPP dan biaya usaha.
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 2009 2010 2011 2012 2013 Tahun GMR PMR OR
82 BAB VI PENUTUP